Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Senin, 03 Oktober 2016

Paradise Kiss part 3

Bagian sebelumnya . . .

Tepat sebelum show. Yukari sudah lengkap dengan gaun dan dandanannya. Sebelum Yukari naik ke stage, George memberikannya sebuah aksesoris dengan bentuk kupu-kupu yang match dengan gaun yang dikenakannya.

Yukari muncul di atas stage. Gaun birunya tampak berkilauan ditimpa cahaya lampu.

“Yukari! Dia luar biasa! Tolong, jangan sampai jatuh,” bisik Miwako dan Arashi.

Yukari perlahan berjalan. Dengan gaun birunya ini, dia tampak memukau. Yukari melihat sekeliling, dan menemukan ibunya diantara penonton. Kerinduan yang sangat tampak dimatanya, tapi Yukari berusaha untuk tidak menangis. Sementara itu, George menyaksikan Yukari dari monitor belakang stage. George speechless.



Yukari kembali ke belakang stage. Disana sudah ada George yang menantinya.

“Bagaimana tadi? Apakah tadi sudah lurus? George?” Tanya Yukari.

Tidak lama kemudian, terdengar tepuk tangan meriah dari seisi ruang utama.

“Apa itu . . . untuk kita?” Tanya Yukari lagi tidak percaya.

George tidak menjawab satupun pertanyaan Yukari. Dia menarik Yukari ke dalam pelukannya, dan mereka pun berciuman.



“Terimakasih! Terimakasih!” ucap Kaori, saingan George bersama timnya.

“Kenapa kita Cuma juara dua?” ucap Yukari sedikit kesal.

“Tersenyumlah, bersikaplah dewasa,” ucap George.

“Tapi mereka memberikan kita tepuk tangan!” protes Yukari.

“Itu untukmu . . . bukan untuk gaun kita. Ini akan jadi festival terakhir kita,” ucap Arashi. “Yukari . . . awalnya aku membencimu . . . tapi aku sekarang menyukaimu.”

Yukari akhirnya tersenyum, pada mereka semua.



Setelah show, Yukari, Tokumori, Miwako dan Arashi bertemu di luar. Yukari sudah kembali dengan kostum biasa. Dari atas tangga, George hanya bisa memandangi mereka semua dengan tatapan sedih.

“Bagaimana selanjutnya?” Tanya Yukari.

“Jangan khawatir. Senior kami memberikan pekerjaan. Aku dan Miwako,” jawab Arashi.

“Dengan tujuan lain, mereka tidak mau baju-baju Parakis,” ucap Miwako terkesan sedih.

“Miwako dan aku akan selalu bersama,” lanjut Arashi.

“Ya, semenjak aku pindah,” ucap Tokumori.

“Bagiaman denganmu?” Tanya Miwako pada Tokumori dan Yukari.

“Kami punya ujian akhir,” ujar Tokumori.

“Aku juga, akan mengambil ujian akhir,” ucap Yukari mantap.

Yukari kemudian menemui ibunya. Mereka saling memandang penuh kerinduan.

“Ibu . . . terimakasih sudah datang. Aku . . . “ ucapan Yukari terputus.

“Pulang kerumah kan? Aku mengkhawatirkanmu,” ucap ibunya.

“Maafkan aku, ibu.”

“Yukari . . . aku tidak akan melarikan diri lagi. Lakukan saja apa yang kau inginkan, hm?” dan mereka kemudian berpelukan dengan senyum menghias wajah masing-masing.



Yukari membereskan barang-baranganya di apartemen George. Thanks for all, I’ll go home. Di depan apartemen George, mereka bertemu.

“Jadi kau akan pergi tanpa mengatakan apapun? Tanya George. “Itu benar-benar buruk.”

“Semua sudah selesai kan?”

“Jadi kau akan pulang?”

“Ya. Ibu sangat merindukanku. Terimakasih untuk semuanya,” ucap Yukari perlahan meninggalkan George.

“Yukari!” panggil George kemudian, “Maukah kau makan malam denganku?”

“Maaf. Tapi aku sudah punya janji dengan Tokumori.”

“Itu kencan? Kalau begitu aku akan membuatmu menjadi berkilai malam ini,” ujar George. George membawa Yukari ke sebuah butik. Ia juga memilihkan Yukari baju yang cocok untuk mala mini. Dia ingin membuat Yukari tampak sempurna di kencan kali ini.

“George, aku tidak bisa menerima ini!” protes Yukari.

Tapi George tidak peduli. Ia terus saja memaksa Yukari mencoba beberapa baju dan menilaianya.



“Sekarang, make up,” ucap George. George juga mengajak Yukari untuk mampir ke salon. George sendirilah yang merias wajah Yukari.

Lama kelamaan, Yukari sebal juga dengan sikap George, “Sudahlah. Kenapa kau menciumku tadi? Kau akan pergi ke Paris sendirian! Aku ingin jadi model professional. Aku bisa kan?” Yukari memuntahkan isi hatinya.

“Itu bukan sekedar talenta, itu mimpi. Kalau kau ingin meraihnya, kau pasti bisa mendapatkannya,” ucap George.

“Bye, George.”

Yukari dan George berpisah. Mereka melangkah ke jalan masing-masing, menyimpan separuh hati yang kosong.



“Kau tampak sentimental,” ucap Isabella. “Jadi kau akan pergi? Kalau kau pergi, kau meninggalkan seseorang yang sangat kau sukai.”

George mengabaikan ucapan Isabella. Ia malah mengomentari hal lain, “Untuk apa itu?” Tanya George melihat koper yang dibawa Isabella.

“Paris, ikut denganmu. Kita akan tetap bersama,” Isabella tersenyum.

George tersenyum, “Harusnya dulu aku tidak pernah memberikanmu pakaian wanita.”

“Jadi apa keputusan finalmu?”

“Tentu saja, aku akan pergi. Itu keputusan yang paling logis,” ucap George mantap.



George akhirnya berangkat ke Paris. Sementara Yukari, dia kembali ke kehidupan lamanya, selain menjadi model.

“Apa kau sudah bangun? Ayolah,” nyonya Hayasaka mencoba membangunkan putrinya itu. “Ada paket untukmu.”

Yukari melihat paket itu. Tanpa ada nama yang tertulis di atas paket itu. Tapi dari gambar berbentuk kupu-kupu, Yukari tahu dari siapa paket itu datang, “Paling tidak dia menuliskan namanya,” keluh Yukari. Dia lalu membuka paket itu, sebuah kunci dan alamat.

Bergegas Yukari keluar. Ia mencari alamat seperti yang tertera di paket itu. Yukari menemukan sebuah gedung dan ruangan di dalamnya yang . . . penuh dengan baju-baju milik George.

Aku tidak akan menjual semua ini. Tiap-tiapnya memiliki kenangan bagiku. Aku ingin seseorang special yang kelak akan mengenakannya. Itu harapanku. Jadilah dirimu sendiri. Aku akan ada disini menantimu.

Yukari menangis memandangi koleksi gaun milik George. Ia melihat sekeliling, penuh kerinduan akan pemiliknya.



Tokumori berjalan bersama kekasihnya. Dia melihat poster iklan Yukari di beberapa spot dan gedung. Dia tahu, Yukari telah menjadi seorang model besar.

“Dia baik-baik saja. Saat aku katakan kalau aku mencintainya, dia menolakku,” gumam Tokumori.

“Apa? Hayasaka Yukari?” Tanya kekasihnya.

“Ah tidak! Hanya bercanda. Jadi Madoka, apa kau sudah mendapat pekerjaan?” Tokumori mengalihkan perhatian.

“Belum. Masih ada waktu.”



Yukari melanjutkan hidupanya menjadi model professional. Dia sibuk dengan banyak pengambilan gambar.

“Istirahatlah dulu. Kita masih ada interview dengan lima majalah. Dan . . . ada juga quiz di tv. Minggu depan, kita akan ke New York. Kita ada jadwal pemotretan disana,” ujar manajer Yukari.

Hidupku terus berlanjut, tanpamu. Aku ingin bertemu denganmu lagi. Tiga tahun, dan aku tidak tahu apapun tentangmu. Apa kau masih membuat gaun? Kau yang menunjukkanku jalan ini. Awalnya, aku khawatir dengan hidupku. Tapi, kau menunjukkan jalan ini. Kau mengatakan padaku untuk melakukan apa yang aku inginkan. George . . . aku mencoba dengan keras. Tapi itu tidak menyenangkan sendirian. Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin bersama denganmu. Apa kau masih mengingatku? Aku ingin bertemu denganmu lagi . . .

Yukari datang ke ex-studio Parakiss. Tapi sekarang tempat itu kosong. Dia datang membawa majalah kesekian yang memuat wajahnya di sampul depan. Tapi dia masih tidak tahu bagaiamana George sekarang.



Yukari datang ke New York untuk pemotretan. Setelah pekerjaannya selesai, dia menghabiskan waktu di beberapa tempat. Dia juga datang ke Broadway, dan tanpa terduga melihat sebuah gambar berbentuk kupu-kupu. Yukari merasa mengenali gambar itu. Dia mencari nama desainer kostum untuk perform disana. Ya, desainer kostumnya . . . George Koizumi. Yukari mencoba masuk ke dalam gedung itu, tapi seorang polisi menahannya.

“Isabella!”

“Carrie!”

“Ini tidak bisa dipercaya. Bagaimana kau tahu kalau kami disini?” Tanya Isabella. “Jangan menangis.”

“Apa dia ada di New York juga?” Tanya Yukari.

“Ya. Kami datang kesini setahun lalu. Tunggu . . . aku akan memberikanmu alamat studio George.”

“Studionya?”



Yukari datang ke alamat yang diberikan Isabella, studio George. Tapi tidak ada seorangpun di dalam. Yukari menemukan beberapa kertas yang berisi desain baju milik George. Yukari juga menemukan majalah yang memuat wajahnya di sampul depan. Yukari tahu, George tidak pernah melupakannya.

Seseorang datang ke studio itu. Dia mengenakan jas hitam. Dia masuk ke studio dan menemukan seseorang yang selama ini dirindukannya. Akhirnya, George memeluk gadis itu. Dan mereka . . . berciuman, ciuman yang panjang. The end . . . ^_^


0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.