Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Sabtu, 12 November 2016

Atashinchi no Danshi ep - 09

Sho mencium Chisato. Tentu saja Chisato kaget, ia buru-buru melepaskan diri dari Sho. Takeru yang awalnya berniat mencari Chisato karena ada hal penting, melihat semua kejadian itu.

Insiden ciuman kali ini bukan lagi kecelakaan! Catat itu! Kekekeke . . . Chisato melepaskan diri dari Sho lalu beranjak pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Chisato masuk ke dalam rumah, dan menemukan anak-anak Ohkura yang lain tengah berkumpul di ruang makan, menunggunya.

“Huh? Dimana yang satunya?” tanya Masaru heran.

“K-kalau yang kalian maksud Sho, dia masih . . . “ Chisato gugup.

“Bukan, Takeru. Dia keluar untuk memintamu masuk, Chisato,” terang Satoru.

“Eh?”

“Jadi kau tidak tahu?” tanya Fuu.

Sementara itu di luar, Sho memandangi kepergian Chisato dengan sebuah senyum di bibirnya. Sepertinya ia sama sekali tidak menyesal telah mencium Chisato. Sho berbalik hendak masuk rumah saat melihat jubah warna merah tersembunyi di balik jendela.

“Aku bisa melihat pan***mu, anggota geng motor 27 tahun. Kau menyembunyikan kepala saja huh?” komentar Sho.

“Siapa peduli, “ Takeru yang ketahuan akhirnya keluar. “Btw, aku tidak melihat apapun. Tentu saja. Melakukan hal seperti itu biasa di luar negeri kan? Tapi ini Jepang, tahu! Menciumnya seperti itu . . . “

“Kau melihatnya,” ucap Sho santai.

“Aku tidak melihat apapun!” Takeru berkeras sambil beranjak masuk.



“Dia mengambil alih Miracle?!” Chisato syok dengan penjelasan mereka.

“Dia akhirnya menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya,” sambung Fuu.

“Apa maksudmu?” tanya Chisato balik.

Saat itu Takeru masuk. Ia keget melihat Chisato yang tengah duduk di antara saudara-saudaranya yang lain.

“Darimana saja kau?” tanya Satoru.

“Aku bilang, aku tidak melihat apapun,” komentar Takeru melihat ke arah Chisato.

“Huh?” Chisato heran.



Chisato datang ke kantor. Ia menemui sekretaris Tokita untuk complain.

“Apa yang sebenarnya terjadi?!”

Sekretaris Tokita dengan santai menunjuk ke arah papan nama di mejanya, “Ini yang terjadi,” sekretaris Tokita menjadi presdir. “Dan juga . . . ini mascot baru kita, Toki-chan,” sambil menunjuk patung yang sama dengan dirinya. “Ini janji presdir lama padaku.”

“Membuat Toki-chan?” pertanyaan polos Chisato.

“Tidak, tidak, tidak. Pengesahanku menjadi presdir perusahaan ini. Saat kontrakmu berakhir . . . dia berjanji padaku akan memberikan Miracle padaku.”

“Tapi . . . kontraknya bahkan belum berakhir!” protes Chisato.

“Kontrak itu akan tetap dilanjutkan . . . sesuai rencana,” ucap sekretaris Tokita santai.



Chisato kembali ke castle. Ia menjelaskan kalau Miracle diberikan pada sekretaris Tokita, tapi itu setelah kontraknya habis. Jadi sekarang mereka bisa tetap tinggal di castle.

“Aku selalu merasa aneh dengan peranku sebagai presdir pengganti, dan . . . sejujurnya seperti tanggung jawab ini terangkat dari pundakku,” ucap Chisato.

“Kita tidak bisa melakukan apapun untuk perusahaan. Kita juga bukan pewaris atau apapun,” sambung Masaru.

“Itu mungkin lebih baik seperti ini,” ujar Satoru.

“Itu tidak benar . . . Tokita mungkin akan benar-benar menghapus seski mainan di Miracle, dan . . . hanya menjual video games,” ucap Fuu kemudian.

“Kalau itu terjadi . . . tidak aka nada produk mainan baru. Artinya, mimpi Ayah akan menghilang juga?” Sho angkat bicara.

Fuu lalu mengeluarkan kertas dari bajunya. Sebuah surat, yang ternyata berasal dari Sinzo-san dan ditujukan padanya. Surat itu aneh. Penulisannya tidak lazim, karena diawali di tengah. Selain itu, tertulis juga kalau Tokita mengincar Miracle.

“Membaca ini, itu tidak seperti Sinzo-san benar-benar menjanjikan Miracle untuk Tokita dan menjadikannya sebagai presdir,” komentar Masaru.

“Artinya Tokita berbohong?” sambung Satoru.

Ada satu bagian juga dari surat itu yang aneh. Dikatakan kalau kau bisa menemukan warisan yang aku tinggalkan untukmu, kau bisa melindungi hal yang paling penting bagimu.

“Kalau kalimat itu berarti Miracle, artinya masih ada warisan di suatu tempat?” Sho kembali bersemangat. “Mungkin kalau kita bisa menemukannya, kita bisa melindungi Miracle.”

“Apa kalian bodoh? Sampai kapan kalian mau dibodohi oleh lelaki tua itu? Kalau memang warisan itu ada, kenapa dia tidak memberikan kita warisan dari awal? Tidak ada warisan!” ucap Takeru kesal.

“Kenapa kau marah begitu?” tanya Chisato heran.

“Apa yang terjadi dengan Miracle tidak ada hubungannya denganku. Aku masih belum bisa memaafkan lelaki tua itu (Sinzo-san),” ucap Takeru sambil beranjak pergi.



Chisato keluar ketika ada seseorang yang datang memencet bel. Tampak seorang lelaki tua berdiri di depan pintu. Chisato heran, “Siapa anda?”

“Namaku Kikuchi,” ucap si lelaki tua itu.

“Hei, Shortie! Kau masih harus mengajari mereka selanjutnya. Huh?” Takeru yang menyusul Chisato keluar heran melihat lelaki itu.

“Takeru,” ucap Kikuchi-san.

“Oyaji-ayah,” ucap Takeru.

“Apa?” Chisato kaget dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Apa kabarmu? Aku keluar lebih cepat dari perkiraan . . . sekarang aku bekerja di perusahaan konstruksi seorang teman,” ujar Kikuchi-san. “Aku mendengar Sinzo-san meninggal . . . jadi aku menghawatirkanmu.:

“Apa yang terjadi padaku bukan urusanmu! Jangan datang kesini lagi!” Takeru lalu beranjak pergi dengan kesal.

“Takeru!” Chisato berusaha menengahi.

“Tidak apa-apa. Ini salahku. Tapi, bisakah kau berikan ini padanya, nomer teleponku?” pinta Kikuchi-san pada Chisato sebelum beranjak pergi.



Takeru termenung sendirian di sauna. Dia mengingat kejadian sekian tahun yang lalu. Saat itu ayah Takeru, Kikuchi-san berada di penjara karena suatu hal. Kikuchi-san menyuruh Takeru untuk datang pada Sinzo-san. Rupanya Kikuchi-san meminta Sinzo-san untuk mengadopsi Takeru.

“Jangan datang kesini lagi. Kalau kau diadopsi, aku akan mendapat uang asuransinya saat keluar nanti!” ucap Kikuchi-san pada Takeru.

Sementara itu anak-anak Ohkura yang lain berkumpul di ruang tengah. Mereka mencoba membongkar Mirakurun 2.0, robot yang pernah mereka temukan sebelumnya. Tapi berkali mereka membongkarnya, tetap saja tidak ada apapun yang tersembunyi disana.

Takeru keluar dari sauna, sudah lengkap dengan pakaiannya. Chisato mengehntikannya ketika ia beranjak pergi.

“Takeru! Ini dari ayahmu . . . “ Chisato menyerahkan selembar kertas yang berisi nomer telepon Kikuchi-san.

“Ayah Takeru sudah muncul?” tanya Masaru.

“Dia Cuma seorang yang tidak bertanggungjawab . . . membunuh seorang polisi. Buang saja!” ucap Takeru kasar sambil beranjak pergi.



“Apa kau yakin tidak mau bicara baik-baik dengannya?” tanya Chisato paginya.

Takeru masih sibuk membersihkan motor kebanggannya, “Tidakkah kau dengar aku kemarin?! Aku dijual. Dia memperlakukannya seperti barang. Kalau ada penjual pasti ada pembeli. Itu artinya Sinzo-san juga tidak jauh berbeda seperti ayahku.”

“Sinzo-san tidak seperti itu,” elak Chisato.

“Dia tidak pernah mengingkarinya.”

“Aku yakin pasti alasannya untuk itu!”

“Kau itu berisik!” Takeru mengambil selang air dan mulai mengarahkannya pada Chisato membuat Chisato akhirnya beranjak pergi.



Anak-anak Ohkura yang lain berkumpul di ruang tengah. Mereka mencoba memecahkan kode dari surat yang pernah dikirimkan Sinzo-san pada Fuu dulu. Kali ini Masaru yang menuliskannya di white-board.

Brush yout teeth. Take care of your teeth. Your parent has a 10-yen coin sized bald spot. Hit a mosquitoes. Emotions are unnecessary. Don't hit moths. You’ve got taste. Close the door. (sebenarnya tulisannya dalam bentuk huruf kanji, tapi oleh editornya sudah diubah menjadi huruf latin, dan berhubung Kelana ga yakin untuk menerjemahkannya, jadi biar dalam bahasa Inggris aja ya, hehehehe ^_^ )

Chisato yang baru datang heran dengan kelakuan anak-anak itu. Ia melihat ke arah white-board.

“Apa kau tahu artinya?” tanya Masaru.

“Kalimat ini hanya punya huruf kanji di awal . . . aku mengerti!” Chisato mulai melingkari beberapa huruf di white-board itu. “Kalau kau mengambil huruf kanji yang ada di awal kalimat . . . dan merubah cara membacanya seperti membawa huruf hiragana . . . The mother’s Goals.”

“The mother’s Goals kata kuncinya! Jadi satu-satunya cara untuk melindungi Miracle adalah dengan menyelesaikan the mother’s goals!”



“Kalau begitu, Mother’s Goal #4!” ucap pengacara Kyoko tiba-tiba muncul.

“Whoa!”

“Membersihkan trick heart castle!” ucap pengacara Kyoko sambil membentangkan gulungannya. “Castle ini luasnya hampir sama dengan Tokyo Dome. (Kelana ga ngerti seberapa luas Tokyo Dome ini, tapi kayaknya emang luas banget ya, seperti stadion, misalnya?) Aku akan mengeceknya nanti dan memberikan keputusan lolos atau tidak . . . dengan sangat hati-hati. Permisi,” pengacara Kyoko lalu beranjak pergi.



Fuu ternyata pergi ke kantor. Ia menemui sekretaris Tokita untuk protes, “Kau akan menjadi presdir Miracle setelah kontrak Chisato berakhir kan? Lalu kenapa kau sudah bertindak bahkan sebelum kontrak itu berakhir?” tembak Fuu.

“Aku punya dua alasan. Pertama surat yang kau dapat dari Ohkura Sinzo-san. Itu datang dari mantan presdir, pasti ada sesuatu yang disembunyikan disana. Alasan lainnya, Chisato-san. Kemampuannya untuk mempengaruhi orang sangat kuat. Kalau aku membiarkannya, itu akan menjadi masalah bagiku nantinya,” jawab sekretaris Tokita santai.

“Tapi ini aneh kan? Bagiamana kau bisa menjadi presdir kalau kontrak belum berakhir?”

“Dewan direksi yang memilihku.”

“Benarkah? Tapi Oyaji-ayah punya 70% saham di Miracle. Itu artinya, jika kami, para pewarisnya menggunakan pengaruh yang kami miliki . . . kami bisa menolak keputusan dewan direksi,” ujar Fuu pede.

“Naif sekali. Asal kalian tahu, kalian hanya memiliki control tidak lebih dari setengah saham itu, artinya hanya sekitar 35% saja. Jadi sebenarnya, kalian bahkan tidak punya separuh dari saham. Jadi . . . kalian tidak bisa menggunakan pengaruh kalian. Seperti aku yang menang kan?” sekretaris Tokita tersenyum sinis.

“Aku tidak akan . . . membiarkannya berakhir seperti ini!” ucap Fuu geram.



Di castle, Chisato sedang membagi bagian bersih-bersih pada setiap anak. Tapi dasar mereka, tidak ada satupun yang mendengarkan.

“Diam! Ini sudah diputuskan! Jadi jangan protes. Ayo bubar! Mulai kerjakan bagian kalian!” perintah Chisato yang diikuti oleh anak-anak itu setengah hati.

Setelah anak-anak Ohkura bubar, Chisato menemui Takeru.

“Hei Takeru. Bisa bicara sebentar? Kau tahu, salah seorang teman Kokudo punya hubungan dengan Yamakawa Yutaka. (salah seorang penyanyi terkenal, Kelana ga yakin juga sih, hehehe). Dan kau tahu, kalau kau pergi sekarang, dia akan menyempatkan diri untuk mendengarkan demo rekamanmu.”

“Benarkah? Aku pergi, aku pergi!” Takeru mendadak bersemangat.

“Mereka menunggumu di tempat ini, jam 4,” Chisato memberikan alamat pada Takeru.

Chisato tersenyum memandangi kepergian Takeru. Sementara di atas/lantai 2 ternyata Sho memperhatikannya. Tapi Chisato mengabaikan Sho.

“Apa yang kau rencanakan? Kau masih mengabaikanku huh?” gumam Sho.



Takeru sudah berada di tempat yang dituju. Sambil menunggu, Takeru mencoba lagi suaranya. Seseorang datang mendekat.

Buru-buru Takeru menunduk member hormat, “Saya Ohkura Takeru! Sangat senang, anda artis favorit saya Yutaka-san bersedia mendengarkan demo suara . . . Ha!!!“ Takeru kaget melihat orang yang ada di depannya adalah orang lain.

“Hello, aku Yamakawa Yutaka,” ucap sekretaris Kyoko. “Chisato-san yang memintaku datang kesini. Dia bilang kau punya banyak pertanyaan tentang ayahmu.”

Sekian tahun yang lalu, saat itu Takeru masih kecil. Mereka berkendara motor berdua untuk datang ke rumah sakit karena ibu Takeru kritis. Ternyata kecepatan motor ayah Takeru, Kikuchi-san melebihi batas. Seorang polisi kemudian menilang mereka. Kikuchi-san berkeras harus segera pergi karena istrinya kritis di rumah sakit, dan berjanji akan datang ke kantor polisi untuk menyerahkan diri setelahnya. Tapi polisi itu berkeras tidak menyetujuinya. Kikuchi-san kemudian mendorong polisi itu, berniat untuk melarikan diri demi istrinya. Tidak sengaja polisi itu jatuh ke arah jalan, dan dari arah lain muncul sebuah mobil yang langsung menabraknya.

“Kau benar-benar mencintai ayahmu kan? Sepertinya ini tujuan Chisato-san yang sebenarnya . . . meluruskan kesalahpahaman. Ayahmu tidak menyuruhmu diadopsi untuk alasan uang. Dia mengatakan hal yang membuatmu membencinya supaya kau mau diadopsi. Dia menyembunyikan alasan sebenarnya dan meminta teman lamanya SInzo-san untuk menjamin masa depanmu. Alasan kenapa Sinzo-san tidak mengingkari kebohongan itu . . . karena dia mungkin mengerti apa yang dirasakan ayahmu,” ucap pengacara Kyoko.

“Itu tidak mungkin . . . “

“Ayahmu berjanji tidak akan menemuimu lagi.”

“Tapi, kenapa dia muncul di castle?” tanya Takeru.

“Kalau itu terlalu sederhana . . . itu tidak akan menjadi misteri.”



“Apa kau ingin membuat Takeru berbaikan dengan ayahnya?” tanya Sho mencoba mendapatkan kembali perhatian Chisato. Mereka tengah bersih-bersih di dekat tangga.

“Ada masalah memangnya?”

“Itu bukan “masalahnya” tapi . . . “ ucapan Sho terputus.

Takeru sudah pulang. Ia disambut oleh Chisato, “Selamat datang. Bagaimana tadi?” tanya Chisato.

“Itu bukan apa-apa. Kau menjebakku,” ujar Takeru ketus.

“Maaf. Tapi kau lega kan datang kesana?” tanya Chisato lagi, tapi Takeru sudah pergi.

Takeru menyusul Fuu ke atas. Ia mendapat tugas untuk bersih-bersih bagian atas castle bersama Fuu.

“Aku ingin tanya sesuatu. Kenapa kau begitu ingin melindungi Miracle?” tanya Takeru pada Fuu. “Ini aneh. Kau sangat membenci lelaki tua itu.”

“Ini satu-satunya cara . . . aku bisa membalas perasaan Oyaji-ayah padaku. Saat aku sadar itu semua adalah kesalahpahaman, Oyaji sudah tidak ada. Aku tidak bisa menyalahkannya, aku juga tidak bisa berterimakasih padanya lagi. Satu-satunya cara yang bisa aku lakukan . . . adalah menjaga warisan oyaji. Apa terjadi sesuatu dengan ayahmu? Kalau kau tidak berbuat sesuatu, tidak akan ada yang berubah,” ujar Fuu bijak. Ia curiga dengan pertanyaan Takeru.

Takeru termenung mendengar jawaban Fuu. Ia terdiam dalam pikirannya sendiri.



Acara bersih-bersih castle sudah selesai. Pengacara Kyoko mulai inspeksinya. Dari perabotan di dalam rumah, meja, bahkan dinding dan lantai. “Kalian melakukannya dengan baik. Kalian lolos!”

“Yes!” sorak Chisato dan keenam anak Ohkura bersamaan.

“Lanjut ke mother’s goal #5 . . . membuat sup spesial Banzaian (sup ini dibuat oleh restoran yang biasa mengirimkan makanan delivery order untuk keluarga Ohkura).”

“Apa?!”



Takeru kembali menemui ayahnya. Kali ini mereka bicara berdua di sebuah café, “Apa yang coba kau lakukan? Mengatakan kalau menjualku adalah kebohongan. Itu untukku? Kau membuatku diasopsi demi masa depanku? Kau serius? Kenapa kau datang ke castle?” tuntut Takeru. Ia kemudian mengambil minuman di depannya dan mulai menenggaknya.

“Sinzo-san mengatakan sesuatu padaku saat kau diadopsi. Apa menyembunyikan asal-usul . . . adalah yang terbaik untuk Takeru?. Kalimat itu . . . selalu menghantuiku meski aku sudah bebas dari penjara. Jadi, saat aku mendengar Sinzo-san meninggal . . . kalau kau kesepian . . . aku pikir kau bisa tinggal bersamaku lagi. Tapi sepertinya itu sudah terlambat . . . “ ujar Kikuchi-san.



Chisato datang ke resto di depan castle yang biasa membuat sup special itu. Ia memohon agar mereka mengajari resepnya. Tapi si pemilik resto menolak.

“Kalau begitu, ayo selesaikan ini dengan duel. Kalau kami bisa masuk ke dapurmu, kau harus mengajari kami resep itu!” tantang Chisato.

Anak-anak Ohkura yang lain sudah lengkap dengan kostum mereka. Mereka mulia menyerbu masuk ke resto itu. Tapi tertahan oleh keluarga si pemilik resto, yang ternyata berjumlah lima orang dengan badan super besar, menyeramkan.

“Aku tidak tahu kalau mereka lima bersaudara!” Chisato kaget.

Tapi karena sudah terlanjur, mereka mencoba menyerang masuk, dan . . . gagal. Mereka kembali ke castle dengan lemas. Chisato dan anak-anak Ohkura heran melihat Takeru ada di ruangan dengan . . . sup di tangan.

“Yap, selesai! Sup special Banzaian,” ucap Takeru bangga.

Chisato dan yang lain meringsek masuk. Satoru lalu mencoba sup itu, “Panas! Ini benar-benar rasa khas sup Banzaian!”

“Tapi bagaimana kau bisa membuatnya?” tanya Chisato heran.

“Aku pernah kerja part-time disana. Mereka menyuruhku untuk membuatnya,” ujar Takeru santai.

“Kenapa tidak bilang dari tadi!” ucap mereka kompak.

Pengacar Kyoko tiba-tiba muncul. Ia kemudian mencicipi sup itu, “Ini benar! Mother’s goals #5 . . . sukses!

“Yes!!!”



“Mother’s goalsI #6 . . . menggunakan tali besar, semua anggota keluarga melalukan lompat tali 100 kali,” lanjut pengacara Kyoko sambil membentangkan gulungannya kembali.

“Apa?! Itu bukan hal yang dilakukan oleh seorang ibu!” protes Masaru.

Tapi pengacara Kyoko mengabaikannya, “Lakukan yang terbaik!” lalu beranjak pergi.

“Baiklah! Ayo lakukan!” ucap Takeru mantap.

“Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” Tanya Satoru.

“Kau akan melihat keindahan kesempurnaan.”

“Apa maksudnya?” tanya Masaru.

“Setelah menyelesaikan semua ini, aku akan pergi. Aku memutuskan untuk tinggal bersama ayahku,” ujar Takeru.

“Apa yang kau bicarakan? Bukankah kau membenci ayahmu?” tanya Satoru.

“Benar. Kau bilang dia menjualmu,” sambung Masaru.

“Semua itu . . . kebohongan yang dia katakana demi masa depanku. Dia meminta Ohkura SInzo-san untuk mengadopsiku supaya aku punya kehidupan yang lebih baik,” lanjut Takeru.

“Dia memintamu untuk tinggal bersamanya?” tanya Chisato lirih.

“Ya. Dia bilang kesepian jika sendirian. Btw, aku tahu kalian akan sedih kalau aku pergi . . . jadi ayo lakukan ini dengan sempurna?” ucap Takeru. Ia lelau beranjak keluar, dengan alasan mencari tali besar. Tapi sebenarnya Takeru juga sedih, ia menahan air matanya.



Takeru bertemu dengan Kokudo, dan memintanya mencari tali. Ketika Kokudo kembali, tidak hanya tali yang ia bawa, tapi seisi net-café yang mengaku sebagai bodyguard Chisato juga datang.

“Kenapa kalian disini?” tentu saja Chisato kaget dengan kehadiran mereka semua.

“Biarkan kamu membantumu, Chsiato-san,” ucap mereka sumringah.

Acara lompat tali bersama dimulai. Kokudo dan temannya yang lain memegang talinya. Sementara anak-anak net-café yang lain bersorak-sorak memberi semangat pada Chisato.

“1 . . . “ Satoru menginjak talinya. “Maaf. Ulang lagi ya,” ucap Satoru.

“Siap . . . 1 . . . “

Satoru kembali menginjak tali. Kali ini ia malah melompat sendiri tanda ritme yang jelas, sementara yang lain sudah berhenti.

“Jangan bilang . . . kau tidak bisa olahraga . . . “ komentar Sho.

“Apa? Tentu saja tidak!” elak Satoru. “Ayo mulai lagi.”

“Huh? Dia tidur?” ucap Chisato melihat Akira yang ada di depannya tertidur.

Yup, ini tepat jam 9 malam dan tepat juga Akira tertidur. Acara lompat tali pun ditunda.



“Aku tidak pernah berpikir kau akan sedih juga,” Fuu membuka pembicaraan.

“Tidak!” elak Sho. Fuu dan Sho berdua di ruang sauna.

“Kau menjadi lebih kuat disini. Benar-benar nyaman disini, jadi mudah untuk terbawa suasana. Tapi tidak ada keluarga . . . yang akan terus bersama selamanya. Satu yang akan pergi, yang lain melepas kepergiannya . . . mereka berdua akan mejadi lebih kuat,” ujar Fuu bijak. Sho terdiam mendengarkan ucapan Fuu itu.

Di luar, Satoru yang telah berlatih sejak tadi kelelahan. Ia kemudian duduk sambil mengambil minumannya.

Takeru mendekat, “Kau bisa melakukannya dengan baik kalau mencoba.”

“Diamlah!”

“Orang tuamu bangkrut kan? Kau masih belum bisa memaafkannya? Mungkin orang tuamu sudah membuatmu sangat kesal. Tapi bukankan ini waktunya untuk memaafkan mereka. Orang tuamu tidak sempurna,” lanjut Takeru.

“Kenapa denganmu tiba-tiba begini?” tanya Satoru.

“Aku pikir, sebelum aku pergi . . . aku bisa melakukan sesuatu yang seperti seorang kakak. Ya, itu memang di luar karakterku,” ujar Takeru.

Tanpa mereka tahu, Chisato dan Masaru ternyata berada di balkon. Mereka berdua memperhatikan Takeru dan Satoru yang berlatih lompat tali.

“Aku pikir itu akan baik kalau Takeru berbaikan dengan ayahnya. Aku tidak pernah berpikir kalau . . . Takeru akan pergi dan tinggal bersama ayahnya. Kalau kita tidak melompat 100 kali . . . aku ingin tahu apa Takeru akan tinggal disini selamanya,” curhat Chisato pada Masaru.

“Chisato . . . “

“Itu benar-benar egois ya? Maaf. Lupakan saja yang aku katakan,” ujar Chisato. (hmm . .. kayaknya buat Chisato, Takeru ini berarti banget ya. Jadi inget peran mereka berdua di Hana-Kimi 2007, keduanya jadi kakak beradik)



Hari berikutnya . . .

“Ok, ayo mulai!” ucap Kokudo.

“Siap, 1 ... 2 ... 3 ... 4 ... 5 ... 6 ... 7 ... 45 ... 46 ... 47 ... 48 ... 49 ... 50”

“Ayo istirahat dulu!”

Chisato duduk dikeliling anak-anak net-café. Lengkap dengan minuman dan kipas. Hal ini tentu saja membuat anak-anak Ohkura yang lain iri.

“Akira . . . nanti tukar tempat denganku. Kau lelah kan?” Satoru menawarkan diri.

“Terimakasih.”

“Kalau begitu . . . kau mau tukar tempat denganku, Chisato?” kali ini Fuu yang menawarkan diri.

“Ya, terimakasih.”

“Aku iri pada mereka. Meski aku selama ini bersama mereka, aku tidak pernah menjadi bagian dari mereka,” komentar Kokudo.

Lompa tali dimulai lagi. 61...62...63...69…70...71...91…92...95...96...98...99...100!! Mother’s goals #6, sukses!

Chisato dan anak-anak Ohkura yang kelelahan duduk di lantai. Mereka lega karena kali ini mereka juga berhasil. Meski lelah, tapi mereka senang.



Pengacara Kyoko dan sekretaris Tokita atau sekarang disebut saja presdir Tokita ada di kantor, “Terimakasih atas semuanya. Kau harusnya hanya mendukungku di meeting . . . aku tidak tahu kalau mantan presdir mempercayakan rekaman video yang menyebutkan kalau ia menyerahkan perusahaan ini padaku, ada padamu. Kau harusnya mengatakan itu dari awal,” ucap presdir Tokita senang.

“Sinzo-san . . . memintaku mengevaluasi keadaan dan memutuskan untuk menunjukkan hal itu atau tidak,” ujar pengacara Kyoko.

“Kalau begitu, karena aku punya video dari dia . . . aku bisa meyakinkan para pemegang saham yang keras kepala, untuk mendukungku. Tapi, membantuku satu ini, bukankah kau telah menghianati keluarga Ohkura?” tembak presdir Tokita santai. (omo . . . apa yang kau lakukan sekretaris Kyoko?!)

“Aku tahu itu.”

“Kau benar-benar percaya diri,” sindir presdir Tokita. “Ini . . . sebagai balas jasa dariku,” presdir Tokita menyodorkan sebuah koper pada pengacara Kyoko.

Pengacara Kyoko lalu membuka koper itu. Isinya . . . tiket konser Yamakawa Yutaka. Pengacara Kyoko menerimanya dengan senang.



Takeru sudah siap dengan barang bawannya. Ia masih berdiri terdiam di ruang tengah, memandangi lukisan Sinzo-san yang terpampang disana. Saat itu Akira masuk.

“Hei, anak nakal. Kau kesini untuk membicarakan nilai pendidikan social kan?” pertanyaan aneh Takeru.

“Berikan itu padaku!” pinta Akira samba menunjuk jubah Takeru.

“Huh? Baiklah,” Takeru lalu membuka jubahnya dan langsung memasangkannya ke tubuh Akira.

“Terimakasih,” Akira lalu beranjak pergi.



Sho menemuo Chisato yang tengah memandang langit di luar. Sepertinya kecanggungan mereka akibat ciuman sengaja Sho sudah sedikit mencair.

“Itu sudah 10 tahun.”

“Hm?”

“Sudah 10 tahun sejak aku diadopsi di keluarga Ohkura. Aku bertengkar dengannya (Takeru) selama ini. Ketika aku meninggalkan tempat ini . . . aku ingin tahu, apa ini cara dia akan pergi?” ujar Sho lebih pada dirinya sendiri.



Paginya, Takeru sudah mengepak semua barangnya di atas motor. Tidak seperti yang sudah-sudah, Takeru kali ini menggunakan pakaian biasa, bukan lagi jubah geng motornya. (jelaslah, jubahnya kan dipake Akira). Takeru pamit pada semua anggota keluarga Ohkura.

Chisato masih belum bisa mengikhlaskan Takeru pergi. Ia teringat momen-momen yang melibatkan Takeru selama ini. Bahkan setelah Takeru naik motornya, Chisato masih terus memandanginya. Akhirnya Chisato menyusul Takeru sambil berlari. Sho mengikuti di belakang Chisato.

Di sebuah jalan, tiba-tiba motor Takeru macet, “Ah, ini pasti bukan pertanda baik,” gumam Takeru.

Chisato dan diikuti Sho akhirnya berhasil mengejar Takeru, “Jangan pergi!”

“Gadis ini . . . “

“Jangan pergi kemanapun. Aku tahu kau mungkin akan lebih bahagia tinggal bersama ayahmu, Takeru. Dan aku tahu ayahmu juga pasti akan bahagia. Aku tahu itu . . . tapi, aku merasakan hal ini pada awalnya. Aku datang ke rumah itu karena hutang ayahku. Tapi pada akhirnyam aku mereka bahagia bersama yang lain. Keluarga Ohkura . . . tidak akan lengkap kalau ada satu yang pergi. Keluarga ini butuh kau, Takeru. Aku mohon,” pinta Chisato.

Takeru masih sibuk berusaha menyalakan motornya, “ Aku . . . tidak dibutuhkan lagi seperti dulu. Jadi sekarang . . . terimakasih. Aku bisa pergi pada ayahku tanpa penyesalan. Asal kau disana, semua akan baik-baik saja. Tolong jaga mereka untukku? Jaga diri,” ucap Takeru sambil beranjak pergi setelah motornya menyala.

“Jaga diri juga,” gumam Chisato melepas kepergian Takeru, bersama Sho di sampingnya.



“Aku pulang,” Chisato pulang bersama Sho. Chisato langsung pergi menuju kamarnya.

“Dia pergi?” tanya Satoru.

“Ya. Chisato, sudah melepaskannya . . . “ ucap Sho.

Sementara itu di kamar, Chisato tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis sendirian. Bagi Chisato, Takeru sangat berarti.

Siangnya, mereka kembali makan bersama di ruang makan. Chisato pun sudah bergabung bersama yang lain.

“Hei . . . apa yang akan terjadi dengan mother’s goals-nya?” tanya Akira.

“Oh, dan kata kunci tentang warisan . . .” sambung Masaru.

“Ah, aku benar-benar lupa tentang itu,” ujar Chisato.

“Kalau begitu . . . kenapa kita tidak focus kembali untuk menyelesaikan mother’s goals­-nya?” usul Fuu.

“Ya.”

Tiba-tiba presdir Tokita datang, “Huh? Takeru-kun tidak ada disini?”

“Tokita-san . . . “ gumam Chisato.

“Aku kesini untuk menyampaikan pesan pada kalian. Aku sudah memutuskan kalau proyek baru Treasure Hunter akan dipindah . . . disini.”

“Disini?”

“Kita akan menghancurkan trick heart castle dan membangunnya di atasnya,” ujar presdir Tokita santai.

“Apa?!”

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.