Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Senin, 10 Oktober 2016

Hidarime Tantei Eye ep-02

Penglihatan yang muncul dari mata kiri yang diberikan oleh kakaknya... Semua itu adalah hal yang dilihat oleh Yumehito, kakaknya. Untuk kedua kalinya, Yumehito muncul di hadapan Ainosuke sebagai seorang perencana kejahatan. Dengan mengandalkan mata kirinya, Ainosuke berusaha melawan Yumehito.

Kasus penculikan berantai yang kemungkinan besar direncanakan oleh kakak sudah dimulai. Pada kasus pertama, seekor anjing membawa uang tebusan sebesar 100.0000 Yen. Pada kasus kedua, Ibu dari seorang anak berusia 8 tahun yang diculik, tidak bisa menyiapkan uang tebusan sebesar 400.0000 Yen. Walaupun jumlah uangnya tidak cukup, ia tetap menyerahkan uangnya. Dengan alasan bahwa uangnya tidak cukup, pelaku menyekap Mai-chan di tempat yang berbahaya.

“Aku mengandalkan kemampuan mata kiriku, dan berhasil menemukan tempat Mai-chan disekap. Dan orang yang menyelamatkan Mai-chan adalah...Seorang polisi.”

Detective Fukuchi menemui Kokusho di sel-nya setelah diberitahu oleh anak buahnya kalau Kokusho berhasil membuka password laptop ayam-babi itu, “Apakah benar bahwa kau berhasil membuka kodenya?”

“Ini cukup menyenangkan. Benar-benar sesuai harapan dari seorang perencana kejahatan yang jenius,” ujar Kokusho santai.

“Bagus. Kalau begitu, berikan laptopnya kembali.”

“Kuncinya kupasang kembali.”

“Apa?”

“Aku punya persyaratan. Aku ingin kau melepaskanku, dan memberiku senjata. Yang bisa untuk membunuh orang dan aku tidak ditangkap,” pinta Kokusho.

“Jangan bercanda. Tak mungkin aku bisa melakukan hal seperti itu!”

“Tak apa-apakah jika kau menolak seperti itu? Permainan penculikan ini akan terus berlanjut,” pancing Kokusho.

Di tempat lain, tampak Yumehito dengan seragam polisinya tengah berpatroli. Ia berhenti sebentar memandangi sebuah rumah. Setelahnya ia kembali mengayuh sepedanya sambil tersenyum. Sebuah rencana telah ada di kepalanya.

Ainosuke pulang ke kamar kosnya. Ia masih teringat dengan pertemuan barusan dengan kakaknya, Yumehito yang menyamar menjadi seorang polisi bernama Sakisaka di tempat kejadian perkara, “Apa yang harus kulakukan?”

“Mungkin dunia belum menyadarinya, tapi sesungguhnya sudah ada 3 orang yang diculik. Jika kau membongkar jati diriku, pada saat itu juga nyawa orang ketiga tersebut akan hilang,” ancam Yumehito.

Paginya, Ainosuke baru saja kembali dari mengantar Koran saat pemilik kos, Yoshida-san memperlihatkan berita tentang penculikan kemarin.

“Kau tahu, kasus penculikan ini masih terus berlanjut. Pertama seekor anjing, kemudian merpati, yang terakhir adalah singa laut. Tanah, laut dan udara semuanya digunakan. Orang yang merencanakan ini sungguh unik. Aduh, aduh, aduh, aduh, aduh...” Yoshida-san tiba-tiba memegangi perutnya.

“Anda tak apa-apa?”

“Perutku tidak enak dari kemarin malam.”

“Selamat pagi~ Oh? Aku punya sesuatu yang bagus, tunggu ya,” ujar Akikaze Miruku (Haruna Ai) yang juga tinggal di rumah sewa itu. Ia lalu memberikan obat untuk sakit Yoshida-san.

Di sekolah, Ainosuke masih tidak bisa berkonsentrasi mengikuti pelajarannya. Ia teringat dengan kilasan-kilasan gambaran yang muncul di mata kirinya, tapi belum muncul di kasus manapun.

“Dari semua hal yang terlihat di mata kiriku, yang ini, dan yang ini sudah kupahami. Yang ini juga. M dari "M akan mati" pasti adalah M di nama Mai-chan. Kalau begitu, berarti yang belum kupahami adalah ... Yang ini, dan ... ini.”

Ainosuke datang ke ruang kesehatan. Ia berniat menemui gurunya, Hitomi-sensei untuk menanyakan sesuatu. Tapi Ainosuke melihat Masaki yang tengah istirahat disana, “Masaki, kau kenapa?”

“Hanya anemia,” jawab Masaki lirih.

“Makanlah yang teratur.”

Ainosuke lalu beranjak pada sensei-nya. Rupanya Hitomi-sensei tengah sibuk menghitung hutang dari kartu kreditnya. Ia syok sendiri, karena butuh 15 tahun untuk bisa membayar semua hutang-hutangnya itu.

Seseorang menelepon Hitomi-sensei, “Aku Watabe dari Y.Y. Money. Bukankah tidak baik jika seorang guru mempunyai banyak hutang? Aku tidak mau melakukan hal-hal seperti menempelkan tulisan "BAYAR HUTANGMU" di seluruh rumah Anda Sayama-san,” ujar suara Watabe-san di seberang.

Hitomi sensei mulai panic, “Tolong dengar! Akan kubayar! Akan kubayar! Mungkin agak lama, tapi akan ada uang penghargaan yang banyak. Akan kubayar! Pasti kubayar! Tolong jangan telepon lagi!” Hitomi-sensei menutup telepon dengan paksa dan baru menyadari kehadiran Ainosuke.

Tapi karena sudah terlanjur diabaikan, Ainosuke memilih pulang. Ia pulang bersama Masaki.

“Oh ya, kudengar ada kasus penculikan juga kemarin. Kulihat beritanya di TV tadi pagi,” ujar Masaki membuka pembicaraan saat ia dan Ainosuke pulang bersama.

“Sepertinya begitu.”

“Ainosuke... Saat itu, kau menelpon polisi kan? Kau mengatakan hal yang aneh setelah melihat merpati itu. Bisa kau katakan padaku apa yang kau ketahui?” tanya Masaki.

“Kenapa tiba-tiba?” Ainosuke heran.

“Tak ada apa-apa. Hanya saja, aku tak bisa memaafkannya... Mempermainkan orang-orang miskin. Penjahat seperti itu tidak punya hak untuk hidup.”

“Menurutku juga begitu. Dan penjahat yang melakukan semua ini... Hanya intuisiku saja, tapi aku merasa ada orang lagi di baliknya,” sambung Ainosuke kemudian. Ainosuke memutuskan menanyakannya pada Masaki, “Jangan katakan ini pada siapapun. Bagaimana mengatakannya ya... Kadang-kadang, aku mempunyai firasat... Menurutmu ini apa? Kelihatannya seperti merpati tapi, aku pernah melihat yang lebih jelas sebelumnya. Ada sesuatu yang aneh tentangnya dan itu menggangguku,” Ainosuke menunjukkan gambar mirip anak ayam di sketsanya.

“Maaf, aku tidak tahu,” Masaki menggeleng.

“Sudah kuduga.”

Ainosuke dan Masaki berpisah di persimpangan jalan. Arah rumah mereka berlainan. Sesaat ketika Masaki berbalik dan hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba sekelompok orang bertopeng menyekap dan membawa Masaki menggunakan van hitam. Ainosuke yang berusaha mencegahnya dibanting dengan mudah oleh pelaku bertopeng itu.

“Masaki!” Ainosuke hanya bisa melihat van hitam itu berlalu cepat dari hadapannya. Kilasan gambaran kembali muncul di mata kiri Ainosuke, papan dengan angka-angka, gambar mirip anak ayam, dan symbol berbentuk malaikat bersayap.

Ponsel Ainosuke berbunyi, dari Yumehito.

“Sebenarnya, yang barusan itu adalah penculikan ketiga.”

“Bukankah kau bilang orang ketiga sudah diculik?!” Ainosuke kesal.

“Itu bohong. Jika aku tak mengatakan seperti itu, kau akan membongkar identitasku. Sebagai ganti kebohonganku, akan kuberi kau hadiah,” ujar Yumehito sambil tersenyum.

“Hah? Apa itu?”

“Level bonus hanya untukmu,” Yumehito menutup sambungan telepon itu.

“Hei tunggu! Kakak! KAKAK!!”

Dietective Fukuchi dan para polisi yang lain tengah melakukan meeting. Mereka membahas penculikan yang menimpa Masaki.

“Korban adalah Kaito Masaki, 15 tahun. Dia diserang dan dipaksa masuk ke dalam mobil. Saksi adalah teman sekolahnya, Tanaka Ainosuke. Tapi dia tak bisa mengidentifikasi plat nomor mobilnya, dan para pelaku menggunakan topeng sehingga wajah mereka tak terlihat. Keluarga korban hanyalah ibunya. Kaito Sonae, 35 tahun, seorang pembantu.

“Uang tebusannya?”

“900.0000 yen. Belum ada instruksi untuk penyerahan uangnya.

“Maaf, tapi jumlah uang tebusannya cukup besar, dan ada kemungkinan mereka tak akan bisa menyediakannya. Untuk mencegah situasi berbahaya seperti pada kasus sebelumnya, bisakah kita membantu sedikit untuk uangnya?” usul detective Kato.

“Peraturan adalah peraturan. Polisi tidak boleh membantu memberikan uang kepada penjahat,” tegas detective Fukuchi.

Yumehito yang menyamar menjadi Sakisaka juga ada disana. Kasus disekapnya Mai di gudang penyimpanan ternyata membuat karir Sakisaka yang semula hanya polisi lalu lintas mendadak naik.

Polisi datang ke rumah Kaito-san, ibu Masaki. Mereka menjelaskan kejadian yang menimpa Masaki dan berapa jumlah uang tebusan yang harus disiapkan. Jelas Kaito-san yang hanya bekerja sebagai seorang helper tidak bisa berbuat banyak. Mereka tidak punya uang sebanyak itu. Kaito-san memohon pada polisi untuk menolongnya, tapi polisi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kaito-san membanting celengannya ke arah pintu. Tidak lama setelahnya, Ainosuke bersama Hitomi-sensei datang kesana. Detective Kato menjelaskan kalau Ainosuke inilah saksi pada saat Masaki diculik.

“Aku teman sekolah Masaki, Tanaka Ainosuke,” ujar Ainosuke memperkenalkan diri.

“Dan aku Sayama, suster sekolah,” ujar Hitomi sensei kemudian.

“Hanya ingin bertanya, apakah Anda kenal seseorang bernama Kamiya?” ucap Ainosuke.

“Kamiya, itu seseorang di tempat kerjaku,” ujar Kaito-san setelah berpikir sebentar.

Kaito-san ditemani para polisi datang ke rumah Kamiya-san yang ternyata bos tempat kerjanya. Sementara Ainosuke dan Hitomi-sensei menunggu di luar. Ainosuke memandangi rumah itu, rumah dan nama yang sama yang muncul di kilasan gambar lewat mata kirinya. Kaito-san memohon pada Kamiya-san untuk meminjaminya uang, demi memberikan uang tebusan bagi Masaki yang diculik.

“Aku mengerti perasaanmu. Tapi, jika kami meminjamkan uang setiap kali ada pegawai yang terlibat kasus, pelakunya akan mulai mengincar kami juga,” ujar Kamiya-san. ( yang jadi Kamiya-san ini ternyata yg jadi kakeknya Ryu di Dan Detective School, maen bareng sma Yamada Ryosuke juga)

“Bisakah Anda membuat pengecualian untuk kali ini saja... Bagi orang sepertiku, uang sebesar 900.0000 yen itu mustahil. Kumohon padamu!” pinta Kaito-san lagi.

“Direktur Kamiya, bisakah Anda pikirkan hal ini dari segi bisnis? Jika Anda mau membantu, polisi bisa meminta kepada media untuk menuliskan ucapan terima kasih kepada perusahaan Kamiya,” usul detective Fukuchi tiba-tiba.

“Aku mengerti. Yah, jika kau bisa menangkap pelakunya dan mengembalikan 900.0000 yen itu, maka tak ada lagi yang bisa kukatakan,” akhirnya Kamiya-san setuju dengan usul detective Fukuchi. Ia menyuruh asistennya mengambilkan yang dibutuhkan.

Detective Kato mendapat telepon. Rupanya ia mendapatkan informasi baru dari tempat tinggal Kaito-san. Di luar, detective Kato baru menjelaskannya pada detective Fukuchi.

“Sepertinya sebuah surat dan tas plastik dikirimkan ke rumah korban. Isinya menyebutkan untuk memasukkan uang 900.0000 yen ke dalam tas plastik dan pergi pada jam 10 besok pagi,” ujar detective Kato.

“Apakah itu diinstruksikan kepada ibu korban?” tanya detective Fukuchi.

“Itu, diinstruksikan kepada teman korban, Tanaka Ainosuke,” ujar detective Kato sambil memandang ke arah Ainosuke.

“Apa? Aku?” Ainosuke jelas heran.

Ainosuke pulang ke tempat kosnya. Ia berpikir sambil melihat lagi sketsa yang pernah ia buat sebelumnya. Ainosuke tidak tahu, kalau detective Fukuchi dan para polisi sudah menyadap ponselnya dan mengintai tempat kosnya itu.

Ainosuke bergumam pelan, “Masaki, apa kau baik-baik saja? Masaki diculik tepat di depan mataku. Walau begitu, tak ada yang bisa kulakukan. Tapi, yang dipilih untuk membawa uang tebusan adalah aku. Aku tak mengerti tujuan kakak sebenarnya. Kakak jauh lebih pintar dari aku. Bagaimana caraku melawannya?” Ainosuke teringat ucapan kakaknya dulu, “Menjadi pintar itu sebenarnya hal yang mudah. Kau hanya perlu melihat dari sudut pandang yang berbeda dari orang lain.” “Melihat penculikan dari sudut yang berbeda... Sisi lain dari penculikan... Aku tak mengerti...”

Hari berikutnya, Kaito-san sudah memasukkan uang yang diminta pelaku pada tas. Dia lalu memberikannya pada Ainosuke, “Ainosuke-kun.Tolong ya.”

Ainosuke keluar dari rumah Kaito-san. Ia mulai berjalan menuju tempat yang ditunjukkan dari surat kemarin.

Dari tempat yang lain, Hitomi-sensei tidak bisa tinggal diam. Ia menyamar dan menggunakan pakaian serba hitam dan mengikuti Ainosuke, Berusahalah, Ainosuke!”

Ainosuke berlari menuju tempat yang ditunjukkan. Di jalan, ia berkali nyaris ditabrak seorang pengendara speda dan ditabrak oleh seorang pelari. Seseorang kemudian menelepon Ainosuke.

“Tanaka Ainosuke? Jangan melihat ke dalam tas di tempat umum. Orang lain bisa melihat uangnya. Ngomong-ngomong, kau punya saudara?” ujar suara wanita di seberang yang ternyata partner Yumehito, Komukai-san.

“Aku punya seorang kakak.”

“Oh, sungguh? Kakak yang seperti apa?”

“Dia pintar dan baik. Tapi...Dia sudah meninggal,” Ainosuke mencoba mencari orang yang meneleponnya di sekitar, tapi tidak ada orang yang mencirugakan.

“Oh, sayang sekali. Bagaimanapun baiknya seseorang, jika sudah mati, maka berakhirlah sudah. Di stasiun itu ada sebuah loker. Ikuti petunjuk di nomor 12. Jika kau tak bisa melakukannya dalam 30 menit, nyawa temanmu akan melayang.”

Ainosuke buru-buru pergi. Ia berlari menuju tempat yang ditunjukkan. Ainosuke menemukan loker yang dikatakan dan mengambil sebuah kertas dari dalamnya, “Aku harus cepat!” gumamnya kemudian.

Ainosuke kembali berlari menuju tempat lain. Ainosuke sebenarnya tahu kalau ia diikuti oleh sensei-nya, Hitomi-sensei dan detective Kato. Tapi Ainosuke pura-pura tidak tahu.

Ainosuke naik ke dalam bis. Ia berhasil melepaskan diri dari detective Kato, tapi Hitomi-sensei masih mengikutinya masuk ke dalam bis. Ainosuke membuka surat yang tadi ia temukan di locker stasiun, Hilangkan jejakmu dari orang-orang yang mengikutimu dan datanglah ke Taman Seifu. Jika satu orang saja mengikutimu, permainan berakhir. Lepaskan semua benda yang tak diperlukan.

“Maafkan aku, detective Kato,” gumam Ainosuke pelan.

Tahu kalau sensei-nya masih mengikuti, Ainosuke kemudian turun dari bis. Tadinya Hitomi-sensei akan mengikutinya, tapi ia kehabisan uang untuk membayar bis, akhirnya ia tertahan di bis dan kehilangan jejak Ainosuke.

“Maafkan aku, sensei,” ujar Ainosuke beranjak pergi.

Di pusat, detective Fukuchi mendapatkan informasi kalau Ainosuke melarikan diri. Detective Fukuchi memberikan intruksi untuk mengikuti pelacak yang dipasang pada Ainosuke.

“Maaf Detektif Fukuchi, tapi ada sesuatu yang saya pikirkan,” Yumehito yang menyamar menjadi Sakisaka mendekati detective Fukuchi, “Jika kita berhadapan dengan orang yang suka menggunakan hewan; anjing, merpati pada kasus sebelumnya, bukankah kemungkinan besar ia akan menggunakan hewan lagi?”

Detective Kato berhasil menghentikan bis yang tadi ditumpangi Ainosuke dengan mengikuti pelacaknya. Tapi ternyata Ainosuke melepaskan pelacak itu, dan detective Kato malah menemukan Hitomi-sensei yang kehabisan uang di dalam bis.

Ainosuke sampai di taman Seifu tepat waktu. Ia kembali di telepon oleh si pelaku.

“Bagus, kau berhasil sampai tepat waktu. Disana ada tempat sampah kan? Tepat di samping bangku taman. Lihatlah ke dalamnya. Bawa ke tempat kapal kargo. Waktumu 20 menit,” ujar si pelaku.

Ainosuke menemukan sebuah kunci di dalam tempat sampah itu. Ia kembali berlari menuju dermaga yang ditunjukkan tadi, teleponnya kembali berdering.

“Sepertinya kau berhasil tepat waktu. Dari situ, seharusnya kau bisa melihat dermaga. Naiklah ke perahu karet dan lepaskan kaitnya. Teruslah mendayung.”

Ainosuke melepaskan rantai perahu itu dan mulai mendayung. Ia berhenti karena kelelahan saat sampai di tengah laut, “Kemana aku harus pergi?”

“Berada di laut menyenangkan ya? Kau bisa berhenti mendayung sekarang. Tepat disitu, tepuk tangan keras-keras sebanyak 4 kali.”

Ainosuke melakukan apa yang diintruksikan. Ia menepuk tangan empat kali, dan seekor lumba-lumba muncul disana. Dari arah dermaga, detective Kato dan Hitomi-sensei telah berhasil mengikuti jejak Ainosuke dan kembali mengawasinya.

“Berikan uangnya kepada lumba-lumba itu. Pasangkan tasnya ke lingkaran itu.”

Ainosuke melakukan seperti intruksi si pelaku. Setelahnya ia mendayung kembali ke dermaga. Disana ia sudah ditunggu oleh detective Kato dan Hitomi-sensei.

“Ainosuke, Ainosuke. Kau tak apa-apa? Kau tak terluka? Kau baik-baik saja?” Hitomi-sensei khawatir.

“Bagaimana kalian bisa tahu akhirnya aku akan kesini?”

“Detektif Fukuchi yang berpikir begitu.”

Sekelompok penyelam muncul tidak lama setelahnya memberikan laporan, “Lumba-lumbanya lari. Tasnya terjatuh, jadi kami mengambilnya. Kami mendapatkan tasnya, tapi tak ada 900.0000 yen di dalamnya.”

Detective Kato mendapat telepon dari detective Fukuchi. Ia meminta Ainosuke untuk menemuinya, karena detective Fukuchi berpikir Ainosuke satu-satunya yang bisa mengambil uang itu.

“Kau adalah Tanaka Ainosuke-kun,” ujar detective Fukuchi dingin.

“Aku tak melakukan apapun. Aku hanya mengikuti perintah dari pelaku dan membawa uangnya.”

“Kau berbicara dengan pelaku melalui telepon kan? Mungkinkah dari awal kau sudah mengenal pelaku?”

“Tidak.”

“Tak ada gunanya berbohong padaku,” Ainosuke ingat ancaman kakaknya yang akan membunuh orang jika ia memberitahukan identitas kakaknya itu. “Sungguh aku tak tahu apapun. Hanya saja, setelah ia tahu aku membantu menyelamatkan Sano Mai-chan, dia tak menyukainya.”

“Tapi kau satu-satunya orang yang memegang 900.0000 yen itu. Dan hanya kau yang berbicara dengan pelaku. Tidakkah kau pikir kau patut dicurigai?” desak detective Fukuchi lagi. Jadi, siapa pelakunya? Bagaimana dan dimana kau menyembunyikan uangnya? Kuberitahu ya, aku tak akan melepaskanmu sampai kau mengatakan yang sejujurnya.”

Sementara itu di ruang kesehatan sekolah, Hitomi sensei bergumam sendiri. Ia tidak terima kalau Ainosuke dituduh sebagai kaki tangan si pelaku. Hitomi sensei membuka file yang ia copy dari sketsa Ainosuke, dan berniat membuktikan kalau Ainosuke tidak bersalah.

“Jika kau terlibat dalam kasus ini, berarti kau juga terlibat dalam kasus dengan uang tebusan 100.0000 dan 400.0000 sebelumnya, benar kan?” detective Fukuchi mencorat-coret pada note di depannya.

Tiba-tiba saja Ainosuke teringat sesuatu, “Itu dia. Kotak yang terlihat di mata kiriku, mungkin berhubungan dengan jumlah uang tebusannya. 10 kuadrat adalah 100, 20 kuadrat adalah 400 and 30 kuadrat adalah 900. Itu mungkin saja bagi kakak yang menyukai Matematika. Melihat orang pintar dari sudut yang berbeda. Mungkinkah?” ujar Ainosuke dalam hati. “ Maaf, jika aku menangkap pelaku sebenarnya, apa Anda akan percaya aku tak bersalah?” Ainosuke lalu menyerang detective Fukuchi.

Meski tidak siap, detective Fukuchi dengan mudah menjatuhkan Ainosuke, “Apa yang kau lakukan?!”

Ainosuke kembali melihat kilasan gambar di mata kirinya, “M untuk Masaki. Mungkinkah? Masaki dalam bahaya,” ujar Ainosuke dalam hati. “Ada satu orang lagi, selain aku, yang bisa mengambil uangnya,” ucapnya kemudian mantap.

Detective Fukuchi heran dengan sikap dan ucapan Ainosuke tiba-tiba. Dari arah pintu, detective Kato memaksa masuk.

“Maaf. Ada telepon untuk ibu korban dari pelaku. Katanya, mereka sudah mendapatkan uangnya, jadi mereka akan melepaskan anaknya besok.”

“Tidak, kalian tak akan berhasil jika begitu. Jika begini terus, Masaki akan mati,” sergah Ainosuke.

“Apa maksudmu? Kau yang memberikan uangnya pada mereka,” protes detective Fukuchi.

“Detective Kato, telepon Hitomi-sensei dan berikan padanya gambar patung yang kugambar. Kemungkinan Masaki ada di dekat patung tersebut,” pinta Ainosuke.

Detective Kato lalu menghubungi Hitomi-sensei. Ternyata Hitomi sensei juga sudah menemukan apa yang dicari Ainosuke, “Dia bilang, patung itu ada di Hotel Sea West.”

“Tolong lepaskan aku. Jika Anda ikut, Anda akan mengerti. Kumohon,” pinta Ainosuke pada detective Fukuchi.

Sesaat detective Fukuchi bimbang, “Baiklah, ayo pergi.”

Ainosuke, Hitomi-sensei dan detective Kato menuju hotel yang dimaksud. Mereka langsung menuju kamar tempat Masaki berada, dan dengan bantuan manajemen hotel mereka bisa masuk kamar itu dengan mudah.

Mereka menemukan Masaki yang nyaris kehabisan darah di kamar mandi. Masaki rupanya menyayat nadi di lengannya dan membiarkannya tercelup dalam air di bak. Dengan sigap Hitomi sensei memberikan pertolongan pertama pada Masaki. Detective Kato pun menghubungi markas dan ambulan.

“Masaki! Masaki!! JANGAN MATI!!!! Masaki!!! JANGAN MATI!!!”

Ainosuke datang ke rumah Masaki. Disana ia bertemu Kaito-san, ibu Masaki.

“Ainosuke-kun.”

“Masaki-kun ada di rumah sakit. Dia terluka parah.”

“Apa? Tidak, itu tak mungkin,” Kaito-san tidak percaya.

“Ya, itu tak mungkin. Tak akan ada yang melukai Masaki, karena pelakunya adalah Anda. Semua itu adalah kejahatan yang Anda lakukan untuk melindungi hidup Anda dan Masaki. Aku memohon kepada polisi dan diberikan waktu 5 menit untuk bicara dengan Anda. Anjing dan merpatinya hanya tipuan kan? Dari awal Anda hanya menginginkan 900.0000 yen itu. Dengan terus menggunakan hewan, Anda membuat polisi memusatkan perhatian pada kasus terakhir ini. Tapi sebelum uangnya dimasukkan ke dalam tas, Anda menukarnya dengan uang yang bisa larut dalam air,” cecar Ainosuke.

“Jangan mengatakan hal yang bodoh. Bagaimana kau bisa mengatakan itu tanpa bukti?” elak Kaito-san.

“Masaki terus memegang ini,” Ainosuke menunjukkan bulu putih yang selama ini dipegang Masaki. “Masaki menemukan bulu putih dari merpati di rumah ini, merpati yang digunakan di kasus kedua. Masaki ingin mempercayai ibunya, tapi saat ia diculik ia menyadari semuanya. Karena itulah, saat ia tiba di hotel...”

Flash back

“Ibu, maafkan aku. Ini semua salahku. Jika aku pergi, semua ini tak akan terjadi,” gumam Masaki pelan.

“Bodoh, jangan katakan hal bodoh seperti itu. Hei Masaki! Masaki! Masaki! MASAKI!!!”

“Tolong serahkan diri Anda. Dan ceritakan yang sebenarnya pada kami. Penculikan ini, Anda tidak merencanakannya sendirian kan?”

Kaito-san lalu menceritakan semuanya. Ia didatangi seseorang yang menjanjikannya bisa mendapatkan uang 900.000 yen, tanpa ada yang mati dan tanpa ada yang terluka. Orang itu yang merancang semuanya untuk Kaito-san.

Detective Fukuchi kembali menemui Kokusho di selnya.

“Apakah kau dikalahkan?”

“Tidak, kami menangkap pelakunya.”

“Tidak juga, sebenarnya tidak menangkap. Mereka sengaja tertangkap. Si jenius ini hebat dalam memanfaatkan kelemahan orang.”

“Setelah kupikir lagi, tak ada bukti bahwa kau sudah berhasil membuka kuncinya,” ganti detective Fukuchi yang memancing

“Pernikahan, rencana kejahatan, uang tebusan. Penculikan ini hanya untuk membuka kesempatan untuk kejahatan yang sebenarnya,” ujar Kokusho cool.

Hitomi sensei melihat Ainosuke dan Masaki dari luar. Sementara Ainosuke tengah berbicara dengan Masaki di dalam.

“Siapa yang akan menyangka bahwa karena aku, ibuku akan menjadi penjahat,” ujar Masaki.

“Kau salah. Kau salah tentang itu. Yang patut disalahkan adalah mereka yang memaksa ibumu. Mungkin ini terdengar aneh, tapi aku akan membalaskan dendammu. Aku pasti akan menangkap orang yang sudah menghancurkan hidupmu dan ibumu.”

Ainosuke kembali ke kantor polisi. Ia berniat mengatakan identitas Yumehito pada mereka. Ainosuke menemui seorang polisi jaga di depan, “Aku punya informasi penting untuk Detektif Fukuchi dan Detektif Kato. Tentang kasus penculikan berantai. Sesungguhnya, pelaku penculikan berantai itu adalah kakakku.”

Tiba-tiba . . . dorrr!!! Polisi di depan Ainosuke berguling ke bawah tangga. Ia tertembak secara misterius.

Polisi yang lain berdatangan ke luar. Tidak ketinggalan Yumehito a.k Sakisaka. Ia tersenyum melihat Ainosuke ketakutan disana.

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.