Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Minggu, 02 Oktober 2016

Paradise Kiss part 2

Bagian sebelumnya . . .

Yukari kabur dari rumah. Ia tidak mau menuruti kemauan ibunya untuk mengambil pelajaran tambahan guna mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir. Sekarang Yukari “terdampar” Paradise Kiss.

“Hei! Apa kau gila?! Pulanglah dan minta maaf pada ibumu!” respon Arashi atas kaburnya Yukari.

“Tidak mau!”

“Dengarkan aku, meninggalkan rumah demi kami . . . mungkin baik bagimu, tapi . . . “ ucapan Arashi terputus.

“Ada apa?” George yang baru saja datang heran karena mereka berkumpul.

“George!”

Miwako mencoba menjelaskan keadaan yang terjadi pada Yukari. George akhirnya mengerti yang terjadi.

“Kalau kau mati atau ke neraka, itu bukan masalah kami, jelas?!” ucap George, kali ini pada Yukari.

“Terimakasih,” jawab Yukari sarkastik.

“Pertama, kau butuh tempat tinggal. Aku punya ruang kosong di apartemenku.”

“Di apartemenmu?” Yukari kaget.

“Ada masalah?” balas George.

George kemudian mengajak Yukari ke apartemennya. George menunjukkan sebuah kamar untuk Yukari. Sebuah kamar dengan jendela besar di salah satu sisinya, menampilkan pemandangan kota yang menawan.

“Ini ruanganmu,” ucap George tersenyum sambil meninggalkan Yukari sendirian untuk beberes.

Di studio Paradise Kiss . . .

“Apa dia tidak apa-apa?” Tanya Miwako.

“Dia akan baik-baik saja. Jangan buat kesan buruk. George orang baik,” bela Isabella.

Yukari mulai membereskan barang-barangnya di ruangan baru itu. Dia tidak tahu kalau ada orang tua George yang datang ke apartemen itu.

“George? Siapa denganmu? Disana ada ada sepatu wanita? Disini ada banyak barang-barang wanita. Apa kau masih membuat pakaian wanita, huh?” Tanya ayah George, Joichi Nikaido.

“Apa yang kalian inginkan dariku?” Tanya George cuek.

“Oh, aku merasa seperti seorang ayah. Makan malamlah bersama kami.”

“Oh, hentikan. Kau tahu kan, dia tidak akan mau datang bersama kita,” bela ibunya.

Yukari mendengar ada yang datang. Ia lalu mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu. Tapi dia membuat kesalahan besar, sehingga terdengar sebuah suara pintu tertutup.

“Apa itu?”

“Ada orang lain disini? Oh, kita mengganggunya. Ayo, tinggalkan saja dia,” ajak ibu George.

Setelah kedua orang tua George pergi, Yukari baru berani keluar dari ruangannya.

“Kau mendengarkan?”

“Ya. Orang tuamu?” Tanya Yukari balik.

“Aku tidak punya orang tua. Mereka ibu biologisku dan kekasihnya. Aku anak seorang konglomerat yang menghamili kekasihnya. Mereka tinggal di penthouse. Kadang mereka datang kesini kalau mau. Bagaimana kalau makan malam?” George mengalihkan pembicaraan.

Malamnya, Yukari mencoba untuk tidur, tapi dia belum juga berhasil memejamkan mata. Dia masih saja memikirkan ulah George beberapa hari sebelumnya ketika membawanya ke hotel. Yukari kemudian mengecek sekali lagi kunci kamarnya. Bukannya kembali tidur, Yukari malah keluar kamar. Ia datang ke kamar George. Melihat George telah tidur dengan pulas, Yukari lega.

Yukari kemudian beranjak kembali ke kamarnya. Di ruang tengah, ia melihat sesuatu berserakan di meja. Dia mengambil kertas-kertas itu dan memperhatikannya, itu adalah desain gaun yang dibuat George. Yukari tertarik dengan gaun-gaun itu.

Paginya . . .

“Selamat pagi,” sapa George yang sudah rapi.

“Apa yang kau lakukan?” Yukari syok melihat George ada di ruangannya.

“Aku ingin melihatmu tidur.”

“Aku sudah mengunci pintu!”

“Aku punya kuncinya,” George tersenyum sambil memamerkan anak kunci di tangannya.

George datang ke sekolahnya seperti biasa. Dia bertemu Arashi, Isabella dan Miwako, “Selamat pagi,” sapa George.

“Bagaimana Yukari? Kau tidak mencoba melakukan sesuatu kan?” Tanya Arashi.

George diam saja. Ia hanya menjawab dengan senyuman.

“Jadi kau melakukan sesuatu?! Aku tahu!” Arashi kesal pada George.

“Jadi . . . dia butuh pekerjaan,” gumam George lalu kembali tersenyum.

Sepeninggal George, Yukari sendirian di apartemen. Dia ingin mencari pekerjaan, dan mulai membuka-buka majalah. Tapi semua pekerjaan selalu membutuhkan minimal lulusan SMA. Yukari kembali tak bersemangat.

“Pekerjaan apa yang bisa aku lakukan sekarang?” Tanya Yukari pada Seiji-sensei.

“Kau butuh pekerjaan, dan seseorang membatalkannya. Kau beruntung,” ucap Seiji sensei masih mengaplikasikan make-up ke wajah Yukari.

“Tapi kenapa aku?!”

“Ini rekomendasiku. Kau akan baik-baik saja. Ok, Hayasaka-san, kau siap,” Seiji-sensei selesai merias wajah Yukari.

“Permisi sebentar . . . ,” Yukari mengambil ponselnya. Dia ingin menelepon seseorang, Tokumori, Hiroyuki . . . Koizumi, George.

“Ya?” jawab George dari seberang telepon.

“Apa kau gila?! Mereka butuh model professional! Aku tidak bisa melakukan hal ini!”

“Apa kau takut?”

“Aku pergi,” ucap Yukari.

“Jadi, kau tidak akan jadi model lagi,” ucap George santai.

“AKu tidak peduli. Aku tidak bisa melakukan hal ini!”

“Lakukan saja! Jangan sampai kau membuat Seiji-sensei dan aku tampak bodoh . . . atau aku akan membuatmu seperti di neraka. Yukari . . . aku tahu, kau bisa,” George menutup telepon sembari tersenyum.

Yukari akhirnya menyerah. Dia mencoba melakukan sesi pemotretan itu dengan baik. Dan . . . dia adalah model yang sempurna.

Sementara itu di Paradise kiss . . .

George dan kawan-kawannya mulai membuat gaun mereka. George memasangkan beberapa manic-manik di sepatu senada dengan warna gaun yang mereka buat. Isabella memotong kain dan memasang beberapa aksesori berbentuk bulu. Arashi memotong bahan dan mulai menjahitnya. Miwako dan Arashi kemudian memasangkan gaun setengah jadi itu di manekuin. (I’m really interesting, what clothes they make, kekekeke . . . )

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Yukari kembali ke apartemen George. Dia membawa beberapa foto hasil jepretan hari ini sebagai souvenir. Yukari juga memamerkan foto-foto itu pada George.

“Ini jelek,” komentar George.

“Aku tidak berpikir begitu.”

“Kau akan terus memakai seragam di rumah?” komentar George kemudian melihat seragam Yukari.

“Ya, ini nyaman bagiku.”

“Apa kau benar-benar membanggakannya? Disini ada banyak baju yang bisa kau pakai,” George kemudian menunjukkan sebuah ruangan khusus pada Yukari. Disana ada banyak sekali baju-baju wanita dengan beragam bentuk dan ukuran. “Aku yang membuatnya semua. Oya, ini baju pertamaku saat aku lima tahun,” George mengambil sebuah baju yang ia buat pertama kali.

“Lima tahun?! Apa kau benar-benar jenius?” Yukari kaget. “Haruskah aku memukulmu?”

“Kita sama saja. Ibuku selalu mengatakan apa yang harus kulakukan. Tapi, talentaku mengatakan jalan yang berbeda. Kita bisa memilih. Ada yang disebut jenius. Ada juga pejara.”

“Jadi semua tentangmu ada di ruangan ini . . . “

“Aku tidak akan menjual satupun dari ini. Masing-masing berarti bagiku. Aku ingin seseorang yang istiwema yang akan mengenakannya suatu saat nanti.”

Di hari yang lain . . .

“Kita akan mengubah desain pakaian,” ucap George.

“George!” Arashi, Miwako dan Isabella berteriak tidak percaya.

George lalu menunjukkan gambar desain bajunya yang baru. Dia sama sekali tidak memperhatikan protes teman-temannya itu. Sebuah desain gaun berwarna biru dengan banyak sekali akseseoris berbentuk bunya mawar.

“Tapi waktu kita sempit, George!” ucap Arashi. “Isabella, katakan sesuatu!”

“Jadi, lakukan saja. Kita punya waktu sampai show, ok,” George mengatakannya dengan tersenyum.

Sementara itu, ayah George datang ke Yazademy. Dia menemui guru George, Seiji-sensei, “Sensei, bagaimana masa depan putraku?”

“Aku tidak yakin. Dia berbakat, tapi jika dia tetap seperti ini, masa depannya mungkin tidak akan bagus,” ucap Seiji-sensei.

“Ok, itu bagus. Jadi dia bisa mewarisi perusahaanku nantinya. Dia, tetap putraku,” ujar Ayah George tersenyum.

Keadaan di Paradise Kiss memburuk. Beberapa barang dalam kardus dikembalikan pada mereka. Mereka tidak menginginkan lagi baju-baju buatan anak-anak Paradise Kiss. Tanpa tahu apapun, Yukari yang baru datang menemukan atmosfer tidak baik di studio. Tidak berani bertanya lebih jauh, Yukari akhirnya membantu Miwako memindahkan barang-barang itu ke gudang.

“Mereka . . . tidak menginginkan lagi gaun buatan kami. Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya kami membuat baju bersama. George . . . dia akan pergi ke Paris,” cerita Miwako.

Yukari speechless. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan setelah semua ini. Yukari mencoba menemui George, di luar studio.

“Setelah show, aku akan ke Paris. Aku pasti akan menjadi pangeran kesepian, tidak berguna,” ucap George bahkan sebelum Yukari bertanya.

“Berapa lama?”

“Sepanjang sisa hidupku mungkin. Jadi . . . gaun itu akan menjadi rancangan terakhir kami,” George berbalik meninggalkan Yukari sendirian.

Yukari masih memikirkan apa yang diucapkan George barusan. Ia teringat ibu dan adik laki-lakinya, Yukari berusaha menelepon rumah.

“Kediaman Hayasaka . . . “ seseorang mengangkat telepon.

“Saguru, apa ibu ada di rumah?” Tanya Yukari pada adiknya.

“Tidak. Tapi dia sangat marah. Aku tidak tahu kenapa ibu bisa marah hingga seperti ini. Tidakkah kau akan pulang? Apa kau tidak lelah, nee-chan?” uap Saguru.

Yukari masih mendengarkan ucapan adiknya di telepon. Tiba-tiba saja ia merindukan mereka.

“Setelah ayah meninggal . . . ibu juga harus jadi “ayah”, dan itu sulit. Dia telah mencobanya dengan keras selama ini,” lanjut Saguru.

“Seperti biasa, kau jauh lebih cerdas dariku. Saguru, bisakah kau sampaikan pesan ini pada ibu?” Tanya Yukari.

Paradise kiss kembali ke aktivitas mereka. Mereka menyelesaikan gaun untuk show. Miwako dan Arashi memotong bahan dan mulai merangkainya. Sementara Isabella dan George menyelesaikan beberapa ornament gaun itu.

Hari show . . .

Gaun yang mereka rancang belum selesai. Dengan waktu terbatas, mereka mencoba menyelesaikan gaun itu tepat waktu.

“Itu belum selesai? Bolehkah aku membantu?” Tanya Yukari.

“Tidak!” ucap George ketus.

“Oh . . . baiklah.”

Waktu untuk melakukan gladi bersih tiba. Desainer dan model harus datang ke ruang utama.

“Ayo,” ajak George, dan Yukari menurut saja.

“Ini Cuma gladi bersih kan?” Tanya Yukari.

George dan Yukari tiba di ruang utama. Yukari kaget saat tahu kalau ruangan itu sangat besar. Ada banyak balon, lampu dan barang-barang lain. Tapi tidak lama, keduanya sudah kembali ke ruang persiapan. George tampak sangat marah.

“Bisakah kau lakukan itu lebih baik? Itu seperti acara komedi. Kau berjalan seperti robot! Harusnya kau berjalan normal,” keluh George pada Yukari. Ow ow . . . rupanya di gladi bersih, Yukari berjalan seperti robot, dan tentu saja ini membuat George marah besar.

Yukari sedih dimaki oleh George, “Aku akan berlatih di luar,” ucap Yukari kemudian.

“Jangan terlalu jauh. Sebentar lagi waktunya,” ucap George mengingatkan.

Rupanya Tokumori memenuhi undangan Miwako. Tampak ia yang berjalan mendekat gedung show Yazedemy, dan ia sendirian. Ibu Yukari juga tampak di antara para penonton yang datang. Rupanya Yukari meminta adiknya agar bisa membujuk ibunya untuk datang ke show kali ini. Tidak ketinggalan juga kedua orang tua George, mereka sangat tertarik.

Di ruang rias, George tengah mengaplikasikan make-up ke wajah Yukari, “Jangan bergerak-gerak, sebentar lagi waktunya tiba.”

“Harusnya aku tidak menganggap ini main-main,” ucap Yukari.

“Jangan khawatir, show nanti akan menyenangkan,” Isabella mencoba menenangkan Yukari.

“Tidak. Aku tidak mau membuat gaun kalian nanti jadi jelek. Tidak seharusnya aku berpikir ini serius (mau jadi model­-red).”

“Apalagi sekarang? Bisakah kau memikirkannya lebih serius sekarang?!” George marah. Ia lalu pergi meninggalkan Yukari tanpa menyelesaikan make-up-nya.

“Maaf,” bisik Yukari menyesal.

“Kau tahu, Carrie . . . aku pikir aku bukan seorang laki-laki. Didalam diriku . . . aku seorang wanita . . . tapi aku harus hidup sebagai laki-laki. Saat aku kelas 3 sekolah dasar, George memberiku baju wanita, dan aku merasa seperti lahir kembali. Seorang gadis akan terlahir lagi, dan lagi, dengan gaun dan make-up-nya. Gaun/baju membuat orang percaya diri. Itulah alasan kami membuat baju,” Isabella mencoba menghibur Yukari.

“Cepat!”

“Tunggu Arashi!” Aku bisa lari lagi,” ucap Miwako yang terengah-engah di belakang Arashi.

Miwako dan Arashi menyelesaikan gaun mereka. Mereka lalu menuju ruang utama, tapi di depan tangga mereka bertemu seseorang.

“Kenapa kau ada disini?” Tanya Arashi. Ini pertama kalinya Arashi kembali bertemu Tokumori setelah sekian lama.

“Aku kesini untuk bertemu Hayasaka,” ucap Tokumori.

“Jangan terlambat. Dia sudah ada di ruang utama. Show akan segera dimulai.”

Yukari dan George ada di ruang tunggu. Keadaan keduanya belum mencair. Yukari masih terdiam dalam balutan gaun yang ditutupi kain putuh. Dia takut kalau George masih marah padanya. Sementara itu, Isabella, Miwako dan Arashi sudah ada di depan stage. Mereka khawatir pada Yukari dan George.

“Kapan gilirannya?” Tanya Arashi.

“Tiga orang lagi,” ucap Isabella.

“Wow, itu punya Kaori (Kaori adalah teman sekaligus rival George dalam membuat desain pakaian). Dia benar-benar luar biasa,” ucap Miwako.

George masih memperhatikan Yukari yang tegang. George mencoba bicara pada Yukari, “Setelah ini giliranmu. Tanganmu . . . ,” pinta George.

Yukari mengulurkan tangan kirinya pada George. George memberikannya sebuah aksesori berbentuk kupu-kupu, dan memasangkannya di tangan Yukari.

“Ini demi aku. Jadilah yang pertama. Yukari! Tidak penting kau akan berjalan di jalur yang lurus. Lakukan yang kau bisa, di jalanmu sendiri. Aku akan menunggu disini,” ucap George.

“Aku akan baik-baik saja. Aku memang bukan yang terbaik. Tapi aku akan berjalan berbeda dari yang lain. Aku akan membuat orang-orang cemburu. Aku akan membuat mereka merasa seperti di surge,” Yukari berbalik dan mulai berjalan di stage. 
BERSAMBUNG di part 3

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.