Kisah berikut tentang seorang designer tampan dan seorang gadis mempesona. Seorang designer tampan dan genius yang selalu membuat gaun cantik. Dan seorang gadis . . . yang selalu merasa hidupnya membosankan. Apa yang akan terjadi?
Yukari Hayasaka (Keiko Kitagawa) merasa hidupnya selalu membosankan. Sejak sekolah dasar hingga SMA, dia hanya tahu tentang belajar. Ibunya percaya jika hidup yang lebih baik hanya bisa diperoleh dari pendidikan yang baik juga.
Tidak jauh beda dengan kisah cintanya. Ada seorang pria tampan yang juga teman sekelasnya, namanya Hiroyuki Tokumori (Yusuke Yamamoto). Pria ini tipe populer yang memiliki banyak teman. Pernah Yukari mencoba mendekatinya dan menarik perhatiannya, tapi tidak berhasil.
Hingga suatu hari . . .
“Hei cantik, mau kencan denganku?” seseorang menyapa Yukari ketika ia pulang sendirian.
“Pergi! Jangan ganggu aku!” Yukari mencoba menghindari laki-laki aneh itu.
“Tapi si pria aneh masih saja mengikutinya, “Ayolah, lima menit . . . tiga menit . . . oh baiklah, semenit,” bujuknya.
Saat menolah dan melihat wajah lelaki itu, Yukari kaget. Lelaki itu membawa gitar, dengan aura seram dan juga mengenakan banyak anting di telinganya, “Tolong, jangan ganggu aku,” Yukari berusaha menghindarinya, hingga akhirnya berlari.
“Hei, tunggu!” lelaki itu meneriaki Yukari.
Yukari tetap berlari. Tapi karena badannya tengah tidak fit, dia jatuh di depan seorang lelaki lain yang berpakaian wanita.
“Isabella!” lelaki yang mengejar Yukari memanggil si lelaki yang menopang Yukari.
“Apa yang kau lakukan padanya, Arashi (Kento Kaku)?” Tanya Isabella (Shunji Igarashi).
Yukari pingsan. Terpaksa Isabella dan Arashi menolongnya dan membawanya ke tempat lain.
Yukari akhirnya sadar, dan dia kaget karena berada di tempat yang aneh. Tampak seorang gadis cantik lain dan lelaki yang tadi mengejarnya, Arashi ada di depannya.
“Apa kau baik-baik saja? Aku Miwako Sakurada (Aya Omasa),” ucap si gadis yang membantu Yukari bangun.
“Dimana aku?” Tanya Yukari.
“Di studio kami,” kata Arashi.
“Studio?”
“Ya, disini kami membuat pakaian. Kami dari Yazawa art academy,” lanjut Miwako.
“Yazademi . . . ,“ bisikYukari.
“Jadi, kau tahu tentang sekolah kami? Itu bagus!”
“Lihat? Sekolah kita terkenal kan,” lanjut Arashi.
“Ya, terkenal. Ada banya orang bodoh disana,” ujar Yukari.
Arashi mulai meradang, tapi Miwako menenangkannya, “Bulan depan kami akan mengadakan fashion show untuk acara kelulusan. Ini akan jadi festival terakhir kami di sekolah. Kami memerlukan seorang model yang akan menggunakan gaun rancangan kami. Kau mau jadi model kami?”
“”Aku? Jadi model? Jangan bercanda. Aku punya ujian akhir. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan kalian. Aku akan pergi,” Yukari beranjak bangun, merapikan bajunya, mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu. Yukari mengabaikan Miwako dan Arashi.
“Tunggu, Caroline!” ucap Miwako.
“Aku?!” Yukari kaget saat Miwako memanggilnya Caroline.
“Kau bahkan belum mengatakan namamu,” ujar Miwako.
“Aku tidak akan mengatakan namaku pada kalian. Terimakasih sudah merawatku tadi,” Yukari berjalan ke arah pintu.
Seseorang datang dari arah pintu. Dia membawa gaun wanita, dengan wajah dan mata yang cool, “Siapa dia?”
“George! (Osamu Mukai)” ucap Miwako. “Arashi yang menemukannya.”
“Yeah? Sebagai model kita?” tanya George.
Yukari tidak senang dengan tatapan George. Tanpa mengatakan apapun, dia keluar dari studio itu.
“Dia sempurna, tapi tampak bodoh,” ucap George. “Tapi itu bagus.”
Hari berikutnya . . .
Seseorang lelaki tampan berdiri di depan sekolah Yukari. Dia menggunakan kemeja pink dan topi hitam. Dia George Koizumi. George kemudian masuk ke sekolah Yukari dan mulai mencari kelas Yukari. Seisi sekolah terpesona oleh kehadiran tak terduga si tampan George. Yukari yang mengetahui George mencarinya, mencoba bersembunyi dengan buku di depan wajahnya, tapi Geroge tahu.
“Aku datang untuk minta maaf padamu. Temanku sudah menceritakan semuanya, dia mengikutimu, menakutimu dan membuatmu pingsan . . . dan kau marah padanya. Siapa namamu?” Tanya George.
“Yukari Hayasaka!” teman Yukari mengatakannya dengan keras.
“Yukari?”
“Dia kekasihmu?” teman Yukari yang lain penasaran.
“Tidak. Tokumori, dia bukan apa-apaku!” Yukari khawatir jika Tokumori berpikiran yang tidak-tidak tentang George. “Pergilah!” pinta Yukari pada George.
“Yukari!”
“Jangan panggil aku seperti itu!” protes Yukari.
“Ayo ikut,” Geroge menarik tangan Yukari tanpa persetujuannya.
George kemudian membawa Yukari dengan mobilnya. (mobil yang dipakai George ini mobil Eropa, karena letak kemudinya di sebelah kiri).
“Kemana kita akan pergi?”
“Kita akan bersenang-senang,” ucap George misterius.
George menghentikan mobilnya di depan sebuah sekolah. Yukari syok melihat sekeliling sekolah itu. Anak-anak yang berdandan dengan pakaian nyentrik dan banyak terkesan aneh. Ciuman yang bebas dilakukan di sekolah. Bahkan seseorang yang berpakaian yang membuatnya nyaris tanpa pakaian dalam.
“Ini Yazademi?” gumam Yukari. Buru-buru Yukari merapikan seragamnya, lalu mengikuti George yang masuk ke dalam sekolah.
George membawa Yukari menemui gurunya, “Hai, Kusaragi-sensei,” ucap George.
“Dia, seorang guru?!” Yukari heran melihat penampilan sensei itu yang terkesan nyantai dan nyentrik.
“Ada masalah?” Tanya Kisaragi-sensei. “Ini pertama kali kita bertemu, dank au bersikap seperti itu?”
“Aku ingin minta bantuanmu,” ucap George.
“Ini untuk George Koizumi? Tentu saja.”
“Bisakah kau merubah gaya rambut gadis ini?” pinta George pada sensei-nya itu.
“Rambutku?” Yukari heran.
“Dia instruktur disini, dan juga seorang makeup artis yang cukup terkenal,” sambung Miwako yang juga berada disana.
“Ya, aku tahu tentu saja. Kau membawanya kesini untuk merubah gaya rambutnya,” komentar Kisaragi-sensei sambil memperhatikan gaya rambut Yukari.
“Make over rambut sebagai permohonan maaf,” ucap George.
“Itu tidak bisa begitu saja!” protes Yukari.
“Mereka akan menilai kita di fashion show. Kita akan dengan mudah kalah kalau pakaian kita tidak sesuai dengan modelnya,” ujar George.
“Aku tidak mau jadi model!”
“Kau tidak tahu siapa kau sebenarnya,” ucap George sambil memandangi mata Yukari dengan tatapan coolnya, yang membuat Yukari . . . speechless.
Yukari kembali ke sekolah, dengan . . . tatanan rambut baru. Teman-teman wanitanya mengejek, dan mengatakan kalau itu seperti wig. Di kelas Yukari bertemu dengan Tokumori.
“Style baru ya, tapi aku pikir itu cocok denganmu,” ucapan Tokumori yang membuat hati Yukari langsung cesss . . . adem.
Yukari kaget sekaligus senang karena Tokumori-lah satu-satunya yang memuji gaya rambut baru-nya itu. Yukari tersenyum, mengucapkan terimakasih.
Ketika pulang ke rumah . . .
“Ada apa dengan rambutmu?” Tanya ibunya kaget.
“Ini . . . “
“Kalau kau punya waktu untuk hal-hal seperti itu, ibu harap kau punya lebih banyak waktu untuk belajar, mengerti?”
“Ya, bu,” Yukari menyahut lemas sembari berjalan ke kamarnya dan bersiap belajar lagi.
Hari berikutnya . . .
Isabella datang ke sekolah Yukari. Dia mencari Yukari ke sekeliling sekolah, hingga menemukannya di kelas.
“Maaf Yukari. George memintaku untuk menjemputmu,” ucap Isabella.
Yukari sebal karena diatur sesuka hati oleh anak-anak seni itu. Tapi Yukari mengikuti ajakan Isabella. Kemana Yukari dan Isabella pergi?
“Caroline! Sepertinya ini cocok denganmu,” Miwako tersenyum sambil mengepas sebuah bahan ke badan Yukari.
“Hei, kita tidak akan membuat piyama!” ujar Arashi mengomentari pilihan bahan Miwako. Arashi mencobakan bahan warna lain pada Yukari.
“Cukup bagus kalau kita punya model, kita jadi bisa memilih bahan untuk rancangan gaun secara langsung,” komentar Isabella.
“Tunggu dulu! Aku belum bilang setuju untuk jadi model kalian!” protes Yukari.
“Oh ya? Tinggal bilang ya, apa susahnya?” Arashi mulai kesal pada Yukari.
George yang sejak tadi asyik dengan bahannya, akhirnya mendekat. Dia mengambil dan mengepas sebuah kain berwarna kuning cerah ke tubuh Yukari.
“Oh, bunga matahari!” ucap Miwako. “Sepertinya itu cocok dengan warna kulitnya.”
“Ya, untuk sekarang,” ucap George dingin sambil menatap dalam ke arah mata Yukari.
“George! Apa maksudmu?!” protes yang lain. (meski jenius, George ini suka rese. Dia suka seenaknya sendiri merubah rancangan tanpa persetujuan teman-temannya)
Kembali ke studio Paradise Kiss . . .
George duduk manis di kursinya, di mulai berimajinasi. Perlahan, George menggoreskan pensil dan pewarna ke kertasnya. Sementara Arashi, Miwako dan Isabella yang berada tidak jauh darisana diam saja, tidak berani mengganggu. Dan . . . sebuah desain gaun warna kuning cerah telah ada di tangan George.
Di sekolah, wali kelasnya memanggil Yukari untuk bicara.
“Ada dua orang anak dari sekolah lain yang datang dan mencarimu kemarin. Siapa mereka? Mereka bahkan bukan siswa sekolah ini. Apa yang kau pikirkan? Apa yang akan kau lakukan bersama mereka?”
Yukari speechless.
“Nilai-nilaimu belakangan tidak sebaik biasanya. Aku tidak tahu kenapa kau kehilangan konsentrasi untuk belajar. Menjauhlah dari mereka. Teman yang baik tidak akan membuatmu malas, ok?” ucap guru itu.
“Ya, sensei.”
Siangnya, Yukari curhat pada Tokumori tentang nilai-nilainya. Dia sedih, “Mungkin itu bukan aku. Aku selalu berpikir tentang hidup. Pasti menyenangkan kalau ada seseorang yang special disampingku. Dia akan bisa membuatku lebih kuat. Bisa menyelesaikan masalah bersama, tersenyum bersama dan . . . berbahagia. Aku pikir, itu cukup untukku.”
Perlahan, Yukari menjadi lebih dekat dengan Tokumori.
“Aku membicarakannya, dan kau tidak mengerti? Ah kau tidak sensitive,” Yukari kembali kesal. “Tapi kenapa . . . tiap kali aku berteriak kesal pada mereka, lain waktu aku selalu ingin bersama mereka,” bisik Yukari.
Pulang sekolah, Yukari kembali datang ke studio Paradise kiss dengan mengendap-endap. Yukari mencoba membuka pintu dan betapa kagetnya dia dengan apa yang ia lihat. Sesuatu tengah terjadi pada Arashi dan Miwako. Yukari yang kaget buru-buru menutup pintu. Isabella yang baru saja datang heran dengan sikap Yukari.
“Ada apa Yukari?”
“Jangan masuk!” sergah Yukari.
Tiba-tiba pintu studio di belakang Yukari terbuka. Tampak Caroline yang keluar dari studio.
“Caroline! Tidak apa-apa.”
Yukari syok dengan penampilan Miwako, kancing atas bajunya terbuka, “Itu . . . .” ucap Yukari sambil menunjuk baju Miwako.
Isabella tersenyum. Ia mengerti dengan apa yang terjadi dan apa yang dilihat Yukari tadi. Dia mendekati Miwako dan merapikan baju MIwako.
“Apa kalian sepasang kekasih?” Tanya Yukari.
“Ya, itu pekerjaannku, untuk menjinakkannya,” Miwako tersenyum.
“Diamlah Miwako!” Arashi yang rupanya mendengar pembicaraan mereka berteriak dari dalam.
Yukari, Miwako dan Isabella tersenyum. Tanpa mereka tahu, seseorang mendekat ke arah studio Paradise kiss, dia George. George tersenyum, saat tahu Yukari kembali datang.
Miwako kemudian mengukur badan Yukari. Berkali-kali Yukari kegelian, membuat Miwako tidak juga bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
“Apa arti Paradise Kissi yang ada di depan pintu?” Tanya Yukari.
“Itu nama kami. Kami ingin membuat bisnis pakaian dan mendapatkan banyak uang, itu kata Arashi,” jawab Miwako.
“Bisnis?”
“Aku harap, kami bisa terus bersama setelah kami lulus. Bukankah itu bagus, kami akan menjadi terkenal suatu hari nanti?” Miwako tersenyum.
Miwako selesai mengukur tubuh Yukari. Ia kemudian menunjukkan hasilnya pada yang lain.
“Coba kita lihat . . . ini 83 cm . . . “ gumam George.
“Hei! Kau jorok!” Yukari mengambil kembali daftar ukuran tadi.
“Jorok?!” Arashi tertawa.
“Ini hanya untuk pribadi,” ucap Yukari.
“Aku butuh ukuranmu untuk membuat baju,” ucap George tenang. “Miwako, cobakan baju itu padanya,” George meminta Miwako untuk membantu Yukari mengenakan gaun yang pernah dibawanya di hari pertama mereka bertemu.
Miwako membantu Yukari mengenakan gaun rancangan George. Dan setelah ia ganti baju lalu keluar . . .
“Tidak mungkin! Tapi itu sangat cocok,” komentar Arashi.
George melihat Yukari menggunakan gaun rancangannya. Dia speechless, “Kau benar-benar tidak tahu dirimu yang sebenarnya,” ucap George pada Yukari.
George mengantar Yukari pulang dengan mobilnya. Perlahan, Yukari merasa lebih nyaman bicara dengan George, dan dia mulai bercerita tentang kehidupannya.
“Hidupku selama ini membosankan. Sejak kecil, ibuku selalu menyuruhku belajar dan jadi anak yang baik. Ah, itu benar-benar membosanka!” Yukari mulai menyalahkan hidupnya. Dia berpikir kalau semua yang terjadi sekarang karena ibunya. George hanya bisa memandangi Yukari, tanpa komentar. George lalu membawa Yukari ke arah lain.
“Kemana kita akan pergi?” protes Yukari saat George mengarahkan mobilnya ke jalan lain.
Geroge membawa Yukari ke sebuah hotel. George lalu mengunci Yukari di dalam sebuah kamar, lengkap dengan ranjang berseprai merah menyala dan air kamar mandi yang sudah dipenuhi mawar. Yukari ketakutan, tapi George meraihnya dan membuatnya berada di ranjang.
“Apa yang kau pikirkan sekarang? Tidakkah kau berpikir kalau semua itu adalah kesalahan ibumu? Tidakkah kau berpikir kalau itu akan berubah karenamua sendiri?!” George mulai menekan Yukari dengan kalimatnya.
“Apa yang kau inginkan dariku?!”
“Aku ingin seorang model, bukan boneka!” ucap George mulai mencium Yukari.
“Aku benci kamu! Gaun kalian tidak ada artinya bagiku. Aku ingin seragam lama ini, dari sebuah sekolah terbaik di negeri ini. Tidakkah kau tahu? Aku mencoba begitu keras untuk masuk sekolah ini dan mengenakan seragam ini. Aku bangga karenanya, dan aku tidak tahu kenapa aku harus mempercayaimu,” ucap Yukari tidak kalah tajam. “Aku akan jadi modelmu,” ucap Yukari setelah George melepaskannya dan membiarkannya keluar untuk pulang ke rumah.
George sebenarnya tidak berniat menyakiti Yukari. Ia hanya ingin Yukari lebih dewasa dalam melihat masalah.
Hari berikutnya, Yukari pulang bersama Tokumori setelah pelajaran tambahan. Ia masih saja memikirkan keputusan untuk bergabung dengan George dkk. Tiba-tiba Yukari melihat George sedang berjalan sendirian, ia akhirnya bersembunyi di belakang Tokumori.
Saat George ada di depan mereka, Tokumori yang pertama menyapanya, “Jadi kau, yang membuat Yukari ketakutan?
“Tokumori, apa yang akan kau lakukan?” bisik Yukari saat George dan Tokumori berhadapan satu sama lain.
Yukari kemudian melihat Miwako yang juga berjalan mendekat, “ Miwako! Oh, kau membawakan tasku. Terimakasih!
“Miwako?!” Tokumori kaget.
Miwako, Yukari, Tokumori dan George lalu duduk di café. Tokumori lalu menceritakan masa lalunya bersama Arashi dan Miwako.
“Arashi, Miwako dan aku adalah teman semasa kecil. Kami selalu di sekolah yang sama, sampai . . . aku masuk Seiei (sekolah Tokumori dan Yukari) dan mereka masuk Yazademy,” ucap Tokumori. Setelah SMP, Tokumori pindah bersama orang tuanya. Jadi Arashi yang tidak pernah meninggalkan Miwako-lah yang akhirnya menjadi kekasih Miwako. Tokumori akhirnya juga tahu mengenai ARashi dan Miwako, dia patah hati.
“Jadi, Hayasaka adalah modelmu?” Tanya Tokumori pada George.
“Itu khusus bagi kami, dan George inilah desainernya,” ucap Miwako.
“George Koizumi,” ucap George.
“Maaf atas sikapku tadi,” ujar Tokumori.
“Tidak apa-apa.”
Miwako mengajak Tokumori untuk datang ke acara fashion show kelulusan mereka. Tentu saja Tokumori senang.
“Sekarang aku tahu tentang cintaku. Bahkan setelah tiga tahu, dia tidak bisa juga melupakan cinta pada teman masa kecilnya. Dia masih mencintai cinta pertamanya, yang selalu dicintainya,” ucap Yukari dalam hati.
Yukari pulang ke rumah. Tapi karena lelah, dia langsung beranjak tidur.
“Yukari, bisa kita bicara sebentar?” pinta ibunya.
“Ada apa?”
“Aku diberitahu wali kelasmu. Kamu kehilangan kesempatan kedua (ujian).”
“Bisakah kita bicarakan ini besok saja, aku lelah sekali. Tolonglah, Bu.”
“Dengarkan aku, aka nada guru privat yang mengajarimu sampai ujian akhir. Dia akan mulai datang besok. Kau akan belajar kan?”
“Apa maksudnya? Tanpa berhenti?!”
“Ini tinggal sebentar lagi hingga ujian akhir.”
“Tanpa liburan? Aku ingin minta izin untuk melakukan sesuatu. Menjadi model di sebuah fashion show. Bisakah?” pinta Yukari.
“Apa?! Apa yang kau bicarakan? Kapan?”
“Sebelum ujian akhir. Ini tidak akan butuh banyak waktu, jadi tolong batalkan soal guru privat. Aku akan belajar setelah show.”
“Kapan kau akan dewasa?! Tidak! Besok . . . jangan pulang terlambat. Guru privatmu akan datang jam tujuh,” nyonya Hayasaka mengabaikan permintaan putrinya itu, yang membuat Yukari semakin frustasi.
Hari berikutnya, . . .
Bukannya datang ke sekolah, Yukari malah kabur. Dia datang ke studio Paradise kiss.
“Jadi kau meninggalkan rumah?” Tanya Arashi.
“Ya, apa lagi?”
“Jadi, kau akan jadi model kami di show besok?” Tanya Miwako.
“Ya, apa lagi?”
“Pertama, kau butuh tempat tinggal . . . dan pekerjaan . . . “ ucap Miwako.
Yukari Hayasaka (Keiko Kitagawa) merasa hidupnya selalu membosankan. Sejak sekolah dasar hingga SMA, dia hanya tahu tentang belajar. Ibunya percaya jika hidup yang lebih baik hanya bisa diperoleh dari pendidikan yang baik juga.
Tidak jauh beda dengan kisah cintanya. Ada seorang pria tampan yang juga teman sekelasnya, namanya Hiroyuki Tokumori (Yusuke Yamamoto). Pria ini tipe populer yang memiliki banyak teman. Pernah Yukari mencoba mendekatinya dan menarik perhatiannya, tapi tidak berhasil.
Hingga suatu hari . . .
“Hei cantik, mau kencan denganku?” seseorang menyapa Yukari ketika ia pulang sendirian.
“Pergi! Jangan ganggu aku!” Yukari mencoba menghindari laki-laki aneh itu.
“Tapi si pria aneh masih saja mengikutinya, “Ayolah, lima menit . . . tiga menit . . . oh baiklah, semenit,” bujuknya.
Saat menolah dan melihat wajah lelaki itu, Yukari kaget. Lelaki itu membawa gitar, dengan aura seram dan juga mengenakan banyak anting di telinganya, “Tolong, jangan ganggu aku,” Yukari berusaha menghindarinya, hingga akhirnya berlari.
“Hei, tunggu!” lelaki itu meneriaki Yukari.
Yukari tetap berlari. Tapi karena badannya tengah tidak fit, dia jatuh di depan seorang lelaki lain yang berpakaian wanita.
“Isabella!” lelaki yang mengejar Yukari memanggil si lelaki yang menopang Yukari.
“Apa yang kau lakukan padanya, Arashi (Kento Kaku)?” Tanya Isabella (Shunji Igarashi).
Yukari pingsan. Terpaksa Isabella dan Arashi menolongnya dan membawanya ke tempat lain.
Yukari akhirnya sadar, dan dia kaget karena berada di tempat yang aneh. Tampak seorang gadis cantik lain dan lelaki yang tadi mengejarnya, Arashi ada di depannya.
“Apa kau baik-baik saja? Aku Miwako Sakurada (Aya Omasa),” ucap si gadis yang membantu Yukari bangun.
“Dimana aku?” Tanya Yukari.
“Di studio kami,” kata Arashi.
“Studio?”
“Ya, disini kami membuat pakaian. Kami dari Yazawa art academy,” lanjut Miwako.
“Yazademi . . . ,“ bisikYukari.
“Jadi, kau tahu tentang sekolah kami? Itu bagus!”
“Lihat? Sekolah kita terkenal kan,” lanjut Arashi.
“Ya, terkenal. Ada banya orang bodoh disana,” ujar Yukari.
Arashi mulai meradang, tapi Miwako menenangkannya, “Bulan depan kami akan mengadakan fashion show untuk acara kelulusan. Ini akan jadi festival terakhir kami di sekolah. Kami memerlukan seorang model yang akan menggunakan gaun rancangan kami. Kau mau jadi model kami?”
“”Aku? Jadi model? Jangan bercanda. Aku punya ujian akhir. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan kalian. Aku akan pergi,” Yukari beranjak bangun, merapikan bajunya, mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu. Yukari mengabaikan Miwako dan Arashi.
“Tunggu, Caroline!” ucap Miwako.
“Aku?!” Yukari kaget saat Miwako memanggilnya Caroline.
“Kau bahkan belum mengatakan namamu,” ujar Miwako.
“Aku tidak akan mengatakan namaku pada kalian. Terimakasih sudah merawatku tadi,” Yukari berjalan ke arah pintu.
Seseorang datang dari arah pintu. Dia membawa gaun wanita, dengan wajah dan mata yang cool, “Siapa dia?”
“George! (Osamu Mukai)” ucap Miwako. “Arashi yang menemukannya.”
“Yeah? Sebagai model kita?” tanya George.
Yukari tidak senang dengan tatapan George. Tanpa mengatakan apapun, dia keluar dari studio itu.
“Dia sempurna, tapi tampak bodoh,” ucap George. “Tapi itu bagus.”
Hari berikutnya . . .
Seseorang lelaki tampan berdiri di depan sekolah Yukari. Dia menggunakan kemeja pink dan topi hitam. Dia George Koizumi. George kemudian masuk ke sekolah Yukari dan mulai mencari kelas Yukari. Seisi sekolah terpesona oleh kehadiran tak terduga si tampan George. Yukari yang mengetahui George mencarinya, mencoba bersembunyi dengan buku di depan wajahnya, tapi Geroge tahu.
“Aku datang untuk minta maaf padamu. Temanku sudah menceritakan semuanya, dia mengikutimu, menakutimu dan membuatmu pingsan . . . dan kau marah padanya. Siapa namamu?” Tanya George.
“Yukari Hayasaka!” teman Yukari mengatakannya dengan keras.
“Yukari?”
“Dia kekasihmu?” teman Yukari yang lain penasaran.
“Tidak. Tokumori, dia bukan apa-apaku!” Yukari khawatir jika Tokumori berpikiran yang tidak-tidak tentang George. “Pergilah!” pinta Yukari pada George.
“Yukari!”
“Jangan panggil aku seperti itu!” protes Yukari.
“Ayo ikut,” Geroge menarik tangan Yukari tanpa persetujuannya.
George kemudian membawa Yukari dengan mobilnya. (mobil yang dipakai George ini mobil Eropa, karena letak kemudinya di sebelah kiri).
“Kemana kita akan pergi?”
“Kita akan bersenang-senang,” ucap George misterius.
George menghentikan mobilnya di depan sebuah sekolah. Yukari syok melihat sekeliling sekolah itu. Anak-anak yang berdandan dengan pakaian nyentrik dan banyak terkesan aneh. Ciuman yang bebas dilakukan di sekolah. Bahkan seseorang yang berpakaian yang membuatnya nyaris tanpa pakaian dalam.
“Ini Yazademi?” gumam Yukari. Buru-buru Yukari merapikan seragamnya, lalu mengikuti George yang masuk ke dalam sekolah.
George membawa Yukari menemui gurunya, “Hai, Kusaragi-sensei,” ucap George.
“Dia, seorang guru?!” Yukari heran melihat penampilan sensei itu yang terkesan nyantai dan nyentrik.
“Ada masalah?” Tanya Kisaragi-sensei. “Ini pertama kali kita bertemu, dank au bersikap seperti itu?”
“Aku ingin minta bantuanmu,” ucap George.
“Ini untuk George Koizumi? Tentu saja.”
“Bisakah kau merubah gaya rambut gadis ini?” pinta George pada sensei-nya itu.
“Rambutku?” Yukari heran.
“Dia instruktur disini, dan juga seorang makeup artis yang cukup terkenal,” sambung Miwako yang juga berada disana.
“Ya, aku tahu tentu saja. Kau membawanya kesini untuk merubah gaya rambutnya,” komentar Kisaragi-sensei sambil memperhatikan gaya rambut Yukari.
“Make over rambut sebagai permohonan maaf,” ucap George.
“Itu tidak bisa begitu saja!” protes Yukari.
“Mereka akan menilai kita di fashion show. Kita akan dengan mudah kalah kalau pakaian kita tidak sesuai dengan modelnya,” ujar George.
“Aku tidak mau jadi model!”
“Kau tidak tahu siapa kau sebenarnya,” ucap George sambil memandangi mata Yukari dengan tatapan coolnya, yang membuat Yukari . . . speechless.
Yukari kembali ke sekolah, dengan . . . tatanan rambut baru. Teman-teman wanitanya mengejek, dan mengatakan kalau itu seperti wig. Di kelas Yukari bertemu dengan Tokumori.
“Style baru ya, tapi aku pikir itu cocok denganmu,” ucapan Tokumori yang membuat hati Yukari langsung cesss . . . adem.
Yukari kaget sekaligus senang karena Tokumori-lah satu-satunya yang memuji gaya rambut baru-nya itu. Yukari tersenyum, mengucapkan terimakasih.
Ketika pulang ke rumah . . .
“Ada apa dengan rambutmu?” Tanya ibunya kaget.
“Ini . . . “
“Kalau kau punya waktu untuk hal-hal seperti itu, ibu harap kau punya lebih banyak waktu untuk belajar, mengerti?”
“Ya, bu,” Yukari menyahut lemas sembari berjalan ke kamarnya dan bersiap belajar lagi.
Hari berikutnya . . .
Isabella datang ke sekolah Yukari. Dia mencari Yukari ke sekeliling sekolah, hingga menemukannya di kelas.
“Maaf Yukari. George memintaku untuk menjemputmu,” ucap Isabella.
Yukari sebal karena diatur sesuka hati oleh anak-anak seni itu. Tapi Yukari mengikuti ajakan Isabella. Kemana Yukari dan Isabella pergi?
“Caroline! Sepertinya ini cocok denganmu,” Miwako tersenyum sambil mengepas sebuah bahan ke badan Yukari.
“Hei, kita tidak akan membuat piyama!” ujar Arashi mengomentari pilihan bahan Miwako. Arashi mencobakan bahan warna lain pada Yukari.
“Cukup bagus kalau kita punya model, kita jadi bisa memilih bahan untuk rancangan gaun secara langsung,” komentar Isabella.
“Tunggu dulu! Aku belum bilang setuju untuk jadi model kalian!” protes Yukari.
“Oh ya? Tinggal bilang ya, apa susahnya?” Arashi mulai kesal pada Yukari.
George yang sejak tadi asyik dengan bahannya, akhirnya mendekat. Dia mengambil dan mengepas sebuah kain berwarna kuning cerah ke tubuh Yukari.
“Oh, bunga matahari!” ucap Miwako. “Sepertinya itu cocok dengan warna kulitnya.”
“Ya, untuk sekarang,” ucap George dingin sambil menatap dalam ke arah mata Yukari.
“George! Apa maksudmu?!” protes yang lain. (meski jenius, George ini suka rese. Dia suka seenaknya sendiri merubah rancangan tanpa persetujuan teman-temannya)
Kembali ke studio Paradise Kiss . . .
George duduk manis di kursinya, di mulai berimajinasi. Perlahan, George menggoreskan pensil dan pewarna ke kertasnya. Sementara Arashi, Miwako dan Isabella yang berada tidak jauh darisana diam saja, tidak berani mengganggu. Dan . . . sebuah desain gaun warna kuning cerah telah ada di tangan George.
Di sekolah, wali kelasnya memanggil Yukari untuk bicara.
“Ada dua orang anak dari sekolah lain yang datang dan mencarimu kemarin. Siapa mereka? Mereka bahkan bukan siswa sekolah ini. Apa yang kau pikirkan? Apa yang akan kau lakukan bersama mereka?”
Yukari speechless.
“Nilai-nilaimu belakangan tidak sebaik biasanya. Aku tidak tahu kenapa kau kehilangan konsentrasi untuk belajar. Menjauhlah dari mereka. Teman yang baik tidak akan membuatmu malas, ok?” ucap guru itu.
“Ya, sensei.”
Siangnya, Yukari curhat pada Tokumori tentang nilai-nilainya. Dia sedih, “Mungkin itu bukan aku. Aku selalu berpikir tentang hidup. Pasti menyenangkan kalau ada seseorang yang special disampingku. Dia akan bisa membuatku lebih kuat. Bisa menyelesaikan masalah bersama, tersenyum bersama dan . . . berbahagia. Aku pikir, itu cukup untukku.”
Perlahan, Yukari menjadi lebih dekat dengan Tokumori.
“Aku membicarakannya, dan kau tidak mengerti? Ah kau tidak sensitive,” Yukari kembali kesal. “Tapi kenapa . . . tiap kali aku berteriak kesal pada mereka, lain waktu aku selalu ingin bersama mereka,” bisik Yukari.
Pulang sekolah, Yukari kembali datang ke studio Paradise kiss dengan mengendap-endap. Yukari mencoba membuka pintu dan betapa kagetnya dia dengan apa yang ia lihat. Sesuatu tengah terjadi pada Arashi dan Miwako. Yukari yang kaget buru-buru menutup pintu. Isabella yang baru saja datang heran dengan sikap Yukari.
“Ada apa Yukari?”
“Jangan masuk!” sergah Yukari.
Tiba-tiba pintu studio di belakang Yukari terbuka. Tampak Caroline yang keluar dari studio.
“Caroline! Tidak apa-apa.”
Yukari syok dengan penampilan Miwako, kancing atas bajunya terbuka, “Itu . . . .” ucap Yukari sambil menunjuk baju Miwako.
Isabella tersenyum. Ia mengerti dengan apa yang terjadi dan apa yang dilihat Yukari tadi. Dia mendekati Miwako dan merapikan baju MIwako.
“Apa kalian sepasang kekasih?” Tanya Yukari.
“Ya, itu pekerjaannku, untuk menjinakkannya,” Miwako tersenyum.
“Diamlah Miwako!” Arashi yang rupanya mendengar pembicaraan mereka berteriak dari dalam.
Yukari, Miwako dan Isabella tersenyum. Tanpa mereka tahu, seseorang mendekat ke arah studio Paradise kiss, dia George. George tersenyum, saat tahu Yukari kembali datang.
Miwako kemudian mengukur badan Yukari. Berkali-kali Yukari kegelian, membuat Miwako tidak juga bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
“Apa arti Paradise Kissi yang ada di depan pintu?” Tanya Yukari.
“Itu nama kami. Kami ingin membuat bisnis pakaian dan mendapatkan banyak uang, itu kata Arashi,” jawab Miwako.
“Bisnis?”
“Aku harap, kami bisa terus bersama setelah kami lulus. Bukankah itu bagus, kami akan menjadi terkenal suatu hari nanti?” Miwako tersenyum.
Miwako selesai mengukur tubuh Yukari. Ia kemudian menunjukkan hasilnya pada yang lain.
“Coba kita lihat . . . ini 83 cm . . . “ gumam George.
“Hei! Kau jorok!” Yukari mengambil kembali daftar ukuran tadi.
“Jorok?!” Arashi tertawa.
“Ini hanya untuk pribadi,” ucap Yukari.
“Aku butuh ukuranmu untuk membuat baju,” ucap George tenang. “Miwako, cobakan baju itu padanya,” George meminta Miwako untuk membantu Yukari mengenakan gaun yang pernah dibawanya di hari pertama mereka bertemu.
Miwako membantu Yukari mengenakan gaun rancangan George. Dan setelah ia ganti baju lalu keluar . . .
“Tidak mungkin! Tapi itu sangat cocok,” komentar Arashi.
George melihat Yukari menggunakan gaun rancangannya. Dia speechless, “Kau benar-benar tidak tahu dirimu yang sebenarnya,” ucap George pada Yukari.
George mengantar Yukari pulang dengan mobilnya. Perlahan, Yukari merasa lebih nyaman bicara dengan George, dan dia mulai bercerita tentang kehidupannya.
“Hidupku selama ini membosankan. Sejak kecil, ibuku selalu menyuruhku belajar dan jadi anak yang baik. Ah, itu benar-benar membosanka!” Yukari mulai menyalahkan hidupnya. Dia berpikir kalau semua yang terjadi sekarang karena ibunya. George hanya bisa memandangi Yukari, tanpa komentar. George lalu membawa Yukari ke arah lain.
“Kemana kita akan pergi?” protes Yukari saat George mengarahkan mobilnya ke jalan lain.
Geroge membawa Yukari ke sebuah hotel. George lalu mengunci Yukari di dalam sebuah kamar, lengkap dengan ranjang berseprai merah menyala dan air kamar mandi yang sudah dipenuhi mawar. Yukari ketakutan, tapi George meraihnya dan membuatnya berada di ranjang.
“Apa yang kau pikirkan sekarang? Tidakkah kau berpikir kalau semua itu adalah kesalahan ibumu? Tidakkah kau berpikir kalau itu akan berubah karenamua sendiri?!” George mulai menekan Yukari dengan kalimatnya.
“Apa yang kau inginkan dariku?!”
“Aku ingin seorang model, bukan boneka!” ucap George mulai mencium Yukari.
“Aku benci kamu! Gaun kalian tidak ada artinya bagiku. Aku ingin seragam lama ini, dari sebuah sekolah terbaik di negeri ini. Tidakkah kau tahu? Aku mencoba begitu keras untuk masuk sekolah ini dan mengenakan seragam ini. Aku bangga karenanya, dan aku tidak tahu kenapa aku harus mempercayaimu,” ucap Yukari tidak kalah tajam. “Aku akan jadi modelmu,” ucap Yukari setelah George melepaskannya dan membiarkannya keluar untuk pulang ke rumah.
George sebenarnya tidak berniat menyakiti Yukari. Ia hanya ingin Yukari lebih dewasa dalam melihat masalah.
Hari berikutnya, Yukari pulang bersama Tokumori setelah pelajaran tambahan. Ia masih saja memikirkan keputusan untuk bergabung dengan George dkk. Tiba-tiba Yukari melihat George sedang berjalan sendirian, ia akhirnya bersembunyi di belakang Tokumori.
Saat George ada di depan mereka, Tokumori yang pertama menyapanya, “Jadi kau, yang membuat Yukari ketakutan?
“Tokumori, apa yang akan kau lakukan?” bisik Yukari saat George dan Tokumori berhadapan satu sama lain.
Yukari kemudian melihat Miwako yang juga berjalan mendekat, “ Miwako! Oh, kau membawakan tasku. Terimakasih!
“Miwako?!” Tokumori kaget.
Miwako, Yukari, Tokumori dan George lalu duduk di café. Tokumori lalu menceritakan masa lalunya bersama Arashi dan Miwako.
“Arashi, Miwako dan aku adalah teman semasa kecil. Kami selalu di sekolah yang sama, sampai . . . aku masuk Seiei (sekolah Tokumori dan Yukari) dan mereka masuk Yazademy,” ucap Tokumori. Setelah SMP, Tokumori pindah bersama orang tuanya. Jadi Arashi yang tidak pernah meninggalkan Miwako-lah yang akhirnya menjadi kekasih Miwako. Tokumori akhirnya juga tahu mengenai ARashi dan Miwako, dia patah hati.
“Jadi, Hayasaka adalah modelmu?” Tanya Tokumori pada George.
“Itu khusus bagi kami, dan George inilah desainernya,” ucap Miwako.
“George Koizumi,” ucap George.
“Maaf atas sikapku tadi,” ujar Tokumori.
“Tidak apa-apa.”
Miwako mengajak Tokumori untuk datang ke acara fashion show kelulusan mereka. Tentu saja Tokumori senang.
“Sekarang aku tahu tentang cintaku. Bahkan setelah tiga tahu, dia tidak bisa juga melupakan cinta pada teman masa kecilnya. Dia masih mencintai cinta pertamanya, yang selalu dicintainya,” ucap Yukari dalam hati.
Yukari pulang ke rumah. Tapi karena lelah, dia langsung beranjak tidur.
“Yukari, bisa kita bicara sebentar?” pinta ibunya.
“Ada apa?”
“Aku diberitahu wali kelasmu. Kamu kehilangan kesempatan kedua (ujian).”
“Bisakah kita bicarakan ini besok saja, aku lelah sekali. Tolonglah, Bu.”
“Dengarkan aku, aka nada guru privat yang mengajarimu sampai ujian akhir. Dia akan mulai datang besok. Kau akan belajar kan?”
“Apa maksudnya? Tanpa berhenti?!”
“Ini tinggal sebentar lagi hingga ujian akhir.”
“Tanpa liburan? Aku ingin minta izin untuk melakukan sesuatu. Menjadi model di sebuah fashion show. Bisakah?” pinta Yukari.
“Apa?! Apa yang kau bicarakan? Kapan?”
“Sebelum ujian akhir. Ini tidak akan butuh banyak waktu, jadi tolong batalkan soal guru privat. Aku akan belajar setelah show.”
“Kapan kau akan dewasa?! Tidak! Besok . . . jangan pulang terlambat. Guru privatmu akan datang jam tujuh,” nyonya Hayasaka mengabaikan permintaan putrinya itu, yang membuat Yukari semakin frustasi.
Hari berikutnya, . . .
Bukannya datang ke sekolah, Yukari malah kabur. Dia datang ke studio Paradise kiss.
“Jadi kau meninggalkan rumah?” Tanya Arashi.
“Ya, apa lagi?”
“Jadi, kau akan jadi model kami di show besok?” Tanya Miwako.
“Ya, apa lagi?”
“Pertama, kau butuh tempat tinggal . . . dan pekerjaan . . . “ ucap Miwako.
BERSAMBUNG ke part 2
0 komentar:
Posting Komentar