Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Senin, 17 Oktober 2016

Detective Conan SP 2011 Misteri Burung Raksasa Legendaris

Berkisah di sebuah desa yang mempercayai legenda burung misterius. Dan ini adalah 100 hari sebelum Shinichi Kudo berubah menjadi Conan.

Cerita diawali dengan festival yang diadakan untuk menenangkan arwah burung raksasa yang suka memangsa manusia di sebuah desa (mirip pengorbanan di suku Maya), dengan orang-orang bertopeng burung. Seorang wanita dibawa dengan paksa menuju tugu persembahan. Tidak lama sesudahnya terdengar suara burung, dan . . . tiba-tiba saja wanita itu sudah berada di atas tugu, dalam keadaan meninggal. Sebuah benda yang dibawanya, jatuh, pecah dan bersinar . . . Ternyata itu adalah mimpi, atau lebih tepatnya kenangan seorang kaya yang tinggal di desa itu, Wakura san.

Ran dan Shinichi diundang makan malam di rumah Eri Kisaki, ibu Ran (yang pisah ranjang dengan ayahnya, Kogoro Mouri). Ketika Shinichi mencoba pasta buatan ibu Ran, wajahnya langsung berubah (huek . . . intinya pastanya ga enak). Shinichi berpaling, dan ketika ditanya ada apa, dia bilang tidak ada apa-apa, “Pastanya enak.” Tapi ibu Ran pengacara yang sensitive dan langsung tahu jika ada orang yang berbohong di depannya, maka mata kirinya langsung gatal. Ran pun mencoba pasta itu, dan langsung menunjukan wajah tidak sedap.

“Jadi, tadi kalian berbohong soal apa?” Ran dan Shinichi berpandangan, bingung.

Untung saja mereka diselamatkan oleh bunyi bel, yang ternyata Suzuki Sonoko, teman sekolah Ran dan Shinichi. Putri Suzuki group yang kaya raya. Shinichi langsung membuang pasta yang ada di piringnya, seolah telah selesai memakannya. Ketika tahu piring Shinichi telah kosong, ibu Ran ingin senang dan ingin menambahkannya lagi. Tapi Shinichi buru-buru menolak dan menghindar.

“Teman ayahku membangun sebuah villa baru di desa Jyugoya, dan karena mereka tidak bisa datang, jadi aku yang mewakilinya untuk datang. Dia adalah paman Wakura. Dan dia memintaku untuk mengajak kalian semua.”

Eri, ibu Ran bersedia, Ran tentu saja senang sekali. Shinichi pun bersedia ikut.

“Lalu bagaimana dengan ayah ?” Ran bertanya pada ibunya.

“Aku tidak ingin dia ikut kesana,” jawab Ibu Ran ketus.

Sementara di tempat lain, Mouri Kogoro sedang bertemu klien. Ia diminta untuk mencari dan menangkap raccoon peliharaan yang lepas.

“Rascaaal !” Kogoro berteriak berulang kali sambil mengendap-endap di sebuah ruangan.

Dari samping, si pemilik datang. “Aku sudah bilang, namanya pascal, pascal, bukan Rascal,” ucap si pemilik kesal.

“Tapi, Racoon biasanya bernama Rascal,” Kogoro protes.

“Aku bilang pascal, pascal,” si pemilik tidak mau kalah.

Kogoro mengalah, dan mulai mengendap-endap lagi. Ia membuka sebuah pintu pelan-pelan. Di seberang pintu, si pemilik muncul, Kogoro bingung. Si pemilik menunjuk jalan berputar lain yang bisa dilewati tanpa harus membuka pintu.

Dari arah atas, ada gerakan. Kogoro kaget, dan langsung mengejar hewan itu. Ternyata raccoon itu ada di lantai atas. Tadinya Kogoro tidak mau naik, tapi melihat si pemilik yang memaksa, ia pun naik (hahahaha . . . Kogoro takut ketinggian nih). Karena sedang sibuk, akhirnya rombongan Ran dan Sonoko meninggalkan Kogoro dan pergi ke desa Jyugoya.

Sampai di desa, mereka ternyata datang terlalu awal, sehingga belum ada yang menjemput.

“Tapi kenapa kau masih menggunakan seragam?” tanya Ran pada Shinichi.

“Aku tidak bisa pulang,” jawab Shinichi santai. (hadew, parah ni cowo . . . jangan2 ga mandi, hiyyyyy)

“Paman Wakura!” seru Sonoko kemudian.

“Siapa mereka?”

“Oh ya, ini putri saya,” ucap Eri.

“Dia teman saya, Mouri Ran dan yang satu lagi detective terkenal, Kudo Shinichi,” Sonoko menambahi.

“Selamat datang di desa dengan legenda Ottori,” ucap Wakura san kemudian. Dia lalu menjelaskan kalau di desa itu dikenal legenda mengenai Ottori, burung raksasa yang suka mencari “hayanie”.

Shinichi menambahi, kalau burung raksasa tersebut suka mencari “hayanie”, atau mangsa berupa serangga dan beberapa hewan melata.

“Ayah, jangan menakut-nakuti mereka,” seorang gadis datang mendekat. Dia memperkenalkan diri sebagai Wakura Misa, putri dari Wakura san. Bersamanya juga ada Kozaka Sho, lulusan universitas yang didatangkan juga untuk membantu di desa itu.

Mereka masuk ke desa itu melewati sebuah jembatan yang tinggi dan panjang.

“Jembatan ini adalah satu-satunya akses masuk desa,” ucap Sho kemudian.



Tiba-tiba saja Ran yang menggunakan sepatu high heel tergelincir. Shinichi yang ada di belakangnya dengan sigap meraihnya.

“Kenapa kau malah menggunakan sepatu seperti itu di tempat seperti ini? Bukankah lebih baik menggunakan sepatu datar,” Shinichi mulai menasehati Ran.

“Ah, kau tidak mengerti Shinichi, “ ucap ibu Ran. “Penampilan lebih penting dibanding kenyamanan, pada usianya saat ini,” lanjutnya.

“Memangnya siapa yang akan melihatnya di gunung seperti ini?” Shinichi protes lagi.

Ran yang kesal memilih berjalan lebih dulu dan meninggalkan Shinichi si belakangnya.

“Jika jatuh, pasti akan langsung mati,” ucap Shinichi sebelum bertingkah usil dan menggerak-gerakan lantai jembatan tali itu. Kontan rombongan heboh. Shinichi yang tetap sok cool berjalan diantara mereka sambil tersenyum penuh kemenangan.

Mereka melanjutkan perjalanan melewati tebing dan pinggiran air terjun (wuaaa . . . keren deh tempatnya). Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Mozutobi Shrine (Flying Mozu Shrine), sebuah tempat pemujaan atau pusat festival yang akan diadakan beberapa hari lagi.

Wakura san menjelaskan kalau legenda Ottori mirip dengan legenda suku Mayan. Ada kemungkinan jika suku itu berpindah kesini (jauh amat yak . . . ). Mereka sampai di ruangan utama festival, disana terdapat sebuah tugu dengan tiga cabang di atasnya, disebut God’s Perch. Dijelaskan bahwa tempat ini adalah tempat pengorbanan, agar arwah Ottori tidak marah.

“Seseorang akan dipilih disini sebagai hayanie untuk dikorbankan, supaya arwah Ottori tenang dan tidak mencelakai warga desa ini,” Wakura san menjelaskan.

Dari arah lain muncul polisi desa itu yang datang untuk membantu persiapan festival.

“Paman Wakura, apakah akan ada festival?” Tanya Sonoko.

“Iya, tiga hari lagi akan ada festival.”

“Festival apa?”

“Festival Ottori, kali ini hanya terjadi tiga ratus tahun sekali,” jelas Sho melanjutkan.

Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan burung. Rombongan yang ada di ruangan itu kaget, dan melihat sekeliling, tapi tidak ada apa-apa. Sampai Sonoko tiba-tiba saja menjerit. Semua orang melihat ke arah yang ditunjuk Sonoko. Disana, Sho telah berada di atas tugu, meninggal.



Malamnya polisi datang dan menurunkan mayat Sho. Ehhh, ternyata ada inspektur Megure. Shinichi bingung melihat inspektur Megure ada disini. Dia menjelaskan kalau sedang bertugas di daerah dekat sini, dan ketika ada laporan kejadian ini, langsung menuju kesana.

Ketika inspektur Megure menanyai para saksi yang ada disana, tiba-tiba saja datang seorang wanita misterius yang berpakaian hitam dan berasal dari bulu.

“Ini adalah kemarahan Ottori sama!” ucapnya kemudian.

Inspektur Megure yang sedang berbicara dengan Shinichi berpaling, ia bertanya lagi pada Shinichi siapa wanita itu. Shinichi mengatakan kalau wanita itu adalah salah satu penduduk desa. Wanita itu terus meneriakan kalimat yang sama, kalau keluarga Wakura sudah menyebabkan kemarahan Ottori. Inspektur Megure yang tidak percaya pada legenda itu, mencoba mengalihkan pembicaraan dan berkata akan menyeledikinya lebih lanjut. “Investigasi kali ini akan sulit,” gumamnya.

“Karena investigasi belum selasai, harap tidak ada yang meninggalkan desa ini,” ucap Megure lagi.

Setelah Inspektur Megure pergi, Shinichi merenung sendiri. Melihat tugu itu lebih seksama lagi. Dia tidak percaya kalau kematian Sho merupakan fakta dari legenda Ottori.



Hingga Shinichi menemukan sebuah pecahan. Kaca di bagian datar dan ukiran di bagian sebaliknya. Ia menimang-nimang benda ini (ada yang aneh disini, kenapa Shinichi ga pake sarung tangan atau sapu tangan ya, buat ambil benda ini? Kan bisa aja barang bukti yang ada sidik jarinya si pembunuh. Trus, kenapa Shinichi tidak menyerahkan benda ini ke Inspektur Megure dan malah menyimpannya sendiri? . . . haha, Kelana mulai deh). “Ini jelas kasus pembunuhan. Misteri pembunuhan yang tidak mungkin. Aku akan memecahkannya,” gumam Shinichi mantap.

* * *

Sementara semua orang berkumpul di villa keluarga Wakura, Shinichi mengamati ruangan itu. Sebagian besar hiasan di ruangan itu berbentuk atau berasal dari burung. Tiba-tiba saja terdengar sebuah suara tawa yang tidak asing lagi.

“Ayah?” ucap Ran.

Dari sebuah pintu munculah Mouri Kogoro. Dan dalam waktu singkat mulai mengoceh mengenai kemampuannya sebagai detektif. Sementara Eri, ibu Ran langsung muak dan memilih berpaling melihat suami-beda ranjangnya datang dan mulai mengoceh tidak jelas.

Sementara Kogoro mulai mengoceh tidak jelas, anak-anak Wakura san ada yang memilih untuk pergi, seolah tidak tertarik dengan apa yang dijelaskan Kogoro. Eri yang ada disana dan mendengarkan, semakin kesal karena mata kirinya selalu gatal ketika Kogoro bicara (hahaha . . . istri yang sensitive, ngerti banget suaminya suka ngibul . . . )

Sementara Wakura san berada sendirian dan merenung di kamarnya sambil memandangi cermin berukir. Dalam acara makan malam, Kogoro juga mulai mengoceh lagi soal legenda Ottori. Salah satu putra Wakura san yang menerima pesan, tiba-tiba beranjak pergi.

Wakura Misa, putri termuda Wakura san menceritakan kisah romantic tentang legenda Ottori. “Pasangan yang berciuman di bawah tugu God’s pearch, tidak akan terpisahkan dan akan menikah dengan bahagia.”

“Ran, kau harus mencobanya!” seru Sonoko pada Ran di sebelahnya.

Ran melirik ke arah Shinichi, sementara Kogoro yang kaget menyemburkan air yang tengah diminumnya.

“Tentu saja, aku tidak akan mencobanya,” ucap Ran kemudian. Ia masih melirik ke arah Shinichi.

Tapi dasar Shinichi, dia tidak sadar juga kalau gadis yang ada di sampingnya itu berharap lain (bener2 ga ngeh ato gimana sih ni cowo, ga sensitive sama sekali yaks . . . hahaha). Shinichi malah memikirkan hal lain. “Ottori menakuti warga desa, dan menjadikannya hayanie,” Shinichi bergumam sendiri.

Shinichi kemudian menunjukan pecahan kaca berukir yang ditemukannya. Wakura san yang melihat itu langsung mengingat apa yang selama ini menghantui dalam mimpinya. Flash back, tampak seorang wanita dengan anak kecil di sebelahnya (kayaknya ni masa mudanya Wakura san dech).

Tiba-tiba saja lampu ruangan itu berkedip, mati-hidup. Wakura san yang kesakitan, terduduk dekat jendela dan disana tiba-tiba muncul seseorang dengan topeng burung . . .



Shinichi yang melihat hal itu langsung bergegas mengejar si topeng burung. Mereka kejar-kejaran di hutan. Sayangnya Shinichi kalah cepat, si topeng burung menghilang. Shinichi menemukan sebuah kertas.

Kembali ke rumah, anak-anak Wakura san mulai bertengkar lagi soal legenda Ottori yang menjadi obsesi ayah mereka ini. Kecurigaan muncul, apalagi berhubungan dengan warisan Wakura san. Kertas yang ditemukan Shinichi saat mengejar si topeng burung ternyata berisi ancaman pada keluarga Wakura. Bahwa masih akan ada pengorbanan terkait legenda Ottori.

* * *

Anak tertua Wakura san mendapat panggilan agar ia datang ke Ruin’s God’s Perch, salah satu tugu pengorbanan di desa itu.

“Oi ! Dimana kamu? Memanggilku keluar tengah malam begini, apakah ini tentang pembagian warisan?” panggilnya.

Tiba-tiba saja muncul si topeng burung dan ….

Sementara di villa, Shinichi yang tengah bersama Kogoro mendengar suara yang sama dengan saat peristiwa kematian siang tadi. Kogoro mengajaknya membicarakan tentang legenda Ottori. Dan dia mulai mengoceh tidak jelas, dan berakhir dengan mantap mengatakan kalau dia akan menyelesaikan kasus itu. Belum sempat Shinichi berkomentar, ia sudah melihat Kogoro yang sukses tertidur di sofa.

“Secepat itu?” seru Shinichi.

Ran yang tidak bisa tidur muncul dan mengajak Shinichi jalan-jalan ke luar. Di jalan, Shinichi merasa ada yang tengah memperhatikan mereka, tapi ia tidak berbicara apa-apa pada Ran.

“Karena terjadi hal seperti ini (kematian red) mungkin festival akan ditunda?” tanya Ran kemudian.

“Mungkin,” Shinichi menjawabnya dengan cuek.

“Tapi ini hanya ada sekali setiap 300 tahun, “ protes Ran. “Shinichi, kau percaya kalau benar-benar akan ada gerhana matahari total?”

“Gerhana matahari total tidak mungkin. Tapi aku masih tertarik apa itu akan terjadi. “

“Apakah ada yang menarik disini?” (Ran kayaknya mancing2 Shinichi nih, eh jangan2 dia mau membuktikan cerita Wakura Misa . . . hahaha)

“Hmm?” Shinichi bingung.

“Seperti kisah romantic disini,” Ran sudah berada di bawah tugu disana.

“Apa itu?” Shinichi balik tanya. (ni cowok bener2 ga ngerti banget sih maksud cewe, hedew)

Ran yang kesal karena Shinichi ga ngerti juga marah dan beranjak dari sana. Tapi Shinichi tiba-tiba saja menahan tangan Ran, dan menariknya mendekat. Ran “terperangkap” di dada Shinichi (busyet bahasanya . . . hahaha). Shinichi yang akhirnya ngeh juga (ga teu baru nyadar ato cari kesempatan nih) mendekat dan . . .

Eits, ini cerita detektif . . .

Sebelum “adegan itu” terjadi, mereka dikagetkan dengan cairan warna merah yang tiba-tiba saja ada di wajah Ran. Ran dan Shinichi menengadah, mereka menemukan putra tertua Wakura san, Ryoji san di atas tugu pengorbanan. Ryoji san kemudian jatuh tepat di depan Ran dan Shinichi.



Shinichi memeriksa Ryoji san, sementara Ran mencoba memanggil Inspektur Megure dengan ponselnya. Tapi tidak mendapat sinyal. Shinichi yang memeriksa Ryoji menemukan lelaki itu telah meninggal. Ia menengadah melihat ke arah tugu itu. Dan tidak jauh dari tempat itu, Shinichi kembali menemukan pecahan cermin berukir seperti yang ia temukan sebelumnya. Shinichi semakin yakin kalau kasus itu adalah pembunuhan, dan pembunuh itu akan selalu meninggalkan pecahan cermin berukir di tempat korbannya meninggal. Di lain sisi Shinichi masih penasaran, bagaimana pembunuh itu membawa korbannya ke atas tugu. Dan suara seperti teriakan burung yang selalu muncul sebelum pembunuhan terjadi.

Ran kembali dari rumah dan tidak mendapat hasil apa-apa. Sambungan telepon juga diputus. Shinichi yang tanggap langsung bereaksi lain. Ia berlari menuju jembatan batas desa, yang menjadi satu-satunya akses masuk desa itu. Ran yang mengikuti di belakang Shinichi sempat terjatuh. Dan tepat seperti dugaan Shinichi, jembatan itu juga sudah dirusak oleh si pembunuh.



Sementara di tempat ditemukannya mayat Ryoji, warga desa mulai berdatangan. Wanita dengan asesoris aneh pun berada disana. Dia kembali mengatakan kalau itu semua adalah karena kemarahan/kutukan Ottori. Dia menyalahkan keluarga Wakura atas semua yang terjadi, dan menyuruh mereka segera meninggalkan desa.

Di villa, semua keluarga Wakura berkumpul dan dimintai keterangannya satu per satu. Tidak semua memiliki alibi yang jelas, sehingga saling mencurigai satu sama lain. Mereka juga berdebat tentang siapa yang akan menjadi giliran selanjutnya menjadi korban.

Di tempat lain, Shinichi menggabungkan pecahan kaca berukir yang ditemukannya.

“Apakah kau tahu artinya?” tanya Ran kemudian.

“Kalau aku tidak salah, ini berarti penghianatan (sambil menunjuk salah satu bagian kaca berukir itu), ini kutukan.”

“Apa yang dilakukan lelaki ini? Apakah dia berlari?” Ran meneruskan.

Semantar Wakura san memperhatikan mereka semua dari lantai atas.

* * *

Paginya mereka makan bersama seperti sehari sebelumnya. Kogoro mulai melancarkan rayuan dengan memuji makanan yang dibuat oleh Wakura Misa. Selesai makan, Kogoro mulai beraksi dan mengungkapkan analisisnya. Mereka mengungkapkan bahwa Ryoji tengah terlilit hutang dalam pengelolaan restoran keluarga. Kogoro menuduh Wakura Yoichi—putra Wakura san yang lain—sebagai dalang semua peristiwa ini. Dia menemukan punting rokok yang sama dengan yang dihisap oleh Yoichi. Tapi analisis itu dibantah habis-habisan oleh istrinya Eri, yang mengatakan kalau puntung dengan jenis itu banyak ditemukan juga di sekitar sini. Eri merebut dan merusak bukti puntung rokok yang digunakan Kogoro sebagai bukti, dan beranjak pergi.

Hal itu memicu pertengkaran masalah warisan lagi diantara anak-anak Wakura san, keculai Wakura Misa. Mereka akhirnya bubar, dan Shinichi memilih untuk menyelidiki Wakura Misa.

Sementar di ruangan lain, Kogoro dan Eri pun mulai bertengkar lagi. Kogoro tidak terima kalau analisinya dipatahkan istrinya, sementara Eri juga tidak mau kalah dari Kogoro.



Shinichi yang mengajak Misa berbicara tahu, kalau kakak perempuannya dan Ryoji yang telah terbunuh tidak setuju ketika Wakura san, ayah mereka berencana untuk menyelidiki dan mengungkap misteri legenda Ottori ini. Misa memohon pada Shinichi untuk bisa memecahkan kasus ini.

Sementara kakak perempuan Misa mendapat surat undangan yang memintanya datang ke salah satu tugu yang ada, jika ia ingin tahu bagaimana caranya menguasai harta warisan ayahnya.



Di tempat lain, Shinichi yang masih penasaran bagaimana kedua pembunuhan itu terjadi, mendatangi tugu yang ada.

“Tinggi tugu ini sekitar 8 m, dan Sho maupun Ryoji keduanya lebih dari 60 kg, bagaimana . . . ?” lamunan Shinichi terganggu oleh kedatangan wanita misterius dengan baju dari bulu burung.

“Ini semua kutukan Ottori,” ucap wanita itu lagi.

Shinichi tidak percaya, dan memaksa wanita itu menceritakan lebih lengkap tentang legenda Ottori. Tapi wanita itu menolak keras, dan malah menyuruh Shinichi dan rombongannya serta keluarga Wakura untuk segera meninggalkan desa itu.

“Keluarga Wakura menyebabkan kemarahan Ottori, hal ini menyebabkan mereka menjadi hayanie,” ucap wanita itu sebelum pergi.

Ran muncul mencari Shinichi, dia mengatakan kalau Kotomi, kakak perempuan Misa menghilang. Mereka lalu mencari Kotomi dan menemukannya tengah berdiri di dekat sebuah tugu God’s pearch. Ia menjerit melihat bangkai katak yang mati tertusuk di salah satu dahan di dekat situ.

Si dekat tugu itu, Shinichi juga menemukan lagi pecahan kaca berukir, sama seperti sebelumnya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan burung yang sama seperti sebelumnya, lalu Kotomi terbang ke arah Shinichi. Mereka jatuh bersama dan pingsan. Ran yang melihat itu semua bingung, tapi melihat ada orang lain di sekitar sana yang tengah mengawasi mereka (si topeng burung), ia berlari mengejarnya. (adudududuh Ran, bukannya nolong Shinichi eh malah ngejar penjahat sih . . . hmmm).

Ran yang mengejar si topeng burung berhasil mendekati dan berkelahi dengannya. Si topeng burung menjatuhkan sebuah remote control. Ran yang terus berusaha mengejarnya malah terjatuh ke dalam sebuah lubang. Shinichi yang sudah sadar langsung mencari Ran. Ia menemukan sebelah sepatu Ran, lalu jatuh ke sebuah lubang.



Di dalam lubang itu ternyata ada Ran dan juga ayah Ran, Kogoro. Shinichi membangunkan Ran yang pingsan, kemudian Kogoro (yang ternyata juga jatuh ke lubang itu dan tertidur). Shinichi lalu menyadari kalau dinding lubang itu lembab, dan penasaran. Ran mulai bersin. Shinichi melepas jasnya dan memberikannya pada Ran. Ran menerima jas itu dan malah mengajak Shinichi berbagi. Mereka duduk berdekatan.

“Syukurlah aku tidak sendirian. Shinichi bersamaku sekarang,” gumam Ran perlahan.

“Aku menyesal malah terperangkap disini dan tidak bisa menyelamatkanmu,” ucap Shinichi kemudian.

“Itu tidak benar. Aku senang kita disini. Tapi . . . meskipun itu bukan aku, kau akan tetap menolongnya, ya kan?”

Shinichi memandangi Ran. “Aku . . . “ ucapan Shinichi terpotong oleh suara yang datang dari arah belakang Kogoro duduk tertidur.

“Itu raccoon?” Ran penasaran.

Kogoro yang mendengar “raccoon” langsung bangun dengan penasaran. “Dimana Pascal, raccoon itu?”

“Ayah, apakah kau masih tidur?” Tanya Ran. “Racoon kan biasanya bernama Rascal,” protes Ran.

“Tapi ini Pascal. Tadi aku sedang mengejarnya, dan tiba-tiba jatuh kesini,” Kogoro masih heboh mencari hewan itu.

Shinichi yang mendengar “pascal” termenung sendiri. Ia malah bergumam tentang Pascal seorang saintis asal Prancis. Ia yang menemukan hukum tentang fluida dinamis.

Mereka dikejutkan oleh suara Eri yang menemukan mereka. Dia malah memarahi Kogoro yang dianggap selalu mengikuti putrinya Ran. “Ran sudah dewasa. Kalau kau mengikutinya terus, ia akan membencimu. Apa kalian ada kemajuan?” tanyanya kemudian pada Ran dan Shinichi yang langsung mengelak. Tapi Eri tahu mereka berbohong, karena mata kirinya langsung gatal.

Kembali di rumah, Shinichi mengintrogasi Kotomi, kenapa ia pergi ke sana sendirian. Ia mengatakan kalau ia diundang kesana, soal warisan. Mereka akhirnya kembali ribut soal warisan Wakura.

Setelah mereka bubar, Shinichi menyatukan pecahan lain yang tadi ia temukan.



“Laki-laki . . . burung . . . kutukan . . . penghianatan . . . masih perlu satu bagian lagi untuk membuat kaca ini lengkap,” ucap Shinichi. “Dengan kata lain, masih akan ada satu peristiwa lagi yang akan terjadi.”

Shinichi pergi menemui polisi desa untuk mencari informasi mengenai hayanie sebelumnya. Tapi ia malah diusir. Akhirnya Shinichi minta izin Misa untuk mencari informasi mengenai desa itu di perpustakaan pribadi keluarga Wakura. Ia menemukan banyak sekali symbol burung di ruangan itu. Dia juga kemudian menemukan cermin berukir yang lain. Ia menyatukan cermin utuh dari ruangan itu dengan pecahan cermin yang ia temukan, cocok dan merupakan pasangan.



Shinichi mencari informasi lain dari data-data dan dokumen di ruangan itu.

“Kesamaan antara Fobina Ruins masyarakat Mayan dengan desa Jyugoya . . . “

“Fobina Ruins masyarakat Mayan . . .”

“Burung raksasa . . . “

“Desa Jyugoya . . . “

“Ottori . . . “

“Cahaya matahari . . . “

“Pencapaian pyramid . . . “

“Cermin perunggu God’s pearch . . . “

“Resonansi . . . “

“Turun dari surga . . . “

“Terbang dari surga . . . “

“Pengorbanan . . . untuk Tuhan”

“Hayanie . . . “

Setelah membereskan dokumen tadi, Shinichi menemukan peta desa Jyugoya. Di bawahnya ternyata terdapat saluran air bawah tanah yang saling berhubungan. Dan itu semua ditandai juga dengan tugu God’s pearch di setiap tempat. Dan untuk memastikannya, Shinichi mendatangi tiap tugu yang ada disana. (padahal ujan salju, hiy . . . brrrr dingin yaks)



Di sebuah tempat, Shinichi menemukan makam dengan bunga yang masih segar. Ia yang tengah menyelidiki makam itu dikagetkan oleh si wanita misterius baju bulu burung. Ia mengusir Shinichi. Shinichi yang bersikeras ingin tahu lebih banyak tentang legenda Ottori itu terus diusir.

Kembali ke villa, Wakura tengah memandangi cermin berukir yang ditinggalkan Shinichi. Shinichi muncul di belakangnya.

“Anda tahu Kanno-Machiko san kan? Anda mengenalnya kan? Dan anda juga tahu siapa pelaku semua ini?”

Dengan bermodal peta desa, Shinichi mendatangi semua tempat yang God’s perch di desa itu, dan menyelidikinya satu per satu (ni anak punya ide apa sih?)

Sementar di vila, Wakura didatangi warga desa yang memintanya untuk meninggalkan desa untuk menghindari kutukan Ottori. Tapi Wakura menolak. Ia merasa bertanggungjawab terhadap desa ini.

Hari festival tiba.



Wakura sebagai kepala desa berdiri di tengah, tepat di bawah tugu God’s perch. Keadaan berangsur gelap. Wanita misterius meletakan cermin berukir di tempatnya, tepat di samping tugu God’s perch. Api yang ada juga padam. Tiba-tiba terdengar suara teriakan burung. Tidak lama sesudahnya, kembali terang. Wakura menghilang dan tampak seseorang di ata tugu. Orang-orang berpikir itu adalah Wakura. Tapi ternyata itu hanya boneka. Wakura dan Shinichi muncul dari balik tugu itu.



Shinichi menjelaskan bahwa ini semua mematuhi hukum Pascal. Dimana pada bejana berhubungan, tekanan ke bawah yang diberikan pada satu bejana, akan sebanding dengan tekanan ke atas yang diterima oleh bejana lain.



Hal ini juga sama terjadi saluran air bawah tanah di desa Jyugoya. Saat tekanan ke bawah diberikan pada salah satu bagian, maka bagian lain yang berhubungan akan memberikan tekanan ke atas yang sama besar. Sehingga benda yang ada di atasnya dapat terlempar aka terbang ke atas.



“Pada kasus pertama, korban seharusnya adalah Misa san. Tapi Misa berpindah, dan Sho yang berdiri di tempat Misa sebelumnya yang terlempar ke atas dan menjadi korban. Kasus kedua jelas. Pada kasus ketiga, efek tekanan tidak kuat, sehingga Kotomi hanya terlempar dan tidak sampai ke atas. Hal ini terjadi karena malam sebelumnya, Ran sempat terjatuh dan menimbulkan lubang di tempat itu. Efek gerhana matahari juga merupakan buatan, yang dilakukan oleh Ran dan Sonoko,” ucap Shinichi lagi.



“Dan pelaku semua kejahatan ini adalah anda, . . . polisi Haji !”



Shinichi merebut walki talki yang tidak lain adalah remote control yang dipegang Polisi Haji.

Flash back:

Kanno-Machiko san adalah ibu Haji yang disia-siakan oleh Wakura di desa itu. Dia meninggal ketika Haji berusia lima tahun. Mereka pernah datang di kantor Wakura di kota, dan Machiko memperkenalkan Haji sebagai putra mereka. Dia memberikan separuh cermin berukir yang diinginkan Wakura. Wakura memberikan sebuah cek dan menyuruh Machiko dan Haji kembali ke desa. Ia tidak mau mengakui Machiko dan Haji sebagai bagain darinya.



Machiko yang merasa dikhianati dan putus asa memilih bunuh diri di tugu God’s perch.



Wakura yang menyesal karena telah mengabaikan Machiko dan putranya, berlutut. Tapi Haji masih dikuasai kemarahan, dan hendak menembak Wakura. Dia tidak mengakui fakta bahwa Wakura adalah ayahnya. Dia dicegah oleh Shinichi.

Akhirnya, potongan terakhir cermin berukir itu diberikan. Cermin itu lengkap. Wanita misterius lalu mengungkapkan legenda Ottori yang selengkapanya. Ottori adalah inkarnasi dari wanita yang telah dikhianati oleh kekasihnya.

“Kenapa kau tidak pernah menceritakan detailnya?” Tanya Shinichi.

“Aku kasihan dan tidak ingin anak ini (Haji) yang aku besarkan sejak kecil terluka lagi.”

“Jadi, kau selalu mengusir keluarga Wakura dari desa ini karena tidak ingin dia (Haji) melakukan kejahatan ini?” ucap Shinichi menyimpulkan.



Cermin perunggu yang asli akhirnya kembali, dan dipasangkan ke tugu God’s perch. Tiba-tiba tugu itu bersinar, dan memancarkan sinar ke arah luar ruangan. Sinar itu memantul ke tugu God’s perch yang lain, terus dan mengelilingi desa. Terakhir tampak desa itu seperti dikelilingi sinar.



Burung-burung mulai ramai beterbangan. Semua orang keluar ruangan itu, dan melihat burung-burung itu membentuk pola sebuah burung raksasa dan menutup sinar matahari yang memancar ke desa itu.

“Jadi ini gerhana matahari total itu,” gumam Shinichi.



Setelah burung-burung itu bubar kembali, tiba-tiba muncul Inspektur Megure yang sudah memborgol Haji. Ran dan Shinichi bingung, “Dia ada disini?”

Terakhir, Inspektur Megure beranjak pergi sambil mengcungkan dua ibu jarinya ke arah Shinichi.



Setelah semua selesai, Ran berduaan mengobrol dengan Shinichi.

“Akhir yang menyedihkan, ya kan?”

“Ya. Ngomong-ngomong Ran . . . “

“Huh?”

‘Tentang yang kau katakan waktu itu . . . “

“Waktu itu?”

“Saat kita jatuh di lubang . . . “

“Aku . . . “

“Ya . . . “

“ . . . melakukannya karena itu, Ran.”

Shinichi mendekati Ran. Dan adegan romantic . . . (cut . . . sensor, hahahaha)

“Aku bilang itu Pascal!” Kogoro tidak mau kalah.

Ternyata keasyikan Ran dan Shinichi terganggu oleh keributan Kogoro dan Eri yang berebut raccoon, yang ternyata seekor kucing.

Sementara Sonoko yang tertinggal di belakang berlari mengejar.

Such a nice ending. But, I think, this film is just for 17+ . . . hahaha

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.