Senjata yang digunakan adalah music. Dengan mengkombinasikan music dan gelang bernikotin, Yumehito menyulut kerusuhan di sebuah arena konser. Kali ini Ainosuke berhasil menggagalkan rencana kakaknya itu. Tapi kasus belum selesai … !!!
“Sensei, ini karena kau tak bisa membayar hutangmu!” Yatabe-san sang debt collector mendekati Hitomi sensei.
Hitomi-sensei yang ketakutan menyambar tongkat logam di sebelahnya. Dan … brug! Menghantamkan benda logam itu ke kepala Yatabe-san. Bergegas Hitomi-sensei melarikan diri dari tempat itu.
Ainosuke berangkat sekolah seperti biasa. Di sepanjang jalan ia masih saja memikirkan apa yang sebenarnya tengah direncanakan kakaknya, Yumehito. Kasus membunuh dengan music berhasil dicegah, tapi itu belum selesai. Ainosuke juga menghawatirkan senseinya satu ini, karena Yumehito ternyata juga mengetahui keberadaan Hitomi-sensei. Ainosuke datang ke ruang kesehatan menemui senseinya.
“Sensei.”
“Selamat pagi Ainosuke. Ada apa?” Hitomi-sensei heran.
“Tak apa-apa, hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja,” ujar Ainosuke lega. “Sensei, apa ada sesuatu yang aneh yang terjadi di sekitarmu?”
“Sesuatu yang aneh?” Hitomi-sensei heran.
Tiba-tiba sekelompok orang datang ke ruang kesehatan. Mereka dipimpin oleh detektif Fukuchi.
“Kami dari kepolisian. Jangan bergerak. Sayama Hitomi? Anda tahu orang ini, kan?” detektif Fukuchi menunjukkan foto Yatabe-san.
“Apa? Uum, ya... “ Hitomi-sensei ragu menjawabnya. “Ada apa dengan orang itu?”
“Kami menemukan mayatnya.”
“Mayat?”
“Kemarin malam, dia dikubur di dekat Shinagara. Sayama Hitomi, sebagai tersangka pada kasus pembunuhan ini, ikutlah dengan kami ke kantor polisi,” ujar detektif Fukuchi.
“Apa?!”
“Ini buktinya,” detektif Sakisaka menunjukkan foto bukti saat Hitomi-sensei memukul Yatabe.
Polisi kemudian menggelandang Hitomi-sensei keluar dari ruang kesehatan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu Ainosuke yang syok dan tidak percaya dengan tuduhan itu berusaha menjelaskan, tapi polisi tidak menggubrisnya.
Ainosuke akhirnya dihempaskan ke lantai oleh seorang polisi. Kepalanya kembali terbentur dinding, dan kilasan gambar muncul di mata kirinya. Sebuah guillotine , pisau yang menembus dinding, tangan yang menggedor-gedor dinding, asuransi kesehatan dengan jumlah besar dan kartu jaminan kalau penerima uang asuransi itu istri korban.
Di kantor polisi, Hitomi-sensei mulai diinterogasi. Kali ini petugas yang melakukannya adalah detektif Sakisaka, “Sensei, pada tanggal 6 Februari sekitar jam 9.30 malam, dimana kau dan apa yang kau lakukan?” ucap detektif Sakisaka.
Hitomi-sensei mencoba mengingat, tapi akhirnya menyerah karena dia tidak ingat sama sekali dengan apa yang dilakukannya hari itu, “Aku tak ingat. Sungguh aku tak ingat apa-apa.”
“Jejak kaki pada lokasi kejadian sama dengan sepatumu. Kami juga menemukan pipa yang digunakan sebagai senjata. Kami bahkan punya saksi mata yang mengatakan bahwa kau dan korban berkelahi disana,” sambung Sakisaka lagi
“Itu tak mungkin... Aku tak bisa mengingatnya,” Hitomi-sensei semakin tertekan.
“Jika kau terus berpura-pura seolah kau tak tahu apa-apa, kau tak akan bisa pulang hari ini. Kutanya sekali lagi. Pada tanggal 6 Februari sekitar jam 9.30 malam, dimana kau dan apa yang kau lakukan?” sekali lagi detektif Sakisaka menekan Hitomi-sensei.
Ainosuke datang ke kantor polisi. Ia masih berniat menjelaskan kalau sensei-nya ini tidak bersalah. Tapi polisi melarang Ainosuke menemui Hitomi-sensei. Akhirnya Sakisaka yang kebetulan melihat perdebatan Ainosuke dan seorang polisi, mengajak Ainosuke bicara di atap.
“Apa yang ingin kau lakukan pada Sensei?”
“Apa kau sangat khawatir terhadap sensei-mu? Bukti fisiknya lengkap, dia juga punya alasan, dan dia juga tak punya alibi. Apapun yang kau lakukan, percuma saja. Bagaimana?” tantang setektif Sakisaka a.k Yumehito.
“Aku tak akan biarkan ini terjadi sesuai keinginanmu. Aku pasti akan menyelamatkan Sensei,” gertak Ainosuke balik.
Detektif Sakisaka tersenyum, “Yah, berusahalah, adik,” lalu beranjak pergi.
Detektif Fukuchi tiba-tiba mendapat kabar, kalau mayat Yatabe-san yang berada di ruang penyimpanan mayat hilang. Ia buru-buru mendatangi ruangan itu. Disana detektif kato dan ahli forensic menunjukkan locker tempat seharusnya mayat itu berada … kosong. Begitupula locker lain di sekelilingnya … kosong.
Polisi melakukan meeting besar. Mereka melaporkan perkembangan kasus yang tengah teradi ini.
“Tersangka, Sayama Hitomi, mempunyai hutang. Korban, Yatabe, bertugas untuk menagih hutangnya. Yatabe sering terlihat mendatangi rumah dan juga tempat kerjanya beberapa kali,” lapor salah seorang polisi.
“Apa ada jawaban dari tersangka?” tanya detektif Fukuchi.
“Belum. Dia hanya mengatakan bahwa ia tidak ingat dan tidak tahu. Dia juga tak kelihatan seperti sedang berbohong. Terkadang saat orang terkejut, mereka bisa kehilangan ingatannya,” kali ini Sakisaka yang memberikan laporan.
“Tetap awasi dia. Selanjutnya! Bagaimana dengan mayat yang menghilang?”
“Kami telah memeriksa rekaman dari kamera pengawas, tetapi rekaman dari kamar autopsi ke pintu samping telah dihapus. Ada kemungkinan orang luar telah membajak sistemnya,” lapor detektif Kato.
“Mungkin dia punya teman yang membantu. Selidiki semuanya tentang Sayama Hitomi,” detektif Fukuchi mengambil kesimpulan. Ia lalu mengintruksikan agar investigasi dilanjutkan.
Ainosuke yang tidak berhasil menemui Hitomi-sensei rupanya masih bertahan di kantor polisi. Sambil menunggu detektif Kato, Ainosuke membuka-buku buku sketsanya. “Guillotine (Guillotine = alat pemenggal kepala), Kartu asuransi kesehatan Yatabe. Penerimanya adalah istrinya. Apa ini?”
“Ainosuke-kun,” sapa detektif Kato kemudian.
“Dimana Sensei?”
“Sayang sekali, tetapi dengan situasi seperti ini ia tak akan bisa keluar untuk sementara,” ucap detektif Kato.
“Bu guru tak akan pernah membunuh seseorang,” elak Ainosuke.
“Aku juga ingin percaya itu, tetapi ada bukti dan juga alasan bagi dia untuk membunuh. Aku sedang terburu-buru, aku pergi dulu,” ujar detektif Kato kemudian.
“Apa ada sesuatu yang terjadi?” Ainosuke penasaran.
“Hanya antara kita, mayat Yatabe menghilang dari ruang autopsy,” bisik detektif Kato kemudian.
“Mayatnya? Tolong tunggu sebentar. Bukankah Yatabe-san mempunya asuransi sebesar 30 juta yen? Dan bukankah penerimanya adalah istrinya?” lanjut Ainosuke.
“Apa?! Apa kami memberitahumu informasi itu? Kau bahkan bisa mengetahui hal itu dengan intuisimu?” detektif Kato semakin heran.
“Kato-san, ada tempat yang ingin kudatangi bersamamu besok. Mungkin kita akan tahu pelaku sebenarnya. Kumohon,” pinta Ainosuke.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” detektif Fukuchi kembali menemui Kokusho di selnya.
“Apakah kau sudah menemukan mayat yang menghilang itu?”
“Laptop itu punya semua informasi itu?” detektif Fukuchi malah kembali bertanya.
“Kau menahan Sayama Hitomi, kan? Aku ingin kau membawanya kesini malam ini. Jika kau mengabulkan permintaanku, akan kuhadiahkan padamu informasi yang hebat. Seperti, fakta bahwa pemilik laptop ini mempunyai adik yang lucu,” pancing Kokusho. “Dan adiknya adalah seorang anak yang kau kenal.”
Ainosuke pulang ke tempa tinggalnya. Disana Yoshida-san dan Miruku-san, sang pemilik apartemen memberinya sebuah tiket ke pertunjukkan sulap, Lady-X.
“Dia seorang pesulap yang terkenal. Dia melakukan sulap dengan guillotine. Hebat sekali, bukan?” promosi Miruku-san.
Ainosuke berpikir, “Apakah pertunjukan sulap itu berkaitan dengan kasus ini?”
Detektif Fukuchi akhirnya memenuhi permintaan Kokusho. Ia membiarkan Hitomi-sensei semalam di dalam sel Kokusho.
“Selamat datang. Maukah kau temani aku bermain ini? Aku bosan sendirian. Silakan,” ujar Kokusho memainkan karet gelang di tangannya. “Siapa namamu?”
“Aku Sayama Hitomi,” Hitomi-sensei ketakutan setengah mati.
“Bagaimana menuliskannya?”
“Kanji “su” dari "semai" (sempit, sesak) dan “me” dari "Hitomi" (mata).”
“Namaku Kokushou Akira. Ini, ambillah,” Kokusho menyodorkan karet gelang itu ke arah Hitomi-sensei. Tapi !!! ternyata itu hanya sebuah kamuflase yang digunakan Kokusho untuk menyampaian sebuah pesan yang tertulis di tangannya pada Hitomi-sensei, Aku ingin kau menjadi mata-mataku.
“Apa?!” Hitomi-sensei heran.
“Kokushou dari “kuroi” (hitam), “suishou” (kristal) dan Akira juga “shou” dari "suishou”. Apa pekerjaanmu?”
“Aku guru kesehatan di SMP,” Hitomi-sensei mengembalikan permainan karet itu pada Kokusho.
“Jadi kau seorang guru? Artinya kau bekerja untuk pemerintah. Gajinya besar, kan? Ambillah,” Kokusho kembali menyodorkan karet gelang itu pada Hitomi-sensei. Dan dari telapak tangan satunya, tertulis pesan lain, Bayarannya 2 juta yen.
“Dua... “ Hitomi-sensei semakin syok.
“Maaf sudah membuatmu tak masuk kerja,” karena Hitomi-sensei ditahan di kantor polisi, kali ini Ainosuke melakukan investigasi ditemani detektif Kato.
“Tiba-tiba sakit perut, sudah dari SD aku menggunakan kebohongan seperti itu. Mau bagaimana lagi, karena polisi tak bisa membolos kerja tanpa alasan,” jawab detektif Kato santai.
“Omong-omong, apa kau sudah menemukan mayat yang menghilang itu?”
“Tidak, belum. Oh, hanya antara kita saja ... Rekaman dari kamera pengawas sudah dihapus, kemungkinan mayatnya sudah dibawa keluar,” bisik detektif Kato.
Detektif Kato dan Ainosuke rupanya mendatangi rumah Yatabe-san. Disana mereka disambut istri dan anak Yatabe-san. Detektif Kato melihat sekeliling, tampak beberapa lubang dan kerusakan di dinding oleh suatu sebab.
“Maaf. Ada apa Anda datang kemari hari ini?” tanya istri Yatabe-san. “Jika untuk membicarakan hal itu, kemarin kan sudah. Dan bukankah pelakunya sudah ditangkap?”
“Yah, kami hanya dalam tahap menemukan tersangka. Maaf jika saya terus menanyakan hal ini, tetapi... Apa yang Anda lakukan pada tanggal 6 saat suami Anda dibunuh?” tanya detektif Kato kemudian.
“Saat itu, aku pergi bersama anakku untuk menonton pertunjukan sulap. Pertunjukan dimulai pukul 7 malam dan selesai pukul 10 malam. Lady X. Aku yakin pegawai disana akan mengingat kami. Jika Anda memeriksanya, Anda akan mengerti.”
Ainosuke dan detektif Kato pamit setelah tidak mendapat banyak informasi dari istri Yatabe-san. Mereka menuju gedung pertunjukkan seperti yang dituturkan istri Yatabe-san, untuk memastikan alibi mereka.
“Apa kau lihat memar di lehernya? Kurasa itu DV,” ujar detektif Kato setelah keduanya kembali ke mobil.
“DV?”
“Domestic Violence, kekerasan dalam rumah tangga. Para tetangga mendengar suara kaca pecah dan teriakan,” ucap detektif Kato menjelaskan.
“Tapi jika sang istri menderita karena kekerasan dari Yatabe... Itu bisa menjadi alasan untuk membunuhnya,” sambung Ainosuke.
“Benar, tetapi ia punya alibi bahwa ia sedang menonton pertunjukan sulap.”
“Aku akan menontonnya sekarang, aku diberi tiketnya kemarin.”
“Apa? Kalau begitu aku pergi juga. Aku bisa masuk jika aku menunjukkan lencanaku,” detektif Kato setuju bersama Ainosuke.
Semalaman Hitomi-sensei berada di sel Kokusho. Puas menyampaikan pesannya, Kokusho kembali ke kebiasaannya dan mengabaikan Hitomi-sensei. Tahu kalau ada kamera pengawas di sekeliling ruangan sel itu, Hitomi-sensei mencoba minta pertolongan.
“Maaf, bisa kau dengar aku? Aku sungguh tak ingat apapun. Jadi bisakah kau keluarkan aku dari sini? Kumohon, aku sungguh tak ingat apapun. Kumohon tolong aku, keluarkan aku dari sini!” Hitomi-sensei mencengkeram erat besi di sel itu. Tiba-tiba itu membawanya pada malam saat kejadian pemukulan Yatabe terjadi. Hitomi-sensei akhirnya ingat kalau malam itu, ia memang memukul Yatabe-san! “Perasaan ini... Aku memukulnya. Aku... Aku...”
Detektif Kato dan Ainosuke menuju gedung pertunjukkan sulap yang dimaksud. Disana mereka bertemu dengan kru yang bertanggungjawab dalam perform sulap itu.
“Aku ingin bertanya sesuatu. Kau ingat keluarga ini?” detektif Kato menunjukkan foto istri dan anak Yatabe-san.
“Dia ada disini pada malam tanggal 6. Aku sangat mengingat keluarga ini. Ada sedikit kejadian kecil. Kami meminta pertisipasi dari penonton untuk pertunjukan utama. Suasana menjadi tegang setelahnya... karena si anak ketakutan kalau ibunya tidak akan kembali,” papar si kru sulap.
“Umm, berapa lama sang Ibu menghilang?” tanya detektif Kato lagi.
“Karena anaknya menangis, jadi sedikit lebih lama, tapi itu hanya sekitar 2 atau 3 menit.”
“Sebelum atau sesudahnya tak masalah, tapi apakah sang Ibu pernah pergi?”
“Tidak pernah, dia akan terlihat jika dia berdiri selama pertunjukan. Dan penonton tak bisa keluar tanpa melewati lobi.”
Informasi dari kru sulap masih belum cukup. Waktu saat si ibu menghilang tidak cukup untuk melarikan diri, lalu melakukan pembunuhan dan kembali ke gedung pertunjukkan. Meski si istri memiliki alasan yang kuat, tapi alibinya sempurna.
Hitomi-sensei dikeluarkan dari sel Kokusho. Ia lalu memberikan pengakuan, “Aku melakukannya. Aku memukul Yatabe-san dengan pipa. Aku diserang. Aku ketakutan. Karena itulah...”
Detektif Sakisaka yang bertugas menginterogasi Hitomi-sensei tersenyum puas. Ia lalu memberikan informasi ini pada detektif Fukuchi.
Malamnya, Ainosuke bersama Yoshida-san si pemilik apartemen dan Miruku-san menyaksikan pertunjukkan sulap. Detektif Kato juga berada di sana. Malam itu, sang pesulap, Lady-X menggunakan guillotine sebagai alat pada pertunjukkan pertamanya. Alih-alih menikmati pertunjukkan, Ainosuke malah larut dalam pikirannya sendiri.
“Aku benar, ada sesuatu di balik pertunjukan sulap ini,” gumam Ainosuke dalam hati.
“Penonton sekalian, selanjutnya adalah pertunjukan utama. Hari ini, aku mencoba mengubah ceritanya sedikit. Ini. Aku akan memasang dinamit ini di dalam kotak. Saat ini meledak, orang di dalam kotak tentunya akan mati. Aku sedikit khawatir apakah ini akan berhasil atau tidak. Tapi aku akan berusaha sebaiknya, jadi jika ada orang yang bersedia membantuku... Apakah ada orang yang cukup berani untuk masuk ke dalam kotak ini? Oh, tak ada seorangpun? Tak ada satupun pemberani di ruangan ini hari ini? Siapapun? Kalian semua pengecut,” tantang Lady-X.
Setelah mengumpulkan kekuatan, akhirnya Ainosuke yang mengatakan bersedia, “Ya!”
“Jawaban yang hebat. Jadi, kurasa aku akan meminta tolong kepada sang pemberani di sana.”
Ainosuke lalu naik ke panggung. Dibantu oleh kru, ia dituntun masuk ke dalam kotak yang telah dipersiapkan.
“Jalan keluarnya tertulis di sisi kiri kotak. Omong-omong, apa kau ingat aku?” ujar salah satu kru sulap yang ternyata adalah Komukai-san! Salah satu partner Yumehito. “Kita pernah bertemu sebelumnya.”
Setelah menggembok kotak itu, Lady-X menusukkan beberapa pedang kedalamnya. Di dalam kotak Ainosuke mulai panic. Petunjuk untuk keluar dari kotak yang terletak di dinding sebalah kiri kotak ternyata dirusak, ia tidak bisa membaca petunjuk apapun disana.
“Sekarang, orang ini tak akan bisa keluar. Dan saat dinamitnya dinyalakan, akan meledak dalam 10 detik,” ia kemudian menyalakan dinamit dan memasukkannya ke dalam kotak tersebut.
Lady-X mulai menghitung mundur. Ainosuke mencoba konsentrasi mengingat kilasan yang pernah ia lihat di mata kirinya. Ainosuke ingat, kilasan ketika sebuah tangan menggedor sisi bawah kotak. Tergesa Ainosuke melakukan hal yang sama dan … bagian bawah kotak terbuka. Ia lolos tepat saat kotak itu meledak bersama dinamit di dalamnya !!!
Keluar dari kotak, Ainosuke mengikuti petunjuk keluar di gedung pertunjukkan itu. Akhirnya ia bisa kembali ke panggung lewat kotak yang lain. Tepuk tangan bergemuruh di sisi penonton, tapi Ainosuke mengabaikannya dan malah langsung menhambur ke arah detektif Kato.
“Detektif Kato, aku paham sekarang!”
Detektif Kato dan Ainosuke kembali ke kantor polisi. Mereka menuju tempat mayat Yatabe disimpan. Ainosuke lalu mempraktekkan cara yang sama dengan cara meloloskan diri dalam trik sulap tadi dengan mekanisme penyimpanan mayat di ruangan itu. Dan … locker tempat menyimpan mayat terbuka. Tampak tubuh Yatabe-san ada di bagian bawah!
“Yatabe!? Ini trik yang sama dengan yang digunakan di pertunjukan sulap.”
“Aku tak percaya ini,” komentar detektif Kato.
Dokter forensic lalu mengeluarkan mayat itu. Ia melepas “wajah” dari kepala mayat Yatabe. Sebuah wajah lain muncul! Ternyata itu bukan mayat Yatabe yang asli!
“Sial! Itu bukan Yatabe. Apa ini? Bagaimana mungkin ini terjadi?!”
Ainosuke merasakan getaran di mata kirinya. Karena tidak ada Hitomi-sensei yang biasa ia mintai tolong untuk memukulnya, kali ini Ainosuke menabrakkan diri ke dinding. Kilasan gambar muncul di mata kirinya. Kartu asuransi kesehatan milik Yatabe-san. Sejumlah uang yang diterima istri Yatabe dari asuransi kesehatan itu. Dan wajah seorang pria yang tidak dikenalnya.
“Ainosuke! Kau baik-baik saja?” detektif Kato mengejar Ainosuke yang tergeletak di lantai setelah menabrakkan dirinya.
“Detektif Kato, bawa Detektif Fukuchi kesini sekarang juga, kurasa aku tahu seluruh kebenaran di balik kasus ini.”
Di pelabuhan, tampak seorang pria berjaket, bermasker dan bertopi sedang membersihkan tempat ikan. Dari beberapa penjuru, sekelompok polisi mengintainya, dan tidak lama kemudian melakukan penyergapan.
“Anda Yatabe Ryoji,” tembak detektif Fukuchi kemudian.
Yatabe-san lalu menceritakan semuanya. Ia ditemui seorang wanita yang menjanjikannya kehidupan baru yang berbeda dengan kehidupannya sekarang. Wanita itu menyuruh Yatabe-san untuk berpura-pura diserang seorang wanita, yakni Sayama Hitomi-sensei.
Malam itu, Yatabe-san membuat Hitomi-sensei memukulnya. Tapi ternyata ia tidak pingsan apalagi meninggal, karena logam yang digunakan tidak keras. Setelah Hitomi-sensei pergi, Yatabe yang pura-pura pingsan bangun dan mengganti logam yang digunakan untuk memukulnya dengan logam yang sesungguhnya. Ia mendapat telepon dari si wanita misterius. Wanita itu lalu menyuruh Yatabe-san untuk mengubur mayat seseorang dengan wajah dan pakaian sama sepertiny. Mulanya Yatabe-tidak mengerti, tapi akhirnya ia menurut saja.
“Jika kau tak melakukan sesuai perintahku, akan kulaporkan pada polisi bahwa kau telah membunuhnya,” ujar si wanita misterius.
Yatabe-san mengakhiri ceritanya, “Aku hanya mengikuti apa yang diperintahkan. Aku tak menyangka akan terlibat dalam pembunuhan.”
Sebuah mobil polisi lain datang. Rupanya istri dan anak Yatabe-san menyusul ke dermaga, “Sayang.. Apakah itu untuk meninggalkan uang pada kami? Kapan aku pernah meminta itu? Kenapa kau... Hanya untuk itu?” ujar istri Yatabe-san syok.
“Maafkan aku,” ujar Yatabe-san pasrah.
Mobil yang membawa Yatabe-san dan istrinya sudah berangkat lebih dulu. Tinggal Ainosuke, detektif Fukuchi, detektif Kato dan detektif Sakisaka di belakang.
“Jika autopsi sudah selesai, kalian akan segera mengetahui bahwa itu adalah tubuh yang berbeda. Karena itulah, pelaku menyembunyikannya... Menggunakan trik yang dipakai dalam sulap. Apa aku salah Detektif Sakisaka?” ujar Ainosuke tiba-tiba.
“Apa? Kenapa kau bertanya padaku?” detektif Sakisaka pura-pura kaget.
“Aku hanya berpikir bahwa Detektif Sakisaka mungkin sudah menyimpulkan seperti itu,” ucapan Ainosuke semakin tajam.
“Tidak, tidak sama sekali. Aku hanya terpukau dengan kesimpulanmu. Ya kan, Kato-san?” detektif Sakisaka mencari pembenaran.
“Itu benar, kau hebat,” sambung detektif Kato kemudian.
“Ainosuke-kun, aku perlu bicara denganmu,” pinta detektif Fukuchi kemudian.
Detektif Fukuchi dan Ainosuke kembali ke kantor polisi. Mereka bertemu dengan Hitomi-sensei yang telah dibebaskan.
“Ainosuke! Ainosuke! Kudengar Ainosuke yang sudah membuktikan bahwa aku tak bersalah,” ujar Hitomi-sensei sumringah.
“Syukurlah, sensei,” Ainosuke lega.
“Terima kasih banyak. Aku tak bisa mengingat apapun. Ayo pulang sama-sama. Oke?”
“Maaf, sensei. Aku harus bicara sesuatu yang penting dengan detektif Fukuchi,” tolak Ainosuke.
Di atap, detektif Sakisaka a.k Yumehito menghubungi partnernya, “Sebelum identitas mayatnya diketahui, segera lakukan rencana B. Telepon dia.”
“Baik,” ujar Komukai-san dari seberang telepon. Ia pun lalu menghubungi orang lain yang dimaksud, “Maaf atas pemberitahuan mendadak ini, tapi bisakah aku minta tolong?”
“Aku mengerti, aku akan menyiapkannya,” ujar suara di seberang yang ternyata adalah Yoshida-san, pemilik apartemen tempat Ainosuke tinggal.
Di tempat lain, Detektif Fukuchi mulai menginterogasi Ainosuke.
“Kurasa Yatabe tak berkaitan dengan hilangnya mayat. Kurasa hilangnya mayat mungkin berkaitan dengan kasus selanjutnya,” ujar Ainosuke.
“Bagaimana kau bisa tahu semua itu?”
“Itu karena...”
“Aku sudah memperhatikanmu selama ini, dan kau selalu terlibat dalam setiap kasus. Tapi aku tak berpikir bahwa kau adalah bagian dari organisasi kejahatan itu. Tidak, di samping itu, kau selalu berusaha sangat keras untuk mencegah terjadinya kejahatan. Ada seorang tahanan bernama Kokusho Akira, dan dia memberitahuku sesuatu yang menarik,” pancing detektif Fukuchi.
“Sesuatu yang menarik?” Ainosuke heran.
“Kau punya seorang kakak yang tewas dalam ledakan, kan? Apa hubungan kakakmu dengan kasus berantai ini? Sekarang katakan semuanya padaku!”
Ainosuke kaget dengan ucapan detektif Fukuchi. Ia bingung harus berbuat apa. Jika ia memberitahu identitas kakaknya, maka orang itu akan meninggal. Tapi ia juga tidak bisa menghentikan semua rencana kakaknya itu sendirian. Setelah mengumpulan keyakinan, akhirnya Ainosuke memutuskan bicara, “Kakakku... Kakakku...”
“Sensei, ini karena kau tak bisa membayar hutangmu!” Yatabe-san sang debt collector mendekati Hitomi sensei.
Hitomi-sensei yang ketakutan menyambar tongkat logam di sebelahnya. Dan … brug! Menghantamkan benda logam itu ke kepala Yatabe-san. Bergegas Hitomi-sensei melarikan diri dari tempat itu.
Ainosuke berangkat sekolah seperti biasa. Di sepanjang jalan ia masih saja memikirkan apa yang sebenarnya tengah direncanakan kakaknya, Yumehito. Kasus membunuh dengan music berhasil dicegah, tapi itu belum selesai. Ainosuke juga menghawatirkan senseinya satu ini, karena Yumehito ternyata juga mengetahui keberadaan Hitomi-sensei. Ainosuke datang ke ruang kesehatan menemui senseinya.
“Sensei.”
“Selamat pagi Ainosuke. Ada apa?” Hitomi-sensei heran.
“Tak apa-apa, hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja,” ujar Ainosuke lega. “Sensei, apa ada sesuatu yang aneh yang terjadi di sekitarmu?”
“Sesuatu yang aneh?” Hitomi-sensei heran.
Tiba-tiba sekelompok orang datang ke ruang kesehatan. Mereka dipimpin oleh detektif Fukuchi.
“Kami dari kepolisian. Jangan bergerak. Sayama Hitomi? Anda tahu orang ini, kan?” detektif Fukuchi menunjukkan foto Yatabe-san.
“Apa? Uum, ya... “ Hitomi-sensei ragu menjawabnya. “Ada apa dengan orang itu?”
“Kami menemukan mayatnya.”
“Mayat?”
“Kemarin malam, dia dikubur di dekat Shinagara. Sayama Hitomi, sebagai tersangka pada kasus pembunuhan ini, ikutlah dengan kami ke kantor polisi,” ujar detektif Fukuchi.
“Apa?!”
“Ini buktinya,” detektif Sakisaka menunjukkan foto bukti saat Hitomi-sensei memukul Yatabe.
Polisi kemudian menggelandang Hitomi-sensei keluar dari ruang kesehatan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu Ainosuke yang syok dan tidak percaya dengan tuduhan itu berusaha menjelaskan, tapi polisi tidak menggubrisnya.
Ainosuke akhirnya dihempaskan ke lantai oleh seorang polisi. Kepalanya kembali terbentur dinding, dan kilasan gambar muncul di mata kirinya. Sebuah guillotine , pisau yang menembus dinding, tangan yang menggedor-gedor dinding, asuransi kesehatan dengan jumlah besar dan kartu jaminan kalau penerima uang asuransi itu istri korban.
Di kantor polisi, Hitomi-sensei mulai diinterogasi. Kali ini petugas yang melakukannya adalah detektif Sakisaka, “Sensei, pada tanggal 6 Februari sekitar jam 9.30 malam, dimana kau dan apa yang kau lakukan?” ucap detektif Sakisaka.
Hitomi-sensei mencoba mengingat, tapi akhirnya menyerah karena dia tidak ingat sama sekali dengan apa yang dilakukannya hari itu, “Aku tak ingat. Sungguh aku tak ingat apa-apa.”
“Jejak kaki pada lokasi kejadian sama dengan sepatumu. Kami juga menemukan pipa yang digunakan sebagai senjata. Kami bahkan punya saksi mata yang mengatakan bahwa kau dan korban berkelahi disana,” sambung Sakisaka lagi
“Itu tak mungkin... Aku tak bisa mengingatnya,” Hitomi-sensei semakin tertekan.
“Jika kau terus berpura-pura seolah kau tak tahu apa-apa, kau tak akan bisa pulang hari ini. Kutanya sekali lagi. Pada tanggal 6 Februari sekitar jam 9.30 malam, dimana kau dan apa yang kau lakukan?” sekali lagi detektif Sakisaka menekan Hitomi-sensei.
Ainosuke datang ke kantor polisi. Ia masih berniat menjelaskan kalau sensei-nya ini tidak bersalah. Tapi polisi melarang Ainosuke menemui Hitomi-sensei. Akhirnya Sakisaka yang kebetulan melihat perdebatan Ainosuke dan seorang polisi, mengajak Ainosuke bicara di atap.
“Apa yang ingin kau lakukan pada Sensei?”
“Apa kau sangat khawatir terhadap sensei-mu? Bukti fisiknya lengkap, dia juga punya alasan, dan dia juga tak punya alibi. Apapun yang kau lakukan, percuma saja. Bagaimana?” tantang setektif Sakisaka a.k Yumehito.
“Aku tak akan biarkan ini terjadi sesuai keinginanmu. Aku pasti akan menyelamatkan Sensei,” gertak Ainosuke balik.
Detektif Sakisaka tersenyum, “Yah, berusahalah, adik,” lalu beranjak pergi.
Detektif Fukuchi tiba-tiba mendapat kabar, kalau mayat Yatabe-san yang berada di ruang penyimpanan mayat hilang. Ia buru-buru mendatangi ruangan itu. Disana detektif kato dan ahli forensic menunjukkan locker tempat seharusnya mayat itu berada … kosong. Begitupula locker lain di sekelilingnya … kosong.
Polisi melakukan meeting besar. Mereka melaporkan perkembangan kasus yang tengah teradi ini.
“Tersangka, Sayama Hitomi, mempunyai hutang. Korban, Yatabe, bertugas untuk menagih hutangnya. Yatabe sering terlihat mendatangi rumah dan juga tempat kerjanya beberapa kali,” lapor salah seorang polisi.
“Apa ada jawaban dari tersangka?” tanya detektif Fukuchi.
“Belum. Dia hanya mengatakan bahwa ia tidak ingat dan tidak tahu. Dia juga tak kelihatan seperti sedang berbohong. Terkadang saat orang terkejut, mereka bisa kehilangan ingatannya,” kali ini Sakisaka yang memberikan laporan.
“Tetap awasi dia. Selanjutnya! Bagaimana dengan mayat yang menghilang?”
“Kami telah memeriksa rekaman dari kamera pengawas, tetapi rekaman dari kamar autopsi ke pintu samping telah dihapus. Ada kemungkinan orang luar telah membajak sistemnya,” lapor detektif Kato.
“Mungkin dia punya teman yang membantu. Selidiki semuanya tentang Sayama Hitomi,” detektif Fukuchi mengambil kesimpulan. Ia lalu mengintruksikan agar investigasi dilanjutkan.
Ainosuke yang tidak berhasil menemui Hitomi-sensei rupanya masih bertahan di kantor polisi. Sambil menunggu detektif Kato, Ainosuke membuka-buku buku sketsanya. “Guillotine (Guillotine = alat pemenggal kepala), Kartu asuransi kesehatan Yatabe. Penerimanya adalah istrinya. Apa ini?”
“Ainosuke-kun,” sapa detektif Kato kemudian.
“Dimana Sensei?”
“Sayang sekali, tetapi dengan situasi seperti ini ia tak akan bisa keluar untuk sementara,” ucap detektif Kato.
“Bu guru tak akan pernah membunuh seseorang,” elak Ainosuke.
“Aku juga ingin percaya itu, tetapi ada bukti dan juga alasan bagi dia untuk membunuh. Aku sedang terburu-buru, aku pergi dulu,” ujar detektif Kato kemudian.
“Apa ada sesuatu yang terjadi?” Ainosuke penasaran.
“Hanya antara kita, mayat Yatabe menghilang dari ruang autopsy,” bisik detektif Kato kemudian.
“Mayatnya? Tolong tunggu sebentar. Bukankah Yatabe-san mempunya asuransi sebesar 30 juta yen? Dan bukankah penerimanya adalah istrinya?” lanjut Ainosuke.
“Apa?! Apa kami memberitahumu informasi itu? Kau bahkan bisa mengetahui hal itu dengan intuisimu?” detektif Kato semakin heran.
“Kato-san, ada tempat yang ingin kudatangi bersamamu besok. Mungkin kita akan tahu pelaku sebenarnya. Kumohon,” pinta Ainosuke.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” detektif Fukuchi kembali menemui Kokusho di selnya.
“Apakah kau sudah menemukan mayat yang menghilang itu?”
“Laptop itu punya semua informasi itu?” detektif Fukuchi malah kembali bertanya.
“Kau menahan Sayama Hitomi, kan? Aku ingin kau membawanya kesini malam ini. Jika kau mengabulkan permintaanku, akan kuhadiahkan padamu informasi yang hebat. Seperti, fakta bahwa pemilik laptop ini mempunyai adik yang lucu,” pancing Kokusho. “Dan adiknya adalah seorang anak yang kau kenal.”
Ainosuke pulang ke tempa tinggalnya. Disana Yoshida-san dan Miruku-san, sang pemilik apartemen memberinya sebuah tiket ke pertunjukkan sulap, Lady-X.
“Dia seorang pesulap yang terkenal. Dia melakukan sulap dengan guillotine. Hebat sekali, bukan?” promosi Miruku-san.
Ainosuke berpikir, “Apakah pertunjukan sulap itu berkaitan dengan kasus ini?”
Detektif Fukuchi akhirnya memenuhi permintaan Kokusho. Ia membiarkan Hitomi-sensei semalam di dalam sel Kokusho.
“Selamat datang. Maukah kau temani aku bermain ini? Aku bosan sendirian. Silakan,” ujar Kokusho memainkan karet gelang di tangannya. “Siapa namamu?”
“Aku Sayama Hitomi,” Hitomi-sensei ketakutan setengah mati.
“Bagaimana menuliskannya?”
“Kanji “su” dari "semai" (sempit, sesak) dan “me” dari "Hitomi" (mata).”
“Namaku Kokushou Akira. Ini, ambillah,” Kokusho menyodorkan karet gelang itu ke arah Hitomi-sensei. Tapi !!! ternyata itu hanya sebuah kamuflase yang digunakan Kokusho untuk menyampaian sebuah pesan yang tertulis di tangannya pada Hitomi-sensei, Aku ingin kau menjadi mata-mataku.
“Apa?!” Hitomi-sensei heran.
“Kokushou dari “kuroi” (hitam), “suishou” (kristal) dan Akira juga “shou” dari "suishou”. Apa pekerjaanmu?”
“Aku guru kesehatan di SMP,” Hitomi-sensei mengembalikan permainan karet itu pada Kokusho.
“Jadi kau seorang guru? Artinya kau bekerja untuk pemerintah. Gajinya besar, kan? Ambillah,” Kokusho kembali menyodorkan karet gelang itu pada Hitomi-sensei. Dan dari telapak tangan satunya, tertulis pesan lain, Bayarannya 2 juta yen.
“Dua... “ Hitomi-sensei semakin syok.
“Maaf sudah membuatmu tak masuk kerja,” karena Hitomi-sensei ditahan di kantor polisi, kali ini Ainosuke melakukan investigasi ditemani detektif Kato.
“Tiba-tiba sakit perut, sudah dari SD aku menggunakan kebohongan seperti itu. Mau bagaimana lagi, karena polisi tak bisa membolos kerja tanpa alasan,” jawab detektif Kato santai.
“Omong-omong, apa kau sudah menemukan mayat yang menghilang itu?”
“Tidak, belum. Oh, hanya antara kita saja ... Rekaman dari kamera pengawas sudah dihapus, kemungkinan mayatnya sudah dibawa keluar,” bisik detektif Kato.
Detektif Kato dan Ainosuke rupanya mendatangi rumah Yatabe-san. Disana mereka disambut istri dan anak Yatabe-san. Detektif Kato melihat sekeliling, tampak beberapa lubang dan kerusakan di dinding oleh suatu sebab.
“Maaf. Ada apa Anda datang kemari hari ini?” tanya istri Yatabe-san. “Jika untuk membicarakan hal itu, kemarin kan sudah. Dan bukankah pelakunya sudah ditangkap?”
“Yah, kami hanya dalam tahap menemukan tersangka. Maaf jika saya terus menanyakan hal ini, tetapi... Apa yang Anda lakukan pada tanggal 6 saat suami Anda dibunuh?” tanya detektif Kato kemudian.
“Saat itu, aku pergi bersama anakku untuk menonton pertunjukan sulap. Pertunjukan dimulai pukul 7 malam dan selesai pukul 10 malam. Lady X. Aku yakin pegawai disana akan mengingat kami. Jika Anda memeriksanya, Anda akan mengerti.”
Ainosuke dan detektif Kato pamit setelah tidak mendapat banyak informasi dari istri Yatabe-san. Mereka menuju gedung pertunjukkan seperti yang dituturkan istri Yatabe-san, untuk memastikan alibi mereka.
“Apa kau lihat memar di lehernya? Kurasa itu DV,” ujar detektif Kato setelah keduanya kembali ke mobil.
“DV?”
“Domestic Violence, kekerasan dalam rumah tangga. Para tetangga mendengar suara kaca pecah dan teriakan,” ucap detektif Kato menjelaskan.
“Tapi jika sang istri menderita karena kekerasan dari Yatabe... Itu bisa menjadi alasan untuk membunuhnya,” sambung Ainosuke.
“Benar, tetapi ia punya alibi bahwa ia sedang menonton pertunjukan sulap.”
“Aku akan menontonnya sekarang, aku diberi tiketnya kemarin.”
“Apa? Kalau begitu aku pergi juga. Aku bisa masuk jika aku menunjukkan lencanaku,” detektif Kato setuju bersama Ainosuke.
Semalaman Hitomi-sensei berada di sel Kokusho. Puas menyampaikan pesannya, Kokusho kembali ke kebiasaannya dan mengabaikan Hitomi-sensei. Tahu kalau ada kamera pengawas di sekeliling ruangan sel itu, Hitomi-sensei mencoba minta pertolongan.
“Maaf, bisa kau dengar aku? Aku sungguh tak ingat apapun. Jadi bisakah kau keluarkan aku dari sini? Kumohon, aku sungguh tak ingat apapun. Kumohon tolong aku, keluarkan aku dari sini!” Hitomi-sensei mencengkeram erat besi di sel itu. Tiba-tiba itu membawanya pada malam saat kejadian pemukulan Yatabe terjadi. Hitomi-sensei akhirnya ingat kalau malam itu, ia memang memukul Yatabe-san! “Perasaan ini... Aku memukulnya. Aku... Aku...”
Detektif Kato dan Ainosuke menuju gedung pertunjukkan sulap yang dimaksud. Disana mereka bertemu dengan kru yang bertanggungjawab dalam perform sulap itu.
“Aku ingin bertanya sesuatu. Kau ingat keluarga ini?” detektif Kato menunjukkan foto istri dan anak Yatabe-san.
“Dia ada disini pada malam tanggal 6. Aku sangat mengingat keluarga ini. Ada sedikit kejadian kecil. Kami meminta pertisipasi dari penonton untuk pertunjukan utama. Suasana menjadi tegang setelahnya... karena si anak ketakutan kalau ibunya tidak akan kembali,” papar si kru sulap.
“Umm, berapa lama sang Ibu menghilang?” tanya detektif Kato lagi.
“Karena anaknya menangis, jadi sedikit lebih lama, tapi itu hanya sekitar 2 atau 3 menit.”
“Sebelum atau sesudahnya tak masalah, tapi apakah sang Ibu pernah pergi?”
“Tidak pernah, dia akan terlihat jika dia berdiri selama pertunjukan. Dan penonton tak bisa keluar tanpa melewati lobi.”
Informasi dari kru sulap masih belum cukup. Waktu saat si ibu menghilang tidak cukup untuk melarikan diri, lalu melakukan pembunuhan dan kembali ke gedung pertunjukkan. Meski si istri memiliki alasan yang kuat, tapi alibinya sempurna.
Hitomi-sensei dikeluarkan dari sel Kokusho. Ia lalu memberikan pengakuan, “Aku melakukannya. Aku memukul Yatabe-san dengan pipa. Aku diserang. Aku ketakutan. Karena itulah...”
Detektif Sakisaka yang bertugas menginterogasi Hitomi-sensei tersenyum puas. Ia lalu memberikan informasi ini pada detektif Fukuchi.
Malamnya, Ainosuke bersama Yoshida-san si pemilik apartemen dan Miruku-san menyaksikan pertunjukkan sulap. Detektif Kato juga berada di sana. Malam itu, sang pesulap, Lady-X menggunakan guillotine sebagai alat pada pertunjukkan pertamanya. Alih-alih menikmati pertunjukkan, Ainosuke malah larut dalam pikirannya sendiri.
“Aku benar, ada sesuatu di balik pertunjukan sulap ini,” gumam Ainosuke dalam hati.
“Penonton sekalian, selanjutnya adalah pertunjukan utama. Hari ini, aku mencoba mengubah ceritanya sedikit. Ini. Aku akan memasang dinamit ini di dalam kotak. Saat ini meledak, orang di dalam kotak tentunya akan mati. Aku sedikit khawatir apakah ini akan berhasil atau tidak. Tapi aku akan berusaha sebaiknya, jadi jika ada orang yang bersedia membantuku... Apakah ada orang yang cukup berani untuk masuk ke dalam kotak ini? Oh, tak ada seorangpun? Tak ada satupun pemberani di ruangan ini hari ini? Siapapun? Kalian semua pengecut,” tantang Lady-X.
Setelah mengumpulkan kekuatan, akhirnya Ainosuke yang mengatakan bersedia, “Ya!”
“Jawaban yang hebat. Jadi, kurasa aku akan meminta tolong kepada sang pemberani di sana.”
Ainosuke lalu naik ke panggung. Dibantu oleh kru, ia dituntun masuk ke dalam kotak yang telah dipersiapkan.
“Jalan keluarnya tertulis di sisi kiri kotak. Omong-omong, apa kau ingat aku?” ujar salah satu kru sulap yang ternyata adalah Komukai-san! Salah satu partner Yumehito. “Kita pernah bertemu sebelumnya.”
Setelah menggembok kotak itu, Lady-X menusukkan beberapa pedang kedalamnya. Di dalam kotak Ainosuke mulai panic. Petunjuk untuk keluar dari kotak yang terletak di dinding sebalah kiri kotak ternyata dirusak, ia tidak bisa membaca petunjuk apapun disana.
“Sekarang, orang ini tak akan bisa keluar. Dan saat dinamitnya dinyalakan, akan meledak dalam 10 detik,” ia kemudian menyalakan dinamit dan memasukkannya ke dalam kotak tersebut.
Lady-X mulai menghitung mundur. Ainosuke mencoba konsentrasi mengingat kilasan yang pernah ia lihat di mata kirinya. Ainosuke ingat, kilasan ketika sebuah tangan menggedor sisi bawah kotak. Tergesa Ainosuke melakukan hal yang sama dan … bagian bawah kotak terbuka. Ia lolos tepat saat kotak itu meledak bersama dinamit di dalamnya !!!
Keluar dari kotak, Ainosuke mengikuti petunjuk keluar di gedung pertunjukkan itu. Akhirnya ia bisa kembali ke panggung lewat kotak yang lain. Tepuk tangan bergemuruh di sisi penonton, tapi Ainosuke mengabaikannya dan malah langsung menhambur ke arah detektif Kato.
“Detektif Kato, aku paham sekarang!”
Detektif Kato dan Ainosuke kembali ke kantor polisi. Mereka menuju tempat mayat Yatabe disimpan. Ainosuke lalu mempraktekkan cara yang sama dengan cara meloloskan diri dalam trik sulap tadi dengan mekanisme penyimpanan mayat di ruangan itu. Dan … locker tempat menyimpan mayat terbuka. Tampak tubuh Yatabe-san ada di bagian bawah!
“Yatabe!? Ini trik yang sama dengan yang digunakan di pertunjukan sulap.”
“Aku tak percaya ini,” komentar detektif Kato.
Dokter forensic lalu mengeluarkan mayat itu. Ia melepas “wajah” dari kepala mayat Yatabe. Sebuah wajah lain muncul! Ternyata itu bukan mayat Yatabe yang asli!
“Sial! Itu bukan Yatabe. Apa ini? Bagaimana mungkin ini terjadi?!”
Ainosuke merasakan getaran di mata kirinya. Karena tidak ada Hitomi-sensei yang biasa ia mintai tolong untuk memukulnya, kali ini Ainosuke menabrakkan diri ke dinding. Kilasan gambar muncul di mata kirinya. Kartu asuransi kesehatan milik Yatabe-san. Sejumlah uang yang diterima istri Yatabe dari asuransi kesehatan itu. Dan wajah seorang pria yang tidak dikenalnya.
“Ainosuke! Kau baik-baik saja?” detektif Kato mengejar Ainosuke yang tergeletak di lantai setelah menabrakkan dirinya.
“Detektif Kato, bawa Detektif Fukuchi kesini sekarang juga, kurasa aku tahu seluruh kebenaran di balik kasus ini.”
Di pelabuhan, tampak seorang pria berjaket, bermasker dan bertopi sedang membersihkan tempat ikan. Dari beberapa penjuru, sekelompok polisi mengintainya, dan tidak lama kemudian melakukan penyergapan.
“Anda Yatabe Ryoji,” tembak detektif Fukuchi kemudian.
Yatabe-san lalu menceritakan semuanya. Ia ditemui seorang wanita yang menjanjikannya kehidupan baru yang berbeda dengan kehidupannya sekarang. Wanita itu menyuruh Yatabe-san untuk berpura-pura diserang seorang wanita, yakni Sayama Hitomi-sensei.
Malam itu, Yatabe-san membuat Hitomi-sensei memukulnya. Tapi ternyata ia tidak pingsan apalagi meninggal, karena logam yang digunakan tidak keras. Setelah Hitomi-sensei pergi, Yatabe yang pura-pura pingsan bangun dan mengganti logam yang digunakan untuk memukulnya dengan logam yang sesungguhnya. Ia mendapat telepon dari si wanita misterius. Wanita itu lalu menyuruh Yatabe-san untuk mengubur mayat seseorang dengan wajah dan pakaian sama sepertiny. Mulanya Yatabe-tidak mengerti, tapi akhirnya ia menurut saja.
“Jika kau tak melakukan sesuai perintahku, akan kulaporkan pada polisi bahwa kau telah membunuhnya,” ujar si wanita misterius.
Yatabe-san mengakhiri ceritanya, “Aku hanya mengikuti apa yang diperintahkan. Aku tak menyangka akan terlibat dalam pembunuhan.”
Sebuah mobil polisi lain datang. Rupanya istri dan anak Yatabe-san menyusul ke dermaga, “Sayang.. Apakah itu untuk meninggalkan uang pada kami? Kapan aku pernah meminta itu? Kenapa kau... Hanya untuk itu?” ujar istri Yatabe-san syok.
“Maafkan aku,” ujar Yatabe-san pasrah.
Mobil yang membawa Yatabe-san dan istrinya sudah berangkat lebih dulu. Tinggal Ainosuke, detektif Fukuchi, detektif Kato dan detektif Sakisaka di belakang.
“Jika autopsi sudah selesai, kalian akan segera mengetahui bahwa itu adalah tubuh yang berbeda. Karena itulah, pelaku menyembunyikannya... Menggunakan trik yang dipakai dalam sulap. Apa aku salah Detektif Sakisaka?” ujar Ainosuke tiba-tiba.
“Apa? Kenapa kau bertanya padaku?” detektif Sakisaka pura-pura kaget.
“Aku hanya berpikir bahwa Detektif Sakisaka mungkin sudah menyimpulkan seperti itu,” ucapan Ainosuke semakin tajam.
“Tidak, tidak sama sekali. Aku hanya terpukau dengan kesimpulanmu. Ya kan, Kato-san?” detektif Sakisaka mencari pembenaran.
“Itu benar, kau hebat,” sambung detektif Kato kemudian.
“Ainosuke-kun, aku perlu bicara denganmu,” pinta detektif Fukuchi kemudian.
Detektif Fukuchi dan Ainosuke kembali ke kantor polisi. Mereka bertemu dengan Hitomi-sensei yang telah dibebaskan.
“Ainosuke! Ainosuke! Kudengar Ainosuke yang sudah membuktikan bahwa aku tak bersalah,” ujar Hitomi-sensei sumringah.
“Syukurlah, sensei,” Ainosuke lega.
“Terima kasih banyak. Aku tak bisa mengingat apapun. Ayo pulang sama-sama. Oke?”
“Maaf, sensei. Aku harus bicara sesuatu yang penting dengan detektif Fukuchi,” tolak Ainosuke.
Di atap, detektif Sakisaka a.k Yumehito menghubungi partnernya, “Sebelum identitas mayatnya diketahui, segera lakukan rencana B. Telepon dia.”
“Baik,” ujar Komukai-san dari seberang telepon. Ia pun lalu menghubungi orang lain yang dimaksud, “Maaf atas pemberitahuan mendadak ini, tapi bisakah aku minta tolong?”
“Aku mengerti, aku akan menyiapkannya,” ujar suara di seberang yang ternyata adalah Yoshida-san, pemilik apartemen tempat Ainosuke tinggal.
Di tempat lain, Detektif Fukuchi mulai menginterogasi Ainosuke.
“Kurasa Yatabe tak berkaitan dengan hilangnya mayat. Kurasa hilangnya mayat mungkin berkaitan dengan kasus selanjutnya,” ujar Ainosuke.
“Bagaimana kau bisa tahu semua itu?”
“Itu karena...”
“Aku sudah memperhatikanmu selama ini, dan kau selalu terlibat dalam setiap kasus. Tapi aku tak berpikir bahwa kau adalah bagian dari organisasi kejahatan itu. Tidak, di samping itu, kau selalu berusaha sangat keras untuk mencegah terjadinya kejahatan. Ada seorang tahanan bernama Kokusho Akira, dan dia memberitahuku sesuatu yang menarik,” pancing detektif Fukuchi.
“Sesuatu yang menarik?” Ainosuke heran.
“Kau punya seorang kakak yang tewas dalam ledakan, kan? Apa hubungan kakakmu dengan kasus berantai ini? Sekarang katakan semuanya padaku!”
Ainosuke kaget dengan ucapan detektif Fukuchi. Ia bingung harus berbuat apa. Jika ia memberitahu identitas kakaknya, maka orang itu akan meninggal. Tapi ia juga tidak bisa menghentikan semua rencana kakaknya itu sendirian. Setelah mengumpulan keyakinan, akhirnya Ainosuke memutuskan bicara, “Kakakku... Kakakku...”
0 komentar:
Posting Komentar