– Kontradiksi Alibi Ketiga Tersangka Pembunuhan –
“Ran . . . “
“Jangan mendekat,” segah Ran.
“Tidak apa-apa, bergeraklah,” pinta Shinichi.
“Aku tidak bisa bergerak,” ucap Ran lirih.
Lampu ruangan putih itu berubah temaram kehijauan. Dan . . . tampaklah sensor infra merah saling silang di ruangan itu. Shinichi melirik ke arah sisi dinding, ada peringatan kalau itu akan meledak.
Shinichi kembali ke ruangan semula. Panel sentuh disana telah berubah, sebuah tanggal kasus muncul.
Bank central Beika, 24 September 2010
Shinichi dan Kogoro dipanggil ke safe deposit bank central Beika. Disana ada seorang wanita yang terkapar di lantai bagian dalam ruang safe deposit. Belum jelas keadaan wanita ini, masih hidup atau sudah meninggal. Sementara itu Shinichi dengan gadgetnya memotret beberapa bagian ruang kejadian itu.
Dari keterangan manager bank, panel di ruangan safe deposit itu hanya bisa diakses/dibuka saat jadwal saja, selain itu tidak bisa. Shinichi curiga kalau ada orang yang sudah meng-hacking system komputerisasi di bank central Beika itu.
Selain itu, ada juga kertas yang tertempel di dekat panel akses ruang safe deposit itu. Sebuah ancaman bom. Kalau ruangan itu dipaksa dibuka, maka bom yang dipasang akan meledak.
“Paman, lalu apa yang kau lakukan disini sebenarnya?” Tanya Shinichi.
Kogoro menceritakan kalau ia dan Sonoda Machiko, wanita yang terkapar dia ruang safe deposit itu adalah kawan di dunia internet. Ia juga bekerja di bank central Beika sebagai ahli system komputer. Dan juga sebagai guru computer di sekolah Ran. Hari ini Sonoda-san menelepon Kogoro dan memintanya datang ke bank central Beika untuk melakukan sesuatu. Tapi ketika Kogoro datang, Sonoda-san sudah terkapar di ruang safe deposit itu.
Menurut penuturan manager bank, Emoto Takeo-san, selain dia ada dua orang sekuriti dan tiga orang lagi yang keluar masuk ruangan itu. Ketiganya masuk dan menemui Kogoro.
Asisten manager, Nimura Yuzo. Staf ruang safe deposit, Sakai Yoko. Dan chef divisi humas, Hasegawa Ryosuke.
“Siapa diantara kalian bertiga pelakunya?!” gertak Kogoro.
“Paman! Jangan menanyakan hal itu,” sergah Shinichi.
Tapi ternyata ketiga orang itu mengacungkan jari. Shinichi dan Kogoro kaget. Ketiganya mengakui sebagai pelaku. Dan mereka saling mengatakan kalau yang lain berbohong.
Shinichi mendapat telepon dari Ran.
“Ah, Ran. Sudah masuk kan?”
“Iya. Tapi apa yang kau minta lakukan dengan gambar ini pada detektif Sato?” Tanya Ran penasaran.
“Tunjukkan saja gambar itu pada detektif Sato, dia pasti akan mengerti setelah membaca email dariku juga,” ucap Shinichi.
“Tunggu Shinichi . . . “
Tapi Shinichi sudah menutup teleponnya. Ran kesal.
“Apa kata Shinichi?” Tanya detektif Sato.
Ran menunjukkan sebuah foto dan email dari Shinichi. Isinya meminta detektif Sato menganalisi apa yang tampak di foto itu.
Kogoro dan Shinichi memutuskan untuk menginterogasi ketiga orang yang mengaku sebagai pelaku itu secara terpisah. Shinichi menginterogasi Asisten manager, Nimura Yuzo.
“Mulanya hubungan kami adalah hubungan kerja biasa, tapi perlahan berubah menjadi hubungan sepasang kekasih. Belakangan ini Sonoda-san mendesakku untuk menceraikan istriku dan segera menikahinya. Tapi aku tidak bisa, karena bagaimanapun aku memiliki keluarga dan juga anak. Dia terus memaksaku, hingga akhirnya aku kalap dan mencekiknya hingga meninggal,” cerita Nimura-san.
“Jadi kau melakukannya sendirian dan tanpa rencana?” Tanya Shinichi.
“Ya.”
“Lalu yang memasang ancaman bom di dekat panel ruang safe deposit?”
“Aku tidak tahu,” elak Nimura-san.
Kogoro menginterigasi Staf ruang safe deposit, Sakai Yoko di ruang berbeda.
“Aku memergokinya menggunakan kunci cadangan untuk mengambil berlian milik nasabah. Ia menggunakan berlian itu untuk investasi dan mencari keuntungan dari pasar saham. Aku memergokinya melakukannya lagi, sementara ia belum bisa mengembalikan berlian itu. Jadi aku membunuhnya dengan mencekiknya,” cerita Sakai-san.
“Jadi kau melakukan ini karena ingin menyelamatkan bank?” selidik Kogoro.
“Aku tidak mau karirku hancur hanya karena dia. Jadi aku melakukan apapun untuk menyelamatkan bank ini dan tentu saja karirku,” ucap Sakai-san lagi.
“Lalu yang memasang ancaman bom di dekat panel ruang safe deposit?”
“Aku tidak tahu,” elak Sakai-san.
Shinichi menginterogasi chef divisi humas, Hasegawa Ryosuke di ruang lain.
“Sonoda-san menggunakan otoritasnya untuk “meminjam” barang milik nasabah di ruang safe deposit. Ia mengambil berlian seorang nasabah asal timur tengah dan menggunakannya untuk investasi di pasar saham. Karena perjalanan bisnisnya yang hampir selesai, nasabah itu akan kembali mengambil kalung berliannya. Tapi Sonoda-san belum bisa mengembalikannya. Jadi ia memintaku untuk berpura-pura membunuhnya. Jika itu terjadi, maka ruang safe deposit tidak bisa diakses sampai kasus selesai, sehingga terpaksa nasabah itu akan pulang ke negaranya tanpa kalung berlian miliknya. Itu akan memberikan Sonoda-san waktu untuk mengembalikan kalung berlian itu,” cerita Hasegawa-san.
“Jadi Sonoda-san masih hidup?” Tanya Shinichi.
“Aku pikir begitu. Karena rencana yang ia ceritakan padaku, ia akan minum pil tidur hingga jadwal buka ruang safe deposit itu lewat.”
“Lalu yang memasang ancaman bom di dekat panel ruang safe deposit?”
“Aku tidak tahu,” elak Hasegawa-san.
Shinichi kembali menemui Kogoro yang menunggu di depan ruang safe deposit. Mereka mendiskusikan hasil interogasi tadi.
“Ada yang aneh dari pernyataan mereka bertiga. Baik Sakai-san maupun Hasegawa-san mengatakan kalau Sonoda-san berbuat curang. Jadi kemungkinannya besar. Tapi berlawanan dengan fakta lain, baik Nimura-san maupun Sakai-san, mengaku telah membunuh Sonoda-san. Hanya Hasegawa-san yang mengatakan kalau Sonoda-san masih hidup,” gumam Shinichi.
Shinichi mendapat telepon dari Ran.
“Shinichi, dengarkan ini . . . “ Ran menjelaskan hasil analisis yang telah dilakukan oleh detective Sato dan detective Takagi di kepolisian.
“Baiklah. Ya, seperti yang aku perkirakan,” ucap Shinichi sambil tersenyum mengamati kembali gambar yang tadi diambilnya. “Terimakasih, Ran.”
Shinichi berlari ke ruang pengendalian system computer di bank itu. Ia mencari computer yang digunakan oleh Sonoda-san. Shinichi menemukan computer itu masih dalam keadaan menyala.
“Ia bahkan tidak membuatnya stand by atau sleep,” gumam Shinichi yang lalu memotret screen computer itu, “Ada yang aneh dengan alamat yang digunakan Sonoda-san disini,” ucap Shinichi sebelum pergi.
Shinichi kembali ke ruang safe deposit. Ia melihat Kogoro yang tengah berusaha mengambil ponsel milik Sonoda-san yang tergeletak di lantai.
“Paman, apa yang kau lakukan? Tegur Shinichi.
“Aku berusaha mengambil ponselnya, mungkin ini bisa dijadikan petunjuk,” Kogoro masih berusaha meraih ponsel itu.
Shinichi memperhatikan tongkat yang digunakan oleh Kogoro, “Paman, apa yang kau gunakan itu?”
“Ini huh? Aku mengambilnya dari tanaman itu,” ucap Kogoro.
Shinichi mendekati tanaman berkayu di dekat ruangan itu. Ia menemukan sebuah batang lain dengan benang kusut tersangkut di ujungnya dan juga sebuah jarum.
“Jadi begini,” gumam Shinichi senang.
“Huh? Huh? Huh? “ Kogoro heran.
“Sekarang aku tahu, kenyataan menyedihkan apa dibalik kasus ini.”
Shinichi memasukkan beberapa angka di panel yang mengatur pintu ruang safe deposit itu.
“Bodoh! Itu akan meledak,” Kogoro malah menghindar.
Tapi Shinichi cuek saja dan melanjutkan memasukkan kombinasi angka di panel sentuh itu. Pintu terbuka. Kogoro dan Shinichi menghambur masuk ke ruang safe deposit itu. Mereka memeriksa Sonoda-san yang terkapar di lantai.
“Sungguh disesalkan, Sonoda-san benar-benar meninggal,” ucap Shinichi kemudian setelah tidak menemukan nadi berdetak di leher Sonoda-san.
Kogoro mendekat. Ia memeriksa leher Sonoda-san, “Lihat, bahkan tidak ada bekas tercekik.”
Shinichi mengirim email ke alamat yang tadi deperolehnya dari computer Sonoda-san di ruang pengendalian system computer bank. Terdengar suara ponsel, tapi bukan dari ponsel milik Sonoda-san yang terlegetak di lantai. Suara itu berasal dari salah satu kotak penyimpanan di safe deposit.
“Paman, dari mana arah suara ponsel ini?” Tanya Shinichi.
Kogoro memeriksa dan menemukan sebuah kotak penyimpanan yang ia yakini menjadi sumber suara itu. Mereka berdua lalu membuka kotak itu menggunakan kunci cadangan yang dibawa oleh Sonoda-san. Dalam kotak itu ditemukan sebuah ponsel dan . . .
“Jadi begitu rupanya,” gumam Shinichi.
Kogoro dan Shinichi mengumpulkan ketiga orang yang tadi mengaku sebagai pelaku pembunuhan Sonoda-san.
“Sonoda Machiko-san benar telah meninggal,” Shinichi memulai. Ia lalu memasukkan kombinasi angka di penel sentuh ruang safe deposit itu.
“Itu akan memanggil polisi!” larang Sakai-san
“Itu akan meledak!” kali ini Nimura-san yang berbicara.
“Tidak masalah, kami sudah membukanya sebelumnya. Itu tidak menyebabkan ledakan ataupun memanggil polisi. Seseorang telah meng-hacking system computer ruang safe deposit ini,” ucap Kogoro kalem.
“Ada apa ini sebenarnya?” Hasegawa-san tidak percaya.
“Ancaman bom ini . . . adalah kamuflase untuk melengkapi rencana Sonoda Machiko-san yang berperan sebagai korban. Dengan kata lain . . . kertas ancaman ini dan Sonoda-san yang terbunuh karena berbuat curang . . . adalah dua hal yang berbeda. Setengah tahun yang lalu, Sonoda-san yang menguasai computer . . . dipekerjakan oleh managemen senior bank untuk melakukan pekerjaan rahasia. Dia ditugaskan untuk meng-hacking computer staf bank ini dan memata-matai mereka. Bukti kebenaran ini . . . disembunyikan Sonoda-san di salah satu kotak safe deposit. Itu adalah . . . diary ini,” Shinichi menunjukkan sebuah diary yang tadi diambilnya dari kotak milik Sonoda-san. “Diary ini berisi email antara dua orang, yakni . . . Sakai-san dan Nimura-san. Orang yang berbuat curang dan mengambil kalung berlian dari kotak penyimpanan nasabah itu . . . adalah kalian berdua, benar?” tembak Shinichi.
Sakai-san dan Nimura-san saling memandang.
“Kalian yang mengambil kalung berlian itu . . . dan mendekati Sonoda-san untuk membuat rencana kamuflase,” lanjut Shinichi.
Flash back
Nimura-san dan Sakai-san bekerja sama mengambil kalung berlian milik nasabah itu dan menggunakannya sebagai modal dalam pasar saham. Tapi ketika nasabah pemilik kalung berlian itu ingin mengambilnya kembali, keduanya belum bisa mengembalikan kalung berlian itu. Akhirnya Sakai-san dan Nimura-san meminta bantuan Sonoda-san untuk membuat sebuah rencana, sehingga nasabah pemilik kalung berlian itu tidak jadi mengambilnya karena terjadi sebuah kasus di bank itu. Hal ini akan memberikan waktu lebih banyak bagi Sakai-san dan Nimura-san sebelum bisa mengembalikan kalung berlian itu.
Sonoda-san tadinya tidak mau ikut campur masalah Sakai-san dan Nimura-san. Tapi ketika dibujuk, akhirnya Sonoda-san bersedia membantu mereka.
Flash back selesai
“Sonoda-san mengabulkan permintaan kalian . . . meng-hacking system keamanan, mengganti password gerbang ruang safe deposit. Dan meninggalkan kertas ancaman ini sehingga pintu tidak akan dibuka dan nasabah itu akhirnya pergi tanpa mengambil kalung berliannya . . . dan kalian, mengaku telah membunuh Sonoda-san,” lanjut Shinichi.
“Tapi . . . kami benar-benar tidak membunuhnya,” elak Sakai-san yang diiyakan oleh Nimura-san.
“Karena Sonoda-san hanya berpura-pura terbunuh . . . kalian pikir dengan mengatakan kalau membunuhnya, kalian akan aman?” kali ini Kogoro angkat bicara yang diiyakan oleh Nimura-san dan Sakai-san.
“Nimura-san, keteranganmu yang mengatakan kalau kau berselingkuh dengan Sonoda-san adalah kebohongan kan? Dibanding perselingkuhan, kau sedang terlilit hutang 10 juta yen,” ucap Shinichi.
“Dia menuliskan hal itu?” Nimura-san tidak percaya.
“Karena itulah, kau bergabung dengan Sakai-san untuk mendapatkan uang untuk membayar hutang itu, iya kan?” tembak Shinichi. “Dan kalianlah pelaku kecurangan yang sebenarnya.”
“Dan pelaku pembunuhan Sonoda-san adalah . . . kau, Hasegawa-san.”
“Apa yang kau katakan?!” Hasegawa-san tidak terima dengan tuduhan Shinichi.
“Dalam diary ini, dituliskan kalau kau meminta putus. Sebagai kekasihnya . . . Sonoda-san menuliskan tentang perasaannya padamu dan mimpinya dimasa sepan bersamamu. Kau dan Sonoda-san bertunangan kan? Kalian bertunangan, tapi kau malah berselingkuh dengan wanita lain. Putri dari seorang nasabah, iya kan? Tapi Sonoda-san mempercayaimu. Karena itulah dia hanya membicarakan rencana Sakai-san dan Nimura-san denganmu. Disini dituliskan, Aku senang. Dia (Hasegawa)bilang kita akan melaporkannya pada polisi dan membawa Sakai-san serta Nimura-san untuk diadili. Tapi kau mengkhianatinya. Dan lagi . . . dengan jalan paling buruk.”
“Hei, bukankah ketika aku tiba disini bersama yang lain, pintu itu tertutup. Bagaimana mungkin aku membunuhnya?” elak Hasegawa-san.
“Kau! Akan aku tunjukkan bagaimana caranya,” kali ini Kogoro yang turun tangan. Kogoro memperagakan cara Hasegawa-san membunuh Sonoda-san menggunakan racun yang dilumurkan pada jarum yang dipasang dan ditembakkan dengan batang tumbuhan di ruangan itu.
“Di tubuh Sonoda-san, ada bekas merah kecil. Sonoda-san tidak dibunuh dengan cara dicekik . . . tapi diracun,” Shinichi memberikan penjelasan dari peragaan yang dilakukan Kogoro. “Dengan tujuan membunuhnya . . . kau tahu kalau Sonoda-san berpura-pura meninggal dengan meminum pil tidur. Dan lagi, kalau pintu ini tertutup, kau bisa mengelak dari tuduhan membunuhnya. Tapi, dari semuanya hanya kau yang tahu rencana Sonoda-san dan ruangan tertutup ini.”
“Itu semua hanya spekulasi!” Hasegawa-san masih mengelak.
“Itu bukan spekulasi,” detective Sato ternyata tiba di ruangan itu bersama detective Takagi dan juga Ran.
Detective Takagi menunjukkan foto-foto yang diambil Shinichi tadi dan menunjukkannya sebagai bukti. “Kami sudah menganalisi foto-foto ini. Dan jelas, ini karena keracunan.”
“Aku mengirim email ke alamat yang ditinggalkan Sonoda-san di komputernya, tapi bukan ponselnya yang berdering,” lanjut Shinichi.
“Apa lagi ini?” Hasegawa-san semakin terjepit.
“Dengarkan dengan baik. Kau pasti tahu suara ponsel itu berasal dari mana. Bukankah itu suara khusus? Sonoda-san mempersiapkan semuanya ketika ia bersedia melakukan permintaan Sakai-san dan Nimura-san untuk berpura-pura meninggal. Dia percaya kau akan kembali ke sini dan membuktikan kecurangan keduanya . . . dan membawanya kembali ke keadaan normal. Tapi, kau memanfaatkan cintanya. Mengambil keuntungan dari ia yang berpura-pura meninggal . . . kau membunuhnya. Besok, 24 September adalah ulang tahunmu kan? Password untuk membuka pintu ini pun . . . adalah angka ulangtahunmu, "0924”,” Shinichi lalu memasukkan kombinasi nomer itu ke panel sentuh, dan . . . terbukti.
“Jangan mengatakan hal tidak berguna!” gertak Hasegawa-san.
Shinichi menunjukkan ponsel yang dikeluarkannya juga dari kotak penyimpanan milik Sonoda-san, “Sonoda-san, setelah dia berhasil membuktikan perbuatan curang Sakai-san san Nimura-san . . . ingin memberikan ponsel itu sebagai hadiah untukmu. Alamat email dari ponsel hadiah ini . . . adalah kombinasi dari ulang tahunmu . . . 24 September . . . dan namamu . . . Ryosuke. Ry0ou9s2u4ke@cjbank.ne.jp
Hasegawa-san menerima ponsel dari tangan Shinichi. Ia juga membaca kartu ucapan yang dibuat oleh Sonoda-san. Hingga akhir, Sonoda-san masih tetap mempercayai Hasegawa Ryosuke-san, kekasihnya itu. Tapi rupanya Hasegawa mengkhianatinya. Hasegawa-san menangis di depan jasad Sonoda-san, ia menyesali semuanya.
Shinichi berhasil mengingat kata kunci untuk kasus itu dan memasukkanya ke panel sentuh, ulang tahun.
Seketika sensor infra merah di sekitar Ran menghilang. Ran yang kelelahan karena tidak bisa bergerak sejak tadi akhirnya terduduk lemas.
“Ran?” Shinichi mendekati Ran, ia berpikir, “Aku tahu . . . aku tahu sekarang. Kenapa kita terperangkap dalam ruang serba putih ini. Pelaku yang melakukan semua ini . . . itu kau . . . Ran.”
Ran terhenyak oleh tuduhan Shinichi.
0 komentar:
Posting Komentar