Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Jumat, 14 Oktober 2016

Hidarime Tantei Eye ep-06

Hitomi-sensei dituduh membunuh seorang debt collector. Ainosuke yang tidak percaya kalau senseinya melakukan hal itu, mencoba membuktikan kalau senseinya itu tidak bersalah. Mayat yang semula dianggap mayat si debt collector, ternyata mayat orang lain. Siapa dia? Dan apa hubungan si mayat dengan kasus selanjutnya?

Detektif Fukuchi menginterogasi Ainosuke di sebuah ruangan. Tanpa mereka ketahui, Yumehito a.k detektif Sakisaka mendengarkan pembicaraan mereka dari ruangan lain.

“Kau punya seorang kakak yang tewas dalam ledakan, kan? Apa hubungan kakakmu dengan kasus berantai ini? Ainosuke-kun?!” desak detektif Fukuchi.

Aku mengerti. Aku akan mempercayai Fukuchi-san dan menceritakannya, ujar Ainosuke dalam hati. Akhirnya ia memantapkan hati untuk mengatakan semuanya, “Kakakku... Sebenarnya masih hidup. Dan kakakku sekarang ada di departemen polisi ini, dalam tim penyelidik ini. Nama yang digunakan oleh kakakku sekarang ini adalah... Sakisaka. Detektif Sakisaka itu adalah kakakku!”

“Apa yang kau katakan? Itu tak mungkin!”

“Kakakku memalsukan kematiannya dan bahkan sekarang hidup sebagai seorang perencana kejahatan. Bahkan aku tak mengetahui tujuan sebenarnya kakakku. Tapi... Aku bisa melihat rahasia di balik setiap kejadian. Dengan kekuatan dari mata kiri ini.”

“Mata kiri?” detektif Fukuchi heran.

“Mata kiriku diimplantasi dengan kornea kakakku. Semenjak itu, setiap aku terjatuh ato terpukul, terkadang aku melihat hal-hal yang dilihat kakakku,” cerita Ainosuke.

“Apa kau mempermainkanku? Tak mungkin aku mempercayai sesuatu seperti itu,” elak detektif Fukuchi lagi.

“Kau mungkin tak mempercayainya, tapi itulah kenyataannya. Bisakah kau jelaskan bagaimana aku bisa memecahkan semua kasus sampai sekarang ini? Aku dipaksa untuk diam oleh kakakku. Jika aku menceritakan pada seseorang tentang identitasnya... Dia akan membunuh orang itu.”



Ketenangan hari itu diusik oleh sebuah ledakan bom yang terjadi di sebuah museum di tengah kota. Detektif Kato yang tengah berada di ruang forensic memeriksa si mayat bersama tim forensic yang lain diberi kabar tentang ledakan itu.

Sebuah telepon masuk ke ponsel detektif Fukuchi, nomer tidak dikenal.

“Senang bertemu denganmu Detektif Fukuchi,” ujar suara di seberang sana.

“Siapa kau? Bagaimana kau bisa mendapat nomor telepon ini?”

“Yang lebih penting, seorang pelajar baru saja mengatakan sesuatu yang mengejutkan padamu, kan? Jika kau ingin tahu apakah itu benar, maka datanglah ke tempat parkir di Distrik Katsuna, sendirian,” sambung orang itu lagi.

“Apa?”

“Kurasa kau tak akan ditembak seperti petugas polisi waktu itu.”



Detektif Fukuchi datang ke tempat yang ditunjukkan si penelepon misterius itu malamnya. Ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya, karena peringatakan Ainsouke sebelumnya. Sebuah robot remote control dengan kamera di atasnya mendekat. Sigap detektif Fukuchi mengacungkan senjatanya, tapi kamera itu malah menampilkan sebuah rekaman.

“Selamat malam Fukuchi-san. Hari ini, aku akan memperkenalkan boss-ku,” ujar si wanita.

Kemudian muncul orang yang selama ini dikenal baik oleh detektif Fukuchi, “Kerja yang bagus, Detektif Fukuchi.”

“Sakisaka... Kau..” ucapan detektif Fukuchi terpotong.

Duarrr!!! Kamera di depan detektif Fukuchi tiba-tiba meledak. Detektif Fukuchi yang tidak siap, terlempar cukup jauh dari tempatnya semula.



Seseorang mendekat, dia detektif Sakisaka a.k Yumehito. Ia mengambil senjata di jas detektif Fukuchi lalu menembak hingga rusak kamera dan perekam yang terpasang di mobil detektif Fukuchi. Ia juga mengambil perekam dari jas detektif Fukuchi, “Kupikir kau mungkin ingin berbicara padaku di saat terakhirmu.”

“Mungkinkah benar-benar?”

“Ya. Akulah perencana kejahatan yang selama ini kau cari, Tanaka Yumehito. Cukup mudah untuk menyusup ke dalam tim kepolisian. Ada banyak kelemahan dalam file administrasi departemen kepolisian. Selamat tinggal, Detektif Fukuchi,” ujar Yumehito sambil beranjak pergi.

Detektif Fukuchi yang terluka parah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tidak lama kemudian ia sudah tidak bergerak lagi.



Ainosuke, Hitomi-sensei dan detektif Kato berkumpul di kantor polisi. Mereka masih menunggu kehadiran detektif Fukuchi yang entah berada dimana.

Sebuah telepon masuk ke ponsel detektif Kato, “Halo? Disini Kato. Detektif Fukuchi? Aku mengerti. Aku akan segera kesana.”

“Ada apa?” tanya Ainosuke penasaran.

“Ada kejadian ledakan lagi. Dan Detektif Fukuchi... Tewas...”



“Itu salahku!” Ainosuke frustasi. Tiba-tiba ia berlari keluar ruangan dan kemudian berjalan sempoyongan di koridor kantor polisi sambil memegangi kepalanya. Ainosuke kemudian mulai membentur-benturkan kepalanya lagi ke dinding.

“Ainosuke? Tenanglah!” bujuk Hitomi-sensei.

“Ainosuke. Tenanglah! KUBILANG TENANGKAN DIRIMU!” kali ini detektif Kato yang angkat bicara. Ia bahkan menghempaskan Ainosuke ke lantai.

Kilasan peristiwa muncul di mata kiri Ainosuke. Sebuah intruksi, kamere pengawas, tombol rekam dan play yang diputar bersamaan dan logo berbentuk N dengan lingkaran merah di sekelilingnya.

“Ainosuke, apa kau melihat sesuatu?” tanya Hitomi-sensei yang paham apa yang terjadi.

“Aku tak melihat apapun. Akan lebih baik jika aku tak melihat apapun. AKU MUAK MELIHAT HAL-HAL INI!”



Ainosuke, detektif Kato dan Hitomi-sensei menuju TKP. Mereka melihat tubuh detektif Fukuchi yang telah terbujur kaku karena insiden ledakan tadi, Ainosuke semakin frustasi.

“Fukuchi-san... Maafkan aku. Karena aku...” Ainosuke mulai menangis lemas.

“Kau adalah orang terakhir yang bertemu Detektif Fukuchi. Jika ada sesuatu yang kau ketahui, maukah kau katakan padaku? Detektif Fukuchi bilang ia sedang membicarakan sesuatu yang penting bersamamu! Apa itu? AINOSUKE!” detektif Kato mengguncang-guncang tubuh Ainosuke.

“Kato-san! Kurasa Ainosuke masih terguncang dengan kejadian hari ini. Bisakah kau biarkan dia untuk sementara? Kumohon!” pinta Hitomi-sensei kemudian.

Detektif Kato akhirnya melepaskan Ainosuke. Di matanya tampak amarah yang memuncak akibat kematian atasannya itu. Detektif Kato lalu membiarkan Hitomi-sensei mengantarkan Ainosuke pulang.



Hari berikutnya … tim kepolisian mengadakan meeting. Setelah kematian detektif Fukuchi, tim penyelidik kemudian dipimpin oleh orang baru, dia detektif Miyamoto.

“Aku ingin mendengar laporan setiap unit sekarang,” ujar detektif Miyamoto.

“Pertama, informasi tentang analisa bahan peledak. Menurut analisa, kami menemukan bahwa bom tersebut merupakan jenis yang bisa dikendalikan dari jarak jauh. Serpihan bomnya mirip dengan yang digunakan pada kasus ledakan di aula kota yang lalu.”

“Kasus peledakan berantai?” gumem detektif Kato di tempat duduknya.



Semalaman ternyata Ainosuke tidak tidur. Ia yang frustasi hanya menyandar di dinding, tanpa semangat sedikitpun. Pagi-pagi Hitomi-sensei rupanya sudah datang ke tempat tinggal Ainosuke.

“Ainosuke! Bangun! Jika kau tak bangun juga, aku akan dobrak pintunya! Tak apa-apakah? Di luar sangat dingin. Hei! Pintunya bahkan tak dikunci. Ya ampun, apa yang dia pikirkan?” Hitomi-sensei heran melihat tampang acak-acakan muridnya satu ini.

“Untuk apa kau datang sepagi ini? Ini hari Minggu, kan?” tanya Ainosuke tak bertenaga.

“Jangan membuatku takut seperti itu, Ainosuke. Apa yang kau lakukan?” Oh, buku gambarmu! Perlihatkan, perlihatkan padaku~ Aku ingin tahu apa yang mata kirimu lihat kali ini?” Hitomi-sensei mencoba mencairkan suasana. Ia mengambil buku sketsa tempat biasa Ainosuke membuat gambarnya. “Hah? Tak ada gambar apa-apa. Kenapa? Sepertinya kau melihat sesuatu kemarin.”

“Aku berhenti.”

“Hei, hei, hei. Beberapa jam sebelum kejadian Detektif Fukuchi, kasus yang sama terjadi di aula kota. Ini seperti pola dalam novel detektif. Pelakunya orang yang sama, kan?”

“Mungkin.”

“Menyeramkan. Jika mereka ingin meledakkannya, seharusnya mereka ledakkan bersama dengan hutangku~ Ya, kan? Hei Ainosuke!” desak Ainosuke lagi.



“Sudah kubilang, aku berhenti terlibat dalam kasus.”

“Apa yang kau bicarakan? Tidakkah kau ingin menjatuhkan musuh Fukuchi-san? Kau juga merasa kesal, kan?” bujuk Hitomi-sensei.

“Tak ada yang bisa kulakukan. Dari awal, ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang sepertiku,” elak Ainosuke lagi.

“Kuatkanlah dirimu! Apa yang kau sedihkan? Mata kiri Ainosuke terkadang sedikit mengecewakan ataupun tak berguna. Kau benar, kita tak bisa menghentikan kejahatan itu seutuhnya. Tapi, tapi, tapi. Dengan kau dan aku bersama-sama, kita seudah bisa membantu menyelesaikan beberapa kasus. Kita bisa menyelamatkan beberapa orang, ya kan?”

Ainosuke benar-benar sudah jengkel dengan sikap senseinya ini, “Kau sungguh menjengkelkan!”

“Jika kau ingin bersedih, cukup satu malam saja! Lihat, hari ini sungguh cerah sekali! Sekarang, ayo cepat selesaikan kasusnya!” Hitomi-sensei mencoba mengubah mood Ainosuke lagi.

“SUDAH KUBILANG, KAU MENJENGKELKAN! Kau membuatku sakit mata. Menjengkelkan. Kau terlalu ikut campur. Apa maksudmu itu?” Ainosuke semakin tidak sabar.

“Aku datang karena aku khawatir padamu. Aku bukan orang yang sering dipuji. Tapi tahukah kau, bahkan saat aku merasa setidaknya aku sedikit berguna... Aku selalu berusaha semampuku! Bahkan untuk seorang guru tak berguna sepertiku, jika aku bisa berguna bagi Ainosuke... Kupikir aku bisa merasa bangga terhadap diriku sendiri, sehingga aku berusaha dengan keras! Dan sekarang, apa yang kau katakan? Karena mata kirimu, aku juga terlibat dalam kasus,” Hitomi-sensei menangis.

“Pergilah. JANGAN PERNAH DATANG LAGI!” usir Ainosuke tidak peduli.



Setelah senseinya pergi, Ainosuke masih saja muram. Panggilan telepon di ponselnya diabaikannya. Hingga entah panggilan keberapa, terpaksa ia mengangkat telepon itu.

“Ainosuke-kun, dimana kau sekarang?” suara di seberang yang ternyata detektif Kato.

“Siapa yang peduli dimana aku.”

“Ada peledakan lagi. Aku ingin kau datang ke Hinode Square sekarang juga.”

“Kato-san, kasusnya, aku tak...”

“Kumohon. Jika kau ingin membalas dendam Fukuchi-san. Aku ingin kau menyelesaikan kasusnya bersama denganku,” bujuk detektif Kato.

“Maaf. Itu mustahil bagiku.”

“Aku mengerti. Tapi aku akan mengirim video untukmu, jadi aku ingin kau melihatnya,” detektif Kato akhirnya menyerah.



Detektif Kato mengirimkan pesan video ke ponsel Ainosuke. (suer … ini tahun 2010, tapi gadgetnya Ainosuke keran beuh. Trus lagi kecepatan loadingnya … mak nyos). Video itu ternyata berisi testimony dari beberapa korban di TKP.

Tiba-tiba pohonnya meledak dan mereka yang berusaha untuk lari terjatuh. Karena shock akibat ledakan, orang-orang menjadi waswas. Tiba-tiba itu meledak, jika saja anak ini lebih dekat bahkan satu meter, dia bisa mati.Tolong tangkap pelakunya.

“Ainosuke,” terakhir video dari Hitomi-sensei. “Maaf. Aku pergi belanja untuk melampiaskan amarahku tapi aku malah terlibat dalam kasus peledakan. Aku sudah bicara jahat pada Ainosuke jadi aku dihukum. Akulah yang sudah bicara jahat. Tapi, Ainosuke, bahkan sekarang aku ingin mengatakan satu hal padamu. Ainosuke, kau bicara tentang dirimu yang tak berguna... Tapi aku tak berpikir begitu. Tentu saja kita hanyalah seorang pelajar SMP dan seorang guru kesehatan, dan kita mungkin hanya bisa melakukan hal-hal kecil. Tapi Ainosuke, aku tahu tak ada seorangpun yang mempunyai hati sehangat hati Ainosuke. Dan tak ada seorangpun seperti Ainosuke yang akan berusaha keras untuk hal yang benar. Tak ada seorangpun yang bekerja keras dan tak mementingkan diri sendiri seperti Ainosuke. Itulah kenapa Ainosuke, aku tak ingin kau menyalahkan dirimu sendiri. Bahkan jika seluruh dunia mengabaikanmu, aku akan... Hanya aku yang akan tahu bahwa Ainosuke adalah seorang pelajar SMP yang paling keren. Tapi, lihatlah apa yang kubeli... Lucu, kan? Ya, itu lucu,” Hitomi-sensei bahkan sempat memamerkan tas yang dibelinya tadi.



Ainosuke tidak bisa menahan air matanya lagi. Hatinya tersentuh. Ia lalu menelepon ponsel detektif Kato dan meminta untuk bicara dengan Hitomi-sensei.

“Sensei, kau tak apa-apa?” tanya Ainosuke.

“Maaf aku sudah membuatmu khawatir,” ujar Hitomi-sensei.

“Aku juga minta maaf sudah mengatakan hal-hal yang jahat padamu.”

“Sensei, aku tak akan lari lagi. Orang yang sudah melukaimu dan Fukuchi-san, tak akan pernah kumaafkan. Dengan mata kiri ini, aku pasti akan menangkap pelakunya,” ucap Ainosuke mantap.

“Aku percaya padamu Ainosuke. Saat aku sudah diobati, aku akan segera menolongmu.”

Setelah menutup telepon, Ainosuke beranjak ke meja kerjanya. Ia lalu membuat sketsa dari kilasan gambar yang ia lihat malam sebelumnya. Empat gambar sudah dibuat, tapi Ainosuke belum mengerti arti gambar itu.



Di sebuah kantor petugas keamanan a.k satpam, tampak seseorang tengah merapikan seragamnya. Rupanya dia Yoshida-san, yang menyamar menjadi petugas keamanan. Hari ini ia bertugas di Mall Nanbu. Yup, Yoshida-san ternyata bagian dari sindikat Yumehito n partner !!!



Ainosuke yang selesai membuat sketsa gambar berlari menuju Hitomi-sensei berada. Ia menunjukkan logo berwarna merah yang langsung dikenali oleh Hitomi-sensei sebagai logo mall Nanbu. Keduanya lalu naik mobil menuju mall itu.

Di depan mall Nanbu, “Dari sini, aku ingin kau berjanji satu hal padaku,” pinta Ainosuke.

“Apa itu?”

“Saat keadaan menjadi sangat berbahaya, aku ingin kau lari. Jika kau tak berjanji, aku tak bisa pergi bersamamu.”

“Oke,” Hitomi-sensei sepakat dengan permintaan Ainosuke itu.



Seseorang yang mengaku sebagai pelaku kejahatan menelepon ke kantor polisi. Detektif Miyamoto dan timnya langsung berkumpul di ruang pertemuan.

“Senang berbicara dengan Anda. Apakah Anda pengganti Detektif Fukuchi?” ujar suara di seberang.

“Aku yang bertanggungjawab atas kasus ini. Namaku Miyamoto.”

“Aku melakukan sesuatu yang buruk pada Detektif Fukuchi. Aku tak bermaksud membunuhnya.”

“Jangan bercanda. Aku pasti akan memberikan hukuman mati padamu atas pembunuhan petugas polisi,” ujar detektif Miyamoto geram.

“Tak apa-apakah berbicara segampang itu? Yang lain hanyalah latihan, selanjutnya adalah yang sebenarnya. Dalam sebuah mall, aku sudah memasang bom dengan bahan peledak terkuat. Jika aku meledakkannya, setidaknya 5.000 orang akan mati. Mari berbisnis. Aku ingin meminta 100 juta per orang, namun karena resesi, pemerintah juga sudah menderita. Jadi buat saja jadi 10 juta per orang. Aku ingin kau membeli setiap pembeli,” ujar suara si pelaku itu.

“50 miliar yen?”

“Apakah kalian mengatakan bahwa masing-masing orang tak pantas dihargai 10 juta?”

“Bukan begitu. 50 miliar yen adalah jumlah uang yang sangat besar, jadi kami tak mungkin bisa menyiapkannya semudah itu.”

“Mau bagaimana lagi. Jika kalian tak membayar, aku akan menekan tombol bomnya,” ancam si pelaku.

“Tunggu, aku mengerti. Bahkan jika kami akan membayar, kami perlu waktu,” pinta detektif Miyamoto mencoba mengulur waktu.

“Lakukan sesuka kalian. Tapi batas waktu kalian sampai siang hari,” lalu telepon diputus.

“Kita hanya punya waktu 20 menit. Kumpulkan segera semua catatan kriminal dari kasus serupa. Dan panggil tim penjinak bom. Cepat!” perintah detektif Miyamoto kemudian.



Ainosuke berkeliling di mall Nanbu itu. Tapi tanpa petunjuk apapun, semuanya hanya membuang-buang waktu. Tiba-tiba Ainosuke merasakan getaran di mata kirinya. Ia lalu meminta Hitomi-sensei untuk memukulnya. Kilasan gambar muncul di mata kiri Ainosuke kemudian. Sebuah boneka berbentuk simpanse yang berangguk-angguk. Catatan petunjuk perakitan bom dan sebuah form identitas seorang petugas keamanan.

“Petugas itu, sepertinya adalah mayat yang digunakan sebagai pengganti penagih hutang itu. Apa maksudnya?” gumam Ainosuke pelan.



Ponsel Hitomi-sensei berbunyi. Rupanya telepon dari detektif Kato, “Ainosuke, bahaya. Kato-san bilang, mereka menerima peringatan bom dari pelaku. Bomnya akan meledak pada jam 12.”

“Berikan teleponnya padaku,” pinta Ainosuke kemudian.

“Ainosuke-kun, begitu keadaannya. Ini mungkin terdengar aneh, tapi dengan intuisimu, tahukah kau mall apa itu?” tanya detektif Kato di seberang.

“Mall Nanbu! Kami sudah disini. Umm, apa kau tahu siapa yang mati sebagai pengganti Yatabe?” tanya Ainosuke balik.

“Sudah ada yang menyelidikinya, tapi belum ada hasil.”

“Mungkin seorang petugas keamanan.”

“Petugas keamanan?” detektif Kato heran.

“Katakan pada yang bertanggungjawab atas hal itu, jika ia mengetahui siapa orang itu, tolong hubungi kami,” Ainosuke lalu menutup telepon.



Pengumuman untuk para pembeli, kami baru saja menerima info bahwa sebuah bom telah dipasang di dalam Mall Nanbu. Kekuatan bomnya cukup besar, segera evakuasi diri Anda secepatnya. Secepatnya. Terdengar pengumuman dari pengeras suara di mall Nanbu. Para pembeli yang mendengar pengumuman itu langsung berhamburan keluar, membuat suasana menjadi kacau.

“Pengumumanmu sangat hebat. Jadi, persiapan bomnya sudah selesai?” komentar Komukai-san yang menyamar menjadi salah satu pegawai mall.

“Tentu saja. Selama aku memakai ini, aku tak akan terlihat mencurigakan,” ujar Yoshida-san bangga dengan seragam petugas keamanannya.

“Kau bisa bergerak bebas sebagai petugas keamanan. Kau bisa melakukan pekerjaanmu yang sebenarnya tanpa dicurigai.”



“Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita keluar juga?” Hitomi-sensei mulai panic.

“Sensei, ini? Ini dia! Boneka simpanse ini. Mungkinkah bomnya?” Ainosuke melihat selebaran yang ada di tas senseinya itu dan teringat dengan kilasan yang tadi muncul di mata kirinya. “Di lantai berapa ini?”

“Lantai 9.”

Ainosuke berlari meninggalkan senseinya. Hitomi-sensei yang tanggap langsung menghubungi detektif Kato. Ainosuke dan Hitomi-sensei sampai di lantai 9. Mereka menuju tempat boneka shimpanse berada. Sigap Ainosuke mencari bom diantara para boneka itu.

“Kita cuma punya waktu 4 menit. Ayo Ainosuke, kita keluar saja,” bujuk Hitomi-sensei.

“Tidak! Aku memilih untuk tidak lari. Jika aku tak bisa menghentikannya, aku akan mati disini. Ini dia,” Ainosuke menemukan boneka berisi bom itu. Ia juga lalu mengeluarkan catatan perakitan bom dari sketsa yang dibuatnya. “Mungkinkah kabel ini?”

“Apakah itu cara untuk menonaktifkan bomnya?” tanya Hitomi-sensei.

“Tidak, aku tidak tahu apakah memang ini caranya. Jika ini adalah cara untuk merakitnya, maka jika kabel merah dipotong, bomnya akan meledak,” ujar Ainosuke.

“Kita hanya punya waktu 3 menit!!!” Hitomi-sensei semakin histeris.

“Sensei, kita sudah berjanji. Kau akan lari. Aku akan membawa ini sejauh mungkin,” Ainosuke lalu berlari menuju atap gedung.

“Ainosuke! Ainosuke!” Hitomi-sensei mengejar muridnya itu. Ia sempat menelepon detektif Kato, “Halo, Kato-san. Kami sudah menemukan bomnya!”



Ainosuke berhasil sampai di atap. Tapi ia menahan pintu keluar atap, sehingga Hitomi-sensei tidak bisa mengikutinya.

“Ainosuke! Ainosuke buka pintunya!”

“Sensei, jangan kesini! Aku tak pernah menjinakkan bom sebelumnya. Tentunya tak lucu jika aku tak sengaja meledakkannya. Karena itulah, kau tak boleh kesini!”sergah Ainosuke. Ainosuke lalu menuju tengah atap. Ia mengeluarkan lagi kertas berisi petunjuk perakitan bom itu, “Jika ini salah... Aku akan mati disini. Aku tak ragu lagi. Akan kulakukan sekaligus, aku akan mempercayai mata kiriku dan... “ Ainosuke mengeluarkan pemotong yang sempat dibawanya tadi dan mulai memotong satu per satu kabel di bom itu.



Jam menunjukkan pukul 12 siang tepat, waktu seharusnya bom meledak. Detektif Kato yang berhasil sampai di atas lalu mendobrak penahan pintu keluar atap. Mereka menemukan Ainosuke yang terduduk lemas di depan bom tadi.

“Sensei, sepertinya aku sudah menghentikan bomnya.’

“Apa kau bodoh? Salah sedikit saja, kau bisa mati. Apa yang kau pikirkan?”

“Kau berhasil menjinakkan bomnya. Kau sangat hebat, walaupun kau hanya seorang pelajar SMP,” komentar detektif Kato lega.

“Karena itu kubilang padamu, dia itu pemilik intuisi yang hebat. Kau akan mendapat hadiah dari Komandan,” sambung Hitomi-sensei.

“Aku sama sekali tak hebat. Kakakku-lah yang hebat. Kakakku tahu semuanya dan bisa melakukan apapun. Kakak pernah mengatakan ini padaku. Bahwa dalam 3 bulan, aku akan membunuh seseorang. Tapi kakak sedikit salah. Belum dua bulan semenjak saat itu, tapi saat aku tahu bahwa Detektif Fukuchi terbunuh dan seorang bodoh yang memasang bom muncul, aku memutuskan bahwa aku tak akan ragu lagi, aku tak akan mengharap apapun lagi. Aku tak akan pernah berharap kakakku akan kembali lagi seperti dulu,” gumam Ainosuke lalu memandang ke arah detektif Sakisaka yang ternyata menyusul disana.

“Maaf, aku tak mengerti apa yang kau katakan.”

“Kakak,” Ainosuke menatap tajam ke arah detektif Sakisaka, mengundang keheranan detektif Kato dan Hitomi-sensei.

“Ainosuke-kun, kau pasti sangat terguncang karena semua ini. Kau harus beristirahat,” ujar detektif Sakisaka lembut.

“Kakak, ayo mati bersama,” ujar Ainosuke kemudian.

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.