Kisah sebelumnya …
Kasus pembunuhan terjadi pada sang pengantin laki-laki di tengah pesta. Balas dendam! Dan senjatanya adalah … tulang yang diasah.
“Aku pulang,” ujar Ainosuke di depan pintu. Ia tertegun melihat Yoshida-san sang pemilik rumah duduk mematung. Ainosuke menyentuhnya, tapi Yoshida-san ambruk. Sebuah pisau tertancap di punggungnya, “Yoshida-san!” Ainosuke mengguncang tubuh Yoshida-san, tapi tidak terjadi apapun. Ia lalu mencari penghuni rumah yang lain, Miruku-san. Ainosuke menemukan sebuah apel yang berlumuran darah, lalu … Miruku-san yang terbunuh oleh pisau yang menancap di dadanya. “Miruku-san!”
“Ainosuke!” sebuah suara terdengar.
Ainosuke menuju sumber suara itu. Dan ia menemukan senseinya terikat pada kursi dengan kakaknya, Yumehito menodongkan senjata di kepala senseinya itu.
“Karena kau sudah sangat mengesalkan, maka aku akan membungkammu,” ujar Yumehito santai.
“Kaukah yang telah membunuh Yoshida-san dan juga Miruku-san?”
“Ya, karena mereka melihat wajahku.”
“Ainosuke...Tolong aku!” pinta Hitomi-sensei yang ketakutan.
“Semua ini salahmu. Karena kau sangat berisik dan melakukan hal-hal yang tidak perlu. Perhatikan baik-baik. Karena rasa keadilanmu yang bodoh itu, banyak orang yang akan mati,” ucap Yumehito lagi
“Sensei tak ada hubungannya dengan ini! Jika kau ingin membunuh seseorang, bunuh aku!!!”
Yumehito menghitung mundur. Ia menodongkan senjata di kening Hitomi-sensei dan siap menarik pelatuknya. Ainosuke yang terdesak meraih pisau di samping dapur dan menghambur ke arah Yumehito. Dorrr!!! Tepat saat Ainosuke juga menghujamkan pisau ke tubuh kakaknya. Hitomi-sensei ambruk dengan lobang menganga di kepalanya.
“Ainosuke, membunuh orang itu gampang, kan?” menyusul kemudian Yumehito yang ambruk di dekat Hitomi-sensei.
“Kakak?!” Ainosuke syok sendiri dengan apa yang ia lakukan. “Huaaaa!!!!”
Brug! Ainosuke terbangun di lantai kamar tinggalnya. Rupanya ia hanya bermimpi, “Mimpi buruk apa yang kulihat itu?” Ainosuke teringat ucapan kakaknya di pertemuan sebelumnya, Dalam tiga bulan, aku akan mengubah total orang sepertimu. Dalam tiga bulan, kau akan menjadi seseorang yang bisa membunuh tanpa ragu-ragu.
“Kau pikir itu merupakan keputusan yg tepat? Padahal hanya dengan melepaskanku dan sebuah pistol, kau akan bisa melihat setiap detail dari rencana kejahatan dalam komputer ini,” ujar Kokusho-san saat entah keberapa kali detektif Fukuchi menemuinya di sel.
“Apa yang akan terjadi selanjutnya? Katakan padaku!” ancam detectif Fukuchi.
Kokusho-san berbalik, tersenyum mengejek, “Musik. Musik adalah senjatanya.”
Sakisaka a.k Yumehito rupanya mendapatkan promosi setelah dua kasus sebelumnya. Sekarang ia menjadi bagian dari tim detective bersama dengan detective Kato. Keduanya menemui detective Fukuchi di ruangan.
Detective Fukuchi menunjukkan foto Ainosuke pada kedua detective itu, “Aku ingin kalian mengawasinya.”
“Bukankah ini Ainosuke-kun?” tanya detective Kato heran.
“Aku ingin tahu identitasnya. Dia selalu tahu terlalu banyak tentang kasus yang terjadi,” perintah detective Fukuchi.
“Tentang itu, dia hanya kebetulan mempunyai intuisi yang sangat bagus,” elak detektif Kato.
“Penjelasan yang tak masuk akal seperti itu tak cukup bagiku. Aku ingin kalian melaporkan jika ada sesuatu tentang musik yang terjadi di sekitarnya. Ingatlah untuk berhati-hati dalam menangani kasus ini.”
Pagi hari Ainosuke seperti biasa menjadi pengantar Koran. Kali ini ia bersepeda sendirian, tidak ditemani anjingnya, Rin. Suatu saat Ainosuke tiba di sebuah tikungan. Pada saat yang sama seorang gadis baru saja keluar dari rumah. Ainosuke kaget dengan kehadiran gadis itu dan tak sempat menghindar. Akhirnya ia terjatuh ke aspal.
Akibat benturan tadi, muncul kilasan gambar di mata kiri Ainosuke. Grafik aneh, tikus percobaan dan konser sebuah band, “Bunuh semuanya!”
Tiba-tiba dari dalam rumah dua ekor anjing keluar. Mereka menyerang Ainosuke. Tapi gadis yang tadi nyaris ditabrak Ainosuke tanggap dan cepat meniup sebuah peluit. Kedua anjing itu kemudian menyingkir.
“Kau baik-baik saja?” ujar gadis itu pada Ainosuke.
“Ya aku baik-baik saja. Keren sekali. Walaupun tak ada suaranya,” komentar Ainosuke kemudian.
“Ini adalah peluit untuk anjing. Suaranya sangat tinggi sehingga tak bisa didengar oleh manusia. Hanya anjing yang bisa mendengarnya,” cerita si gadis.
Hitomi-sensei berada di ruanganya. Seperti biasa ia kembali dipusingkan dengan cicilan hutangnya kali ini. Keadaan tambah kacau saat Watabe-san, si debt collector juga datang ke sekolah.
“Tolong pergilah! Jika pihak sekolah tahu hal ini, aku bisa dipecat! Aku tak boleh dipecat, tolong pergilah!”
“Aku tak bisa pulang dengan tangan kosong!”
“Ini biaya hidupku untuk minggu ini..” Hitomi-sensei lalu memberikan satu-satunya lembaran uang di dompetnya.
“Terima kasih. JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU! Apa-apaan 1.000 yen ini, HAH! Kau pikir berapa besar hutangmu! Sayama-san, kali ini akan kubiarkan tapi jangan berharap lain kali aku akan berbaik hati lagi,” Watabe-san pergi setelah kembali mengancam Hitomi-sensei.
Ainosuke berada di atap sekolah. Ia memandangi sketsa buatannya dari kilasan gambar pagi tadi, “Grafik apa ini? Tikus percobaan... dan sebuah band rock. Apa hubungan dari semua ini?”
Tiba-tiba adik tingkat Ainosuke yang bernama Shimada datang. Ia heran dengan sketsa di buku Ainosuke, “Mereka sebuah band rock yang sedang terkenal sekarang ini. Dan ada rahasia di balik kepopuleran mereka. Sebenarnya, ada beberapa kasus yang terjadi sesuai dengan lagu Blue Heaven,” Shimada mulai bercerita. Ia memperdengarkan salah satu lagu Blue Heaven.
Bekukan dia! Bekukan dia! Gadis miskin itu. Yang bersalah! Adalah sang Ibu! Anjing dan merpati dan singa laut semua hilang menuju lautan.
“Ini adalah "Frozen Hell". Kasus dimana seorang anak SD diculik dan ditemukan di gudang pembekuan. Pelaku sebenarnya adalah ibu dari salah satu murid di sekolah kita, kan? Dan ada satu lagi. Sharp Bone.”
Menusuk dengan tulang yang ditajamkan. Waktunya pembalasan sang ayah telah tiba!
“Kasus orang yang ditusuk di pernikahan, senjatanya adalah tulang yang ditajamkan, kan? Dan penjahatnya adalah anak dari seseorang yang akan dihukum mati,” ujar Shimada.
“Tapi bukankah lagu itu ditulis setelah kasus itu terjadi?”
“Tidak. Blue Heaven merilis lagu-lagu ini kira-kira sebulan sebelum kejadian tersebut. Dan dua dari tiga kasus di lagunya sudah menjadi kenyataan, tapi kejadian di satu lagu belum terjadi. Dead Live. Saat ini semua orang menyukai lagu ini. Mereka semua bertanya-tanya kapan kasusnya akan terjadi. Ayo pergi senpai! Acaranya sabtu ini dan aku punya tiketnya.”
Ainosuke setuju untuk datang ke konser itu.
“Jadi, di bagian mana akan kau pakai? Ada peraturan dalam konser Blue Heaven. Untuk datang ke konser Blue Heaven, kau harus mengenakan sesuatu yang berwarna biru,” cerita Shimada lagi.
“Mereka mengatakan sesuatu tentang Blue Heaven,” ujar detective Sakisaka di samping detektif Kato. Rupanya mereka mulai menginvestigasi Ainosuke. Keduanya memperhatikan semua gerak gerik Ainosuke dan menyadap semua pembicaraannya.
“Blue Heaven?”detective Kato heran.
“Blue Heaven adalah band indie, tapi mereka sangat populer di kalangan pelajar SMP dan SMA,” detektif Sakisaka melanjutkan penjelasannya.
“Sebuah band, ya? Inikah yang dimaksud oleh Detektif Fukuchi?”
Di rumah, Miruku-san sedang memasangkan penyerap nikotin. Rupanya Yoshida-san ingin berhenti merokok. Saat itu Ainosuke baru saja pulang, dan ia membawa album Blue Heaven.
“Ah! Itu Blue Heaven! Dengarkan yuk!” seru Miruku-san
“Aku ingin mendengar lagu ketiga, Dead Live,” ujar Ainosuke.
Miruku-san mengeluarkan tape dari ruangannya, dan mulai memutar cd yang dibawa Ainosuke, “Dead Live, ya? Oke!”
Bunuh mereka! Bunuh mereka! Bunuh semuanya!
“Apa-apaan itu? Lagunya jelek sekali,” komentar Yoshida-san.
Bunuh mereka! Bunuh mereka! Bunuh semuanya! Bunuh mereka! Bunuh mereka! Bunuh semuanya! Pukul mereka yang tak kau sukai!
“Perlukah kita menyelidiki band ini?” ujar detektif Kato yang tengah bersama detektif Fukuchi dan detektif Sakisaka memutar cd album Blue Heaven.
“Terlalu cepat untuk bergerak tanpa bukti apa-apa. Jika mereka mengatakan bahwa itu hanya kebetulan, maka tak ada yang bisa kita lakukan,” elak detektif Fukuchi.
“Kalau begitu, bagaimana jika kita menyelinap ke dalam konser Blue Heaven? Konsernya sabtu ini,” usul detektif Sakisaka.
Sementara itu Ainosuke termenung di kamarnya. Ia memandangi cover cd dan juga lirik lagu-lagu Blue Heaven.
“Senpai, aku sangat menantikan ini!” ujar Shimada senang. Ia datang bersama Ainosuke.
“Hei, kalian berdua! Benar-benar suatu kebetulan, bertemu di tempat seperti ini,” sapa Hitomi-sensei yang berada di tempat itu juga.
“Sensei? Apa yang kau lakukan?” Ainosuke heran.
Hitomi-sensei menarik Ainosuke menjauh, dan mulai berbisik, “Kau sedang berusaha untuk menyelidiki sesuatu sendirian, kan?” tapi Ainosuke tidak mengatakan apapun.
Mereka bertiga lalu masuk bersama. Setelah menukar tiket, mereka juga mendapatkan sebuah gelang plastic berwarna biru yang harus dipakai. Alih-alih memakainya, Hitomi-sensei malah memasukkannya ke dalam tas.
Di depan pintu tempat konser, Ainosuke, Hitomi-sensei dan Shimada bertemu dengan detektif Kato dan temannya. Mereka heran dengan kehadiran polisi di konser ini.
“Sst, ini penyelidikan rahasia. Oh ya, akan kuperkenalkan kalian pada partner baruku. Ini Sakisaka. Prestasinya dalam kasus penculikan dan juga kasus pernikahan telah diakui dan kini ia tergabung dalam grup detektif,” cerita detektif Kato.
“Biar kuperkenalkan diriku. Aku Sakisaka dari grup detektif. Senang bertemu kalian,” ujar Sakisaka a.k Yumehito.
“Kurasa kalian sudah tahu, tapi kami tak tahu apa yang akan terjadi, jadi berhati-hatilah,” pesan detektif Kato.
Ainosuke memandangi kakaknya itu sebelum beranjak masuk mengikuti sensei-nya dan Shimada. Sakisaka a.k Yumehito tersenyum sinis setelah kepergian adiknya itu.
Ainosuke masuk ke tempat konser. Alih-alih menikmati konser, ia malah sibuk mencari-cari kakaknya Yumehito. Ainosuke penasaran rencana apa yang kali ini tengah dijalankan kakaknya.
Dari sebuah tempat di luar gedung, Komukai-san yang juga partner Yumehito tengah memperhatikan konser dari sebuah van dengan peralatan lengkap di dalamnya, “Adik kecilmu yang lucu muncul lagi. Tak apa-apakah jika ia mati?” ujar Komukai-san.
“Sepertinya kau sedang bersenang-senang. Bukan adikku yang kau inginkan untuk mati, tetapi aku, iya kan?” ujar Yumehito balik dari seberang telepon.
“Tak mungkin. Itu sayang sekali. Saat kau terbunuh, akan kulakukan dengan tanganku sendiri,” Komukai-san tersenyum mengejek.
“Kau seperti biasanya.”
Bunuh mereka! Bunuh mereka! Bunuh semuanya! Bunuh mereka! Bunuh mereka! Bunuh semuanya!
Konser masih berlangsung. Keadaan perlahan berubah panas. Ainosuke merasa aneh dengan dirinya.
“Ainosuke? Kau tak apa-apa? Ada apa?” tanya Hitomi-sensei.
“Tiba-tiba aku merasa kesal. Ini tak baik. Aku sungguh ingin menghajarmu sekarang,” ujar Ainosuke mulai marah.
Vokalis Blue-Heaven tiba-tiba mengatakan kalau ada salah satu penonton yang tidak mengenakkan kostum biru. Keadaan menjadi heboh. Apalagi kemudian diketahui kalau yang tidak mengenakan kostum biru adalah Shimada. Rupanya ia kehilangan topi birunya. Orang-orang mulai terprovokasi. Mereka berniat menghajar Shimada, seperti lagi terakhir yang sejak dimainkan Blue-Heaven, Dead-Live. Keadaan menjadi kacau. Ainosuke menyeruak masuk kerumunan, ia berniat menyelamatkan Shimada. Tapi karena kalah jumlah, keduanya tersungkur penuh luka. Ainosuke sempat melihat kakaknya Yumehito menghitung mundur sesaat sebelum listrik ruang konser itu padam.
Ainosuke terbangun di rumah sakit dengan Hitomi-sensei yang menunggu di sampingnya, “Sensei? Dimana Shimada?”
“Dia di ruang ICU sekarang. Dia belum sadar juga. Beberapa tulangnya patah, kepalanya terbentur dengan keras dan dokter bilang dia dalam kondisi kritis,” ujar Hitomi-sensei.
“Kenapa begitu? Aku ingat merasa sangat kesal. Semua orang tiba-tiba menjadi aneh.”
“Orang yang mematikan lampu adalah Sakisaka-san. Kau terselamatkan karena tindakan cepat Sakisaka-san,” lanjut Hitomi-sensei. “Maaf Ainosuke, aku harus pergi ke suatu tempat. Ainosuke, maaf aku tak bisa berada di sampingmu. Selamat malam,” pamit Hitomi-sensei kemudian.
Ainosuke lalu menuju ruang perawatan Shimada, “Jika ini adalah rencana yang dibuat oleh kakak, kenapa ia menghentikan perkelahian itu? Aku tak mengerti maksud kata-kata bunuh semuanya yang kulihat di mata kiriku itu. Apakah akan ada sesuatu yang terjadi? Shimada, aku pasti akan membalas dendam,” gumam Ainosuke.
“Perkelahian dalam sebuah konser live. Hanya dengan kecelakaan yang terjadi pada Shimada, kita tak bisa mengetahui apakah ada hubungannya dengan kasus sebelumnya,” lapor detektif Kato.
“Detektif Fukuchi, bagaimana jika kita meminta mereka mengadakan konser lagi untuk memperjelas masalah?” usul detektif Sakisaka kemudian.
“Kita tak bisa melakukan itu, Sakisaka. Bagaimana jika ada perkelahian lagi dan melibatkan orang-orang tidak bersalah? Kita tak bisa melakukan hal yang berbahaya seperti itu,” elak detektif Kato tidak setuju.
“Aku paham. Biarkan mereka mengadakan konser lagi,” detektif Fukuchi menyetujui usulan detektif Sakisaka.
Ainosuke pulang dari rumah sakit paginya. Di jalan, ia bertemu dengan gadis pemilik anjing yang pernah hampir ditabraknya.
“Kenapa lukamu itu?” tanya si gadis.
“Aku terluka saat sedang menonton konser, Blue Heaven,” cerita Ainosuke sambil mengelus-elus kedua anjing milik gadis itu.
“Aku akan menonton konser Blue Heaven selanjutnya,” ujar gadis itu.
“Kapan?” Ainosuke heran.
“Sabtu depan.”
“Sebaiknya jangan pergi, itu berbahaya,” sergah Ainosuke.
“Aku akan baik-baik saja. Aku suka Blue Heaven. Sampai ketemu,” ujar gadis itu mengabaikan peringatan Ainosuke.
Ainosuke lalu menghubungi detektif Kato untuk memastikan. Ternyata sabtu itu memang akan kembali diadakan konser Blue-Heaven. Karena polisi punya rencana untuk mengungkap kasus sebelumnya.
“Apa yang akan kau lakukan jika ada seseorang yang mati karena itu?!” protes Ainosuke.
“Maaf, akan kutelpon kau nanti,” tapi detektif Kato menutup ponselnya.
“Frozen Hell dan Sharp Bone, seperti yang kalian lihat di liriknya, Blue Heaven telah mengeluarkan CD yang seolah mengilustrasikan apa yang terjadi dalam kasus. Dengan kata lain, Tak ada salahnya mengasumsikan bahwa Blue Heaven kemungkinan besar... terlibat dengan orang-orang yang merencanakan kejahatan ini. Pada konser terakhir Blue Heaven, 2 pelajar SMP terluka dalam perkelahian. Dan salah satunya masih belum sadar hingga kini. Kemungkinan ada sesuatu yang disembunyikan saat konser. Walaupun sudah diselidiki, tapi kita masih belum bisa memastikannya. Sesuatu akan terjadi di konser selanjutnya. Jangan lengah,” ujar detetif Fukuchi memimpin rapat untuk persiapan menyelidiki kasus lagu-lagu Blue-Heaven ini.
Ainosuke termenung sendirian di kamarnya, “Mengapa semua orang tiba-tiba merasa kesal? Mungkinkah ada gas? Tapi itu pasti akan mempengaruhi Bu guru juga. Berpengaruh padaku, tetapi tidak pada Bu guru. Mungkinkah itu sesuatu yang hanya mempengaruhi orang-orang yang masih muda? Apa itu? Cahaya? Suara? Suara?! Itu dia!” Ainosuke teringat dengan peluit anjing milik si gadis yang pernah ia temui sebelumnya itu. “Jika suaranya dinaikkan beberapa hertz, akhirnya hanya akan terdengar oleh anak muda. Seperti mosquitone. (mosquitone = suara dengan frekuensi tinggi, hanya bisa didengar oleh orang di bawah usia 25 tahun) Dengan menggunakan frekuensi yang sama seperti mosquitone, mereka menciptakan suara yang membuat orang meresa kesal dan marah. Kakak pasti bisa melakukan hal itu. Kemudian, aku harus menemukan asal suara tersebut selama konser berlangsung, dan jika speakernya kuhancurkan... “ Tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Hitomi-sensei.
“Halo, Ainosuke. Kurasa aku paham. Kenapa terjadi perkelahian di konser itu. Itu karena... “ ujar Hitomi-sensei dari seberang telepon.
“Karena sebuah suara, kan? Aku pun berpikir seperti itu,” sambung Ainosuke. “Dengan kebisingan dalam konser itu, bahkan jika ada suara lain yang tercampur, tak akan ada yang menyadarinya. Sesuatu seperti mosquitone dimainkan.”
“Ah … aku pikir aku jenius. Jadi itu adalah mosquitone? Hei, tunggu... Kenapa aku tak bisa mendengarnya?” Hitomi-sensei heran.
“Itu berarti sensei sudah tua sekarang. Sebenarnya...akan ada konser Blue Heaven lagi, dan aku berencana untuk pergi dan menghentikannya.”
“Kalian datang lagi?” detektif Kato tiba-tiba muncul dari belakang dan merangkul Ainosuke juga Hitomi-sensei di depan gedung konser Blue-Heaven.
“Kato-san. Umm, dimana Sakisaka-san?” Ainosuke heran.
“Dia di dalam. Kali ini banyak petugas yang menyamar. Tapi aku tak tahu apa yang mungkin terjadi, jadi apapun yang kalian lakukan, berhati-hatilah,” pesan detektif Kato kemudian.
Di tempat lain …
“Aku sudah siap disini. Bagaimana denganmu?” ujar Komukai-san dari van pengendalian.
“Tak masalah. Ini adalah pentas terakhir, jadi naikkan intensitasnya,” ucap Yumehito dari seberang telepon.
“Aku bahkan mungkin membunuh adik kecilmu yang lucu.”
“Tak masalah. Kita memerlukan data untuk percobaan terakhir kan?” ucap Yumehito santai.
Konser berlangsung. Alih-alih menikmati konser seperti yang lain, Ainosuke dan Hitomi-sensei berkeliling mencari speaker yang menurut mereka merupakan sumber suara mosquitone. Keadaan mulai panas, tapi keduanya belum juga menemukan speaker yang dimaksud.
“Aku merasa kesal lagi. Sialan, mengesalkan sekali. Bu guru, aku ingin menghajar seseorang,” keluh Ainosuke kemudian.
“Jangan berkata begitu,” Hitomi-sensei mencoba menenangkan Ainosuke.
Ainosuke memandang ke arah detektif Kato. Rupanya ia juga tengah menahan rasa kesal yang tiba-tiba muncul, “Umur tak berpengaruh? Ini bukan mosquitone!” seru Ainosuke kemudian.
“Aku bukan wanita tua,” gumam Hitomi-sensei juga.
Ainosuke merasakan sesuatu di mata kirinya, “Bu guru, pukul aku!” pintanya.
“Tapi... Aku tak sedang kesal, jadi...”
“Cepat pukul aku!!”
Bruggg!!! Ainosuke jatuh karena pikulan Hitomi-sensei. Kilasan gambar muncul di mata kirinya. Grafik aneh, orang yang tengah menyuntikkan sesuatu pada gelang plastic dan monitor yang memunculkan pengaturan suhu.
“Suhu? Benda ini mulai bekerja pada suhu tertentu. Bu guru, suhunya,” Ainosuke memandang ke arah Hitomi-sensei yang tidak mengenakan gelang plastic yang diberikan di depan tadi. Ia teringat dengan Yoshio-san sang pemilik kos yang memasangkan kertas nikotin di lengannya agar bisa berhenti merokok.
Keadaan mulai memanas saat sang vokalis Blue-Heaven mengatakan kalau ada seseorang yang tidak memakai kostum biru. Di tempat lain, Komukai-san tengah memandangi monitor yang menunjukkan suhu dan kadar adrenalin pada masing-masing orang di konser itu. Orang yang dimaksud ternyata si gadis yang pernah ditemui Ainosuke. Orang-orang mulai terprovokasi untuk menyakiti gadis itu.
“Sensei, turunkan suhunya,” pinta Ainosuke sebelum turun ke area konser untuk menyelematkan si gadis.
“Aku paham, serahkan padaku,” ucap Hitomi sensei sambil beranjak pergi.
Ainosuke lalu menyingkirkan si gadis ke sisi area konser. Dan ia sediri yang kemudian berhadapan dengan orang-orang yang sudah terlanjur marah oleh insiden tadi. Ainosuke memukul orang-orang yang menyerangnya. Tapi karena kalah jumlah, ia perlahan terdesak.
Hitomi-sensei berlarian ke sekeliling tempat konser. Ia berusaha membuka pintu agar bisa menurunkan suhu ruangan itu. Tapi sayangnya, tidak ada satupun pintu yang bisa dibuka,”Aku memintanya untuk percaya padaku tapi aku tak bisa melakukan apa-apa,” keluh Hitomi-sensei sedih. Ia kemudian menemukan kran air di dinding. Disana ada tulisan jangan disentuh, ”Jika dibilang tak boleh disentuh, aku semakin ingin menyentuhnya,” gumam Hitomi-sensei lalu memutar kran itu.
Tiba-tiba air dari mekanisme pemadam kebakaran mengucur di dalam ruangan konser. Suhu mendadak turun. Orang-orang mulai kembali menemukan kesadaran mereka.
“Semuanya, lepaskan gelang kalian!” pinta Ainosuke pada yang lain.
“Terima kasih sudah menyelamatkanku,” ujar si gadis kemudian.
“Syukurlah kau tak apa-apa.”
“Adik kecilmu melakukannya lagi,” ujar Komukai-san dari dalam van pada Yumehito kemudian.
“Ainosuke, Ainosuke. Aku berhasil. Kau tak apa-apa?!” ujar Hitomi-sensei kembali ke ruang konser.
“Terima kasih sensei, kau menyelamatkan kami,” ujar Ainosuke. Ponselnya kemudian berbunyi, dan mereka berdua bergegas pergi.
“Shimada!” ujar Ainosuke kemudian setelah sampai di rumah sakit. Rupanya Shimada sudah sadar.
“Senpai. Hitomi-sensei!”
“Aku senang kau sudah sadar.”
“Senpai, kau yang telah menyelamatkanku kan? Terima kasih banyak,” ucap Shimada senang.
Polisi kemudian menginterogasi vokalis Blue-Heaven. Ia menceritakan kalau pernah ada seseorang yang memberikannya ketiga lagu itu dan menjanjikan kalau mereka akan sukses jika merilis ketiga lagu itu.
“Jadi maksudmu kasus-kasus yang mirip dengan lirik lagumu terjadi satu persatu?” tanya detektif Fukuchi.
“Ya.”
“Benda ini ditemukan di di ruang gantimu. Apa isinya?” detektif Fukuchi menunjukkan sebuah flashdisk.
“Aku tidak tahu, itu bukan punyaku.”
Detektif Fukuchi lalu membuka fd itu di laptopnya. Di dalamnya ada dua buah foto yang membuatnya tercengang, “Wanita ini...”
“Shimada sudah sadar. Kata-kata "bunuh semuanya" yang kulihat di mata kiriku, kali ini aku bisa mencegahnya terjadi.Tapi... “ Ainosuke pulang ke rumah kosnya.
“Ainosuke-kun, seorang polisi datang dan berkata ia ingin menanyaimu sesuatu. Dia ada di kamarmu. Seseorang bernama Sakisaka,” ujar Yoshida-san kemudian.
Ainosuke masuk ke kamarnya. Disana ada kakaknya, detektif Sakisaka a.k Yumehito sudah menunggu.
“Selamat datang. Konser malam ini cukup bagus, kan? Berapa banyak orang yang kau pukul hari ini? Rasanya menyenangkan bukan, memukul seseorang? Gelang itu, laku keras di perdagangan gelap. Percobaannya sukses,” ucap Yumehito.
“Kasus penculikan dan kasus pada pesta pernikahan... Semuanya untuk memperkenalkan lagu Blue Heaven, kan? Apa kau membunuh orang hanya untuk menyesuaikan dengan lagu band itu?” tanya Ainosuke.
“Kau benar sekali,” Yumehito kembali membenarkan.
“Apa yang ingin kau lakukan? Menyakiti orang dan membuat mereka menderita,” Ainosuke mulai terbakar emosi.
“Aku mempunyai satu tujuan besar dan untuk mencapainya, korban-korban seperti itu mau tidak mau memang harus berjatuhan...”
“Aku sangat ingin membunuhmu sekarang,” ujar Ainosuke geram.
“Kalau begitu lakukanlah. Siapa nama guru sekolahmu? Sayama Hitomi, kan?” ejek Yumehito.
Ainosuke mengambil pisau yang ada di ruangan itu, dan menghambur ke arah Yumehito. Tapi tusukannya meleset. (atau sengaja meleset?)
“Aku tak akan mati jika kau tusuk disitu,” Yumehito memegang tangan Ainosuke yang menggenggam pisau dan mengarahkannya ke lehernya sendiri, “Disini, tepat disini. Lakukan, lakukan! AYOLAH!!!”
Tapi Ainosuke malah menjatuhkan pisau dan Yumehito pun pergi meninggalkan adiknya.
Kasus pembunuhan terjadi pada sang pengantin laki-laki di tengah pesta. Balas dendam! Dan senjatanya adalah … tulang yang diasah.
“Aku pulang,” ujar Ainosuke di depan pintu. Ia tertegun melihat Yoshida-san sang pemilik rumah duduk mematung. Ainosuke menyentuhnya, tapi Yoshida-san ambruk. Sebuah pisau tertancap di punggungnya, “Yoshida-san!” Ainosuke mengguncang tubuh Yoshida-san, tapi tidak terjadi apapun. Ia lalu mencari penghuni rumah yang lain, Miruku-san. Ainosuke menemukan sebuah apel yang berlumuran darah, lalu … Miruku-san yang terbunuh oleh pisau yang menancap di dadanya. “Miruku-san!”
“Ainosuke!” sebuah suara terdengar.
Ainosuke menuju sumber suara itu. Dan ia menemukan senseinya terikat pada kursi dengan kakaknya, Yumehito menodongkan senjata di kepala senseinya itu.
“Karena kau sudah sangat mengesalkan, maka aku akan membungkammu,” ujar Yumehito santai.
“Kaukah yang telah membunuh Yoshida-san dan juga Miruku-san?”
“Ya, karena mereka melihat wajahku.”
“Ainosuke...Tolong aku!” pinta Hitomi-sensei yang ketakutan.
“Semua ini salahmu. Karena kau sangat berisik dan melakukan hal-hal yang tidak perlu. Perhatikan baik-baik. Karena rasa keadilanmu yang bodoh itu, banyak orang yang akan mati,” ucap Yumehito lagi
“Sensei tak ada hubungannya dengan ini! Jika kau ingin membunuh seseorang, bunuh aku!!!”
Yumehito menghitung mundur. Ia menodongkan senjata di kening Hitomi-sensei dan siap menarik pelatuknya. Ainosuke yang terdesak meraih pisau di samping dapur dan menghambur ke arah Yumehito. Dorrr!!! Tepat saat Ainosuke juga menghujamkan pisau ke tubuh kakaknya. Hitomi-sensei ambruk dengan lobang menganga di kepalanya.
“Ainosuke, membunuh orang itu gampang, kan?” menyusul kemudian Yumehito yang ambruk di dekat Hitomi-sensei.
“Kakak?!” Ainosuke syok sendiri dengan apa yang ia lakukan. “Huaaaa!!!!”
Brug! Ainosuke terbangun di lantai kamar tinggalnya. Rupanya ia hanya bermimpi, “Mimpi buruk apa yang kulihat itu?” Ainosuke teringat ucapan kakaknya di pertemuan sebelumnya, Dalam tiga bulan, aku akan mengubah total orang sepertimu. Dalam tiga bulan, kau akan menjadi seseorang yang bisa membunuh tanpa ragu-ragu.
“Kau pikir itu merupakan keputusan yg tepat? Padahal hanya dengan melepaskanku dan sebuah pistol, kau akan bisa melihat setiap detail dari rencana kejahatan dalam komputer ini,” ujar Kokusho-san saat entah keberapa kali detektif Fukuchi menemuinya di sel.
“Apa yang akan terjadi selanjutnya? Katakan padaku!” ancam detectif Fukuchi.
Kokusho-san berbalik, tersenyum mengejek, “Musik. Musik adalah senjatanya.”
Sakisaka a.k Yumehito rupanya mendapatkan promosi setelah dua kasus sebelumnya. Sekarang ia menjadi bagian dari tim detective bersama dengan detective Kato. Keduanya menemui detective Fukuchi di ruangan.
Detective Fukuchi menunjukkan foto Ainosuke pada kedua detective itu, “Aku ingin kalian mengawasinya.”
“Bukankah ini Ainosuke-kun?” tanya detective Kato heran.
“Aku ingin tahu identitasnya. Dia selalu tahu terlalu banyak tentang kasus yang terjadi,” perintah detective Fukuchi.
“Tentang itu, dia hanya kebetulan mempunyai intuisi yang sangat bagus,” elak detektif Kato.
“Penjelasan yang tak masuk akal seperti itu tak cukup bagiku. Aku ingin kalian melaporkan jika ada sesuatu tentang musik yang terjadi di sekitarnya. Ingatlah untuk berhati-hati dalam menangani kasus ini.”
Pagi hari Ainosuke seperti biasa menjadi pengantar Koran. Kali ini ia bersepeda sendirian, tidak ditemani anjingnya, Rin. Suatu saat Ainosuke tiba di sebuah tikungan. Pada saat yang sama seorang gadis baru saja keluar dari rumah. Ainosuke kaget dengan kehadiran gadis itu dan tak sempat menghindar. Akhirnya ia terjatuh ke aspal.
Akibat benturan tadi, muncul kilasan gambar di mata kiri Ainosuke. Grafik aneh, tikus percobaan dan konser sebuah band, “Bunuh semuanya!”
Tiba-tiba dari dalam rumah dua ekor anjing keluar. Mereka menyerang Ainosuke. Tapi gadis yang tadi nyaris ditabrak Ainosuke tanggap dan cepat meniup sebuah peluit. Kedua anjing itu kemudian menyingkir.
“Kau baik-baik saja?” ujar gadis itu pada Ainosuke.
“Ya aku baik-baik saja. Keren sekali. Walaupun tak ada suaranya,” komentar Ainosuke kemudian.
“Ini adalah peluit untuk anjing. Suaranya sangat tinggi sehingga tak bisa didengar oleh manusia. Hanya anjing yang bisa mendengarnya,” cerita si gadis.
Hitomi-sensei berada di ruanganya. Seperti biasa ia kembali dipusingkan dengan cicilan hutangnya kali ini. Keadaan tambah kacau saat Watabe-san, si debt collector juga datang ke sekolah.
“Tolong pergilah! Jika pihak sekolah tahu hal ini, aku bisa dipecat! Aku tak boleh dipecat, tolong pergilah!”
“Aku tak bisa pulang dengan tangan kosong!”
“Ini biaya hidupku untuk minggu ini..” Hitomi-sensei lalu memberikan satu-satunya lembaran uang di dompetnya.
“Terima kasih. JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU! Apa-apaan 1.000 yen ini, HAH! Kau pikir berapa besar hutangmu! Sayama-san, kali ini akan kubiarkan tapi jangan berharap lain kali aku akan berbaik hati lagi,” Watabe-san pergi setelah kembali mengancam Hitomi-sensei.
Ainosuke berada di atap sekolah. Ia memandangi sketsa buatannya dari kilasan gambar pagi tadi, “Grafik apa ini? Tikus percobaan... dan sebuah band rock. Apa hubungan dari semua ini?”
Tiba-tiba adik tingkat Ainosuke yang bernama Shimada datang. Ia heran dengan sketsa di buku Ainosuke, “Mereka sebuah band rock yang sedang terkenal sekarang ini. Dan ada rahasia di balik kepopuleran mereka. Sebenarnya, ada beberapa kasus yang terjadi sesuai dengan lagu Blue Heaven,” Shimada mulai bercerita. Ia memperdengarkan salah satu lagu Blue Heaven.
Bekukan dia! Bekukan dia! Gadis miskin itu. Yang bersalah! Adalah sang Ibu! Anjing dan merpati dan singa laut semua hilang menuju lautan.
“Ini adalah "Frozen Hell". Kasus dimana seorang anak SD diculik dan ditemukan di gudang pembekuan. Pelaku sebenarnya adalah ibu dari salah satu murid di sekolah kita, kan? Dan ada satu lagi. Sharp Bone.”
Menusuk dengan tulang yang ditajamkan. Waktunya pembalasan sang ayah telah tiba!
“Kasus orang yang ditusuk di pernikahan, senjatanya adalah tulang yang ditajamkan, kan? Dan penjahatnya adalah anak dari seseorang yang akan dihukum mati,” ujar Shimada.
“Tapi bukankah lagu itu ditulis setelah kasus itu terjadi?”
“Tidak. Blue Heaven merilis lagu-lagu ini kira-kira sebulan sebelum kejadian tersebut. Dan dua dari tiga kasus di lagunya sudah menjadi kenyataan, tapi kejadian di satu lagu belum terjadi. Dead Live. Saat ini semua orang menyukai lagu ini. Mereka semua bertanya-tanya kapan kasusnya akan terjadi. Ayo pergi senpai! Acaranya sabtu ini dan aku punya tiketnya.”
Ainosuke setuju untuk datang ke konser itu.
“Jadi, di bagian mana akan kau pakai? Ada peraturan dalam konser Blue Heaven. Untuk datang ke konser Blue Heaven, kau harus mengenakan sesuatu yang berwarna biru,” cerita Shimada lagi.
“Mereka mengatakan sesuatu tentang Blue Heaven,” ujar detective Sakisaka di samping detektif Kato. Rupanya mereka mulai menginvestigasi Ainosuke. Keduanya memperhatikan semua gerak gerik Ainosuke dan menyadap semua pembicaraannya.
“Blue Heaven?”detective Kato heran.
“Blue Heaven adalah band indie, tapi mereka sangat populer di kalangan pelajar SMP dan SMA,” detektif Sakisaka melanjutkan penjelasannya.
“Sebuah band, ya? Inikah yang dimaksud oleh Detektif Fukuchi?”
Di rumah, Miruku-san sedang memasangkan penyerap nikotin. Rupanya Yoshida-san ingin berhenti merokok. Saat itu Ainosuke baru saja pulang, dan ia membawa album Blue Heaven.
“Ah! Itu Blue Heaven! Dengarkan yuk!” seru Miruku-san
“Aku ingin mendengar lagu ketiga, Dead Live,” ujar Ainosuke.
Miruku-san mengeluarkan tape dari ruangannya, dan mulai memutar cd yang dibawa Ainosuke, “Dead Live, ya? Oke!”
Bunuh mereka! Bunuh mereka! Bunuh semuanya!
“Apa-apaan itu? Lagunya jelek sekali,” komentar Yoshida-san.
Bunuh mereka! Bunuh mereka! Bunuh semuanya! Bunuh mereka! Bunuh mereka! Bunuh semuanya! Pukul mereka yang tak kau sukai!
“Perlukah kita menyelidiki band ini?” ujar detektif Kato yang tengah bersama detektif Fukuchi dan detektif Sakisaka memutar cd album Blue Heaven.
“Terlalu cepat untuk bergerak tanpa bukti apa-apa. Jika mereka mengatakan bahwa itu hanya kebetulan, maka tak ada yang bisa kita lakukan,” elak detektif Fukuchi.
“Kalau begitu, bagaimana jika kita menyelinap ke dalam konser Blue Heaven? Konsernya sabtu ini,” usul detektif Sakisaka.
Sementara itu Ainosuke termenung di kamarnya. Ia memandangi cover cd dan juga lirik lagu-lagu Blue Heaven.
“Senpai, aku sangat menantikan ini!” ujar Shimada senang. Ia datang bersama Ainosuke.
“Hei, kalian berdua! Benar-benar suatu kebetulan, bertemu di tempat seperti ini,” sapa Hitomi-sensei yang berada di tempat itu juga.
“Sensei? Apa yang kau lakukan?” Ainosuke heran.
Hitomi-sensei menarik Ainosuke menjauh, dan mulai berbisik, “Kau sedang berusaha untuk menyelidiki sesuatu sendirian, kan?” tapi Ainosuke tidak mengatakan apapun.
Mereka bertiga lalu masuk bersama. Setelah menukar tiket, mereka juga mendapatkan sebuah gelang plastic berwarna biru yang harus dipakai. Alih-alih memakainya, Hitomi-sensei malah memasukkannya ke dalam tas.
Di depan pintu tempat konser, Ainosuke, Hitomi-sensei dan Shimada bertemu dengan detektif Kato dan temannya. Mereka heran dengan kehadiran polisi di konser ini.
“Sst, ini penyelidikan rahasia. Oh ya, akan kuperkenalkan kalian pada partner baruku. Ini Sakisaka. Prestasinya dalam kasus penculikan dan juga kasus pernikahan telah diakui dan kini ia tergabung dalam grup detektif,” cerita detektif Kato.
“Biar kuperkenalkan diriku. Aku Sakisaka dari grup detektif. Senang bertemu kalian,” ujar Sakisaka a.k Yumehito.
“Kurasa kalian sudah tahu, tapi kami tak tahu apa yang akan terjadi, jadi berhati-hatilah,” pesan detektif Kato.
Ainosuke memandangi kakaknya itu sebelum beranjak masuk mengikuti sensei-nya dan Shimada. Sakisaka a.k Yumehito tersenyum sinis setelah kepergian adiknya itu.
Ainosuke masuk ke tempat konser. Alih-alih menikmati konser, ia malah sibuk mencari-cari kakaknya Yumehito. Ainosuke penasaran rencana apa yang kali ini tengah dijalankan kakaknya.
Dari sebuah tempat di luar gedung, Komukai-san yang juga partner Yumehito tengah memperhatikan konser dari sebuah van dengan peralatan lengkap di dalamnya, “Adik kecilmu yang lucu muncul lagi. Tak apa-apakah jika ia mati?” ujar Komukai-san.
“Sepertinya kau sedang bersenang-senang. Bukan adikku yang kau inginkan untuk mati, tetapi aku, iya kan?” ujar Yumehito balik dari seberang telepon.
“Tak mungkin. Itu sayang sekali. Saat kau terbunuh, akan kulakukan dengan tanganku sendiri,” Komukai-san tersenyum mengejek.
“Kau seperti biasanya.”
Bunuh mereka! Bunuh mereka! Bunuh semuanya! Bunuh mereka! Bunuh mereka! Bunuh semuanya!
Konser masih berlangsung. Keadaan perlahan berubah panas. Ainosuke merasa aneh dengan dirinya.
“Ainosuke? Kau tak apa-apa? Ada apa?” tanya Hitomi-sensei.
“Tiba-tiba aku merasa kesal. Ini tak baik. Aku sungguh ingin menghajarmu sekarang,” ujar Ainosuke mulai marah.
Vokalis Blue-Heaven tiba-tiba mengatakan kalau ada salah satu penonton yang tidak mengenakkan kostum biru. Keadaan menjadi heboh. Apalagi kemudian diketahui kalau yang tidak mengenakan kostum biru adalah Shimada. Rupanya ia kehilangan topi birunya. Orang-orang mulai terprovokasi. Mereka berniat menghajar Shimada, seperti lagi terakhir yang sejak dimainkan Blue-Heaven, Dead-Live. Keadaan menjadi kacau. Ainosuke menyeruak masuk kerumunan, ia berniat menyelamatkan Shimada. Tapi karena kalah jumlah, keduanya tersungkur penuh luka. Ainosuke sempat melihat kakaknya Yumehito menghitung mundur sesaat sebelum listrik ruang konser itu padam.
Ainosuke terbangun di rumah sakit dengan Hitomi-sensei yang menunggu di sampingnya, “Sensei? Dimana Shimada?”
“Dia di ruang ICU sekarang. Dia belum sadar juga. Beberapa tulangnya patah, kepalanya terbentur dengan keras dan dokter bilang dia dalam kondisi kritis,” ujar Hitomi-sensei.
“Kenapa begitu? Aku ingat merasa sangat kesal. Semua orang tiba-tiba menjadi aneh.”
“Orang yang mematikan lampu adalah Sakisaka-san. Kau terselamatkan karena tindakan cepat Sakisaka-san,” lanjut Hitomi-sensei. “Maaf Ainosuke, aku harus pergi ke suatu tempat. Ainosuke, maaf aku tak bisa berada di sampingmu. Selamat malam,” pamit Hitomi-sensei kemudian.
Ainosuke lalu menuju ruang perawatan Shimada, “Jika ini adalah rencana yang dibuat oleh kakak, kenapa ia menghentikan perkelahian itu? Aku tak mengerti maksud kata-kata bunuh semuanya yang kulihat di mata kiriku itu. Apakah akan ada sesuatu yang terjadi? Shimada, aku pasti akan membalas dendam,” gumam Ainosuke.
“Perkelahian dalam sebuah konser live. Hanya dengan kecelakaan yang terjadi pada Shimada, kita tak bisa mengetahui apakah ada hubungannya dengan kasus sebelumnya,” lapor detektif Kato.
“Detektif Fukuchi, bagaimana jika kita meminta mereka mengadakan konser lagi untuk memperjelas masalah?” usul detektif Sakisaka kemudian.
“Kita tak bisa melakukan itu, Sakisaka. Bagaimana jika ada perkelahian lagi dan melibatkan orang-orang tidak bersalah? Kita tak bisa melakukan hal yang berbahaya seperti itu,” elak detektif Kato tidak setuju.
“Aku paham. Biarkan mereka mengadakan konser lagi,” detektif Fukuchi menyetujui usulan detektif Sakisaka.
Ainosuke pulang dari rumah sakit paginya. Di jalan, ia bertemu dengan gadis pemilik anjing yang pernah hampir ditabraknya.
“Kenapa lukamu itu?” tanya si gadis.
“Aku terluka saat sedang menonton konser, Blue Heaven,” cerita Ainosuke sambil mengelus-elus kedua anjing milik gadis itu.
“Aku akan menonton konser Blue Heaven selanjutnya,” ujar gadis itu.
“Kapan?” Ainosuke heran.
“Sabtu depan.”
“Sebaiknya jangan pergi, itu berbahaya,” sergah Ainosuke.
“Aku akan baik-baik saja. Aku suka Blue Heaven. Sampai ketemu,” ujar gadis itu mengabaikan peringatan Ainosuke.
Ainosuke lalu menghubungi detektif Kato untuk memastikan. Ternyata sabtu itu memang akan kembali diadakan konser Blue-Heaven. Karena polisi punya rencana untuk mengungkap kasus sebelumnya.
“Apa yang akan kau lakukan jika ada seseorang yang mati karena itu?!” protes Ainosuke.
“Maaf, akan kutelpon kau nanti,” tapi detektif Kato menutup ponselnya.
“Frozen Hell dan Sharp Bone, seperti yang kalian lihat di liriknya, Blue Heaven telah mengeluarkan CD yang seolah mengilustrasikan apa yang terjadi dalam kasus. Dengan kata lain, Tak ada salahnya mengasumsikan bahwa Blue Heaven kemungkinan besar... terlibat dengan orang-orang yang merencanakan kejahatan ini. Pada konser terakhir Blue Heaven, 2 pelajar SMP terluka dalam perkelahian. Dan salah satunya masih belum sadar hingga kini. Kemungkinan ada sesuatu yang disembunyikan saat konser. Walaupun sudah diselidiki, tapi kita masih belum bisa memastikannya. Sesuatu akan terjadi di konser selanjutnya. Jangan lengah,” ujar detetif Fukuchi memimpin rapat untuk persiapan menyelidiki kasus lagu-lagu Blue-Heaven ini.
Ainosuke termenung sendirian di kamarnya, “Mengapa semua orang tiba-tiba merasa kesal? Mungkinkah ada gas? Tapi itu pasti akan mempengaruhi Bu guru juga. Berpengaruh padaku, tetapi tidak pada Bu guru. Mungkinkah itu sesuatu yang hanya mempengaruhi orang-orang yang masih muda? Apa itu? Cahaya? Suara? Suara?! Itu dia!” Ainosuke teringat dengan peluit anjing milik si gadis yang pernah ia temui sebelumnya itu. “Jika suaranya dinaikkan beberapa hertz, akhirnya hanya akan terdengar oleh anak muda. Seperti mosquitone. (mosquitone = suara dengan frekuensi tinggi, hanya bisa didengar oleh orang di bawah usia 25 tahun) Dengan menggunakan frekuensi yang sama seperti mosquitone, mereka menciptakan suara yang membuat orang meresa kesal dan marah. Kakak pasti bisa melakukan hal itu. Kemudian, aku harus menemukan asal suara tersebut selama konser berlangsung, dan jika speakernya kuhancurkan... “ Tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Hitomi-sensei.
“Halo, Ainosuke. Kurasa aku paham. Kenapa terjadi perkelahian di konser itu. Itu karena... “ ujar Hitomi-sensei dari seberang telepon.
“Karena sebuah suara, kan? Aku pun berpikir seperti itu,” sambung Ainosuke. “Dengan kebisingan dalam konser itu, bahkan jika ada suara lain yang tercampur, tak akan ada yang menyadarinya. Sesuatu seperti mosquitone dimainkan.”
“Ah … aku pikir aku jenius. Jadi itu adalah mosquitone? Hei, tunggu... Kenapa aku tak bisa mendengarnya?” Hitomi-sensei heran.
“Itu berarti sensei sudah tua sekarang. Sebenarnya...akan ada konser Blue Heaven lagi, dan aku berencana untuk pergi dan menghentikannya.”
“Kalian datang lagi?” detektif Kato tiba-tiba muncul dari belakang dan merangkul Ainosuke juga Hitomi-sensei di depan gedung konser Blue-Heaven.
“Kato-san. Umm, dimana Sakisaka-san?” Ainosuke heran.
“Dia di dalam. Kali ini banyak petugas yang menyamar. Tapi aku tak tahu apa yang mungkin terjadi, jadi apapun yang kalian lakukan, berhati-hatilah,” pesan detektif Kato kemudian.
Di tempat lain …
“Aku sudah siap disini. Bagaimana denganmu?” ujar Komukai-san dari van pengendalian.
“Tak masalah. Ini adalah pentas terakhir, jadi naikkan intensitasnya,” ucap Yumehito dari seberang telepon.
“Aku bahkan mungkin membunuh adik kecilmu yang lucu.”
“Tak masalah. Kita memerlukan data untuk percobaan terakhir kan?” ucap Yumehito santai.
Konser berlangsung. Alih-alih menikmati konser seperti yang lain, Ainosuke dan Hitomi-sensei berkeliling mencari speaker yang menurut mereka merupakan sumber suara mosquitone. Keadaan mulai panas, tapi keduanya belum juga menemukan speaker yang dimaksud.
“Aku merasa kesal lagi. Sialan, mengesalkan sekali. Bu guru, aku ingin menghajar seseorang,” keluh Ainosuke kemudian.
“Jangan berkata begitu,” Hitomi-sensei mencoba menenangkan Ainosuke.
Ainosuke memandang ke arah detektif Kato. Rupanya ia juga tengah menahan rasa kesal yang tiba-tiba muncul, “Umur tak berpengaruh? Ini bukan mosquitone!” seru Ainosuke kemudian.
“Aku bukan wanita tua,” gumam Hitomi-sensei juga.
Ainosuke merasakan sesuatu di mata kirinya, “Bu guru, pukul aku!” pintanya.
“Tapi... Aku tak sedang kesal, jadi...”
“Cepat pukul aku!!”
Bruggg!!! Ainosuke jatuh karena pikulan Hitomi-sensei. Kilasan gambar muncul di mata kirinya. Grafik aneh, orang yang tengah menyuntikkan sesuatu pada gelang plastic dan monitor yang memunculkan pengaturan suhu.
“Suhu? Benda ini mulai bekerja pada suhu tertentu. Bu guru, suhunya,” Ainosuke memandang ke arah Hitomi-sensei yang tidak mengenakan gelang plastic yang diberikan di depan tadi. Ia teringat dengan Yoshio-san sang pemilik kos yang memasangkan kertas nikotin di lengannya agar bisa berhenti merokok.
Keadaan mulai memanas saat sang vokalis Blue-Heaven mengatakan kalau ada seseorang yang tidak memakai kostum biru. Di tempat lain, Komukai-san tengah memandangi monitor yang menunjukkan suhu dan kadar adrenalin pada masing-masing orang di konser itu. Orang yang dimaksud ternyata si gadis yang pernah ditemui Ainosuke. Orang-orang mulai terprovokasi untuk menyakiti gadis itu.
“Sensei, turunkan suhunya,” pinta Ainosuke sebelum turun ke area konser untuk menyelematkan si gadis.
“Aku paham, serahkan padaku,” ucap Hitomi sensei sambil beranjak pergi.
Ainosuke lalu menyingkirkan si gadis ke sisi area konser. Dan ia sediri yang kemudian berhadapan dengan orang-orang yang sudah terlanjur marah oleh insiden tadi. Ainosuke memukul orang-orang yang menyerangnya. Tapi karena kalah jumlah, ia perlahan terdesak.
Hitomi-sensei berlarian ke sekeliling tempat konser. Ia berusaha membuka pintu agar bisa menurunkan suhu ruangan itu. Tapi sayangnya, tidak ada satupun pintu yang bisa dibuka,”Aku memintanya untuk percaya padaku tapi aku tak bisa melakukan apa-apa,” keluh Hitomi-sensei sedih. Ia kemudian menemukan kran air di dinding. Disana ada tulisan jangan disentuh, ”Jika dibilang tak boleh disentuh, aku semakin ingin menyentuhnya,” gumam Hitomi-sensei lalu memutar kran itu.
Tiba-tiba air dari mekanisme pemadam kebakaran mengucur di dalam ruangan konser. Suhu mendadak turun. Orang-orang mulai kembali menemukan kesadaran mereka.
“Semuanya, lepaskan gelang kalian!” pinta Ainosuke pada yang lain.
“Terima kasih sudah menyelamatkanku,” ujar si gadis kemudian.
“Syukurlah kau tak apa-apa.”
“Adik kecilmu melakukannya lagi,” ujar Komukai-san dari dalam van pada Yumehito kemudian.
“Ainosuke, Ainosuke. Aku berhasil. Kau tak apa-apa?!” ujar Hitomi-sensei kembali ke ruang konser.
“Terima kasih sensei, kau menyelamatkan kami,” ujar Ainosuke. Ponselnya kemudian berbunyi, dan mereka berdua bergegas pergi.
“Shimada!” ujar Ainosuke kemudian setelah sampai di rumah sakit. Rupanya Shimada sudah sadar.
“Senpai. Hitomi-sensei!”
“Aku senang kau sudah sadar.”
“Senpai, kau yang telah menyelamatkanku kan? Terima kasih banyak,” ucap Shimada senang.
Polisi kemudian menginterogasi vokalis Blue-Heaven. Ia menceritakan kalau pernah ada seseorang yang memberikannya ketiga lagu itu dan menjanjikan kalau mereka akan sukses jika merilis ketiga lagu itu.
“Jadi maksudmu kasus-kasus yang mirip dengan lirik lagumu terjadi satu persatu?” tanya detektif Fukuchi.
“Ya.”
“Benda ini ditemukan di di ruang gantimu. Apa isinya?” detektif Fukuchi menunjukkan sebuah flashdisk.
“Aku tidak tahu, itu bukan punyaku.”
Detektif Fukuchi lalu membuka fd itu di laptopnya. Di dalamnya ada dua buah foto yang membuatnya tercengang, “Wanita ini...”
“Shimada sudah sadar. Kata-kata "bunuh semuanya" yang kulihat di mata kiriku, kali ini aku bisa mencegahnya terjadi.Tapi... “ Ainosuke pulang ke rumah kosnya.
“Ainosuke-kun, seorang polisi datang dan berkata ia ingin menanyaimu sesuatu. Dia ada di kamarmu. Seseorang bernama Sakisaka,” ujar Yoshida-san kemudian.
Ainosuke masuk ke kamarnya. Disana ada kakaknya, detektif Sakisaka a.k Yumehito sudah menunggu.
“Selamat datang. Konser malam ini cukup bagus, kan? Berapa banyak orang yang kau pukul hari ini? Rasanya menyenangkan bukan, memukul seseorang? Gelang itu, laku keras di perdagangan gelap. Percobaannya sukses,” ucap Yumehito.
“Kasus penculikan dan kasus pada pesta pernikahan... Semuanya untuk memperkenalkan lagu Blue Heaven, kan? Apa kau membunuh orang hanya untuk menyesuaikan dengan lagu band itu?” tanya Ainosuke.
“Kau benar sekali,” Yumehito kembali membenarkan.
“Apa yang ingin kau lakukan? Menyakiti orang dan membuat mereka menderita,” Ainosuke mulai terbakar emosi.
“Aku mempunyai satu tujuan besar dan untuk mencapainya, korban-korban seperti itu mau tidak mau memang harus berjatuhan...”
“Aku sangat ingin membunuhmu sekarang,” ujar Ainosuke geram.
“Kalau begitu lakukanlah. Siapa nama guru sekolahmu? Sayama Hitomi, kan?” ejek Yumehito.
Ainosuke mengambil pisau yang ada di ruangan itu, dan menghambur ke arah Yumehito. Tapi tusukannya meleset. (atau sengaja meleset?)
“Aku tak akan mati jika kau tusuk disitu,” Yumehito memegang tangan Ainosuke yang menggenggam pisau dan mengarahkannya ke lehernya sendiri, “Disini, tepat disini. Lakukan, lakukan! AYOLAH!!!”
Tapi Ainosuke malah menjatuhkan pisau dan Yumehito pun pergi meninggalkan adiknya.
0 komentar:
Posting Komentar