Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Minggu, 30 Oktober 2016

Detective Conan TV series 2011 ep - 13 part 1

– Tantangan terakhir Shinichi, the last shock episode –


Episode sebelumnya . . .

Shinichi berhasil menyelamatkan Ran yang terjebak di dalam ruang dengan sensor infra merah. Ran terduduk lemas.

“Sekarang aku tahu. Bagaimana kita bisa terjebak dalam ruangan serba putih ini. Pelaku yang melakukan semua ini . . . adalah kau, Ran,” ucap Shinichi.

“Itu benar, Shinichi. Sebenarnya aku . . . “ ucapan Ran terputus.

Tiba-tiba sebuah sekat putih keluar dari dinding. Sekat transparan itu memisahkan Ran dan Shinichi. Masing-masing berada di sisi ruangan.

“Ran! Kau baik-baik saja?”

“Shinichi?!”



Dari ventilasi/lubang udara yang ada di dinding, tiba-tiba keluar semacam gas.

“Shinichi, apa ini?”

“Semacam gas . . . “

“Shinichi . . . “

“Ran . . . “

Keduanya terduduk lemas oleh gas yang mulai memenuhi ruangan. Shinichi hanya bisa memandang Ran dari seberang ruangan tanpa bisa melakukan apa-apa. Shinichi ambruk, sementara Ran pun hanya bisa melihatnya tidak berdaya dari ruangan sebelah.



“Kudo-kun, Kudo-kun . . . “ seseorang mencoba membuat Shinichi sadar dari pingsannya. “Apa kau terluka?” Shinichi perlahan membuka mata. Ia menemukan dirinya sekarang sudah berada di luar ruangan, tepatnya di sebuah pelabuhan, dengan Ran juga terkapar di dekatnya. “Syukurlah. Sato-san, Kudo-kun sudah sadar,” ucapnya kemudian.

Detective Sato mendekat Shinichi yang sedang bersama detective Takagi, “Keduanya ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sekarang sudah teridentifikasi.”

Shinichi melihat ke arah lain. Tampak Ran belum juga sadarkan diri, “Ran . . . Ran! Apa kau baik-baik saja?” Shinichi berusah bangun, tapi tubuhnya masih lemas.

“Tolong jangan paksakan diri,” larang detective Sato.

“Aku tidak apa-apa. Um . . . mungkinkah Ran terluka?”

“Maaf, tapi . . . dia meninggal,” ucap dokter yang memeriksa Ran.

“Huh?” Shinichi tidak percaya.

“Sekarang penyebab kematiannya belum dapat diketahui. Setelah autopsy, mungkin kita akan menemukan penyebabnya,” terang Hiraja Hajime sang dokter.



“Tunggu . . . tunggu sebentar!” Shinichi masih belum percaya dengan apa yang diucapkan dokter itu.

“Kudo-kun, apa kau ingat siapa aku? Sebenarnya kita pernah bertemu sebelumnya di sebuah kasus,” terang Hirata-san.

“Apa yang kau katakan di saat seperti ini! Lebih penting Ran!” Shinichi berusaha mendekati Ran yang terkapar tapi ditahan oleh detective Takagi.

“Tubuhnya sudah dingin. Sangat disesalkan kita bertemu lagi di saat seperti ini kan?”

Tim medis membawa tubuh Ran ke ambulan. Tapi Shinichi masih belum bisa menerima kalau Ran meninggal.

“Ran!” Shinichi berusaha mendekati tubuh Ran, tapi detective Sato dan detective Takagi menghalanginya.

“Aku mengerti perasaanmu, Kudo-kun! Yang dapat kau lakukan sekarang adalah menceritakan semua yang kau ketahui. Ayo ikut kami ke kantor polisi,” paksa detective Sato dan detective Takagi.

“Ran! Biarkan aku pergi! Raaaaan!” Shinichi masih memberontak, tapi ia tidak kuasa ketika kedua detective itu memaksanya masuk ke dalam mobil polisi.



Shinichi akhirnya bisa lebih tenang. Ia mengikuti kedua detective itu ke kantor polisi.

“Apa ada hal yang mencurigakan di tempat kejadian?” Tanya Shinichi pada kedua detective itu.

“Tempat kejadian?”

“Tempat dimana Ran dan aku ditemukan tidak sadar,” lanjut Shinichi.

“Kalau tidak salah, tempat disekitar Ran ditemukan tidak sadar agak basah, iya kan?” detective Sato meminta kepastian dari detective Takagi yang langsung menjawabnya dengan anggukan.

“Basah?” Shinichi heran.

“Kudo-kun, kau belum mengatakan pada kami apapun . . . tapi aku pikir, kalian berdua dibawa ke pelabuhan itu dalam keadaan tidak sadar dari suatu tempat. Tapi, kenapa hanya tempat di sekitar Ran saja yang basah? Tapi kondisi jasad Ran tidak sesuai dengan orang yang jatuh,” detective Sato malah bergumam sendiri.

Shinichi mendadak mual. Ia lalu diajak oleh detective Takagi ke toilet. Sementara detective Sato menunggu di luar.

Shinichi masuk ke toilet pria bersama detective Takagi. Selesai muntah, ia hendak mengambil tissue, tapi Shinichi menemukan kalau tissue di toilet itu habis. Ia merogoh kantung bajunya, dan menemukan sebuah kertas.



“Ah, demi Ran, kami akan melakukan invetigasi hingga tuntas. Itu sebabnya Kudo-kun, kau harus mempercayakan hal ini padaku dan Sato-san . . . dan kami berharap kerjasamamu dalam investigasi ini,” sementara Shinichi muntah di toilet, detective Takagi mencuci tangannya.

Detective Takagi tidak sadar. Ketika ia berbalik, ia tidak lagi menemukan Shincihi yang tengah muntah di toilet. Detective Takagi melihat ke jendela, disana Shinichi sedang melarikan diri . . .

“Kudo-kun! Kudo-kun! Sato-san! Kudo-kun melarikan diri!” teriak detective Takagi kemudian.

Seisi kantor polisi heboh. Mereka lalu menyebar untuk mencari Shinichi, saksi kunci peristiwa ini yang melarikan diri. Apa yang sebenarnya dibaca Shinichi dari kertas yang ditemukannya di saku jasnya? Bahkan hingga dia nekat melarikan diri?



Shinichi berhasil mencapai jalan raya. Tiba-tiba sebuah limousine lewat dan berhenti di dekatnya.

“Kudo-kun, ada apa?” Tanya seorang gadis yang turun dari limousine itu. “Apa ini? Apa kau terlibat dengan kasus lagi?” desaknya.

“Itu benar. Sonoko, aku punya permintaan. Tanpa bertanya apapun, maukah kau membawaku ke pelabuhan Beika? Tolong,” pinta Shinichi yang kemudian menyembunyikan diri dari polisi yang mendekat ke arah mereka berdua.

“Mungkinkah Kudo-kun, kau sedang dicari polisi?” Sonoko heran.

“Tolong aku. Tolong, Percayalah padaku,” pinta Shinichi lagi.

Sonoko berpikir sejenak, “Baiklah, serahkan padaku,” ucapnya kemudian.

Sonoko lalu membawa Shinichi dengan limousine-nya ke pelabuhan Beika.

“Aku tidak tahu kau sedang terlibat kasus apa . . . tapi kalau sudah selesai semua, katakan padaku, okey?” pinta Sonoko.

“Ya. Terimakasih,” Shinichi lalu turun dari limousine itu.



Shinichi kembali ke tempat dimana tadi ia dan Ran ditemukan tidak sadarkan diri. Shinichi mengeluarkan kertas yang tadi ia temukan di saku jasnya.

“Sungguh disesalkan detective besar. Kau melupakan suatu hal penting di tempat kejadian perkara.”

Shinichi memandang ke arah Ran tadi ditemukan. Ia teringat Ran . . . “Apa yang aku lupakan? Pesan ini jelas dimasukkan oleh pelaku di saku jasku. Apa tujuan dari si pelaku sebenarnya? Apa sebenarnya ini?” Shinichi bergumam sendiri dengan kesal.



Tanpa Shinichi ketahui, ada seseorang yang ternyata tengah memperhatikannya dari kejauhan. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa lagi selain Shinichi, orang tersebuh mendekat. Ia memegang pundak Shinichi, dan . . . dengan satu tangan, Shinichi membanting orang itu.

“Bodoh! Ini aku! Berhenti melakukan hal bodoh!”

Ternyata yang dibanting oleh Shinichi adalah Kogoro, ayah Ran. (sial amat nasib pakde satu ini, hihihi . . . ). “Paman, kau baik-baik saja?” Shinichi lalu membantu Kogoro untuk bangun.



“Paman, bagaimana kau keluar dari ruangan putih itu?” Tanya Shinichi kemudian.

“Itu . . . aku kehilangan kesadaran waktu itu. Ketika bangun, aku berada di sebuah bangku taman. Dan disana, dari surat yang ditinggalkan di dekatku, mengatakan untuk datang dan menemuimu disini.”

“Mori Ran dan Kudo Shinichi ada di pelabuhan Beika.”



“Tapi ternyata sudah ada banyak polisi . . . oi, itu bohong kan? Itu tidak benar kan kalau Ran meninggal? Putriku . . . oi katakan kalau itu bohong! Dia baru saja berusia 17 tahun! Kenapa putriku yang baru berusia 17 tahun meninggal, kenapa?! Jawab aku bocah detective!” Kogoro tidak percaya kalau Ran meninggal. Ia menyalahkan Shinichi.

Tiba-tiba Shinichi menemukan sesuatu. Ia lalu mengambilnya, “Itu?! ponsel Ran!” teriak Shinichi tiba-tiba.

“Milik Ran?” Kogoro heran.



“Ini dingin . . . itu mengingatkanku, kalau kaca yang waktu itu berembun. Daerah sekitar Ran ditemukan basah . . . berembun . . . perbedaan temperature . . . ponsel yang beku! Ran basah . . . “ gumam Shinichi. “Aku tahu! Membeku tiba-tiba! Pelaku di ruangan serba putih hanya membekukan tempat Ran berada! Itu artinya Ran masih hidup!”

“Eh?!” Kogoro heran.

“Aku pernah membaca tentang keadaan dimana seseorang tampak meninggal karena pembekuan tiba-tiba . . . itu sudah pernah diteliti sejak lama. Mereka tampak seperti benar-benar meninggal . . . tapi ketika pembekuan dihentikan, ada kemungkinan dimana mereka akan bertahan,” lanjut Shinichi.



“Itu benar? Itu benar kalau Ran masih hidup?” desak Kogoro.

Ponsel Ran berdering. Di layarnya tampak sebuah nomer dan nama pelaku sebenarnya.

Shinichi mengangkat ponsel Ran itu, “Halo . . . “

“Kudo Shinichi, aku akan memberikanmu satu bagian infomasi,” ucap suara dari ponsel itu.

“Siapa kau?! Apa tujuanmu sebenarnya?!”

“Autopsi Mori-Ran . . . akan dilakukan hari ini jam 4 sore. Itu artinya sejam sejak sekarang. Bisakah kau menyelamatkan orang yang kau cintai itu dengan tanganmu sendiri?” orang itu lalu memutuskan pembicaraan.

Shinichi melirik ke arah gantungan ponsel Ran.

“Mereka akan melakukan autopsy meski Ran masih hidup?!”

“Paman, ayo cepat!”

Shinichi dan Kogoro lalu bergegas menuju kantor polisi tempat Ran berada sekarang.



Di depan kantor polisi, tampak seorang lelaki tua berkacamata datang mendekat, “Permisi, aku memergoki anak ini mencuri di toko buku Beika, jadi aku membawanya kesini. Lantai berapa untuk melaporkan kejadian pencurian?”

“Maaf, aku menyesalinya!” ucap si anak muda tadi.

“Oh itu, ada di lantai 2,” jawab polisi jaga itu.

“Tunggu!” detective Sato mendatangi polisi jaga tadi. Ia curiga dengan kedua orang yang masuk tadi. Detective Sato memandangi keduanya, tapi kemudian tidak berkomentar apa-apa.



Siapa kedua orang tadi? Yups . . . mereka adalah Kogoro dan Shinichi yang menyamar agar bisa masuk ke kantor polisi dengan mudah.

“Ruang jenazah”

Shinichi dan Kogoro melepas samaran mereka dan menghambur ke ruang jenazah. Mereka menemukan Ran berada di sebuah kotak transparan.

“Ran!”

Tapi kotak itu tidak bisa dibuka. Shinichi dan Kogoro mencoba membuka kotak itu bersama, tapi tidak berhasil. Sebuah panel sentuh di sebelah kotak transparan itu bereaksi. Sebuah tanggal dan kotak putih kosong muncul.

“Tenang! Apa yang terjadi saat 15 Mei 2009?” gumam Shinichi.

“Oi, kasus apa yang terjadi hari itu?” desak Kogoro tidak sabar.

Shinichi berusaha mengingatnya, kasus kejahatan yang terjadi di sebuah ruangan pendingin dari perusahaan delivery service.



Flash back

“Hasil identifikasi dokter keliru. Orang ini memang sengaja dikunci di dalam ruang pendingin, tapi dia tidak meninggal karena beku. Dia dibawa ke ruang pendingin ini lalu dibunuh. Ini . . . benar-benar kasus pembunuhan,” ungkap Shinichi.

Flash back selesai.

Dokter yang menangani investigasi kali itu adalah Hirata Hajime, orang yang tadi juga ditemui oleh Shinichi.



“Ah kasus itu huh?” Kogoro juga ingat kasus yang terjadi hari itu.

“Tapi, aku masih belum tahu apa password dari keenam karakter itu,” keluh Shinichi. “Ah! Paman, kau tahu siapa dokter yang waktu itu?”

“Kalau aku ingat . . . dia Hirata . . . itu benar, dia Hirata Hajime!”

Shinichi lalu memasukkan nama itu ke keenam kotak putih di panel sentuh. Kotak transparan tempat Ran berada terbuka. Mereka membuka kain penutupnya, dan . . .

“Ran! Ini manekuin!”



“Berhentilah bermain-main! Apa ini sebenarnya! Ini semua kesalahanmu, bocah detective! Jika kau benar peduli pada Ran, kau seharusnya melindunginya kan?!” Kogoro kolaps, ia menumpahkan kemarahannya pada Shinichi. Kogoro melayangkan pukulan ke wajah Shinichi.

“Maaf, paman,” ucap Shinichi yang kesakitan.

“Sebelum mengatakan maaf, cepat temukan Ran! Kau tidak berguna! Aku akan membunuhmu!” Kogoro benar-benar marah.

Lalu dimana Ran sebenarnya? Apa benar Ran masih hidup? Bagaimana nasib Ran? Berhasilkan Shinichi menyelamatkan Ran . . . atau ia akan kehilangan Ran selamanya?

To be continue . . . at part 2

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.