Episode terakhir !!! Ketika semua rencana dan rahasia terungkap. Seperangkat rencana kejahatan yang sempurna!
Televisi melaporkan peristiwa pembajakan bis oleh si pria bertanda silang, Ikeuchi Kazuya. Bis yang dibajak akhirnya bisa dihentikan, dan terjebak di terowongan Katusda. Pelaku yang masih menyandera seorang anak kecil memaksa polisi untuk menghadirkan Tanaka Ainosuke.
Di tempat lain, Tanaka Yumehito tengah menyaksikan live siaran pembajakan itu. Ia tersenyum puas atas apa yang terjadi.
Ainosuke yang diberitahu detektif Kato tentang permintaan pelaku, menyanggupinya. Sekarang Ainosuke bersama Hitomi-sensei dan detektif Kato menuju TKP.
Seseorang dengan nomer tidak dikenal menelepon ponsel Hitomi-sensei.
“Akan kuberitahu hal yang menarik,” ujar suara di seberang yang ternyata milik Kokusho-san.
“Apa?!” Hitomi-sensei yang berniat menutup teleponnya kaget.
Beberapa waktu sebelumnya …
“Halo. Kau akan segera dibebaskan, kan? Selamat,” Komukai-san mengunjungi Ikeuchi-san di penjara.
“Um, siapa Anda?” Ikeuchi heran.
“Kelihatannya sekarang kau bersikap cukup baik. Kau mungkin ingin mencari adikmu secepat mungkin,” pancing Komukai-san.
“Kau tahu sesuatu tentangnya?” Ikeuchi penasaran.
Komukai menunjukkan sebuah foto pahat dengan darah di ujungnya, “Darah yang tertinggal di ujung pahat ini, jika kau periksakan DNA-nya, itu adalah darah adikmu. Adikmu pasti telah ditusuk dengan pahat ini. Jika kau ingin tahu lebih detil, tanyakan saja pada anak ini,” Komukai-san menunjukkan foto lain, identitas si pemilik pahat.
Tingkat: 1 , Kelas: 3, Nama: Tanaka Ainosuke
Ainosuke tiba di TKP. Dengan pengawalan ketat dari kepolisian, Ainosuke mendekati bis yang dibajak.
Ikeuchi-san masih memegangi anak kecil yang dijadikan sanderanya sambil membuka pintu bis, “Tanaka Ainosuke, kan? Apa yang kau lakukan pada adikku?”
“Apa maksudmu?”
“Jangan berpura-pura! Adikku yang bertugas menjaga kalian. Adikku yang selama ini menghilang. DIMANA DIA?! Adikku... Bukankah kau menusuknya dengan pahat? Katakan! Apa yang terjadi pada adikku?!” gertak Ikeuchi-san.
Ainosuke merasakan kepalanya kembali sakit. Samar-samar ia mengingat kejadian 8 tahun yang lalu, “Kenapa...? Sesuatu yang begitu penting...Kenapa...Kenapa aku bisa melupakannya hingga kini?”
“KATAKAN! APA YANG TERJADI PADA ADIKKU!”
“Dia dikubur di Shinkaichi-ku, di tempat gedung Sea Square berada. Adikmu... Aku menguburnya,” Ainosuke mengatakannya dengan terbata-bata.
Ikeuchi-san yang kaget dengan pengakuan Ainosuke, melepaskan sanderanya. Ia berniat menyerang Ainosuke dengan pahat di tangannya. Tapi polisi sigap melepaskan tembakan. Ikeuchi-san ambruk di depan Ainosuke. Polisi segera menghambur ke dalam bis untuk menyelamatkan para sandera, sementara Ainosuke … pingsan.
Ainosuke yang pingsan dibawa dengan ambulan. Di dalam, Hitomi-sensei dengan setia menemaninya.
“Ainosuke, kau tak apa-apa?” Hitomi-sensei lega karena Ainosuke akhirnya sadar.
“Sensei … Itu salahku. Kakakku menjadi seperti ini... Itu adalah salahku.”
Flash back 8 tahun silam …
Ainosuke kecil diculik oleh Ikeuchi bersaudara. Yumehito yang berniat menyelamatkan adiknya, malah ikut tertangkap. Kedua orang tua mereka yang tengah mengumpulkan uang tebusan, mengalami kecelakaan dan meninggal tanpa sempat menyelamatkan Yumehito dan Ainosuke.
Mendengar kematian orang tuanya, Ainosuke kecil terus menangis. Hal ini membuat si penculik geram. Demi menyelamatkan adiknya, Yumehito menggunakan pahat milik Ainosuke kecil untuk menusuk si penculik. Tanpa ampun Yumehito menghujamkan pahat itu ke tubuh si penculik hingga ia tak bernyawa. Yumehito dan Ainosuke lalu membawa mayat itu keluar dan menguburkannya di area kontruksi gedung yang belum selesai.
“Ainosuke, lupakan semua yang terjadi hari ini. Kau harus melupakannya,” pesan Yumehito setelah mengubur mayat si penculik.
Flash back selesai
Ainosuke bersama Hitomi-sensei tiba di kantor polisi. Mereka disambut detektif Miyamoto. Karena pengakuan Ainosuke tentang membunuh dan mengubur, detektif Miyamoto berniat membawa Ainosuke untuk diinterogasi. Bahkan permintaan Hitomi-sensei agar Ainosuke diberi waktu beristirahat diabaikan oleh detektif Miyamoto. Detektif Miyamoto lalu membawa Ainosuke ke dalam sel tempat biasanya Kokusho-san berada.
“Miyamoto-san, kenapa aku harus berada di tempat ini?”
“Aku tak ingin kau melakukan apapun. Aku tak ingin kau mengganggu Yumehito-san lagi lebih dari yang telah kau lakukan,” ujar detektif Miyamoto kalem.
“Yumehito-san?” Ainosuke heran.
“Aku berterima kasih padanya karena telah membunuh Detektif Fukuchi, sehingga aku bisa mengambil alih posisinya. Aku sangat berterima kasih pada Yumehito-san,” cerita detektif Miyamoto.
“Kau...Kau memihak pada kakakku?” Ainosuke tidak percaya.
“Ya, itu benar.”
“Akhirnya kau ingat,” Yumehito tiba-tiba muncul di belakang detektif Miyamoto. “Aku selalu menderita sendirian karena ingatan atas pembunuhan itu. Setiap kali aku melihatmu tertawa dengan polosnya karena kau tak bisa mengingat apapun, aku merasa sesuatu dalam diriku berusaha memberontak. Bisakah kau bayangkan? Setiap malam saat aku tidur, aku bisa melihat orang yang kubunuh berdiri tepat di depanku dan berkata, Jangan harap kau bisa bergembira, kau pembunuh. Hal itu terus berlangsung setiap hari. Tidakkah kau pikir itu tak adil?”
Api kemarahan mulai membara di dada Ainosuke, “Kalau begitu... Kenapa kau tak mengincarku? Itu adalah kesalahanku hingga kau membunuh seseorang. Jadi walaupun aku terbunuh olehmu, aku tak akan mengatakan apapun. Tapi... Masaki dan ibunya tak ada hubungannya dengan ini. Taka-san dan anaknya juga tak berkaitan dengan ini. Dan juga Shimada yang terluka parah saat konser Blue Heaven... Yatabe-san juga. Miruku-san juga tak ada kaitannya. Kakak yang bersenang-senang dengan membuat mereka yang tak berdosa menderita, benar-benar tidak bisa dimaafkan. Aku, bahkan jika itu berarti aku harus kehilangan nyawaku. Aku pasti akan menghentikanmu,” Ainosuke memandang kakaknya itu tajam.
“Kau sungguh keren, ya? Tapi adik, berkat kau, rencana kejahatanku kini telah memasuki tahap terakhir. Karena kau telah mengingat tempat dimana mayat itu dikubur, aku telah menemukan cara untuk menghancurkan gedung itu,” Yumehito tersenyum lalu beranjak pergi.
“Hei, HEI TUNGGU KAKAK! KAKAK!”
Ainosuke merasakan getaran di mata kirinya. Karena tidak ada orang yang bisa memukulnya, Ainosuke memukulkan kepalanya ke jeruji sel.
Kilasan gambar muncul di mata kirinya. Gedung tinggi, seseorang yang tengah memasang bom, dan Yoshida-san (sang pemilik apartemen) yang sedang merangkai bom.
Meeting kepolisian.
“Karena tempat yang disebutkan oleh Tanaka Ainosuke telah dibangun sebuah gedung di atasnya, kami meminta bantuan dari tim dengan teknologi yang memadai untuk mengurus hal itu. Di samping gedung Sea Square, kami akan menggali lubang sedalam 30 meter. Setelah itu, kami akan menggali lurus ke bawah gedung tersebut dan melakukan penyelidikan.”
Ainosuke termenung di selnya sendirian. Ia memandangi sketsa yang sempat dibuatnya dari selembar kertas yang ia bawa.
“Ternyata memang Yoshida-san,” gumamnya penuh sesal.
“Selamat siang, Perdana Menteri Kamiyama. Aku telah membuat Tokyo, tidak, Jepang sebagai sandera,” Yumehito menghubungi pemerintah.
“Apa ini?”
“Aku akan menghancurkan bangunan-bangunan tertentu di sekitar Tokyo. Gedung tersebut adalah tempat dimana super-komputer yang mendukung Tokyo berada. Jika gedung itu dihancurkan, sistem di seluruh Tokyo akan mati. Anda tentu tahu hal itu, kan? Anda mendengarkanku, kan? Perdana Menteri Kamiyama.
“Apa permintaanmu?”
“Aku ingin Anda mengirimkan uang ke rekening kami. Jumlahnya 50 milyar,” ujar Yumehito lagi.
“50 milyar?! Keamanan di daerah tersebut sangat sempurna. Tak mungkin gedungnya bisa dihancurkan,” elak sang perdana menteri.
“Biar kubuktikan bahwa apa yang kukatakan bukanlah bohong,” Yumehito lalu menekan pemicu yang ada di tangannya.
Tidak lama setelahnya, ada laporan dari salah seorang staf pemerintah yang memberitahukan tentang robohnya salah satu gedung penting di Tokyo.
“Apakah sekarang Anda mengerti bahwa ini bukanlah gurauan? Saya rasa tak mungkin Anda bisa menyiapkan uangnya dengan cepat. Akan saya beri waktu sedikit. Batas waktu Anda adalah 5 jam. Saya menunggu jawaban positif dari Anda,” ucap Yumehito lalu menutup teleponnya.
Ainosuke masih di dalam sel saat detektif Kato dan Hitomi-sensei meringsek masuk dan melumpuhkan salah seorang petugas jaga.
“Sensei! Detektif Kato! Kenapa kalian disini?” Ainosuke girang.
Hitomi-sensei lalu membuka pintu sel itu. Ia menceritakan kalau beberapa saat sebelumnya, seseorang (Kokusho-san) memberitahunya agar memasang penyadap di sel itu. Ia mengatakan kalau akan ada hal menarik untuk didengarkan.
“Tadinya aku tak percaya tapi Hitomi-sensei bersikeras, jadi kulakukan apa yang ia minta dan itu sungguh mengejutkan,” ucap detektif Kato menyambung cerita Hitomi-sensei. Ketiganya melarikan diri dari kantor polisi.
“Kalau begitu, pembicaraan tadi malam juga?” Ainosuke bersemangat.
“Semuanya kudengar. Keparat itu, akan kuhajar dia dengan tanganku sendiri. Ainosuke-kun, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu. Buku catatan milik Detektif Fukuchi. Mungkin ada petunjuk disana. Sayang sekali tapi aku tak menemukan apapun. Jika kau, mungkin kau akan menemukan sesuatu. Kita berpencar,” ujar detektif Kato kemudian. “Aku akan membuat kesempatan bagi kalian, jadi kalian berdua bisa lari.”
“Bagaimana denganmu?” tanya Hitomi-sensei.
“Aku akan baik-baik saja. Ayo! 3 2 1 GO.”
Detektif Kato berhasil mengalihkan perhatian polisi dan membuat Hitomi-sensei serta Ainosuke berhasil kabur dari kantor polisi. Dia sendiri berusaha untuk kabur, saat seseorang memanggil namanya dari belakang.
“Kato!”
“Kau!”
Detektif Kato berbalik, dan menemukan detektif Miyamoto di hadapannya, “Aku merekam semuanya, Detektif Miyamoto, pembicaraanmu dengan Ainosuke-kun. Aku hanya petugas biasa, tetapi aku punya rasa keadilan yang kuat. Aku tak akan membiarkanmu kabur karena telah membantu penjahat.”
Detektif Miyamoto memandang detektif Kato dengan tajam. Keduanya lalu mengeluarkan senjata dan … DORR!!!
Ainosuke yang berhasil kabur bersama Hitomi-sensei naik mobil menuju suatu tempat. Di dalam mobil, Ainosuke membalik-balik buku catatan milik detektif Fukuchi, dan ia menemukan sesuatu yang menarik.
“Efek domino... Efek domino, apakah maksudnya semua kasus hingga sekarang ini saling terhubung? Atau... Mungkinkah?”
“Selamat datang Ainosuke-kun,” ujar Yoshida-san melihat kedatangan Ainosuke.
“Kenapa? Yoshida-san, kaulah pelaku kasus pengeboman berantai.”
“Jadi kau sudah mengetahuinya. Aku tak ingin kau mengetahuinya. Mengecewakan sekali. Aku ingin tetap bersahabat dengan Ainosuke-kun,” Yoshida-san akhirnya mengakuinya.
“Apa kau sedang berusaha melakukan sesuatu lagi?” desak Ainosuke.
“Kau juga tahu sejauh itu?”
“Katakan padaku! Dimana kau pasang bomnya!!”
“Aku seorang pro jadi aku tak bisa mengatakannya padamu. Tapi karena Ainosuke-kun, akan kukatakan satu hal padamu. Ini...” Yoshida-san memberikan kertas pada Ainosuke. Tapi belum sempat mengatakan apapun … DORR!!! Seseorang menembak Yoshida-san.
Melihat Yoshida-san tertembak, Ainosuke segera keluar. Tapi dia hanya mendapati sebuah mobil berwarna putih yang melaju cepat menjauh. Ainosuke lalu kembali menemui senseinya di tempat parkir.
“Sensei, kau harus lari sejauh mungkin,” pinta Ainosuke.
“Ada apa, apa yang terjadi?” Hitomi-sensei heran.
“Yoshida-san dibunuh. Cepatlah lari!”
Hitomi-sensei menatap Ainosuke tajam, “Ainosuke, aku tak akan lari lagi. Aku sudah memutuskan aku tak akan membiarkan Ainosuke berjuang sendirian.”
Ainosuke terdiam dengan pengakuan senseinya itu, “Aku mengerti, terima kasih. Oh ya, aku ingin minta tolong padamu.”
“Apa yang akan kau lakukan Ainosuke?”
“Aku akan... menemui kakak.”
Komukai-san kembali ke tempat Yumehito, sendirian.
“Dimana Yoshida?” tanya Yumehito.
“Pengkhianat harus mati, ya kan?” jawab Komukai-san santai.
“Sedih sekali, ia tak bisa melihat pertunjukan yang akan segera dimulai.” Yumehito lalu kembali menghubungi perdana menteri, “Perdana Menteri Kamiyama, Waktunya sudah habis, bagaimana jawabanmu?”
“Kami tak bisa menjawabmu semudah itu. Kami butuh waktu, tolong beri kami waktu untuk berdiskusi,” elak perdana menteri.
“Begitukah? Mengecewakan sekali. Game over. Selamat tinggal,” Yumehito lalu menutup telepon.
“Sudah selesai? Kau dingin sekali. Seharusnya kau bernegosiasi dengan mereka,” komentar Komukai-san.
“Apa kau ingin uang? Jika untuk melihat pertunjukan ini, seharusnya kau tak membutuhkan uang,” sindir Yumehito.
Ainosuke belari kesana kemari dengan bekal sketsanya. Ia akhirnya bisa menemukan tempat Yumehito berada, “Kakak!! Hentikan ini.”
“Kau terlambat, Ainosuke. Jika kau berhasil sampai disini, berarti kau sudah mengetahui semua rencanaku?” ujar Yumehito dingin.
“Bangunan yang dipasangi dengan super-komputer yang mengoperasikan sistem kontrol di Tokyo. Sistem keamanannya sangat ketat, jadi untuk menghancurkannya... Dengan efek domino. Kau tak bisa memasang bom langsung di gedung yang merupakan tujuan akhirmu, jadi... Kau berencana menghancurkan gedung itu pada akhirnya, dengan menghancurkan gedung-gedung lainnya,” papar Ainosuke kemudian.
“Kerja yang bagus Ainosuke, kau mengetahui semuanya.”
“Sudah hentikan pertengkaran saudara ini. Kau terlalu baik kepada adikmu. Selamat tinggal,” Komukai-san mengambil senjata dan mengarahkannya pada Yumehito. Terdengar suara tembakan, tapi tidak terjadi apapun.
“Komukai-san, betapapun hebatnya kau menggunakan senjata, kau tak akan bisa membunuhku dengan peluru kosong. Apa kau lupa akan prinsipku? Pengkhianat harus mati, ya kan?” Yumehito dengan percaya diri mengeluarkan senjata dari balik bajunya. Rupanya senjata milik Komukai-san tidak memiliki peluru di dalamnya.
“Hentikan! Sesuai harapan dari Tanaka Yumeto. Tapi sayang sekali bagimu,” tiba-tiba muncul seseorang yang juga mengarahkan senjata, yang kali ini ke kepala Yumehito, Kokusho Akira. “Sekarang, berikan senjatamu. Cepat!”
Yumehito menurunkan senjatanya, dan menjatuhkannya. “Jadi kau benar-benar mengkhianatiku.”
“Kau, pada akhirnya, tak bisa membunuh adik kecilmu. Kau tak bisa membuang perasaanmu sebagai seorang manusia. Itulah mengapa aku memilih untuk berpisah darimu,” ucap Komukai-san
“Pemenangnya adalah yang masih hidup sampai saat terakhir. Permainan ini adalah kemenanganku,” sambung Kokusho-san.
“Kurasa tak begitu,” Yumehito masih bersikap tenang. “Bukankah sudah kubilang aku ini orang yang sangat berhati-hati? Aku sudah memasang sebuah sistem penghancur otomatis. Jika kau menembakku, itulah akhir dari gedung ini. Pemenangnya adalah yang bisa bertahan hidup. Berarti dalam perang ini, tak ada pemenangnya. Jika kau menembakku, tak diragukan lagi semuanya akan mati. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Haruskah kita semua mati disini?” pancing Yumehito.
“Kau pikir sudah berapa tahun aku bekerja denganmu? Tak mungkin kau akan memilih kematianmu sendiri.Yang kau katakan itu adalah bohong! Sekarang, yang sebenarnya... Selamat tinggal,” ujar Komukai-san percaya diri.
DORR !!!
Ketiga orang ini saling menembak. Sekali tembak, Komukai-san dan Kokusho-san ambruk. Sementara Yumehito yang juga tertembak sempoyongan. Ainosuke yang sejak tadi ada disana dan melihat semuanya tidak bisa berkata apapun.
“Kakak?
“Sekarang, Ainosuke… Waktunya memulai pertunjukan terakhir,” Yumehito yang sempoyongan mengambil pemicu di saku jasnya dan menekan benda itu.
Dengan tertatih, Yumehito menuju ruangan lain. Darisana, pemandangan gedung yang akan dihancurkan Yuemhito tampak jelas berjejer. Satu per satu, gedung itu meledak dan roboh menimpa gedung sebelahnya, menciptakan efek domino, “Bagaimana adik? Bukankah itu menyenangkan?”
Ainosuke berlari meninggalkan kakaknya yang terluka itu. Ia bersama senseinya menuju gedung yang akan diledakkan, berlomba dengan waktu. Orang-orang yang berada di gedung target berlarian keluar. Keadaan menjadi kacau.
“Gedung selanjutnya akan jatuh dari sana, jadi seharusnya bomnya di sekitar sini. Cari hydrant!” ujar Ainosuke teringat kilasan dari mata kirinya.
“Hydrant... hydrant... Ketemu.”
Ainosuke membuka seperangkat sarung tangan dan nitrogen cair yang dibawa oleh Hitomi-sensei, “Seharusnya bomnya akan berhenti dengan menuangkan cairan nitrogen ini,” ujar Ainosuke sambil menuangkan nitrogen cair ke bom itu. (pada suhu rendah atau jauh di bawah nol, Nitrogen akan berada pada keadaan cair. Saat nitrogen dikeluarkan pada suhu ruangan, dengan cepat nitrogen cair ini akan membeku. Prinsip pembekuan inilah yang digunakan untuk membekukan sekaligus menjinakkan bom)
Indicator lampu di bom itu berhenti berkedip. Tapi getaran kencang tiba-tiba muncul. Gedung itu nyaris hancur. Ainosuke dan Hitomi-sensei buru-buru keluar.
Yumehito masih menyaksikan “karyanya” dari tempat tadi. Ia meraba cairan kental merah yang semakin banyak membasahi jas hitamnya, “Dia benar-benar menghentikannya,” komentar Yumehito sambil tersenyum.
“Ainosuke, kenapa kau disini?” rupanya Ainosuke kembali menemui kakaknya.
“Sudah jelas, kan? Aku akan membawa kakak ke rumah sakit. Aku ingin kau tetap hidup dan membayar dosamu.”
“Percuma saja. Kau berhasil menghentikannya.”
“Berkat mata kiriku.”
“Mata kiri?” Yumehito heran.
“Mata kiri yang kau berikan padaku, memberiku petunjuk. Jika bukan karena itu, aku tak akan bisa menghentikan rencana kakak. Aku yakin di dalam hatimu, kau ingin dihentikan. Karena itulah melalui mata kiriku, aku bisa melihat hal yang sama seperti yang kakak lihat,” Ainosuke lalu menggendong kakaknya keluar dari gedung. (disini adegannya Yamada Ryosuke benar-benar menggendong Yokoyama Yu .. weee kuat ya?)
“Kau sungguh bodoh. Kenapa kau... “ ucapan Yumehito terpotong.
Keduanya sampai keluar gedung dan sekarang berada di padang rumput di samping sungai. (kapan sampai sini ya? Gmn Ainosuke ngegendong kakaknya turun dari gedung? Abaikan LOL) “Kakak adalah... Satu-satunya keluarga yang aku miliki.”
Yumehito yang tidak lagi berpegangan pada Ainosuke ambruk ke tanah, “Bohong kan? Kakak? Kakak. Kakak! Kakak!!” Ainosuke berteriak sambil memeluk kakaknya.
Ainosuke berada di sebuah pemakaman sedang berdoa. Kali ini ia ditemani Hitomi-sensei, Miruku-san dan anjingnya, Rin.
“Semua yang saat ini mendengarkan suaraku. Apakah kalian memiliki keluarga? Bahkan aku punya seorang keluarga yang hebat dan menakjubkan. Kakak yang baik, pandai dan sangat keren. Apakah saat ini ia sedang mengawasiku, darimanapun ia berada?” gumam Ainosuke dalam doanya.
“Ainosuke. Ayo pergi,” ajak Hitomi-sensei kemudian.
Ainosuke dan Hitomi-sensei beranjak pergi saat ponsel Ainosuke berbunyi, “Kato-san, kau sudah kembali bekerja?”
“Aku baik-baik saja. Hukuman untuk Miyamoto sudah dijatuhkan, dan aku sangat senang,” ujar detektif Kato yang diperban tangan kirinya.
“Syukurlah.”
“Ada kasus lain yang terjadi dan itu membuatku berpikir. Antara kita saja, hanya dugaan tapi mungkin itu adalah pembunuhan... Dan ada kabar yang beredar bahwa itu adalah salah satu rencana jahat kakakmu. Jika memungkinkan, bisakah kau membantu?” pinta detektif Kato.
“Akan kulakukan. Jika itu adalah rencana yang dibuat oleh kakak, kurasa aku harus menyelesaikannya. Dan ada beberapa kejadian yang tak begitu kupahami. Kato-san, akan kutelpon kau nanti,” Ainosuke menutup ponselnya. “Sensei, kurasa itu datang.”
Hitomi-sensei masih menyimak di samping Ainosuke, “Itu datang, maksudmu, mata kirimu? Ini kan di makam.”
“Cepatlah,” pinta Ainosuke.
“Baiklah kalau begitu,” Hitomi-sensei bersiap memukul Ainsouke, tapi tiba-tiba Ainosuke menghindarinya, “Kenapa kau menghindar?”
“Bercanda. Maaf, maaf. Gunakan seluruh kekuatanmu,” ujar Ainosuke ceria.
“Kau bodoh ya?” –THE END?-
Televisi melaporkan peristiwa pembajakan bis oleh si pria bertanda silang, Ikeuchi Kazuya. Bis yang dibajak akhirnya bisa dihentikan, dan terjebak di terowongan Katusda. Pelaku yang masih menyandera seorang anak kecil memaksa polisi untuk menghadirkan Tanaka Ainosuke.
Di tempat lain, Tanaka Yumehito tengah menyaksikan live siaran pembajakan itu. Ia tersenyum puas atas apa yang terjadi.
Ainosuke yang diberitahu detektif Kato tentang permintaan pelaku, menyanggupinya. Sekarang Ainosuke bersama Hitomi-sensei dan detektif Kato menuju TKP.
Seseorang dengan nomer tidak dikenal menelepon ponsel Hitomi-sensei.
“Akan kuberitahu hal yang menarik,” ujar suara di seberang yang ternyata milik Kokusho-san.
“Apa?!” Hitomi-sensei yang berniat menutup teleponnya kaget.
Beberapa waktu sebelumnya …
“Halo. Kau akan segera dibebaskan, kan? Selamat,” Komukai-san mengunjungi Ikeuchi-san di penjara.
“Um, siapa Anda?” Ikeuchi heran.
“Kelihatannya sekarang kau bersikap cukup baik. Kau mungkin ingin mencari adikmu secepat mungkin,” pancing Komukai-san.
“Kau tahu sesuatu tentangnya?” Ikeuchi penasaran.
Komukai menunjukkan sebuah foto pahat dengan darah di ujungnya, “Darah yang tertinggal di ujung pahat ini, jika kau periksakan DNA-nya, itu adalah darah adikmu. Adikmu pasti telah ditusuk dengan pahat ini. Jika kau ingin tahu lebih detil, tanyakan saja pada anak ini,” Komukai-san menunjukkan foto lain, identitas si pemilik pahat.
Tingkat: 1 , Kelas: 3, Nama: Tanaka Ainosuke
Ainosuke tiba di TKP. Dengan pengawalan ketat dari kepolisian, Ainosuke mendekati bis yang dibajak.
Ikeuchi-san masih memegangi anak kecil yang dijadikan sanderanya sambil membuka pintu bis, “Tanaka Ainosuke, kan? Apa yang kau lakukan pada adikku?”
“Apa maksudmu?”
“Jangan berpura-pura! Adikku yang bertugas menjaga kalian. Adikku yang selama ini menghilang. DIMANA DIA?! Adikku... Bukankah kau menusuknya dengan pahat? Katakan! Apa yang terjadi pada adikku?!” gertak Ikeuchi-san.
Ainosuke merasakan kepalanya kembali sakit. Samar-samar ia mengingat kejadian 8 tahun yang lalu, “Kenapa...? Sesuatu yang begitu penting...Kenapa...Kenapa aku bisa melupakannya hingga kini?”
“KATAKAN! APA YANG TERJADI PADA ADIKKU!”
“Dia dikubur di Shinkaichi-ku, di tempat gedung Sea Square berada. Adikmu... Aku menguburnya,” Ainosuke mengatakannya dengan terbata-bata.
Ikeuchi-san yang kaget dengan pengakuan Ainosuke, melepaskan sanderanya. Ia berniat menyerang Ainosuke dengan pahat di tangannya. Tapi polisi sigap melepaskan tembakan. Ikeuchi-san ambruk di depan Ainosuke. Polisi segera menghambur ke dalam bis untuk menyelamatkan para sandera, sementara Ainosuke … pingsan.
Ainosuke yang pingsan dibawa dengan ambulan. Di dalam, Hitomi-sensei dengan setia menemaninya.
“Ainosuke, kau tak apa-apa?” Hitomi-sensei lega karena Ainosuke akhirnya sadar.
“Sensei … Itu salahku. Kakakku menjadi seperti ini... Itu adalah salahku.”
Flash back 8 tahun silam …
Ainosuke kecil diculik oleh Ikeuchi bersaudara. Yumehito yang berniat menyelamatkan adiknya, malah ikut tertangkap. Kedua orang tua mereka yang tengah mengumpulkan uang tebusan, mengalami kecelakaan dan meninggal tanpa sempat menyelamatkan Yumehito dan Ainosuke.
Mendengar kematian orang tuanya, Ainosuke kecil terus menangis. Hal ini membuat si penculik geram. Demi menyelamatkan adiknya, Yumehito menggunakan pahat milik Ainosuke kecil untuk menusuk si penculik. Tanpa ampun Yumehito menghujamkan pahat itu ke tubuh si penculik hingga ia tak bernyawa. Yumehito dan Ainosuke lalu membawa mayat itu keluar dan menguburkannya di area kontruksi gedung yang belum selesai.
“Ainosuke, lupakan semua yang terjadi hari ini. Kau harus melupakannya,” pesan Yumehito setelah mengubur mayat si penculik.
Flash back selesai
Ainosuke bersama Hitomi-sensei tiba di kantor polisi. Mereka disambut detektif Miyamoto. Karena pengakuan Ainosuke tentang membunuh dan mengubur, detektif Miyamoto berniat membawa Ainosuke untuk diinterogasi. Bahkan permintaan Hitomi-sensei agar Ainosuke diberi waktu beristirahat diabaikan oleh detektif Miyamoto. Detektif Miyamoto lalu membawa Ainosuke ke dalam sel tempat biasanya Kokusho-san berada.
“Miyamoto-san, kenapa aku harus berada di tempat ini?”
“Aku tak ingin kau melakukan apapun. Aku tak ingin kau mengganggu Yumehito-san lagi lebih dari yang telah kau lakukan,” ujar detektif Miyamoto kalem.
“Yumehito-san?” Ainosuke heran.
“Aku berterima kasih padanya karena telah membunuh Detektif Fukuchi, sehingga aku bisa mengambil alih posisinya. Aku sangat berterima kasih pada Yumehito-san,” cerita detektif Miyamoto.
“Kau...Kau memihak pada kakakku?” Ainosuke tidak percaya.
“Ya, itu benar.”
“Akhirnya kau ingat,” Yumehito tiba-tiba muncul di belakang detektif Miyamoto. “Aku selalu menderita sendirian karena ingatan atas pembunuhan itu. Setiap kali aku melihatmu tertawa dengan polosnya karena kau tak bisa mengingat apapun, aku merasa sesuatu dalam diriku berusaha memberontak. Bisakah kau bayangkan? Setiap malam saat aku tidur, aku bisa melihat orang yang kubunuh berdiri tepat di depanku dan berkata, Jangan harap kau bisa bergembira, kau pembunuh. Hal itu terus berlangsung setiap hari. Tidakkah kau pikir itu tak adil?”
Api kemarahan mulai membara di dada Ainosuke, “Kalau begitu... Kenapa kau tak mengincarku? Itu adalah kesalahanku hingga kau membunuh seseorang. Jadi walaupun aku terbunuh olehmu, aku tak akan mengatakan apapun. Tapi... Masaki dan ibunya tak ada hubungannya dengan ini. Taka-san dan anaknya juga tak berkaitan dengan ini. Dan juga Shimada yang terluka parah saat konser Blue Heaven... Yatabe-san juga. Miruku-san juga tak ada kaitannya. Kakak yang bersenang-senang dengan membuat mereka yang tak berdosa menderita, benar-benar tidak bisa dimaafkan. Aku, bahkan jika itu berarti aku harus kehilangan nyawaku. Aku pasti akan menghentikanmu,” Ainosuke memandang kakaknya itu tajam.
“Kau sungguh keren, ya? Tapi adik, berkat kau, rencana kejahatanku kini telah memasuki tahap terakhir. Karena kau telah mengingat tempat dimana mayat itu dikubur, aku telah menemukan cara untuk menghancurkan gedung itu,” Yumehito tersenyum lalu beranjak pergi.
“Hei, HEI TUNGGU KAKAK! KAKAK!”
Ainosuke merasakan getaran di mata kirinya. Karena tidak ada orang yang bisa memukulnya, Ainosuke memukulkan kepalanya ke jeruji sel.
Kilasan gambar muncul di mata kirinya. Gedung tinggi, seseorang yang tengah memasang bom, dan Yoshida-san (sang pemilik apartemen) yang sedang merangkai bom.
Meeting kepolisian.
“Karena tempat yang disebutkan oleh Tanaka Ainosuke telah dibangun sebuah gedung di atasnya, kami meminta bantuan dari tim dengan teknologi yang memadai untuk mengurus hal itu. Di samping gedung Sea Square, kami akan menggali lubang sedalam 30 meter. Setelah itu, kami akan menggali lurus ke bawah gedung tersebut dan melakukan penyelidikan.”
Ainosuke termenung di selnya sendirian. Ia memandangi sketsa yang sempat dibuatnya dari selembar kertas yang ia bawa.
“Ternyata memang Yoshida-san,” gumamnya penuh sesal.
“Selamat siang, Perdana Menteri Kamiyama. Aku telah membuat Tokyo, tidak, Jepang sebagai sandera,” Yumehito menghubungi pemerintah.
“Apa ini?”
“Aku akan menghancurkan bangunan-bangunan tertentu di sekitar Tokyo. Gedung tersebut adalah tempat dimana super-komputer yang mendukung Tokyo berada. Jika gedung itu dihancurkan, sistem di seluruh Tokyo akan mati. Anda tentu tahu hal itu, kan? Anda mendengarkanku, kan? Perdana Menteri Kamiyama.
“Apa permintaanmu?”
“Aku ingin Anda mengirimkan uang ke rekening kami. Jumlahnya 50 milyar,” ujar Yumehito lagi.
“50 milyar?! Keamanan di daerah tersebut sangat sempurna. Tak mungkin gedungnya bisa dihancurkan,” elak sang perdana menteri.
“Biar kubuktikan bahwa apa yang kukatakan bukanlah bohong,” Yumehito lalu menekan pemicu yang ada di tangannya.
Tidak lama setelahnya, ada laporan dari salah seorang staf pemerintah yang memberitahukan tentang robohnya salah satu gedung penting di Tokyo.
“Apakah sekarang Anda mengerti bahwa ini bukanlah gurauan? Saya rasa tak mungkin Anda bisa menyiapkan uangnya dengan cepat. Akan saya beri waktu sedikit. Batas waktu Anda adalah 5 jam. Saya menunggu jawaban positif dari Anda,” ucap Yumehito lalu menutup teleponnya.
Ainosuke masih di dalam sel saat detektif Kato dan Hitomi-sensei meringsek masuk dan melumpuhkan salah seorang petugas jaga.
“Sensei! Detektif Kato! Kenapa kalian disini?” Ainosuke girang.
Hitomi-sensei lalu membuka pintu sel itu. Ia menceritakan kalau beberapa saat sebelumnya, seseorang (Kokusho-san) memberitahunya agar memasang penyadap di sel itu. Ia mengatakan kalau akan ada hal menarik untuk didengarkan.
“Tadinya aku tak percaya tapi Hitomi-sensei bersikeras, jadi kulakukan apa yang ia minta dan itu sungguh mengejutkan,” ucap detektif Kato menyambung cerita Hitomi-sensei. Ketiganya melarikan diri dari kantor polisi.
“Kalau begitu, pembicaraan tadi malam juga?” Ainosuke bersemangat.
“Semuanya kudengar. Keparat itu, akan kuhajar dia dengan tanganku sendiri. Ainosuke-kun, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu. Buku catatan milik Detektif Fukuchi. Mungkin ada petunjuk disana. Sayang sekali tapi aku tak menemukan apapun. Jika kau, mungkin kau akan menemukan sesuatu. Kita berpencar,” ujar detektif Kato kemudian. “Aku akan membuat kesempatan bagi kalian, jadi kalian berdua bisa lari.”
“Bagaimana denganmu?” tanya Hitomi-sensei.
“Aku akan baik-baik saja. Ayo! 3 2 1 GO.”
Detektif Kato berhasil mengalihkan perhatian polisi dan membuat Hitomi-sensei serta Ainosuke berhasil kabur dari kantor polisi. Dia sendiri berusaha untuk kabur, saat seseorang memanggil namanya dari belakang.
“Kato!”
“Kau!”
Detektif Kato berbalik, dan menemukan detektif Miyamoto di hadapannya, “Aku merekam semuanya, Detektif Miyamoto, pembicaraanmu dengan Ainosuke-kun. Aku hanya petugas biasa, tetapi aku punya rasa keadilan yang kuat. Aku tak akan membiarkanmu kabur karena telah membantu penjahat.”
Detektif Miyamoto memandang detektif Kato dengan tajam. Keduanya lalu mengeluarkan senjata dan … DORR!!!
Ainosuke yang berhasil kabur bersama Hitomi-sensei naik mobil menuju suatu tempat. Di dalam mobil, Ainosuke membalik-balik buku catatan milik detektif Fukuchi, dan ia menemukan sesuatu yang menarik.
“Efek domino... Efek domino, apakah maksudnya semua kasus hingga sekarang ini saling terhubung? Atau... Mungkinkah?”
“Selamat datang Ainosuke-kun,” ujar Yoshida-san melihat kedatangan Ainosuke.
“Kenapa? Yoshida-san, kaulah pelaku kasus pengeboman berantai.”
“Jadi kau sudah mengetahuinya. Aku tak ingin kau mengetahuinya. Mengecewakan sekali. Aku ingin tetap bersahabat dengan Ainosuke-kun,” Yoshida-san akhirnya mengakuinya.
“Apa kau sedang berusaha melakukan sesuatu lagi?” desak Ainosuke.
“Kau juga tahu sejauh itu?”
“Katakan padaku! Dimana kau pasang bomnya!!”
“Aku seorang pro jadi aku tak bisa mengatakannya padamu. Tapi karena Ainosuke-kun, akan kukatakan satu hal padamu. Ini...” Yoshida-san memberikan kertas pada Ainosuke. Tapi belum sempat mengatakan apapun … DORR!!! Seseorang menembak Yoshida-san.
Melihat Yoshida-san tertembak, Ainosuke segera keluar. Tapi dia hanya mendapati sebuah mobil berwarna putih yang melaju cepat menjauh. Ainosuke lalu kembali menemui senseinya di tempat parkir.
“Sensei, kau harus lari sejauh mungkin,” pinta Ainosuke.
“Ada apa, apa yang terjadi?” Hitomi-sensei heran.
“Yoshida-san dibunuh. Cepatlah lari!”
Hitomi-sensei menatap Ainosuke tajam, “Ainosuke, aku tak akan lari lagi. Aku sudah memutuskan aku tak akan membiarkan Ainosuke berjuang sendirian.”
Ainosuke terdiam dengan pengakuan senseinya itu, “Aku mengerti, terima kasih. Oh ya, aku ingin minta tolong padamu.”
“Apa yang akan kau lakukan Ainosuke?”
“Aku akan... menemui kakak.”
Komukai-san kembali ke tempat Yumehito, sendirian.
“Dimana Yoshida?” tanya Yumehito.
“Pengkhianat harus mati, ya kan?” jawab Komukai-san santai.
“Sedih sekali, ia tak bisa melihat pertunjukan yang akan segera dimulai.” Yumehito lalu kembali menghubungi perdana menteri, “Perdana Menteri Kamiyama, Waktunya sudah habis, bagaimana jawabanmu?”
“Kami tak bisa menjawabmu semudah itu. Kami butuh waktu, tolong beri kami waktu untuk berdiskusi,” elak perdana menteri.
“Begitukah? Mengecewakan sekali. Game over. Selamat tinggal,” Yumehito lalu menutup telepon.
“Sudah selesai? Kau dingin sekali. Seharusnya kau bernegosiasi dengan mereka,” komentar Komukai-san.
“Apa kau ingin uang? Jika untuk melihat pertunjukan ini, seharusnya kau tak membutuhkan uang,” sindir Yumehito.
Ainosuke belari kesana kemari dengan bekal sketsanya. Ia akhirnya bisa menemukan tempat Yumehito berada, “Kakak!! Hentikan ini.”
“Kau terlambat, Ainosuke. Jika kau berhasil sampai disini, berarti kau sudah mengetahui semua rencanaku?” ujar Yumehito dingin.
“Bangunan yang dipasangi dengan super-komputer yang mengoperasikan sistem kontrol di Tokyo. Sistem keamanannya sangat ketat, jadi untuk menghancurkannya... Dengan efek domino. Kau tak bisa memasang bom langsung di gedung yang merupakan tujuan akhirmu, jadi... Kau berencana menghancurkan gedung itu pada akhirnya, dengan menghancurkan gedung-gedung lainnya,” papar Ainosuke kemudian.
“Kerja yang bagus Ainosuke, kau mengetahui semuanya.”
“Sudah hentikan pertengkaran saudara ini. Kau terlalu baik kepada adikmu. Selamat tinggal,” Komukai-san mengambil senjata dan mengarahkannya pada Yumehito. Terdengar suara tembakan, tapi tidak terjadi apapun.
“Komukai-san, betapapun hebatnya kau menggunakan senjata, kau tak akan bisa membunuhku dengan peluru kosong. Apa kau lupa akan prinsipku? Pengkhianat harus mati, ya kan?” Yumehito dengan percaya diri mengeluarkan senjata dari balik bajunya. Rupanya senjata milik Komukai-san tidak memiliki peluru di dalamnya.
“Hentikan! Sesuai harapan dari Tanaka Yumeto. Tapi sayang sekali bagimu,” tiba-tiba muncul seseorang yang juga mengarahkan senjata, yang kali ini ke kepala Yumehito, Kokusho Akira. “Sekarang, berikan senjatamu. Cepat!”
Yumehito menurunkan senjatanya, dan menjatuhkannya. “Jadi kau benar-benar mengkhianatiku.”
“Kau, pada akhirnya, tak bisa membunuh adik kecilmu. Kau tak bisa membuang perasaanmu sebagai seorang manusia. Itulah mengapa aku memilih untuk berpisah darimu,” ucap Komukai-san
“Pemenangnya adalah yang masih hidup sampai saat terakhir. Permainan ini adalah kemenanganku,” sambung Kokusho-san.
“Kurasa tak begitu,” Yumehito masih bersikap tenang. “Bukankah sudah kubilang aku ini orang yang sangat berhati-hati? Aku sudah memasang sebuah sistem penghancur otomatis. Jika kau menembakku, itulah akhir dari gedung ini. Pemenangnya adalah yang bisa bertahan hidup. Berarti dalam perang ini, tak ada pemenangnya. Jika kau menembakku, tak diragukan lagi semuanya akan mati. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Haruskah kita semua mati disini?” pancing Yumehito.
“Kau pikir sudah berapa tahun aku bekerja denganmu? Tak mungkin kau akan memilih kematianmu sendiri.Yang kau katakan itu adalah bohong! Sekarang, yang sebenarnya... Selamat tinggal,” ujar Komukai-san percaya diri.
DORR !!!
Ketiga orang ini saling menembak. Sekali tembak, Komukai-san dan Kokusho-san ambruk. Sementara Yumehito yang juga tertembak sempoyongan. Ainosuke yang sejak tadi ada disana dan melihat semuanya tidak bisa berkata apapun.
“Kakak?
“Sekarang, Ainosuke… Waktunya memulai pertunjukan terakhir,” Yumehito yang sempoyongan mengambil pemicu di saku jasnya dan menekan benda itu.
Dengan tertatih, Yumehito menuju ruangan lain. Darisana, pemandangan gedung yang akan dihancurkan Yuemhito tampak jelas berjejer. Satu per satu, gedung itu meledak dan roboh menimpa gedung sebelahnya, menciptakan efek domino, “Bagaimana adik? Bukankah itu menyenangkan?”
Ainosuke berlari meninggalkan kakaknya yang terluka itu. Ia bersama senseinya menuju gedung yang akan diledakkan, berlomba dengan waktu. Orang-orang yang berada di gedung target berlarian keluar. Keadaan menjadi kacau.
“Gedung selanjutnya akan jatuh dari sana, jadi seharusnya bomnya di sekitar sini. Cari hydrant!” ujar Ainosuke teringat kilasan dari mata kirinya.
“Hydrant... hydrant... Ketemu.”
Ainosuke membuka seperangkat sarung tangan dan nitrogen cair yang dibawa oleh Hitomi-sensei, “Seharusnya bomnya akan berhenti dengan menuangkan cairan nitrogen ini,” ujar Ainosuke sambil menuangkan nitrogen cair ke bom itu. (pada suhu rendah atau jauh di bawah nol, Nitrogen akan berada pada keadaan cair. Saat nitrogen dikeluarkan pada suhu ruangan, dengan cepat nitrogen cair ini akan membeku. Prinsip pembekuan inilah yang digunakan untuk membekukan sekaligus menjinakkan bom)
Indicator lampu di bom itu berhenti berkedip. Tapi getaran kencang tiba-tiba muncul. Gedung itu nyaris hancur. Ainosuke dan Hitomi-sensei buru-buru keluar.
Yumehito masih menyaksikan “karyanya” dari tempat tadi. Ia meraba cairan kental merah yang semakin banyak membasahi jas hitamnya, “Dia benar-benar menghentikannya,” komentar Yumehito sambil tersenyum.
“Ainosuke, kenapa kau disini?” rupanya Ainosuke kembali menemui kakaknya.
“Sudah jelas, kan? Aku akan membawa kakak ke rumah sakit. Aku ingin kau tetap hidup dan membayar dosamu.”
“Percuma saja. Kau berhasil menghentikannya.”
“Berkat mata kiriku.”
“Mata kiri?” Yumehito heran.
“Mata kiri yang kau berikan padaku, memberiku petunjuk. Jika bukan karena itu, aku tak akan bisa menghentikan rencana kakak. Aku yakin di dalam hatimu, kau ingin dihentikan. Karena itulah melalui mata kiriku, aku bisa melihat hal yang sama seperti yang kakak lihat,” Ainosuke lalu menggendong kakaknya keluar dari gedung. (disini adegannya Yamada Ryosuke benar-benar menggendong Yokoyama Yu .. weee kuat ya?)
“Kau sungguh bodoh. Kenapa kau... “ ucapan Yumehito terpotong.
Keduanya sampai keluar gedung dan sekarang berada di padang rumput di samping sungai. (kapan sampai sini ya? Gmn Ainosuke ngegendong kakaknya turun dari gedung? Abaikan LOL) “Kakak adalah... Satu-satunya keluarga yang aku miliki.”
Yumehito yang tidak lagi berpegangan pada Ainosuke ambruk ke tanah, “Bohong kan? Kakak? Kakak. Kakak! Kakak!!” Ainosuke berteriak sambil memeluk kakaknya.
Ainosuke berada di sebuah pemakaman sedang berdoa. Kali ini ia ditemani Hitomi-sensei, Miruku-san dan anjingnya, Rin.
“Semua yang saat ini mendengarkan suaraku. Apakah kalian memiliki keluarga? Bahkan aku punya seorang keluarga yang hebat dan menakjubkan. Kakak yang baik, pandai dan sangat keren. Apakah saat ini ia sedang mengawasiku, darimanapun ia berada?” gumam Ainosuke dalam doanya.
“Ainosuke. Ayo pergi,” ajak Hitomi-sensei kemudian.
Ainosuke dan Hitomi-sensei beranjak pergi saat ponsel Ainosuke berbunyi, “Kato-san, kau sudah kembali bekerja?”
“Aku baik-baik saja. Hukuman untuk Miyamoto sudah dijatuhkan, dan aku sangat senang,” ujar detektif Kato yang diperban tangan kirinya.
“Syukurlah.”
“Ada kasus lain yang terjadi dan itu membuatku berpikir. Antara kita saja, hanya dugaan tapi mungkin itu adalah pembunuhan... Dan ada kabar yang beredar bahwa itu adalah salah satu rencana jahat kakakmu. Jika memungkinkan, bisakah kau membantu?” pinta detektif Kato.
“Akan kulakukan. Jika itu adalah rencana yang dibuat oleh kakak, kurasa aku harus menyelesaikannya. Dan ada beberapa kejadian yang tak begitu kupahami. Kato-san, akan kutelpon kau nanti,” Ainosuke menutup ponselnya. “Sensei, kurasa itu datang.”
Hitomi-sensei masih menyimak di samping Ainosuke, “Itu datang, maksudmu, mata kirimu? Ini kan di makam.”
“Cepatlah,” pinta Ainosuke.
“Baiklah kalau begitu,” Hitomi-sensei bersiap memukul Ainsouke, tapi tiba-tiba Ainosuke menghindarinya, “Kenapa kau menghindar?”
“Bercanda. Maaf, maaf. Gunakan seluruh kekuatanmu,” ujar Ainosuke ceria.
“Kau bodoh ya?” –THE END?-
0 komentar:
Posting Komentar