“Kakak mengincar orang-orang yang tidak mampu. Kasus penculikan berantai, semuanya merupakan rencana kakak. Untuk mengentikan bertambahnya jumlah korban yang menderita karena rencana kakak, Aku pergi ke kantor polisi untuk mengatakan yang sebenarnya.Tapi saat aku mengatakan tentang kakak kepada seorang polisi ... polisi itu ditembak tepat di depan mataku.”
“Sebentar lagi ayahmu akan dihukum mati kan? Dia dipenjara selama 10 tahun walaupun dia tak bersalah. Dan pada akhirnya ia akan dihukum mati. Pasti sangat menyedihkan bagimu. Seorang politikus hebat datang dan membuat pernyataannya sendiri. Siapa nama politikus itu tadi ... Ya itu dia, Washio. Washio. Hei, apakah tak apa memaafkan orang jahat seperti itu begitu saja? Jika kau tak bisa menyelamatkan ayahmu dari hukuman mati, setidaknya balaskanlah dendam kepada mereka yang mengatakan bahwa ayahmulah pembunuhnya. Sebenarnya, aku punya rencana yang sempurna.”
Detektif Fukuchi seperti biasa menemui Kokusho di selnya. Ia mendapatkan kabar kalau seorang polisi jaga di depan kantor kepolisian tiba-tiba saja tertembak.
“Sayang sekali. Jika saja kau melepaskanku dan memberiku pistol ... Akan kukatakan semuanya tentang rencana jahat orang ini,” pancing Kokusho lagi.
“Sudah kubilang, aku tak bisa!” ujar detektif Fukuchi.
Di depan gedung kepolisian, para polisi sedang melakukan rekontruksi. Mereka memperkirakan tempat dan jarak tembak peluru yang membunuh polisi jaga itu. Sementara di tempat lain, detektif Kato sedang menginterogasi Ainosuke.
“Aku tahu aku menanyakan hal yang sama, tapi apa kau benar-benar tak melihat apa-apa?” tanya detektif Kato.
Ainosuke tampak berpikir, ia teringata ancaman kakaknya jika memberitahukan identitas Yumehito pada polisi, “Aku hanya berkata, Aku datang untuk menemui Detektif Fukuchi dan Detektif Kato,” ujar Ainosuke meyakinkan.
“Jadi tak ada petunjuk, ya?” detektif Kato tampak kecewa.
“Umm... Aku merasa tak enak badan, jadi bolehkah aku pulang?” pinta Ainosuke kemudian.
“Oh, pasti berat bagimu ya.. Akan kuantar kau pulang.”
“Tak perlu. Aku akan pulang sendiri.”

Ainosuke pulang sendirian. Di jalan, ia masih saja berpikir mengenai kakaknya, “Apakah kakak sudah menjadi orang yang bisa membunuh dengan mudah? Membuat orang menderita dan membunuh orang. Apa ia telah menjadi seseorang yang suka melakukan hal itu? Mungkinkah, dia bergabung dalam kepolisian agar ia bisa menjalankan rencananya dengan lebih mudah?” tiba-tiba ponsel Ainosuke berbunyi, “Halo?”
“Ainosuke? Tolong aku!!”
“Sensei? Sekarang ada dimana?”
“Di tempat parkir. Tolong!!” ujar Hitomi-sensei lagi.
Ainosuke buru-buru berlari menuju tempat Hitomi-sensei berada. Ia masih saja memikirkan kalau-kalau kali ini sasaran kakaknya adalah sensei-nya sendiri.
“Ainosuke!” Hitomi-sensei terlihat sumringah melihat Ainosuke datang. “Pinjami aku 100 yen.”
“Apa?!” Ainosuke kaget.
“100 yen! Dalam 3 menit, waktunya akan bertambah dan biayanya akan naik lagi! Tolong!! Akan kukembalikan besok! Kumohon!” pinta Hitomi-sensei sambil menunjuk mesin parkir.
“JANGAN BERCANDA!! Aku tahu Sensei bermasalah dengan uang, tapi urus sendiri hal-hal seperti ini! Aku benar-benar khawatir,” jelas Ainosuke kesal. Ia sudah khawatir setengah mati kalau-kalau sensei-nya itu menjadi incaran kakaknya, malah hanya masalah sepele. Ainosuke yang kesal meninggalkan senseinya sendiri.

Ainosuke yang kesal pulang sambil berlari. Di tengah jalan ia tidak sengaja bertabrakan dengan pemilik kos-nya, Yoshida-san. Tiba-tiba kilasan-kilasan gambaran muncul di mata kirinya. Sebuah gedung megah, tangan seseorang yang tengah mengasah sebuah benda tajam, politikus yang sedang naik daun dan undangan pernikahan dengan daftar nama Hitomi-sensei ada disana juga.

Hitomi-sensei akhirnya bisa menyelesaikan masalah parkirnya. Ia pulang sendirian masih sambil menggumamkan betapa menyebalkannya Ainosuke hari itu. Sampai ponselnya berbunyi, “Halo? Ada apa?”
“Pernikahan Minami minggu ini, apa kau ingat?” ujar suara di seberang telepon yang ternyata teman Hitomi-sensei.
“Bahkan 1 yen pun aku tak punya untuk kuberikan sebagai hadiah,” gumam Hitomi-sensei dalam hati. “Tentu saja aku ingat!”
“Kau lupa, ya kan? Hitomi, kau selalu begitu. Oh ya, jangan beli baju baru walaupun kau ingin!”
“Tak bolehkah?” Hitomi-sensei kecewa.
“Kau sudah terlibat hutang jadi jangan buang-buang uangmu!”
“Akhir-akhir ini aku merasa khawatir tentang uang sampai perutku sakit. Aku tak apa-apa, aku tak apa-apa. Aku pasti tak akan membuang-buang uangku, oke? Lucu sekali~” seru Hitomi-sensei yang tidak sengaja melihat sebuah gaun cantik yang terpajang di toko seberang.
“Jangan! Jangan beli itu!”

Pagi harinya di ruang kesehatan, Hitomi-sensei tampak memandangi gaun yang tadi malam ia beli. Hitomi-sensei terkesan dengan gaun mahal itu. Tapi kalau teringat hutang dari kartu kredit yang harus ia bayar, Hitomi-sensei langsung sakit perut. Saat Hitomi-sensei beranjak keluar dari ruang kesehatan, ternyata Ainosuke datang.
“Aku minta maaf tentang kemarin. Aku hanya merasa lelah karena semua hal yang terjadi akhir-akhir ini. Gaunnya lucu. Apa itu untuk ke pernikahan?” ucap Ainosuke.
“Ya, benar!” mood Hitomi-sensei mendadak berubah karena pujian pada gaunnya, “Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dan membelinya dengan seluruh uangku.”
“Oh, dimana pernikahan yang akan kau hadiri itu?” selidik Ainosuke.
“Umm, Hotel Central Pacific! Dia teman satu grupku saat di universitas dulu. Tunangannya adalah anak dari seorang direktur di perusahaan besar! Dan tamu spesialnya adalah menteri perhubungan Washio!”
“Menteri perhubungan?” Ainosuke tampak berpikir.
“Hebat kan?”
“Jika ada hal yang aneh, katakan padaku ya. Sampai jumpa,” ujar Ainosuke lalu beranjak pergi.

Hari berikutnya, seperti biasa Ainosuke mengantar Koran pagi. Pulang ke kos, ia melihat pemilik kos Yoshida-san dan Miruku-san sedang melihat televisi. Tampak seorang politikus yang tidak asing lagi bagi Ainosuke.
“Ini adalah keputusan terbaik bagi masyarakat negeri ini. Ini merupakan keputusan yang tepat untuk membatalkan pembangunan dam yang menjadi penghalang bagi tujuan kita.”
“Tegas sekali ya..”
“Sekarang ini Jepang memerlukan orang yang seperti itu.”
“Tapi menteri ini digosipkan punya banyak uang.”
“Banyak yang berpikir bahwa dia tak pantas bicara tentang orang lain yang membuang-buang uang, saat dia sendiri pergi ke restoran mahal setiap harinya.”
“Orang ini akan berada di pernikahan tersebut bersama Bu Guru besok, menteri Washio,” gumam Ainosuke dalam hati.

Hari pernikahan. Hitomi-sensei yang sudah rapi dengan gaun barunya datang bersama temannya. Di depan gedung, ternyata ada pemeriksaan yang dilakukan polisi. Disana juga ada detektik Kato dan juga Yumehito.
Di sisi lain, Ainosuke ternyata mengikuti sensei-nya itu. Ia ingin memastikan keadaan di tempat pernikahan itu. Ainosuke melihat kalau Yumehito ternyata juga ada disana, “Sudah kuduga kakak ada disini. Aku akan menghentikan kakak sebelum terjadi apa-apa padanya.”

Ainosuke berniat masuk dari pintu belakang gedung. Tapi ternyata disana juga dijaga oleh polisi. Saat ada truk pengangkut daging yang datang, Ainosuke mendapat ide. Ia menyelinap masuk dengan cara naik ke atas truk.

Akhirnya Ainosuke berhasil masuk ke dalam gedung. Ia kemudian turun dari truk. Tapi tidak sengaja kepalanya terbentur, dan kilasan-kilasan gambar muncul di mata kirinya. Seseorang yang tengah mengasah benda tajam, berita tentang pembunuhan 10 tahun yang lalu dan foto pelaku, Taira Kouzou.

Detektif Fukuchi kembali menemui Kokusho di selnya, “Apa hubungannya hukuman mati dengan pernikahan?”
“Benar. Hukuman mati Taira di pusat Tokyo,” ujar Kokushi meledek. “Saat seseorang bisa memakan yang ia inginkan sebelum dihukum mati, itu akan jadi makanan terakhirnya.”
“Hei, jawab pertanyaanku!”
“Mengapa tak kau ijinkan saja ia, dengan pengecualian?”
“Apa?” detektif Fukuchi kembali dibuat kesal oleh jawaban si crime-planner satu ini.

Di dapur, chef yang bertanggungjawab terhadap menu pernikahan kali ini tampak senang. Ia memuji si pengirim daging atas kiriman dagingnya yang masih segar dan kualitas terbaik.
Sementara itu, di ruang ganti pengantin wanita, Hitomi-sensei dan temannya menemui si pengantin.
“Chie! Hitomi! Kalian datang!”
“Kau cantik sekali! Jadi, kudengar tunanganmu itu anak seorang direktur?”
“Hitomi, apa pekerjaanmu sekarang?” tanya Minami si pengantin wanita.
“Sekarang? Guru kesehatan.”
“Sungguh? Baguslah kau bisa mendapatkan pekerjaan tetap. Kau tahu bagaimana mudahnya industri diatur oleh ekonomi, kan? Karena itu kupikir setelah menikah, aku harus memikirkan keluargaku sebagai seorang istri.”
“Aku jadi merasa... jarak antara kita semakin lebar,” gumam Hitomi-sensei dalam hati.
“Sampai jumpa nanti ya!” Hitomi-sensei dan kawannya lalu pamit.

Acara utama. Pengantin masuk ke ruangan. Di sisi lain, tampak menteri Washio duduk berdampingan dengan ayah si pengantin laki-laki. Menteri Washio memuji makanan yang disajikan oleh si pemilik acara.

Ainosuke yang sudah berhasil masuk bersembunyi. Ia menggunakan ponselnya untuk mencari informasi tentang Taira Kouzou.
Taira Kouzou...Di tahun 1997, dia membunuh kepala penjaga dan seorang anak buahnya, untuk menutupi usahanya dalam mendapatkan posisi yang tinggi dengan cara paksa. Mengajukan banding, tapi hukuman matinya telah diputuskan di tahun 2007. Saat itu Menteri Washio bertanggungjawab dalam penyetujuan keputusannya.
Ainosuke kembali menyelundup masuk ke gedung. Tapi polisi tidak sengaja melihatnya. Akhirnya ia dikejar oleh para polisi.
Di ruang tengah, partner kerja Yumehito, Komukai-san menyamar juga menjadi pianis di acara pernikahan itu. Berkali-kali ia melihat ke arah sasarannya, menteri Washio.

Hitomi-sensei ditelepon oleh debt collector, Watabe-san yang menagih pembayaran hutangnya. Akibatnya Hitomi-sensei menjadi sakit perut. Ia buru-buru menuju toilet terdekat.
“Aku harus ke toilet... Padahal baru saja aku bisa makan enak... Mungkin aku lemah terhadap stress. Suara laki-laki? Apa aku masuk ke toilet laki-laki?” gumam Hitomi-sensei kemudian.

Ainosuke akhirnya tertangkap polisi. Ia mulai diinterogasi saat sebuah teriakan terdengar dari sebuah ruangan.
“Berkat dirimu, penjagaan teralihkan,” bisik Yumehito sesaat di telinga Ainosuke.
Polisi yang lain berlarian menuju sumber suara, begitupula Ainosuke. Hitomi-sensei yang baru keluar dari toilet melihat Ainosuke dengan keheranan. Tapi akhirnya ia mengikuti kemana Ainosuke berlari.
“Yuuichi!!” si pengantin wanita tampak histeris saat melihat sang pengantin pria terkapar dengan dada penuh darah.
“Kau, kau panggil ambulans di pintu depan!!” ujar detektif Kato pada Yumehito yang datang kemudian.
Hitomi-sensei yang menyusul kemudian dan melihat keadaan korban, segera bertindak, “Sesuatu untuk menekan lukanya!”

Yumehito berlari sesuai perintah detektif Kato. Ainosuke yang melihat kakaknya itu segera menyusul juga.
“TUNGGU!! Jika kau sangat ingin membunuh seseorang, maka bunuhlah aku,” ujar Ainosuke.
“Apa maksudmu?” Yumehito berhenti.
“Kau suka melakukan hal-hal jahat kan? Kau suka menyakiti orang kan? Maka jadikanlah aku targetmu. Jangan lukai orang yang tidak bersalah,” pinta Ainosuke.
“Kau ingin menghentikanku kan? Maka bunuhlah aku. Jika kau terus menahanku, akan semakin lama untuk memanggil ambulansnya. Jantung pengantin malang itu akan berhenti berdetak jika terlalu lama. Oh ya.. Biar kubuat suatu prediksi untukmu. Dalam tiga bulan, aku akan mengubah total orang sepertimu. Dalam tiga bulan, kau akan menjadi seseorang yang bisa membunuh tanpa ragu-ragu,” tantang Yumehito.
“Apa? Jangan bercanda. Aku tak akan menjadi sepertimu,” Ainosuke akhirnya membiarkan Yumehito melanjutkan tugasnya memanggil ambulan.

Detektif Fukuchi tiba di gedung itu saat paramedis membawa tubuh pengantin pria, Yuichi keluar diikuti si pengantin wanita, Minami.
“Satu tusukan dengan pisau,” detektif Kato memberikan laporan.
“Pertama, kumpulkan semua tamu dan staff di ruang tengah!” perintah detektif Fukuchi.
“Baik, tapi tolong dengarkan ini dulu,” detektif Kato menununjukkan sebuah rekaman yang ditemukan di dekat tubuh korban.
Akan kukatakan yang sebenarnya, Taira-san tidak bersalah. Aku akan menyerahkan diri. Aku akan menyerahkan diri. Tolong jangan bunuh aku.
“Taira? Apakah itu orang yang akan dihukum mati?” gumam detektif Fukuchi.

Ainosuke sudah kembali ke ruang tengah. Ia bertemu dengan Hitomi-sensei dan juga detektif Fukuchi.
“Jadi kau lagi?” sapa detektif Fukuchi pada Ainosuke.
“Hanya kebetulan.”
“Terlalu sering untuk suatu kebetulan.”
“Kami sudah mengecek semua benda yang mungkin dijadikan senjata, tak ada yang terlihat aneh. Tak ada keanehan di ruang tengah juga. Di bawah pengawasan yang begitu ketat, bagaimana caranya seseorang bisa membawa masuk senjata?” lapor detektif Kato kemudian.
“Detektif Fukuchi. Bicara tentang hal itu, ada sesuatu yang kupikirkan,” ujar Sakisaka, “Tentang bagaimana senjatanya dibawa masuk. Ada satu orang yang bisa dengan bebas membawa masuk pisau.”

“Tunggu. Anda satu-satunya orang di ruangan ini yang tidak melewati pemeriksaan. Bisa kami meminta Anda untuk diperiksa sebelum Anda meninggalkan ruangan?” detektif Fukuchi menahan kepergian menteri Washio.
“Apa kau menuduhku?”
“Tidak. Hanya pemeriksaan untuk penyelidikan.”
Detektif Kato lalu membuka tas yang dibawa oleh menteri Washio. Dan menemukan . . . sebuah pisau yang berlumuran darah.
“Washio-san, bisa kami menanyai Anda?” ujar detektif Fukuchi kemudian.
“Aku tak tahu, aku tak tahu apa-apa,” elak menteri Washio.
“Mungkinkah Anda keluar saat pengantin berganti pakaian? Para pengawal tak bisa memastikan alibi Anda karena sedang menyelidiki seorang pelajar,” sambung Sakisaka a.k Yumehito.

“Um, maaf.. Itu, 100% tidak mungkin Washio-san adalah pelakunya,” tiba-tiba saja Hitomi-sensei bicara.
“Apa maksudmu? Apa alasanmu mengatakan 100% tidak mungkin?” detektif Fukuchi kaget.
“Agak susah mengatakannya tapi...” ternyata Hitomi-sensei tadi salah masuk toilet laki-laki. Dan saat hendak keluar, ia melihat menteri Washio berada disana. Dengan ini, menjadi alibi dari menteri Washio.
“Bagaimana dengan pisau yang berlumuran darah ini?” tanya detektif Fukuchi kemudian.
“Aku sama sekali tak ingat sudah membawa benda seperti itu,” ujar menteri Washio.
“Mungkinkah... Bagaimana jika itu adalah darah babi?” kali ini Ainosuke yang angkat bicara.
“Apa?” detektif Fukuchi semakin heran.
“Hanya intuisi saja dan aku tak punya alasan untuk mengatakan itu,” ujar Ainosuke. “Apa ini, dia terlihat tenang. Apa yang ingin kakak lakukan? Aku tak mengerti keinginannya,” Ainosuke membatin.
Sementara itu detektif Fukuchi lalu memerintahkan pemeriksaan forensic terhadap pisau yang ditemukan di tas milik menteri Washio itu.

“Sensei, kurasa itu datang...” bisik Ainosuke pada Hitomi-sensei.
“Disini?” Hitomi-sensei heran.
“Cepat, bu guru,” pinta Ainosuke lagi.
“Tapi, banyak orang... Sudahlah!” Hitomi-sensei lalu memukul Ainosuke. Usahanya untuk mengalihkan orang-orang di ruangan tidak berhasil sehingga semua orang malah melihatnya memukul Ainosuke.
“Apa yang kau lakukan?!” detektif Fukuchi heran dengan sikap Hitomi-sensei ini.
Kilasan-kilasan muncul di mata kiri Ainosuke. Foto Taira Kouzou, rencana balas dendam dan tangan orang yang tengah mengasah benda tajam.

“Ayah pengantin dalam bahaya!” ujar Ainosuke kemudian.
“Um maaf, tapi jika Anda mencari Masuda-sama.. Seorang tamu dengan nama Taira...” ujar si pelayan.
“Taira?!” ujar detektif Fukuchi dan Ainosuke bersamaan.
“Bagaimana kau tahu nama Taira?” tanya detektif Fukuchi heran.
“Kemana ia dipanggil?” Ainosuke tidak memperhatikan pertanyaan detektif Fukuchi.
“Kurasa ke ruang tunggu,” ujar si pelayan.
Ainosuke dan detektif Fukuchi bersama beberapa polisi yang lain menuju ruang tunggu. Disana ternyata tidak ada siapapun. Hanya selembar kertas.
Aku menunggu di ruang mesin

Detektif Fukuchi dan Ainosuke menuju ruang mesin. Ternyata ruangan itu terkunci dari dalam. Setelah berhasil mendobraknya, mereka menemukan ayah si pengantin pria, Masuda-san diikat tangannya dan disiksa. Mereka juga menemukan sebuah video rekaman beberapa saat sebelumnya.
“Tidak, jangan lihat itu!” pinta Masuda-san, tapi diacuhkan oleh detektif Fukuchi.
Itu benar, aku melempar kesalahan pada orang lain yang tak bersalah. Aku membuatnya memberikan pernyataan palsu. Aku membantu Washio-sensei, jadi ia mendengarkan permintaanku. Maafkan aku. Aku hanya ingin melindungi anakku. Aku menyesal tentang ayahmu. Tidak, tolong hentikan.
Matilah.
Tidak, tolonglah.
Ayahku menderita selama 10 tahun dan akan mati besok.
“Mungkinkah? Ayah itu maksudnya Taira, kan?” ujar Ainosuke kemudian.
“Sepertinya. Dan keberadaan anaknya tidak diketahui dalam beberapa hari ini. Apa tujuannya? Balas dendam? Tapi siapa lagi yang bisa membawa senjata selain Washio-san?” ujar detektif Fukuchi.
“Mungkinkah?” Ainosuke buru-buru berlari keluar.
“Ainosuke. Apa kau tahu siapa pelakunya?” tanya Hitomi-sensei yang mengikuti Ainosuke keluar.

Di parkir bawah, polisi masih menahan truk pembawa daging yang akan keluar. Dari arah lain, Ainosuke keluar dan meminta polisi menahan pengemudi truk itu. Tahu kalau ia nyaris ketahuan, si pengemudi truk tancap gas keluar gedung. Sakisaka a.k Yumehito mengejar truk itu. Ia meminjam motor dari seseorang dan berhasil memaksa truk itu berhenti di sebuah lapangan berpasir. Pada saat yang sama Ainosuke bersama detektif Fukuchi menyusul menggunakan mobil polisi.
“Mungkinkah Taira tak bersalah?” tanya Ainosuke.
“Dia sedang diancam, tak ada bukti dalam rekaman itu.”
“Tapi...”
“Dan hukuman mati Taira sudah ditetapkan besok,” ujar detektif Fukuchi.
Sampai di lapangan berpasir,
“Apa yang kalian inginkan? Aku hanya pengantar. “
“Ayahmu adalah Taira Kouzo-san kan? Dia punya seorang anak laki-laki bernama Kengo. Permintaan terakhirnya sebelum mati adalah untuk memakan masakan anaknya yang seorang koki,” ujar detektif Fukuchi. “Tapi semenjak dua hari yang lalu, kami tak bisa menghubunginya. Apakah ini balas dendam? Balas dendam terhadap ayah dan anak Masuda.”
“Kau bercanda kan. Apa kau punya bukti?” pengemudi truk daging bernama Kengo itu masih berkeras melepaskan diri dari Sakisaka. “Aku melewati pemeriksaan saat aku mengantar dagingnya.”
Detektif Kato dan beberapa polisi lain memeriksa ke dalam truk, tapi tidak menemukan senjata apapun yang bisa digunakan untuk membunuh.
“Tidak. Senjatanya ada di dalam truk. Jika intuisiku benar, maka senjatanya ada disini,” Ainosuke masuk ke dalam truk. Ia meraba daging yang tersisa dan kemudian mengeluarkan sebuah tulang yang tajam ujungnya. “Tolong periksa ini. Seharusnya ada reaksi terhadap darah manusia,” pinta Ainosuke kemudian.

Kengo lemas, akhirnya ia menceritakan yang sebenarnya, “Aku hanya tak bisa memaafkan mereka yang menuduh ayahku dan menghancurkan kebahagiaan ayahku. Aku ingin membalaskan dendamnya. Kemudian wanita itu muncul.”
Aku sudah mengatur agar kau bisa masuk ke dalam tanpa kesulitan. Masuda menginginkan daging mahal untuk dimasak bagi Washio-san. Tapi karena ada kasus penculikan yang terjadi, dagingnya tak bisa digunakan lagi. Dagingnya sangat mahal dan berapa lamapun kau cari, tak akan bisa kau temukan. Jadi jika kau menjualnya, mereka akan datang.
Tapi jika Washio-san datang, bukankah akan ada pemeriksaan?
Kau hanya perlu menggunakan tulangnya.
Jika kau tajamkan sedikit, sebuah pisau yang indah akan terbentuk.
“Jadi begitu? Kasus penculikan itu dimaksudkan untuk ini?” gumam Ainosuke dalam hati. Ainosuke memandang kakaknya yang dengan tenang malah membantu polisi mengangkap si pelaku. “Aneh, dia tenang-tenang saja. Dia yang merencanakannya tapi dia juga yang menangkap pelakunya. Apa tujuannya yang sebenarnya?”
“Tolong tunggu. Sebelum aku ditangkap, aku punya permintaan. Tolong biarkan aku memasak santapan terakhir untuk ayahku. Kumohon. Permintaan terakhir ayahku, kumohon,” pinta Kengo sebelum digelandang ke kantor polisi.

Ainosuke menemui Taira Kouzou-san di sel. Ia membawakan makanan masakan Kengo utnuk ayahnya itu.
“Siapa kau?” tanya Taira-san.
“Aku perwakilan anakmu. Anakmu yang memasaknya. Itu daging yang sangat mahal, kualitas tinggi. Itu adalah ... waktu ayah-dan-anak yang terakhir baginya.”
“Begitu. Pasti berat baginya menjadi anak dari seseorang yang divonis mati. Walau begitu kau menyebutnya 'waktu ayah-dan-anak'? Hidupku sangat menyedihkan, tak satupun yang indah. Aku bahkan dituduh membunuh. Tapi walau begitu, bagiku ada satu kebahagiaan. Keluargaku, mendiang istriku dan anak laki-lakiku. Anak yang baik yang bisa membuat masakan seperti ini. Katakan padanya untuk memikirkan kebahagiaannya, bukan kebenciannya terhadap orang, dan teruslah hidup. Itu permintaan terakhirku sebagai seorang ayah. Lezat. Sangat lezat, Kengo,” pesan Taira-san.

Ainosuke keluar dari penjara. Di depan, ia bertemu dengan Sakisaka a.k Yumehito.
“Bagaimana? Bagaimana rasanya berbicara kepada orang tak bersalah yang akan dihukum mati besok? Ayah dan anak Masuda adalah pembunuh sebenarnya. Orang jahat yang pantas untuk disalahkan dan dibalas. Dan kau pahlawan pengecut yang menolong orang jahat, dan menangkap seorang anak yang hanya ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya,” ujar Yumehito.
“Apa tujuanmu? Jangan main-main!”
“Oh sudah waktunya.”
Di tempat lain, partner Yumehito, Kimukai-san menyamar menjadi seorang perawat. Ia masuk ke kamar perawatan Masuda-san dan putranya, “Selamat malam. Aku disini untuk pelayanan terakhir kalian. Aku tak membenci kalian tapi aku sudah janji akan terus menjalankan rencana sampai akhir. Maaf ya,” Komukai-san menyutikkan racun pada ayah dan anak itu.
“Mereka berdua mati,” ujar Yumehito pada Ainosuke
“Apa?”
“Bukankah menarik, bagaimana mereka yang disalahkan dan yang menyalahkan akan mati dua-duanya?”
“Apa sebenarnya tujuanmu?” desak Ainosuke.
“Tak menarik jika kau tak memecahkannya sendiri. Pecahkan misterinya, atau bunuh aku. Tak ada waktu untuk memikirkan jawabanmu, batas waktunya semakin dekat,” tantang Yumehito lagi.
“Sebentar lagi ayahmu akan dihukum mati kan? Dia dipenjara selama 10 tahun walaupun dia tak bersalah. Dan pada akhirnya ia akan dihukum mati. Pasti sangat menyedihkan bagimu. Seorang politikus hebat datang dan membuat pernyataannya sendiri. Siapa nama politikus itu tadi ... Ya itu dia, Washio. Washio. Hei, apakah tak apa memaafkan orang jahat seperti itu begitu saja? Jika kau tak bisa menyelamatkan ayahmu dari hukuman mati, setidaknya balaskanlah dendam kepada mereka yang mengatakan bahwa ayahmulah pembunuhnya. Sebenarnya, aku punya rencana yang sempurna.”
Detektif Fukuchi seperti biasa menemui Kokusho di selnya. Ia mendapatkan kabar kalau seorang polisi jaga di depan kantor kepolisian tiba-tiba saja tertembak.
“Sayang sekali. Jika saja kau melepaskanku dan memberiku pistol ... Akan kukatakan semuanya tentang rencana jahat orang ini,” pancing Kokusho lagi.
“Sudah kubilang, aku tak bisa!” ujar detektif Fukuchi.
Di depan gedung kepolisian, para polisi sedang melakukan rekontruksi. Mereka memperkirakan tempat dan jarak tembak peluru yang membunuh polisi jaga itu. Sementara di tempat lain, detektif Kato sedang menginterogasi Ainosuke.
“Aku tahu aku menanyakan hal yang sama, tapi apa kau benar-benar tak melihat apa-apa?” tanya detektif Kato.
Ainosuke tampak berpikir, ia teringata ancaman kakaknya jika memberitahukan identitas Yumehito pada polisi, “Aku hanya berkata, Aku datang untuk menemui Detektif Fukuchi dan Detektif Kato,” ujar Ainosuke meyakinkan.
“Jadi tak ada petunjuk, ya?” detektif Kato tampak kecewa.
“Umm... Aku merasa tak enak badan, jadi bolehkah aku pulang?” pinta Ainosuke kemudian.
“Oh, pasti berat bagimu ya.. Akan kuantar kau pulang.”
“Tak perlu. Aku akan pulang sendiri.”

Ainosuke pulang sendirian. Di jalan, ia masih saja berpikir mengenai kakaknya, “Apakah kakak sudah menjadi orang yang bisa membunuh dengan mudah? Membuat orang menderita dan membunuh orang. Apa ia telah menjadi seseorang yang suka melakukan hal itu? Mungkinkah, dia bergabung dalam kepolisian agar ia bisa menjalankan rencananya dengan lebih mudah?” tiba-tiba ponsel Ainosuke berbunyi, “Halo?”
“Ainosuke? Tolong aku!!”
“Sensei? Sekarang ada dimana?”
“Di tempat parkir. Tolong!!” ujar Hitomi-sensei lagi.
Ainosuke buru-buru berlari menuju tempat Hitomi-sensei berada. Ia masih saja memikirkan kalau-kalau kali ini sasaran kakaknya adalah sensei-nya sendiri.
“Ainosuke!” Hitomi-sensei terlihat sumringah melihat Ainosuke datang. “Pinjami aku 100 yen.”
“Apa?!” Ainosuke kaget.
“100 yen! Dalam 3 menit, waktunya akan bertambah dan biayanya akan naik lagi! Tolong!! Akan kukembalikan besok! Kumohon!” pinta Hitomi-sensei sambil menunjuk mesin parkir.
“JANGAN BERCANDA!! Aku tahu Sensei bermasalah dengan uang, tapi urus sendiri hal-hal seperti ini! Aku benar-benar khawatir,” jelas Ainosuke kesal. Ia sudah khawatir setengah mati kalau-kalau sensei-nya itu menjadi incaran kakaknya, malah hanya masalah sepele. Ainosuke yang kesal meninggalkan senseinya sendiri.

Ainosuke yang kesal pulang sambil berlari. Di tengah jalan ia tidak sengaja bertabrakan dengan pemilik kos-nya, Yoshida-san. Tiba-tiba kilasan-kilasan gambaran muncul di mata kirinya. Sebuah gedung megah, tangan seseorang yang tengah mengasah sebuah benda tajam, politikus yang sedang naik daun dan undangan pernikahan dengan daftar nama Hitomi-sensei ada disana juga.

Hitomi-sensei akhirnya bisa menyelesaikan masalah parkirnya. Ia pulang sendirian masih sambil menggumamkan betapa menyebalkannya Ainosuke hari itu. Sampai ponselnya berbunyi, “Halo? Ada apa?”
“Pernikahan Minami minggu ini, apa kau ingat?” ujar suara di seberang telepon yang ternyata teman Hitomi-sensei.
“Bahkan 1 yen pun aku tak punya untuk kuberikan sebagai hadiah,” gumam Hitomi-sensei dalam hati. “Tentu saja aku ingat!”
“Kau lupa, ya kan? Hitomi, kau selalu begitu. Oh ya, jangan beli baju baru walaupun kau ingin!”
“Tak bolehkah?” Hitomi-sensei kecewa.
“Kau sudah terlibat hutang jadi jangan buang-buang uangmu!”
“Akhir-akhir ini aku merasa khawatir tentang uang sampai perutku sakit. Aku tak apa-apa, aku tak apa-apa. Aku pasti tak akan membuang-buang uangku, oke? Lucu sekali~” seru Hitomi-sensei yang tidak sengaja melihat sebuah gaun cantik yang terpajang di toko seberang.
“Jangan! Jangan beli itu!”

Pagi harinya di ruang kesehatan, Hitomi-sensei tampak memandangi gaun yang tadi malam ia beli. Hitomi-sensei terkesan dengan gaun mahal itu. Tapi kalau teringat hutang dari kartu kredit yang harus ia bayar, Hitomi-sensei langsung sakit perut. Saat Hitomi-sensei beranjak keluar dari ruang kesehatan, ternyata Ainosuke datang.
“Aku minta maaf tentang kemarin. Aku hanya merasa lelah karena semua hal yang terjadi akhir-akhir ini. Gaunnya lucu. Apa itu untuk ke pernikahan?” ucap Ainosuke.
“Ya, benar!” mood Hitomi-sensei mendadak berubah karena pujian pada gaunnya, “Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dan membelinya dengan seluruh uangku.”
“Oh, dimana pernikahan yang akan kau hadiri itu?” selidik Ainosuke.
“Umm, Hotel Central Pacific! Dia teman satu grupku saat di universitas dulu. Tunangannya adalah anak dari seorang direktur di perusahaan besar! Dan tamu spesialnya adalah menteri perhubungan Washio!”
“Menteri perhubungan?” Ainosuke tampak berpikir.
“Hebat kan?”
“Jika ada hal yang aneh, katakan padaku ya. Sampai jumpa,” ujar Ainosuke lalu beranjak pergi.

Hari berikutnya, seperti biasa Ainosuke mengantar Koran pagi. Pulang ke kos, ia melihat pemilik kos Yoshida-san dan Miruku-san sedang melihat televisi. Tampak seorang politikus yang tidak asing lagi bagi Ainosuke.
“Ini adalah keputusan terbaik bagi masyarakat negeri ini. Ini merupakan keputusan yang tepat untuk membatalkan pembangunan dam yang menjadi penghalang bagi tujuan kita.”
“Tegas sekali ya..”
“Sekarang ini Jepang memerlukan orang yang seperti itu.”
“Tapi menteri ini digosipkan punya banyak uang.”
“Banyak yang berpikir bahwa dia tak pantas bicara tentang orang lain yang membuang-buang uang, saat dia sendiri pergi ke restoran mahal setiap harinya.”
“Orang ini akan berada di pernikahan tersebut bersama Bu Guru besok, menteri Washio,” gumam Ainosuke dalam hati.

Hari pernikahan. Hitomi-sensei yang sudah rapi dengan gaun barunya datang bersama temannya. Di depan gedung, ternyata ada pemeriksaan yang dilakukan polisi. Disana juga ada detektik Kato dan juga Yumehito.
Di sisi lain, Ainosuke ternyata mengikuti sensei-nya itu. Ia ingin memastikan keadaan di tempat pernikahan itu. Ainosuke melihat kalau Yumehito ternyata juga ada disana, “Sudah kuduga kakak ada disini. Aku akan menghentikan kakak sebelum terjadi apa-apa padanya.”

Ainosuke berniat masuk dari pintu belakang gedung. Tapi ternyata disana juga dijaga oleh polisi. Saat ada truk pengangkut daging yang datang, Ainosuke mendapat ide. Ia menyelinap masuk dengan cara naik ke atas truk.

Akhirnya Ainosuke berhasil masuk ke dalam gedung. Ia kemudian turun dari truk. Tapi tidak sengaja kepalanya terbentur, dan kilasan-kilasan gambar muncul di mata kirinya. Seseorang yang tengah mengasah benda tajam, berita tentang pembunuhan 10 tahun yang lalu dan foto pelaku, Taira Kouzou.

Detektif Fukuchi kembali menemui Kokusho di selnya, “Apa hubungannya hukuman mati dengan pernikahan?”
“Benar. Hukuman mati Taira di pusat Tokyo,” ujar Kokushi meledek. “Saat seseorang bisa memakan yang ia inginkan sebelum dihukum mati, itu akan jadi makanan terakhirnya.”
“Hei, jawab pertanyaanku!”
“Mengapa tak kau ijinkan saja ia, dengan pengecualian?”
“Apa?” detektif Fukuchi kembali dibuat kesal oleh jawaban si crime-planner satu ini.

Di dapur, chef yang bertanggungjawab terhadap menu pernikahan kali ini tampak senang. Ia memuji si pengirim daging atas kiriman dagingnya yang masih segar dan kualitas terbaik.
Sementara itu, di ruang ganti pengantin wanita, Hitomi-sensei dan temannya menemui si pengantin.
“Chie! Hitomi! Kalian datang!”
“Kau cantik sekali! Jadi, kudengar tunanganmu itu anak seorang direktur?”
“Hitomi, apa pekerjaanmu sekarang?” tanya Minami si pengantin wanita.
“Sekarang? Guru kesehatan.”
“Sungguh? Baguslah kau bisa mendapatkan pekerjaan tetap. Kau tahu bagaimana mudahnya industri diatur oleh ekonomi, kan? Karena itu kupikir setelah menikah, aku harus memikirkan keluargaku sebagai seorang istri.”
“Aku jadi merasa... jarak antara kita semakin lebar,” gumam Hitomi-sensei dalam hati.
“Sampai jumpa nanti ya!” Hitomi-sensei dan kawannya lalu pamit.

Acara utama. Pengantin masuk ke ruangan. Di sisi lain, tampak menteri Washio duduk berdampingan dengan ayah si pengantin laki-laki. Menteri Washio memuji makanan yang disajikan oleh si pemilik acara.

Ainosuke yang sudah berhasil masuk bersembunyi. Ia menggunakan ponselnya untuk mencari informasi tentang Taira Kouzou.
Taira Kouzou...Di tahun 1997, dia membunuh kepala penjaga dan seorang anak buahnya, untuk menutupi usahanya dalam mendapatkan posisi yang tinggi dengan cara paksa. Mengajukan banding, tapi hukuman matinya telah diputuskan di tahun 2007. Saat itu Menteri Washio bertanggungjawab dalam penyetujuan keputusannya.
Ainosuke kembali menyelundup masuk ke gedung. Tapi polisi tidak sengaja melihatnya. Akhirnya ia dikejar oleh para polisi.
Di ruang tengah, partner kerja Yumehito, Komukai-san menyamar juga menjadi pianis di acara pernikahan itu. Berkali-kali ia melihat ke arah sasarannya, menteri Washio.

Hitomi-sensei ditelepon oleh debt collector, Watabe-san yang menagih pembayaran hutangnya. Akibatnya Hitomi-sensei menjadi sakit perut. Ia buru-buru menuju toilet terdekat.
“Aku harus ke toilet... Padahal baru saja aku bisa makan enak... Mungkin aku lemah terhadap stress. Suara laki-laki? Apa aku masuk ke toilet laki-laki?” gumam Hitomi-sensei kemudian.

Ainosuke akhirnya tertangkap polisi. Ia mulai diinterogasi saat sebuah teriakan terdengar dari sebuah ruangan.
“Berkat dirimu, penjagaan teralihkan,” bisik Yumehito sesaat di telinga Ainosuke.
Polisi yang lain berlarian menuju sumber suara, begitupula Ainosuke. Hitomi-sensei yang baru keluar dari toilet melihat Ainosuke dengan keheranan. Tapi akhirnya ia mengikuti kemana Ainosuke berlari.
“Yuuichi!!” si pengantin wanita tampak histeris saat melihat sang pengantin pria terkapar dengan dada penuh darah.
“Kau, kau panggil ambulans di pintu depan!!” ujar detektif Kato pada Yumehito yang datang kemudian.
Hitomi-sensei yang menyusul kemudian dan melihat keadaan korban, segera bertindak, “Sesuatu untuk menekan lukanya!”

Yumehito berlari sesuai perintah detektif Kato. Ainosuke yang melihat kakaknya itu segera menyusul juga.
“TUNGGU!! Jika kau sangat ingin membunuh seseorang, maka bunuhlah aku,” ujar Ainosuke.
“Apa maksudmu?” Yumehito berhenti.
“Kau suka melakukan hal-hal jahat kan? Kau suka menyakiti orang kan? Maka jadikanlah aku targetmu. Jangan lukai orang yang tidak bersalah,” pinta Ainosuke.
“Kau ingin menghentikanku kan? Maka bunuhlah aku. Jika kau terus menahanku, akan semakin lama untuk memanggil ambulansnya. Jantung pengantin malang itu akan berhenti berdetak jika terlalu lama. Oh ya.. Biar kubuat suatu prediksi untukmu. Dalam tiga bulan, aku akan mengubah total orang sepertimu. Dalam tiga bulan, kau akan menjadi seseorang yang bisa membunuh tanpa ragu-ragu,” tantang Yumehito.
“Apa? Jangan bercanda. Aku tak akan menjadi sepertimu,” Ainosuke akhirnya membiarkan Yumehito melanjutkan tugasnya memanggil ambulan.

Detektif Fukuchi tiba di gedung itu saat paramedis membawa tubuh pengantin pria, Yuichi keluar diikuti si pengantin wanita, Minami.
“Satu tusukan dengan pisau,” detektif Kato memberikan laporan.
“Pertama, kumpulkan semua tamu dan staff di ruang tengah!” perintah detektif Fukuchi.
“Baik, tapi tolong dengarkan ini dulu,” detektif Kato menununjukkan sebuah rekaman yang ditemukan di dekat tubuh korban.
Akan kukatakan yang sebenarnya, Taira-san tidak bersalah. Aku akan menyerahkan diri. Aku akan menyerahkan diri. Tolong jangan bunuh aku.
“Taira? Apakah itu orang yang akan dihukum mati?” gumam detektif Fukuchi.

Ainosuke sudah kembali ke ruang tengah. Ia bertemu dengan Hitomi-sensei dan juga detektif Fukuchi.
“Jadi kau lagi?” sapa detektif Fukuchi pada Ainosuke.
“Hanya kebetulan.”
“Terlalu sering untuk suatu kebetulan.”
“Kami sudah mengecek semua benda yang mungkin dijadikan senjata, tak ada yang terlihat aneh. Tak ada keanehan di ruang tengah juga. Di bawah pengawasan yang begitu ketat, bagaimana caranya seseorang bisa membawa masuk senjata?” lapor detektif Kato kemudian.
“Detektif Fukuchi. Bicara tentang hal itu, ada sesuatu yang kupikirkan,” ujar Sakisaka, “Tentang bagaimana senjatanya dibawa masuk. Ada satu orang yang bisa dengan bebas membawa masuk pisau.”

“Tunggu. Anda satu-satunya orang di ruangan ini yang tidak melewati pemeriksaan. Bisa kami meminta Anda untuk diperiksa sebelum Anda meninggalkan ruangan?” detektif Fukuchi menahan kepergian menteri Washio.
“Apa kau menuduhku?”
“Tidak. Hanya pemeriksaan untuk penyelidikan.”
Detektif Kato lalu membuka tas yang dibawa oleh menteri Washio. Dan menemukan . . . sebuah pisau yang berlumuran darah.
“Washio-san, bisa kami menanyai Anda?” ujar detektif Fukuchi kemudian.
“Aku tak tahu, aku tak tahu apa-apa,” elak menteri Washio.
“Mungkinkah Anda keluar saat pengantin berganti pakaian? Para pengawal tak bisa memastikan alibi Anda karena sedang menyelidiki seorang pelajar,” sambung Sakisaka a.k Yumehito.

“Um, maaf.. Itu, 100% tidak mungkin Washio-san adalah pelakunya,” tiba-tiba saja Hitomi-sensei bicara.
“Apa maksudmu? Apa alasanmu mengatakan 100% tidak mungkin?” detektif Fukuchi kaget.
“Agak susah mengatakannya tapi...” ternyata Hitomi-sensei tadi salah masuk toilet laki-laki. Dan saat hendak keluar, ia melihat menteri Washio berada disana. Dengan ini, menjadi alibi dari menteri Washio.
“Bagaimana dengan pisau yang berlumuran darah ini?” tanya detektif Fukuchi kemudian.
“Aku sama sekali tak ingat sudah membawa benda seperti itu,” ujar menteri Washio.
“Mungkinkah... Bagaimana jika itu adalah darah babi?” kali ini Ainosuke yang angkat bicara.
“Apa?” detektif Fukuchi semakin heran.
“Hanya intuisi saja dan aku tak punya alasan untuk mengatakan itu,” ujar Ainosuke. “Apa ini, dia terlihat tenang. Apa yang ingin kakak lakukan? Aku tak mengerti keinginannya,” Ainosuke membatin.
Sementara itu detektif Fukuchi lalu memerintahkan pemeriksaan forensic terhadap pisau yang ditemukan di tas milik menteri Washio itu.

“Sensei, kurasa itu datang...” bisik Ainosuke pada Hitomi-sensei.
“Disini?” Hitomi-sensei heran.
“Cepat, bu guru,” pinta Ainosuke lagi.
“Tapi, banyak orang... Sudahlah!” Hitomi-sensei lalu memukul Ainosuke. Usahanya untuk mengalihkan orang-orang di ruangan tidak berhasil sehingga semua orang malah melihatnya memukul Ainosuke.
“Apa yang kau lakukan?!” detektif Fukuchi heran dengan sikap Hitomi-sensei ini.
Kilasan-kilasan muncul di mata kiri Ainosuke. Foto Taira Kouzou, rencana balas dendam dan tangan orang yang tengah mengasah benda tajam.

“Ayah pengantin dalam bahaya!” ujar Ainosuke kemudian.
“Um maaf, tapi jika Anda mencari Masuda-sama.. Seorang tamu dengan nama Taira...” ujar si pelayan.
“Taira?!” ujar detektif Fukuchi dan Ainosuke bersamaan.
“Bagaimana kau tahu nama Taira?” tanya detektif Fukuchi heran.
“Kemana ia dipanggil?” Ainosuke tidak memperhatikan pertanyaan detektif Fukuchi.
“Kurasa ke ruang tunggu,” ujar si pelayan.
Ainosuke dan detektif Fukuchi bersama beberapa polisi yang lain menuju ruang tunggu. Disana ternyata tidak ada siapapun. Hanya selembar kertas.
Aku menunggu di ruang mesin

Detektif Fukuchi dan Ainosuke menuju ruang mesin. Ternyata ruangan itu terkunci dari dalam. Setelah berhasil mendobraknya, mereka menemukan ayah si pengantin pria, Masuda-san diikat tangannya dan disiksa. Mereka juga menemukan sebuah video rekaman beberapa saat sebelumnya.
“Tidak, jangan lihat itu!” pinta Masuda-san, tapi diacuhkan oleh detektif Fukuchi.
Itu benar, aku melempar kesalahan pada orang lain yang tak bersalah. Aku membuatnya memberikan pernyataan palsu. Aku membantu Washio-sensei, jadi ia mendengarkan permintaanku. Maafkan aku. Aku hanya ingin melindungi anakku. Aku menyesal tentang ayahmu. Tidak, tolong hentikan.
Matilah.
Tidak, tolonglah.
Ayahku menderita selama 10 tahun dan akan mati besok.
“Mungkinkah? Ayah itu maksudnya Taira, kan?” ujar Ainosuke kemudian.
“Sepertinya. Dan keberadaan anaknya tidak diketahui dalam beberapa hari ini. Apa tujuannya? Balas dendam? Tapi siapa lagi yang bisa membawa senjata selain Washio-san?” ujar detektif Fukuchi.
“Mungkinkah?” Ainosuke buru-buru berlari keluar.
“Ainosuke. Apa kau tahu siapa pelakunya?” tanya Hitomi-sensei yang mengikuti Ainosuke keluar.

Di parkir bawah, polisi masih menahan truk pembawa daging yang akan keluar. Dari arah lain, Ainosuke keluar dan meminta polisi menahan pengemudi truk itu. Tahu kalau ia nyaris ketahuan, si pengemudi truk tancap gas keluar gedung. Sakisaka a.k Yumehito mengejar truk itu. Ia meminjam motor dari seseorang dan berhasil memaksa truk itu berhenti di sebuah lapangan berpasir. Pada saat yang sama Ainosuke bersama detektif Fukuchi menyusul menggunakan mobil polisi.
“Mungkinkah Taira tak bersalah?” tanya Ainosuke.
“Dia sedang diancam, tak ada bukti dalam rekaman itu.”
“Tapi...”
“Dan hukuman mati Taira sudah ditetapkan besok,” ujar detektif Fukuchi.
Sampai di lapangan berpasir,
“Apa yang kalian inginkan? Aku hanya pengantar. “
“Ayahmu adalah Taira Kouzo-san kan? Dia punya seorang anak laki-laki bernama Kengo. Permintaan terakhirnya sebelum mati adalah untuk memakan masakan anaknya yang seorang koki,” ujar detektif Fukuchi. “Tapi semenjak dua hari yang lalu, kami tak bisa menghubunginya. Apakah ini balas dendam? Balas dendam terhadap ayah dan anak Masuda.”
“Kau bercanda kan. Apa kau punya bukti?” pengemudi truk daging bernama Kengo itu masih berkeras melepaskan diri dari Sakisaka. “Aku melewati pemeriksaan saat aku mengantar dagingnya.”
Detektif Kato dan beberapa polisi lain memeriksa ke dalam truk, tapi tidak menemukan senjata apapun yang bisa digunakan untuk membunuh.
“Tidak. Senjatanya ada di dalam truk. Jika intuisiku benar, maka senjatanya ada disini,” Ainosuke masuk ke dalam truk. Ia meraba daging yang tersisa dan kemudian mengeluarkan sebuah tulang yang tajam ujungnya. “Tolong periksa ini. Seharusnya ada reaksi terhadap darah manusia,” pinta Ainosuke kemudian.

Kengo lemas, akhirnya ia menceritakan yang sebenarnya, “Aku hanya tak bisa memaafkan mereka yang menuduh ayahku dan menghancurkan kebahagiaan ayahku. Aku ingin membalaskan dendamnya. Kemudian wanita itu muncul.”
Aku sudah mengatur agar kau bisa masuk ke dalam tanpa kesulitan. Masuda menginginkan daging mahal untuk dimasak bagi Washio-san. Tapi karena ada kasus penculikan yang terjadi, dagingnya tak bisa digunakan lagi. Dagingnya sangat mahal dan berapa lamapun kau cari, tak akan bisa kau temukan. Jadi jika kau menjualnya, mereka akan datang.
Tapi jika Washio-san datang, bukankah akan ada pemeriksaan?
Kau hanya perlu menggunakan tulangnya.
Jika kau tajamkan sedikit, sebuah pisau yang indah akan terbentuk.
“Jadi begitu? Kasus penculikan itu dimaksudkan untuk ini?” gumam Ainosuke dalam hati. Ainosuke memandang kakaknya yang dengan tenang malah membantu polisi mengangkap si pelaku. “Aneh, dia tenang-tenang saja. Dia yang merencanakannya tapi dia juga yang menangkap pelakunya. Apa tujuannya yang sebenarnya?”
“Tolong tunggu. Sebelum aku ditangkap, aku punya permintaan. Tolong biarkan aku memasak santapan terakhir untuk ayahku. Kumohon. Permintaan terakhir ayahku, kumohon,” pinta Kengo sebelum digelandang ke kantor polisi.

Ainosuke menemui Taira Kouzou-san di sel. Ia membawakan makanan masakan Kengo utnuk ayahnya itu.
“Siapa kau?” tanya Taira-san.
“Aku perwakilan anakmu. Anakmu yang memasaknya. Itu daging yang sangat mahal, kualitas tinggi. Itu adalah ... waktu ayah-dan-anak yang terakhir baginya.”
“Begitu. Pasti berat baginya menjadi anak dari seseorang yang divonis mati. Walau begitu kau menyebutnya 'waktu ayah-dan-anak'? Hidupku sangat menyedihkan, tak satupun yang indah. Aku bahkan dituduh membunuh. Tapi walau begitu, bagiku ada satu kebahagiaan. Keluargaku, mendiang istriku dan anak laki-lakiku. Anak yang baik yang bisa membuat masakan seperti ini. Katakan padanya untuk memikirkan kebahagiaannya, bukan kebenciannya terhadap orang, dan teruslah hidup. Itu permintaan terakhirku sebagai seorang ayah. Lezat. Sangat lezat, Kengo,” pesan Taira-san.

Ainosuke keluar dari penjara. Di depan, ia bertemu dengan Sakisaka a.k Yumehito.
“Bagaimana? Bagaimana rasanya berbicara kepada orang tak bersalah yang akan dihukum mati besok? Ayah dan anak Masuda adalah pembunuh sebenarnya. Orang jahat yang pantas untuk disalahkan dan dibalas. Dan kau pahlawan pengecut yang menolong orang jahat, dan menangkap seorang anak yang hanya ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya,” ujar Yumehito.
“Apa tujuanmu? Jangan main-main!”
“Oh sudah waktunya.”
Di tempat lain, partner Yumehito, Kimukai-san menyamar menjadi seorang perawat. Ia masuk ke kamar perawatan Masuda-san dan putranya, “Selamat malam. Aku disini untuk pelayanan terakhir kalian. Aku tak membenci kalian tapi aku sudah janji akan terus menjalankan rencana sampai akhir. Maaf ya,” Komukai-san menyutikkan racun pada ayah dan anak itu.
“Mereka berdua mati,” ujar Yumehito pada Ainosuke
“Apa?”
“Bukankah menarik, bagaimana mereka yang disalahkan dan yang menyalahkan akan mati dua-duanya?”
“Apa sebenarnya tujuanmu?” desak Ainosuke.
“Tak menarik jika kau tak memecahkannya sendiri. Pecahkan misterinya, atau bunuh aku. Tak ada waktu untuk memikirkan jawabanmu, batas waktunya semakin dekat,” tantang Yumehito lagi.
0 komentar:
Posting Komentar