Seorang pelajar tingkat 3 SMP yang berbakat menggambar, Tanaka Ainosuke (Yamada Ryosuke), kehilangan orang tuanya sejak ia masih kecil dan tinggal bersama kakaknya, Tanaka Yumehito (Yokoyama Yu). Tak lama setelah Yumehito mendonorkan kornea kirinya pada Ainosuke, yang mata kirinya kurang bisa melihat jelas, Yumehito tewas dalam sebuah ledakan. Ainosuke yang tak bisa menerima kematian kakaknya begitu saja, memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah operasi mata tersebut, mata kiri Ainosuke mulai mendapatkan penglihatan-penglihatan misterius,setiap kali kepalanya terpukul. Ainosuke percaya bahwa penglihatan tersebut merupakan penglihatan kakaknya yang tertinggal di korneanya. Bersama dengan suster sekolahnya, Sayama Hitomi (Ishihara Satomi)—(yang ngikutin Rich Man Poor Woman pasti tahu, kalau bu guru yg unyu ini jadi parternya Oguri Shun di dorama itu)—, ia mulai mendekati kebenaran. Perampokan bank, dan setelahnya terlibat dalam suatu peristiwa terorisme. Ainosuke akhirnya menyadari, orang yang berada di balik semua kejahatan tersebut adalah kakaknya, Yumehito. Dan tujuannya adalah untuk mendapatkan kembali laptop, yang berisikan semua rencana jahatnya, dari polisi. Sesungguhnya, kakaknya masih hidup. Dan Yumehito menunjukkan wajah aslinya sebagai seorang perencana kejahatan yang jenius kepada Ainosuke. Ia berhasil menyelamatkan laptop tersebut, tetapi...
“Mata kiri itu... Mata kiri-ku yang kuberikan padamu,” ujar Yumehito.
“Kakak, sudah hentikanlah!” pinta Ainosuke.
“Maaf, tapi...aku akan tetap menjalankan rencana yang ada di dalam laptop ini.”
“Kakak!”
“Apa kau bisa membunuhku?” Yumehito menodongkan pistol ke kepala Ainosuke, “Aku bisa membunuhmu.” Lalu Dorrr !!!
Ainosuke terbangun di kelasnya. Ternyata ia bermimpi kejadian terakhir kali ia bertemu dengan kakaknya saat kejadian terosisme beberapa waktu sebelumnya.
Ainosuke pulang dari sekolahnya. Ia berjalan sendirian, sambil memperhatikan orang-orang yang berpapasan dengannya. Mereka semua tampak gembira bersama keluarga masing-masing, “Siapapun yang mendengar suaraku. Apa kalian mempunyai keluarga? Sebuah keluarga yang saling mendoakan kebahagiaan masing-masing dengan tulus. Keluarga yang seperti itu. Tak masalah meskipun tidak tinggal bersama. Jika kalian saling menganggap keluarga, maka kalian adalah keluarga. Dan bahkan untuk seseorang sepertiku, walaupun hanya satu orang saja, aku selalu percaya bahwa aku memiliki keluarga terbaik. Seorang kakak yang 12 tahun lebih tua dariku. Tapi kakakku tak ada lagi disini. Kakak yang telah memberikan mata kiri ini...tak lagi ada disini,” akhir monolog kesepian Ainosuke.
Hari mendadak hujan. Ainosuke bergegas untuk bisa segera pulang. Tapi di sebuah jembatan, ia berhenti. Ainosuke mendengar suara dari bawah jembatan, seorang gadis kecil dengan payung merah.
“Kau tak apa-apa?” tanya Ainosuke melihat gadis kecil itu meletakkan sebuah kotak dengan anjing di dalamnya.
“Aku kasihan padanya karena harus meninggalkannya sendirian di tengah hujan begini. Tapi Mai tak bisa membawanya ke rumah. Kami tak punya uang untuk itu. Dia dibuang oleh keluarganya, sekarang dia sendirian,” ujar gadis kecil bernama Mai itu menyesal.
Ainosuke mengambil anak anjing itu, “Kau mau pulang bersamaku?”
Tentu saja Mai sangat senang, “Terima kasih, kakak! Rumah Mai di sebelah sana, datanglah bermain kapan-kapan,” ujar Mai lega lalu beranjak pergi.
Ainosuke pulang ke tempat tinggalnya membawa anak anjing itu. Setelah mengeringkan badannya sendiri, Ainosuke juga mengeringkan anak anjing itu. (ada yang berpikiran kalau anak anjing itu mirip srigala? Hehehehe . . . Kelana jg berpikir begitu, ya maklum Kelana ga ngerti soal ras anjing). “Sebaiknya kau kuberi nama apa ya?” gumam Ainosuke. “Rin, Rin, karena kau mempesona,” Ainosuke mengelus anak anjing itu. Ia lalu termenung teringat kakaknya dan mata kirinya, “Sudah 3 bulan berlalu semenjak saat itu. Mataku belum melihat apapun. Bahkan jika aku dipukul, penglihatan itu tak muncul juga. Tak mungkin Kakak tak melakukan apa-apa. Aku akan menghentikannya bagaimanapun caranya. Kupertaruhkan hidupku untuk menghentikan kejahatannya. Mereka yang memiliki banyak harus diberikan lebih banyak lagi. Mereka yang mempunyai sedikit harus diambil sebanyak yang mereka miliki.”
Yumehito berada di sebuah ruangan bersama dengan partnernya, Komukai Noriko (Katahira Nagisa). Tampak Yumehito sedang membaca sebuah buku, tapi kemudian menutup dan meletakkannya, “Buku ini terkadang menuliskan kebenaran,” gumamnya kemudian.
“Hei...Untuk menjalankan rencana jahatmu, aku berusaha mendapatkan posisi untukmu sebagai bawahan Detektif Fukuchi. Kudengar ia cukup hebat. Sudah 3 bulan semenjak hari itu. Bukankah sudah waktunya untuk mulai lagi?” ujar Komukai-san sambil mengangsurkan segelas anggur pada Yumehito.
Tampak detektif Fukuchi (Sano Shiro) mendatangi sebuah penjara. Penjagaan di penjara itu ketat dan berlapis. Sepertinya ia yang berada di balik sel ini, bukan orang sembarangan.
“Saya Fukuchi dari kepolisian. Kokusho Akira (Crystal Kay), dulu adalah seorang perencana tindak kriminal yang hebat. Tapi hanya...sampai seorang raja baru muncul. Laptop ini, milik seseorang yang katanya telah melampauimu dalam hal perencanaan kejahatan. Aku ingin kau membongkar kodenya, agar kami bisa mengetahui rencana jahat yang tersimpan di dalamnya,” ujar detektif Fukuchi to the point.
Orang di balik sel itu perlahan menegakkan kepalanya. Sebagin rambut keritingnya menyembunyikan wajahnya. Tapi jelas dia ini … seorang perempuan.
Kasus pertama …
Seorang bayi di atas kereta bayinya tampak dibawa masuk ke sebuah van warna gelap. Di belakangnya, ibu si bayi berusaha mengejar van yang membawa lari putrinya. Tapi dengan cepat van itu menghilang.
Pagi itu seperti biasa Ainosuke melakukan tugasnya mengantarkan Koran. Kali ini yang berbeda karena Ainosuke ditemani Rin, anak anjingnya. Ainosuke bergegas pulang ke tempat tinggalnya untuk segera berangkat sekolah ketika tidak sengaja ia bertemu seekor anjing gelap dengan tas aneh di punggungnya. Menghindari bertabrakan dengan anjing itu, Ainosuke malah terjatuh. Ia menabrak pagar sebelum mata kirinya menujukkan sesuatu. Tampak papan tulis penuh dengan angka, gambar abstrak warna merah, dan beberapa burung merpati. Ainosuke heran dengan penglihatannya kali ini, setelah tiga bulan.
Di sekolah, seperti biasa Hitomi sensei mendapat telepon dari para penagih hutang. Dasar sensei satu ini, belum kapok juga menjadi target para penagih hutang. Ia mulai berimajinasi kalau Ainosuke kembali mendapatkan penglihatan di mata kirinya, mereka bisa membantu polisi dan bisa mendapatkan uang penghargaan.
Ainosuke termenung dalam perjalanannya ke sekolah, “Pertama kalinya mata kiriku mendapat penglihatan dalam 3 bulan ini. Apakah itu berarti... Kakak sudah mulai bergerak lagi? Apa maksud dari semua itu? Aku ingin informasi lebih. Setidaknya, sekali lagi perlihatkanlah sesuatu pada mata kiri ini... Tak terlihat apapun.”
Hitomi sensei bersemangat melihat Ainosuke yang tengah berlajan di halaman sekolah. Dia berniat mencegat Ainosuke, “Selamat pagi!”
“Apa yang anda lakukan?”
“Apa...? Ainosuke! Memberi salam di pagi hari itu sangat menyegarkan dan bagus kan?” Hitomi sensei mencari-cari alasan.
“Tak ada gunanya kau memukulku jika tak terlihat apapun. Kita sudah mencobanya berkali-kali,” elak Ainosuke.
“Tapi tapi tapi tapi! Terakhir kali saat kita membantu polisi, mereka sangat berterimakasih dan memberi kita uang! Tidakkah kau ingin sekali lagi menghajar para penjahat yang telah memperlakukan kakakmu dengan buruk? Kau tak ingin menyerah kan? Jadi, demi hal itu, Pertama kita harus membuat mata kiri itu... “ Hitomi sensei mulai melayangkan tinjunya ke arah Ainosuke.
Tapi berkali ia mencoba, berkali itu juga Ainosuke berhasil menghindarinya, “Aku tak melihat apapun yang kau inginkan. Sampai jumpa,” Ainosuke melangkah menuju kelasnya. Ia membatin, “Aku tak bisa melihat masa depanku. Sayama Hitomi sensei adalah orang yang telah membantuku dalam kasus 3 bulan yang lalu. Tapi...ia tak mengetahui identitas kakakku yang sesungguhnya. Sampai sekarang... Ia masih berpikir bahwa kakakku dibunuh oleh para penjahat itu. Seperti halnya para polisi.”
Detective Fukuchi sedang mengadakan meeting dengan tim kepolisian. Mereka membahas kasus penculikan seorang bayi bernama Hirai Ikumi bersama kereta bayinya. Pelaku menggunakan van berwarna hitam yang belum teridentifikasi no-polnya. Mereka meminta uang tebusan pada orangtua si bayi sejumlah 100.000 yen (Kelana ga tau ini seberapa banyak dalam rupiah, kekeke), dan memberikannya pada yang merangkak di tanah dan menjaga neraka. Video menunjukkan ayah si bayi memberikan uang tebusan itu pada anjing yang membawa tas aneh di punggungnya. Anjing itu lari, dan polisi juga belum bisa mengidentifikasi keberadaan si anjing sekarang.
“Rencana yang cukup aneh,” komentar detective Fukuchi.
“Selanjutnya, informasi tentang tujuan pelaku.Tim sedang melacak keberadaan anjing tersebut, dan akan menggunakan informasi yang didapat untuk menyelidiki tujuan pelaku,” lapor detektif Kato Takashi (Okada Yoshinori). (ada yang inget wajah satu ini? Yup bener banget, dia pernah berperan sebagai Takeru di Atashinchi no Danshi yang sinopsisnya baru Kelana kelarin juga. Hmmm . . . disini doski jadi polisi, beda jauh dg karakter Takeru)
Ainosuke termenung sendirian di kamarnya. Ia memandangi sketsa buatannya dari hasil penglihatan mata kirinya sebelumnya, “Seekor anjing membawa tas aneh... Dan gadis kecil bernama Mai... Aku tak mengerti. Terlalu sedikit petunjuk,” gumam Ainosuke kecewa sendiri.
Ainosuke bangun lalu mengambil sesuatu dari kotak penyimpanannya. Sebuah foto keluarga, ketika ayah dan ibunya masih ada, dan tentu saja dengan kakaknya, Yumehito. Keasyikan Ainosuke terganggu oleh suara telepon, dengan id … ‘Yumehito’
“Ainosuke... Maafkan aku. Sepertinya aku harus memberitahumu. Sudah dimulai... Rencana jahatku yang hebat,” ujar Yumehito di seberang, to the point.
“Kakak? Hentikan...Aku akan menghentikannya. Bagaimanapun juga, aku akan menghentikannya.”
“Oh ya? Sepertinya kau sangat yakin. Apa kau mengetahui sesuatu? Ah, tak masalah. Kalau begitu, berusahalah,” ujar Yumehito kemudian menutup teleponnya.
Ainosuke masih terus memikirkan Mai. Ia khawatir terjadi apa-apa pada Mai, akhirnya Ainosuke mendatangi tempat tinggal Mai.
“Siapa kau?” ujar seorang wanita tiba-tiba.
“Maaf jika aku mengejutkan... Aku bukan orang yang mencurigakan. Aku pelajar kelas 3 di Kisaragi, yang tinggal dekat sini. Namaku Tanaka Ainosuke. Apakah di sekitar sini ada sesuatu yang berubah akhir-akhir ini? Umm... Sesuatu tentang Mai-chan?
“Mai?” wanita yang ternyata ibu Mai itu heran.
“Bukan, aku...”
“Tak ada yang berubah. Jangan mendekati Mai. Jika kau melakukan hal yang aneh, kupanggil polisi,” ujar ibu Mai masih saja Curiga.
Ainosuke baru saja kembali dari mengantar Koran pagi itu, saat Yoshida Ichiro (Watanabe Ikkei), pemilik gedung tempat tinggal Ainosuke manyapanya dan menunjukkan berita Koran pagi itu.
“Ainosuke! Kau tahu kasus penculikan bayi? Tempatnya sangat dekat dari sini, menakutkan ya? Pelakunya sangat kejam. Daripada mengambil 1 milyar dari orang yang memang mempunyai 1 milyar, ia lebih suka menyiksa korbannya dengan mengambil 100 demi 100, padahal ia tahu si korban bahkan tak memiliki penghidupan yang layak. Sungguh kejam. Apa yang sebenarnya diinginkan pelaku?” ujar Yoshida-san.
Ainosuke termenung melihat berita itu. Ia teringata kakaknya yang mengatakan kalau rancana kejahatannya sedang dimulai. Ainosuke juga teringat dengan anjing yang tidak sengaja ia temui pagi itu, anjing dengan tas aneh di punggungnya.
Di sekolah pun, Ainosuke tidak konsentrasi mengikuti pelajaran. Ia masih saja memikirkan rencana apa yang sedang dibuat oleh kakaknya, Yumehito. Ainosuke memandangi sketsa buatannya, “Kasus penculikan... Sandera ditukar dengan uang 100.0000 yen. Sandera dikembalikan dengan selamat... Kurasa kakak tak akan melakukan kejahatan hanya untuk 100.0000 yen. Ada apa ini? Aku tak mengerti apa yang ingin ia lakukan. Anjing ini, anjing yang digunakan dalam kasus di koran tadi kan? Lalu bagaimana dengan merpatinya? Sial... Aku tak bisa menyimpulkan apapun hanya dengan ini. Ayolah mata kiriku. Berikan petunjuk baru padaku!”
Waktu makan siang, Ainosuke pergi ke atap. Tidak sengaja ia melihat seorang siswa lain, yang tampak lemah, “Hei! Kau baik-baik saja?!”
“Maaf... Aku anemia. Kau Tanaka Ainosuke kan?”
“Ya, itu aku, tapi...”
“Aku Kaito Masaki dari kelas 3. Badanku lemah, dan jarang masuk sekolah, jadi mungkin kau tak mengenalku,” ujar anak bernama Masaki itu.
“Um, makan siangmu?” tanya Ainosuke kemudian.
“Aku tak punya uang untuk makan. Keluargaku miskin. Apakah aku terlalu jujur?”
“Tidak, aku hanya berpikir... Aku tak akan bisa berterus terang seperti itu Yah, sejujurnya aku juga sama,” Ainosuke cukup kaget dengan pengakuan Masaki itu.
“Jika kau hidup dengan kebanggaan, tak perlu malu dengan kemiskinan, Ibuku bilang begitu. Kedengarannya seperti kalimat dalam sebuah drama,” ujar Masaki lagi.
“Ibumu kuat ya?”
“Dia cuma seorang pekerja pembantu. Setiap hari ia selalu sibuk. Seandainya saja badanku sedikit lebih sehat, aku akan bisa membantunya...” tampak Masaki sangat menyesal.
“Kau ingin separuh?” Ainosuke membelah roti bekal makan siangnya dan memberikannya sebagian pada Masaki.
“Terima kasih.”
“Tumben sekali ada merpati,” gumam Ainosuke melihat burung merpati hinggap di atap.
Tiba-tiba Ainosuke merasakan sesuatu di mata kirinya. Ia buru-buru bangun meninggalkan Masaki dan berniat menuju ruang kesehatan. Tapi ternyata Hitomi sensei malah lebih dulu muncul.
“Akhirnya Ainosuke?!” ujar Hitomi sensei bersemangat.
“Apa kau mengikutiku terus?” Ainosuke heran.
“Siapa peduli tentang itu!” Hitomi sensei mendekati Masaki dan memintanya berbalik, “Kau yang disana~Hadap sini sebentar ya~Kau mengerti? Apapun yang terjadi, jangan berbalik! Kau siap Ainosuke?”
“Lakukan sekuat tenagamu.”
“Maafkan aku!” Hitomi sensei dengan senang hati memukul Ainosuke. (haduh, kenapa si Yamada mesti dipukul terus ya?)
Kilasan peristiwa muncul di mata kiri Ainosuke. Gambar anjing, lalu burung merpati, kemudian gambar abstrak warna merah, papan tulis penuh angka dan juga sebuah tulisan M akan mati?, “Kasus penculikan berantai. M akan mati.”
“Ainosuke~ Apa kau bilang pen-cu-li-kan? Ya kan? Ya kan?! Apakah itu berarti uangnya berjumlah milyaran~?? Aku mulai melihat hal-hal seperti berlian! Dan tumpukan uang! Juga emas!” Hitomi sensei mulai kembali bersemangat.
“Penculikan dan Mai-chan… Jangan-jangan... Itu dia! Dan merpatinya! Itu kasus selanjutnya! Pinjami aku handphone-mu,” pinta Ainosuke.
Hitomi sensei lalu memberikan ponselnya pada Ainosuke.
“Tolong sambungkan ke Detektif Ooichi. Apa? Tidak ada? Kalau begitu Detektif Kato. Apa? Dia langsung pergi setelah rapat? Saat ini aku punya informasi yang sangat penting, karena itu cepat- Diputus,” ujar Ainosuke cepat.
“Ada apa?” Hitomi sensei heran.
Ainosuke lalu berlari keluar diikuti Hitomi sensei. Tidak lupa ia sempat pamit pada Masaki. Masaki yang tidak mengerti apapun hanya melihat keduanya dengan tatapan heran. Masaki melihat sebuah bulu burung merpati yang jatuh dekat dengan kakinya. Ia lalu mengambil bulu itu dan memasukkannya dalam sakunya.
Di tempat lain, Mai yang sedang bermain sendirian di taman, tiba-tiba dibawa oleh seseorang dengan van hitam. Si pelaku lalu menghubungi ibu Mai, Sano-san.
“Halo? Disini Sano... Polisi? Tentu saja mereka tak ada disini. Yang lebih penting, apakah Mai baik-baik saja?” Sano-san rupanya sudah lapor polisi. Ia menerima telepon dari si pelaku sambil didengarkan oleh polisi.
“Siapkan 400.0000 yen!” ujar suara di seberang.
“400.0000?! Itu tak mungkin, uang sebanyak itu! Halo?! Halo?!” telepon di putus.
Sementara itu di tempat lain, Yumehito dan partnernya Komukai-san sedang duduk dengan santainya. Mereka menikmati setiap kejahatan yang tengah terjadi ini.
“Bagaimana jika ia berhasil mengumpulkan 400.0000 yen?” tanya Komukai-san.
“Itu tak mungkin. Karena aku sudah menyelidiki kondisi keuangannya. Meskipun ia sanggup mengumpulkan uangnya, akhirnya akan tetap sama,” ujar Yumehito santai.
“Mungkin memang begitu... Tapi keindahannya tentu akan hilang.”
“Keindahan, kan?”
“Bukankah itu penting, keindahan dari suatu kejahatan?” ujar Komukai-san lagi.
Hitomi sensei dan Ainosuke naik mobil, mereka berniat ke kantor polisi untuk menemui detektif Kato. Ainosuke berkali-kali menghubungi detective Kato, tapi selalu gagal. Rupanya detektif Kato sedang rapat dengan para polisi yang lain mengenai penculikan yang terjadi itu.
“Kami belum yakin kalau ini adalah kasus penculikan berantai. Korban adalah anak perempuan kelas 2 berusia 8 tahun, Sano Mai, tinggal di daerah perumahan Shinode. Pelaku meminta tebusan 400.0000 yen,” ujar detective Kato.
“Syarat pertukaran?” tanya detective Fukuchi.
“Sejauh ini belum ada telepon tentang itu, tetapi ini...” detective Kato menunjukkan sebuah kertas dengan tulisan Berikan pada yang bersayap dan membawa ranting.
“Ranting? Sayap?” detective Fukuchi heran.
Sementara itu di rumah, ibu Mai, Sano-san sedang mengumpulkan uang yang ia punya. Tapi ternyata uang itu masih belum cukup. Ia minta tolong pada para polisi untuk meminjaminya. Tapi peraturan melarang polisi melakukan itu. Sano-san tentu saja histeris. Tiba-tiba seorang kurir pengantar barang datang. Ia membawa sekotak besar kiriman untuk Sano-san.
“Merpati?” para polisi heran. Lalu sebuah tulisan juga datang bersama kotak itu, Letakkan uangnya ke dalam tabung, dan lepaskan merpatinya.
Sano-san mengikuti intruksi dari kotak itu. Segera ia meletakkan uang tebusan dalam tabung yang terikat pada kaki merpati-merpati itu, kemudian melepaskannya.
Polisi menyebar untuk mengikuti burung merpati pembawa uang tebusan itu. Berkali sekelompok burung itu berubah arah dengan cepat. Hal ini tentu saja membuat para polisi kebingungan dan kehilangan jejak.
“Ainosuke!!” ujar detective Kato ketika melihat Ainosuke dan Hitomi sensei tiba.
“Kato-san!”
“Jangan menelponku di tengah penyelidikan.”
“Merpati kan? Kunci dari kasus penculikan selanjutnya,” ujar Ainosuke percaya diri.
“Bagaimana kau bisa tahu? Informasi tentang kasus kedua itu sangat rahasia, tak mungkin ada yang tahu,” ujar detective Kato berbisik.
“Kumohon katakan padaku, kumohon. Apa yang terjadi sekarang?” pinta Ainosuke lagi.
“Itukah alasan kau menelponku?”
“Ya, kupikir aku harus memberi tahumu tentang merpatinya.”
“Kau bisa melihatnya? Atau kau bisa merasakannya? Bukankah kau juga punya kekuatan misterius dalam kasus 3 bulan yang lalu? Mungkinkah shock atas kehilangan kakakmu yang membuatmu memiliki kekuatan khusus?” detective Kato heran.
“Mungkin, apakah yang diculik adalah gadis bernama Sano Mai-chan? Aku benar kan?” tanya Ainosuke lagi.
“Kau kenal dia? Dia dari perumahan Shinode.”
Tiba-tiba merpati-merpati itu merubah arah. Dan dari arah lain muncul sekelompok merpati lain, mengacaukan suasana. Polisi kehilangan jejak akibat kemunculan ratusan merpat lain yang bergabung.
Hitomi sensei pulang bersama Ainosuke. Di depan apartemen Hitomi sensei, mereka berhenti. Hitomi-sensei memperhatikan orang yang ada di depan pintunya, seorang debt collector.
“Sayama Hitomi-san?” pria berambut pirang itu mengetuk pintu apartemen Hitomi-sensei. “Saya Watabe dari Wai Wai Kingyou, saya sudah menelpon Anda tadi pagi. Kami belum menerima pembayaran kartu kredit Anda. Apakah Anda ada di dalam?” (yang jadi debt collector ini, yang jadi babehnya Daichi di Yanmega lho. Sinopsisnya juga lagi Kelana kerjain, kekekeke)
“Apa yang dikatakan pria itu semuanya bohong, oke? Dia itu penguntit, seram ya? Aku ini cukup cantik, jadi... Menakutkan ya?” ujar Hitomi sensei memberi penjelasan pada Ainosuke yang duduk di sebelahnya. (haduh sensei, si Ainosuke ini ga dudul2 amat kali, dia udah ngerti dari lama)
“Hei, Sayama-san, jika Anda sampai masuk ke dalam daftar hitam kami, maka hidup Anda tidak akan nyaman lagi. Anda dengar kan?” ancam si debt collector lagi.
“Oh ya, ayo kita ke klinik sekolah. Kita akan pikirkan sebuah rencana. Ayo!” ucap Hitomi-sensei akhirnya.
Di kediaman Sano-san, keadaan belum juga membaik. Si pelaku penculikan kembali menelepon. Tapi karena uang yang diberikan tidak sesuai dengan permintaan, si pelaku enggan mengatakan dimana Mai yang diculik.
Hitomi sensei dan Ainosuke akhirnya tinggal di ruang kesehatan sekolah. Sementara Hitomi-sensei searching dengan laptopnya, Ainosuke memandangi sketsa penglihatan-penglihatannya sebelumnya. Berkali ia melihat sketsa itu, tapi belum juga ada titik terang keadaan Mai.
Detective Kato kembali menelepon, “Ada telepon dari pelaku. Kami masih belum mengetahui keberadaan Mai-chan.”
Ainosuke menutup telepon dari detective Kato. Ia depresi karena tidak bisa membantu, “Kupikir aku tahu. Tentang Mai-chan yang terlihat di mata kiriku. Tentang kasus penculikan yang terjadi. Jika kuhubungkan keduanya dan menyelidikinya, aku pasti bisa mengetahuinya. Bekerjalah mata kiri-ku, bekerjalah!” Ainosuke mulai memukul-mukulkan kepalanya ke dinding.
Buru-buru Hitomi-sensei menghentikan ulah anak didiknya ini, “Hentikan! Ainosuke!! Hentikan.”
“Jika kakak melihat ini, bukankah itu berarti ia terlibat dalam hal ini? Tapi ia... Gadis kecil itu...” gumam Ainosuke semakin frustasi.
“Ainosuke! Kakakmu mungkin diancam. Itulah mengapa ia membantu para penjahat itu. Dan itu sebabnya mengapa ia dibunuh. Tak seharusnya kau bicara buruk tentang kakakmu. Pasti berat sekali bagi kakakmu. Karena itulah Ainosuke, kau tak boleh bicara buruk tentang kakakmu. Dia adalah, satu-satunya keluargamu,” hibur Hitomi-sensei kemudian.
“Terima kasih,” Ainosuke melanjutkan dalam hatinya, “Sama sekali bukan seperti itu. Sebenarnya kakak masih hidup dan sedang merencanakan kejahatan lainnya, dan membuat orang melaksanakan kejahatan itu untuknya.”
Sementara di tempat lain, tampak Yumehito dan Komukai-san tengah duduk menikmati kejahatan mereka.
“Adikmu cukup dekat dengan polisi. Jika dia sampai menjadi penghalang rencana kita...” ujar Komukai-san mengingatkan.
“Aku punya cara yang lebih bagus daripada membunuhnya. Rencana kejahatan yang indah telah dimulai,” ujar Yumehito santai. (entah kenapa, si kakak ini bener-bener jahat sama adik satu2nya yang dia punya. Jangan tanya sm Kelana ya, soalnya Kelana sendiri juga ga ngerti kenapa)
Ainosuke pulang ke tempat kos-nya. Ia meraih Rin, anjingnya dan memeluknya, “Kasus pertama, uang tebusan 100.0000 yen, dan seekor anjing digunakan untuk mengambil uang tebusan itu. Pada kasus ke-2, Mai-chan diculik. Pelaku meminta uang tebusan sebesar 400.0000 yen. Kali ini menggunakan merpati untuk mengambil uang tebusan. Dan dengan alasan uang tebusannya tidak cukup, mereka... Mai-chan... Keberadaan Mai-chan masih belum diketahui. Maafkan aku Rin, sudah membuatmu takut.”
Sementara itu, di sebuah tempat tertutup Rin yang diculik tampak ketakutan. Berkali-kali ia meminta tolong, tapi tidak ada yang mendengarnya. Suaranya semakin lemah.
Di penjara khusus, detective Fukuchi kembali menemui si perencana kejahatan, Kokusho-san ini. Detective Fukuchi terpaksa meminta bantuan si penjahat jenius ini untuk memecahkan kode di laptop ayam dan babi itu.
“Apa kau bisa membaca isi laptop itu?”
“Belum. Kodenya cukup rumit. Tapi cara pemecahan kode ini mempunyai arti sendiri. Pelakunya sengaja memilih rute yang panjang. Dia dengan sengaja membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit. Bukan tipe yang berterus terang,” ujar Kokusho-san santai.
“Dengan kata lain?”
“Dengan kata lain, dia bosan. Aku tak tahu apa yang dia lakukan, tetapi... Jika ada 2 pilihan, ia akan memilih yang paling beresiko. Yang paling menonjol dan memutar, dan juga kejam,” Kokusho-san menutup kesimpulannya.
Ainosuke yang khawatir dengan keadaan Mai, kembali mendatangi rumah Mai. Disana ia bertemu Sano-san, ibu Mai. Sano-san berpikir kalau Ainosuke-lah yang telah menculik putrinya. Tapi detective Kato yang kemudian menjelaskan kalau Ainosuke selama ini membantu mereka dan ada di pihak mereka.
Telepon dari si pelaku, “Kami sudah melepaskan anak Anda. Tapi sebagai hukuman atas kurangnya uang tebusan, kami tak akan memberi tahu dimana ia berada. Dia ada di tempat dimana ia tak bisa keluar sendiri. Jika Anda tidak cepat, ia akan mati.
“Kumohon, berikan... “ pinta Sano-san nyaris putus asa.
“Batas waktunya 2 jam. Semoga beruntung.”
“Tunggu, tolong tunggu sebentar. Tunggu!!!”
“Kalau begitu satu petunjuk. Sebelumnya seekor anjing dan merpati digunakan. Kali ini juga berhubungan dengan hewan,” ujar si pelaku menutup teleponnya.
Ainosuke kembali ke ruang kesehatan. Merasa mata kirinya akan melihat sesuatu, Ainosuke meminta sensei-nya itu untuk memukulnya.
“Seharusnya aku bisa melihat hewan yang digunakan sebagai petunjuk kali ini.”
“Kenapa hewan lagi?”
“Siapa peduli tentang itu! Pukul saja aku.”
“Oke~ “ Bruggg . . . tapi kali ini Ainosuke jatuh di kursi yang empuk. Penglihatan di mata kirinya sekilas tampak. Beberapa bentuk warna merah abstrak. Lalu kincir angin, yang tampak seperti pembangkit listrik tenaga angin.
Dengan cepat Ainosuke membuat sketsa dari penglihatan mata kirinya. Sementara itu Hitomi sensei mencari lewat laptopnya, ia menerka-nerka, hewan apa yang kali ini dimaksud oleh si pelaku.
“Bebek? Sapi? Kuda? Kadal? Kuda Nil? Jerapah? Badak? Monyet? Macan tutul? Babi? Kambing? Elang? Mammoth? Cheetah? Bukan, aku sudah menyebutkan cheetah. Bertanduk dua? Okapi! Apakah Okapi?! Apakah Okapi!?” ujar Hitomi sensei berisik.
Sementara senseinya sibuk menerka apa binatang yang dimaksud, Ainosuke menyusun sketsa yang ia buat, seperti puzzle, “Ini dia!” ujarnya kemudian. Ainosuke lalu menelepon detective Kato, “Detective Kato, Tolong percaya padaku, dan cepatlah datang kesini.”
Detective Kato menemui Ainosuke di depan sekolah. Ainosuke menunjukkan sebuah gambar, yang ternyata adalah bentuk dari singa laut warna merah. Tanpa menunggu reaksi detective Kato, Ainosuke lebih dulu memberikan intruksi lewat radia polisi.
“Maaf, tapi ini sangat mendesak. Para penyelidik, mohon cek semua gudang penyimpanan dengan lambang singa laut. Korban berada dalam sebuah gudang penyimpanan dengan lambang singa laut. Kumohon selamatkan dia. Kumohon.”
Detective Kato tadinya ingin menghentikan ulah Ainosuke, tapi ia tertarik pada gambar terakhir tentang kincir angin yang ditunjukkan Ainosuke. Mereka berpikir, tentang sebuah gudang penyimpanan yang dekat dengan kincir angin dan memiliki lambang berupa singa laut warna merah.
Ainosuke bersama detective Kato dan Hitomi-sensei menuju gudang yang dimaksud. Polisi lain rupanya sudah tiba lebih dulu disana. Saat mereka tiba, Mai ternyata telah ditemukan dan sedang dibawa masuk ke ambulan.
Ainosuke menghambur ke arah Mai, “Mai-chan, kau baik-baik saja? Mai-chan? Mai-chan, Mai-chan bangunlah. Mai-chan.Mai-chan.”
“Kakak,” Mai yang perlahan sadar lirih menjawab. “Dimana anjingnya?”
“Ada di rumah. Ia sehat. Kunamai Rin.”
“Syukurlah,” Mai senang.
Ibu Mai menyusul kemudian. Ia merasa begitu bersalah pada Mai.
Detective Fukuchi menjelaskan kalau ditemukannya Mai juga berkat informasi dari Ainosuke. Dan lagi ada seorang polisi wilayah yang dengan sigap merespon informasi tersebut. Polisi itu mendekat. Perlahan wajahnya mulai jelas.
“Apa, tidak, tak mungkin?” ujar Ainosuke dalam hati. Ia melihat wajah yang tidak asing lagi. Wajah kakaknya, Yumehito.
“Saya Sakisaka dari Josai, Aotosaka,” ujar polisi muda itu pada detective Kato sambil memberi hormat.
Detective Kato meninggalkan Ainosuke karena ada panggilan dari pusat. Sekarang tinggal Ainosuke berhadapan sendirian dengan polisi gadungan itu.
“Kenapa? Kenapa kakak...”
“Adikku, sekaranglah permainan sebenarnya dimulai.”
Insiden penculikan berantai masih berlanjut. Kali ini berhasilkan Ainosuke menggagalkan rencana jenius kakaknya? Sampai jumpa di episode 2 ya, 39 ^_^
Setelah operasi mata tersebut, mata kiri Ainosuke mulai mendapatkan penglihatan-penglihatan misterius,setiap kali kepalanya terpukul. Ainosuke percaya bahwa penglihatan tersebut merupakan penglihatan kakaknya yang tertinggal di korneanya. Bersama dengan suster sekolahnya, Sayama Hitomi (Ishihara Satomi)—(yang ngikutin Rich Man Poor Woman pasti tahu, kalau bu guru yg unyu ini jadi parternya Oguri Shun di dorama itu)—, ia mulai mendekati kebenaran. Perampokan bank, dan setelahnya terlibat dalam suatu peristiwa terorisme. Ainosuke akhirnya menyadari, orang yang berada di balik semua kejahatan tersebut adalah kakaknya, Yumehito. Dan tujuannya adalah untuk mendapatkan kembali laptop, yang berisikan semua rencana jahatnya, dari polisi. Sesungguhnya, kakaknya masih hidup. Dan Yumehito menunjukkan wajah aslinya sebagai seorang perencana kejahatan yang jenius kepada Ainosuke. Ia berhasil menyelamatkan laptop tersebut, tetapi...
“Mata kiri itu... Mata kiri-ku yang kuberikan padamu,” ujar Yumehito.
“Kakak, sudah hentikanlah!” pinta Ainosuke.
“Maaf, tapi...aku akan tetap menjalankan rencana yang ada di dalam laptop ini.”
“Kakak!”
“Apa kau bisa membunuhku?” Yumehito menodongkan pistol ke kepala Ainosuke, “Aku bisa membunuhmu.” Lalu Dorrr !!!
Ainosuke terbangun di kelasnya. Ternyata ia bermimpi kejadian terakhir kali ia bertemu dengan kakaknya saat kejadian terosisme beberapa waktu sebelumnya.
Ainosuke pulang dari sekolahnya. Ia berjalan sendirian, sambil memperhatikan orang-orang yang berpapasan dengannya. Mereka semua tampak gembira bersama keluarga masing-masing, “Siapapun yang mendengar suaraku. Apa kalian mempunyai keluarga? Sebuah keluarga yang saling mendoakan kebahagiaan masing-masing dengan tulus. Keluarga yang seperti itu. Tak masalah meskipun tidak tinggal bersama. Jika kalian saling menganggap keluarga, maka kalian adalah keluarga. Dan bahkan untuk seseorang sepertiku, walaupun hanya satu orang saja, aku selalu percaya bahwa aku memiliki keluarga terbaik. Seorang kakak yang 12 tahun lebih tua dariku. Tapi kakakku tak ada lagi disini. Kakak yang telah memberikan mata kiri ini...tak lagi ada disini,” akhir monolog kesepian Ainosuke.
Hari mendadak hujan. Ainosuke bergegas untuk bisa segera pulang. Tapi di sebuah jembatan, ia berhenti. Ainosuke mendengar suara dari bawah jembatan, seorang gadis kecil dengan payung merah.
“Kau tak apa-apa?” tanya Ainosuke melihat gadis kecil itu meletakkan sebuah kotak dengan anjing di dalamnya.
“Aku kasihan padanya karena harus meninggalkannya sendirian di tengah hujan begini. Tapi Mai tak bisa membawanya ke rumah. Kami tak punya uang untuk itu. Dia dibuang oleh keluarganya, sekarang dia sendirian,” ujar gadis kecil bernama Mai itu menyesal.
Ainosuke mengambil anak anjing itu, “Kau mau pulang bersamaku?”
Tentu saja Mai sangat senang, “Terima kasih, kakak! Rumah Mai di sebelah sana, datanglah bermain kapan-kapan,” ujar Mai lega lalu beranjak pergi.
Ainosuke pulang ke tempat tinggalnya membawa anak anjing itu. Setelah mengeringkan badannya sendiri, Ainosuke juga mengeringkan anak anjing itu. (ada yang berpikiran kalau anak anjing itu mirip srigala? Hehehehe . . . Kelana jg berpikir begitu, ya maklum Kelana ga ngerti soal ras anjing). “Sebaiknya kau kuberi nama apa ya?” gumam Ainosuke. “Rin, Rin, karena kau mempesona,” Ainosuke mengelus anak anjing itu. Ia lalu termenung teringat kakaknya dan mata kirinya, “Sudah 3 bulan berlalu semenjak saat itu. Mataku belum melihat apapun. Bahkan jika aku dipukul, penglihatan itu tak muncul juga. Tak mungkin Kakak tak melakukan apa-apa. Aku akan menghentikannya bagaimanapun caranya. Kupertaruhkan hidupku untuk menghentikan kejahatannya. Mereka yang memiliki banyak harus diberikan lebih banyak lagi. Mereka yang mempunyai sedikit harus diambil sebanyak yang mereka miliki.”
Yumehito berada di sebuah ruangan bersama dengan partnernya, Komukai Noriko (Katahira Nagisa). Tampak Yumehito sedang membaca sebuah buku, tapi kemudian menutup dan meletakkannya, “Buku ini terkadang menuliskan kebenaran,” gumamnya kemudian.
“Hei...Untuk menjalankan rencana jahatmu, aku berusaha mendapatkan posisi untukmu sebagai bawahan Detektif Fukuchi. Kudengar ia cukup hebat. Sudah 3 bulan semenjak hari itu. Bukankah sudah waktunya untuk mulai lagi?” ujar Komukai-san sambil mengangsurkan segelas anggur pada Yumehito.
Tampak detektif Fukuchi (Sano Shiro) mendatangi sebuah penjara. Penjagaan di penjara itu ketat dan berlapis. Sepertinya ia yang berada di balik sel ini, bukan orang sembarangan.
“Saya Fukuchi dari kepolisian. Kokusho Akira (Crystal Kay), dulu adalah seorang perencana tindak kriminal yang hebat. Tapi hanya...sampai seorang raja baru muncul. Laptop ini, milik seseorang yang katanya telah melampauimu dalam hal perencanaan kejahatan. Aku ingin kau membongkar kodenya, agar kami bisa mengetahui rencana jahat yang tersimpan di dalamnya,” ujar detektif Fukuchi to the point.
Orang di balik sel itu perlahan menegakkan kepalanya. Sebagin rambut keritingnya menyembunyikan wajahnya. Tapi jelas dia ini … seorang perempuan.
Kasus pertama …
Seorang bayi di atas kereta bayinya tampak dibawa masuk ke sebuah van warna gelap. Di belakangnya, ibu si bayi berusaha mengejar van yang membawa lari putrinya. Tapi dengan cepat van itu menghilang.
Pagi itu seperti biasa Ainosuke melakukan tugasnya mengantarkan Koran. Kali ini yang berbeda karena Ainosuke ditemani Rin, anak anjingnya. Ainosuke bergegas pulang ke tempat tinggalnya untuk segera berangkat sekolah ketika tidak sengaja ia bertemu seekor anjing gelap dengan tas aneh di punggungnya. Menghindari bertabrakan dengan anjing itu, Ainosuke malah terjatuh. Ia menabrak pagar sebelum mata kirinya menujukkan sesuatu. Tampak papan tulis penuh dengan angka, gambar abstrak warna merah, dan beberapa burung merpati. Ainosuke heran dengan penglihatannya kali ini, setelah tiga bulan.
Di sekolah, seperti biasa Hitomi sensei mendapat telepon dari para penagih hutang. Dasar sensei satu ini, belum kapok juga menjadi target para penagih hutang. Ia mulai berimajinasi kalau Ainosuke kembali mendapatkan penglihatan di mata kirinya, mereka bisa membantu polisi dan bisa mendapatkan uang penghargaan.
Ainosuke termenung dalam perjalanannya ke sekolah, “Pertama kalinya mata kiriku mendapat penglihatan dalam 3 bulan ini. Apakah itu berarti... Kakak sudah mulai bergerak lagi? Apa maksud dari semua itu? Aku ingin informasi lebih. Setidaknya, sekali lagi perlihatkanlah sesuatu pada mata kiri ini... Tak terlihat apapun.”
Hitomi sensei bersemangat melihat Ainosuke yang tengah berlajan di halaman sekolah. Dia berniat mencegat Ainosuke, “Selamat pagi!”
“Apa yang anda lakukan?”
“Apa...? Ainosuke! Memberi salam di pagi hari itu sangat menyegarkan dan bagus kan?” Hitomi sensei mencari-cari alasan.
“Tak ada gunanya kau memukulku jika tak terlihat apapun. Kita sudah mencobanya berkali-kali,” elak Ainosuke.
“Tapi tapi tapi tapi! Terakhir kali saat kita membantu polisi, mereka sangat berterimakasih dan memberi kita uang! Tidakkah kau ingin sekali lagi menghajar para penjahat yang telah memperlakukan kakakmu dengan buruk? Kau tak ingin menyerah kan? Jadi, demi hal itu, Pertama kita harus membuat mata kiri itu... “ Hitomi sensei mulai melayangkan tinjunya ke arah Ainosuke.
Tapi berkali ia mencoba, berkali itu juga Ainosuke berhasil menghindarinya, “Aku tak melihat apapun yang kau inginkan. Sampai jumpa,” Ainosuke melangkah menuju kelasnya. Ia membatin, “Aku tak bisa melihat masa depanku. Sayama Hitomi sensei adalah orang yang telah membantuku dalam kasus 3 bulan yang lalu. Tapi...ia tak mengetahui identitas kakakku yang sesungguhnya. Sampai sekarang... Ia masih berpikir bahwa kakakku dibunuh oleh para penjahat itu. Seperti halnya para polisi.”
Detective Fukuchi sedang mengadakan meeting dengan tim kepolisian. Mereka membahas kasus penculikan seorang bayi bernama Hirai Ikumi bersama kereta bayinya. Pelaku menggunakan van berwarna hitam yang belum teridentifikasi no-polnya. Mereka meminta uang tebusan pada orangtua si bayi sejumlah 100.000 yen (Kelana ga tau ini seberapa banyak dalam rupiah, kekeke), dan memberikannya pada yang merangkak di tanah dan menjaga neraka. Video menunjukkan ayah si bayi memberikan uang tebusan itu pada anjing yang membawa tas aneh di punggungnya. Anjing itu lari, dan polisi juga belum bisa mengidentifikasi keberadaan si anjing sekarang.
“Rencana yang cukup aneh,” komentar detective Fukuchi.
“Selanjutnya, informasi tentang tujuan pelaku.Tim sedang melacak keberadaan anjing tersebut, dan akan menggunakan informasi yang didapat untuk menyelidiki tujuan pelaku,” lapor detektif Kato Takashi (Okada Yoshinori). (ada yang inget wajah satu ini? Yup bener banget, dia pernah berperan sebagai Takeru di Atashinchi no Danshi yang sinopsisnya baru Kelana kelarin juga. Hmmm . . . disini doski jadi polisi, beda jauh dg karakter Takeru)
Ainosuke termenung sendirian di kamarnya. Ia memandangi sketsa buatannya dari hasil penglihatan mata kirinya sebelumnya, “Seekor anjing membawa tas aneh... Dan gadis kecil bernama Mai... Aku tak mengerti. Terlalu sedikit petunjuk,” gumam Ainosuke kecewa sendiri.
Ainosuke bangun lalu mengambil sesuatu dari kotak penyimpanannya. Sebuah foto keluarga, ketika ayah dan ibunya masih ada, dan tentu saja dengan kakaknya, Yumehito. Keasyikan Ainosuke terganggu oleh suara telepon, dengan id … ‘Yumehito’
“Ainosuke... Maafkan aku. Sepertinya aku harus memberitahumu. Sudah dimulai... Rencana jahatku yang hebat,” ujar Yumehito di seberang, to the point.
“Kakak? Hentikan...Aku akan menghentikannya. Bagaimanapun juga, aku akan menghentikannya.”
“Oh ya? Sepertinya kau sangat yakin. Apa kau mengetahui sesuatu? Ah, tak masalah. Kalau begitu, berusahalah,” ujar Yumehito kemudian menutup teleponnya.
Ainosuke masih terus memikirkan Mai. Ia khawatir terjadi apa-apa pada Mai, akhirnya Ainosuke mendatangi tempat tinggal Mai.
“Siapa kau?” ujar seorang wanita tiba-tiba.
“Maaf jika aku mengejutkan... Aku bukan orang yang mencurigakan. Aku pelajar kelas 3 di Kisaragi, yang tinggal dekat sini. Namaku Tanaka Ainosuke. Apakah di sekitar sini ada sesuatu yang berubah akhir-akhir ini? Umm... Sesuatu tentang Mai-chan?
“Mai?” wanita yang ternyata ibu Mai itu heran.
“Bukan, aku...”
“Tak ada yang berubah. Jangan mendekati Mai. Jika kau melakukan hal yang aneh, kupanggil polisi,” ujar ibu Mai masih saja Curiga.
Ainosuke baru saja kembali dari mengantar Koran pagi itu, saat Yoshida Ichiro (Watanabe Ikkei), pemilik gedung tempat tinggal Ainosuke manyapanya dan menunjukkan berita Koran pagi itu.
“Ainosuke! Kau tahu kasus penculikan bayi? Tempatnya sangat dekat dari sini, menakutkan ya? Pelakunya sangat kejam. Daripada mengambil 1 milyar dari orang yang memang mempunyai 1 milyar, ia lebih suka menyiksa korbannya dengan mengambil 100 demi 100, padahal ia tahu si korban bahkan tak memiliki penghidupan yang layak. Sungguh kejam. Apa yang sebenarnya diinginkan pelaku?” ujar Yoshida-san.
Ainosuke termenung melihat berita itu. Ia teringata kakaknya yang mengatakan kalau rancana kejahatannya sedang dimulai. Ainosuke juga teringat dengan anjing yang tidak sengaja ia temui pagi itu, anjing dengan tas aneh di punggungnya.
Di sekolah pun, Ainosuke tidak konsentrasi mengikuti pelajaran. Ia masih saja memikirkan rencana apa yang sedang dibuat oleh kakaknya, Yumehito. Ainosuke memandangi sketsa buatannya, “Kasus penculikan... Sandera ditukar dengan uang 100.0000 yen. Sandera dikembalikan dengan selamat... Kurasa kakak tak akan melakukan kejahatan hanya untuk 100.0000 yen. Ada apa ini? Aku tak mengerti apa yang ingin ia lakukan. Anjing ini, anjing yang digunakan dalam kasus di koran tadi kan? Lalu bagaimana dengan merpatinya? Sial... Aku tak bisa menyimpulkan apapun hanya dengan ini. Ayolah mata kiriku. Berikan petunjuk baru padaku!”
Waktu makan siang, Ainosuke pergi ke atap. Tidak sengaja ia melihat seorang siswa lain, yang tampak lemah, “Hei! Kau baik-baik saja?!”
“Maaf... Aku anemia. Kau Tanaka Ainosuke kan?”
“Ya, itu aku, tapi...”
“Aku Kaito Masaki dari kelas 3. Badanku lemah, dan jarang masuk sekolah, jadi mungkin kau tak mengenalku,” ujar anak bernama Masaki itu.
“Um, makan siangmu?” tanya Ainosuke kemudian.
“Aku tak punya uang untuk makan. Keluargaku miskin. Apakah aku terlalu jujur?”
“Tidak, aku hanya berpikir... Aku tak akan bisa berterus terang seperti itu Yah, sejujurnya aku juga sama,” Ainosuke cukup kaget dengan pengakuan Masaki itu.
“Jika kau hidup dengan kebanggaan, tak perlu malu dengan kemiskinan, Ibuku bilang begitu. Kedengarannya seperti kalimat dalam sebuah drama,” ujar Masaki lagi.
“Ibumu kuat ya?”
“Dia cuma seorang pekerja pembantu. Setiap hari ia selalu sibuk. Seandainya saja badanku sedikit lebih sehat, aku akan bisa membantunya...” tampak Masaki sangat menyesal.
“Kau ingin separuh?” Ainosuke membelah roti bekal makan siangnya dan memberikannya sebagian pada Masaki.
“Terima kasih.”
“Tumben sekali ada merpati,” gumam Ainosuke melihat burung merpati hinggap di atap.
Tiba-tiba Ainosuke merasakan sesuatu di mata kirinya. Ia buru-buru bangun meninggalkan Masaki dan berniat menuju ruang kesehatan. Tapi ternyata Hitomi sensei malah lebih dulu muncul.
“Akhirnya Ainosuke?!” ujar Hitomi sensei bersemangat.
“Apa kau mengikutiku terus?” Ainosuke heran.
“Siapa peduli tentang itu!” Hitomi sensei mendekati Masaki dan memintanya berbalik, “Kau yang disana~Hadap sini sebentar ya~Kau mengerti? Apapun yang terjadi, jangan berbalik! Kau siap Ainosuke?”
“Lakukan sekuat tenagamu.”
“Maafkan aku!” Hitomi sensei dengan senang hati memukul Ainosuke. (haduh, kenapa si Yamada mesti dipukul terus ya?)
Kilasan peristiwa muncul di mata kiri Ainosuke. Gambar anjing, lalu burung merpati, kemudian gambar abstrak warna merah, papan tulis penuh angka dan juga sebuah tulisan M akan mati?, “Kasus penculikan berantai. M akan mati.”
“Ainosuke~ Apa kau bilang pen-cu-li-kan? Ya kan? Ya kan?! Apakah itu berarti uangnya berjumlah milyaran~?? Aku mulai melihat hal-hal seperti berlian! Dan tumpukan uang! Juga emas!” Hitomi sensei mulai kembali bersemangat.
“Penculikan dan Mai-chan… Jangan-jangan... Itu dia! Dan merpatinya! Itu kasus selanjutnya! Pinjami aku handphone-mu,” pinta Ainosuke.
Hitomi sensei lalu memberikan ponselnya pada Ainosuke.
“Tolong sambungkan ke Detektif Ooichi. Apa? Tidak ada? Kalau begitu Detektif Kato. Apa? Dia langsung pergi setelah rapat? Saat ini aku punya informasi yang sangat penting, karena itu cepat- Diputus,” ujar Ainosuke cepat.
“Ada apa?” Hitomi sensei heran.
Ainosuke lalu berlari keluar diikuti Hitomi sensei. Tidak lupa ia sempat pamit pada Masaki. Masaki yang tidak mengerti apapun hanya melihat keduanya dengan tatapan heran. Masaki melihat sebuah bulu burung merpati yang jatuh dekat dengan kakinya. Ia lalu mengambil bulu itu dan memasukkannya dalam sakunya.
Di tempat lain, Mai yang sedang bermain sendirian di taman, tiba-tiba dibawa oleh seseorang dengan van hitam. Si pelaku lalu menghubungi ibu Mai, Sano-san.
“Halo? Disini Sano... Polisi? Tentu saja mereka tak ada disini. Yang lebih penting, apakah Mai baik-baik saja?” Sano-san rupanya sudah lapor polisi. Ia menerima telepon dari si pelaku sambil didengarkan oleh polisi.
“Siapkan 400.0000 yen!” ujar suara di seberang.
“400.0000?! Itu tak mungkin, uang sebanyak itu! Halo?! Halo?!” telepon di putus.
Sementara itu di tempat lain, Yumehito dan partnernya Komukai-san sedang duduk dengan santainya. Mereka menikmati setiap kejahatan yang tengah terjadi ini.
“Bagaimana jika ia berhasil mengumpulkan 400.0000 yen?” tanya Komukai-san.
“Itu tak mungkin. Karena aku sudah menyelidiki kondisi keuangannya. Meskipun ia sanggup mengumpulkan uangnya, akhirnya akan tetap sama,” ujar Yumehito santai.
“Mungkin memang begitu... Tapi keindahannya tentu akan hilang.”
“Keindahan, kan?”
“Bukankah itu penting, keindahan dari suatu kejahatan?” ujar Komukai-san lagi.
Hitomi sensei dan Ainosuke naik mobil, mereka berniat ke kantor polisi untuk menemui detektif Kato. Ainosuke berkali-kali menghubungi detective Kato, tapi selalu gagal. Rupanya detektif Kato sedang rapat dengan para polisi yang lain mengenai penculikan yang terjadi itu.
“Kami belum yakin kalau ini adalah kasus penculikan berantai. Korban adalah anak perempuan kelas 2 berusia 8 tahun, Sano Mai, tinggal di daerah perumahan Shinode. Pelaku meminta tebusan 400.0000 yen,” ujar detective Kato.
“Syarat pertukaran?” tanya detective Fukuchi.
“Sejauh ini belum ada telepon tentang itu, tetapi ini...” detective Kato menunjukkan sebuah kertas dengan tulisan Berikan pada yang bersayap dan membawa ranting.
“Ranting? Sayap?” detective Fukuchi heran.
Sementara itu di rumah, ibu Mai, Sano-san sedang mengumpulkan uang yang ia punya. Tapi ternyata uang itu masih belum cukup. Ia minta tolong pada para polisi untuk meminjaminya. Tapi peraturan melarang polisi melakukan itu. Sano-san tentu saja histeris. Tiba-tiba seorang kurir pengantar barang datang. Ia membawa sekotak besar kiriman untuk Sano-san.
“Merpati?” para polisi heran. Lalu sebuah tulisan juga datang bersama kotak itu, Letakkan uangnya ke dalam tabung, dan lepaskan merpatinya.
Sano-san mengikuti intruksi dari kotak itu. Segera ia meletakkan uang tebusan dalam tabung yang terikat pada kaki merpati-merpati itu, kemudian melepaskannya.
Polisi menyebar untuk mengikuti burung merpati pembawa uang tebusan itu. Berkali sekelompok burung itu berubah arah dengan cepat. Hal ini tentu saja membuat para polisi kebingungan dan kehilangan jejak.
“Ainosuke!!” ujar detective Kato ketika melihat Ainosuke dan Hitomi sensei tiba.
“Kato-san!”
“Jangan menelponku di tengah penyelidikan.”
“Merpati kan? Kunci dari kasus penculikan selanjutnya,” ujar Ainosuke percaya diri.
“Bagaimana kau bisa tahu? Informasi tentang kasus kedua itu sangat rahasia, tak mungkin ada yang tahu,” ujar detective Kato berbisik.
“Kumohon katakan padaku, kumohon. Apa yang terjadi sekarang?” pinta Ainosuke lagi.
“Itukah alasan kau menelponku?”
“Ya, kupikir aku harus memberi tahumu tentang merpatinya.”
“Kau bisa melihatnya? Atau kau bisa merasakannya? Bukankah kau juga punya kekuatan misterius dalam kasus 3 bulan yang lalu? Mungkinkah shock atas kehilangan kakakmu yang membuatmu memiliki kekuatan khusus?” detective Kato heran.
“Mungkin, apakah yang diculik adalah gadis bernama Sano Mai-chan? Aku benar kan?” tanya Ainosuke lagi.
“Kau kenal dia? Dia dari perumahan Shinode.”
Tiba-tiba merpati-merpati itu merubah arah. Dan dari arah lain muncul sekelompok merpati lain, mengacaukan suasana. Polisi kehilangan jejak akibat kemunculan ratusan merpat lain yang bergabung.
Hitomi sensei pulang bersama Ainosuke. Di depan apartemen Hitomi sensei, mereka berhenti. Hitomi-sensei memperhatikan orang yang ada di depan pintunya, seorang debt collector.
“Sayama Hitomi-san?” pria berambut pirang itu mengetuk pintu apartemen Hitomi-sensei. “Saya Watabe dari Wai Wai Kingyou, saya sudah menelpon Anda tadi pagi. Kami belum menerima pembayaran kartu kredit Anda. Apakah Anda ada di dalam?” (yang jadi debt collector ini, yang jadi babehnya Daichi di Yanmega lho. Sinopsisnya juga lagi Kelana kerjain, kekekeke)
“Apa yang dikatakan pria itu semuanya bohong, oke? Dia itu penguntit, seram ya? Aku ini cukup cantik, jadi... Menakutkan ya?” ujar Hitomi sensei memberi penjelasan pada Ainosuke yang duduk di sebelahnya. (haduh sensei, si Ainosuke ini ga dudul2 amat kali, dia udah ngerti dari lama)
“Hei, Sayama-san, jika Anda sampai masuk ke dalam daftar hitam kami, maka hidup Anda tidak akan nyaman lagi. Anda dengar kan?” ancam si debt collector lagi.
“Oh ya, ayo kita ke klinik sekolah. Kita akan pikirkan sebuah rencana. Ayo!” ucap Hitomi-sensei akhirnya.
Di kediaman Sano-san, keadaan belum juga membaik. Si pelaku penculikan kembali menelepon. Tapi karena uang yang diberikan tidak sesuai dengan permintaan, si pelaku enggan mengatakan dimana Mai yang diculik.
Hitomi sensei dan Ainosuke akhirnya tinggal di ruang kesehatan sekolah. Sementara Hitomi-sensei searching dengan laptopnya, Ainosuke memandangi sketsa penglihatan-penglihatannya sebelumnya. Berkali ia melihat sketsa itu, tapi belum juga ada titik terang keadaan Mai.
Detective Kato kembali menelepon, “Ada telepon dari pelaku. Kami masih belum mengetahui keberadaan Mai-chan.”
Ainosuke menutup telepon dari detective Kato. Ia depresi karena tidak bisa membantu, “Kupikir aku tahu. Tentang Mai-chan yang terlihat di mata kiriku. Tentang kasus penculikan yang terjadi. Jika kuhubungkan keduanya dan menyelidikinya, aku pasti bisa mengetahuinya. Bekerjalah mata kiri-ku, bekerjalah!” Ainosuke mulai memukul-mukulkan kepalanya ke dinding.
Buru-buru Hitomi-sensei menghentikan ulah anak didiknya ini, “Hentikan! Ainosuke!! Hentikan.”
“Jika kakak melihat ini, bukankah itu berarti ia terlibat dalam hal ini? Tapi ia... Gadis kecil itu...” gumam Ainosuke semakin frustasi.
“Ainosuke! Kakakmu mungkin diancam. Itulah mengapa ia membantu para penjahat itu. Dan itu sebabnya mengapa ia dibunuh. Tak seharusnya kau bicara buruk tentang kakakmu. Pasti berat sekali bagi kakakmu. Karena itulah Ainosuke, kau tak boleh bicara buruk tentang kakakmu. Dia adalah, satu-satunya keluargamu,” hibur Hitomi-sensei kemudian.
“Terima kasih,” Ainosuke melanjutkan dalam hatinya, “Sama sekali bukan seperti itu. Sebenarnya kakak masih hidup dan sedang merencanakan kejahatan lainnya, dan membuat orang melaksanakan kejahatan itu untuknya.”
Sementara di tempat lain, tampak Yumehito dan Komukai-san tengah duduk menikmati kejahatan mereka.
“Adikmu cukup dekat dengan polisi. Jika dia sampai menjadi penghalang rencana kita...” ujar Komukai-san mengingatkan.
“Aku punya cara yang lebih bagus daripada membunuhnya. Rencana kejahatan yang indah telah dimulai,” ujar Yumehito santai. (entah kenapa, si kakak ini bener-bener jahat sama adik satu2nya yang dia punya. Jangan tanya sm Kelana ya, soalnya Kelana sendiri juga ga ngerti kenapa)
Ainosuke pulang ke tempat kos-nya. Ia meraih Rin, anjingnya dan memeluknya, “Kasus pertama, uang tebusan 100.0000 yen, dan seekor anjing digunakan untuk mengambil uang tebusan itu. Pada kasus ke-2, Mai-chan diculik. Pelaku meminta uang tebusan sebesar 400.0000 yen. Kali ini menggunakan merpati untuk mengambil uang tebusan. Dan dengan alasan uang tebusannya tidak cukup, mereka... Mai-chan... Keberadaan Mai-chan masih belum diketahui. Maafkan aku Rin, sudah membuatmu takut.”
Sementara itu, di sebuah tempat tertutup Rin yang diculik tampak ketakutan. Berkali-kali ia meminta tolong, tapi tidak ada yang mendengarnya. Suaranya semakin lemah.
Di penjara khusus, detective Fukuchi kembali menemui si perencana kejahatan, Kokusho-san ini. Detective Fukuchi terpaksa meminta bantuan si penjahat jenius ini untuk memecahkan kode di laptop ayam dan babi itu.
“Apa kau bisa membaca isi laptop itu?”
“Belum. Kodenya cukup rumit. Tapi cara pemecahan kode ini mempunyai arti sendiri. Pelakunya sengaja memilih rute yang panjang. Dia dengan sengaja membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit. Bukan tipe yang berterus terang,” ujar Kokusho-san santai.
“Dengan kata lain?”
“Dengan kata lain, dia bosan. Aku tak tahu apa yang dia lakukan, tetapi... Jika ada 2 pilihan, ia akan memilih yang paling beresiko. Yang paling menonjol dan memutar, dan juga kejam,” Kokusho-san menutup kesimpulannya.
Ainosuke yang khawatir dengan keadaan Mai, kembali mendatangi rumah Mai. Disana ia bertemu Sano-san, ibu Mai. Sano-san berpikir kalau Ainosuke-lah yang telah menculik putrinya. Tapi detective Kato yang kemudian menjelaskan kalau Ainosuke selama ini membantu mereka dan ada di pihak mereka.
Telepon dari si pelaku, “Kami sudah melepaskan anak Anda. Tapi sebagai hukuman atas kurangnya uang tebusan, kami tak akan memberi tahu dimana ia berada. Dia ada di tempat dimana ia tak bisa keluar sendiri. Jika Anda tidak cepat, ia akan mati.
“Kumohon, berikan... “ pinta Sano-san nyaris putus asa.
“Batas waktunya 2 jam. Semoga beruntung.”
“Tunggu, tolong tunggu sebentar. Tunggu!!!”
“Kalau begitu satu petunjuk. Sebelumnya seekor anjing dan merpati digunakan. Kali ini juga berhubungan dengan hewan,” ujar si pelaku menutup teleponnya.
Ainosuke kembali ke ruang kesehatan. Merasa mata kirinya akan melihat sesuatu, Ainosuke meminta sensei-nya itu untuk memukulnya.
“Seharusnya aku bisa melihat hewan yang digunakan sebagai petunjuk kali ini.”
“Kenapa hewan lagi?”
“Siapa peduli tentang itu! Pukul saja aku.”
“Oke~ “ Bruggg . . . tapi kali ini Ainosuke jatuh di kursi yang empuk. Penglihatan di mata kirinya sekilas tampak. Beberapa bentuk warna merah abstrak. Lalu kincir angin, yang tampak seperti pembangkit listrik tenaga angin.
Dengan cepat Ainosuke membuat sketsa dari penglihatan mata kirinya. Sementara itu Hitomi sensei mencari lewat laptopnya, ia menerka-nerka, hewan apa yang kali ini dimaksud oleh si pelaku.
“Bebek? Sapi? Kuda? Kadal? Kuda Nil? Jerapah? Badak? Monyet? Macan tutul? Babi? Kambing? Elang? Mammoth? Cheetah? Bukan, aku sudah menyebutkan cheetah. Bertanduk dua? Okapi! Apakah Okapi?! Apakah Okapi!?” ujar Hitomi sensei berisik.
Sementara senseinya sibuk menerka apa binatang yang dimaksud, Ainosuke menyusun sketsa yang ia buat, seperti puzzle, “Ini dia!” ujarnya kemudian. Ainosuke lalu menelepon detective Kato, “Detective Kato, Tolong percaya padaku, dan cepatlah datang kesini.”
Detective Kato menemui Ainosuke di depan sekolah. Ainosuke menunjukkan sebuah gambar, yang ternyata adalah bentuk dari singa laut warna merah. Tanpa menunggu reaksi detective Kato, Ainosuke lebih dulu memberikan intruksi lewat radia polisi.
“Maaf, tapi ini sangat mendesak. Para penyelidik, mohon cek semua gudang penyimpanan dengan lambang singa laut. Korban berada dalam sebuah gudang penyimpanan dengan lambang singa laut. Kumohon selamatkan dia. Kumohon.”
Detective Kato tadinya ingin menghentikan ulah Ainosuke, tapi ia tertarik pada gambar terakhir tentang kincir angin yang ditunjukkan Ainosuke. Mereka berpikir, tentang sebuah gudang penyimpanan yang dekat dengan kincir angin dan memiliki lambang berupa singa laut warna merah.
Ainosuke bersama detective Kato dan Hitomi-sensei menuju gudang yang dimaksud. Polisi lain rupanya sudah tiba lebih dulu disana. Saat mereka tiba, Mai ternyata telah ditemukan dan sedang dibawa masuk ke ambulan.
Ainosuke menghambur ke arah Mai, “Mai-chan, kau baik-baik saja? Mai-chan? Mai-chan, Mai-chan bangunlah. Mai-chan.Mai-chan.”
“Kakak,” Mai yang perlahan sadar lirih menjawab. “Dimana anjingnya?”
“Ada di rumah. Ia sehat. Kunamai Rin.”
“Syukurlah,” Mai senang.
Ibu Mai menyusul kemudian. Ia merasa begitu bersalah pada Mai.
Detective Fukuchi menjelaskan kalau ditemukannya Mai juga berkat informasi dari Ainosuke. Dan lagi ada seorang polisi wilayah yang dengan sigap merespon informasi tersebut. Polisi itu mendekat. Perlahan wajahnya mulai jelas.
“Apa, tidak, tak mungkin?” ujar Ainosuke dalam hati. Ia melihat wajah yang tidak asing lagi. Wajah kakaknya, Yumehito.
“Saya Sakisaka dari Josai, Aotosaka,” ujar polisi muda itu pada detective Kato sambil memberi hormat.
Detective Kato meninggalkan Ainosuke karena ada panggilan dari pusat. Sekarang tinggal Ainosuke berhadapan sendirian dengan polisi gadungan itu.
“Kenapa? Kenapa kakak...”
“Adikku, sekaranglah permainan sebenarnya dimulai.”
Insiden penculikan berantai masih berlanjut. Kali ini berhasilkan Ainosuke menggagalkan rencana jenius kakaknya? Sampai jumpa di episode 2 ya, 39 ^_^
0 komentar:
Posting Komentar