Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Senin, 31 Oktober 2016

Detective Conan TV series 2011 ep - 13 part 2

Bagian sebelumnya . . .

Shinichi dan Kogoro nekat kembali ke kantor polisi dengan menyamar untuk menyelamatkan Ran. Ketika sampai di ruang jenazah, ternyata yang mereka temukan bukan tubuh Ran, melainkan sebuah manekuin. Dimana Ran sebenarnya? Kogoro yang kesal mulai memukul dan melampiaskan kekesalannya pada Shinichi.

Tanpa diketahui oleh Kogoro dan Shinichi, ada seseorang yang mendengarkan perkelahian mereka di ruang jenazah. Siapa dia? Yups . . . dia adalah dokter yang muncul sebagai dokter ahli forensic di kepolisian Beika, Hirata Hajime.

Seseorang turun dari tangga ruang jenazah. Ia kaget melihat dua orang yang tengah duduk kelelahan, “Apa yang kalian lakukan disini?! Tempat ini bukan tempat untuk orang umum. Aku akan memanggil polisi, jangan kemana-mana. Huh?” lelaki itu berbalik. “Bukankah kau Kudo Shinichi-kun? Bagaimana bisa saksi kunci kejahatan berada disini?”

“Apa ini? Bagaimana kau bisa tahu kalau kami ada disini?” Tanya Kogoro.

“Apa yang kau katakan? Setelah suara gaduh yang kalian buat, siapapun akan mengetahuinya. Meneriakkan “aku akan membunuhmu” di kantor polisi. Apa ini?” ucap Hirata-san.

“Itu karena password dari panel terakhir adalah namamu,” ucap Shinichi.

“Pasword? Apa yang kau katakan?”

“Untuk membuatmu akhirnya keluar . . . kami hanya melakukan ini,” Shinichi mendekatkan speaker dari ponselnya ke sensor yang tertempel di gantungan ponsel milik Ran.

Ini semua kesalahnmu! Aku akan membunuhmu!

“Hanya dengan membuat rekaman ini . . . kami akan diawasi.”

Maaf, paman.

Sebelum mengatakan maaf, cepat temukan Ran. Kau tidak berguna! Aku akan membunuhmu! Ran!

“Ketika kami menemukan ponsel Ran di tempat kejadian . . . aku menyadari ada bagian dari gantungan ponsel ini dengan titik kecil lain. Itulah akhirnya kami . . . “

Flash back

“Bisakah kau membawa kekasihmu kembali dengan tanganmu sendiri?”

“Oi!”

“Shh!”ucap Shinichi.

“Ada apa?” bisik Kogoro.

Shinichi menutup titik kecil di gantungan ponsel Ran, “Ada alat perekam yang ditempelkan di gantungan ponsel ini. Ayo kita manfaatkan orang yang mengawasi kita itu, paman,” pinta Shinichi sambil berbisik.

Kogoro mengiyakan ide Shinichi, “ Autopsi?! Mereka akan melakukan autopsy meskipun Ran masih hidup?”

“Paman, ayo cepat!”

Flash back selesai

“Kami berpura-pura kalau akan mendatangi ruang jenazah sehingga kau akan mendengarnya,” lanjut Shinichi.

“Dan sebelum datang ke kantor polisi ini . . . bocah detective ini dan aku merekam adegan pertengkaran kami,” ucap Kogoro.



“Pelaku yang membuat kami terperangkap dalam ruang serba putih itu . . . adalah kau, Hirata Hajime-san,” ucap Shinichi.

Hirata-san tertawa menikmati kemenangannya, “Kenapa kau berpikir begitu percaya diri? Situasinya masih belum berubah. Untuk menjaga seseorang tetap berada seolah meninggal dalam keadaan hypothermia . . . penting untuk menjaga suhunya,” Hirata-san menunjukkan sebuah remote pengatur di tangannya. “Saat aku memencet tombol ini, pengatur suhunya akan berhenti. Jadi, di suatu tempat di ruangan ini, Mori Ran akan mati.”

Shinichi syok karena ucapan Hirata-san. Ia tidak mengira kalau akan seperti ini. sementara ia belum berhasil menemukan dan menyelamatkan Ran.

“Ya, ya, itu benar Kudo Shinichi. Itu adalah ekspresi yang ingin aku lihat. Kau tampak menyedihkan ketika kau kalah,” lanjut Hirata-san.



“Ketika kita bertemu di kota beberapa waktu yang lalu . . . kau bahkan tidak mengingatku. Kau tidak tahu kalau sepanjang waktu suaramu mengganggu kepalaku. Saat itu . . . seharusnya aku akan menjadi presiden dari Tokyo's Health Sciences University sebagai dokter elit. Aku juga berkontribusi sebagai dokter forensic. Tapi . . . karena kasus kematian di ruang pendingin itu . . . karirku hancur. Apa kau paham? Ini semua kesalahanmu, hidupku menjadi kacau!” Hirata-san menumpahkan kemarahannya pada Shinichi.



“Jadi . . . itu sebabnya kau menyiapkan ruang serba putih itu . . . dan memaksaku mengingat semua kasus yang pernah terjadi,” Shinichi akhirnya mengerti alasan semuanya.

“Karena kau sudah membuat hidup orang lain berantakan . . . aku pikir itu akan mudah membuatmu mengingat nama dan wajahnya,” Hirata-san menikmati kemenangannya.

“Selamatkan Ran!” pinta Shinichi kemudian. “Dimana Ran?!”



“Tolong, selamatkan dia, iya kan? Gunakan bahasa yang sopan!” Hirata-san mengeluarkan pisau untuk mengancam Shinichi. “ Tidakkah kau sadar dimana posisimu sekarang?!”

“Oi! Bocah detective! Tidakkah kau punya trik untuk ini?” desak Kogoro kemudian.

“Tidak.” Jawab Shinichi lemah.

“Oi!”

“Hirata-san . . . ini puncak kekalahanku . . . jadi, tolong katakan satu hal. Bagaimana . . . kau membuat kami terjebak dalam ruangan putih itu?”

Hirata-san tertawa menikmati kemenangannya, “Apa itu . . . ? kalau kau ingin tahu, berlututlah dan memohon. Katakan, tolong katakan padaku Hirata-san.”

Akhirnya, dengan mengorbankan semua harga dirinya, Shinichi berlutut di depan Hirata-san, “Hirata-san . . . tolong . . . beritahu aku . . . tolong katakan padaku!” pinta Shinichi sambil memelas. (ini bukan stile-nya Shinichi banget deh, huft . . . poor Shinichi)



“Baiklah . . . aku akan mengatakannya padamu. Kekasih yang selama ini kau percayai itu . . . dia yang memberikan kalian pil tidur,” terang Hirata-san.

“Ran . . . dia memberikannya pada kami?”Shinichi tidak percaya dengan ucapan Hirata-san.

“Pertama aku menculik ibu gadis itu. Mudah bagiku membuatnya mengikuti semua perintahku.”



“Apa?! Jadi seperti itu . . . dimana Eri-san sekarang?!” desak Shinichi.

“Dia ada di sebuah yacht New Orient yang berlabuh di Hanmokufuto. Dia tidak terluka. Hanya sedikit kesakitan,” ucap Hirata-san dengan entengnya.

“Itulah kenapa Ran . . . “ ucapan Shinichi terputus.

“Kau menyesalinya? Tidakkah itu menyebalkan?” cibir Hirata-san.

“Ini bukan penyesalan,” Shinichi bangun dari berlutunya.

“Huh?”

“Aku benar-benar kesal. Kau mengambil keuntungan dari hati lembut Ran . . . kau b*****t!” teriak Shinichi kemudian.

“Kau dengar? New Orient yang berlabuh di Hanmokufuto. Tolong cepat!” ucap Kogoro dari perekam di ponsel Ran.

“Apa itu?!”



“Jangan bergerak!” ucap Detektive Sato dan detective Takagi dari belakang Hirata-san.

“Apa ini?!”

“Alat perekammu menggunakan gelombang radio. Jadi aku meminta detective Sato dan detective Takagi untuk melacak dan menyadap di gelombang yang sama,” papar Shinichi.

“Sejak kapan . . . “ Hirata-san tidak percaya rencananya ini akan berantakan seperti ini.

Ternyata tadi ketika menyamar dan masuk kembali ke kantor polisi, Shinichi dan Kogoro yang bertemu di depan kantor polisi sempat memberikan pesan pada detective Sato.

“Kudo-kun tidak akan menyamar dan nekat masuk ke kantor polisi kecuali dia ingin meminta kami bekerja sama secara rahasia untuk melakukan sesuatu.”

Jangan katakan apapun. Tolong temui kami tangga . . . kita akan bertemu di ruang masuk.

“Sekarang Eri Kisaki-san akan selamat oleh polisi local,” lanjut detective Takagi.



Hirata-san nekat melepaskan diri dari todongan pistol detective Takagi dan detective Sato, “Aku akan menekannya (tombol pengatur suhu)!”

“Bodoh! Itu berbahaya,” Shinichi yang menghindari sabetan pisau Hirata-san menghindar ke samping. Ia terpojok. Tapi menggunakan sebuah tabung di sisinya, Shinichi membuatnya terlempar tepat ke tangan Hirata-san.

Pisau dan remote pengatur itu lepas dari tangan Hirata-san. Akhirnya Hirata-san bisa ditangkap oleh kedua detektif itu.

“Hirata-san, kau ditangkap karena percobaan pembunuhan!”



“Ran!”

“Ran!” Kogoro dan Shinichi berpencar di ruang jenazah itu mencari Ran.

Akhirnya Shinichi berhasil menemukan Ran. Ia terbaring di atas meja dengan selambar kain menutupinya.

“Ran! Ran, bertahanlah! Ran . . . Ran, bangunlah. Aku . . . apa aku tidak tepat waktu?” Shinichi meraih tubuh Ran di tangannya. Shincihi menangis.

Kogoro melihat putrinya yang dipeluk oleh Shinichi itu dengan sedih, ia juga menangis. Air mata Shinichi mengenai wajah Ran. Perlahan, Ran mulai bergerak. Ia membuka mata.

“Shinichi? Apa kau menangis?”

“Bodoh,” Shinichi menghapus air matanya. “Kau yang menangis,” elaknya pula.



“Shinichi . . . maaf . . . kau marah kan?” ucap Ran pelan.

“Aku benar-benar marah pada diriku sendiri. Ran sendirian di ruang putih itu . . . dan kesulitan sepanjang waktu. Dan akhirnya, aku tidak juga menyadari hal itu. Aku benar-benar . . . minta maaf,” Shinichi menyesal.

“Shinichi . . . “

“Tapi . . . aku senang karena kau selamat.”



“Ayah . . . “ Ran berpaling ke arah ayahnya. “Ayah, aku minta maaf sudah membuatnya khawatir juga.”

“Ah, itu . . . itu tidak apa-apa. Yang penting kau selamat. Eri juga baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja sekarang. Jadi, aku pikir lebih baik aku akan menjemput Eri sekarang,” ucap Kogoro sambil menghapus air matanya, lega kemudian beranjak pergi meninggalkan Ran dan Shinichi.



“Syukurlah . . . “ Ran menghembuskan napas lega.

“Oke, ayo kita membawamu ke rumah sakit,” Shinichi mengangkat tubuh Ran dalam gendongannya. (krik krik . . . disini ga ada adegan ciuman Ran-Shinichi).

“Ngomong-ngomong Shinichi, menjadi seorang detective, kau tidak bisa melakukan hal lain selain menyelesaikan kasus huh?” Tanya Ran.

“Aku pikir begitu sekarang . . . “

“Ya.”

“Aku akan menjadi detective. Aku akan menjadi detective yang bertanggungjawab terhadap kasus yang pernah aku selesaikan. Hal itu yang benar-benar aku pahami sekarang,” ucap Shinichi. (maksudnya Shinichi akan lebih berhati-hati dalam mengungkap sebuah kasus, dan tidak menyebabkan masalah lain di kemudian hari seperti kasus Hirata Hajime-san)

“Aku tahu . . . “

“Tentu saja. Ahh! Sejak kita berada terperangkap cukup lama di ruang putih . . . setelah kau keluar dari rumah sakit, ayo pergi ke tempat yang lapang dan berpesta,” usul Shinichi.

“Taman bermain!” Ran girang menyambut tawaran Shinichi itu.

“Baiklah, baiklah. Jadi kalau kau sudah membaik . . . dan memenangkan pertandingan karate . . . kita akan pergi ke taman bermain.”



"Tropical Land" beberapa bulan kemudian.

“Shinichi yang mengajakku, tapi kau terlambat,” keluh Ran.

“Maaf, maaf. Aku yang akan mentraktirmu hari ini. Ran, kau mau naik apa?”

“Tentu saja. Itu . . . “

Sementara itu, dari sebuah limousine yang berhenti di depan gerbang tropical land, tampak seorang gadis memperhatikan Ran dan Shinichi, “Aku mengkhawatirkan mereka selama ini, dan mereka pergi kencan? Ok, baiklah. Tidak ada alasan bagiku ikut campur. Ayo pergi!” pinta Sonoko


“Ah, Ran. Ini,” Shinichi memberikan sebuah gantungan ponsel pada Ran.

“Ah, aku senang,” Ran girang mendapat hadiah dari Shinichi itu.

Mereka berdua lalu berjalan masuk ke area tropical land, bersenang-senang.

Epilog
 
 Seperti ini, kasus ruang serba putih terselesaikan . . . Ran kembali ceria . . . dan kami berdua bersenang-senang di taman bermain. Sebenarnya, ini adalah awal kami akan terlibat kasus besar . . . dan aku terjebak pengalaman buruk dengan beberapa lelaki misterius berjubah hitam . . . oke, itu cerita lain kali.

Minggu, 30 Oktober 2016

Detective Conan TV series 2011 ep - 13 part 1

– Tantangan terakhir Shinichi, the last shock episode –


Episode sebelumnya . . .

Shinichi berhasil menyelamatkan Ran yang terjebak di dalam ruang dengan sensor infra merah. Ran terduduk lemas.

“Sekarang aku tahu. Bagaimana kita bisa terjebak dalam ruangan serba putih ini. Pelaku yang melakukan semua ini . . . adalah kau, Ran,” ucap Shinichi.

“Itu benar, Shinichi. Sebenarnya aku . . . “ ucapan Ran terputus.

Tiba-tiba sebuah sekat putih keluar dari dinding. Sekat transparan itu memisahkan Ran dan Shinichi. Masing-masing berada di sisi ruangan.

“Ran! Kau baik-baik saja?”

“Shinichi?!”



Dari ventilasi/lubang udara yang ada di dinding, tiba-tiba keluar semacam gas.

“Shinichi, apa ini?”

“Semacam gas . . . “

“Shinichi . . . “

“Ran . . . “

Keduanya terduduk lemas oleh gas yang mulai memenuhi ruangan. Shinichi hanya bisa memandang Ran dari seberang ruangan tanpa bisa melakukan apa-apa. Shinichi ambruk, sementara Ran pun hanya bisa melihatnya tidak berdaya dari ruangan sebelah.



“Kudo-kun, Kudo-kun . . . “ seseorang mencoba membuat Shinichi sadar dari pingsannya. “Apa kau terluka?” Shinichi perlahan membuka mata. Ia menemukan dirinya sekarang sudah berada di luar ruangan, tepatnya di sebuah pelabuhan, dengan Ran juga terkapar di dekatnya. “Syukurlah. Sato-san, Kudo-kun sudah sadar,” ucapnya kemudian.

Detective Sato mendekat Shinichi yang sedang bersama detective Takagi, “Keduanya ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sekarang sudah teridentifikasi.”

Shinichi melihat ke arah lain. Tampak Ran belum juga sadarkan diri, “Ran . . . Ran! Apa kau baik-baik saja?” Shinichi berusah bangun, tapi tubuhnya masih lemas.

“Tolong jangan paksakan diri,” larang detective Sato.

“Aku tidak apa-apa. Um . . . mungkinkah Ran terluka?”

“Maaf, tapi . . . dia meninggal,” ucap dokter yang memeriksa Ran.

“Huh?” Shinichi tidak percaya.

“Sekarang penyebab kematiannya belum dapat diketahui. Setelah autopsy, mungkin kita akan menemukan penyebabnya,” terang Hiraja Hajime sang dokter.



“Tunggu . . . tunggu sebentar!” Shinichi masih belum percaya dengan apa yang diucapkan dokter itu.

“Kudo-kun, apa kau ingat siapa aku? Sebenarnya kita pernah bertemu sebelumnya di sebuah kasus,” terang Hirata-san.

“Apa yang kau katakan di saat seperti ini! Lebih penting Ran!” Shinichi berusaha mendekati Ran yang terkapar tapi ditahan oleh detective Takagi.

“Tubuhnya sudah dingin. Sangat disesalkan kita bertemu lagi di saat seperti ini kan?”

Tim medis membawa tubuh Ran ke ambulan. Tapi Shinichi masih belum bisa menerima kalau Ran meninggal.

“Ran!” Shinichi berusaha mendekati tubuh Ran, tapi detective Sato dan detective Takagi menghalanginya.

“Aku mengerti perasaanmu, Kudo-kun! Yang dapat kau lakukan sekarang adalah menceritakan semua yang kau ketahui. Ayo ikut kami ke kantor polisi,” paksa detective Sato dan detective Takagi.

“Ran! Biarkan aku pergi! Raaaaan!” Shinichi masih memberontak, tapi ia tidak kuasa ketika kedua detective itu memaksanya masuk ke dalam mobil polisi.



Shinichi akhirnya bisa lebih tenang. Ia mengikuti kedua detective itu ke kantor polisi.

“Apa ada hal yang mencurigakan di tempat kejadian?” Tanya Shinichi pada kedua detective itu.

“Tempat kejadian?”

“Tempat dimana Ran dan aku ditemukan tidak sadar,” lanjut Shinichi.

“Kalau tidak salah, tempat disekitar Ran ditemukan tidak sadar agak basah, iya kan?” detective Sato meminta kepastian dari detective Takagi yang langsung menjawabnya dengan anggukan.

“Basah?” Shinichi heran.

“Kudo-kun, kau belum mengatakan pada kami apapun . . . tapi aku pikir, kalian berdua dibawa ke pelabuhan itu dalam keadaan tidak sadar dari suatu tempat. Tapi, kenapa hanya tempat di sekitar Ran saja yang basah? Tapi kondisi jasad Ran tidak sesuai dengan orang yang jatuh,” detective Sato malah bergumam sendiri.

Shinichi mendadak mual. Ia lalu diajak oleh detective Takagi ke toilet. Sementara detective Sato menunggu di luar.

Shinichi masuk ke toilet pria bersama detective Takagi. Selesai muntah, ia hendak mengambil tissue, tapi Shinichi menemukan kalau tissue di toilet itu habis. Ia merogoh kantung bajunya, dan menemukan sebuah kertas.



“Ah, demi Ran, kami akan melakukan invetigasi hingga tuntas. Itu sebabnya Kudo-kun, kau harus mempercayakan hal ini padaku dan Sato-san . . . dan kami berharap kerjasamamu dalam investigasi ini,” sementara Shinichi muntah di toilet, detective Takagi mencuci tangannya.

Detective Takagi tidak sadar. Ketika ia berbalik, ia tidak lagi menemukan Shincihi yang tengah muntah di toilet. Detective Takagi melihat ke jendela, disana Shinichi sedang melarikan diri . . .

“Kudo-kun! Kudo-kun! Sato-san! Kudo-kun melarikan diri!” teriak detective Takagi kemudian.

Seisi kantor polisi heboh. Mereka lalu menyebar untuk mencari Shinichi, saksi kunci peristiwa ini yang melarikan diri. Apa yang sebenarnya dibaca Shinichi dari kertas yang ditemukannya di saku jasnya? Bahkan hingga dia nekat melarikan diri?



Shinichi berhasil mencapai jalan raya. Tiba-tiba sebuah limousine lewat dan berhenti di dekatnya.

“Kudo-kun, ada apa?” Tanya seorang gadis yang turun dari limousine itu. “Apa ini? Apa kau terlibat dengan kasus lagi?” desaknya.

“Itu benar. Sonoko, aku punya permintaan. Tanpa bertanya apapun, maukah kau membawaku ke pelabuhan Beika? Tolong,” pinta Shinichi yang kemudian menyembunyikan diri dari polisi yang mendekat ke arah mereka berdua.

“Mungkinkah Kudo-kun, kau sedang dicari polisi?” Sonoko heran.

“Tolong aku. Tolong, Percayalah padaku,” pinta Shinichi lagi.

Sonoko berpikir sejenak, “Baiklah, serahkan padaku,” ucapnya kemudian.

Sonoko lalu membawa Shinichi dengan limousine-nya ke pelabuhan Beika.

“Aku tidak tahu kau sedang terlibat kasus apa . . . tapi kalau sudah selesai semua, katakan padaku, okey?” pinta Sonoko.

“Ya. Terimakasih,” Shinichi lalu turun dari limousine itu.



Shinichi kembali ke tempat dimana tadi ia dan Ran ditemukan tidak sadarkan diri. Shinichi mengeluarkan kertas yang tadi ia temukan di saku jasnya.

“Sungguh disesalkan detective besar. Kau melupakan suatu hal penting di tempat kejadian perkara.”

Shinichi memandang ke arah Ran tadi ditemukan. Ia teringat Ran . . . “Apa yang aku lupakan? Pesan ini jelas dimasukkan oleh pelaku di saku jasku. Apa tujuan dari si pelaku sebenarnya? Apa sebenarnya ini?” Shinichi bergumam sendiri dengan kesal.



Tanpa Shinichi ketahui, ada seseorang yang ternyata tengah memperhatikannya dari kejauhan. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa lagi selain Shinichi, orang tersebuh mendekat. Ia memegang pundak Shinichi, dan . . . dengan satu tangan, Shinichi membanting orang itu.

“Bodoh! Ini aku! Berhenti melakukan hal bodoh!”

Ternyata yang dibanting oleh Shinichi adalah Kogoro, ayah Ran. (sial amat nasib pakde satu ini, hihihi . . . ). “Paman, kau baik-baik saja?” Shinichi lalu membantu Kogoro untuk bangun.



“Paman, bagaimana kau keluar dari ruangan putih itu?” Tanya Shinichi kemudian.

“Itu . . . aku kehilangan kesadaran waktu itu. Ketika bangun, aku berada di sebuah bangku taman. Dan disana, dari surat yang ditinggalkan di dekatku, mengatakan untuk datang dan menemuimu disini.”

“Mori Ran dan Kudo Shinichi ada di pelabuhan Beika.”



“Tapi ternyata sudah ada banyak polisi . . . oi, itu bohong kan? Itu tidak benar kan kalau Ran meninggal? Putriku . . . oi katakan kalau itu bohong! Dia baru saja berusia 17 tahun! Kenapa putriku yang baru berusia 17 tahun meninggal, kenapa?! Jawab aku bocah detective!” Kogoro tidak percaya kalau Ran meninggal. Ia menyalahkan Shinichi.

Tiba-tiba Shinichi menemukan sesuatu. Ia lalu mengambilnya, “Itu?! ponsel Ran!” teriak Shinichi tiba-tiba.

“Milik Ran?” Kogoro heran.



“Ini dingin . . . itu mengingatkanku, kalau kaca yang waktu itu berembun. Daerah sekitar Ran ditemukan basah . . . berembun . . . perbedaan temperature . . . ponsel yang beku! Ran basah . . . “ gumam Shinichi. “Aku tahu! Membeku tiba-tiba! Pelaku di ruangan serba putih hanya membekukan tempat Ran berada! Itu artinya Ran masih hidup!”

“Eh?!” Kogoro heran.

“Aku pernah membaca tentang keadaan dimana seseorang tampak meninggal karena pembekuan tiba-tiba . . . itu sudah pernah diteliti sejak lama. Mereka tampak seperti benar-benar meninggal . . . tapi ketika pembekuan dihentikan, ada kemungkinan dimana mereka akan bertahan,” lanjut Shinichi.



“Itu benar? Itu benar kalau Ran masih hidup?” desak Kogoro.

Ponsel Ran berdering. Di layarnya tampak sebuah nomer dan nama pelaku sebenarnya.

Shinichi mengangkat ponsel Ran itu, “Halo . . . “

“Kudo Shinichi, aku akan memberikanmu satu bagian infomasi,” ucap suara dari ponsel itu.

“Siapa kau?! Apa tujuanmu sebenarnya?!”

“Autopsi Mori-Ran . . . akan dilakukan hari ini jam 4 sore. Itu artinya sejam sejak sekarang. Bisakah kau menyelamatkan orang yang kau cintai itu dengan tanganmu sendiri?” orang itu lalu memutuskan pembicaraan.

Shinichi melirik ke arah gantungan ponsel Ran.

“Mereka akan melakukan autopsy meski Ran masih hidup?!”

“Paman, ayo cepat!”

Shinichi dan Kogoro lalu bergegas menuju kantor polisi tempat Ran berada sekarang.



Di depan kantor polisi, tampak seorang lelaki tua berkacamata datang mendekat, “Permisi, aku memergoki anak ini mencuri di toko buku Beika, jadi aku membawanya kesini. Lantai berapa untuk melaporkan kejadian pencurian?”

“Maaf, aku menyesalinya!” ucap si anak muda tadi.

“Oh itu, ada di lantai 2,” jawab polisi jaga itu.

“Tunggu!” detective Sato mendatangi polisi jaga tadi. Ia curiga dengan kedua orang yang masuk tadi. Detective Sato memandangi keduanya, tapi kemudian tidak berkomentar apa-apa.



Siapa kedua orang tadi? Yups . . . mereka adalah Kogoro dan Shinichi yang menyamar agar bisa masuk ke kantor polisi dengan mudah.

“Ruang jenazah”

Shinichi dan Kogoro melepas samaran mereka dan menghambur ke ruang jenazah. Mereka menemukan Ran berada di sebuah kotak transparan.

“Ran!”

Tapi kotak itu tidak bisa dibuka. Shinichi dan Kogoro mencoba membuka kotak itu bersama, tapi tidak berhasil. Sebuah panel sentuh di sebelah kotak transparan itu bereaksi. Sebuah tanggal dan kotak putih kosong muncul.

“Tenang! Apa yang terjadi saat 15 Mei 2009?” gumam Shinichi.

“Oi, kasus apa yang terjadi hari itu?” desak Kogoro tidak sabar.

Shinichi berusaha mengingatnya, kasus kejahatan yang terjadi di sebuah ruangan pendingin dari perusahaan delivery service.



Flash back

“Hasil identifikasi dokter keliru. Orang ini memang sengaja dikunci di dalam ruang pendingin, tapi dia tidak meninggal karena beku. Dia dibawa ke ruang pendingin ini lalu dibunuh. Ini . . . benar-benar kasus pembunuhan,” ungkap Shinichi.

Flash back selesai.

Dokter yang menangani investigasi kali itu adalah Hirata Hajime, orang yang tadi juga ditemui oleh Shinichi.



“Ah kasus itu huh?” Kogoro juga ingat kasus yang terjadi hari itu.

“Tapi, aku masih belum tahu apa password dari keenam karakter itu,” keluh Shinichi. “Ah! Paman, kau tahu siapa dokter yang waktu itu?”

“Kalau aku ingat . . . dia Hirata . . . itu benar, dia Hirata Hajime!”

Shinichi lalu memasukkan nama itu ke keenam kotak putih di panel sentuh. Kotak transparan tempat Ran berada terbuka. Mereka membuka kain penutupnya, dan . . .

“Ran! Ini manekuin!”



“Berhentilah bermain-main! Apa ini sebenarnya! Ini semua kesalahanmu, bocah detective! Jika kau benar peduli pada Ran, kau seharusnya melindunginya kan?!” Kogoro kolaps, ia menumpahkan kemarahannya pada Shinichi. Kogoro melayangkan pukulan ke wajah Shinichi.

“Maaf, paman,” ucap Shinichi yang kesakitan.

“Sebelum mengatakan maaf, cepat temukan Ran! Kau tidak berguna! Aku akan membunuhmu!” Kogoro benar-benar marah.

Lalu dimana Ran sebenarnya? Apa benar Ran masih hidup? Bagaimana nasib Ran? Berhasilkan Shinichi menyelamatkan Ran . . . atau ia akan kehilangan Ran selamanya?

To be continue . . . at part 2

Sabtu, 29 Oktober 2016

Detective Conan TV series 2011 ep - 12

– Kontradiksi Alibi Ketiga Tersangka Pembunuhan –


“Ran . . . “

“Jangan mendekat,” segah Ran.

“Tidak apa-apa, bergeraklah,” pinta Shinichi.

“Aku tidak bisa bergerak,” ucap Ran lirih.

Lampu ruangan putih itu berubah temaram kehijauan. Dan . . . tampaklah sensor infra merah saling silang di ruangan itu. Shinichi melirik ke arah sisi dinding, ada peringatan kalau itu akan meledak.

Shinichi kembali ke ruangan semula. Panel sentuh disana telah berubah, sebuah tanggal kasus muncul.

Bank central Beika, 24 September 2010

Shinichi dan Kogoro dipanggil ke safe deposit bank central Beika. Disana ada seorang wanita yang terkapar di lantai bagian dalam ruang safe deposit. Belum jelas keadaan wanita ini, masih hidup atau sudah meninggal. Sementara itu Shinichi dengan gadgetnya memotret beberapa bagian ruang kejadian itu.

Dari keterangan manager bank, panel di ruangan safe deposit itu hanya bisa diakses/dibuka saat jadwal saja, selain itu tidak bisa. Shinichi curiga kalau ada orang yang sudah meng-hacking system komputerisasi di bank central Beika itu.

Selain itu, ada juga kertas yang tertempel di dekat panel akses ruang safe deposit itu. Sebuah ancaman bom. Kalau ruangan itu dipaksa dibuka, maka bom yang dipasang akan meledak.

“Paman, lalu apa yang kau lakukan disini sebenarnya?” Tanya Shinichi.

Kogoro menceritakan kalau ia dan Sonoda Machiko, wanita yang terkapar dia ruang safe deposit itu adalah kawan di dunia internet. Ia juga bekerja di bank central Beika sebagai ahli system komputer. Dan juga sebagai guru computer di sekolah Ran. Hari ini Sonoda-san menelepon Kogoro dan memintanya datang ke bank central Beika untuk melakukan sesuatu. Tapi ketika Kogoro datang, Sonoda-san sudah terkapar di ruang safe deposit itu.



Menurut penuturan manager bank, Emoto Takeo-san, selain dia ada dua orang sekuriti dan tiga orang lagi yang keluar masuk ruangan itu. Ketiganya masuk dan menemui Kogoro.

Asisten manager, Nimura Yuzo. Staf ruang safe deposit, Sakai Yoko. Dan chef divisi humas, Hasegawa Ryosuke.

“Siapa diantara kalian bertiga pelakunya?!” gertak Kogoro.

“Paman! Jangan menanyakan hal itu,” sergah Shinichi.

Tapi ternyata ketiga orang itu mengacungkan jari. Shinichi dan Kogoro kaget. Ketiganya mengakui sebagai pelaku. Dan mereka saling mengatakan kalau yang lain berbohong.



Shinichi mendapat telepon dari Ran.

“Ah, Ran. Sudah masuk kan?”

“Iya. Tapi apa yang kau minta lakukan dengan gambar ini pada detektif Sato?” Tanya Ran penasaran.

“Tunjukkan saja gambar itu pada detektif Sato, dia pasti akan mengerti setelah membaca email dariku juga,” ucap Shinichi.

“Tunggu Shinichi . . . “

Tapi Shinichi sudah menutup teleponnya. Ran kesal.

“Apa kata Shinichi?” Tanya detektif Sato.

Ran menunjukkan sebuah foto dan email dari Shinichi. Isinya meminta detektif Sato menganalisi apa yang tampak di foto itu.



Kogoro dan Shinichi memutuskan untuk menginterogasi ketiga orang yang mengaku sebagai pelaku itu secara terpisah. Shinichi menginterogasi Asisten manager, Nimura Yuzo.

“Mulanya hubungan kami adalah hubungan kerja biasa, tapi perlahan berubah menjadi hubungan sepasang kekasih. Belakangan ini Sonoda-san mendesakku untuk menceraikan istriku dan segera menikahinya. Tapi aku tidak bisa, karena bagaimanapun aku memiliki keluarga dan juga anak. Dia terus memaksaku, hingga akhirnya aku kalap dan mencekiknya hingga meninggal,” cerita Nimura-san.

“Jadi kau melakukannya sendirian dan tanpa rencana?” Tanya Shinichi.

“Ya.”

“Lalu yang memasang ancaman bom di dekat panel ruang safe deposit?”

“Aku tidak tahu,” elak Nimura-san.



Kogoro menginterigasi Staf ruang safe deposit, Sakai Yoko di ruang berbeda.

“Aku memergokinya menggunakan kunci cadangan untuk mengambil berlian milik nasabah. Ia menggunakan berlian itu untuk investasi dan mencari keuntungan dari pasar saham. Aku memergokinya melakukannya lagi, sementara ia belum bisa mengembalikan berlian itu. Jadi aku membunuhnya dengan mencekiknya,” cerita Sakai-san.

“Jadi kau melakukan ini karena ingin menyelamatkan bank?” selidik Kogoro.

“Aku tidak mau karirku hancur hanya karena dia. Jadi aku melakukan apapun untuk menyelamatkan bank ini dan tentu saja karirku,” ucap Sakai-san lagi.

“Lalu yang memasang ancaman bom di dekat panel ruang safe deposit?”

“Aku tidak tahu,” elak Sakai-san.



Shinichi menginterogasi chef divisi humas, Hasegawa Ryosuke di ruang lain.

“Sonoda-san menggunakan otoritasnya untuk “meminjam” barang milik nasabah di ruang safe deposit. Ia mengambil berlian seorang nasabah asal timur tengah dan menggunakannya untuk investasi di pasar saham. Karena perjalanan bisnisnya yang hampir selesai, nasabah itu akan kembali mengambil kalung berliannya. Tapi Sonoda-san belum bisa mengembalikannya. Jadi ia memintaku untuk berpura-pura membunuhnya. Jika itu terjadi, maka ruang safe deposit tidak bisa diakses sampai kasus selesai, sehingga terpaksa nasabah itu akan pulang ke negaranya tanpa kalung berlian miliknya. Itu akan memberikan Sonoda-san waktu untuk mengembalikan kalung berlian itu,” cerita Hasegawa-san.

“Jadi Sonoda-san masih hidup?” Tanya Shinichi.

“Aku pikir begitu. Karena rencana yang ia ceritakan padaku, ia akan minum pil tidur hingga jadwal buka ruang safe deposit itu lewat.”

“Lalu yang memasang ancaman bom di dekat panel ruang safe deposit?”

“Aku tidak tahu,” elak Hasegawa-san.



Shinichi kembali menemui Kogoro yang menunggu di depan ruang safe deposit. Mereka mendiskusikan hasil interogasi tadi.

“Ada yang aneh dari pernyataan mereka bertiga. Baik Sakai-san maupun Hasegawa-san mengatakan kalau Sonoda-san berbuat curang. Jadi kemungkinannya besar. Tapi berlawanan dengan fakta lain, baik Nimura-san maupun Sakai-san, mengaku telah membunuh Sonoda-san. Hanya Hasegawa-san yang mengatakan kalau Sonoda-san masih hidup,” gumam Shinichi.

Shinichi mendapat telepon dari Ran.

“Shinichi, dengarkan ini . . . “ Ran menjelaskan hasil analisis yang telah dilakukan oleh detective Sato dan detective Takagi di kepolisian.

“Baiklah. Ya, seperti yang aku perkirakan,” ucap Shinichi sambil tersenyum mengamati kembali gambar yang tadi diambilnya. “Terimakasih, Ran.”



Shinichi berlari ke ruang pengendalian system computer di bank itu. Ia mencari computer yang digunakan oleh Sonoda-san. Shinichi menemukan computer itu masih dalam keadaan menyala.

“Ia bahkan tidak membuatnya stand by atau sleep,” gumam Shinichi yang lalu memotret screen computer itu, “Ada yang aneh dengan alamat yang digunakan Sonoda-san disini,” ucap Shinichi sebelum pergi.



Shinichi kembali ke ruang safe deposit. Ia melihat Kogoro yang tengah berusaha mengambil ponsel milik Sonoda-san yang tergeletak di lantai.

“Paman, apa yang kau lakukan? Tegur Shinichi.

“Aku berusaha mengambil ponselnya, mungkin ini bisa dijadikan petunjuk,” Kogoro masih berusaha meraih ponsel itu.

Shinichi memperhatikan tongkat yang digunakan oleh Kogoro, “Paman, apa yang kau gunakan itu?”

“Ini huh? Aku mengambilnya dari tanaman itu,” ucap Kogoro.

Shinichi mendekati tanaman berkayu di dekat ruangan itu. Ia menemukan sebuah batang lain dengan benang kusut tersangkut di ujungnya dan juga sebuah jarum.

“Jadi begini,” gumam Shinichi senang.

“Huh? Huh? Huh? “ Kogoro heran.

“Sekarang aku tahu, kenyataan menyedihkan apa dibalik kasus ini.”



Shinichi memasukkan beberapa angka di panel yang mengatur pintu ruang safe deposit itu.

“Bodoh! Itu akan meledak,” Kogoro malah menghindar.

Tapi Shinichi cuek saja dan melanjutkan memasukkan kombinasi angka di panel sentuh itu. Pintu terbuka. Kogoro dan Shinichi menghambur masuk ke ruang safe deposit itu. Mereka memeriksa Sonoda-san yang terkapar di lantai.

“Sungguh disesalkan, Sonoda-san benar-benar meninggal,” ucap Shinichi kemudian setelah tidak menemukan nadi berdetak di leher Sonoda-san.

Kogoro mendekat. Ia memeriksa leher Sonoda-san, “Lihat, bahkan tidak ada bekas tercekik.”

Shinichi mengirim email ke alamat yang tadi deperolehnya dari computer Sonoda-san di ruang pengendalian system computer bank. Terdengar suara ponsel, tapi bukan dari ponsel milik Sonoda-san yang terlegetak di lantai. Suara itu berasal dari salah satu kotak penyimpanan di safe deposit.

“Paman, dari mana arah suara ponsel ini?” Tanya Shinichi.

Kogoro memeriksa dan menemukan sebuah kotak penyimpanan yang ia yakini menjadi sumber suara itu. Mereka berdua lalu membuka kotak itu menggunakan kunci cadangan yang dibawa oleh Sonoda-san. Dalam kotak itu ditemukan sebuah ponsel dan . . .

“Jadi begitu rupanya,” gumam Shinichi.



Kogoro dan Shinichi mengumpulkan ketiga orang yang tadi mengaku sebagai pelaku pembunuhan Sonoda-san.

“Sonoda Machiko-san benar telah meninggal,” Shinichi memulai. Ia lalu memasukkan kombinasi angka di penel sentuh ruang safe deposit itu.

“Itu akan memanggil polisi!” larang Sakai-san

“Itu akan meledak!” kali ini Nimura-san yang berbicara.

“Tidak masalah, kami sudah membukanya sebelumnya. Itu tidak menyebabkan ledakan ataupun memanggil polisi. Seseorang telah meng-hacking system computer ruang safe deposit ini,” ucap Kogoro kalem.

“Ada apa ini sebenarnya?” Hasegawa-san tidak percaya.

“Ancaman bom ini . . . adalah kamuflase untuk melengkapi rencana Sonoda Machiko-san yang berperan sebagai korban. Dengan kata lain . . . kertas ancaman ini dan Sonoda-san yang terbunuh karena berbuat curang . . . adalah dua hal yang berbeda. Setengah tahun yang lalu, Sonoda-san yang menguasai computer . . . dipekerjakan oleh managemen senior bank untuk melakukan pekerjaan rahasia. Dia ditugaskan untuk meng-hacking computer staf bank ini dan memata-matai mereka. Bukti kebenaran ini . . . disembunyikan Sonoda-san di salah satu kotak safe deposit. Itu adalah . . . diary ini,” Shinichi menunjukkan sebuah diary yang tadi diambilnya dari kotak milik Sonoda-san. “Diary ini berisi email antara dua orang, yakni . . . Sakai-san dan Nimura-san. Orang yang berbuat curang dan mengambil kalung berlian dari kotak penyimpanan nasabah itu . . . adalah kalian berdua, benar?” tembak Shinichi.

Sakai-san dan Nimura-san saling memandang.



“Kalian yang mengambil kalung berlian itu . . . dan mendekati Sonoda-san untuk membuat rencana kamuflase,” lanjut Shinichi.

Flash back

Nimura-san dan Sakai-san bekerja sama mengambil kalung berlian milik nasabah itu dan menggunakannya sebagai modal dalam pasar saham. Tapi ketika nasabah pemilik kalung berlian itu ingin mengambilnya kembali, keduanya belum bisa mengembalikan kalung berlian itu. Akhirnya Sakai-san dan Nimura-san meminta bantuan Sonoda-san untuk membuat sebuah rencana, sehingga nasabah pemilik kalung berlian itu tidak jadi mengambilnya karena terjadi sebuah kasus di bank itu. Hal ini akan memberikan waktu lebih banyak bagi Sakai-san dan Nimura-san sebelum bisa mengembalikan kalung berlian itu.

Sonoda-san tadinya tidak mau ikut campur masalah Sakai-san dan Nimura-san. Tapi ketika dibujuk, akhirnya Sonoda-san bersedia membantu mereka.

Flash back selesai

“Sonoda-san mengabulkan permintaan kalian . . . meng-hacking system keamanan, mengganti password gerbang ruang safe deposit. Dan meninggalkan kertas ancaman ini sehingga pintu tidak akan dibuka dan nasabah itu akhirnya pergi tanpa mengambil kalung berliannya . . . dan kalian, mengaku telah membunuh Sonoda-san,” lanjut Shinichi.

“Tapi . . . kami benar-benar tidak membunuhnya,” elak Sakai-san yang diiyakan oleh Nimura-san.

“Karena Sonoda-san hanya berpura-pura terbunuh . . . kalian pikir dengan mengatakan kalau membunuhnya, kalian akan aman?” kali ini Kogoro angkat bicara yang diiyakan oleh Nimura-san dan Sakai-san.

“Nimura-san, keteranganmu yang mengatakan kalau kau berselingkuh dengan Sonoda-san adalah kebohongan kan? Dibanding perselingkuhan, kau sedang terlilit hutang 10 juta yen,” ucap Shinichi.

“Dia menuliskan hal itu?” Nimura-san tidak percaya.

“Karena itulah, kau bergabung dengan Sakai-san untuk mendapatkan uang untuk membayar hutang itu, iya kan?” tembak Shinichi. “Dan kalianlah pelaku kecurangan yang sebenarnya.”



“Dan pelaku pembunuhan Sonoda-san adalah . . . kau, Hasegawa-san.”

“Apa yang kau katakan?!” Hasegawa-san tidak terima dengan tuduhan Shinichi.

“Dalam diary ini, dituliskan kalau kau meminta putus. Sebagai kekasihnya . . . Sonoda-san menuliskan tentang perasaannya padamu dan mimpinya dimasa sepan bersamamu. Kau dan Sonoda-san bertunangan kan? Kalian bertunangan, tapi kau malah berselingkuh dengan wanita lain. Putri dari seorang nasabah, iya kan? Tapi Sonoda-san mempercayaimu. Karena itulah dia hanya membicarakan rencana Sakai-san dan Nimura-san denganmu. Disini dituliskan, Aku senang. Dia (Hasegawa)bilang kita akan melaporkannya pada polisi dan membawa Sakai-san serta Nimura-san untuk diadili. Tapi kau mengkhianatinya. Dan lagi . . . dengan jalan paling buruk.”

“Hei, bukankah ketika aku tiba disini bersama yang lain, pintu itu tertutup. Bagaimana mungkin aku membunuhnya?” elak Hasegawa-san.

“Kau! Akan aku tunjukkan bagaimana caranya,” kali ini Kogoro yang turun tangan. Kogoro memperagakan cara Hasegawa-san membunuh Sonoda-san menggunakan racun yang dilumurkan pada jarum yang dipasang dan ditembakkan dengan batang tumbuhan di ruangan itu.

“Di tubuh Sonoda-san, ada bekas merah kecil. Sonoda-san tidak dibunuh dengan cara dicekik . . . tapi diracun,” Shinichi memberikan penjelasan dari peragaan yang dilakukan Kogoro. “Dengan tujuan membunuhnya . . . kau tahu kalau Sonoda-san berpura-pura meninggal dengan meminum pil tidur. Dan lagi, kalau pintu ini tertutup, kau bisa mengelak dari tuduhan membunuhnya. Tapi, dari semuanya hanya kau yang tahu rencana Sonoda-san dan ruangan tertutup ini.”

“Itu semua hanya spekulasi!” Hasegawa-san masih mengelak.

“Itu bukan spekulasi,” detective Sato ternyata tiba di ruangan itu bersama detective Takagi dan juga Ran.

Detective Takagi menunjukkan foto-foto yang diambil Shinichi tadi dan menunjukkannya sebagai bukti. “Kami sudah menganalisi foto-foto ini. Dan jelas, ini karena keracunan.”

“Aku mengirim email ke alamat yang ditinggalkan Sonoda-san di komputernya, tapi bukan ponselnya yang berdering,” lanjut Shinichi.

“Apa lagi ini?” Hasegawa-san semakin terjepit.

“Dengarkan dengan baik. Kau pasti tahu suara ponsel itu berasal dari mana. Bukankah itu suara khusus? Sonoda-san mempersiapkan semuanya ketika ia bersedia melakukan permintaan Sakai-san dan Nimura-san untuk berpura-pura meninggal. Dia percaya kau akan kembali ke sini dan membuktikan kecurangan keduanya . . . dan membawanya kembali ke keadaan normal. Tapi, kau memanfaatkan cintanya. Mengambil keuntungan dari ia yang berpura-pura meninggal . . . kau membunuhnya. Besok, 24 September adalah ulang tahunmu kan? Password untuk membuka pintu ini pun . . . adalah angka ulangtahunmu, "0924”,” Shinichi lalu memasukkan kombinasi nomer itu ke panel sentuh, dan . . . terbukti.

“Jangan mengatakan hal tidak berguna!” gertak Hasegawa-san.

Shinichi menunjukkan ponsel yang dikeluarkannya juga dari kotak penyimpanan milik Sonoda-san, “Sonoda-san, setelah dia berhasil membuktikan perbuatan curang Sakai-san san Nimura-san . . . ingin memberikan ponsel itu sebagai hadiah untukmu. Alamat email dari ponsel hadiah ini . . . adalah kombinasi dari ulang tahunmu . . . 24 September . . . dan namamu . . . Ryosuke. Ry0ou9s2u4ke@cjbank.ne.jp

Hasegawa-san menerima ponsel dari tangan Shinichi. Ia juga membaca kartu ucapan yang dibuat oleh Sonoda-san. Hingga akhir, Sonoda-san masih tetap mempercayai Hasegawa Ryosuke-san, kekasihnya itu. Tapi rupanya Hasegawa mengkhianatinya. Hasegawa-san menangis di depan jasad Sonoda-san, ia menyesali semuanya.

Shinichi berhasil mengingat kata kunci untuk kasus itu dan memasukkanya ke panel sentuh, ulang tahun.

Seketika sensor infra merah di sekitar Ran menghilang. Ran yang kelelahan karena tidak bisa bergerak sejak tadi akhirnya terduduk lemas.

“Ran?” Shinichi mendekati Ran, ia berpikir, “Aku tahu . . . aku tahu sekarang. Kenapa kita terperangkap dalam ruang serba putih ini. Pelaku yang melakukan semua ini . . . itu kau . . . Ran.”

Ran terhenyak oleh tuduhan Shinichi.

Jumat, 28 Oktober 2016

Detective Conan TV series 2011 ep - 11

– Misteri Pembunuhan di Lift yang Bergerak –


Shinichi yang terpisah dari Ran berhasil memecahkan kode pada kasus sebelumnya. Ia masuk ke ruang putih sebelahnya, dan menemukan ponsel Ran dengan nomer tidak dikenal memanggil.

Lampu tiba-tiba menyala. Shinichi dikagetkan oleh kostum boneka yang tiba-tiba ada di depannya. Sebuah panel sentuh pun muncul. Sebuah tanggal dan enam kotak putih.

17 September 2010, Gedung Pusat kota Beika, lantai 38

Seorang presdir perusahaan game terkemuka, Tatsumi Taiji berjalan bersama ketiga anak buahnya menuju lift khusus perusahaan di gedung itu. Hari itu sebenarnya diadakan pesta dalam rangka perayaan dalam memperkenalkan karakter baru dari game yang diluncurkan perusaan itu, tapi presdir memilih untuk pulang karena tidak enak badan. Ia menyerahkan perayaan itu pada anak buahnya itu.

Tidak lama kemudian, Tatsumi Sakurako, putri sang presdir datang. Ia menanyakan ruangan tempat pesta berlangsung.

“Nona dan aku akan memberikan sambutan di pesta nanti, jadi bisakah kalian lebih dulu saja?” pinta sang direktur game, Ooba Satoru, yang diiyakan oleh karyawan yang lain.

Setelah kedua karyawan lain itu pergi, Ooba-san mendekati Tatsumi-san. Mereka berdua ternyata sepasang kekasih. Ooba-san protes karena Tatsumi-san terlambat.

“Maaf, tadi aku agak terhambat. Tapi lebih penting, apa kau sudah mengatakan pada papa soal hubungan kita?” Tanya Tatsumi-san.

Ooba-san mengiyakan. Tatsumi-san tersenyum senang dan memeluk Ooba-san.

“Sebagai gantinya, maukah kau memberikan ciuman sebagai hadiahnya?” pinta Ooba-san.

Tatsumi-san mengiyakan permintaan Ooba-san tanpa curiga sama sekali. Tanpa diketahui, pintu lift dibelakang Tatsumi-san dibuka, dan presdir yang ternyata masih ada di lift itu . . . ditembak.

Suara dari ruang pesta terdengar. Ooba-san dan Tatsumi-san beranjak dari depan lift.

“Sepertinya pesta sudah dimulai.”

“Sebelum pesta . . . ini hadiah. Ini kalung mutiara pink yang akan cocok dengan anting yang kau gunakan,” ucap Ooba-san sambil menyentuh anting yang digunakan oleh Tatsumi-san.

Di lantai yang sama, Shinichi ternyata mengajak Ran untuk makan malam disana.

“Hei, apa tidak apa-apa? Bukankah disini mahal?” protes Ran sambil berbisik.

“Itu tidak apa-apa. Jangan dipikirkan,” elak Shinichi menanggapi protes Ran.

“Kau ini benar-benar . . . “

“Aku lebih dari anak yang disia-siakan orang tua yang lebih suka pergi keluar negeri,” ucap Shinich kemudian.

“Dan? Apa yang ingin kau bicarakan? Itu bukan permintaan yang tidak masuk akan kan?” selidik Ran. “Kau membuat reservasi di restoran seperti ini . . . “

“Itu . . . karena aku mendapat tiket diskon. Yang ingin aku katakan padamu adalah . . . “

Ran memotong ucapan Shinichi, “Aku tahu, pasti sulit mengatakannya . . . tapi laki-laki yang mengatakannya dengan jujur, itu baru laki-laki. Kau lupa tidak membawa dompetmu kan?” tembak Ran.

“Huh?” Shinichi kaget dengan ucapan Ran.

“Eh, aku salah? Dari tadi kau tampak berkeringat dan gelisah, jadi . . . “

“Sebenarnya, kau benar. Itu tidak mungkin, iya kan?!” kali ini Shinichi yang mengingkarinya sendiri.

“Eh?” Ran heran.

Shinichi melanjutkan kalimatnya, “Karena ada hal yang ingin aku katakan padamu . . . itulah kenapa aku mengajakmu makan malam . . . itu . . . itu untuk mengatakan kalau . . . “

Kyaaaa!!! Suara teriakan memotong kalimat Shinichi.

Shinichi berusaha untuk tidak teralihkan perhatiannya, “Jadi, yang ingin aku katakan . . . “

Orang-orang di sekitar Ran dan Shinichi ribut. Ternyata ada seseorang yang terbunuh di lift. Presdir perusahaan game yang juga ada di gedung ini.

“Jangan paksakan diri. Tidak bisa apa-apa kan kalau kau sudah tertarik oleh kasus,” ucap Ran kemudian.

“Tidak . . . “

“Cepat pergilah, tuan detektif.”

“Maaf. Aku akan segera kembali,” Shinichi lalu pergi tanpa sempat menyelesaikan kalimatnya.

Sepeninggal Shinichi, Ran termenung sendiri. Ia memikirkan apa yang sebenarnya ingin dikatakan Shinichi padanya tadi.



Detective Sato dan detective Takagi sudah tiba di tempat kejadian. Mereka memeriksa mayat itu. Seorang presdir perusahaan game berusia 58 tahun, Tatsumi Taiji-san. Mereka berdua berasumsi kalau presdir itu dibunuh dengan motif uang. Seseorang sengaja menunggu keadaan sepi dan kemudian membunuh presdir itu.

“Aku pernah mendengar kasus serupa di gedung ini juga dari inspektur Megure sebelumnya . . . “ gumam detective Sato.

“Maaf, tapi kasus ini tidak memiliki motif karena uang. Jika motifnya adalah uang, dan dia menggunakan senjata . . . pelaku lebih baik membawa orang ini ke tempat yang lebih sepi. Jadi jika itu dilakukan di lift, itu tempat terburuk. Lagipula . . . ada yang aneh dengan pakaian korban. Bukankah kalian berpikir begitu juga?”

“Kudo-kun?!” detective Sato dan Takagi heran tiba-tiba ada Shinichi disana.

“Ran dan aku makan malam disini,” papar Shinichi.

“Bisakah anak SMA kencan di gedung . . . dengan restoran mahal disini?” detective Takagi heran.

“Itu . . . itu alasannya kami memilih disini,” elak Shinichi.



“Papa!” seorang wanita mendekat sambil berteriak. Dia Tatsumi Sakurako, putrid sang presdir. “Kyaaa!”

“Kalian bertiga yang terakhir bertemu dengan korban?” selidik detective Sato.

Ooba-san dan kedua karyawan lain mengiyakan. Setelah itu putri presdir datang.

“Jam berapa waktu itu?” Tanya detective Sato lagi.

“Sekitar 8 lewat 30. Tidak salah lagi,” ucap Tatsumi-san.

“Tapi bagaimana kau tahu? Anda tidak mengenakan jam tangan,” ucap detective Takagi.

“Aku melihat dari jam tangan Ooba-san. Ketika ia memegang antingku,” cerita Tatsumi-san.

Investigasi dilanjutkan. Shinichi curiga bagaimana Tatsumi-san bisa tahu dari jam tangan Ooba-san. Ooba punya jawabannya. Karena jam tangannya adalah model yang dapat berpendar dalam gelap (luminescence clock).

“Bukankah itu aneh, bagaimana ia bisa melihatnya, kalau ia menyentuh anting Tatsumi-san seperti ini?” Shinichi memperagakan cara menyentuh anting sebelah kanan Tatsumi-san dengan tangan kirinya.

“Kau bodoh, kalau kau menyentuh antingnya dari sisi ini, dia bisa melihatnya kan?” Ooba-san memindahkan tangan kiri Shinichi ke anting sebelah kiri Tatsumi-san.

“Ooh, tapi bukankah lebih mudah menyentuh antingnya itu dengan tangan kanan? Atau kau tidak bisa melakukannya dengan tangan kananmu . . . “ pancing Shinichi.

“Kau menuduh kalau di tangan kananku ada senjata, huh?” elak Ooba-san.

“Senjata? Aku tidak pernah mengatakan apapun mengenai hal itu,” Shinichi semakin curiga.



“Hal penting apa yang ingin dikatakan Shinichi? Mungkinkah dia akan mengatakan . . . kalau berat badanku bertambah? Tapi dia tidak perlu mengajak makan malam seperti ini kalau hanya ingin mengatakan hal itu . . . “

Ran yang ditinggal sendirian masih termenung. Ia bahkan menolak menu penutup yang dibawakan pelayan dengan alasan masih menunggu partnernya kembali. Pelayan itu tersenyum. Ran heran.

“Itu seperti kisah legendaries 20 tahun yang lalu. Meja dan kursi yang sama persis pula. Pasanganmu itu pasti tahu tentang cerita itu. Seorang lelaki muda yang meninggalkan pasangannya karena mendengar teriakan. Kemudian kembali setelah menyelesaikan kasus yang terjadi dan kemudian mengatakan sesuatu pada pasangannya. Ia melamarnya, lamaran,” ucap si pelayan sumringah.

“La . . . lamaran?!” Ran kaget.

“Semoga sukses,” ucap pelayan itu lalu beranjak pergi.

“Jangan-jangan Shinichi . . . ah tidak mungkin,” Ran bergumam sendiri.



Shinichi masih mencurigai Ooba-san. Tapi Tatsumi-san mengelak, ia mengatakan kalau tidak mungkin Ooba-san yang melakukannya, karena ia menghabiskan waktu bersama dengan Ooba-san.

Polisi lain masuk, ia melaporkan kalau mereka menemukan senjati api dengan peredamnya dan selongsong peluru kosong di tempat sampah di lantai 38 ini. Shinichi menyimpulkan kalau pelakunya benar Ooba-san. Tapi Ooba-san masih saja mengelak.

“Kalau begitu, periksa saja apa ada bekas bubuk mesiu di bajuku ini,” tantang Ooba-san.

Ooba-san lalu pergi bersama beberapa polisi yang lain untuk memeriksa serbuk mesiu di lengan bajunya. Shinichi mendekati Tatsumi-san.

“Apa kalian berdua berciuman?” tembak Shinichi.

“Eh?” Tatsumi-san kaget, dan merasa Shinichi sudah mengatakan hal yang tidak sopan padanya.

“Mamaku pernah mengatakan, wanita memperbaiki lipstiknya karena dua hal, setelah makan dan berciuman,” cerita Shinichi kemudian. “Dan . . . jadi, bagaimana dia melakukannya?”

“Bagaimana?” Dia meletakkan tangannya seperti ini . . . “ Tatsumi-san memperagakan cara Ooba-san tadi menciumnya. Ia melingkarkan tangan Shinichi ke lehernya.

“Tidak, tidak, tidak ! Kudo-kun!” detective Takagi yang melihatnya heboh sendiri.

“Waktu itu, kau membelakangi lift? Dan kalian melakukannya sembunyi-sembunyi selama ini?” selidik Shinichi.

“Ya, begitulah. Kami juga berjanji bertemu di tempatnya malam ini,” jawab Tatsumi-san.

Tatsumi-san lalu beranjak pergi bersama karyawan yang lain. Tapi Shinichi menahannya.

“Satu pertanyaan lagi, nona. Apa anting yang kau gunakan malam ini juga hadiah dari Ooba-san?” Tanya Shinichi.

“Sayang sekali, kali ini kau keliru. Anting ini baru saja aku beli sebelum datang ke gedung ini, jadi ini bukan hadiah,” elak Tatsumi-san.



Polisi kembali mendapat laporan dari staf perusahaan, kalau Ooba-san sempat melepas jasnya untuk berganti dengan kostum kartun yang diperkenalkan sebagai karakter baru game yang diluncurkan perusahaan itu.

“Direktur Ooba-san berkedip berulang kali.”

“Dia bekerja keras agar kakakter baru itu menjadi terkenal.”

“Tapi dia melakukannya berulang kali, akhirnya jadi membosankan juga.”

Shinichi lalu memeriksa kostum itu. Ia menemukan beberapa hal. Detective Sato mendapat laporan kalau tidak ditemukan bekas bubuk mesiu di jas yang digunakan oleh Ooba-san.

“Ah kalau begitu, modusnya adalah uang. Periksa semua orang yang masuk ataupun keluar dari gedung ini, segera!” perintah detective Sato kemudian.

“Tidak . . . itu tidak perlu. Pelakunya sudah di tangan kita. Jadi bisakah kita sekarang menunjukkan kebenarannya?” pinta Shinichi.



Ooba-san masih saja mengelak tuduhan yang dilontarkan. Begitu pula Tatsumi-san yang memberikan pengakuan kalau ia bersama Ooba-san terus menerus, jadi tidak mungkin ia pelakunya.

“Aku tidak meragukan kalau kau terus bersama dengan Ooba-san. Kejadian yang sesungguhnya . . . ada di depanmu.” Shinichi memperagakan saat Tatsumi-san hendak dicium oleh Ooba-san. “Waktu itu . . . ketika kau, Tatsumi-san, menutup mata dan berada di depan elevator untuk berciuman dengan Ooba-san. Seperti ini, melingkari kepalamu dengan tangan kirinya dan menutup telingamu . . . dia menciummu sambil menekan tombol lift . . . waktu ketika pintu lift terbuka . . . ayahmu ditembak dengan senjata berperedam.”

“Meskipun menggunakan senjat berperedam, tapi dalam jarak sedekat ini, bukankah seharusnya dia menyadarinya?” elak detective Sato.

“Keadaan waktu itu, tepat ketika pesta dimulai. Sehingga jika dikombinasikan dengan caranya menutup telinga Tatsumi-san, maka Tatsumi-san tidak akan menyadarinya,” jelas Shinichi.



“Ada yang aneh dari kesimpulanmu,” elak Ooba-san. “Kenapa presdir masih ada di lift, padahal dia telah berniat untuk pulang. Tidak mungkin kan ia sengaja berada di dalam lift hanya untuk ditembak olehku.”

“Tentu saja. Presdir memang tidak berniat pulang. Karena dia berencana untuk membuat kejutan dengan muncul kembali dari kostum kartun yang akan diperkenalkan dalam pesta itu. Dan mungkin saja, kaulah yang mengusulkan hal itu pada presdir. Jadi alasan kenapa pakaian korban aneh, adalah karena ia bersiap untuk melepas jasnya dan berganti kostum kartun itu. Dan lagi pula, lift ini adalah lift khusus milik perusahaan game, jadi Ooba-san sudah memperkirakan kalau tidak akan ada yang menggunakan lift ini,” papar Shinichi.



“Hei, bukankah sudah dibuktikan kalau dari pakaianku, tidak ada jejak serbuk mesiu, huh?” Ooba-san masih saja mengelak.

“Bukankah kau berkedip ketika kau menggunakan kostum kartun itu? staf perusahaan yang mengatakan padaku. Kau berkedip bukan dalam rangka menjadi populer, tapi untuk menyembunyikan sesuatu di dalam kostum ini,” Shinichi mengeluarkan plastic berisi beberapa kantong sekaligus dan sarung tangan. “Kantong plastic dan sarung tangan ini kau gunakan untuk melindungi lenganmu dari serbuk mesiu.”

“Kalau dia melakukan itu, bukankah Tatsumi-san pasti akan menyadarinya?” protes detective Sato lagi.

“Kalau keadaannya begini . . . (seorang staf mematikan lampu). Maka Tatsumi-san tidak akan menyadari apa yang dilakukan oleh Ooba-san. Setelah memberikan hadiah untuk Tatsumi-san, tanpa berpisah darinya, kau membuang senjata berperedam itu di tempat sampah yang ada di dekat toilet.”



“Dan lagi, pasti terbukti ada bekas sidik jarimu di kantong itu,” lanjut Shinichi.

Ooba-san tersenyum, “Kalau begitu aku beruntung, karena tidak hanya aku yang memegang kantong itu. Tapi juga staf lain disana,” Ooba-san menolah ke arah seorang staf.

“Benar. Aku juga memegangnya. Karena direktur Ooba-san mengatakan itu bagian penting dari kostum,” ucap staf tadi.

“Keimpulanku, ada orang yang memang iri padaku dan sengaja melakukan semua ini untuk menjebakku,” elak Ooba-san lagi. “Jadi detektif, berhentilah mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu. Bukankah tiap tuduhanmu, pasti bisa aku jawab dengan logis, huh?”

“Mutiara pink . . . bukankah kau mengatakan kalau hadiah kalung mutiara pink itu akan cocok dengan anting yang digunakan oleh Tatsumi-san. Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?” Tanya Shinichi.

“Bodoh. Dengan hanya melihatnya tentu saja . . . “ucapan Ooba-san terputus ketika melihat ke arah anting yang dikenakan Tatsumi-san.

“Anting itu baru saja dibeli Tatsumi-san sebelum datang ke gedung ini. Jadi ini pertama kalinya kau melihatnya. Di tempat yang nyaris gelap seperti ini . . . anting yang dikenakannya hanyalah sebuah bola hitam. Dan tidak mungkin mengetahuinya kalau itu adalah pink, kecuali . . . cahaya datang dari lift yang terbuka dan kau bisa melihat warna aslinya. Bagaimana kau menjelaskan hal ini, Ooba-san? Untuk alasan apa kau membuka pintu lift ini?” Shinichi membuka pintu lift.



“Kenapa aku membuka pintu lift? Ada jawaban sederhana untuk hal itu. Aku berjanji untuk membalaskan dendam ayahnya pada Tatsumi-san. 20 tahun yang lalu, Tatsumi-san mendekati ayahku yang merupakan pemilik perusahaan game. Dia menawarkan merger yang ternyata adalah pengambilalihan. Ayahnya menjadi wakil presdir yang hanya status saja. Karena itu, ia bunuh diri dan membuatnya seolah dilakukan oleh Tatsumi-san. Tapi . . . seorang lelaki muda dengan kemampuan mengesankan seperti mala mini . . . yang menghancurkan semuanya,” cerita Ooba-san kemudian.

“Ooba-san, bukankah selama ini papa sangat baik padamu?” protes Tatsumi-san.

“Ya, dia baik padaku karena merasa berhutang pada ayahku. Tapi sepertinya, aku tidak akan mengalami akhir yang sama dengan ayahku,” Ooba-san mengakhiri ceritanya dan menyerahkan diri pada polisi.



“Oh, aku ingat!” seru detective Sato kemudian. “Kasus 20 tahun yang lalu, yang pernah diceritakan oleh inspektur Megure padaku, itu . . . Kudo Yusaku. Akhir yang menyedihkan ya, diselesaikan oleh dua generasi, Kudo Yusaku dan Kudo Shinichi. Benar kan Shinichi?”

Detective Sato melihat sekeliling mencari Shinichi, tapi Shinichi sudah tidak ada disana.



Shinichi kembali menemui Ran,” Maaf . . . tadi perlu waktu lama.”

“Ya.”

“Oya, Ran. Aku . . . kamu . . . “ ucapan Shinichi terputus.

Tiba-tiba lampu di restoran itu padam. Dan seorang pelayan mendekat, “Maaf, restoran akan tutup.”

“Ah, maaf. Kami akan segera pergi,” ucap Shinichi kemudian.

Rencana Shinichi gagal. Dan makan malam yang direncanakan juga tidak berhasil sama sekali. Shinichi menelan kekecewaan dalam, dan Ran . . . masih bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya ingin dikatakan Shinichi padanya. (hihihi . . . kasian Shinichi, rencanya gagal)

Kembali ke ruangan putih. Shinichi memasukkan password di panel sentuh itu, elevator. Dan pintu ruangan sebelah terbuka.

“Ran!”

“Tunggu! Jangan mendekat!” larang Ran.

Shinichi heran dengan sikap Ran yang berubah dingin itu. Ada apa sebenarnya dengan Ran?

Kamis, 27 Oktober 2016

Detective Conan TV series 2011 ep - 10

– "Kasus pembunuhan saat chat berlangsung!"–


Ran dan Shinichi masih terjebak di ruangan serba putih. Tapi karena borgol di tangan mereka terlepas, kali ini Ran dan Shinichi terjebak di ruangan yang berbeda.

“Shinichi, tolong aku!”

“Ran!”

Dari panel sentuh yang ada di tembok, muncul sebuah tanggal terjadinya sebuah kasus. Flash back dimulai.

27 Juli 2010

Detective Kogoro sedang memiliki klien. Tapi karena ingin melihat konser Yoko Okino, akhirnya janji yang dibuat dengan klien tidak bisa ditepati. Karena itulah, Ran yang menggantikan ayahnya untuk chat bersama klien.

Klien bernama Mizutani Yukino. Ia mengalami kekerasan yang dilakukan oleh kekasihnya, Kubo Kensuke. Karena itulah ia tidak berani keluar dari apartemennya, dan hanya bisa chatting, untuk meminta bantuan detective Kogoro.

Gedoran dari arah pintu terdengar keras. Mizutani-san yang sedang mengobrol bersama Ran ketakutan. Ia yakin kalau itu kekasihnya, Kubo-san yang selama ini menganiayanya.

“Bagaimana kalau kita lapor polisi?” Ran menawarkan.

“Jangan, jangan lapor polisi. Aku tidak tahu apa lagi yang akan dilakukannya (Kubo-san) kalau lapor polisi,” elak Mizutani-san.

Keadaan semakin genting. Mizutani beranjak dari depan laptopnya, meski Ran melarangnya. Tidak lama sesudahnya, terdengar suara jeritan. Ran khawatir terjadi apa-apa dengan Mizutani-san. Ia beranjak menuju apartemen Mizutani-san di apartemen Beika. Tidak lupa Ran menghubungi Shinichi.

15 menit kemudian Ran sudah sampai di depan apartemen Beika. Di tangga, ia bertabrakan dengan seorang laki-laki tak dikenal. Ran mengabaikannya dan langsung menuju apartemen Mizutani-san, ruang 301.

Ruangan itu kosong, tapi berantakan. Ran juga melihat bercak darah di lantai. (berani amat yak ni cewe??). Tidak lama sesudahnya polisi, detective Sato dan Shinichi tiba disana.

“Jadi kau mendengar teriakan saat chating dengan Mizutani-san?” Tanya detective Sano.

“Iya, aku mendengar teriakan. Dan . . . jangan-jangan . . .”

“Tapi pembunuhan masih belum bisa dibuktikan kalau hanya dari bercak darah di lantai,” elak detective Sato. “Seperti apa Kubo-san itu?” tanyanya lagi.

“Entahlah, aku belum pernah melihatnya. Dia tidak pernah tampak saat chating.”

Petugas kemudian menemukan foto yang telah dirobek. Mizutani-san bersama seorang laki-laki, yang kemudian diyakini Ran sebagai Kubo-san.



“Shinichi, katakan sesuatu!” pinta Ran.

Shinichi masih asyik mengamati sekeliling ruangan. Ia melihat laptop yang menyala di meja. Shinichi curiga kalau pembunuhan itu tidak dilakukan di ruangan ini, karena laptop yang menyala itu tidak meninggalkan chat window yang terbuka. Padahal menurut penuturan Ran, kejadian itu terjadi selama chat berlangsung.

Ran ingat, waktu keluar dari apartemen, bertabrakan dengan seorang laki-laki, yang kemudian diyakini Ran sebagai Kubo-san.

“Jadi, apa laki-laki itu membawa sesuatu yang mencurigakan?” selidik Shinichi.

“Tidak.”

“Kalau dia tidak membawa apapun, hanya dalam 15 menit, kemungkinan mayat Mizutani-san masih ada di gedung ini,” Shinichi menyimpulkan.

Ran meminta detective Sato untuk segera bertindak. Detective Sato pun lalu memerintahkan para petugas untuk menyisir gedung apartemen itu.



6 jam kemudian . . .

Mayat Mizutani-san ditemukan di sebuah apartemen yang berjarak tiga jam perjalanan dari Beika apartemen oleh sang manager apartemen. Di sebuah kamar di apartemen mingguan Saitama. Petugas yang mengidentifikasi mayat menemukan mayat itu, diperkirakan meninggal antara pukul 8 hingga 8.30. Sama persis seperti waktu chat yang diceritakan Ran.

Shinichi memeriksa sekeliling. Ia menemukan laptop yang terbuka dan menyala, dengan desain bagian belakang sama persis dengan di apartemen Beika. Petugas mengatakan kalau Mizutani-san dibunuh di apartemen Saitama ini.

“Tidak mungkin! Mizutani-san sedang chating denganku di apartemen Beika,” elak Ran.

“Ran,” Shinichi menunjukkan tampilan chat lewat tabletnya.

“Ah. Benar, ini seperti latar belakang Mizutani-san waktu chat denganku tadi,” Ran membenarkan.

“Ini . . . dari sini,” Shinichi menunjukkan tempat di ruangan itu yang sama persis dengan di apartemen Beika.

“Eh? Apartemen ini didesain dengan . . . latar belakang yang sama dengan di apartemen Beika. Apa maksudnya ini?” Ran bingung sendiri.

“Dengan kata lain, kita tidak benar-benar tahu . . . di apartemen mana Mizutani-san chat, dari Beika apartemen . . . atau di apartemen Saitama ini.”



Shinichi berpikir lagi. Kalau MIzutani-san benar dibunuh di apartemen Saitama ini, maka benang merah dimana Kubo-san sebagai tersangka, putus. Jarak antara apartemen di Saitama dengan Beika, sekitar 120 km. “Ini membutuhkan 3 jam bermobil untuk sampai disini. Disini, dimana Mizutani-san dibunuh . . . Ran sampai di apartemen Beika, hanya 15 menit . . . ini mustahil,” gumam Shinichi.

“Kalau Kubo-san bukan pembunuhnya . . . apa yang aku dengar salah?” Ran bingung.

Petugas kemudian menemukan sebuah paspor dan tiket pesawat atas nama korban, Mizutani-san di ruangan ini.

“Dia berpikir untuk melarikan diri dari Kubo-san dan memulai hidup baru,” Shinichi heran dengan tiket pesawat yang ditemukan itu.

“Kudo-kun, ada yang meresahkanmu?” Tanya detective Sato.

“Meskipun dia bersembunyi disini dari Kubo-san hingga dia dapat melarikan diri keluar negeri . . . kenapa dia harus menata apartemen ini seperti di apartemen Beika? Kapan dia mulai menyewa apartemen ini?” selidik Shinichi lagi.

“Menurut manager apartemen, Mizutani Yukino-san menyewanya sejak seminggu yang lalu, lewat online.”

Ran lalu menunjukkan sebuah kertas. Di depannya daftar harga diskon, tapi yang dimaksud Ran sebaliknya. Ada catatan yang dibuat detective Kogoro mengenai kliennya, Mizutani-san ini. Ternyata Mizutani-san mulai chat dengan Kogoro, sejak seminggu sebelumnya.



Tiba-tiba Kubo Kensuke-san datang. Ia menyerbu masuk.

“Yukino! Yukino!” Kubo-san syok karena kekasihnya meninggal terbunuh. “Yukino . . . apa benar dia dibunuh? Siapa yang tega melakukan hal itu . . . “

“Kubo Kensuke-san? Kau dan Mizutani Yuki-san disini bertemu untuk membahas tentang perpisahan, iya kan?” selidik detective Sato.

“Apa kau mencurigaiku? Aku mencintainya,” ucap Kubo-san kemudian.

Tapi Ran tidak percaya. Ran tetap menuduh Kubo-san sebagai pelaku penganiayaan terhadap Mizutani-san, dan sekarang membunuhnya.

“Aku tidak berbohong. Aku korban. Dia yang bertanggungjawab dalam perantara perusahaanku . . . tapi dia mengambil uangku dengan melakukan penipuan. Kau bisa mengeceknya . . . “

Ran memotong ucapan Kubo-san. Ran semakin emosi. “Bohong! Kau selalu mengikuti Mizutani-san, itu yang dikatakannya padaku!”

“Benar, aku selalu mengikutinya. Itu karena uangku senilai 60 juta yen menghilang dari akun bank-ku. Jadi aku mencarinya untuk meminta uang itu kembal.

Kubo-san masih tetap mengelak apa yang dituduhkan Ran. Ia hanya mendatangi Mizutani-san untuk mengambil uang itu kembali dan sempat bertemu Ran ketika keluar dari apartemen.

“Mungkin ada orang ketika . . .” ucap Kubo-san kemudian.

“Maksudmu . . . cinta segitiga? Laki-laki lain huh? Yang lain . . . itu ada di tempat berbeda!” gumam Shinichi.

“Huh? Kau mengetahui sesuatu?” detective Sato dan Ran penasaran. “Shinichi, katakana pada kami!”

“Hanya ada satu kebenaran. Itu . . . cinta segitiga. Pelakunya . . . Kubo-san, pulanglah ke rumah. Dimana rumahmu?” ucap Shinichi kemudian.

“Matoiwa, tapi . . . “ Kubo-san ragu.

“Itu dua jam dari sini kan? Tolong antar dia dengan mobil polisi,” pinta Shinichi kemudian.

Ran protes dengan kelakuan Shinichi. Tapi Shinichi tidak peduli dan tetap dengan coolnya beranjak pergi.



Pagi harinya . . .

Kubo-san sedang berada di rumahnya. Ia mendapat panggilan video call dari Shinichi di laptopnya.

“Maaf mengganggumu, Kubo-san. Polisi menemukan sidik jari di tubuh korban. Kami ingin memastikan kalau ini bukan sidik jarimu. Mungkin polisi akan tiba dalam . . . dua jam. Mohon menunggu,” ucap Shinichi.

“Baiklah, aku akan menunggu,” ucap Kubo-san kemudian.

Kubo-san kemudian membuka lemarinya. Ia mengeluarkan tas dan kemudian segepok uang. Ia memasukkan uang itu ke dalam tas, dan kemudian beranjak keluar. Di pintu . . .

“Jadi benar kan, kau pembunuhnya, Kubo Kensuke-san?” tembak Shinichi.

Kubo-san kaget, “Ba . . . bagaimana?” (maksudnya, bagaiman secepat itu meraka sudah tiba di depan pintunya)

“Cara yang sama seperti yang kau gunakan,” Shinichi lalu berjalan ke sisi lain depan apartemen Kubo-san. Ia melepas sebuah papan warna hijau yang persis dengan pintu di apartemen Saitama tempat mayat Mizutani-san ditemukan. “Warna dan bentuk, berpengaruh besar dengan persepsi manusia, benar kan, Kubo-san? Itulah kenapa kau mendesain ruangan di apartemen itu sama persis,” tebak Shinichi kemudian.



Kubo-san kemudian dibawa oleh detective Sato bersama Shinichi dan petugas lain kembali ke Beika.

“Kudo-kun, tolong jelaskan semua ini,” pinta detective Sato.

“Kalau Mizutani-san dibunuh di apartemen mingguan di Saitama . . . itu tidak mungkin bagi Kubo-san . . . yang berada di apartemen Beika untuk membunuhnya,” Shinichi mengeluarkan tabletnya. “Sebenarnya, dia (Mizutani-san) dibunuh di apartemen yang ada sekitar 15 menit dari apartemen Beika. Dengan kata lain . . . seperti ini,” Shinichi menunjukkan Ran yang sedang chat dengannya di suatu tempat.

“Oh, Ran-chan! Dimana kau sekarang? Di apartemen mingguan Saitam atau di apartemen Beika?” Tanya detective Sato.

“Tidak di keduanya,” jawab Ran.

“Eh?” detective Sato heran.

“Ada apartemen ketiga. Tempat dimana kau membunuh dia kan, Kubo-san?

Rombongan itu sampai di apartemen ketiga. Detective Sato heran karena desain ruangan itu juga sama persis dengan dua apartemen yang lain.

“Benar Mizutani-san mengambil paksa uang senilai 60 juta yen darimu. Kemudian dia berencana membuatnya seolah-olah kau yang membunuhnya . . . dan kemudian ia bisa melarikan diri ke luar negeri,” lanjut Shinichi.

“Dia perempuan mengerikan!” elak Kubo-san.

“Untuk membuat orang lain mengetahui keadaannya dan seolah-olah dia dibunuh . . . dia menyewa jasa detective Kogoro,” lanjut Shinichi.

“Lalu teriakan yang aku dengar?” Ran heran.

Shinichi lalu menunjukkan sebuah rekaman. Disitu terdengar suara yang sama seperti yang di dengar Ran saat chat berlangsung.



“Tapi Shinichi, bagaimana kau menyadarinya kalau itu semua hanya pura-pura?” Tanya Ran.

“Kau pernah bilang kalau dia (Mizutani-san) terluka di wajahnya? Tapi setelah pembunuhan, tidak ada luka ditemukan di wajahnya,” papar Shinichi.

“Aku benar-benar telah ditipu!” Ran geram sendiri.

“Bercak darah di apartemen Beika adalah sesuatu yang memang direncanakan oleh Mizutani-san. Ia juga mengacak-acak isi apartemen untuk menguatkan hal itu. Sementara itu, Kubo-san yang tahu semua rencana Mizutani-san terus mengamatinya. Ran yang tidak tahu apa-apa termakan rencana Mizutani-san, dan datang ke apartemen Beika, serta bertemu dengan Kubo-san. Di apartemen ketiga yang disewa Mizutani-san, barulah Kubo-san membunuh Mizutani-san,” Shinichi melanjutkan.

Flash back . . .

Kubo-san yang mengetahui semua rencana Mizutani-san datang ke apartemen ketiga. Disana mereka berdua sempat beradu argument, sebelum akhirnya Kubo-san membunuh Mizutani-san dengan pisau.

Mizutani-san sendiri, untuk melengkapi rencananya, hanya menyewa dua apartemen, apartemen Beika dan apartemen ketiga. Sedangkan apartemen mingguan di Saitama disewa oleh Kubo-san untuk melengkapi rencananya. Kubo-san memanfaatkan rencana yang dibuat oleh Mizutani-san untuk benar-benar membunuhnya di apartemen ketiga.

Flash back selesai . . .

“Kau memanfaatkan rencana Mizutani-san, kemudian membawa mayat dan PC ke apartemen Saitama ini. Kemudian muncul di waktu berbeda, supaya orang lain percaya kau bukan pelakunya. Rencana yang sempurnya,” Shinichi melanjutkan.



“Meskipun ini rencana yang sempurna . . . bagaimana kau menyadarinya?” Kubo-san heran.

“Karpet. Ada banyak jejak darah di karpet yang ada di apartemen Saitama. Tapi, tidak ada sedikitpun darah di lantai dan dinding, itu hanya ada di karpet saja. Ketika aku menyadari hal itu, hanya ada satu hal. Kalau kejahatan itu terjadi di tempat lain.”

“Tapi . . . tidak ada bukti kalau tubuh Mizutani-san dibawa dari sini . . . “ protes detective Sato.

“Itu karena dia tidak membawa mayatnya saja. Dia juga membawa karpetnya. Satu lagi, bercak darah ini . . . “Shinichi menunjuk bercak darah di lantai dekat dinding. “Ketika itu dihubungkan dengan bercak darah di karpet, itu akan menjadi karakter “ku”. Mizutani-san mencoba membuat pesan kematian bahwa dia dibunuh olehmu, Kubo-san.”



“B******! Aku sudah merencanakan dengan sempurna. Meskipun kau tahu ada apartemen ketika, kau tidak mungkin dengan mudah menemukannya. Bagaimana kau menemukan apartemen ini?”

“Mudah. Dia dibunuh sekitar 8.16 malam. Ran bertemu denganmu di apartemen Beika sekitar jam 8.31 malam. Ketika aku memperkirakan kalau kau membunuh Mizutani-san di apartemen ketiga . . . sementara apartemen ketiga hanya berjarak sekitar 15 menit dari Beika apartemen . . . “

Rupanya malamnya Shinichi sudah melakukan simulasi, dengan Ran yang berperan sebagai mayatnya. Stopwatch dinyalakan . . .

“Berat!” keluh Shinichi yang mengangkat tubuh Ran dan kemudian memasukkannya dalam koper.

“Hei, hei, ow!” Ran protes.

(tega nian ni cowo, masa cewe-nya dijadikan bahan percobaan, hahaha . . . kasiaaaan si Ran. Oh ya ada adegan yang kalau teliti, menunjukkan sesuatu, saat itu Shinichi lagi mengangkat tubuh Ran, dan nyaris memegang ** SENSOR hehehe . . . liat sendiri deh)

Shinichi kemudian juga membawa tubuh Ran yang ada dalam koper dan karpet yang ada disana.

“Ketika aku memastikan waktu yang kau perlukan untuk menciptakan alibi . . . itu 3 jam 10 menit. Dengan kata lain, karena tubuh Mizutani-san ditemukan 6 jam kemudian . . . waktu yang tersisa masih 2 jam 50 menit.

(jadi begini sodara-sodara . . . Kubo-san menciptakan alibi dengan ketemu Ran di apartemen Beika jam 8.31, lalu kembali ke apartemen ketiga (15 menit), kemudian waktu yang diperlukan untuk memasukkan mayat dan membereskan ruangan tempat kejadian kan 10 menit, terus Kubo-san membawa mayat itu ke apartemen Saitama. Dari apartemen ketiga sampai apartemen Saitama kan butuh 3 jam dikurangi 15 menit untuk bermobil. Jadi waktu yang diperlukan oleh Kubo-san untuk menciptakan alibinya adalah total 3 jam 10 menit. Nah mayat baru ditemukan 6 jam kemudian, jadi masih sisa waktu 2 jam 50 menit yang bisa digunakan Kubo-san untuk berada jauh-jauh dari apartemen Saitama dan baru muncul kemudian ketika polisi datang seperti orang yang tidak tahu apa-apa)

“Ketika kita membuat lingkaran dengan jari-jari jarak yang bisa ditempuh dalam 2 jam 50 menit dari apartemen Saitama . . . dan lingkaran lain dengan jarak 15 menit dari apartemen Beika . . . akan ada perpotongan. Apartemen ketiga pasti ada di area perpotongan ini. Dan lagi, di area perpotongan ini . . . hanya ada satu komplek apartemen, yakni apartemen ketiga ini,” papar Shinichi lagi.



“Aku bukan yang terburuk! Yang jahat adalah wanita itu,” Kubo-san masih mengelak. “Aku mencintai wanita itu dari dalam hatiku. Aku tidak berencana membunuhnya!”

“Kau bilang kau tahu pengkhianataannya . . . dan kau merencanakan semua kejahatan ini. Kubo-san . . . bagaimanapun juga, kau telah membunuhnya.”

Kubo-san lalu dibawa oleh detective Sato ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya ini.

“Ahh . . . aku benar-benar ditipu dan dimanfaatkan oleh mereka berdua,” keluh Ran kemudian.



Kembali ke ruang putih. Shinichi kemudian memasukkan password di panel sentuh itu, "Video Chat". Sebuah pintu terbuka, tapi gelap.

“Ran!”

Tapi bukan menemukan Ran, Shinichi malah menemukan ponsel Ran. Sebuah nomer tidak dikenal memanggil . . . to be continue

Preview episode selanjutnya . . .

“Trik perbedaan waktu tersembunyi dalam elevator.”

Simak episode selanjutnya, makan malam romantis Ran dan Shinichi yang harus terganggu oleh pembunuhan misterius dalam elevator yang bergerak!

“Akankah Shinichi akhirnya mengungkapkan perasaannya pada Ran?”

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.