Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Jumat, 18 November 2016

Tokyo Dogs ep - 04

“Ya ampun, bahkan ibu rumah tangga menggunakan narkoba sekarang?” keluh Maruo yang kali ini bersama Sou mengintai transaksi narkoba di depan sebuah toko serba ada.

Hari itu jam lima pagi. Dan karena suspect-nya adalah ibu rumah tangga, rupanya ia memanfaatkan keramaian saat bukanya toko serba ada di pagi hari.

“Lihat, toko itu buka jam lima. Kalau keadaan ramai, kita pasti sulit untuk mengidentifikasi si pelaku,” keluh Maruo.

“Karena itulah kita perlu menyusup,” ucap Sou sambil melangkah ke arah toko tanpa menunggu persetujuan Maruo.

Toko itu buka jam lima tepat. Mereka membuka sesi “all you can bring, it’s you must pay”. Jadi seberapapun mereka mampu membawa/memasukkan ke dalam plastic, maka akan dihitung satu kantong plastic saja. Hal ini tentu saja merupakan momen istimewa bagi para ibu.

Maruo dan Sou menyusup ke dalam diantara ibu-ibu itu. Dan mau tidak mau, mereka harus mengikuti cara ibu-ibu itu memasukkan bahan makanan ke dalam kantong plastic, tidak peduli bahkan itu sudah penuh.

“Tapi ini melanggar aturan,” protes Sou yang tidak dipedulan oleh ibu-ibu itu.

Tidak lama kemudian, si pengedar narkoba beraksi. Sou dan Maruo yang mengetahuinya, langsung beraksi. Sou mencegat si pengedar, sementara Maruo mencegat ibu rumah tangga yang menjadi konsumennya.

“Miss, bisakah kita bicara?” wanita itu tadinya hendak melarikan diri. Tapi melihat si pengedar sudah lebih dulu tertangkap, ia lemas dan menyerah.



Sebuah perusahaan roti mendapat surat ancaman.

“Berikan aku 100 juta yen, atau keluarga bahagia yang makan roti dari Mochizuki akan mati.”

Unit investigasi khusus sudah berkumpul. Mereka melakukan meeting dalam rangka menanggapi si pengirim surat ancaman tadi yang juga meletakkan racun, potassium sianida pada roti yang ada di pasaran.

Maijima-san, satu-satunya personel cewe di tim khusus itu tertegun melihat symbol yang ada di akhir surat ancaman itu. symbol itu mengembalikan ingatannya pada sebuah peristiwa beberapa tahun sebelumnya.

“Meskipun di print, sepertinya tulisan di surat ancaman ini berasal dari prosesor lama,” ucap Maijima-san.

“Bagimana, kau akan ikut?” Tanya chef Ootomo.

“Ya, aku akan ikut.”



Sementara itu, di kafe tempat Yuki bekerja, tampak pacar Horikawa, Maki datang. Dalam waktu singkat, ia bisa menebak apa saja yang dilakukan oleh Horikawa.

“Kau bilang, kau depresi karena tidak bisa melakukan pekerjaan investigasi seperti biasanya,” komentar Maki.

Yuki yang mendengar cerita Maki sedih. Horikawa terpaksa harus bekerja di kafe itu untuk menjaga Yuki, sehingga ia tidak lagi bertugas di lapangan bersama Maruo.Yuki minta maaf.

Chef kemudian menyuruh Yuki untuk mengantarkan pesanan pada pelanggan. Tidak sengaja Yuki menumpahkan minuman itu ke dokumen yang dibawa si pelanggan itu. Dia marah-marah pada Yuki. Yoshimura yang tahu hal itu mendekat. Ia berusaha menenangkan si pelanggan, yang kemudian dengan sedikit ancaman, berhasil ia taklukkan. (hmmm . . . sepertinya si pelanggan ini ada hubungannya dengan yakuza dan Yoshimura, jadi dia manut sama Yoshimura)



Kepolisian mencurigai pelaku pengirim surat ancaman di toko roti itu adalah penjahat yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya, Tamura. Tamura sendiri belum lama baru keluar dari penjara karena kejahatannya itu. Tidak sulit bagi unit investigasi khusus untuk mengetahui rumahnya. Kali ini shif jaga bagi Maruo dan Sou.

Maruo baru saja kembali dari membeli makanan. Ia menemui Sou yang duduk di belakang kemudi mobilnya. “Ini dingin sekali. Apa ada perkembangan dari Tamura?”

“Dia belum kembali. Aku penasaran dimana dia sekarang,” ucap Sou tidak beralih dari memandangi rumah Tamura.

“Mungkinkah dia sedang menyebarkan racun di roti? Ini, kita lihat foto Tamura,” ucap Maruo sambil mengambil berkas berisi artikel penangkapan Tamura beberapa tahun sebelumnya,” Wajahnya biasa saja, hantu makanan akhirnya ditangkap, huh? Lihat ini, Maijima-san tampak manis ketika lebih muda. Tidak tertarik?” Maruo melihat ke arah Sou. (maksud hati ingin menjodohkan Maijima-san sama Sou, hahaha). Sebelum memasukkan racun, ia membuat surat tantanga, untuk meminta uang pada korban. Modus operandinya ini membuatnya menjadi pahlawan bagi beberapa orang. Itu yang dikatan,” Maruo berhenti membaca artikel itu.

“Bodoh! “

“Maijima-san dan Tamura ini memiliki suatu hubungan, aku pikir. Kenapa ia tidak mengatakan apapun?”

“Jika ia tidak ingin mengatakan apapun, kita tidak seharusnya ingin tahu.”

“Mungkin . . . mantan pacarnya?” Maruo masih saja usil.

“Berhentilah berasumsi yang aneh-aneh,” tegur Sou.

Maruo kemudian membuka plastic berisi makanan yang tadi dibelinya. Ia mengeluarkan semangkuk soup panas—Dashi/oden—(soup khas Jepang yang terbuat dari ikan dan tumbuhan laut lain) dengan sumpitnya. Maruo membaui soup itu dengan semangat. Sou protes melihat Maruo makan sambil menginvestigasi.

“Dalam investigasi, harusnya kau membiarkan satu tanganmu tetap bebas.”

“Makan roti dan susu hanya ada dalam drama detektif. Detektif sungguhan makan oden seperti ini,” elak Maruo.

“Bohong! Kalau si pelaku datang, apa yang akan kau lakukan dengan soup itu? Apa kau akan membuangnya?”

“Tidak bisakah aku tetap membawanya sambil berlari?”

“Itu akan tumpah, dan itu panas,” Sou mulai terpancing emosi.

“Kan bukan kau yang memakannya!” Maruo tidak terima.

“Shhh!!!”

Seperti biasa, mereka berdua berdebat hal tidak mutu saat investigasi. Maruo lalu mulai makan oden itu dengan nikmatnya, dan (liat deh muka anehnya Sou), Sou yang kepengen hanya bisa melihat. Hingga akhirnya, Sou meminta Maruo menyisakan bagian untuknya. Maruo heran.

“Ayo ganti shif,” Maijima-san tiba-tiba datang dan mengagetkan mereka berdua.



Maruo kembali ke apartemen. Ia makan bersama Yuki, dan diakhiri dangan minum bersama. Yuki menceritakan betapa cool-nya Yoshimura saat menolongnya tadi.

“Aku juga bisa melakukannya,” Maruo lalu mulai mempraktikkan seperti Yoshimura, tapi tidak diabaikan oleh Yuki. “Ah, ayo beri komentar.”

Tapi sepertinya Yuki sudah asyik dengan minumannya, dan sedikit mabuk. Yuki meminta pada Maruo agar Horikawa kembali bertugas di lapangan, tidak perlu menjaganya lagi. Yuki meyakinkan kalau ia akan baik-baik saja karena ada Yoshimura. Tapi Maruo tidak mengijinkan, karena ia tahu, Sou pasti tidak akan setuju.

“Ngomong-ngomong, kau bisa bersandar di tanganku ini,” Maruo menjulurkan tangannya dan meletakkannya di kursi, menawari Yuki untuk bersandar disana.

Yuki yang setengah mabuk mengiyakan saja tawaran Maruo. “Baiklah . . . “

“Eh? Kau bercanda?” Maruo syok sendiri karena Yuki tidak menolak ulah usilnya satu ini. “Serius?” (kalau ngeliat mukanya Maruo bawaannya pengen ketawa aja). Maruo merapikan kumisnya dan bertampang playboy, lalu, “Itadakimasu—kalimat ini biasanya digunakan untuk mengawali makan, tapi dalam kasus Maruo, dia mau mencium Yuki—.

Tapi . . . “Huh? Ada apa? Tidakkah wanita ini milikku (saat ini maksudnya). Aku Maruo, raja group kencan?” Maruo heran sendiri, seorang raja group kencan sepertinya tidak bisa mencium gadis di depannya. (hahaha . . . kucing dikasi ikan, tapi ga berani makan ikannya)



Hari berikutnya, Sou dan Maruo bersama yang lainnya dari tim investigasi khusus kembali berkumpul. Mereka membahas surat ancaman dari Tamura yang datang lagi dan meminta uang disertai tempat pertemuan untuk menyerahkan uang itu. Kali ini Maijima-san yang akan kembali melakukannya. “Aku yang akan menangkapnya dengan tanganku sendiri.”

Selesai meeting, Sou, Maruo dan Suzu-san datang ke kafe tempat Yuki bekerja. Mereka membahas kasus itu. Horikawa yang tertarik dan kembali bersemangat karena ada kasus mendekat dan ikut mendengarkan.

“Suzu-san, sebenarnya ada apa dengan Maijima-san dan Tamura dulu?” Tanya Sou.

“Maijima-san dan Tamura, memiliki hubungan yang unik,” ucap Suzu-san sebelum memulai ceritanya.

Beberapa tahun yang lalu, setelah berhasil mengancam beberapa perusahaan makanan, Tamura menjadi pahlawan bagi sebagian orang. Saat itu Maijima-san lah menangani kasusnya. Suatu kali, hari pernikahan Maijima-san. Unit investigasi khusus mendapat informasi mengenai keberadaan Tamura ini. Mengetahui apa yang terjadi, Maijima-san meninggalkan upacara pernikahannya. Ia memilih untuk menangkap Tamura. Tamura pun berhasil tertangkap, tapi pernikahan Maijima-san gagal. Sejak saat itulah, Maijima-san tidak pernah lagi menangani kasus lapangan.

“Jadi begitu kejadiannya,” gumam Sou kemudian.



Sou dan Maruo membawa Yuki untuk check up, menemui dr. Yuri, psikolog dan ahli neurologi yang menanganinya. Yuri menanyakan beberapa pertanyaan, termasuk mengenai perkembangan hubungan socialnya selama bekerja di kafe.

“Aku tidak tahu, apa aku menyukai Yoshimura-kun sebagai laki-laki. Tapi, tiap kali bersamanya, aku selalu merasa nyaman,” cerita Yuki.

“Apa itu berbeda dengan rasa suka?” Sou nyambung ucapan Yuki.

“Aku pikir itu berbeda. Ah kau tidak tahu mengenai hal seperti itu. Karena kau Takakura Sou.”

“Dia tidak tahu kata “cinta”. Dia . . .” Maruo menghentikan kalimatnya ketika Sou menoleh kearahnya dengan wajah tidak enak.

Kali ini Sou menunjukkan dua buah foto pada Yuki. Foto seseorang yang diidentifikasi sebagai anak buah Jinno. Dr. Yuri protes karena seperti biasa, Sou memaksa Yuki untuk mengingatnya. Maruo juga ikut memprotes sikap Sou. Akhirnya Sou memilih pergi.



Hari yang dijanjikan pada surat ancaman dari Tamura.

Beberapa personel unit investigasi khusus sudah bersiap di pos masing-masing. Tidak ketinggaln Sou dan Maruo dengan teropong masing-masing bertelungkup di rerumputan.

Tiba-tiba telepon Sou bergetar. Seperti biasa itu telepon dari ibunya. Ia menanyakan berapa jumlah uang yang diminta Sou, nyonya Takakura merasa kalau anaknya, Sou yang menelepon dan meminta sejumlah uang. Sou mengelak. Sementara Maruo yang ada di sebelahnya hanya melihat dengan kesal sikap Sou. Ketika seseorang mendekat Maijima-san—yang bertugas membawa uang—, Sou memaksa mematikan teleponnya dan berpesan untuk tidak memberikan uang pada siapapun.

Seseorang mendekati Maijima-san. Seluruh unit bersiaga, tapi ternyata orang itu bukan Tamura. Ia protes pada Maijima-san karena menghalanginya saat akan membuat sketsa. Pemuda itu akhirnya pergi.

Tidak berselang lama, seorang anak kecil mendekat. Ia memberikan sebuah surat pada Maijima-san.

“Darimana kau mendapatkan ini?” selidik Maijima-san.

“Seseorang memberiku saat aku bermain tadi,” ucap gadis itu polos.

Surat itu ternyata berisi petunjuk baru. Tamura memindahkan tempat pertemuan.



Maijima-san berlari sambil memberitahukan tempat pertemuan pada unit yang lain lewat alat komunikasinya. Sementara itu Sou dan Maruo mengintai dari sisi mobil di dekat Maijima-san berada sekarang. Dan seperti biasa, mereka berdua berdebat hal tidak mutu.

“Mengetahui kalau itu Maijima-san, dia mungkin mengubah strategi,” gumam Sou.

“Aku benar-benar tidak mengerti,” keluh Maruo.

“Aku tidak meminta jawabanmu,” ucap Sou sambil memandang ke arah Maruo.

“Aku dalam proses menjadi bagian elit kepolisian Jepang.”

Sou tertawa, “Aku dengar kepolisan Jepang cukup terkenal. Aku akan melihat bagaimana nantinya kau.”

“Hei, hei . . . kau mulai memandang rendah orang lain lagi!” protes Maruo.

“Mulailah dengan membaca sepuluh buku dasar tentang psikologi criminal,” saran Sou.

“Aku tidak mau. Aku ngantuk kalau membaca buku.”

“Bacalah sambil makan permen karet,” saran Sou.

“Aku tetap merasa ngantuk meski sudah makan permen karet.”

“Kalau begitu makan 100 permen karet sekaligus!” Sou mulai terpancing.

“Jika aku memasukkan 100 permen sekaligus, mulutku akan penuh! Dan aku tidak bisa mengunyahnya!”

“Kunyah itu meskipun penuh, dan mulailah membaca saat itu juga!” Sou memberikan saran yang semakin tidak masuk akal.

“Kenapa kau memaksaku membaca?!” Maruo kesal.

“Sssh. Konsentrasi!” (Kelana ga pernah ngerti dua polisi ini, aneh bin ajaib, hahaha . . . ga bisa nahan tawa kalau mereka udah mulai adu mulut gini)

Maijima-san menemukan sebuah kotak kertas, dan membukanya. Disana ada sebuah ponsel. Tidak lama kemudian, ponsel itu berdering. Maijima-san mengangkatnya.



Si penjahat meminta Maijima-san untuk melemparkan tas berisi uang yang dibawanya pada truk warna hitam yang akan segera melintas. Semua unit bersiap.

Sebuah truk berwarna hitam melaju di jalan yang ada di bawah tempat Maijima-san berada. Ia kemudian melemparkan truk itu ke atas truk. Sou bergegas kembali ke mobil dan mengejarnya, tapi melihat ada mobil lain yang mendadak keluar dari trowongan yang sama, Sou mengubah rencanya.

“Ikuti mobil warna silver itu,” perintah Sou yang diiyakan Maruo disusul Maijima-san.

Sementara itu Suzu-san dan Mashiko-san menyusul truk itu ke trowongan. Disana mereka menemukan truk itu dalam keadaan kosong. Truk itu adalah truk curian.



Maruo, Sou dan Maijima-san melanjutkan pengejaran. Hari sudah beranjak malam.

“Bagaimana kau bisa mengenali kalau itu mobil si pelaku, bukankah banyak mobil lain yang serupa?” Tanya Maruo sambil menyetir. (Maruo payah nih)

“Tentu saja aku tahu. Dari plat mobilnya,” jawab Sou yang menyuruh Maruo untuk mempercepat pengejaran.

Sou mengelurkan setengah badannya di jendela mobil. Ia mulai menembaki mobil si pelaku. Tidak lama kemudian mobil yang mereka kejar berhenti. Maijima-san bergegas keluar diikuti Sou dan Maruo. Mereka memaksa sopir mobil itu keluar . . . ternyata, dia bukan pelaku yang mereka kejar.

Mereka mengejar mobil yang salah. Si sopir mengaku tidak tahu apa-apa, ia hanya menurut saja untuk menyetir ke arah itu, karena ditodong senjata api sebelumnya.



Kembali ke kantor pusat kepolisian Jepang. Sementara Sou asyik sendiri dengan kegiatannya, (kali ini yang dibuka Sou google, bukan glegle seperti di Conan, hihihi) rupanya ia sedang mencari artikel terkait dengan peristiwa yang sama beberapa tahun silam.

“Jadi dia hanya pengalih perhatian yang ditodong pelaku sebenarnya dengan senjat api?” Tanya chef Ootomo.

“Itu tidak seperti gaya Tamura,” Maijima-san curiga.

“Itu benar,” sambung Sou dari arah belakang. “Mashiko-san, bisakah aku minta tolong untuk mengidentifikasi beberapa hal?”



Beda di kepolisian, beda pula di bar tempat Yoshimura-kun berada. Yoshimura kembali pada sifat asalnya, bagian dari Yakuza. Kali ini ia tengah memukuli salah seorang anak buah Jinno. Orang ini yang tadi gambarnya ditunjukkan Sou pada Yuki.

“Kau pikir, setelah menghianati bos, kau bisa hidup tenang?” tantang orang itu.

Tanpa ragu Yoshimura mengambil pistol dan menembak orang itu.

Sementara itu, Maruo kembali datang ke kafe. Kali ini ia bersama Shigeo.

“Bagaimana investigasi berjalan? Aku penasaran karena sepertinya kalian bekerja keras,” Horikawa penasaran.

“Tempat ini pos penting bagimu,” Maruo berusaha menghibur Horikawa.

“Ah ya, bagaimana kalau datang ke group kencan, Horikawa-san?” ajak Shigeo. “Sekali-sekali tidak apa-apa kan? Kali ini kamu mengundang perawat.”

“Jika mengajakku, sepertinya lebih baik kalau kau mengajakku bekerja,” ucap Horikawa kemudian.

“Ah, aku benar-benar tidak mengertimu,” ucap Shigeo.

Yuki kemudian datang membawakan minuman pesanan mereka.

“Apa, group kencan dengan perawat?” Yuki ikutan nimbrung.

“Itu, bukan seperti itu,” elak Maruo. “Maksudku, meskipun ada mereka, aku tidak akan pergi.”

“Kenapa kau bicara seperti itu presiden? Bukankah perawat adalah favoritmu?” protes Shigeo (hahaha . . . ni anak kagak ngerti ya, kalau Maruo lagi pengen merubah image-nya di depan Yuki)

“Bukan seperti itu!” Maruo kesal pada Shigeo.

“Kau benar-benar menyukai mereka kan, Maruo?” ucap Yuki sambil beranjak pergi.

“Kau sebenarnya kenapa Presiden?” Tanya Shigeo.

Maruo hanya bisa memandangi kepergian Yuki dengan muka pasrah. Gagal sudah usahanya untuk menarik perhatian Yuki.



Sementara itu Sou pulang ke rumah ibunya. Ibunya menceritakan tentang insiden telepon itu. Nyonya Takakura benar-benar menganggap kalau itu Sou karena orang di telepon itu bilang “Ini aku”.

“Mama terlalu baik pada orang,” ucap Karin adik Sou kali ini.

Benar saja, nyonya Takakura memang terlalu berbaik sangka pada orang. Ia sulit untuk menolak permintaan orang lain, termasuk memesan susu yang sedang mereka nikmati itu.

“Kalau kakak tidak sering-sering berkunjung, keluarga Takakura pasti dalam masalah,” ucap Karin lagi yang diiyakan mamanya.

“Aku selesai mandi,” tiba-tiba Nakatani-kun, pacar Karin keluar dengan hanya menggunakan handuk.

Sou syok karena melihat Nakatani-kun seperti itu. “Dia sudah seperti jadi bagian dari keluarga ini,” gumam Sou.



Kembali ke markas kepolisian Jepang.

“Kau curiga kalau ini bukan perbuatan Tamura kan, Maijima-san?” Tanya Sou.

Akhirnya Maijima-san mengakui kalau sejak awal dia memang curiga, kalau kasus ini bukanlah perbuatan Tamura. Karena memang yang dilakukan sekarang bukanlah gaya Tamura. “Meski aku ingin percaya kalau ini bukan perbuatan Tamura, tapi aku seorang detektif. Aku belum akan men-judge­ sebelum melakukan investigasi,” tegas Maijima-san.

Telepon di seberang ruang berbunyi. Mashiko-san yang mengangkatnya. Ternyata itu dari Tamura, ia meminta untuk bertemus secara pribadi dengan Maijima-san.

Maijima-san memenuhi permintaan Tamura untuk bertemu di halaman sebuah kuil. “Aku kaget melihat berita di televisi. Sekarang ini aku sudah hidup tenang dan bekerja dengan baik,” ucap Tamura.

“Aku tahu. Aku juga ingin mempercayai kalau kau bukan pelakunya. Tapi . . . “

“Jadi kau juga mencurigaiku? Kau menakutkan,” sesal Tamura.

“Aku seorang detektif. Aku harus memastikan telebih dahulu semuanya.”



Sou dan Maruo baru keluar dari kantor pusat dan sekarang berada di basement. Tiba-tiba ponsel Maruo berdering, dari Mashiko-san. Ada kabar kalau mereka berhasil mengidentifikasi pelaku yang mencampurkan racun pada roti di pasaran.

“Aku punya ide bagus, dimana pelaku itu tinggal,” ucap Sou.

“Huh?” Maruo tidak mengerti tapi tetap mengikuti Sou.

Sementara itu di kafe, Horikawa mendengar pembicaraan dua orang mahasiswa yang datang ke kafe itu. Mereka membicarakan tantang pelaku kejahatan racun roti itu. Horikawa penasaran.

“Dari universitas mana kalian? Apa kalian tahu soal “dia” ini?” Tanya Horikawa.

“Eh? Universitas Touritsu,” jawab mahasiswa itu.

Horikawa berusaha menghubungii Maruo dan Sou untuk memberitahukan informasi mengenai si pelaku. Tapi telepon kedua orang itu mati. Horikawa panic.

“Pergilah! Bukankah universitas Touritsu tidak jauh? Aku tidak apa-apa,” ucap Yuki yang tahu keadaan Horikawa.

Horikawa sempat bimbang, tapi kemudian ia menyetujui usul Yuki. Horikawa bergegas mendatangi universitas Touritsu dan mencari si pelaku.



Sepeninggal Horikawa, Yuki dan Yoshimura membereskan kafe. Sementara Yoshimura memperbaiki lampu, Yuki memasang bunga di atas jendela kaca. Melihat kaca, Yuki sekilas mendapatkan kembali ingatannya. Beberapa kali Yuki kembali mengingat, hal itu membuatnya pusing, dan Yuki ambruk.

“Yuki-chan, kau baik-baik saja?” Yoshimura membantu Yuki yang ambruk di lantai untuk bangun.

“Ah ya, aku baik-baik saja.”



Sou dan Maruo mendatangi apartemen tempat si pelaku tinggal. Dengan peralatan yang dibawanya, dengan mudah mereka berdua masuk. Tapi tidak ada seorangpun di ruangan itu.

“Sepertinya pelaku itu tidak bekerja sendirian,” Maruo berkeliling. Ia menemukan sebuah laptop dengan prosesor lama yang digunakan si pelaku.

Mereka berdua juga menemukan potongan kertas berisi surat ancaman yang sudah di-print dan siap digunakan. Selain itu tampak juga beberapa peralatan kimia dengan potassium sianida ada disana. Maruo juga menemukan senjata api yang disimpan si pelaku diantara deretan buku di lemari.

Di tempat lain, Suzu-san dan Mashiko-san yang sudah mendapatkan identitas dan foto si pelaku mencari keberadaannya. Mereka menanyakannya pada toko-toko yang berada di sekitar tempat ditemukannya roti dengan surat ancaman dan racun di dalamnya.



“Ooyama!” Horikawa lebih dulu menemukan pelaku yang ternyata sedang duduk santai sambil makan dan menonton tv di kafe universitas.

Horikawa berusaha menghajar si Ooyama. Tapi karena sendirian, Horikawa berhasil dilumpuhkan oleh teman-teman si pelaku. Ooyama kemudian menarik gadis di sebelahnya dan menjadikannya sandera.

Tidak lama sesudahnya, Suzu-san dan Mashiko-san tiba di kafe itu juga. Suzu-san berusaha mendekati Ooyama untuk mengulur waktu dalam rangka menyelematkan sandera. Suzu-san mengajak Ooyama bicara.

Ternyata Sou dan Maruo juga tiba. Segera Sou melumpuhkan Ooyama dari arah belakang dan menyelamatkan si sandera. Mashiko-san dan Suzu-san juga bertindak hal yang sama terhadap teman-teman si pelaku, begitu juga Maruo.

“Horikawa, kenapa kau ada disini?!” Sou marah karena Horikawa malah meninggalkan Yuki di kafe.

Bukan Horikawa yang menjawab,” Dia langsung pergi dan kembali pada Yuki,” ujar Maruo yang datang menggantikan Horikawa.



Komplotan si pelaku tertangkap. Maijima-san juga datang. Ia menampar wajah Ooyama.

“Kau sudah membuat orang yang tidak bersalah dan sudah tobat dicurigai!”

“Aku juga korban!” elak Ooyama.

“Kau yang terburuk. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu ini!”

Ternyata Ooyama melakukan ini dalam rangka balas dendam pada perusahaan roti itu. Ia merupakan pekerja paruh waktu yang dipecat dan tidak bisa bekerja lagi disana.

Maruo, Suzu-san dan Mashiko-san membawa para penjahat itu ke kantor polisi. Sementara itu tinggal Sou dan Maijima-san di belakang.

“Anda sudah bekerja keras,” ucap Sou.

“Sudah lama sejak aku merasa selelah ini menangani kasus,” ujar Maijima-san pula.

Tiba-tiba ponsel Sou berbunyi, dari chef Ootomo. “Halo?”

Horikawa kembali ke kafe untuk menemui Yuki.

Maruo kembali ke apartemen. Ia juga tidak menemui Yuki di apartemen. Yuki belum kembali ke apartemen! Maruo bergegas pergi.

Telepon dari chef Ootomo ternyata mengenai kasus pembunuhan. Ditemukan mayat laki-laki yang belakangan sedang diselidiki oleh Sou terkait kelompok yakuza Jinno.

“Apa ini tantangan dari Jinno?” gumam Sou.

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.