Kisah sebelumnya,
Mirakurun 2.0 sebagai warisan dari Ohkura Sinzo ternyata berisi gulungan yang bertuliskan masa lalu dari masing-masing anak Ohkura. Dan yang paling mengagetkan adalah fakta bahwa Ohkura Fuu adalah anak kandung dari Ohkura Sinzo-san. Setelah mengetahui isi masing-masing gulungan itu, keenam anak Ohkura pergi dari rumah.
Paginya, Chisato sudah mempersiapkan sarapan. Ia yang sehari sebelumnya diberitahu oleh sekretaris Tokita kalau anak-anak Ohkura pergi tadinya tidak percaya. Tapi pagi itu, tidak ada satupun anak-anak Ohkura yang ada di castle.
“Mereka benar-benar pergi,” gumam Chisato kecewa.
Tiba-tiba Takeru datang, “Ah aku lelah sekali. Ah soup misou?”
“Kenapa kau disini? Aku pikir kau pergi,” Chisato heran.
“Apa yang kau katakan? Aku punya pekerjaan, mengantar wig mahal itu,” balas Takeru langsung duduk dan mengambil mangkok berisi sup dari nampan yang tadi dibawa Chisato.
Sho menyusul datang. Ia mengeluhkan pelanggannya yang menyebalkan di host-club semalam. Sho kemudian bergabung bersama Takeru dan mengambil makanan di meja.
“Aku pikir kalian semua pergi,” gumam Chisato.
“Kami tidak mungkin melakukan itu,” ucap Sho.
Karena ucapan sepele, Sho dan Takeru kembali bertengkar. Ini mengundang senyum Chisato.
“Kenapa kau tersenyum?!” ucap Takeru dan Sho bersama.
“Aku pikir, tidak ada yang berubah,” ucap Chisato lega.
Takeru, Sho dan Chisato adu arm wrestling—(klo di tempat Kelana namanya panco). Baik Shod an Takeru, tidak ada yang bisa mengalahkan Inoue-san sang pelayan. Mereka bertiga membicarakan fakta bahwa Fuu sebenarnya adalah anak kandung Sinzo-san. Hal ini tentu saja membuat Chisato kaget. Selama ini ia mengira kalau Fuu sama seperti anak-anak Sinzo-san yang lain, anak adopsi.
“Tapi Fuu tidak pernah diakui secara resmi. Itulah sebabnya dia sangat membenci ayah,” ucap Sho.
Satoru tiba di rumah. Ini membuat Chisato senang, dan dalam sekejap ia berhasil mengalahkan Inoue-san, hal yang mustahil dilakukan baik Takeru dan Sho sebelumnya.
“Selamat datang! Darimana saja kau?” Tanya Chisato senang.
“Aku pergi ke restoran soba untuk makan, dan tertidur disana,” jawab Satoru santai.
“Ah, dimana Masaru?” Chisato heran karena anggota keluarga Ohkura yang satu itu tidak tampak.
“Dia belum pulang. Kerja, mungkin. Dunia model kan tidak punya jadwal tetap,” jawab Takeru sambil kembali menantang Inoue-san, penasaran.
Dimana Masaru? Ow ow ow, ternyata Masaru pergi. Dengan penampilan yang sama sekali berbeda dengan biasanya, Masaru naik bis ke suatu daerah. (perhatikan ya, disini Masaru tampak cowok sekali, dengan topi dan baju normal cowo, dan . . . dia sudah tidak menggunakan eye shadow lagi!!!). Di dalam bis, Masaru kembali membuka gulungan miliknya.
Aku akan menceritakan hidupmu sebelum kau datang ke keluarga Ohkura. Masaru . . . orang tuamu meninggal karena kebakaran . . . saat usiamu 7 tahun. Sepertinya ingatanmu tentang kejadian itu tidak begitu jelas . . . tapi adikmu tahu semuanya. Kenapa orang tuamu meninggal . . . ini waktunya bagimu untuk mencari tahu . . . adikmu tinggal tidak jauh dari rumah lamamu. Masaru melihat keluar, memandang lautan di sampingnya.
Akira tengah menyendiri di depan castle. Ia kembali membuka gulungan miliknya. Sementara itu Inoue-san, tengah dalam perjalanan. Ia tampak gagah di atas motornya. Kemana Inoue pergi?Anak-anak Ohkura menemukan surat di tempat biasa Inoue-san berada. Di surat itu tertulis "I'm going on a journey. Inoue-san." Aku melakukan perjalanan. Inoue-san.
“Inoue-san menulis dalam bahasa Jepang,” komentar Sho. (ingat di episode sebelumnya, dikatakan kalau Inoue-san hanya bisa menulis dalam bahasa Indonesia)
“Dia bahkan menggunakan –san untuk dirinya sendiri,” sambung Satoru.
“Perjalanan, maksudnya . . . ?” Chisato heran.
“Mungkin ini karena dia kalah darimu dalam arm-wrestling kemarin,” ucap Sho.
Di balik kertas itu tertulis juga kalimat lain. "I ate taiyaki"...? maksudnya "I hired a replacement."—aku mempekerjakan pengganti. Hal ini semakin membuat anak-anak Ohkura bingung.
Anak-anak Ohkura semakin heran karena melihat ada seseorang yang tengah beres-beres di ruang makan.
“Ah, Kokudo?” Chisato heran.
“Aku akan menggantikan Inoue-san mulai hari ini. Aku Kokudo Yutaka,” ucap Kokudo menjawab keheranan seluruh keluarga Ohkura.
“Hah?”
“Kokudo!” Akira yang baru datang memanggil Kokudo, ia membawa sebuah amplop.
Takeru merebut amplop yang dibawa Akira dan membacanya. Takeru menemukan kalau Akira akan ikut serta dalam kontes model anak, “Kenapa kau ingin ikut? Aku tahu! Kau ingin terkenal kan, jadi kau bisa kencan dengan model wanita! Apa itu benar?”
“Iya,” jawab Akira santai sambil merebut kembali amplop itu dari Takeru. “Kokudo, deadline pendaftaran besok. Pastikan kau mengirimkannya!” pinta Akira kemudian.
“Kenapa harus aku?” protes Kokudo.
“Karena itu pekerjaanmu!” jawab anak-anak Ohkura yang lain.
Akhirnya meski bersungut-sungut, Kokudo akhirnya pergi dan mengiyakan permintaan Akira itu.
Dimana Chisato? Ternyata dia mendatangi pengacara Kyoko yang tengah main bowling sendirian.
“Kau datang kesini karena Fuu kan?” tembak pengacara Kyoko.
“Ya. Apa benar dia putra kandung Sinzo-san?” Tanya Chisato.
“Ya.”
“Lalu . . . kenapa dia diperlakukan seperti anak adopsi?”
“Fuu-kun percaya kalau Sinzo-shi tidak pernah mengakuinya secara resmi . . . karena dia terlahir dari wanita malam,” ucap pengacara Kyoko sambil kembali melempar bolanya.
Sekretaris Tokita datang bergabung. Chisato datang dan mencoba bicara dengannya.
“Kenapa kau memanfaatkan ayahku agar keluar dari castle?!” protes Chisato.
“Aku tidak ingin kau salah paham dengan maksud presdir. Presdir ingin agar mereka semua mengerti. Mereka bersembunyi dari masa lalu yang menyakitkan. Tapi jika mereka bisa berbagi dengan keluarga . . . ikatan mereka akan semakin erat. Karena itu, presdir membuat mereka membencinya . . . sebagai tempat pelampiasan masa lalu mereka. Tidak mudah bukan mengingat masa lalu?”
Kali ini giliran Takeru, Sho dan Satoru yang mendandani Akira. Mereka mempersiapkan Akira untuk kompetisi model anak. Pertama penampilan gaya Kokudo, yang membuat ketiga kakaknya langsung menolak. Saat yang sama Chisato yang baru saja datang masuk dan berkomentar.
“Ah kau norak sekali,” komentar Chisato yang langsung membuat Kokudo lemas. “Apa yang dia lakukan?” Tanya Chisato kemudian setelah Kokudo pergi.
“Akira akan ikut kontes model anak, sepertinya itu berhubungan dengan gulungan yang dimilikinya,” jawab Satoru.
“Memangnya apa yang dia cari?”
“Dia ingin mengencani model wanita,” jawab Takeru asal.
“Dia tidak mungkin melakukan itu! Dia bukan tipe orang yang akan melakukannya untuk alasan itu!” ucap Sho.
Kokudo keluar lagi bersama Akira dengan kostum baru. Kali ini kostum mirip yang dikenakan Takeru. Kontan saja Takeru setuju, sementara Sho dan Satoru jelas menolak. Mereka melihat gulungan Akira yang tergantung di lehernya.
“Aku punya rencana!” ucap Takeru kemudian.
Masaru sudah berada di daerah tempat tinggalnya dulu. Ia melihat ke sebuah tanah kosong tempat dulu rumahnya pernah ada sebelum kebakaran terjadi. Masaru bertemu dengan seorang laki-laki tua.
“Permisi . . . apa kau tahu tentang kebakaran yang pernah terjadi disini?” Tanya Masaru.
“Oh, maksudmu rumah milik keluarga Kishida? Itu tragedi yang tragis. Mereka bilang semuanya ingin mereka selamat.”
“Apa maksudmu?”
“Hm? Oh, anakku pernah mengatakannya. Dia adalah teman sekelas anak perempuan keluarga Kishida.”
“Apa kau tahu dimana dia sekarang?” Tanya Masaru.
Demi mendapatkan gulungan milik Akira, Takeru, Sho, Satoru dan Chisato mengadakan acara adu panco. Kali ini giliran Takeru dan Akira. Dan . . . tepat jam 9, Akira tertidur di tempatnya berdiri.
“Ah, dia benar-benar tidur tepat jam 9,” komentar Chisato.
Mereka lalu mengambil gulungan yang tergantung di leher Akira. Akira yang tertidur mendadak berjalan, tapi kemudian ia nyaris jatuh. Chisato dengan sigap menangkap Akira.
“Ah, aman!” ucap kakak-kakaknya lega.
“Okaasan—ibu . . . ,“ gumam Akira dalam tidurnya.
Sho, Takeru, Chisato dan Satoru berkumpul di kamar Chisato, ruang jam. Mereka membuka gulungan milik Akira.
Akira . . . aku akan menceritakan kehidupanmu sebelum bergabung di keluarga Ohkura. Saat kau berusia 5 tahun, ibumu mendadak menghilang, iya kan? Karena kau tidak punya ayah, kau tidak tahu apa yang terjadi . . . jadi kau menunggu ibumu kembali, sendirian. Sampai keadaan menjadi buruk untukmu. Tapi kau tahu, ibumu juga manusia. Pasti ada alasan untuk apa yang ia lakukan. Aku ingin kau mencari cara untuk memaafkannya.
“Ini tidak ada hubungannya dengan kontes itu,” komentar Chisato kemudian. Chisato lalu menghubungi Inoue-san. Dari Inoue-san, Chisato tahu kalau Akira ingin mencari ibunya. Karena itulah ia ikut kontes model anak, supaya terkenal dan bisa menemui ibunya.
“Mungkin dia ingin bertemu dengannya untuk protes atas apa yang sudah ia lakukan,” ucap Takeru.
“Mungkin dia ingin bertanya kenapa ia diabaikan seperti itu,” komentar Satoru.
“Mungkin . . . dia hanya ingin menemuinya,” sambung Sho.
“Tapi, sebutan Okaasan—ibu yang digumamkan dalam tidurnya tadi . . . dia tidak tampak marah,” sambung Chisato.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan, hei kau laki-laki yang memanggil keajaiban?” Tanya Sho pada Takeru.
Atas kesepakatan mereka, akhirnya Chisato, Sho dan Takeru membantu Akira dalam persiapan mengikuti kontes model anak.
“Hei, apa keahlianmu?” Tanya Takeru.
“Bermain saham,” ucap Akira polos.
“Ah itu tidak manis,” keluh Sho. “Kali ini kami akan membantumu dengan training special. Kokudo!”
Kokudo yang ada di sisi ruangan siap dengan kostum dan alatnya. Ia menyalakan tape. Dari pintu muncul Satoru dengan kostum dan peralatan sulapnya.
“Aku akan melatihmu secara khusus trik sulapmu,” ucap Satoru.
“Ah ya, lalu bagaimana dengan bagian kostum?” Tanya Takeru.
“Satu-satunya yang bisa melakukan pasti dia . . . “ ucap Sho.
“Aku pulang!” ucap Masaru yang baru saja datang.
“Darimana kau?” Tanya Satoru penasaran.
“Oh, perjalanan ke Okinawa.”
“Aku menunjukmu sebagai menteri fashion!” tembak Sho kemudian.
“Apa?!”
Chisato dan Sho datang ke net-café. Mereka meminta tolong teman-temannya untuk mencari info soal ibu Akira.
“Bodyguard Chisato! Siap!” mereka langsung bubar.
“Hei . . . hei! Aku bahkan belum bicara apapun,” gumam Chisato.
“Luar biasa!” komentar Sho.
Sementara Chisato bersama Sho berkeliling juga mencari info soal ibu Akira. Di rumah, Masaru dan Satoru menjadi trainer khusus bagi Akira, dibantu Takeru.
Chisato dan Sho duduk di taman. Mereka kelelahan setelah seharian mencari ibu Akira, tapi tidak ada hasil sama sekali. Tiba-tiba Fuu muncul disana.
“Fuu!” ucap Chisato dan Sho bersamaan.
“Ini kebetulan sekali kan?” balas Fuu santai.
“Sebenarnya . . . aku punya permintaan padamu. Ini salah satu benda buatan Sinzo-san, tapi belum selesai. Aku berharap kau bisa menyelesaikannya . . . “ pinta Chisato sambil mengeluarkan sebuah benda dari tas yang ia bawa dan menunjukkannya pada Fuu.
“Kenapa kau memintaku?”
“Di buku tentang kalian, kau punya 50 keahlian berbeda . . . jadi aku piker kau bisa melakukan ini.”
“Jadi ini alasanmu kesini?”
“Ini hanya salah satunya. Alasanku sebenarnya adalah aku berharap kau kembali ke rumah, Fuu,” terang Chisato akhirnya.
“Karena kau tidak akan bisa menyelesaikan Mother Goals tanpa aku disana kan?” tembak Fuu ketus.
“Itu bukan maksudku . . . “
“Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal sampah seperti itu,” ucap Fuu.
“Sampah? Apa maksudmu sebenarnya?” tuntut Chisato.
“Kau juga tahu kan, aku anak kandung SInzo-san. Tapi dia tidak pernah mengakuiku, hanya karena aku anak seorang wanita malam!”
“Sinzo-san tidak mungkin . . .”
“Kau masih belum juga mengerti huh?! Dia Cuma memikirkan dirinya sendiri. Sekali waktu itu menguntungkan, dia tidak akan peduli lagi dengan yang lain!” Fuu semakin emosi.
“Kau tidak bisa bicara seperti itu!” Chisato yang kesal beranjak pergi. Ia meninggalkan barang buatan Sinzo-san yang ingin diselesaikan oleh Fuu di bangku taman.
“Dia benar. Aku tidak berpikir Oyaji—ayah seburuk yang kau pikirkan,” ucap Sho sambil pergi menyusul Chisato.
Kehebohan terjadi di castle. Rupanya Kokudo lupa mengirimkan formulir aplikasi lomba model anak, dan masih tertinggal di saku celananya. Ini membuat seisi rumah marah padanya.
“Lupakan saja. Aku tidak benar-benar ingin mengikutinya,” ucap Akira kemudian.
“Jangan bohong! Kau ingin bertemu ibumu kan?” ucap Takeru.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Kau ikut kontes itu untuk bisa bertemu ibumu kan . . . “
“Apa? Itu semua tidak ada artinya!” Akira lalu meninggalkan semua kakak-kakaknya itu.
Satoru dan Masaru menghabiskan waktu mereka di sauna. Dan catatan . . . kali ini Masaru sudah tidak memakai handuk seperti biasanya. (sebelumnya Masaru memakai handuk menutup dadanya, seperti wanita). Dan lagi, tidak ada eye-shadow di mata Masaru lagi.
“Oh, itu mengingkatkanku . . . kau tidak benar-benar pergi ke Okinawa kan?” tembak Satoru.
“Apa?”
“Kemana kau pergi dengan gulunganmu itu?” Tanya Satoru lagi.
“Aku tidak berbohong,” elak Masaru. Masaru mencoba menghindari tatapan mata Satoru. “Liburanku sungguh menyenangkan. Aku makan banyak goya champloo (Kelana ga yakin ini makanan apa). Tapi agensiku marah karena aku pergi di tengah pekerjaan. Aku langsung kembali kemarin. Aku akan menjadi bintang tamu di kompetisi menyanyi anak di stasiun TV lokal.”
“Berhentilah bersikap sok cool,” nasehat Satoru sambil beranjak pergi meninggalkan Masaru sendirian.
Satoru, Sho, Chisato, Takeru dan Kokudo masih berunding di ruang makan. Mereka menemukan di formulir yang akan dikirim Akira ke ajang lomba, menyebutkan bahwa alasan Akira ingin ikut kontes itu adalah karena hari itu adalah ultah ibunya. Dan Akira berharap dia akan menyaksikan Akira di kontes model itu.
“Jadi, dia benar-benar ingin agar ibunya mengetahui keadaannya,” gumam Chisato.
“Tapi tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Ulangtahunnya sudah besok,” sambung Takeru.
Satoru mendadak mendapat ide. Ia ingat soal acara yang akan didatangi Masaru. Masaru yang baru saja keluar dari sauna heran. Mereka meminta Masaru untuk membiarkan Akira ikut serta dalam kontes menyanyi anak.
Masaru kemudian menelepon produser acara itu, “Maaf sudah merepotkanmu! Terimakash banyak!” Masaru menutup teleponnya. “Mereka mengijinkan satu orang peserta lagi untuk ikut,” ucap Masaru yang disambut kelegaan oleh yang lain.
“Sekarang yang harus kita lakukan adalah bagiamana membuat ibu Akira mengatahui dan mau datang ke acara itu,” gumam Takeru yang diiyakan oleh yang lain.
“Aku ingin tahu kenapa Sinzo-san selama ini memperlakukanku seperti anak adopsi,” ucap Fuu yang menemui pengacara Kyoko di tempat bowling.
“Hari ini akhirnya tiba juga kan?” respon pengacara Kyoko. Ia lalu duduk dan mulai bercerita, “Sinzo-san mengetahui keberadaanmu dari ibumu . . . saat usiamu 10 tahun.”
“Saat usiaku sepuluh tahun? Tapi aku masuk ke keluarga Ohkura saat aku berusia 15 tahun.”
“Awalnya . . . dia hanya minta bantuan financial. Tiba-tiba, saat kau 15 tahun . . . ibumu meminta Sinzo-san untuk mengadopsimu.”
“Kenapa tiba-tiba?”
“Lelaki yang saat itu dikencani ibumu tidak suka anak-anak. Itu membuatnya ragu untuk menikahi ibumu.”
“Jadi demi alasan bersama laki-laki lain . . . kau bilang dia menyerahkanku pada Ohkura Sinzo? Jadi sebenarnya . . . mereka berdua memang tidak menginginkanku,” komentar Fuu.
“Sinzo-san mencintaimu dari dalam lubuk hatinya.”
“Jadi kenapa dia tidak memperlakukanku seperti seperti darah dagingnya?”
“Yang menginginkan kau diadopsi . . . adalah ibumu. Kalau diketahui Sinzo-san memiliki anak berusia 15 tahun . . . maka media akan menyorot juga ibumu. Sebenarnya Sinzo-san sudah mempersiapkan konferensi pers. Tapi ibumu tidak mau terlibat dalam situasi seperti itu. Akhirnya dia meminta Sinzo-san untuk mengakuimu hanya sebagai anak adopsi saja. Sinzo-san sangat kecewa karena tidak bisa mengatakan pada public tentang dirimu. Itu . . . kebenarannya,” ucap pengacara Kyoko mengakhiri ceritanya.
Sho menunggu Chisato pulang. Rupanya CHisato pulang terlambat hari itu. Sho heran dengan apa yang selama ini telah dilakukan Chisato untuk Akira dan yang lain.
“Aku hanya ingin melakukan apapun yang bisa aku lakukan untuknya,” ucap Chisato yang ternyata malah ngobrol berdua dengan Sho di teman depan castle.
“Kenapa kau melakukan itu semua? Padahal kau kan tidak punya hubungan darah . . . dan setelah kau menyelesaikan kontrak 3 bulan ini, semuanya akan kembali kan?”
“Aku pernah menanyakan hal itu pada Sinzo-san. Kau ingat benda yan aku berikan pada Fuu kan?” Chisato lalu menceritakan bagian memorinya dengan Sinzo-san. Sinzo-san berniat tidak menyelesaikan benda pembuat gelembung itu. Ia berharap bisa menunjukkan kalau anak-anaknyalah yang lebih bersinar. “Aku tidak mengerti itu pada awalnya. Tapi setelah Sinzo-san meninggal . . . dan aku masuk ke castle ini, melihat Satoru kembali bermian sulap . . . dan Masaru sembuh dari phobianya karena wanita . . . aku mulai bahagia karena mereka. Bisa menangis dan tertawa dengan oran lain seperti itu . . . aku pikir tidak perlu hubungan darah. Aku harap, besok Akira bisa bertemu ibunya,” ucap Chisato menutup ucapannya.
Paginya, Ohkura bersaudara sudah siap dengan kejutan mereka. Balon udara dengan iklan agar ibu Akira, melihat acara kontes menyanyi anak sudah melayang di atas kota. Mereka lalu membawa Akira ke ajang itu.
“Kenapa? Kontes menyanyi?” Akira heran sendiri.
“Jangan protes. Cepat pergi saja!” perintah mereka pada Akira.
“Lakukan saja seperti apa yang aku ajarkan padamu!” ucap Satoru.
Di suatu tempat, seorang wanita dengan blus hijau berhenti. Ia menatap ke langit, ke arah balon udara yang di tadi diterbangkan anak-anak Ohkura.
To Ohkura (formerly Takizawa) Akira's mother. Please watch the "Children's Singing Contest!
Kontes menyanyi dimulai. Beberapa peserta sudah tampil dengan kebolehan mereka masing-masing. Di sisi penonton, tampak Chisato dan Satoru ditemakin anak-anak net-café yang lain. Sementara Masaru ada di meja juri.
Saatnya Akira tampil. Pembawa acara heran karena Akira bukannya menyanyi, tapi malah akan menunjukkan sulap. Takeru ternyata sudah ada di posisinya, ia memandu para pemusik untuk menjadi pengiring dalam pertunjukkan sulap Akira. Sementara Sho . . . dia berada di sisi panggung lengkap dengan The Miracle Spotlight yang sudah jadi sempurna dan siap mengeluarkan gelembung ke udara.
Di tempat lain, tampak Fuu tengah berjalan sendirian. Ia berbalik sebentar, melihat pelangi. Fuu tersenyum.
“Mereka semua benar-benar bersinar,” komentar Chisato.
Akira mulai dengan trik sulapnya. Ia berhasil memainkannya dengan sukses. Hingga pertunjukkan terakhir.
“Sebentar lagi. 3 . . . 2 . . . 1 . . . “ gumam Satoru.
Truk sulap terakhir Akira adalah mengangkat sebuah bola. Setelah bola itu sampai di atas, sebuah kain memanjan muncul.
Selamat ulang tahun, Okaasan—ibu
“Tentu saja, itu sempurna!” komentar Satoru sambil mengangkat kedua jarinya dan memamerkan muka imutnya. (omo . . . imutnya Seto Koji)
Akira heran sendiri dengan kemunculan kain itu. Chisato dan anak-anak Ohkura yang lain juga tidak menyangka. Akira yang mengerti akhirnya ikut tersenyum bersama kakak-kakaknya yang lain. Dari tempat tidak jauh dari panggung, tampak wanita berblus hijau menyaksikan acara hari itu. Itu ibu Akira . . . !!!
Usai kontes menyanyi itu, semua anak-anak Ohkura pulang bersama.
“Sebenarnya hari itu, aku . . . aku pergi untuk menemui adikku,” Masaru mulai mengaku.
“Kau punya adik?” Chisato heran.
“Ya. Orang tuaku meninggal karena kebakaran . . . tapi ingatanku tidak terlalu baik waktu itu. Jadi aku mendatangi adikku untuk menanyakannya apa yang terjadi. 15 tahun yang lalu rumahku hancur karena kebakaran. Awalnya semuanya keluar dengan selamat.”
“Awalnya?”
“Aku kembali untuk mencari binatang peliharaanku. Kedua orangtuaku kembali ke dalam untuk menyelamatkanku dari api. Kalau aku tidak kembali untuk mencari peliharaanku itu . . . mereka berdua pasti masih hidup. Aku . . . membunuh ayah dan ibuku. Maaf, aku membuat keadaan jadi canggung. Melihat kalian semua, aku tidak bisa menjelaskannnya, tapi . . . ini menjadi semakin sulit tidak mengatakan apapun . . . “
“Terimakasih . . . sudah mengatakannya pada kami,” ucap Chisato.
“Masaru . . . kau salah. Orang tuamu tidak meninggal karenamu. Kau hidup karena mereka berdua. Kau tidak bisa menyalahkan dirimu seperti ini. Kau harus hidup demi kebahagiaan orang tuamu, dan apa yang mereka lakukan tidak sia-sia,” sambung Sho bijak. (abang yang satu ini lama-lama tambah bijak aja, xixixixixi)
“Masaru . . . berhentilah bersikap sok cool,” ucap Takeru kemudian.
Tiba-tiba Chisato mendapat telepon dari rumah, “Apa?!”
“Aku anak kandung Ohkura Sinzo,” ucap Fuu yang mendatangi kantor dan menemui sekretaris Tokita.
“Ya, aku tahu itu,” ucap sekretaris Tokita santai.
“Tidak, kau tidak tahu. Ini deklarasi perang. Aku tidak akan lagi membiarkanmu melakukan apapun keinginanmu seenaknya saja!” ucap Fuu tajam.
Kokudo menghubungi Chisato. Ia mengatakan kalau tadi ada seseorang yang mengaku sebagai ibu Akira dan menghubungi castle. Ia mengatakan kalau akan menghubungi lagi nanti jam lima. Dan sekarang . . . anak-anak Ohkura bersama Chisato sudah ada di rumah menunggu.
“Berapa lama lagi kita harus menunggu,” komentar Takeru tidak sabar.
“Aku yakin dia pasti akan melakukannya (menelepon kembali),” ucap Chisato.
Tiba-tiba telepon berdering. Buru-buru Kokudo mengangkatnya, “Hallo, kediaman Ohkura.”
“Hei!” sentak Takeru.
Buru-buru Kokudo mengerti dan langsung memberikan telepon itu pada Akira. Akira memencet tombol speaker, sehingga seisi rumah bisa mendengarkan pembicaraannya.
“Akira . . . “
“Okaasan?”
“Aku melihat pertunjukan sulapmu. Aku lega kau baik-baik saja. Aku . . . akan segera meninggalkan Jepang.”
“Apa?”
“Aku minta maaf. Sampai jumpa.”
Buru-buru Takeru merebut telepon itu dari Akira. Ia mulai marah-marah, “Hei! Apa maksudmu dengan aku minta maaf dan sampai jumpa. Akira . . . dia begitu ingin bertemu denganmu selama ini! Apa begitu sulit melihatmu secara langsung? Aku mohon! Temuilah dia. Dia sudah melakukan semuanya untuk bertemu denganmu. Tolong! Kalau kau tidak punya waktu untuk datang kesini, kami yang akan mendatangimu! Aku mohon, temuilah dia,” pinta Takeru.
“Tolong . . . jaga Akira,” ucap ibu Akira sambil menutup sambungan teleponnya.
Hal ini membuat anak-anak Ohkura frustasi. Satoru dan Masaru menahan air mata mereka. Takeru menahan air matanya dengan berpura-pura frustasi. Sho sendiri memilih pergi untuk menyembunyikan air matanya dari saudara-saudaranya yang lain.
Akira lalu mendekati Chisato, “Hadiah untuk hari ibu,” ucap Akira sambil menyerahkan sebuket bunga warna merah. “Apa ini terlalu terlambat?”
“Ini tidak adil,” gumam Chisato sambil merangkul Akira.
“Aku pulang!” ucap Fuu. Ia heran melihat saudara-saudaranya menangis, “Kenapa kalian menangis?”
“Diamlah! Aku hanya kelilipan!” elak Takeru. “Hei, Kokudo cepat bersih-bersih!” perintah Takeru kemudian.
“Oh, selamat datang,” ucap Sho muncul belakangan.
“Kau menangis juga?” Fuu tambah heran.
“Aku tidak menangis! Bodoh . . . aku Cuma kelilipan,” elak Sho juga.
Akira yang berdiri tiba-tiba tidur. Rupanya sudah jam Sembilan malam.
“Akira! Dia tidur . . . “ ucap Chisato
“Tepat jam Sembilan,” lanjut Satoru.
“Kita harus mengambil gambarnya! Apa dia masih ingat apa yang terjadi nanti?” komentar Chisato kemudian.
Tiba-tiba Akira berjalan dan saat nyaris roboh, sigap Chisato dan Sho menahan Akira. Yang lain lega karena semuanya aman. Tapi posisi Shod an Chisato tidak menguntungkan, mereka behadapan sangat dekat. Kokudo yang sedang bersih-bersih tidak sengaja menyenggol Sho, hingga Sho tidak sengaja . . . mencium Chisato.
Mirakurun 2.0 sebagai warisan dari Ohkura Sinzo ternyata berisi gulungan yang bertuliskan masa lalu dari masing-masing anak Ohkura. Dan yang paling mengagetkan adalah fakta bahwa Ohkura Fuu adalah anak kandung dari Ohkura Sinzo-san. Setelah mengetahui isi masing-masing gulungan itu, keenam anak Ohkura pergi dari rumah.
Paginya, Chisato sudah mempersiapkan sarapan. Ia yang sehari sebelumnya diberitahu oleh sekretaris Tokita kalau anak-anak Ohkura pergi tadinya tidak percaya. Tapi pagi itu, tidak ada satupun anak-anak Ohkura yang ada di castle.
“Mereka benar-benar pergi,” gumam Chisato kecewa.
Tiba-tiba Takeru datang, “Ah aku lelah sekali. Ah soup misou?”
“Kenapa kau disini? Aku pikir kau pergi,” Chisato heran.
“Apa yang kau katakan? Aku punya pekerjaan, mengantar wig mahal itu,” balas Takeru langsung duduk dan mengambil mangkok berisi sup dari nampan yang tadi dibawa Chisato.
Sho menyusul datang. Ia mengeluhkan pelanggannya yang menyebalkan di host-club semalam. Sho kemudian bergabung bersama Takeru dan mengambil makanan di meja.
“Aku pikir kalian semua pergi,” gumam Chisato.
“Kami tidak mungkin melakukan itu,” ucap Sho.
Karena ucapan sepele, Sho dan Takeru kembali bertengkar. Ini mengundang senyum Chisato.
“Kenapa kau tersenyum?!” ucap Takeru dan Sho bersama.
“Aku pikir, tidak ada yang berubah,” ucap Chisato lega.
Takeru, Sho dan Chisato adu arm wrestling—(klo di tempat Kelana namanya panco). Baik Shod an Takeru, tidak ada yang bisa mengalahkan Inoue-san sang pelayan. Mereka bertiga membicarakan fakta bahwa Fuu sebenarnya adalah anak kandung Sinzo-san. Hal ini tentu saja membuat Chisato kaget. Selama ini ia mengira kalau Fuu sama seperti anak-anak Sinzo-san yang lain, anak adopsi.
“Tapi Fuu tidak pernah diakui secara resmi. Itulah sebabnya dia sangat membenci ayah,” ucap Sho.
Satoru tiba di rumah. Ini membuat Chisato senang, dan dalam sekejap ia berhasil mengalahkan Inoue-san, hal yang mustahil dilakukan baik Takeru dan Sho sebelumnya.
“Selamat datang! Darimana saja kau?” Tanya Chisato senang.
“Aku pergi ke restoran soba untuk makan, dan tertidur disana,” jawab Satoru santai.
“Ah, dimana Masaru?” Chisato heran karena anggota keluarga Ohkura yang satu itu tidak tampak.
“Dia belum pulang. Kerja, mungkin. Dunia model kan tidak punya jadwal tetap,” jawab Takeru sambil kembali menantang Inoue-san, penasaran.
Dimana Masaru? Ow ow ow, ternyata Masaru pergi. Dengan penampilan yang sama sekali berbeda dengan biasanya, Masaru naik bis ke suatu daerah. (perhatikan ya, disini Masaru tampak cowok sekali, dengan topi dan baju normal cowo, dan . . . dia sudah tidak menggunakan eye shadow lagi!!!). Di dalam bis, Masaru kembali membuka gulungan miliknya.
Aku akan menceritakan hidupmu sebelum kau datang ke keluarga Ohkura. Masaru . . . orang tuamu meninggal karena kebakaran . . . saat usiamu 7 tahun. Sepertinya ingatanmu tentang kejadian itu tidak begitu jelas . . . tapi adikmu tahu semuanya. Kenapa orang tuamu meninggal . . . ini waktunya bagimu untuk mencari tahu . . . adikmu tinggal tidak jauh dari rumah lamamu. Masaru melihat keluar, memandang lautan di sampingnya.
Akira tengah menyendiri di depan castle. Ia kembali membuka gulungan miliknya. Sementara itu Inoue-san, tengah dalam perjalanan. Ia tampak gagah di atas motornya. Kemana Inoue pergi?Anak-anak Ohkura menemukan surat di tempat biasa Inoue-san berada. Di surat itu tertulis "I'm going on a journey. Inoue-san." Aku melakukan perjalanan. Inoue-san.
“Inoue-san menulis dalam bahasa Jepang,” komentar Sho. (ingat di episode sebelumnya, dikatakan kalau Inoue-san hanya bisa menulis dalam bahasa Indonesia)
“Dia bahkan menggunakan –san untuk dirinya sendiri,” sambung Satoru.
“Perjalanan, maksudnya . . . ?” Chisato heran.
“Mungkin ini karena dia kalah darimu dalam arm-wrestling kemarin,” ucap Sho.
Di balik kertas itu tertulis juga kalimat lain. "I ate taiyaki"...? maksudnya "I hired a replacement."—aku mempekerjakan pengganti. Hal ini semakin membuat anak-anak Ohkura bingung.
Anak-anak Ohkura semakin heran karena melihat ada seseorang yang tengah beres-beres di ruang makan.
“Ah, Kokudo?” Chisato heran.
“Aku akan menggantikan Inoue-san mulai hari ini. Aku Kokudo Yutaka,” ucap Kokudo menjawab keheranan seluruh keluarga Ohkura.
“Hah?”
“Kokudo!” Akira yang baru datang memanggil Kokudo, ia membawa sebuah amplop.
Takeru merebut amplop yang dibawa Akira dan membacanya. Takeru menemukan kalau Akira akan ikut serta dalam kontes model anak, “Kenapa kau ingin ikut? Aku tahu! Kau ingin terkenal kan, jadi kau bisa kencan dengan model wanita! Apa itu benar?”
“Iya,” jawab Akira santai sambil merebut kembali amplop itu dari Takeru. “Kokudo, deadline pendaftaran besok. Pastikan kau mengirimkannya!” pinta Akira kemudian.
“Kenapa harus aku?” protes Kokudo.
“Karena itu pekerjaanmu!” jawab anak-anak Ohkura yang lain.
Akhirnya meski bersungut-sungut, Kokudo akhirnya pergi dan mengiyakan permintaan Akira itu.
Dimana Chisato? Ternyata dia mendatangi pengacara Kyoko yang tengah main bowling sendirian.
“Kau datang kesini karena Fuu kan?” tembak pengacara Kyoko.
“Ya. Apa benar dia putra kandung Sinzo-san?” Tanya Chisato.
“Ya.”
“Lalu . . . kenapa dia diperlakukan seperti anak adopsi?”
“Fuu-kun percaya kalau Sinzo-shi tidak pernah mengakuinya secara resmi . . . karena dia terlahir dari wanita malam,” ucap pengacara Kyoko sambil kembali melempar bolanya.
Sekretaris Tokita datang bergabung. Chisato datang dan mencoba bicara dengannya.
“Kenapa kau memanfaatkan ayahku agar keluar dari castle?!” protes Chisato.
“Aku tidak ingin kau salah paham dengan maksud presdir. Presdir ingin agar mereka semua mengerti. Mereka bersembunyi dari masa lalu yang menyakitkan. Tapi jika mereka bisa berbagi dengan keluarga . . . ikatan mereka akan semakin erat. Karena itu, presdir membuat mereka membencinya . . . sebagai tempat pelampiasan masa lalu mereka. Tidak mudah bukan mengingat masa lalu?”
Kali ini giliran Takeru, Sho dan Satoru yang mendandani Akira. Mereka mempersiapkan Akira untuk kompetisi model anak. Pertama penampilan gaya Kokudo, yang membuat ketiga kakaknya langsung menolak. Saat yang sama Chisato yang baru saja datang masuk dan berkomentar.
“Ah kau norak sekali,” komentar Chisato yang langsung membuat Kokudo lemas. “Apa yang dia lakukan?” Tanya Chisato kemudian setelah Kokudo pergi.
“Akira akan ikut kontes model anak, sepertinya itu berhubungan dengan gulungan yang dimilikinya,” jawab Satoru.
“Memangnya apa yang dia cari?”
“Dia ingin mengencani model wanita,” jawab Takeru asal.
“Dia tidak mungkin melakukan itu! Dia bukan tipe orang yang akan melakukannya untuk alasan itu!” ucap Sho.
Kokudo keluar lagi bersama Akira dengan kostum baru. Kali ini kostum mirip yang dikenakan Takeru. Kontan saja Takeru setuju, sementara Sho dan Satoru jelas menolak. Mereka melihat gulungan Akira yang tergantung di lehernya.
“Aku punya rencana!” ucap Takeru kemudian.
Masaru sudah berada di daerah tempat tinggalnya dulu. Ia melihat ke sebuah tanah kosong tempat dulu rumahnya pernah ada sebelum kebakaran terjadi. Masaru bertemu dengan seorang laki-laki tua.
“Permisi . . . apa kau tahu tentang kebakaran yang pernah terjadi disini?” Tanya Masaru.
“Oh, maksudmu rumah milik keluarga Kishida? Itu tragedi yang tragis. Mereka bilang semuanya ingin mereka selamat.”
“Apa maksudmu?”
“Hm? Oh, anakku pernah mengatakannya. Dia adalah teman sekelas anak perempuan keluarga Kishida.”
“Apa kau tahu dimana dia sekarang?” Tanya Masaru.
Demi mendapatkan gulungan milik Akira, Takeru, Sho, Satoru dan Chisato mengadakan acara adu panco. Kali ini giliran Takeru dan Akira. Dan . . . tepat jam 9, Akira tertidur di tempatnya berdiri.
“Ah, dia benar-benar tidur tepat jam 9,” komentar Chisato.
Mereka lalu mengambil gulungan yang tergantung di leher Akira. Akira yang tertidur mendadak berjalan, tapi kemudian ia nyaris jatuh. Chisato dengan sigap menangkap Akira.
“Ah, aman!” ucap kakak-kakaknya lega.
“Okaasan—ibu . . . ,“ gumam Akira dalam tidurnya.
Sho, Takeru, Chisato dan Satoru berkumpul di kamar Chisato, ruang jam. Mereka membuka gulungan milik Akira.
Akira . . . aku akan menceritakan kehidupanmu sebelum bergabung di keluarga Ohkura. Saat kau berusia 5 tahun, ibumu mendadak menghilang, iya kan? Karena kau tidak punya ayah, kau tidak tahu apa yang terjadi . . . jadi kau menunggu ibumu kembali, sendirian. Sampai keadaan menjadi buruk untukmu. Tapi kau tahu, ibumu juga manusia. Pasti ada alasan untuk apa yang ia lakukan. Aku ingin kau mencari cara untuk memaafkannya.
“Ini tidak ada hubungannya dengan kontes itu,” komentar Chisato kemudian. Chisato lalu menghubungi Inoue-san. Dari Inoue-san, Chisato tahu kalau Akira ingin mencari ibunya. Karena itulah ia ikut kontes model anak, supaya terkenal dan bisa menemui ibunya.
“Mungkin dia ingin bertemu dengannya untuk protes atas apa yang sudah ia lakukan,” ucap Takeru.
“Mungkin dia ingin bertanya kenapa ia diabaikan seperti itu,” komentar Satoru.
“Mungkin . . . dia hanya ingin menemuinya,” sambung Sho.
“Tapi, sebutan Okaasan—ibu yang digumamkan dalam tidurnya tadi . . . dia tidak tampak marah,” sambung Chisato.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan, hei kau laki-laki yang memanggil keajaiban?” Tanya Sho pada Takeru.
Atas kesepakatan mereka, akhirnya Chisato, Sho dan Takeru membantu Akira dalam persiapan mengikuti kontes model anak.
“Hei, apa keahlianmu?” Tanya Takeru.
“Bermain saham,” ucap Akira polos.
“Ah itu tidak manis,” keluh Sho. “Kali ini kami akan membantumu dengan training special. Kokudo!”
Kokudo yang ada di sisi ruangan siap dengan kostum dan alatnya. Ia menyalakan tape. Dari pintu muncul Satoru dengan kostum dan peralatan sulapnya.
“Aku akan melatihmu secara khusus trik sulapmu,” ucap Satoru.
“Ah ya, lalu bagaimana dengan bagian kostum?” Tanya Takeru.
“Satu-satunya yang bisa melakukan pasti dia . . . “ ucap Sho.
“Aku pulang!” ucap Masaru yang baru saja datang.
“Darimana kau?” Tanya Satoru penasaran.
“Oh, perjalanan ke Okinawa.”
“Aku menunjukmu sebagai menteri fashion!” tembak Sho kemudian.
“Apa?!”
Chisato dan Sho datang ke net-café. Mereka meminta tolong teman-temannya untuk mencari info soal ibu Akira.
“Bodyguard Chisato! Siap!” mereka langsung bubar.
“Hei . . . hei! Aku bahkan belum bicara apapun,” gumam Chisato.
“Luar biasa!” komentar Sho.
Sementara Chisato bersama Sho berkeliling juga mencari info soal ibu Akira. Di rumah, Masaru dan Satoru menjadi trainer khusus bagi Akira, dibantu Takeru.
Chisato dan Sho duduk di taman. Mereka kelelahan setelah seharian mencari ibu Akira, tapi tidak ada hasil sama sekali. Tiba-tiba Fuu muncul disana.
“Fuu!” ucap Chisato dan Sho bersamaan.
“Ini kebetulan sekali kan?” balas Fuu santai.
“Sebenarnya . . . aku punya permintaan padamu. Ini salah satu benda buatan Sinzo-san, tapi belum selesai. Aku berharap kau bisa menyelesaikannya . . . “ pinta Chisato sambil mengeluarkan sebuah benda dari tas yang ia bawa dan menunjukkannya pada Fuu.
“Kenapa kau memintaku?”
“Di buku tentang kalian, kau punya 50 keahlian berbeda . . . jadi aku piker kau bisa melakukan ini.”
“Jadi ini alasanmu kesini?”
“Ini hanya salah satunya. Alasanku sebenarnya adalah aku berharap kau kembali ke rumah, Fuu,” terang Chisato akhirnya.
“Karena kau tidak akan bisa menyelesaikan Mother Goals tanpa aku disana kan?” tembak Fuu ketus.
“Itu bukan maksudku . . . “
“Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal sampah seperti itu,” ucap Fuu.
“Sampah? Apa maksudmu sebenarnya?” tuntut Chisato.
“Kau juga tahu kan, aku anak kandung SInzo-san. Tapi dia tidak pernah mengakuiku, hanya karena aku anak seorang wanita malam!”
“Sinzo-san tidak mungkin . . .”
“Kau masih belum juga mengerti huh?! Dia Cuma memikirkan dirinya sendiri. Sekali waktu itu menguntungkan, dia tidak akan peduli lagi dengan yang lain!” Fuu semakin emosi.
“Kau tidak bisa bicara seperti itu!” Chisato yang kesal beranjak pergi. Ia meninggalkan barang buatan Sinzo-san yang ingin diselesaikan oleh Fuu di bangku taman.
“Dia benar. Aku tidak berpikir Oyaji—ayah seburuk yang kau pikirkan,” ucap Sho sambil pergi menyusul Chisato.
Kehebohan terjadi di castle. Rupanya Kokudo lupa mengirimkan formulir aplikasi lomba model anak, dan masih tertinggal di saku celananya. Ini membuat seisi rumah marah padanya.
“Lupakan saja. Aku tidak benar-benar ingin mengikutinya,” ucap Akira kemudian.
“Jangan bohong! Kau ingin bertemu ibumu kan?” ucap Takeru.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Kau ikut kontes itu untuk bisa bertemu ibumu kan . . . “
“Apa? Itu semua tidak ada artinya!” Akira lalu meninggalkan semua kakak-kakaknya itu.
Satoru dan Masaru menghabiskan waktu mereka di sauna. Dan catatan . . . kali ini Masaru sudah tidak memakai handuk seperti biasanya. (sebelumnya Masaru memakai handuk menutup dadanya, seperti wanita). Dan lagi, tidak ada eye-shadow di mata Masaru lagi.
“Oh, itu mengingkatkanku . . . kau tidak benar-benar pergi ke Okinawa kan?” tembak Satoru.
“Apa?”
“Kemana kau pergi dengan gulunganmu itu?” Tanya Satoru lagi.
“Aku tidak berbohong,” elak Masaru. Masaru mencoba menghindari tatapan mata Satoru. “Liburanku sungguh menyenangkan. Aku makan banyak goya champloo (Kelana ga yakin ini makanan apa). Tapi agensiku marah karena aku pergi di tengah pekerjaan. Aku langsung kembali kemarin. Aku akan menjadi bintang tamu di kompetisi menyanyi anak di stasiun TV lokal.”
“Berhentilah bersikap sok cool,” nasehat Satoru sambil beranjak pergi meninggalkan Masaru sendirian.
Satoru, Sho, Chisato, Takeru dan Kokudo masih berunding di ruang makan. Mereka menemukan di formulir yang akan dikirim Akira ke ajang lomba, menyebutkan bahwa alasan Akira ingin ikut kontes itu adalah karena hari itu adalah ultah ibunya. Dan Akira berharap dia akan menyaksikan Akira di kontes model itu.
“Jadi, dia benar-benar ingin agar ibunya mengetahui keadaannya,” gumam Chisato.
“Tapi tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Ulangtahunnya sudah besok,” sambung Takeru.
Satoru mendadak mendapat ide. Ia ingat soal acara yang akan didatangi Masaru. Masaru yang baru saja keluar dari sauna heran. Mereka meminta Masaru untuk membiarkan Akira ikut serta dalam kontes menyanyi anak.
Masaru kemudian menelepon produser acara itu, “Maaf sudah merepotkanmu! Terimakash banyak!” Masaru menutup teleponnya. “Mereka mengijinkan satu orang peserta lagi untuk ikut,” ucap Masaru yang disambut kelegaan oleh yang lain.
“Sekarang yang harus kita lakukan adalah bagiamana membuat ibu Akira mengatahui dan mau datang ke acara itu,” gumam Takeru yang diiyakan oleh yang lain.
“Aku ingin tahu kenapa Sinzo-san selama ini memperlakukanku seperti anak adopsi,” ucap Fuu yang menemui pengacara Kyoko di tempat bowling.
“Hari ini akhirnya tiba juga kan?” respon pengacara Kyoko. Ia lalu duduk dan mulai bercerita, “Sinzo-san mengetahui keberadaanmu dari ibumu . . . saat usiamu 10 tahun.”
“Saat usiaku sepuluh tahun? Tapi aku masuk ke keluarga Ohkura saat aku berusia 15 tahun.”
“Awalnya . . . dia hanya minta bantuan financial. Tiba-tiba, saat kau 15 tahun . . . ibumu meminta Sinzo-san untuk mengadopsimu.”
“Kenapa tiba-tiba?”
“Lelaki yang saat itu dikencani ibumu tidak suka anak-anak. Itu membuatnya ragu untuk menikahi ibumu.”
“Jadi demi alasan bersama laki-laki lain . . . kau bilang dia menyerahkanku pada Ohkura Sinzo? Jadi sebenarnya . . . mereka berdua memang tidak menginginkanku,” komentar Fuu.
“Sinzo-san mencintaimu dari dalam lubuk hatinya.”
“Jadi kenapa dia tidak memperlakukanku seperti seperti darah dagingnya?”
“Yang menginginkan kau diadopsi . . . adalah ibumu. Kalau diketahui Sinzo-san memiliki anak berusia 15 tahun . . . maka media akan menyorot juga ibumu. Sebenarnya Sinzo-san sudah mempersiapkan konferensi pers. Tapi ibumu tidak mau terlibat dalam situasi seperti itu. Akhirnya dia meminta Sinzo-san untuk mengakuimu hanya sebagai anak adopsi saja. Sinzo-san sangat kecewa karena tidak bisa mengatakan pada public tentang dirimu. Itu . . . kebenarannya,” ucap pengacara Kyoko mengakhiri ceritanya.
Sho menunggu Chisato pulang. Rupanya CHisato pulang terlambat hari itu. Sho heran dengan apa yang selama ini telah dilakukan Chisato untuk Akira dan yang lain.
“Aku hanya ingin melakukan apapun yang bisa aku lakukan untuknya,” ucap Chisato yang ternyata malah ngobrol berdua dengan Sho di teman depan castle.
“Kenapa kau melakukan itu semua? Padahal kau kan tidak punya hubungan darah . . . dan setelah kau menyelesaikan kontrak 3 bulan ini, semuanya akan kembali kan?”
“Aku pernah menanyakan hal itu pada Sinzo-san. Kau ingat benda yan aku berikan pada Fuu kan?” Chisato lalu menceritakan bagian memorinya dengan Sinzo-san. Sinzo-san berniat tidak menyelesaikan benda pembuat gelembung itu. Ia berharap bisa menunjukkan kalau anak-anaknyalah yang lebih bersinar. “Aku tidak mengerti itu pada awalnya. Tapi setelah Sinzo-san meninggal . . . dan aku masuk ke castle ini, melihat Satoru kembali bermian sulap . . . dan Masaru sembuh dari phobianya karena wanita . . . aku mulai bahagia karena mereka. Bisa menangis dan tertawa dengan oran lain seperti itu . . . aku pikir tidak perlu hubungan darah. Aku harap, besok Akira bisa bertemu ibunya,” ucap Chisato menutup ucapannya.
Paginya, Ohkura bersaudara sudah siap dengan kejutan mereka. Balon udara dengan iklan agar ibu Akira, melihat acara kontes menyanyi anak sudah melayang di atas kota. Mereka lalu membawa Akira ke ajang itu.
“Kenapa? Kontes menyanyi?” Akira heran sendiri.
“Jangan protes. Cepat pergi saja!” perintah mereka pada Akira.
“Lakukan saja seperti apa yang aku ajarkan padamu!” ucap Satoru.
Di suatu tempat, seorang wanita dengan blus hijau berhenti. Ia menatap ke langit, ke arah balon udara yang di tadi diterbangkan anak-anak Ohkura.
To Ohkura (formerly Takizawa) Akira's mother. Please watch the "Children's Singing Contest!
Kontes menyanyi dimulai. Beberapa peserta sudah tampil dengan kebolehan mereka masing-masing. Di sisi penonton, tampak Chisato dan Satoru ditemakin anak-anak net-café yang lain. Sementara Masaru ada di meja juri.
Saatnya Akira tampil. Pembawa acara heran karena Akira bukannya menyanyi, tapi malah akan menunjukkan sulap. Takeru ternyata sudah ada di posisinya, ia memandu para pemusik untuk menjadi pengiring dalam pertunjukkan sulap Akira. Sementara Sho . . . dia berada di sisi panggung lengkap dengan The Miracle Spotlight yang sudah jadi sempurna dan siap mengeluarkan gelembung ke udara.
Di tempat lain, tampak Fuu tengah berjalan sendirian. Ia berbalik sebentar, melihat pelangi. Fuu tersenyum.
“Mereka semua benar-benar bersinar,” komentar Chisato.
Akira mulai dengan trik sulapnya. Ia berhasil memainkannya dengan sukses. Hingga pertunjukkan terakhir.
“Sebentar lagi. 3 . . . 2 . . . 1 . . . “ gumam Satoru.
Truk sulap terakhir Akira adalah mengangkat sebuah bola. Setelah bola itu sampai di atas, sebuah kain memanjan muncul.
Selamat ulang tahun, Okaasan—ibu
“Tentu saja, itu sempurna!” komentar Satoru sambil mengangkat kedua jarinya dan memamerkan muka imutnya. (omo . . . imutnya Seto Koji)
Akira heran sendiri dengan kemunculan kain itu. Chisato dan anak-anak Ohkura yang lain juga tidak menyangka. Akira yang mengerti akhirnya ikut tersenyum bersama kakak-kakaknya yang lain. Dari tempat tidak jauh dari panggung, tampak wanita berblus hijau menyaksikan acara hari itu. Itu ibu Akira . . . !!!
Usai kontes menyanyi itu, semua anak-anak Ohkura pulang bersama.
“Sebenarnya hari itu, aku . . . aku pergi untuk menemui adikku,” Masaru mulai mengaku.
“Kau punya adik?” Chisato heran.
“Ya. Orang tuaku meninggal karena kebakaran . . . tapi ingatanku tidak terlalu baik waktu itu. Jadi aku mendatangi adikku untuk menanyakannya apa yang terjadi. 15 tahun yang lalu rumahku hancur karena kebakaran. Awalnya semuanya keluar dengan selamat.”
“Awalnya?”
“Aku kembali untuk mencari binatang peliharaanku. Kedua orangtuaku kembali ke dalam untuk menyelamatkanku dari api. Kalau aku tidak kembali untuk mencari peliharaanku itu . . . mereka berdua pasti masih hidup. Aku . . . membunuh ayah dan ibuku. Maaf, aku membuat keadaan jadi canggung. Melihat kalian semua, aku tidak bisa menjelaskannnya, tapi . . . ini menjadi semakin sulit tidak mengatakan apapun . . . “
“Terimakasih . . . sudah mengatakannya pada kami,” ucap Chisato.
“Masaru . . . kau salah. Orang tuamu tidak meninggal karenamu. Kau hidup karena mereka berdua. Kau tidak bisa menyalahkan dirimu seperti ini. Kau harus hidup demi kebahagiaan orang tuamu, dan apa yang mereka lakukan tidak sia-sia,” sambung Sho bijak. (abang yang satu ini lama-lama tambah bijak aja, xixixixixi)
“Masaru . . . berhentilah bersikap sok cool,” ucap Takeru kemudian.
Tiba-tiba Chisato mendapat telepon dari rumah, “Apa?!”
“Aku anak kandung Ohkura Sinzo,” ucap Fuu yang mendatangi kantor dan menemui sekretaris Tokita.
“Ya, aku tahu itu,” ucap sekretaris Tokita santai.
“Tidak, kau tidak tahu. Ini deklarasi perang. Aku tidak akan lagi membiarkanmu melakukan apapun keinginanmu seenaknya saja!” ucap Fuu tajam.
Kokudo menghubungi Chisato. Ia mengatakan kalau tadi ada seseorang yang mengaku sebagai ibu Akira dan menghubungi castle. Ia mengatakan kalau akan menghubungi lagi nanti jam lima. Dan sekarang . . . anak-anak Ohkura bersama Chisato sudah ada di rumah menunggu.
“Berapa lama lagi kita harus menunggu,” komentar Takeru tidak sabar.
“Aku yakin dia pasti akan melakukannya (menelepon kembali),” ucap Chisato.
Tiba-tiba telepon berdering. Buru-buru Kokudo mengangkatnya, “Hallo, kediaman Ohkura.”
“Hei!” sentak Takeru.
Buru-buru Kokudo mengerti dan langsung memberikan telepon itu pada Akira. Akira memencet tombol speaker, sehingga seisi rumah bisa mendengarkan pembicaraannya.
“Akira . . . “
“Okaasan?”
“Aku melihat pertunjukan sulapmu. Aku lega kau baik-baik saja. Aku . . . akan segera meninggalkan Jepang.”
“Apa?”
“Aku minta maaf. Sampai jumpa.”
Buru-buru Takeru merebut telepon itu dari Akira. Ia mulai marah-marah, “Hei! Apa maksudmu dengan aku minta maaf dan sampai jumpa. Akira . . . dia begitu ingin bertemu denganmu selama ini! Apa begitu sulit melihatmu secara langsung? Aku mohon! Temuilah dia. Dia sudah melakukan semuanya untuk bertemu denganmu. Tolong! Kalau kau tidak punya waktu untuk datang kesini, kami yang akan mendatangimu! Aku mohon, temuilah dia,” pinta Takeru.
“Tolong . . . jaga Akira,” ucap ibu Akira sambil menutup sambungan teleponnya.
Hal ini membuat anak-anak Ohkura frustasi. Satoru dan Masaru menahan air mata mereka. Takeru menahan air matanya dengan berpura-pura frustasi. Sho sendiri memilih pergi untuk menyembunyikan air matanya dari saudara-saudaranya yang lain.
Akira lalu mendekati Chisato, “Hadiah untuk hari ibu,” ucap Akira sambil menyerahkan sebuket bunga warna merah. “Apa ini terlalu terlambat?”
“Ini tidak adil,” gumam Chisato sambil merangkul Akira.
“Aku pulang!” ucap Fuu. Ia heran melihat saudara-saudaranya menangis, “Kenapa kalian menangis?”
“Diamlah! Aku hanya kelilipan!” elak Takeru. “Hei, Kokudo cepat bersih-bersih!” perintah Takeru kemudian.
“Oh, selamat datang,” ucap Sho muncul belakangan.
“Kau menangis juga?” Fuu tambah heran.
“Aku tidak menangis! Bodoh . . . aku Cuma kelilipan,” elak Sho juga.
Akira yang berdiri tiba-tiba tidur. Rupanya sudah jam Sembilan malam.
“Akira! Dia tidur . . . “ ucap Chisato
“Tepat jam Sembilan,” lanjut Satoru.
“Kita harus mengambil gambarnya! Apa dia masih ingat apa yang terjadi nanti?” komentar Chisato kemudian.
Tiba-tiba Akira berjalan dan saat nyaris roboh, sigap Chisato dan Sho menahan Akira. Yang lain lega karena semuanya aman. Tapi posisi Shod an Chisato tidak menguntungkan, mereka behadapan sangat dekat. Kokudo yang sedang bersih-bersih tidak sengaja menyenggol Sho, hingga Sho tidak sengaja . . . mencium Chisato.
0 komentar:
Posting Komentar