Kudo Shin'ichi's Kyoto Shinsengumi Murder Case
Cerita sebelumnya,
Shinichi dan Ran berada di tempat syuting sebuah film. Disana terjadi peristiwa ledakan yang menyebabkan paman Kogoro, sang actor dan Heiji terluka. Shinichi dan Ran masih berusaha mencari pelakunya. Tapi orang yang diindikasikan sebagai si pelaku ditemukan tewas, gantung diri.
Shinichi ditemani Ran berkeliling. Mereka memeriksa kembali tempat kejadian perkara, sekaligus tempat ditemukannya mayat Momoka-chan. Shinichi menemukan bekas hantaman benda tumpul di pintu dan juga penguncinya.
“Jadi begini . . . “ ucap Shinichi sambil tersenyum.
“Apa? Ceritakan padaku,” pinta Ran.
“Sssshhh!” tiba-tiba Shinichi mendengar sebuah suara dan meminta Ran untuk tenang.
Shinichi dan Ran keluar dari TKP. Sebuah bayangan serba hitam melompat lincah di atas atap. Perlahan sosok itu membentuk sebuah tubuh, bertopeng. Shinichi dan Ran yang penasaran mengikuti sosok hitam tadi.
Mereka akhirnya sampai di ruang perlengkapan syuting. Si serba hitam belum sadar kalau ada yang mengikutinya. Ran dan Shinichi masih mengintip dari balik pintu. Shinichi memberikan senternya pada Ran dan melangkah maju.
Dengan gerakan cepat, Shinichi berusaha melumpuhkan sosok serba hitam itu. Tapi Shinichi kalah langkah. Ran yang merasa Shinichi semakin terdesak, maju. Dengan kemampuan karatenya, Ran melumpuhkan si serba hitam itu hanya dengan beberapa gerakan saja. Berhasil melumpuhkan si serba hitam, Ran masih berdiri siaga, sementara Shinichi menyalakan lampu ruangan itu.
“Beraninya kau bersikap seperti itu pada ayahmu sendiri!” teriak si serba hitam kesal yang ternyata pakde Kogoro yang . . . kehilangan kumisnya. (wkwkwkwk, jadi ini alasannya kenapa pakde Kogoro teriak waktu di ambulan)
“Ayah! Bukannya ayah bilang tidak mau ditemui pengunjung, karena kumis kebanggaan ayah terbakar waktu insiden kemarin,” Ran kaget.
“Paman! Apa yang anda lakukan?!” Shinichi ikut kesal.
“Ini studio film kan? Apa ayah mencari kumis palsu?!” ucap Ran lagi.
“Harusnya paman lebih memikirkan kesehatan paman dibanding hal kecil itu,” sambung Shinichi.
“Diam! Bagi seorang actor, wajahnya adalah hidupnya,” ucap pakde Kogoro tidak mau kalah, sambil mulai mengambil beberapa kumis palsu dan mencobanya di depan cermin.
“Wajah?” Shinichi menyadari sesuatu. Ia lalu mencari baju yang dipakai Sakuraba-san waktu kejadian ledakan tadi. Shinichi merogoh sebuah buku di saku baju itu, dan menemukan sesuatu yang menarik.
“Jadi begitu, aku mengerti semuanya sekarang. Because there's just one truth!-karena hanya ada satu kebenaran, “ Shinichi tersenyum puas.
Di rumah sakit, Kazuha masih setia menemani Heiji yang belum juga sadar dari pingsannya. Kazuha yang duduk di samping Heiji terkantuk-kantuk, tidak sengaja charm-pocket-nya—jimat keberuntungannya—terjatuh. Ketika Kazuha berniat mengambil jimat itu, tiba-tiba tangan Heiji bergerak dan tergantung lemas.
Kazuha kaget, “Heiji! Heiji! Heiji!”
Bagaimana nasib Heiji? Apakah Heiji selamat atau . . .
Detektif Inukai bersama semua kru film dan actor menunggu di depan TKP. Mereka heran karena kasus ini telah selesai kemarin.
“Sebenarnya . . .aku diminta oleh si detektif sma itu untuk mengumpulkan kalian disini,” ucap detektif Inukai.
“Bunuh dirinya Momoka, adalah penyelesaian kasus ini kan?” Tanya sutradara.
“Tentang itu . . . “ ucapan detective Inukai terpotong oleh kehadiran Shinichi.
“Aku akan memperagakan trik yang digunakan si pelaku,” potong Shinichi. “Pertama, si pelaku membawa tali dan memasangkannya di TKP. Dia lalu mengajak Momoka-san untuk bicara dan masuk ke ruangan dan . . . membunuh Momoka-san dengan mencekiknya. Kemudian dia menggantung jasad Momoka-san dengan tali yang sudah disiapkan tadi. Panjang tali yang digunakan cocok untuk trik yang membuat ruangan tertutup seperti ini.”
“Panjang tali?” detective Inukai heran.
“Ini seperti pendulum. Si pelaku menutup pintu ini menggunakan tubuh Momoka-san yang dibuat tergantung seperti pendulum. Pertama, dia melepas pengunci di tabi—kaos kaki khas Jepang—yang digunakan Momoka-san. Kemudian dia meletakkan pengunci pintu kayu di antara kedua kaki Momoka-san. Kemudian si pelaku mengayunkan mayat Momoka-san sehingga bergerak menjauh dan mendekat pintu. Memanfaatkan keadaan ini, dia menutup pintu. Saat jasad Momoka-san yang tergantung mendekat pintu, pengunci pintu yang tadi dipasangkan di kaki Momoka-san akan mengenai pintu dan tepat mengunci pintu dari dalam. Karena itulah terjadi ruangan tertutup. Ada banyak bekas hantaman di pintu maupun pengunci kayu, anda bisa memeriksanya,” Shinichi mengakhiri deduksinya dan memberikan pengunci pintu itu pada detektif Inukai. “Sepertinya si pelaku sudah melakukan percobaan berkali-kali untuk memastikan semuanya berjalan seperti rencananya.
“Jadi, siapa pelakunya?” Tanya detective Inukai.
“Ada dua orang yang merasa tidak suka pada Sakuraba-san dan Momoka-san. Dan pelakunya adalah . . .”
“Ada dua orang yang merasa tidak suka pada Sakuraba-san dan Momoka-san. Dan pelakunya adalah . . . anda, Fumiko-san,” ucap Shinichi.
“Fumiko-san? Apa motifnya?”
“Cemburu. Fumiko-san cemburu dengan hubungan antara Sakuraba-san dan Momoka-san,” lanjut Shinichi.
“Kenapa . . . aku harus cemburu pada mereka berdua . . . “ Fumiko-san bingung.
“Anda mantan kekasih Sakuraba-san kan? Ketika aku melihat anda berdua kemarin, aku pikir itu bukanlah hubungan biasa. (waktu Ran dan Shinichi kaget melihat Fumiko dan Sakuraba berciuman). Dan aku juga memastikan karena kalian berasal dari tim teater yang sama,” ucap Shinichi.
“Tapi Sakuraba-kun dan aku sudah putus. Kami tidak punya hubungan apa-apa lagi, jadi kenapa aku harus cemburu?” elak Fumiko-san.
“Lalu . . . kenapa anda masih saja membawa pembatas buku berharga itu? Itu adalah pembatas buku keberuntungan untuk pasangan kan? Pembatas buku yang anda dapat dari Sakuraba-san dengan nama kalian berdua disana. Ketika aku memungutnya kemarin, aku tidak meragukannya lagi,” lanjut Shinichi lagi.
“Itu . . . aku mendapatkan ini saat kami masih bersama . . . itu Cuma kebetulan kalau aku membawanya sampai sekarang,” elak Fumiko-san lagi.
“Itu tidak mungkin kan? Pembatas buku dengan bunga sakura itu adalah barang limited . . . yang hanya dijual selama 2 minggu saja. Anda masih membawa pembatas buku itu … karena itu penting untuk anda. Bukti ini . . . adalah bukti perasaan anda pada Sakuraba-san,” lanjut Shinichi.
“Fumiko . . . apakah kau benar menusukku . . . dan membunuh Momoka?” kali ini Sakuraba-san yang angkat bicara.
“Sakuraba-kun, kau juga berpikir kalau aku seperti itu?” Fumiko-san bali bertanya.
“Benar, aku memang menginginkan kematian keduanya. Aku benci Sakuraba-kun yang pergi dengan wanita itu. Aku dan Sakuraba-kun, berada di tim teater yang sama selama 10 tahun. Dan . . . kami bermimpi menjadi bintang bersama. Aku rasa itu wajar . . . jika kemudian aku jatuh cinta padanya. Tapi dia . . . pergi dan memilih wanita itu . . .” Fumiko-san akhirnya mengaku.
Ia begitu cemburu ketika tahu Sakuraba-san memilih pergi dan bersama Momoka-san demi popularitas. Fumiko-san yang telah bersama dengan Sakuraba-san merasa dikhianati. Ia akhirnya memutuskan untuk menyingkirkan keduanya.
“Fumiko . . . “ Sakuraba-san masih tidak percaya dengan pengakuan Fumiko-san.
“Sakuraba-kun, setelah semuanya, sekarang benar-benar selamat tinggal. Kau tidak punya kemampuan acting yang bagus, dan wajahmu pun terluka . . .dan aku pikir setelah ini akan berat untukmu . . . tapi tolong, lakukan yang terbaik yang kau bisa,” ucap Fumiko-san sebelum pergi dan masuk ke mobil polisi.
Kru dan actor lain melepas kepergian Fumiko-san dengan mobil polisi. Mereka masih berbincang di depan tempat syuting.
“Apa yang akan terjadi dengan Fumiko setelah ini?” Tanya sutradara.
“Karena dia dianggap sebagai saksi kunci . . . mulai sekarang akan dilakukan investigasi penuh,” jawab Shinichi.
“Investigasi penuh? Bukankah dia sudah mengaku?” Tanya Sakuraba-san.
“Ummm, tapi belum ada bukti fisik yang ditemukan kan? Jika Fumiko-san meninggalkan sesuatu di TKP yang mengarahkan dia sebagai pelaku, dia akan menjadi pelakunya,” lanjut Shinichi.
“Shin'ichi, sudah waktunya untuk kereta kita,” Ran mengingatkan.
“Ah benar.”
“Kau akan pergi?” Tanya sutradara.
“Ya, meski aku seorang detective, aku masih anak SMA. Jadi aku harus kembali ke sekolah. Aku bertanggungjawab dengan deduksinya, tapi sisanya adalah urusan polisi,” ujar Shinichi lagi.
Shinichi dan Ran beranjak pergi. Para pemain dan kru film yang lain pun bubar.
Di suatu tempat, masih bagian studio film, sesosok hitam tengah mengintip. Matanya tampak berkedip awas, menyaksikan gerakan-gerakan tidak wajar di depannya.
Di tempat yang tidak terlalu jauh dari sana, sebuah gerakan tidak biasa tampak. Gerakan yang membentuk sesosok tubuh, gelap. Tubuh itu lalu menjatuhnya sebuah pin, tepat di tempat ledakan pertama hari sebelumnya terjadi.
“Ini dia!” Kazuha menggunakan tombak untuk menyundul atap di atasnya. Ia curiga ada sesorang yang tengah mengintai dari atas.
“Kazuha! Apa yang kau lakukan?!” Ran heran.
“Ini salah satu ambisiku, untuk menangkap si pelaku,” Kazuha masih bersemangat memaksa seseorang yang berada di atap untuk turun.
Orang yang berada di atap berusaha menghindari tusukan tombak Kazuha. Beberapa kali ia berguling untuk menghindari. Hingga . . . bruggg!!!
Ran dan Kazuha senang karena buruannya akhirnya jatuh. Mereka berdua menuju tempat jatuhnya buruan tadi. Tapi betapa kegetnya mereka melihat orang yang jatuh itu adalah . . .
“Paman, apa yang anda lakukan?” Tanya Kazuha
Pakde Kogoro berusaha bangun dan membersihkan bajunya. Ternyata ia sudah kembali dan rapi dengan kumisnya, “Untuk mencari barang bukti . . . aku menggunakan kamera ini secara rahasia tanpa mengatakannya pada kalian!”
Heiji tiba-tiba datang. Dengan lincah ia memainkan pedangnya pada seseorang berbaju serba hitam dan bertopeng.
“Kau beruntung, karena aku hanya menyerangmu dengan bagian belakang pedang. Benar?” Heiji rupanya selamat, dan ia sudah kembali ke TKP bergabung dengan yang lain.
Tiba-tiba si serba hitam bertopeng itu mengeluarkan sepucuk senjata api. Ia menembakkannya ke arah Heiji. Beruntung Heiji cepat bergerak, sehingga ia hanya terserempet peluru di pipi kanannya.
Kali ini Heiji lebih waspada. Ia yang hanya bersenjatakan pedang, berhadapan dengan si serba hitam yang bersenjatakan pistol.
“Hattori!” tiba-tiba saja Shinichi datang.
Berhasil mengalihkan sedikit perhatian si serba hitam, Heiji melemparkan pedangnya, tapi berhasil dihindari si serba hitam. Menyadari pedang itu menuju ke arahnya, Shinichi bergegas berlari dan melompat naik dengan kursi karet. Shinichi lalu melakukan salto, dan sasarannya bukan bola . . . tapi pedang itu.
Dengan sigap Shinichi menendang pedang itu ke arah si serba hitam. Singkat dan cepat, pedang itu mengenai senjata dan topeng si serba hitam, membuat senjata dan topeng itu terhempas jatuh. Sisanya, pedang itu jatuh menancap di depan pakde Kogoro. (aksi yang keren Heiji-Shinichi. Meski bermusuhan, tapi mereka sebenanrya saling mensupport . . . nice friendship)
“Bukankah waktunya kau mengakuinya?” ucap Shinichi.
“Permainan sudah berakhir,” lanjut Heiji.
“Pelaku sebenarnya . . . adalah kau . . . Sakuraba Reiichi-san,” ucap Shinichi dan Heiji dalam pose keren mereka bersamaan.
“Kau, bukankah kau sudah pergi?” Sakuraba-san heran.
“Aku masih disini. Aku memperkirakan kalau kau akan meletakkan bukti yang akan dicari polisi, jadi aku sedikit berakting,” jawab Shinichi.
“Ini adalah tempat dibuatnya film. Meski kami detective, tapi kami bisa berakting juga. Benar kan, Doyle?” lanjut Heiji.
“Membuat Fumiko-san sebagai tersangka . . . tentu saja itu acting. Tidak ada bukti yang membuktikan kalau kau pelakunya, jadi aku memancingmu untuk melakukan hal ini,” ucap Shinichi.
Ternyata Sakuraba-san lah yang membuat Fumiko-san seolah pelakunya. Ia meninggalkan salah satu benda milik Fumiko-san di TKP pertama (TKP ledakan). Dan pakde Kogoro yang mengintai dari atas, ternyata juga merekam aksi Sakuraba-san ini. Motif Sakuraba-san sebenarnya adalah uang. Rumor mengenai dia yang mengasuransikan wajahnya benar. Apalagi uang yang akan diterimanya karena kecelakaan yang merusak wajahnya relative besar.
“Buktinya ini, buku International Law, buku hukum internasional dari jaman Edo,” Shinichi menunjukkan buku yang ia bawa dari ruang perlengkapan syuting.
“Buku itu adalah buku yang selalu dibawa oleh Ryoma, tokoh yang kau perankan. Terselip di tengah buku ini . . . sebuah logam. Logam yang biasa digunakan untuk pintu anti api. Sepertinya Sakuraba-san sengaja meletakkan buku ini di balik kostumnya . . . yang bisa melindunginya dari panas dan ledakan. Jika buku ini ditemukan di kostum Ryoma, maka Sakuraba-san pun tidak akan dicurigai. Karena ini adalah bagian dari perannya,” lanjut Heiji.
“Setelah terjadi ledakan, untuk meyakinkan kecelakaan itu, ia membuat sedikit luka di wajahnya,” ucap Shinichi.
“Apa?! Oi, kau! Tunjukkan wajahmu,” pakde Kogoro lalu mendekati Sakuraba-san dan berusaha melepas perban di wajah Sakuraba-san. “Luka yang . . . bukankah ini hanya luka kecil yang bisa ditutupi dengan make-up kan?!”
“Meski luka kecil, itu tetaplah luka,” ujar Shinichi.
“Wajah seorang actor adalah hidupnya . . . dia berusaha melakukan semua ini untuk mendapatkan asuransi,” lanjut Heiji.
“Semua deduksi itu hanya perspektif kalian saja,” elak Sakuraba-san.
“Lalu, Sakuraba-san ada dibalik kematian Momoka-san?” kali ini Kazuha yang angkat bicara.
“Popularitas Sakuraba-san meningkat karena Momoka-san. Tapi dia sering tidak mau komporomi kan?” lanjut Shinichi.
“Superstar itu egois dan pencemburu. Dan kau membunuhnya, lalu membuatnya seolah bunuh diri,” ujar Heiji. “Membuat majalah yang kau yang sebelumnya untuk surat ancaman . . . dan meletakkan bubuk peledak di tas Momoka-san . . . akhirnya kau membuat peristiwa ledakan itu adalah kesalahan Momoka-san.”
“Pembatas buku yang kau berikan sebagia hadiah untuk Fumiko-san . . . juga untuk menarik perhatian kalau kau sudah putus dengannya,” lanjut Shinichi.
“Dan lagi . . . membuka kantor baru dengan uang asuransi . . . kau pikir, itu bisa membuatnya menjadi bintang bagi dirimu sendiri, huh?!” kali ini pakde Kogoro juga ikut marah.
“Menyakiti hati kedua wanita itu!” ucap Kazuha.
“Aku benar-benar tidak akan memaafkan hal itu!” lanjut Ran.
“Lalu kenapa? Kenapa kalau aku memanfaatkan kedua wanita yang tidak benar-benar aku sukai. Tidak Momoka maupun Fumiko!” ucap Sakuraba-san dengan nada tinggi.
“Kau baj*****!” umpat pakde Kogoro.
“Sakuraba-san, tidakkah kau menyadari perasaan Fumiko-san saat dia mengakui perbuatan ini? Kalau dipikir lagi . . . di punya banyak alasan untuk mengelak dari semua tuduhan itu,” ujar Shinichi.
“Misalnya . . . apa mungkin untuk seorang wanita seperti dia, bisa menggunakan kekuatannya untuk menggantung jasad korban dan membuatnya seolah bunuh diri?” lanjut Heiji.
“Lalu, kenapa Fumiko . . . “
“Tidakkah kau memahaminya? Fumiko-san masih mencintaimu. Dia menyadari kejahatanmu. Tapi dia tidak berniat untuk mengatakannya,” ucap Shinici.
“Meski telah putus denganmu, dia masih bermimpi untuk menjadi bintang bersama denganmu,” ujar Heiji pula.
“Demi orang yang ia cintai, dia berbohong dan membuat dirinya menjadi criminal . . . kau tidak paham perasaan wanita yang seperti itu kan?!” ucap Kazuha.
“Fumiko-san...demi Sakuraba-san, di melakukan kebohongan sebagai seorang aktris. Tapi pada akhirnya … aku pikir dia menyerahkan perasaannya yang sebenarnya padamu,” ujar Ran.
Polisi datang lagi. Kali ini detective Inukai datang bersama dengan Fumiko-san.
Shinichi mendekat pada Fumiko-san,” Fumiko-san, maaf sudah membuatnya terlibat dalam emosi yang menyakitkan ini. “
“Sakuraba-kun . . . “ Fumiko-san mendekati Sakuraba-san yang terduduk lemas.
“Fumiko . . . membutmu menjadi seperti ini . . . maafkan aku,” ucap Sakuraba-san.
“Sakuraba-kun, aku percaya padamu . . . ini bukan kau yang sebenarnya. “
“Aku . . . terburuk! Aku benar-benar minta maaf.”
Sakuraba-san kemudian dibawa oleh detective Inukai ke kantor polisi. Fumiko-san hanya bisa melepas kepergian orang yang ia kasihi itu dengan tetapan sendunya.
Sebelum benar-bener pergi, detective Inukai melihat ke arah Shinichi. Ia mengacungkan tangannya pada Shinichi. Shinichi hanya tersenyum melihat detective Inukai.
“Terimakasih detective, aku bisa mulai lagi hidupku yang baru. Terimakasih sudah menemukan satu-satunya kebenaran,” Fumiko-san tersenyum pada Shinichi dan mereka semua.
Heiji, Ran dan Kazuha memandangi Fumuko-san dengan senyum. Hmm … kasus akhirnya selesai.
Film yang sedianya akan dibuat pun di cancel. Kru dan para pemain bubar, membereskan barang-barang mereka.
“Terimakasih untuk peringatan Doyle-kun, kau berhasil selamat dari leakan itu kan?” ucap Kazuha yang tengah membantu Heiji mengobati luka di wajahnya itu.
“Itu benar, kau tidak mendengar suaranya … aku mungkin tidak akan sempat melindungi ayah Ran dan melompat keluar,” ujar Heiji.
“Tapi tidak sempat bertemu dengan orang yang menyelamatkan hidupmu, itu buruk kan?” ujar Kazuha.
“Aku baik-baik saja!” bentak Heiji. Kedunya berada dalam posisi wajah berdekatan.
Keduanya kaget dan salting sendiri.
“Btw, Doyle dan aku akan punya hubungan persahabatan yang unik kan?” Heiji berdiri untuk mengalihkan suasana. “Si Kudo itu . . . masih berpura-pura sebagai Doyle. Lain waktu aku yang akan ke Tokyo.”
Heiji memakai topinya. Ia memandangi kepergian Shinichi dan Ran dari atas jendela.
Ran san Shinichi berjalan pulang bersama.
“Ayahmu baik-baik saja kan sekarang?” Tanya Shinichi.
“Aku pikir, aku lebih cocok menjadi detective dibanding menjadi actor, begitu katanya. Ayah lalu buru-buru pulang,” jawab Ran.
“Well, kita juga harus buru-buru pulang,” ucap Shinichi.
Ran berhenti sebentar, memandangi Shinichi yang sudah lebih dulu berjalan di depannya, “Akhirnya dia tidak membelikanku (pembatas buku). Hftf . . . tidak ada yang bisa dilakukan lagi,” gumam Ran kecewa.
“Ini . . . aku jalan-jalan tadi pagi, dan tidak sengaja mendapatkan itu masih dijual,” ucap Shinichi sok cool sambil memberikan sebuah amplop pada Ran.
Ran menerimanya dengan heran. Ia lalu membuka amplop itu, dan tersenyum senang menemukan isinya adalah pembatas buku yang kemarin ia inginkan.
“Ayo cepat, jangan sampai kita ketinggalan kereta,” tegur Shinichi mengingatkan, dan menyembunyikan kegrogiannya.
“Shinichi!” panggil Ran. “Terimakasih,” Ran tersenyum ke arah Shinichi
“Yo,” Shinichi membalas senyum Ran.
Keduanya pulang bersama. Ran menyenggol tangan Shinichi berniat menggoda. Akhirnya keduanya tersenyum bersama. Omo . . . nice smile Shinichi.
0 komentar:
Posting Komentar