Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Jumat, 04 November 2016

Atashinchi no Danshi ep - 01

Mineta Chisato (Horikita Maki) adalah seorang gadis berusia 20 tahun yang oleh ayahnya dijadikan co-sign pinjaman senilai 1 juta yen. Oleh karenanya, untuk menghindari penagih hutang, Chisato menjadi homeless—tidak memiliki rumah/gelandangan—bekerja serabutan apa saja untuk bertahan hidup. Ayahnya sendiri, melarikan diri tidak tahu dimana rimbanya.

Kadang, Chisato datang dan meminjam shower di net-café milik teman masa SMAnya, Kokudo (yang juga menyukai Chisato). Tapi rupanya, itu tidak menyurutkan niat para penagih hutang untuk tetap mencari Chisato. Akibat lainnya, Chisato menjadi sangat dendam pada ayahnya yang menyebabkan hal ini terjadi dalam hidupnya.

Seperti biasa, Chisato dikejar oleh para penagih hutang. Berkali-kali ia berusaha melarikan diri. Sampai di atas gedung, dan mereka masih saja mengejar Chisato yang sudah terpepet.

Dari arah langit, muncul sebuah helicopter. Tidak lama sesudahnya, muncul seorang lelaki tua yang ternyata pemilik perusahaan mainan, Miracle. Dia . . . Ohkura Sinzo.

“Dengan ini, hutangnya lunas,” ucap Sinzo menuliskan sejumlah nominal di cek yang dibawanya dan diberikan pada kedua penagih hutang itu.

Chisato kemudian diajak naik ke helikopternya. Chisato terpesona dengan pemandangan dari atas helicopter.

“Sebenarnya apa maumu?” Tanya Chisato kemudian.

Sinzo-san mengeluarkan pena dan kertasnya. Di kertas itu tertulis, “Aku akan mengembalikan hutangku, sewaktu-waktu,” Chisato yang tidak curiga sama sekali, membubuhkan tanda tangannya. Shinzo kemudian membalik kertas perjanjian itu. Dan tampaklah . . . PERJANJIAN PERNIKAHAN. Chisato syok.

“Mulai sekarang, kita keluarga,” ucap Sinzo dengan tenangnya.

Sinzo membawa Chisato ke kediamannya. Mereka berbicara sambil bermain sepak bola boneka. Chisato protes karena ia merasa dijebak.

“Kau hanya perlu menjadi istriku selama sebulan. Bagaimana dengan makan tiga kali sehari dan tempat tinggal yang terjamin?” tantang Sinzo-san.

“Apa maumu sebenarnya?!” Chisato kesal.

“Sebenarnya, aku hanya bisa bertahan hidup sebulan lagi. Aku hanya butuh satu bulan. Jadilah istriku dalam satu bulan ini.”

“Kau pikir . . . “

“Atau kalau tidak, kembalikan uangku sekarang juga . . . ,” tantang Sinzo-san.

Chisato bimbang. Ia berpikir lama, kemudian, “Aku akan menikah denganmu.”

Mereka berdua akhirnya menikah. Selama sebulan Chisato menjadi istri dari Sinzo-san dan berbahagia.

Sebulan kemudian, Sinzo-san benar-benar meninggal seperti prediksinya. Permintaan terakhir Sinzo-san, agar Chisato menebarkan abunya di langit . . .

Ketika balon udara yang digunakan Chisato untuk menebarkan abu Sinzo-san mengudara, sekilas tampak beberapa deretan angka. Dan dibawah, angka-angka itu dibaca . . .

Perkenalan keenam anak angkat Sinzo-san . . . cekidot

Pimpinan geng motor berusia 27 tahun. Selalu menggunakan baju berwarna merah. Bekerja sebagai pengantar barang. Anak kedua, Ohkura Takeru.

Model terkenal yang digandrungi remaja putri. Tapi mengalami phobia pada wanita. Berusia 22 tahun. Anak keempat, Ohkura Masaru.

Don-juan-nya My Boys. Lebih suka menghabiskan waktunya untuk melukis di jalanan bersama para gadis yang memujanya. Berusia 30 tahun. Anak pertama, Ohkura Fuu.

Mantan pesulap yang karena suatu insiden mengurung dirinya dalam ruangan tertutup selama setahun. Berusia 17 tahun. Anak kelima, Ohkura Satoru.

Anak paling imut dan paling cerdas diantara ke-6 my boys. Tidak tertarik dengan warisan. Mendapatkan uang dari pasar saham. Berusia 12 tahun, Ohkura Akira.

Paling cakep diantara ke-6 my boys (versi Kelana, hehehe). Bekerja sebagai host di sebuah klub. Masa lalunya penuh misteri. Cerdas tapi pembangkang. Berusia 25 tahun. Anak ketiga, Ohkura Sho.



Selesai menebarkan abu Sinzo-san, Chisato turun dari balon udara. Dibawah dia sudah disambut oleh sekretaris Sinzo, Tokita Shuji.

“Terimakasih, telah menemani direktur hingga akhir hayatnya,” ucap Tokita-san.

“Jadi dia akhirnya meninggal, huh?” gumam Chisato kemudian.



Tokita kemudian membawa Chisato ke trick heart castle. Kastel ini adalah kediaman kedua Sinzo. Tokita menjelaskan kalau direktur Sinzo tidak menikah, tapi selama ini dia sudah mengadopsi enam orang anak yang mulanya dipersiapkan untuk menjadi pewarisnya. Sayangnya keenam anak itu tidak ada satupun yang kompeten. Dari keenam anak itu, ada yang sudah tinggal mandiri dan ada pula yang masih berada di castle itu. Baru masuk, Chisato sudah disuguhi banyak keanehan dan keunikan castle satu ini.

“Pengacara keluarga Sinzo yang nanti akan menjelaskan semuanya,” ucap Tokita-san setelah mengajak Chisato berkeliling rumah.

“Perkenalkan, saya Kogane Kyoko, pengacara keluarga Sinzo,” tiba-tiba terdengar suara dan muncul wujud sang pengacara yang tiba-tiba.

Kontan saja Chisato kaget dengan kehadiran pengacara ini. Sekretaris Tokita hanya tersenyum, ia menertawakan ekspresi kaget Chisato. (secara ya, siapa yang ga bakalan kaget coba, muncul tiba-tiba tanpa suara . . .)



“Chisato-san, berapa lama anda menjadi istri Sinzo-san?” Tanya pengacara Kyoko.

“Itu . . . hari ini tepat satu bulan,” jawab Chisato.

“Apa anda pernah melihat ini?” pengacara Kyoko menunjukkan persetujuan pernikahan yang pernah ditandatangani Chisato saat pertama bertemu dengan Sinzo dulu.

Menjadi istri Sinzo selama sebulan#Jika ini terpenuni, maka semua hutangnya dianggap lunas#Jika ini tidak dipenuhi, maka hutang itu harus dikembalikan secepatnya#Tinggal di trick heart castle selama tiga bulan dan menjadi ibu bagi keenam anak-anakku#Jika ini tidak dipenuhi, maka hutang itu harus dikembalikan secepatnya secara tunai.

Tentu saja Chisato protes, karena tidak pernah merasa melihat perjanjian itu sebelumnya. Ia merasa telah ditipu oleh Sinzo. Sekretaris Tokita mengingatkan kalau ini tidak dipenuhi, maka Chisato harus mengembalikan sejumlah uang hutangnya secara tunai saat ini juga. Chisato bimbang.



Sekretaris Tokita membawa Chisato ke ruang sauna, menemui anak-anak Sinzo. Disana mereka tengah berkumpul . . . setengah telanjang . . . (ya iyalah, secara disauna).

“Huaaa!!! Apa yang mereka lakukan telanjang seperti itu?!” Chisato kesal.

Di ruang sauna berkumpul empat anak Sinzo. Mereka Tekeru si anak kedua, Sho si anak ketiga, Masaru si anak keempat dan Akira si anak keenam. Lalu ada Satoru si anak kelima yang mengurung diri di ruangannya, tapi terhubung dengan kamera.

Sekretaris Tokita memperkenalkan Chisato sebagai istri dari Sinzo-san. Mereka berlima tentu saja heran, bagaimana bisa seorang muda seperti Chisato mau menjadi istri Sinzo-san. Belum lagi fakta bahwa mulai hari ini Chisato akan tinggal bersama mereka di trick heart castle sebagai ibu mereka.

“Bagiamana mungkin aku bisa tinggal di kebun binatang seperti ini?!” Chisato kesal pada anak-anak itu dan beranjak pergi.



Rupanya Chisato mendapat telepon dari temannya pemilik net-café tempat Chisato biasa numpang mandi. Ayah Chisato muncul. Segera Chisato meninggalkan trick heart castle menuju tempat yang ditunjukkan temannya itu.



Sepeninggal Chisato, sekretaris Tokita yang bicara pada anak-anak itu. Mereka protes karena harus ada orang aneh yang muncul disana dan berperan sebagai ibu mereka.

“Lalu untuk apa kalian disini?” Tanya pengacara Tokita.

“Itu karena pesan yang muncul lewat balon terbang,” jawab Sho.

“Pesan apa?” Takeru heran sendiri.

Akira lalu angkat bicara. Ia menjelaskan arti angka-angka yang ada di balon udara tadi. Inti pesannya kira-kira . . . berkumpullah di trick heart castle jam satu untuk membahas warisan.

Pengacara Kyoko tiba-tiba muncul. Ia mengatakan kalau warisan Sinzo sudah diberikan semuanya pada panti asuhan, lalu membagikan warisan berupa benda-benda aneh pada anak-anak itu. Jelas anak-anak itu tidak percaya.



Chisato yang tadi mendapat info soal kehadiran ayahnya, kembali ke castle. Rupanya ia kembali tidak berhasil menemukan ayahnya itu.

“Kau kembali huh?” Sho heran melihat Chisato ada di depan castle.

Tapi Chisato mengabaikan Sho. Ia mulai mengucapkan password masuk rumah itu. (konyol, masak masuk rumah sendiri mesti pke password segala), “Yama.”

“Kawa,” balas sebuah suara.

“Yutaka,” ucap Chisato.

“Kakak laki-lakinya . . . “ jawab suara itu.

“Huh?” Chisato heran kerena paswordnya kali ini gagal.

Sho ternyata masih disana. Ia memperhatikan Chisato, “Toba Ichirou,” ucap Sho kemudian, dan pintu pun berhasil dibuka. (uniknya, password untuk membuka pintu ini selalu berbeda dan berubah-ubah, kekekeke)



Di dalam rumah, Chisato sudah disambut pengacara Kyoko. Ia memberi Chisato gulungan yang lain. Kali ini gulungan yang berisi hal-hal apa saja yang harus dilakukan Chisato sebagai ibu dari keenam anak angkat Sinzo, mother goal.

“Apa-apaan ini?!” Chisato protes.

“Ini juga buku yang berisi profil keenam anak Sinzo-san dan peta castle ini. Well, semoga berhasil,” pengacara Kyoko lalu pergi a.k tiba-tiba menghilang.



Chisato yang ditinggal pengacara Kyoko gondok. Tapi ia kemudian mengambil buku yang ditinggalkan pengacara Kyoko dan mulai membacanya sambil duduk di sebuah kursi. Tanpa diketahui, tiba-tiba kursi itu meluncur cepat kebawah. Kontan Chisato kaget dan tidak bisa berbuat apa-apa. Chisato tiba di sebuah ruangan. Tepatnya ruang olahraga. Disana tampak tiga orang anak-anak Sinzo, Takeru, Masaru dan Akira tengah menikmati juice dengan seragam olahraga masing-masing.

Takeru menantang Chisato untuk adu basket. Kalau mereka menang, mereka akan menuruti kemauan Chisato. Tiga lawan satu, tentu saja Chisato protes. Takeru lalu memanggil Inou-san, pelayan rumah itu yang ternyata bersembunyi di sebuah lukisan dinding. Chisato semakin heran dengan rumah aneh ini.

Dengan kode, Tekeru berusaha memberitahu Inoue sesuatu. Pertandingan dimulai. Dengan lincah Chisato merebut bola dari Masaru yang ketakutan pada wanita, dioper pada Inoue-san dan . . . hap, satu bola masuk dengan sukses.

“Inoue-san!!! Apa yang kau lakukan?!” Takeru geram dengan ulah Inoue-san.

“Huh, bukannya tadi dia memintaku untuk bermain sebaik-baiknya dengan dua orang?” Inoue-san bingung. Rupanya ia tadi tidak mengerti sinyal dari Takeru yang memintanya untuk mengalah. (hahaha, poor Takeru)



Meski sudah kalah, Takeru, Masaru dan Akira masih belum menyerah. Mereka kali ini menantang Chisato untuk mengeluarkan Satoru, si anak kelima yang sudah setahun lebih tidak keluar dari ruangannya.

“Kalau kau bisa mengeluarkan dia dalam sepuluh menit, maka kau menang,” ucap Takeru senang sambil mulai memencet penghitung waktu mundur.

Chisato berusaha membujuk Satoru untuk keluar. Ia membaca profile Satoru di buku keluarga Ohkura. Satoru adalah mantan pesulap cilik yang terkenal. Tapi setahun belakangan ini ia memilih mengurung dirinya di ruangan.

Menyadari usahanya gagal, Chisato mengintip ke dalam kamar. Ia melihat Satoru yang sedang makan dari delivery order. Mengetahui hal itu Chisato langsung mendapat ide. Ia menuju tempat delivery order yang ternyata berada tidak jauh dari castle. Kebingungan Chisato masuk ke rumah makan itu. Tidak ada seorang pun di dalamnya. Ketika muncul, seseorang berbaju koki dengan tampang aneh dan sikap aneh. Tentu saja ia tidak bersedia memberitahukan caranya mengirimkan makanan pada Satoru.



Waktu terus berjalan. Chisato kembali ke castle. Ia masih saja membujuk Satoru untuk keluar. Kali ini ia mengiming-imingi Satoru dengan kisah sebelum ia mengurung diri di ruangan itu. Tentu saja Satoru kesal, ia membanting fotonya yang memenangkan sebuah kompetisi.

Ketiga Ohkura yang lain, Takeru, Akira dan Masaru duduk menunggu. Mereka dengan senang memperhatikan Chisato yang dikerjai oleh Satoru. Waktu 10 menita akhirnya habis. Chisato lalu masuk ke ruangan sebelah, dan . . . lampu peringatan merah berbunyi lalu tepung dilemparkan ke arah Chisato dari berbagai arah. (poor Chsiato)



Chisato yang belepotan tepung tentu saja kesal. Apalagi disambut tawa cekikikan ketiga Ohkura itu. Chisato kemudian pergi, ia menuju net-café milik temannya, Kokudo.

“Kenapa kau hanya punya baju seperti ini?” protes Chisato setelah mandi dan ganti baju merah seksi ala China.

Personil net-café terpesona oleh Chisato. Tidak terkecuali Kokudo dan temannya yang lain, “Kawaiii—manisnya!”

Tiba-tiba Sho masuk ke net-café itu. Kaget ia melihat Chisato yang berpakaian manis dan sudah rapi itu.

“Apa yang kau lakukan disini?” tegur Chisato.

Tersadar dari keterpesonannya, Sho mengajak Chisato bicara. Ia meminta Chisato untuk tidak menyerah menaklukkan Satoru dan anak-anak Ohkura yang lain. Tapi pembicaraan mereka terganggu oleh kehadiran seseorang yang menyita perhatian Chisato. Buru-buru Chisato keluar dan mengejar orang itu.



“Oyaji—ayah!!!!” dengan high-heel­nya Chisato mengejar laki-laki yang ternyata ayahnya itu.

“Oh, Chisato bagiamana kabarmu? Hutang, semua sudah lunas kan?” Tanya ayah Chisato tak tahu malu.

“Aku hanya meminjamnya. Suatu saat akan aku kembalikan. Kenapa kau pergi saat ibu sekarat?!” protes Chisato.

Keduanya kelelahan, lalu berhenti berlari, “Tidak seharusnya orang seperti aku ini memiliki keluarga. Aku kasihan pada ibumu itu,” ucap ayah Chisato yang bernama Mineta Toru.

“Ibu hanya ingin berada di dekatmu,” ucap Chisato.

Mineta-san lalu berusaha bunuh diri agar Chisato tidak lagi mengejarnya. Mineta-san lompat dari atas jembatan. Tentu saja Chisato kaget.

“Aw aw aw, sakit! Ah, rupanya ibumu belum menginginkan aku menyusulnya,” ucap Mineta-san yang ternyata jatuh di atas truk pengangkut kardus bekas.

Sementara itu Chisato hanya bisa memandangi kepergian ayahnya dari atas jembatan.



Chisato yang kesal menuju tempat paman tua yang selama ini mempekerjakannya. Chisato mulai mencabuti sayuran di halaman rumah paman itu.

“Chisato, aku tidak menyuruhmu untuk datang dan bekerja hari ini,” sergahnya.

Chisato yang kesal dengan ulah anak-anak Ohkura tidak peduli. Ia terus saja mencabut sayuran-sayuran itu, hingga kelelahan. Paman tua tadi mengajak Chisato duduk dan mengobrol di teras rumah. Ia membicarakan istrinya yang sudah meninggal dan putrinya yang sudah jauh darinya. Sekarang giliran Chisato yang merenung. Ia mengingat waktu-waktu yang dihabiskannya bersama Sinzo-san. Ketika mereka membicarakan tentang keluarga.



Chisato kembali ke castle. Kali ini ia berkeras akan menaklukan Satoru. Chisato membawa beberapa barang ciptaan Sinzo-san, berharap ini bisa membantunya untuk memaksa Satoru keluar dari ruangannya.

Penghitung waktu mundur sepuluh menit dinyalakan. Pertama semacam peledak yang dipasangkan di pintu, tapi gagal. Kali kedua, Chisato mencoba mendobrak pintu itu dengan kapak besar. Bukan pintu yang terbuka, tapi malah kapak yang terpotong. Kapak itu melayang dan nyaris mengenai Masaru. Tapi Chisato belum menyerah. Ketiga kalinya ia mencoba dengan mesin pemotong kayu, dan . . . masih juga gagal.



Sebuah suara terdengar. Suara mesin.

“Ah, sudah nyala, bagaimana sekarang? Dingin kan disana?” Tanya Chisato, sementara ketiga anak Ohkura yang lain heran melihatnya.

“Apa yang kau lakukan?” Satoru heran.

“Aku pikir, sepertinya aku membekukan ruanganmu. Aku baru saja menyalakan system pendingin. Pernah dengar cold sleep? Katanya kalau dibekukan sembari tidur, maka kau akan bisa hidup lebih lama lagi. Luar biasa.”

“Jangan bercanda! Itu tidak mungkin!” Satoru semakin kedinginan

“Ya, tentu saja. Btw, kau mesti tidur sampai masa depan cerah ada untukmu. Oya, tapi aku belum pernah mencobanya. Mungkin kau bisa mati sebelum terbangun lagi.”

“Jangan bercanda! Hentikan sekarang juga! Hei, hentikan!” Satoru mulai ketakutan.

Chisato mulai monolognya, “Hei, kau tahu, aku juga tidak punya keluarga. Selama ini aku sendirian. Aku selalu menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padaku. Dan selalu berpikir, ini bukan aku. Hidup seperti itu melelahkan, kau tahu? Setiap hari terasa berat dan menyakitkan. Aku mulai membenci segala hal. Aku bahkan pernah berpikir untuk mati saja. Tapi . . . setelah bertemu Sinzo-san, perlahan aku mengerti kalau aku tidak sendirian. Pemandangan di luar sungguh menakjubkan. Tadinya aku tidak pernah berpikir kalau aku bisa punya masa depan. Sendirian, aku pasti tidak akan pernah mengetahui semua itu. Satu langkah saja, dan dunia akan berubah . . . well itu akhir monolog-ku. Lalu apa yang akan kau lakukan? Sepertinya kau tidak peduli akan hidup atau mati,” Chisato mengakhiri kalimatnya.

Waktu terus berjalan. Sepuluh menit nyaris habis. Hingga akhirnya, di detik-detik terakhir . . . Satoru akhirnya keluar.

“Satoru . . . “ Takeru speechless.

“ . . . keluar,” Masaru melanjutkan kalimat Takeru dengan speechless juga.



Chisato tentu saja senang, karena kali ini ia berhasil. Chisato menagih janji mereka untuk makan bersama di ruang makan sebagai terpenuhinya mother goal. Sementara Satoru masih saja mengelak kalau ia keluar karena tidak tahan dingin di dalam.

Chisato dengan semangat membuat masakan di dapur. Setelah jadi ia membawanya ke ruang makan, “Maaf, sudah menunggu,” ucapnya ceria yang langsung berubah masam karena anak-anak Ohkura ternyat tidak menepati janji mereka.



Di tempat lain, paman pemilik kebun sayuran yang pernah mempekerjakan Chisato tersenyum. Ia memandangai foto Sinzo-san sambil minum anggur di gelasnya, “Ini baru mulai kan.”

Satoru si pertapa akhirnya mau keluar ruangannya. Ia mengambil fotonya yang memenangkan kompetisi. Satoru tersenyum sambil memandang langit-langit kamarnya.

Di suatu tempat, tampak Ohkura Fuu si anak tertua tengah melukis. Seorang laki-laki mendekat, dan bertanya tentang lukisan Fuu. Fuu tersenyum sebelum menjawab, “Ini gambar . . . penghancuran dunia,” sambil memandangi gambar trick heart castle di depannya.

Di rumah, Chisato kesal karena ulah anak-anak Ohkura. Akhirnya ia memakan sendiri makanan yang tadi sudah ia siapkan.



“Haruskah aku kembali? Tapi aku punya syarat,” terdengar sebuah suara.

Chisato menengok ke arah sumber suara itu. Ternyata disana ada Sho yang sedang nangkring di lantai dua, memandangi Chisato makan.

“Dari yang aku dengar, kau mendapat bagian warisan besar dari Ohkura Sinzo.”

“Warisan?” Chisato heran.

“ Jadi aku ingin kau . . . memberikannya padaku,” tawar Sho.

“Memberikannya padamu?”

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.