Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Jumat, 11 November 2016

Atashinchi no Danshi ep - 08

Kisah sebelumnya . . .

Fuu akhirnya mengetahui alasan kenapa Sinzo-san selama ini memperlakukan ia seperti anak adopsi. Akira berhasil membuat ibunya muncul, meski tidak sempat bertemu, tapi Akira perlahan bisa memaafkan ibunya yang telah meninggalkannya dulu. Masaru pun perlahan berubah karena masa lalunya.

Chisato dan Kokudo membuka pintu pagi hari. Dan betapa kagetnya mereka karena halaman castle penuh dengan para penagih.

“Kenapa kalian semua disini?!”

“Ohkura-san, tolong bayar tagihan bulan ini!!!” pinta mereka. Masing-masing penagih menyodorkan kertas tagihan mereka pada Chisato dan Kokudo.

“Tunggu dulu! Kenapa kalian disini tiba-tiba begini?” protes Chisato.

“Maaf, tapi ini tidak tiba-tiba. Kami selalu mendapatkan bayaran tiap bulannya,” jawab mereka.

“Oleh siapa?”

“Inoue-san!” mereka kompak menyebut Inoue-san yang ternyata sedang berada di sebuah air terjun melakukan latihan fisik.



“Akhirnya kita bersama. Dengar! Apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama!” deklarasi yang dibuat keenam anak-anak Ohkura di dalam sauna.

Mereka lalu keluar ke ruang makan. Disana Chisato sudah menyiapkan sarapan lengkap untuk mereka masing-masing. Mereka lalu duduk di tempat masing-masing dan bersiap makan bersama.

“Tunggu dulu! Kalian harusnya . . . “ ucapan Chisato dipotong.

“Itadaki . . . “

“Tunggu dulu! Kita melakukan ini karena mother goals, jadi Chisato yang harus mengatakannya,” protes Masaru.

“Lebih penting, berpakaianlah kalian!” protes Chisato yang diacuhkan oleh anak-anak Ohkura itu.

Bukannya mulai makan, anak-anak Ohkura itu malah saling menyalahkan. Akhirnya mereka bertengkar sendiri. Takeru dan Sho yang bertengkar sambil berdiri, tidak sengaja membuat Sho terjatuh di depan Chisato dengan posisi tidak menguntungkan.

“Kenapa kau malu? Kau mau menciumnya lagi kan?” tembak Takeru.

“Apa yang kau katakan?” Sho salah tingkah. Tapi ia kemudian diselematkan oleh dering ponselnya.

“Kalian! Berpakaianlah!” pinta Chisato lagi.



Sho keluar dari ruangan utama. Ia menerima telepon dari seseorang.

“Maaf, sudah menghubungimu berkali-kali,” ucap suara seorang lelaki di seberang sana.

“Tidak apa-apa. Ini tentang uang kan?”

“Ya. Jika aku tidak bisa mendapatkannya besok . . . “

“Besok? Berapa banyak yang sudah anda punya?” Tanya Sho balik.

“Aku sudah punya 2 juta yen.”

“Anda masih membutuhkan 8 juta yen lagi . . . “

“Seharusnya aku tidak memintanya darimu.”

“Aku akan mengusahakan uangnya. Akan menyedihkan kalau Yukari no Sono sampai ditutup,” ucap Sho.

“Terimakasih. Aku tidak ingin kalau sampai anak-anak itu kedinginan lagi.”

“Aku mengerti yang anda rasakan, Shimura-san. Aku akan mencari cara,” Sho menutup telepon.

Rupanya Kokudo mendengarkan apa yang dibicarakan Sho dengan seseorang di seberang telepon. Ia yang penasaran mendekat dan mulai menginterogasi Sho. Alih-alih menginterogasi Sho, Kokudo malah menjadikannya alasan untuk membahas tentang Chisato. Kokudo ternyata satu dari sekian orang yang cermburu atas ciuman tidak sengaja Sho dan Chisato.

“Aku bilang itu tidak sengaja!” bentak Sho.

“Apapun itu, tidak bisa mengubah kenyataan kan?”

“Kalau kau benar-benar menyukai Chisato, kenapa tidak mengatakannya saja padanya?!” tantang Sho kemudian.



“Berapa lama kami harus menunggumu lagi?!” protes Takeru saat Sho kembali.

“Ini bahkan belum lima menit,” ucap Sho yang kembali bergabung di meja makan.

“Sekarang, itadaki . . . “

“Tunggu dulu! Siapa yang akan memutuskan kalau kita telah berhasil menyelesaikan pertemuan ini?” Tanya Masaru.

“Itu pasti aku. Ada masalah?” Tanya pengacara Kyoko yang muncul tiba-tiba membuat seisi rumah kaget. “Silahkan.”

“Itadakimasu,” ucap Chisato kemudian.

“Itadakimasu!” jawab anak-anak yang lain.

“Mother's Goal #1... sukses,” ucap pengacara Kyoko sambil mengambil gambar mereka semua.



Kokudo kembali ke net-café. Ia begitu kesal pada Sho. Kokudo berniat untuk mencari tahu lebih banyak dan kemudian menunjukkan keburukan Sho pada Chisato, “Dia bilang dia butuh uang 8 juta yen dengan cepat. Dia pasti terlibat sesuatu yang menakutkan. Aku harus menunjukkan keburukannya pada Chisato,” tekat Kokudo sambil mulai mencari tahu informasi mengenai Sho.

“Senpai . . . wajahmu, menakutkan,” ucapa salah seorang temannya sesama karyawan net-café.

“Huh? Aku yakin dia bilang Yukari no Sono. Ketemu! Sebuah panti asuhan . . . itu artinya Sho dibesarkan di panti asuhan. Dan nama yang ia sebut di telepon . . . Shimura, cocok dengan nama direktur dari panti asuhan ini,” gumam Kokudo senang.

Kokudo dan temannya kemudian membuntuti Sho. Hari itu Sho mengunjungi panti asuhan Yukari no Sonno seperti yang ditemukan oleh Kokudo.

Shimura-san, direktur panti asuhan itu ternyata meminta bantuan Sho untuk mendapatkan uang. Panti asuhan sedang kesulitan keuangan, sehingga Shimura-san menghubungi Sho. Sho yang pernah dibesarkan di panti asuhan itu merasa berhutang budi, dan berjanji untuk membantu.



Di castle . . . anak-anak Ohkura sedang membubuhkan cap tangannya di masing-masing bingkai yang sudah disiapkan. Dimulai dari Akira, Masaru, Fuu dan terakhir Sho.

“Mother goal#2, sukses!” ucap pengacara Kyoko mengambil gambar mereka semua.

Dibantu anak-anak Ohkura yang lain, Chisato mengarahkan mereka untuk memasang cap tangan itu di dinding. Chisato lega karena step kedua, untuk menyelesaikan mother goals sudah selesai. Tapi . . . masih ada step selanjutnya!



“Mother's Goal #3, memutuskan siapa yang akan menjadi kepala rumah tangga,” ucap pengacara Kyoko sambil membentangkan gulungannya.

“Kepala rumah tangga?” Chisato dan keenam anak-anak Ohkura kaget.

“Seseorang yang akan menjadi tulang punggung keluarga. Sejak Sinzo-san meninggal . . . kalian perlu penanggungjawab keluarga Ohkura untuk menghadapi berbagai masalah yang mungkin timbul,” jelas pengacara Kyoko.

“Kalau begitu itu tugasmu shortie,” ucap Takeru pada Chisato.

“Kenapa aku?!” protes Chisato.

“Kau kan ibu kami,” sambung Satoru.

“Tunggu dulu! Bukankah tulang punggung keluarga biasanya laki-laki?” Tanya Chisato.

“ Kalau begitu Fuu. Dia kan yang paling tua,” saran Masaru.

“Tidak! Aku tidak mau menanggung tanggung jawab meski sebagai anak pertama,” elak Fuu.

“Benar-benar berbeda dengan apa yang kau katakan tadi,” ujar Sho.

“Baik. Kau yang jadi kepala rumah tangga,” ucap Fuu pada Masaru.

“Tidak bisa! Aku kan sibuk,” elak Masaru.



“Bagaimana kalau kau, Takeru?”

“Baik. Tapi kalau aku jadi kepala rumah tangga, kalian semua harus mengenakan seragam sepertiku,” tantang Takeru.

Chisato dan kelima anak-anak Ohkura yang lain mulai membayangkan. Mereka menggunakan baju gangster seperti Takeru, dan kemudian mulai bertarung dengan gangster lain, “Tidak! Tentu saja tidak!” mereka berucap kompak menolak ide Takeru.

“Kalau begitu, kau saja Sho.”

“Oh, tapi kalau aku yang jadi kepala rumah tangga, kalian semua harus mengenakan jas satin,” ujar Sho.

Chisato dan anak-anak Ohkura yang lain mulai kembali membayangkan. Mereka menggunakan jas rapi dan menjadi host, melayani tante-tante,” Tidak!” tolak mereka kompak.

“Bagiamana kalau Satoru?” usul yang lain.

“Aku tidak mau!” elak Satoru.

“Kalau kau ingin belajar lebih dewasa, lakukan saja.”

“Jangan ngaco, memangnya siapa yang mau melakukannya?” elak Satoru lagi.

“Kalau begitu tidak ada yang lain lagi, kau saja Akira,” ucap Takeru diikuti yang lain menatap Akira yang duduk di tangga lantai 2.

“Aku tidak mau,” elak si bungsu pula.



“Aku melupakan satu hal. Orang yang menjadi kepala rumah tangga . . . aku akan memberikannya 10 juta yen,” ucap pengacara Kyoko sambil menunjukkan uang di sebuah koper.

“10 juta yen?!” kontan semuanya kaget. Dan karena hal itu, mereka semua berebut menawarkan diri untuk menjadi kepala rumah tangga.



Pengacara Kyoko mulai menjelaskan biaya yang selama ini diperlukan oleh Trick Heart Castle, tahun kemarin. Dari gas, listrik, air, perawatan dll mencapai 14,6 juta yen.

“Oh kau bilang itu mencapai 14,6 juta yen, tapi sekarang kau hanya memberikan kami 10 juta yen? Apa itu termasuk orang-orang yang datang tadi? (para penagih),” Tanya Chisato.

“Kepala rumah tangga yang harus mengaturnya. Termasuk untuk orang-orang yang datang tadi, semuanya dari 10 juta yen itu.”

“Ah, mereka tidak mendengarkan,” keluh Chisato melihat anak-anak Ohkura yang lain malah sibuk berimajinasi akan mereka apakan uang 10 juta yen itu.

“Tolong beritahu aku kalau kau sudah memutuskan siapa yang akan menjadi kepala rumah tangga,” ucap pengacara Kyoko lalu beranjak pergi.

“Dengar! Ini bukan uang yang bisa kalian habiskan seenaknya!” ucap Chisato sambil mengambil kembali uang-uang itu dari mereka dan menutup koper uang itu.

Dari semua anak-anak Chisato, hanya Sho yang tampak terdiam berpikir. Rupanya ia mencari alasan untuk bisa mendapatkan uang itu, “Bisakah aku pinjam uang itu? Di tempat kerja ada seorang customer yang sangat cantik . . . tapi untuk mendapatkannya, aku harus membayar uang 8 juta yen pada host yang sekarang bersamanya. Aku benar-benar ingin mendapatkannya,” pinta Sho.

“Tidak!” semua anak-anak Ohkura tentu saja menolak permintaan Sho itu.

Sho akhirnya mengalah dan pergi. Chisato memandangi kepergian Sho dengan rasa penasaran. Tidak biasanya Sho bersikap seperti itu.



Tiba-tiba castle bergetar dan terdengar suara seperti kunci digembok. Seisi rumah kaget, mengira itu adalah gempa bumi. Sesaat mengalihkan perhatian mereka dari berebut menjadi kepala rumah tangga.

Sho yang tadi beranjak keluar, kembali lagi, “Hei! Itu . . . “

“Kau sudah tereliminasi dari pemilihan sebagai kepala rumah tangga, apa lagi?!” Tanya Takeru ketus.

“Tidak, maksudku itu tidak terbuka. Pintu depan tidak bisa dibuka!” ucap Sho panic.

“Apa?!” anak-anak Ohkura yang kaget kemudian berpencar mengecek setiap pintu di rumah itu. Mereka menemukan kalau selain pintu depan, ternyata pintu belakang, dan pintu rahasia juga terkunci.

“Sepertinya kita terkunci di castle,” ucap Fuu kemudian.

Chisato lalu menghubungi pengacara Kyoko yang saat itu tengah berada di jalan. Pengacara Kyoko menjelaskan kalau mungkin ada ketidakberesan pada system keamanan castle. Saat Inoue-san sang pelayan tidak ada di rumah, kalau ada penyusup dalam bentuk apapun, maka castle akan terkunci dengan sendirinya. (jadi Inoue-san ini juga bertugas sebagai penjaga rumah ya, ga Cuma sekedar pelayan aja? xixixixi)



Tiba-tiba ruangan menjadi gelap.

“Apa ini? Listrik padam?”

“Tapi tidak ada laporan listrik akan padam.”

“Kalau begitu, ini fenomena supernatural,” ucap Takeru mulai memanas-manasi.

“Jangan mengatakan hal menakutkan seperti itu!” protes Satoru.

“Kenapa, kau takut?!” Tanya Masaru kemudian.

“Hei, bukannya itu kamu. Jangan memegangku seperti itu!” teriak Satoru mengibaskan tangan Masaru yang memegang bajunya erat.

Mereka semua heran dengan listrik padam ini. Padahal tidak ada satupun yang memainkan saklar. Chisato menanyakan tentang sekring, tapi dasar anak-anak aneh, mereka tidak tahu letak sekring listrik castle itu. Akhirnya Chisato menyuruh mereka berpencar.

Sementara di kantor, Sekretaris Tokita baru saja berbicara di telepon. Sebentar lagi aka nada rapat penting di perusahaan. Sepertinya ia tahu apa yang terjadi di dalam Trick Heart Castle dan menimpa keluarga Ohkura.

“Bukankah itu rapat penting, tapi tanpa kehadiran presdir?” tembak pengacara Kyoko mengagetkan sekretaris Tokita. Sepertinya pengacara Kyoko tahu rencana yang tengah dilakukan sekretaris Tokita.

“Kau berpihak pada siapa sebenarnya?”

“Kau aneh, tidak seperti biasanya. Tampak panik,” komentar pengacara Kyoko kemudian.



Takeru mencari sekring bersama Akira. Ia berkeliling bersama Akira ketika kemudian tidak lagi mendengar suara Akira. Takeru kemudian memutuskan kembali mencari Akira.

“Oh, dia tertidur? Ah ini sudah jam 9 rupanya,” komentar Takeru menemukan Akira tertidur bersandar di dinding. Takeru kemudian membawa Akira kembali ke ruang tengah.

Di tempat lain, Masaru mencari sekring bersama Satoru. Bukannya mencari sekring, Masaru malah menemukan naskah drama pertamanya. Disitu ia berperan menjad detektif, dan mulai memamerkannya pada Satoru.

“Kau . . . kau benar-benar serius tentang dia (Chisato)?” kali ini Satoru yang angkat bicara.

“Kau juga, Satoru!” ucap Masaru, “Kau bilang, kalau punya 10 juta yen, akan pergi keliling dunia berdua, maksudmu bersama Chisato kan?” tanya Masaru balik.

“Aku penasaran apa yang Chisato rasakan pada kita,” ucap Satoru kemudian, “Jangan bicarakan dia lagi kalau aku belum mengatakan suka padanya atau tidak.”

“Bodoh. Sepertinya ada seseorang yang ia sukai . . . “ sambung Masaru.



Chisato ternyata berburu sekring bersama Sho. Mereka masuk ke ruangan Satoru dan mulai mencabuti kabel di kamar Satoru yang berantakan dan membuang-buang listrik.

“Hei . . . tentang yang kau katakan tadi, menggunakan uang 8 juta yen untuk membayar host lain, itu bohong kan?” tembak Chisato.

“Kau jatuh cinta padaku? Aku hanya berpikir kalau kau berpikir, Sho yang aku kenal bukan tipe orang yang akan mengencani customer, atau apapun,” ledek Sho.

“Apa yang kau katakan? Tentu saja tidak!” Chisato kaget.

Sho lalu menceritakan alasannya menginginkan uang sejumlah 8 juta yen. 25 tahun sebelumnya, Sho adalah bayi yang dibuang oleh ibunya dan ditinggalkan di panti asuhan Yukari no Sono. Saat itu panti asuhan dikelola oleh Shimura-san. 10 tahun sebelumnya, karena kekurangan dana, Shimura-san lalu meminta Sinzo-san untuk mengdopsi Sho. Jadi Sho masuk ke dalam keluarga Ohkura saat ia berusia 15 tahun. Sekarang, dana semakin sulit. Jadi Shimura-san meminta bantuan Sho untuk bisa mempertahankan panti asuhan itu.

Keadaan menjadi canggung. Sho maupun Chisato berdiri berdekatan dan saling memandang, tapi tidak terjadi apapun.

“Ayo ke ruangan lain,” ucap Chisato kemudian memecah kecanggungan itu.



“Siapa yang melakukan ini?” Fuu alih-alih mencari sekring bersama saudara-saudaranya yang lain malah menghubungi pengacara Kyoko yang masih berada kantor.

“Siapa yang kau maksud?”

“Jangan berpura-pura tidak tahu. Ini aneh, apapun yang kau katakana. Castle tiba-tiba terkunci dan sekarang listrik padam,” lanjut Fuu.

“Kami sedang menginvestigasi penyebabnya sekarang,” elak pengacara Kyoko.

Fuu menutup teleponnya. Ia diganggu oleh suara dari seberang. Fuu mengarahkan senternya dan mulai mencari. Ia menemukan seseorang mencurigakan tengah makan ramen.



“Aku menemukan sekringnya! Disini!” teriak Masaru membuat seisi rumah segera berkumpul.

Mereka menemukan sekring utama ternyata berada di dekat tangga. Masaru kemudian membukanya dan menaikkan kembali saklarnya. Listrik kembali menyala.

“Huh? Hilang. Itu hilang!” ucap Masaru kemudian karena tidak menemukan koper berisi yang 10 juta yen yang tadi mereka tinggalkan di ruang tengah. Hal ini membuat kaget seisi rumah.

“Itu artinya ada seseorang yang mencuri uangnya selama tadi listrik padam!”

“Itu tidak mungkin! Tapi . . . siapa yang melakukannya?”

“Untungnya, tidak ada yang keluar dari castle ini. Itu artinya si pelaku masih ada di castle.

Anak-anak Ohkura mulai saling menyalahkan tentang hilangnya uang itu. Terutama pada Sho. Sejak awal Sho-lah yang paling ngotot meminta uang itu. Sekarang semua orang menyalahkannya. Sho yang tidak apa-apa tentu saja mengelak. Ia yang tidak tahu apa-apa semakin dipojokkan oleh keadaan.

“Tidak mungkin Sho yang melakukannya!” ucap Chisato kemudian. “Sejak tadi dia bersamaku.”

“Sejak tadi?!”



“Sho tidak melakukannya,” ucap Fuu yang tiba-tiba muncul dari tangga. Ia kemudian membawa seseorang yang tadi ia temukan, “Orang ini yang mengambilnya.”

“Kokudo?!” Chisato dan yang lain kaget. “Kau bercanda kan . . . “

“Maaf,” ucap Kokudo merasa bersalah. Ia masih membawa ramen di tangannya.

“Dia mengambil uang itu karenamu,” ucap Fuu pada Sho.

“Karena aku? Apa maksudmu?”

“Dia mengikutimu ke panti asuhan . . . Panti asuhan itu sebenarnya sudah tutup sejak lama,” terang Fuu.

“Apa yang kau bicarakan? Saat aku kesana, ada anak-anak yang sedang bermain di halaman.”

“Anak-anak itu adalah anak-anak di lingkungan sana,” lanjut Kokudo. Kokudo lalu menceritakan bahwa setelah Sho pergi, Shimura-san membagi-bagikan uang pada anak-anak itu. Ia menggunakan anak-anak di lingkungan itu dan berpura-pura kalau panti asuhan masih buka untuk membohongi Sho.

Sho emosi karena Kokudo menceritakan hal itu padanya. Sho tidak percaya dengan ucapan Kokudo dan mulai mencengkeram kerah baju Kokudo, marah. “Itu tidak mungkin! Jangan berbohong tentang hal ini. Dia bilang padaku, dia ingin melakukan apapun untuk anak-anak itu!

Masih kata Kokudo, “Menurut orang-orang di sekitar lingkungan itu . . . Shimura-san berhutang banyak.”

“Kokudo tahu kau dibohongi, jadi dia menyembunyikan uang 10 juta yen itu supaya kau tidak bisa mengambilnya,” sambung Fuu.

“Kalian tidak mengerti apapun! Shimura-san seperti ayah bagi kami. Dia . . . dia tidak akan mungkin mengkhianatiku. Tolong. Tolong pinjami aku uang itu! Aku ingin menyelamatan panti asuhan itu!” pinta Sho sambil berlutut.

“Kau masih belum mengerti juga huh?” ucap Takeru.



“Baiklah. Ambil uangnya,” ucap Chisato kemudian.

“Apa yang kau lakukan?!” perbuatan Chisato menuai protes dari anak-anak Ohkura yang lain. “Kau yang bilang kalau itu bukan uang pribadi . . . “

“Diam! Aku kepala rumah tangga disini. Kalau kau tidak setuju, pergi!” ucap Chisato tegas.

Sho masih menatap Chisato tidak percaya. Tiba-tiba castle kembali bergetar. Terdengar suara kunci terbuka.

“Pintu sudah terbuka!”

Melihat kesungguhan Chisato, Sho mengambil uang itu. Sho lalu pergi meninggalkan caslte. Ia pergi diiringi tatapan tidak senang dari saudara-saudaranya yang lain.



Sho lalu pergi ke panti asuhan itu. Chisato ternyata mengikutinya. Karena sudah ketahuan, Sho akhirnya meminta Chisato menemaninya.

“Sho! Ada apa? Kenapa kau datang sepagi ini?” tanya Shimura-san menyambut Sho.

“Aku mendapatkan uangnya, jadi . . . “ ucapan Sho terputus.

“Apa apa? Oh, itu kekasihmu?” Shimura-san ternyata melihat kehadiran Chisato disana juga.

“Tidak ada anak-anak disini kan?” tanya Sho ragu.

“Ya. Ini masih pagi. Mereka mungkin masih tidur di ruangan masing-masing,” elak Shimura-san.

“Kalau anda tidak memungutku dulu, mungkin aku tidak akan ada disini,” ucap Sho mengingat masa lalunya. “Aku merasa begitu beruntung. Anda selalu baik padaku dan pada yang lain,” Sho lalu menyerahkan koper itu pada Shimura-san.

“Kau Shimura Tomoaki-san kan?” beberapa orang berseragam polisi muncul. “Kami memiliki surat perintah untuk menangkap anda!” ucap polisi itu.

Polisi itu lalu membawa Shimura-san. Koper yang tadi sudah diserahkan Sho dikembalikan padanya. Si polisi menjelaskan kalau Shimura-san selama ini menipu dan meminta uang dari anak-anak yang dulu pernah dibesarkan di panti asuhan ini. Tentu saja ini membuat Sho kaget.

“Kenapa? Kenapa kau berbohong padaku?!” protes Sho pada Shimura-san.

“Aku . . . tidak berharap akan seperti ini,” Shimura tampak menyesal. Ia kemudian mengikuti polisi yang membawanya pergi.

Sho memandangi kepergiannya dengan mata terluka.



Sho pulang bersama Chisato. Ia tampak sangat kecewa dengan apa yang terjadi hari ini. Sho mengembalikan uang yang tadi ia bawa.

“Aku lihat beritanya! Itu luar biasa!” ucap Takeru menyambut kepulangan Sho dan Chisato. “Pada akhirnya yang ini memang untuk biaya hidup kita.”

“Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?!” protes Chisato melihat wajah Sho yang kusut kecewa.

“Ah, ayo kita cari tahu. Apa yang bisa kita lakukan untuk menghabiskan uang 10 juta yen ini,” sambung Takeru yang kemudian sudah dikerubungi saudara-saudaranya yang lain.

Sho yang masih kecewa beranjak pergi. Chisato hanya memandanginya dalam diam, tidak bisa berkata apapun.



Pagi harinya . . .

Chisato dan Kokudo sudah ada di depan castle. Mereka membagikan jatah untuk masing-masing penagih yang datang sebelumnya. Satu persatu dari mereka mendapatkan bagiannya.

“Mulai bulan depan, kami tidak menerima delivery lagi,” ucap Chisato pada salah seorang.

“Kenapa?!”

“Kami harus berhemat. Kalau kau tidak suka, boleh pergi. Lanjut!” ucap Chisato tegas.



Sho kembali mendatangi panti asuhan tempatnya dulu dibesarkan. Tampak disana beberapa orang yang tengah menurunkan papan nama panti asuhan itu. Sho menatap dengan sedih panti asuhan yang sangat berarti baginya itu. Sho berbalik, hendak pergi. Tapi ia urung pergi ketika melihat sesuatu. Ternyata setelah menurunkan plang papan nama panti asuhan yang lama, para pekerja itu memasang plang yang baru. Sho heran, kemudian mendekat.

“Permisi. Panti asuhan ini . . .”

“Ya. Ini akan dibuka lagi. Hanya antara aku dengan anda, kita mendapatkan donasi!” ucap si wanita yang membantu para pekerja itu.

“Apa?!”

“Anak-anak yang tidak punya pilihan akan pergi kemana, bisa kembali kesini. Ini akan kembali seperti semula.”

Sho tidak menyangka yang terjadi. Ia teringat Chisato. Buru-buru ia pamit dan berlari kembali ke castle.



Sho kembali ke castle. Disana ia menemukan saudara-saudaranya yang lain tengah main kartu di ruang tengah, “Hei . . . donasi untuk panti asuhan . . . “

“Kita tidak boleh menggunakan listrik di kamar setelah jam 8 malam,” ucap Akira.

“Tidak menggunakan AC juga,” sambung Masaru.

“Tidak menggunakan computer juga,” ujar Satoru.

“Kita harus berhemat, hemat!” ucap Fuu.

“Kalian . . . “ Sho terharu dengan ucapan saudara-saudaranya itu.

“Biar kami jelaskan, membuat donasi bodoh ini adalah ide si shortie-Chisato,” ucap Takeru keudian.

“Kalau kau mencari Chisato, dia ada di luar,” ucap Satoru kemudian.



Sho menemukan Chisato tengah sendirian menatap langit, “Donasi itu . . .”

“Kita memutuskannya bersama,” jawab Chisato.

“Kenapa?”

“Semuanya . . . kita ingin tempat yang penting untukmu itu tetap ada. Shimura-san itu . . . aku pikir kau benar. Dia bukan orang jahat. Dia hanya tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu.

“Terimakasih,” lirih suara Sho.

“Ini juga membuatku berpikir yang sama tentang ayahku. Mungkin dia tidak punya pilihan lain waktu itu selain terlibat dalam judi. Mungkin aku yang naïf,” ucap Chisato lebih pada dirinya sendiri. Perlahan ia mulai memaafkan ayahnya.



Anak-anak Ohkura, kecuali Sho tapi ditambah Kokudo sedang berkumpul di sauna. Mereka heran dengan listrik padam tadi, karena itu tidak biasa.

“Huh? Itu aku. Biaya listrik kalian sangat mahal, jadi aku mencoba mengurangi konsumsi energy,” jelas Kokudo.

“Apa maksudmu? Harusnya kau bilang dari tadi!”

“Lalu tentang castle yang tiba-tiba terkunci?”

Televisi di ruang sauna tiba-tiba menyala. Anak-anak Ohkura kaget karena yang muncul di layar adalah sekretaris Tokita.

“Kalian bersama kan? Yang mengunci castle adalah . . . aku. Ada hal yang sangat ingin aku katakan pada kalian semua hari ini. Miracle (perusahaan Sinzo-san) . . . sekarang milikku!” ucap sekretaris Tokita bangga.

“Apa?!!!”



Sho dan Chisato masih di luar. Mereka menatap langit. Sho kemudian memeluk Chisato. Chisato yang kaget buru-buru melepaskan pelukan Sho itu.

“Ini kecelakaan juga?” ucap Chisato canggung.

“Tidak,” ujar Sho santai.

“Kalau begitu . . . ini karena bulan purnama,” bisik Chisato lagi.

“Tidak juga, sekarang bahkan bukan bulan purnama,” ucap Sho lalu menarik tangan Chisato dan MENCIUMNYA TEPAT DI BIBIR!!!

Dari arah pintu, muncul Takeru, “Hei Shortie! Ada masalah besar!” Takeru kaget melihat kejadian di depannya itu. Omo . . . Sho benar-benar mencium Chisato!!!! Wkwkwkwkwk

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.