Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Senin, 07 November 2016

Atashinchi no Danshi ep - 04

Satoru yang keluar dari kamar di episode 01, akhirnya perlahan menerima Chisato. Ia menjadi orang kedua setelah Takeru yang memberikan cap tangannya.

“Apa?!” Chisato kaget mendapat telepon dari sekretaris Tokita.

Buru-buru Chisato menemui Sekretaris Tokita di kantor. Rupanya sekretaris Tokita meminta Chisato untuk segera mengembalikan uang yang pernah diberikan Sinzo-san untuk membayar hutang-hutangnya dulu. Sekretaris Tokita beralasan kalau saat ini perusahaan sedang dalam keadaan genting, jadi uang itu dibutuhkan secepatnya.

“Kalau begitu, kali ini kau harus berperan sebagai presdir pengganti. Perusahaan sedang dalam pembuatan game baru. Anda harus bisa meyakinkan para investor, jika ingin menyelamatkan perusahaan,” komentar sekretaris Tokita.

Baru saja Chisato hendak protes, ketika pengacara Kyoko tiba-tiba muncul dengan gulungan perjanjiannya. Ternyata di perjanjian itu, Chisato juga harus berperan sebagai presdir pengganti dan melakukan tugas-tugas presdir. Kalau itu tidak dilakukan, maka perjanjian dianggap batal dan Chisato harus mengembalikan uang itu.

“Oke, baiklah,” Chisato kesal.

Sekretaris Tokita memberikan draf pidato yang harus dihafal Chisato malam itu. Besok ia harus berperan sebagai presdir pengganti dan berpidato di depan para investor untuk proyek game baru Miracle.



Setelah Chisato pergi, sekretaris Tokita berpikir. Ia teringat dengan kejadian hari sebelumnya. Kemunculan Fuu, si anak tertua Sinzo yang tiba-tiba di kantor. Fuu menanyakan bagaimana keadaan perusahaan belakangan setelah kematian Sinzo.

“Semua berjalan sebagaimana mestinya. Chisato-san juga berperan sebagai presdir pengganti untuk menangani perusahaan. Itu sesuai permintaan terakhir Sinzo-san,” ucap sekretaris Tokita.

“Tapi ada hal lain yang tidak kau ketahui kan. Permintaan terakhir Sinzo-san disini,” Fuu memamerkan surat yang pernah dikirimkan Sinzo-san kepadanya. Fuu tersenyum, merasa menang atas sekretaris Tokita yang speechless.



Chisato kembali ke castle. Ia menerima telepon dari Sho yang menanyakan apakah Rikki ada disana. Mengetahui Rikki tidak ada di castle, Sho buru-buru menutup telepon. Chisato heran dengan sikap Sho, tapi tidak bertanya lebih lanjut.

Masaru muncul dan memberikan power voice yang pernah digunakan sebelumnya. Akira yang ada disana heran, dan menanyakan benda apa itu.

“Jika kau mengarahkan benda itu pada seseorang, kau akan tahu yang dipikirkan orang itu,” terang Masaru.

“Tapi kita tidak tahu itu benar atau tidak,” komentar Chisato.

“Itu benar! Itu benar terbukti,” ujar Masaru semangat.

Chisato heran dengan sikap Masaru. Akira memperhatikan benda itu lebih teliti lagi. Ia mendapatkan ide menggunakan benda itu.



Takeru yang dipecat dari club karena insiden yakuza sebelumnya berada di taman. Ia mengumpulkan teman-teman satu geng-motor-nya sembari mengisi bahan bakar surya motornya. (keren ya, motor pake bahan bakar surya, irit bebe-em euy). Takeru kesal karena salah seorang anak buahnya tidak muncul. Ketika kemudian muncul, ia lebih heran lagi.

“Maaf, ketua. Aku diterima bekerja di sebuah toko music. Aku menjadi menager disana. Jadi mulai sekarang, aku mengundurkan diri dari geng. Oya, kalau kau butuh sesuatu, kau bisa menghubungiku,” ucap anak buah Takeru berambut gimbal sembari beranjak pergi meninggalkan teman-teman geng-nya.

Takeru memandangi kepergian anak buahnya itu. Ia berpikir untuk mulai mencari pekerjaan baru juga. Takeru memandangi kartu nama yang ditinggalkan anak buahnya itu, tersenyum.



Telepon di castle berdering sejak lama, tapi tidak ada seorangpun yang mengangkatnya. Akhirnya Satoru yang mengalah mengangkat telepon itu.

“Huh?” Satoru heran dengan suara dari seberang telepon.

Di tempat lain, Chisato ternyata berada di ruang sauna. Ia tengah berusaha menghafal naskah pidato untuk besok. Tapi karena kata-katanya yang terlalu rumit, Chisato kesulitan menghafal semuanya.

Satoru tiba-tiba memaksa masuk ke ruang sauna. Hal ini tentu saja membuat Chisato kaget dan langsung melompat ke balik dipan, bersembunyi.

“Maaf, aku tidak bermaksud. Itu . . . telepon . . . Rikki, putra Sho diculik,” ucap Satoru terbata-bata.

“Hah?!”



Chisato berkumpul di ruang makan bersama anak-anak Ohkura yang lain. Mereka menunggu kedatangan Sho. Tidak lama setelah Sho datang, telepon di ruangan itu berbunyi. Sho mengangkatnya dan menyambungkannya ke speaker, supanya semua orang bisa mendengar pembicaraannya.

“Itu . . . suara,” ucapan Chisato terputus.

“Sulit menjelaskannya, itu memang begitu . . . “ sambung Satoru yang tidak bisa menjelaskan kalau suara di telepon yang ia dengar tadi adalah suara Sinzo-san.

Suara di seberang telepon mengatakan kalau saat ini Rikki ada bersamanya. Kalau mereka ingin menyelamatkan Rikki, maka mereka harus mematuhi permintaan si penculik. Si penculik tidak meminta uang tebusan, dan malah langsung memutus sambungan.

“Kita lapor polisi saja kalau begitu,” usul Takeru.

“Apa kau tidak dengar tadi, kalau kita lapor polisi, dia akan membunuh Rikki,” cegah Satoru.

“Heh, apa kau tidak tahu, di film-film, penjahat selalu mengatakan hal itu. Tapi toh itu belum tentu terjadi. Dia juga tidak meminta uang tebusan,” balas Takeru.

“Bagaimana kalau kita lapor polisi dan si pelaku benar-benar membunuh Rikki?” Tanya Akira. Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam. “Aku pergi, aku ada kelas tambahan,” ucap Akira cuek sambil keluar dari ruang makan itu.



Chisato memikirkan sesuatu. Ia lalu mengikuti Akira keluar dari ruang makan.

“Akira . . . kau yang melakukannya kan, kau yang menculik Rikki? Suara itu, dari power voice, benar kan?” tembak Chisato.

Akira berbalik. Ia tidak menyangka kalau Chisato bisa menebaknya dengan tepat dan cepat. Akira lalu membawa Chisato menemui Rikki yang berada di salah satu ruang bawah tanah castle.

“Dia berada di tempat seperti ini? Apa kau tidak memikirkan apa akibatnya kalau melakukan hal berbahaya seperti ini?!” Chisato kesal.

Rikki muncul dari sisi lain ruangan, “Aku yang memintanya melakukan itu,” ucap Rikki.

“Huh?” Chisato heran.

Chisato akhirnya keluar. Ia menuju net-café milik Kokudo. Disana Chisato menceritakan ide penculikan Rikki-Akira pada teman-temannya.

“Aku penasaran apa yang membuat si bungsu mau membantu Rikki,” gumam Kokudo.

“Dia bilang, dia juga tidak tahu kenapa. Dia hanya ingin membantu anak itu. Mungkin ini ada hubungannya dengan masa lalu Akira,” ucap Chisato kemudian.

Teman-teman Chisato di net-café mengusulkan agar Chisato ikut membantu ide Akira-Rikki ini. Mereka juga berjanji untuk ikut serta membantu. Chisato setuju.



Sho mendapatkan pesan yang mengatakan kalau dirinya sang penculik. Pesan itu meminta Sho dan ibu Rikki untuk datang ke taman menggunakan sepeda dobel / tandem bike (itu lho, sepeda yang sadelnya dan pedalnya dua pasang. Biasanya digunakan oleh pasangan).

“Apa tidak apa-apa seperti ini, mengatakan dari sang penculik?” gumam Chisato di depan Rikki dan Akira.

“Kenapa kau mau membantu kami?” Tanya Akira kemudian.

“Mungkin . . . alasan yang sama denganmu, aku juga tidak tahu,” ujar Chisato.



Sementara itu di kantor, pemegang saham sedang protes pada sekretaris Tokita. Mereka mempertanyakan proyek baru yang sedang digarap oleh Miracle.

“Percayakan semua ini padaku. Aku akan memastikan kalau semuanya berjalan dengan baik,” ucap sekretaris Tokita sambil undur diri dibawah tatapan tajam para pemegang saham.



Masaru kembali ke castle waktu tahu kalau Rikki, putra Sho diculik. Ia menemukan kedua saudaranya yang lain, Takeru dan Satoru sedang main-main dengan papan berwarna. (kelana gay akin mereka ini sedang main apa).

Tiba-tiba terdengar suara teriakan.

“Suara itu . . . seperti suara Chisato,” gumam Masaru yang diiyakan oleh Satoru.

“Hei dengar, mungkin saja itu berasal dari hantu penunggu castle ini. Beredar rumor kalau di castle ini ada ruangan yang tidak tercatat dalam peta, jadi disanalah hantu itu berada,” ucap Takeru sambil merangkul keduanya.



Di tempat lain, Sho ibu Rikki sedang menuju taman. Sesuai intruksi yang mereka terima sebelumnya, keduanya naik sepeda dobel/tandem bike menuju taman. Dengan susah payah dan penuh pertengkaran keduanya berusaha mengayuh sepeda itu.

Sementara itu di castle, Chisato berada bersama Rikki dan Akira. Rikki menceritakan kalau ia melakukan semua ini agar kedua orang tuanya bersama lagi dan memperhatikannya. (poor Rikki, orang tuanya ga perhatian sama sekali)

“Apa ini akan berhasil?” Tanya Rikko polos.

“Kita belum akan tahu sampai nanti. Tapi mereka (Sho dan ibu Rikki) akan punya lebih banyak waktu untuk berbicara.

Tiba-tiba ponsel Chisato berdering. Ternyata telepon dari sekretaris Tokita yang mengingatkannya soal pidato di depan para pemegang saham nanti. Setelah menutup telepon, Chisato termenung.

“Apa ada yang salah?” Tanya Akira.

“Aku sedang memikirkan family hunter-perburuan keluarga,” gumam Chisato. Rupanya ia mendapatkan sebuah ide.



Sho dan ibu Rikki sampai di taman. Pesan kembali datang dari si penculik, yang meminta keduanya untuk berfoto di sebuah hiasan boneka. Ups . . . ternyata ini semua sudah dipersiapkan oleh teman-teman Chisato dari net-café.

Pertama kali, Sho dan ibu Rikki tidak tersenyum. Tentu saja “si penculik” protes dan meminta mereka untuk mengulanginya. Dengan terpaksa keduanya mengulang foto dengan senyum terpaksa. Di tempat lain, rupanya Kokudo dan temannya lah yang menjadi mata-mata Chisato di taman.



Gambar wajah dalam boneka dikirim. Keduanya tampak tersenyum. Chisato menunjukkan gambar itu pada Rikki.

“Sudah lama, aku tidak melihat mereka tersenyum seperti ini,” komentar Rikki melihat foto ayah dan ibunya itu.

Chisato dan Akira memandangi Rikki.



Di dalam rumah, tepatnya di ruang makan, Takeru tengah mentraining Masaru. Ia mengajarkan Masaru cara mendekati wanita menggunakan boneka berbentuk wanita. (ga usah dijelaskan ya, soalnya disini Takeru pake manekuin telanjang buat memberi contoh sama Masaru, xixixi). Tiba-tiba Inoue si pelayan masuk sambil membawa sebuah paket. Ia kaget melihat ulah kedua saudara ini, dan langsung salah paham.

“Aku . . . aku tidak melihat apapun,” ucap Inoue kemudian dan beranjak pergi.

Takeru cuak saja dengan kekagetan Inoue. Ia lalu membuka paket tadi yang ternyata berisi sebuah gitar. Ow ow, rupanya Takeru memesan sebuah gitar pada toko music dimana teman satu geng-nye sekarang bekerja.

“Huaaa!!!”

Terdengar teriakan kedua. Satoru rupanya sudah tidak berada disana. Takeru dan Masaru Cuma heran mendengar teriakan Satoru itu.



Selesai dengan foto boneka, Sho dan ibu Rikki kembali mendapat intruksi dari “si penculik” untuk mengikuti kompetisi menyanyi duet. Tentu saja kompetisi ini hanya akal-akalan Chisato dan anak-anak net café.

Mau tidak mau Sho dan ibu Rikki mengikuti kompetisi itu. Mereka menyanyikan sebuah lagi yang ternyata merupakan lagu kenangan mereka semasa SMA. Sementara itu di bangku penonton, Chisato yang menyamar dengan baju compang-campingnya berada diantara anak-anak net-café yang berperan menjadi penonton.



Di castle, Takeru sudah asyik dengan gitarnya. Rupanya ia ingin membuat demo suara yang akan ia kirimkan ke studio rekaman. Jangan Tanya seperti apa suara Takeru, ajaib. Selesai merekam, Takeru mengeluarkan kaset dengan senang, sampai . . .

“Huaaa!!!” suara Masaru.

Takeru kaget. Masaru rupanya juga sudah pergi dan sedang mencari ruangan rahasia itu.

“Apa rumor tentang hantu itu benar-benar nyata?” Takeru bergidik sendiri.



To be continue …





Selesi kompetisi menyanyi, Sho dan ibu Rikki melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, Sho memasukkan sampah yang dibuang orang sembarangan ke tempat sampah. Sho tidak tahu kalau Chisato masih mengikuti dan menguping pembicaraannya.

“Aku selalu menyuruh Rikki untuk membuang sampah ke tempatnya,” ujar Sho.

“Sekarang aku mengerti, kau memang seorang ayah,” komentar ibu Rikki. Ibu Riki lalu menceritakan sebuah rahasia. Ketika mengetahui ia hamil, Sinzo menyuruh Sho agar meminta pacarnya itu menggugurkan kandungannya. Tapi Sho menolak dan memilih pergi dari castle. Sejak saat itu Sho berusaha menceri pekerjaan untuk menghidupi ibu Rikki. Tanpa diketahui oleh Sho, ternyata selama itu Sinzo-san selalu memberikan uang bulanan untuk keperluan hidup mereka. Sinzo-san ingin menguji keseriusan Sho untuk menjadi seorang ayah.

“Itu tidak mungkin dilakukannya! Kau bilang itu semua uang simpananmu,” ucap Sho.

“Kau pikir, bagaimana selama ini kita bertahan? Saat itu kita bahkan belum punya pekerjaan tetap, jadi Sinzo-san lah yang selama itu memenuhi keperluan kita dengan kiriman uangnya,” balas ibu Rikki.



Sho dan ibu Rikki melanjutkan perjalanan. Pesan dari “si penculik” kembali datang, yang meminta mereka untuk bermain tenis meja double. Sho melihat sekeliling, kemudian muncul dua orang yang tiba-tiba saja akan bermain tenis meja. Perlahan Sho mengerti, kalau semua ini memang sudah direncanakan sebelumnya oleh seseorang.

Ibu Rikki dan Sho akhirnya main tenis meja. Di saat yang sama, Chisato dengan baju penyamarannya tengah merekam mereka semua. Pertandingan berjalan seru dan saling kejar, hingga akhirnya pemenangnya adalah . . .



Takeru lalu menyusul kedua saudaranya, Masaru dan Satoru mencari ruangan rahasia itu. Ketika akhirnya sampai di ruangan itu, Takeru kaget karena mereka semua ternyata sudah berkumpul disana.

“Chisato sudah menceritakan semuanya lewat telepon,” ucap Satoru santai.

“Apa yang kalian lihat?” Takeru penasaran.

Mereka tengah menonton pertandingan pingpong yang dimainkan oleh Sho dan ibu Rikki. Rikki tampak antusias dan senang melihat orang tuanya bersama dan saling dukung seperti itu.

“Huaaa!!!” teriakan ketiga akhirnya datang dari Takeru. Ia terbirit-birit keluar dari toilet di ruangan itu. “Apa itu?”

“Alat otomatis yang membantu membersihkan setelah kau buang air,” jelas Masaru.

“Jadi kalian semua tadi berteriak karena alat itu?” Tanya Takeru yang dijawab anggukan dari yang lain.



Ibu Rikko dan Sho kembali ke castle. Mereka menemukan putra mereka, Rikki tengah menunggu di ruang makan. Kontan ibu Rikki langsung menghambur memeluk putranya itu. Sho di belakanganya berjalan mendekat dan mengelus kepala putranya itu.

“Cut!” teriak Takeru yang ternyata berada tidak jauh darisana. Ia bersama Satoru tengah mengambil gambar adegan pelukan Sho, Rikki dan ibunya.

“Apa maksudnya ini?” Sho heran.

Takeru lalu mengeluarkan kaset rekaman tadi dan menyerahkannya pada Satoru, “Kau, bisa keluar sekarang?” Tanya Takeru tidak yakin.

Satoru mengangguk mantap. Tapi baru saja Satoru berbalik, Takeru menghentikannya. Takeru memberikan rekaman music yang tadi sudah ia lakukan.

Setelah kepergian Satoru, Takeru berbalik melihat Sho dan yang lain, “Aish, kalian belum paham juga? Kejadian yang sebenarnya baru saja akan dimulai,” Takeru lalu menggendong Rikki dan membawanya keluar. “Kalau kalian masih menginginkannya, ikuti aku.”



Sementara itu di hall perusahaan, sekretaris Tokita masih diserang kecemasan. Berkali ia minum dari gelas yang bahkan sudah kosong. Chisato yang akan segera berpidato sebentar lagi belum datang.

Dari arah luar seseorang dengan pakaian compang-camping masuk. Beberapa orang sekuriti berusaha menghentikannya, tapi dilarang oleh sekretaris Tokita. Ia tahu siapa yang datang.

“Apa kau sudah menghafalkan semua teks pidatonya?” Tanya sekretaris Tokita kemudian yang hanya dijawab acungan jempol oleh si compang-camping.



Sekretaris Tokita mulai prolognya. Ia kemudian mempersilahkan Chisato sang presdir pengganti untuk masuk ruangan. Chisato masuk ruangan sudah dengan dandanan rapi dan elegan. Sementara itu, Takeru, Satoru, Masaru, Akira, Sho ibu Rikki serta Rikki akhirnya sampai di ruangan itu. Mereka memperhatikan Chisato yang berada di podium hendak memulai pembicaraannya.

“Sebenarnya . . . tidak ada yang ingin saya katakan. Tapi, silahkan saksikan berikut ini,” ucap Chisato.



Tampilan berubah. Lampu perlahan meredup dan gambar di proyektor mulai tampak. Terdengar narasi suara seorang anak kecil.

Ayah dan Ibu tersenyum! Aku mendengar mereka bernyanyi bersama pertama kali! Mereka melakukan semua itu bersama, untukku. Aku tidak pernah melihat mereka seperti itu sebelumnya! Terimakasih telah melakukan semuanya untukku!

Narasi berubah

Kau akan melihat orang tuamu berbeda dari sebelumnya. Kau bisa melihat wajah baru dari anakmu. Dan tentu saja, hubungan kalian akan semakin dekat. Tidakkah kau juga ingin pergi ke “Family Hunt”?

Suara Takeru dengan gitarnya, “Hyokkori... Hyotan-jima...Hyokkori...”

Kehatangan hati yang akan kau rasakan . . . ikatan yang akan terjadi, tidak peduli apa yang terjadi . . . semua itu, semoga bisa terrealisasi dengan proyek ini. Silahkan nikmati sendiri.

“Ini konsep kami untuk proyek ini. Terimakasih telah bekerja bersama kami,” Chisato menutup pidatonya dan perform kali ini.

Penampilan kali ini luar biasa. Ibu Rikki dan Sho hanya bisa saling pandang dengan ide putra mereka ini. Sementara itu anak-anak Ohkura yang lain meributkan siapa yang paling berjasa untuk keberhasilan kali ini.



Chisato berjalan mendekati, ia menyerahkan kotak harta karun yang ditemukan Sho sebelumnya, “Sinzo-san mungkin selalu memikirkan tentang Rikki.”

Sho menerima kotak harta karun dari Chisato. Ia lalu jongkok menghadap Rikki, putranya, “Ini, hadiah ulang tahunmu. Ini dari ayahnya ayah.”

“Benarkah? Dia orang yang baik?” Rikki senang mendapatkan hadiahnya.

“Ya, tentu saja. Riki... kau harus tinggal bersama ibumu,” lanjut Sho.

“Kenapa? Apa kau membenciku?”

“Itu karena aku menyayangimu. Kau akan lebih bahagia bersama ibumu. Jangan takut, seperti yang dilakukan ayahku padaku . . . aku selalu . . . selalu memperhatikanmu,” Sho berusaha menjelaskan hal ini pada Rikki.



Sekretaris Tokita lalu mendekati Chisato. Ia heran dengan yang telah dilakukan Chisato hari ini.

“Aku tidak pernah tahu kalau presdir pernah meninggalkan komentar untuk proyek ini . . . “

“Karena memang tidak pernah. Itu semua diambil dari video salah satu iklan alat buatannya, The High Power Electronic Butt-Wiper. (alat yg udah buat anak2 Ohkura teriak2 dari ruang bawah tanah, kekeke). Rahasiakan ini dari semua orang ya?” pinta Chisato kemudian.

Setelah keluarga Ohkura bubar, pengacara Kyoko yang mendekati sekretaris Tokita, “Acara hari ini sepertinya berhasil meyakinkan para investor. Kenapa kau bohong pada Chisato-san soal perusahaan yang terancam bangkrut?”

“Aku tidak bohong. Kalau proyek ini gagal, kemungkinan perusahaan memang akan bangkut karenanya. Tidak, tapi tetap ada kemungkinan kita akan mengalami masalah keuangan,” elak sekretaris Tokita. “Jika kita tidak bisa mendapatkan kepercayaan orang-orang terhadap presdir pengganti secepatnya . . . sepertinya investor memang akan mulai berpaling. Itu benar, dia orang yang tepat di posisi yang tepat . . . tapi belum tentu membuat para investor dengan mudah mempercayainya,”

“Jadi begitu,” lanjut pengacara Kyoko.



Keenam keluarga Ohkura pulang bersama.

“Tidak hanya memanfaatkan gambarku untuk presentasi tadi, jadi sekarang aku minta kompensasinya,” ucap Sho memulai pembicaraan. “Masih ada banyak ruangan kosong di castle kan? Siapkan satu untukku,” pinta Sho.

“Itu artinya . . . “ ujar Satoru.

“Kau akan kembali?” lanjut Masaru.

“Karena aku tidak punya uang membayar sewa apartemen,” elak Sho.

“Si berisik yang lain datang huh?” ucap Takeru.

“Kau lebih berisik dibanding aku!” Sho tidak terima dengan ucapan Takeru.

Akira dan Chisato hanya memandangi Sho yang telah berjalan lebih di depan.



Mereka berenam tiba di castle dan masuk ke ruang makan. Betapa kagetnya mereka karena ada seseorang yang sekarang duduk di kursi utama ruangan itu, Fuu si anak tertua.

“Fuu!” komentar Takeru.

“Dia anak tertua, Fuu?” Chisato heran.

“Senang bertemu denganmu, Okaasan (mama),” ucap Fuu sambil beranjak dari kursinya dan mendekat ke arah mereka berenam.

“Untuk apa kau kembali?” Tanya Sho.

“Aku ada bisnis disini. Kalian tampak baik. Apa kalian semua berubah karenanya?” Fuu melirik ke arah Chisato.

“Apa?”

“Aku tahu dari Inoue-san. Kalian tidak tahu? Gadis ini . . . dia melakukan semua ini demi uang,” lanjut Fuu.

“Apa yang kau bicarakan?” balas Satoru.

“Apa yang aku maksud . . . membuat Satoru keluar dari ruangannya . . . menyelamatkan Takeru dari yakuza . . . dan mencoba menyembuhkan phobia Masaru . . . dia melakukan semua itu demi uang.”

“Itu tidak mungkin,” Masaru kaget dengan penjelasan Fuu.

“Kenapa kau tidak Tanya langsung padanya?” tantang Fuu kemudian.

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.