Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Rabu, 09 November 2016

Atashinchi no Danshi ep - 06

Kisah sebelumnya,

Insiden sumber air panas dan high power voice serta reality show Masaru akhirnya berhasil membawa Chisato kembali ke trick heart castle. Kelima anak-anak Chisato baru saja akan mulai makan ketika si sulung, Fuu muncul kembali.

Fuu tiba-tiba datang dan langsung mencium pipi Chisato sambil mendeklarasikan kalau sekarang Chisato adalah kekasihnya. Hal ini kontan membuat anak-anak Ohkura yang lain protes, terutama Masaru dan Satoru.

“Apa maksudmu dengan kekasih?!” protes Chisato.

“Huh? Kau tidak mau? Bukankah kau ingin aku kembali dan bergabung disini?” tantang Fuu. “Jadi kau harus mengabulkan permintaanku.”

“Meskipun kau memanggilku kekasihmu, itu tidak berarti kita kencan.”

“Ah, seperti perkiraanku. Aku Cuma memintamu berpura-pura. Aku punya masalah dengan kekasihku, jadi aku minta kau berpura-pura menjadi kekasihku yang sebenarnya, supaya gadis itu mau putus denganku,” jelas Fuu.

“Jadi, kalau aku bersedia berpura-pura menjadi kekasihmu . . . aku akan kembali ke castle ini?” Tanya Chisato balik.

“Tentu saja.”



Takeru kembali mendatangi bosnya. Ia berniat mengembalikan koper yang tadinya menjadi tanggungjawabnya pada bosnya itu. Takeru ingin minta maaf karena sudah menggunakan dinamit yang ada di dalamnya.

“Bukankah kau harus mengantarkannya jam tiga nanti?” Tanya bosnya.

“Sebenarnya, tentang isi koper ini . . . “ ucapan Takeru terputus.

“Jangan bilang kau menghilangkannya. Itu milik salah seorang politikus berpengaruh. Kalau sampai terjadi apa-apa, kita bisa mati, mengerti?!” ucap si bos.

Takeru pucat, “Baiklah, aku mengerti,” Takeru akhirnya berbalik kembali membawa kopernya itu.



Fuu dan Sho mengintip dari lantai dua. Mereka menyaksikan Chisato yang benar-benar melakukan permintaan Fuu untuk mengaku sebagai tunangan Fuu dan membuat gadis kekasih Fuu mau putus dengannya. Wanita gemuk kekasih Fuu itu kemudian melayangkan pukulan ke arah Chisato yang membuat Chisato terjatuh lalu beranjak pergi.

Fuu dan Sho turun. Sho membantu Chisato berdiri. Tentu saja Chisato kesal karena ulah kekasih Fuu ini, “Dimana kau bersembunyi?! Ini semua salahmu!” protes Chisato.

“Sudahlah, yang penting dia kembali,” sergah Sho menenangkan Chisato.

“Kau tidak akan bisa menyelesaikan Mother’s goals sampai kami semua lengkap disini kan?” tantang Fuu lagi. “Dan lagi, kau masih harus menyelesaikan sampai ke 26 gadisku.”

“Eh?!” Chisato dan Sho kaget.

“Huh? Apa aku belum mengatakannya? Aku punya 27 orang kekasih, seluruhnya,” Fuu lalu memberikan list nama para wanita kekasihnya.

“Tunggu dulu! Maksudmu aku masih harus minta maaf pada 26 orang lagi?! Kau benar-benar gila! Aku tidak bisa melakukannya!”

“Kalau begitu, lupakan saja kalau kita pernah punya persetujuan ini.”

Chisato menghempaskan nafas berat. Tiba-tiba Inoue-san sang pelayan datang. Ia membawa papan yang menyatakan jumlah gadis yang masih harus dimintakan maaf oleh Chisato. Masih 26 orang.

“Apa lagi yang kau tunggu, mereka semua menunggu di luar!” ucap Fuu.



Inoue-san datang dan mengalungkan selempang ke badan Chisato yang bertuliskan Fuu’s fiancée—tunangan Fuu. Inoue juga memasangkan helm pengaman di kepala Chisato.

“Apa ini?”

“Kalau kau dipukul, pasti sakit kan?” Tanya Fuu balik sambil tersenyum.

“Terimakasih atas kebaikanmu,” ucap Chisato sarkastik.

Sho mendapati ponselnya berbunyi. Ia buru-buru keluar untuk menerima telepon itu. Suara di seberang sana meminta Sho untuk memberikannya uang. (Kali ini ada masalah apa lagi dengan Sho ya? Hmm . . . ini akan jadi cerita episode depan . . .)



Fuu pergi meninggalkan Chisato. Ia ternyata menuju kamar tempat Chisato biasanya tinggal, ruang jam. Sho pun ternyata menyusul Fuu ke ruang jam.

“Katakan saja kebenarannya, putus dengan para kekasihmu itu Cuma alasan kan . . . tujuanmu sebenarnya adalah masuk ke ruangan ini huh?” tembak Sho.

“Intuisimu benar-benar tajam, aku tidak bisa menang kali ini. Warisan Ohkura Sinzo tersembunyi di ruangan ini,” bisik Fuu jujur.



Permintaan maaf Chisato yang harus menyamar menjadi tunangan Fuu berlanjut. Kali ini gadis lain datang. Setelah adegan tangis-tangisan, gadis itu kemudian membanting Chisato untuk melampiaskan kekesalannya.

Sementara itu di luar, Kokudo dan temannya dari net-café terus memperhatikan Chisato. Mereka tidak tega membiarkan Chisato melakukan permintaan maaf itu. Keduanya akhirnya memutuskan untuk masuk ke castle. Di depan castle, seperti biasa perlu mengatakan paswordnya dulu. Keduanya mencoba password yang biasa, tapi ternyata password hari itu berbeda. Ini membuat keduanya kebingungan.

Tiba-tiba muncul Inoue-san dari dalam castle, lengkap dengan pedangnya, “Penyelundup . . . “

“Hua . . . lariii!!!” keduanya kalang kabut melihat Inoue-san.



Satoru sedang berada di sauna sendirian sambil membaca majalah saat Masaru masuk. Keduanya tampak canggung, apalagi saat Masaru tahu, wajahnya yang menjadi cover majalah itu dicorat coret oleh Satoru. Masaru penasaran dengan apa yang dibaca Satoru, Bagaimana mengungkapkan perasaanmu agar 100% sukses. Masaru mengira kalau Satoru akan mengungkapkan perasaannya pada Chisato, tapi tentu saja Satoru mengelak. Masaru lalu menawarkan Satoru untuk berlatih mengungkapkan perasaannya, dan menawarkan dirinya berperan sebagai gadis yang disukai Satoru.

“Apa kau bodoh? Siapa yang mau melakukannya?” meski mengelak, Satoru akhirnya setuju untuk berlatih dan menjadikan Masaru objeknya.

Keduanya lalu saling mendekat. Mereka bertatapan penuh arti, “Kau tahu, aku . . . mencintaimu,” ucap Satoru serius.

“Aku juga mencintaimu,” ucap Masaru dengan gaya manis malu-malunya. Keduanya saling mendekat dan kemudian . . . berpelukan.

Tiba-tiba Chisato masuk ke ruang sauna. Ia melihat adegan sejak Satoru mengungkapkan perasaannya hingga keduanya berpelukan. Masaru dan Satoru yang malah kaget melihat kedatangan Chisato. Keduanya buru-buru melepas pelukan mereka.

“Kau . . . kau salah paham! Itu Cuma simulasi . . . “ Satoru buru-buru menjelaskan keadaannya pada Chisato.

“Huh? Ah ya, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun,” ucap Chisato mengerti.

“Hei, kau salah paham . . . !” Satoru masih saja mencoba menjelaskannya pada Chisato.



Chisato kembali ke ruang tengah. Acara permintaan maaf sebagai tunangan Fuu masih dilanjutkan. Sekarang tinggal 20 orang gadis lagi yang menunggu di luar. Sementara Chisato bersiap, Akira-lah yang membantu dan menjadi asistennya.

“Dimana Fuu?” Chisato heran.

“Entahlah, tidak tahu. Antrian selanjutnya, silahkan masuk!” ucap Akira kemudian.

“Fuu!” seorang laki-laki berjas dan berdandan aneh masuk mencari Fuu.

“Siapa kamu?” CHisato dan Akira heran.

“Tidak peduli apa yang kau lihat, akulah tunangan Fuu!” ucap si pria yang ternyata gay. “Fuu! Dimana kamu! Tidak ada gunanya kau bersembunyi dariku!” pria aneh ini mulai mencari Fuu ke seisi rumah.

“Hah?!”



Fuu dan Sho ternyata masih asyik dengan kegiatan mereka di ruang jam. Fuu yang memang ahli mekanik mulai membongkar barang-barang peninggalan Sinzo-san yang dikatakan sebagai warisan bagi keenam anaknya itu.

“Kalau kau membongkar barang-barang yang diberikan sebagai warisan ini . . . dan mengurutkannya dari anak pertama hingga keenam . . . kita mendapatkan sebuah pesan,” ucap Fuu sambil menderetkan lempengan logam yang ia dapat dari barang-barang itu.

“Kalau dianalogikan sebagai kode pager . . . search in the clock room—cari di ruang jam,” ucap Sho menerjemahkan kode itu. “Jadi ada warisan di ruangan ini? Apa itu uang?”

“Tidak tahu. Apa masalah keuanganmu begitu parah? Kau kan host nomer satu,” balas Fuu.

“Bayaran dari pekerjaan itu tidak terlalu banyak. Lagipula aku butuh untuk alasan lain. Lebih banyak uang dibandingkan yang bisa didapat seorang host,” jam di ruangan itu kemudian berdentang keras, “Ah, berisik sekali,” keluh Sho kemudian.



Takeru rupanya mendatangi alamat tempat ia harusnya mengantar barang. Ia ingin bertanggungjawab atas dinamit yang pernah ia gunakan.

“Maaf . . . saya dari perusahaan pengantar barang,” ucap Takeru.

“Kau datang terlalu awal,” ucap si penjaga berjas hitam.

“Ini bahkan bukan waktu yang ada di perjanjian,” komentar penjaga satunya.

“Maafkan saya! Saya telah menggunakan dinamit yang ada di dalamnya.”

“Dinamit?” kedua penjaga itu heran.

“Iya, barang yang ada di dalam koper ini,” terang Takeru.

“Sensei tidak pernah memesan barang seperti itu,” jelas si penjaga.

“Eh?” Takeru heran sendiri.



“Jadi kau menggantinya dengan dinamit, huh?” Tanya paman pemilik kebun pada pengacara Kyoko. Rupanya mereka berdua saling kenal dan sekarang sedang main bowling bersama.

“Ya. Setelah aku mendapat info dari Inoue-san yang aku tugaskan menyamar diantara para homeless, aku tahu Chisato-san akan menggali tanah untuk mencari sumber air panas. Jadi saat Takeru ada di sauna dan meninggalkan kopernya di ruang tengah . . . aku menukari isinya dengan dinamit,” jelas pengacara Kyoko.

“Luar biasa, kau bisa memiliki dinamit,” komentar paman pemilik kebun.

“Aku meminjamnya dari Sinzo-shi. Ada banyak rahasia tersimpan di Trick Heart Castle.”

“Apa itu tidak apa-apa? Kalau mereka tahu kau yang melakukan itu . . . maka kita akan ketahuan,” komentar paman pemilik kebun mengingatkan. (hmmm . . . rahasia apa ya, yang disembunyikan oleh pengacara dan paman satu ini? Mereka ada hubungannya dengan Sinzo-san?)

“AKu tidak akan membuat kesalahan seperti itu,” ucap pengacara Kyoko sambil tersenyum dan mulai mengolesi bolanya dengan pembersih.

Paman pemilik kebun heran dengan handuk yang digunakan oleh pengacara Kyoko. Dia lalu memperhatikan lagi benda itu yang ternyata sebuah . . . wig.



Satoru dan Masaru menemui Chisato yang masih sibuk mengurusi mantan pacar Fuu. Keduanya masih berusaha menjelaskan yang sebenarnya terjadi, kalau mereka tidak punya hubungan seperti yang dipikirkan Chisato. Tapi karena masih sibuk, Chisato mengacuhkan penjelasan mereka berdua.

“Aku jatuh cinta!” ucap Satoru akhirnya.

Chisato akhirnya berpaling dan memperhatikan mereka berdua, “Dengan Masaru?”

“Ya. Tidak, tentu saja tidak! Kenapa kau tiba-tiba berpikir seperti itu?!” protes Satoru.

Wanita yang tadi di depan Chisato, mantan kekasih Fuu akhirnya bangun dari duduknya. Setelah puas menangis, ia ingin melampiaskan kekesalannya pada Chisato. Dengan pakaian rapi, kemudian membanting dan mengunci Chisato di atas matras.

“Kenapa?!” Chisato kesakitan akhirnya pingsan.

Sementara itu Masaru dan Satoru hanya bisa memperhatikan dengan ketakutan pada wanita yang membanting Chisato tadi. Setelah wanita itu pergi, mereka baru berani mendekati Chisato.



“Dia pingsan!” ucap Satoru.

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Kalau begini . . . pernafasan buatan lewat mulut, aku akan melakukannya,” ucap Satoru yakin. Satoru mulai memajukan mulutnya sambil memejamkan mata. Tapi . . . saat sampai di wajah di bawahnya, ternyata itu sebuah boneka! Satoru kaget, karena Chisato masih pingsan dan berada di belakangnya.

Kali ini gantian Masaru. Ia bersiap melakukan pernafasan buatan, dan mulai mendekatkan mulutnya ke arah Chisato. Tapi belum sampai, Satoru buru-buru menarik kaki Masaru sehingga membuat Masaru menghantam lantai.

“Ow! Jangan wajahku!” teriak Masaru kesakitan.

Berebut melakukan pernafasan buatan untuk Chisato, Satoru dan Masaru malah berkelahi sendiri. Mereka melupakan Chisato yang masih pingsan di sebelahnya.

“Aku tidak bisa bertahan lagi!” Chisato tiba-tiba bangun dari pingsannya! (poor Masaru dan Satoru, ga ada yang berhasil mencium Chisato, kekekeke)



Sho dan Fuu masih asyik berkutat di ruang jam. Karena suara dentang jam yang aneh, Sho kemudian mencari penyebabnya. Ia menemukan sebuah kunci di sela-sela gear jam di ruangan jam itu. Keduanya juga menemukan petunjuk lain, Look for the truth hidden behind­­—cari kebenaran di belakangnya.

Sho kembali mencari ke sekeliling ruangan, “Ketemu! Ah ini kan . . . pakaian dalam Chisato,” gumam Sho.

“Apa yang kalian lakukan di ruanganku! Penguntit!” protes Chisato yang masuk ruangan itu tempat saat Sho mengambil pakaian dalamnya. “Kenapa kau masuk ke ruangan ini? Kau harusnya yang minta maaf padaku,” ucap Chisato pada Fuu.

“Kenapa memangnya?”

Chisato dan Fuu akhirnya bertengkar. Mereka saling menyalahkan atas kejadian hari ini dan kisah Fuu dengan para kekasihnya.

“Itu tidak akan merubah fakta kalau kau melakukan ini semua karena uang kan?” tembak Fuu.

“Lalu kenapa kalau sekarang aku benar-benar melakukannya huh?”

“Kau pikir, seperti apa Sinzo-san itu padamu huh? Bagimu dia pasti orang yang baik. Kau sama sekali tidak tahu seperti apa sebenarnya dia . . .”

“Apa maksudmu?” Chisato heran.

“Dia itu benar-benar ba******. Kau tidak tahu berapa banyak orang yang sudah tersakiti olehnya. Orang sepertimu yang tidak tahu apapun . . . jangan coba-coba bersikap seperti ibu yang baik!”

Chisato yang kesal lalu pergi meninggalkan castle.



Chisato pergi ke net-café tempat teman-temannya berada, “Dia benar-benar membuatku marah!” keluh Chisato.

“Maksudmu Ohkura Fuu? Kami sempat mendatangi castle untuk mencari informasi. Alasan utama Ohkura Fuu datang ke castle . . . “

“Untuk mencari warisan?” tebak Chisato.

“Akhirnya, untuk alasan itu.”

“Aku tidak berpikir dia melakukannya untuk itu. Aku penasaran kenapa Fuu begitu membenci Sinzo-san. Sisi dari Sinzo-san yang tidak pernah aku tahu, huh?” gumam Chisato sendiri.



Selepas kepergian Chisato, Fuu dan Sho masih bertahan di ruang jam.

“Ini pertama kalinya kau membicarakan Oyaji-ayah (disini Cuma Sho yang memanggil Sinzo-san dengan sebutan ayah, hmmm). Kau tidak membenci Chisato karena dia istri ayah kan? Ini tidak biasa untuk orang sepertimu bicara seperti itu dengan perempuan,” komentar Sho.

“Jangan bicara seolah aku membencinya. Ohkura Sinzo mungkin benar-benar mengabaikan keberadaanku, tapi dia menerima Chisato-chan. (catatan, disini Fuu menyebut Chisato dengan -chan, bukan –san atau nama saja seperti yang lain. Hmmm . . . sepertinya Fuu tahu sesuatu yang tidak diketahui anak-anak Ohkura yang lain). Mungkin aku Cuma cemburu,” Fuu lalu beranjak pergi meninggalkan Sho yang tersenyum di tempatnya.

Di tempat lain, Masaru mencoba bicara dengan Satoru. Dia menantang Satoru untuk menunjukkan sebuah sulap. Jika Masaru bisa menebak triknya, maka ia yang menang, dan sebaliknya.

“Siapapun kita yang menang, akan membawa Chisato kembali ke rumah,” ucap Masaru.

“Huh? Aku tidak mengerti,” Satoru sok cuek.

“Kau benar menyukai Chisato kan? Kalau tidak artinya aku yang akan pergi ke net-café (tempat Chisato berada). Sudah lama, tapi kau masih takut menunjukkan sulap di depan semua orang,” ucap Masaru sebelum beranjak pergi.



Setelah kepergian Fuu, Sho kembali mencoba memecahkan kode yang mereka temukan tadi. Kebenaran tersembunyi di belakangnya. Sho lalu membongkar beberapa di ruangan itu, dan menemukan lempengan yang lain. Saat Sho mencoba memecahkan kata-kata yang tertulis di lempengan besi itu, tiba-tiba pengacara Kyoko muncu mengagetkannya.

“Kenapa kau disini?” Tanya Sho.

“Aku datang untuk mengembalikan sesuatu, tapi . . . aku mencium aroma lelaki tampan . . . “

“Aku merasakan atmosfer yang sama . . . “ gumam Sho. Ia menangkap sinyal saat pengacara Kyoko pernah mengatakan padanya suatu rahasia juga. Hmmm . . .



Chisato masih melamun di net-café. Ia teringat saat dulu masih bersama Sinzo-san. Sinzo-san pernah melarangnya mendekat saat ia sedang membuat surat untuk putra sulungnya.

“Mungkin kau tinggal menuliskan saja apa yang kau rasakan,” usul Chisato.

“Tapi tidak sesederhana itu,” balas Sinzo-san.

“Hei, Chisato . . . !” Masaru datang mengagetkan lamunan Chisato. “Ayo pulang. Kau masih harus menyelesaikan Mother’s Goals kan? Untuk saat ini, kau harus berbaikan dengan Fuu.”

“Tapi . . . “

“Aku ingin kau kembali Chisato. Satoru merasa begitu juga. Dia siap untuk melakukan perubahan besar. Kau harus berada disana, Chisato,” bujuk Masaru lagi.

“Kau benar-benar menyukai Satoru?” Tanya CHisato balik.

“Tidak seperti itu! Aku hanya . . . “

“Aku bercanda,” ucap Chisato sembari bangkit dan mengikuti Masaru kembali ke castle.



Sho, Fuu, Akira dan pengacara Kyoko berkumpul di ruang makan. Mereka mencoba memecahkan teka-teki kata di lempengan logam. Bahkan meski si jenius Akira bergabung, mereka belum berhasil memecahkannya. Saat itu Chisato dan Masaru baru saja tiba.

“Kenapa kau mencari warisan itu?” tembak Chisato pada Fuu.

“Warisan?” Masaru heran.

“Bagiamana kau bisa tahu?” Tanya Fuu balik. “Aku mencari itu untuk membeberkan rahasia Ohkura Sinzo. Tertarik?”

“Aku juga . . . ingin tahu lebih banyak tentang Sinzo-san,” ujar Chisato kemudian.



“Bantu kami memecahkan kode ini,” sambung Sho.

“Kode?” Chisato mendekat ke arah meja memperhatikan lempengan logam yang terjejer rapi.

Ai: love—cinta, Enu: can't obtain—tidak mendapatkan, Eru: obtain—mendapatkan, Bui: part—bagian, Ji: old man—lelaki tua, Ai: love—cinta

“Ini alphabet. Kalau kalian merubahkan sesuai alphabet, dan menyusun ulang . . . LIVING, living room—ruang tamu.

“Luar biasa! Jadi ada harta tersembunyi di ruangan ini?” Tanya Sho kemudian.



Anak-anak Ohkura yang lain mulai mencari di sekeliling ruangan. Ketika Takeru pulang, ia heran. Takeru berpikir kalau saudara-saudaranya itu membantunya mencari wig yang hilang dari koper yang harus diantarkannya. Pengacara Kyoko yang ada disana khawatir, karena rupanya ia lupa untuk mengembalikan wig yang sempat ia tukar dengan dinamit sebelumnya.

“Hei, Fuu . . . “ si lelaki gay ternyata masih ada di rumah itu.

“Chiiko . . . “ Fuu heran.

“Siapa orang aneh itu?” Sho heran.

“Tunangan Fuu,” jawab Chisato.

“Apa?! Kau juga suka sesama jenis?!” Sho kaget.

“Aku Cuma suka wanita!” elak Fuu.

Si gay bernama Chiiko ini kemudian mengeluarkan pedang dan mulai mengancam Chisato. Kali ini anak-anak Ohkura yang lain tidak berani berbuat apa-apa, tapi Satoru maju menghadapinya. Satoru mulai menghipnotis si lelaki gay ini, tapi bukannya Chiiko yang tidur, malah Sho yang tertidur di belakangnya.

“Berhenti membodohiku!”



Tiba-tiba Inoue datang dan memegang tubuh Chiiko dari belakang. Chiiko tidak bisa bergerak. Satoru mendekat, mengeluarkan kain merahnya dan mulai menutupkannya ke atas pedang Chiiko. Chiiko hanya bisa memandang heran.

“3... 2... 1... sekarang!” ucap Satoru dan seketika ia mengambil kembali kain merahnya sambil menggerakkan tangannya bergaya manis. (omo . . . manisnya si Seto Koji ini )

“Itu menghilang!” ucap Chisato kagum.

“Satoru. Luar biasa,” gumam Masaru sambil tersenyum.

Chiiko akhirnya menyerah. Sekarang Masaru yang beraksi, ia menawarkan diri mengantarkan Chiiko keluar ruangan. Hal yang membuat seisi rumah kembali heran dengan perubahan sikap Masaru.



Tiba-tiba Takeru muncul. Ia yang melihat rambut Chiiko mirip seperti wig menghambur mendekatinya. Takeru berusaha merebut rambut itu. Tapi rambut Chiiko adalah rambut asli, ia kemudian menendang Takeru. Takeru jatuh menghantam tangga. Ia mengerang kesakitan di lantai.

“Takeru!” Chisato buru-buru mendekati Takeru yang terkapar di lantai.

“Ada apa dengan keluarga ini?” Chiiko heran sambil beranjak pergi.

Pengacara Kyoko yang menyimpan wig itu mengambil kesempatan. Ia buru-buru meletakkan wig itu di meja.

“Ah itu wig-nya!” ucap Takeru senang. Ia kemudian memeriksa bagian dalam wig itu, “Ini benar-benar wig mahal,” gumam Takeru senang.



“Apa kalian cari sebenarnya dari tadi?” Takeru heran.

“Apa itu?” Sho menyadari sesuatu.

Di tangga yang tadi terhantam tubuh Takeru muncul sebuah lubang. Hiasan di tangga itu rupanya terlepas saat terhantam tubuh Takeru.

“Seperti lubang kunci . . . “ sambung Satoru.

“Kuncinya . . . “ gumam Fuu sambil mengeluarkan kunci yang tadi ia dan Sho temukan di ruang jam.

“Mungkin ada harta disini,” lanjut Sho.

“Harta, warisan maksudmu?” Tanya Takeru.

Fuu lalu memasukkan anak kunci ke lubang itu dan memutarnya. Ruangan tampak bergetar, dinding di depan mereka bergeser menyisakan sebuah lubang. Anak-anak Ohkura heran.



Keenan anak Ohkura bersama Chisato masuk ke lubang itu. Mereka menemukan salah satu robot ciptaan Sinzo-san.

“Selamat datang, anggota keluarga Ohkura,” ucap si robot.

“Mirakurun?” Sho heran. (Mirakurun adalah salah satu robot yang ada di kantor Sinzo-san)

“Sepertinya bukan. Mirakurun tidak punya tanduk,” komentar Chisato.

“Aku mirakurun tipe 2.0. Akulah harta warisan kalian,” ucap si robot.







Tiba-tiba Chisato mendapat telepon. Ternyata itu dari ayahnya, yang meminta bertemu di net-café. Mau tidak mau Chisato akhirnya menuruti keinginan ayahnya itu untuk bertemu. Chisato keluar dari castle dan menuju net-café.

“Chisato . . . dengarkan baik-baik. Kau adalah . . . wanita.”

“Huh?” Chisato heran, sementara teman-temannya di belakang juga menunggu apa yang akan dikatakan ayah Chisato.

“Maksudku . . . kau bukan laki-laki, kau wanita.”

“Aku tahu itu!” Chisato mulai kesal.

“Kalau begitu ada satu hal lagi yang ingin aku katakana. Kau . . . manusia,” jawaban yang membuat Chisato semakin kesal dengan sikap ayahnya itu.

“Kau memaksakau kesini hanya untuk mengatakan hal itu?”

“Ayolah . . . aku akan dapat masalah kalau kau kembali ke castle sekarang,” ucap ayah Chisato kemudian.

Akhirnya anak-anak net-café yang turun tangan. Mereka menggelitiki ayah Chisato agar mau mengaku apa tujuan sebenarnya ia memanggil Chisato ke net-café sekarang ini.



Di castle, sekretaris Tokita ternyata datang. Hal ini membuat anak-anak Ohkura heran. Tapi sekretaris Tokita senang karena mereka semua telah berkumpul.

“Kalian semua pembohong! Kalian semua hidup mencoba menghindari masa lalu kalian yang menyakitkan . . . kalian pengecut! Kalian tidak pantas tinggal di castle ini!” ucap si robot mirakurun 2.0. Tidak lama setelahnya beberapa buah benda berbentuk gulungan keluar dari tubuh mirakurun ini. Semuanya tertulis nama anak-anak Ohkura.

Anak-anak Ohkura yang lain mengambil gulungan sesuai nama mereka masing-masing, kecuali Fuu. Mereka mulai membaca isi dalam gulungan itu.

Sekretaris Tokita lalu mengambil gulungan yang terakhir, milik Fuu, “Kenapa kau tidak mengambilnya?”

“Bukankah sudah jelas semua?”

Sekretaris Tokita lalu membuka gulungan itu, “Untuk si sulung, Ohkura Fuu . . . ayah kandungmu adalah . . . Ohkura Sinzo-san.”

“Apa yang dia bicarakan?” ucap Sho yang mendengar ucapan sekretaris Tokita.

“Kau bukan anak adopsi?” sambung Takeru, tapi Fuu diam saja.

Chisato akhirnya diberitahu ayahnya kalau sekretaris Tokita yang mengatur agar Chisato keluar dari castle. Dia buru-buru kembali ke castle.

“Kemana mereka?” di castle Chisato hanya menemukan sekretaris Tokita yang sedang minum teh.

“Mereka semua telah pergi. Ini . . . keinginan Sinzo-san,” ucap sekretaris Tokita.

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.