Kisah sebelumnya,
Insiden di bar dan penyelamatan dari gangster membuat Takeru melunak. Ia juga orang pertama yang memberikan cap tangannya di bingkai. Tentu saja Chisato sangat senang.
Tiba-tiba telepon rumah berdering. Chisato yang mengangkatnya. Ia terkejut karena telepon itu dari polisi, yang menyatakan kalau Masaru saat ini ada di kantor polisi.
“Tentu saja kau yang berangkat,” komentar Takeru masih asyik menikmati supnya.
“Kenapa harus aku?” rengek Chisato.
“Karena kau mama, huh?” Takeru memandang serius ke arah Chisato.
Chisato akhirnya mengalah. Ia datang ke kantor polisi untuk menjemput Masaru. Polisi heran karena yang menjemput adalah adalah seorang gadis muda, apalagi waktu Chisato mau tidak mau mengakui sebagai mama Masaru.
“Kami minta maaf, rupanya kami salah menangkap orang. Tadi ada laporan perampokkan, dan karena dia membawa uang dalam jumlah banyak, kami pikir dialah perampoknya. Tapi korban mengenali kalau bukan dia perampoknya,” ujar polisi yang datang kemudian bersama Masaru.
Polisi itu menyerahkan barang-barang milik Masaru. Sekilas Chisato melihat sebuah selebaran yang menyatakan kalau bisa menyembuhkan phobia. Cekatan Masaru mengambil barang-barangnya kembali. Chisato memandang penuh arti ke arah Masaru.
“Menyembuhkan phobia?” Tanya Takeru heran. Ia tengah duduk di meja utama sambil mengelus-elus kucing yang ternyata sebuah boneka berbunyi miaw ^_^
Di rumah, Chisato kemudian bercerita tentang Masaru. Juga tentang selebaran yang mengatakan bisa menyembuhkan phobia.
“Memang apa urusan kita? Itu kan urusannya sendiri,” komentar Satoru.
“Tapi dia kan juga bagian dari kita,” elak Takeru. Bukannya mencari solusi, anak-anak Ohkura ini malah bertengkar sendiri.
Melihat anak-anak Ohkura sedang berkumpul, Chisato mengambil kesempatan. Ia mencoba mendapatkan cap tangan dari mereka. Pertama Satoru, yang dengan baiknya gagal. Kedua Akira, juga gagal. Sementara Chisato asyik berusaha mengumpulkan cap tangan, anak-anak Ohkura yang itu masih saja asyik berdebat.
“Kenapa ini?” Satoru kaget karena ada orang di bawah meja.
Ohoho, rupanya demi mendapatkan cap tangan, Chisato sampai masuk ke bawah meja.
“Kau mengambil kesempatan huh?” tegur Takeru.
“Itu . . . kalian kan sedang berkumpul,” elak Chisato.
“Tuan muda Masaru datang,” Inoue sang pelayang memecahkan suasana.
Secepatnya mereka membereskan meja yang berantakan di ruang makan itu.
“Ingat, kita tidak pernah membicarakan hal ini,” ucap Chisato mengingatkan.
Masaru masuk masih dengan wajah masamnya. Sementara Chisato, Akira dan Satoru mencoba bersikap biasa.
“Aku akan mendatangkan keajaiban. Phobiamu akan segera sembuh,” ucap Takeru percaya diri yang dihadiahi tatapan tajam Chisato.
“Huh?” Masaru yang baru saja datang hanya menatap dengan heran.
Sementara di lantai dua, tampak Inoue si pelayan sedang menelepon seseorang. Ruparanya ia sedang melaporkan keadaan di rumah itu.
Ow ow, ternyata Inoue sang pelayan sedang melaporkan keadaan rumah pada pengacara Kyoko. Ia saat ini sedang berada di kantor bersama sekretaris Tokita.
“Sepertinya mereka akan segera menyembuhkan phobia Masaru. Sejak anak itu (Chisato) datang, banyak yang telah berubah,” komentar pengacara Kyoko.
“Bukankah kau sama denganku, kau juga membenci keenam anak tampan itu?” balas sekretaris Tokita.
“Aku punya alasan untuk itu,” ucap pengacara Kyoko tidak kalah misterius.
Hari berikutnya. Chisato, Takeru dan Satoru, dibantu Inoue sang pelayang berniat menyembuhkan phobia Masaru. Mereka telah menyiapkan beberapa pos yang berisi wanita dalam berbagai kostum. Sementara itu, Masaru duduk di ujung pos dengan mata tertutup. Chisato memandangi Masaru dengan prihatin. Takeru yang sampai disana menegur Chisato dan menyuruhnya segera ganti pakaian. Chisato menurut.
“Kenapa aku harus berpakaian seperti ini?!” protes Satoru yang baru datang dari arah lain dengan berbisik. (ohoho . . . melihat Satoru dengan baju cewe, manisnya Seto Koji . . . ^_^)
“Sudah, jangan berisik!” ucap Takeru.
Chisato datang sudah berganti baju. Melihat kedatangan Chisato, Takeru dan Satoru menghentikan pertengkaran mereka.
“Kenapa aku harus berpakaian seperti ini? Ini memalukan,” protes Chisato dalam kostum anak SMA-nya.
“Kawaiii-manisnya,” bisik Takeru dan Satoru bersamaan.
Tiba-tiba Inoue sang pelayang datang. Ia berdiri di sebelah Chisato dengan kostumnya juga. Tapi kali ini komentar dari Takeru dan Satoru bukan lagi kawaiii tapi syok melihat Inoue.
Takeru, Satoru, dan Inoue sudah berada di pos masing-masing. Tiba-tiba Chisato malah menyingkir dari pos. Ia melihat sebuah kertas di sisi ruangan.
“Ah, akan ada kunjungan dari wali kelas Satoru? Hari ini?” Chisato heran.
“Benarkah?” Takeru yang mendengar Chisato juga meninggalkan posnya.
Lalu terdengar suara bel yang dibunyikan. Chisato bergegas keluar rumah. Ia heran karena tidak melihat seorangpun. Tapi kemudian tampak seorang wanita sedang melihat ke arah jendela.
“Maaf, apa anda Yashida-san, wali kelas Satoru?” sapa Chisato.
“Mm, ah iya, saya,” ucap wanita itu.
Chisato lalu mempersilahkan masuk pada Yashida-san. Mereka tiba di ruang makan.
“Maafkan soal ruangan yang seperti ini,” ucap Chisato.
Takeru yang melihat Yashida-san terpesona. Rupanya ia tertarik pada Yashida-san.
“Ah, dimana Satoru?” Chisato heran karena tidak melihat Satoru.
Bukannya mencari Satoru, Takeru malah mengajak Yashida-san berkenalan. Sementara itu Chisato mencari keberadaan Satoru. Kemana Satoru? Omo, ternyata dia bersembunyi di bawah meja, masih dengan kostum girly-nya, lengkap dengan bertopang dagu. (persis anak umur belasan tahu, ihihihi . . . Seto Koji emang pantes banget memerankan anak SMA yang imut, padahal disini usianya sebenarnya sudah 21 tahun LOL)
Masaru yang tadi masih duduk dengan mata tertutup heran karena ia belum juga diijinkan membuka mata. Akhirnya ia membuka penutup matanya, dan tepat di depannya adalah Yashida-san. Masaru kaget melihat Yashida-san. Apalagi melihat gelang dari bebatuan yang dikenakan oleh Yashida-san. Masaru teringat dengan masa lalunya, phobianya terhadap wanita.
“Huaaa!!!” Masaru berteriak ketakutan dan langsung ngacir pergi. Yashida-san, Takeru maupun Chisato heran melihat tingkah Masaru.
Tadinya Chisato ingin meninggalkan Satoru bicara berdua dengan wali kelasnya itu. Tapi Takeru mencegah, karena disini Chisato berperan sebagai mama – wali dari Satoru, jadi ia harus ikut di pertemuan itu.
(entah kapan ya mereka beberes ruangan itu, yang jelas ruangan itu udah kembali menjadi ruang makan). Ditemani Takeru, mereka berempat membahas sekolah Satoru.
“Ah meski dia memakai baju wanita, tapi dia anak laki-laki,” ucap Chisato.
“Dia wali kelasku, tentu saja dia tahu itu,” komentar Satoru ketus.
Chisato lalu mencari tahu nama asli sang wali kelas, ternyata Yashida Mao. Nama yang sama seperti yang tadi dikatakan oleh Masaru.
Masaru ternyata mengunci diri di ruang sauna. Tidak lama kemudian Takeru menyusul. Takeru mengatakan kalau benar, wali kelas Satoru itu bernama Yashida Mao.
Masaru lalu menceritakan awal mulanya ia phobia pada wanita. Saat itu Masaru masih kelas akhir di SD. Ia menyukai seorang gadis yang saat itu sudah SMP. Dengan malu-malu Masaru mengungkapkan perasaannya dan mengajak gadis itu kencan. Spontan gadis itu menyetujuinya, Masaru senang. Setelah Masaru pergi, gadis itu mengatakan pada temannya kalau ia hanya main-main saja dengan Masaru. Ternyata Masaru masih ada disana dan mendengar ucapan gadis itu. Masaru patah hati, dan sejak itulah Masaru mulai phobia pada wanita.
Sho menemui mantan kekasihnya yang juga ibu Rikki di sebuah café. Sho lalu memberikan amplop berisi uang bulanan padanya.
“Ini tidak cukup,” kilahnya.
“Aku akan menambahinya bulan depan,” balas Sho santai.
“Itu juga yang kau katakana bulan kemarin,” ibu Rikki lalu mengeluarkan selembar uang dan menyerahkannya kembali pada Sho. “Ini, belilah sesuatu yang disukai Rikki.”
“Untuk apa?” Sho balik bertanya.
“Kau benar-benar tidak mengerti,” ibu Rikki lalu beranjak pergi meninggalkan Sho yang masih kebingungan sendiri di meja café.
Di rumah, Satoru ditemani Chisato masih berbicara dengan wali kelasnya, Yashida-san. Yashida-san mencoba membujuk Satoru untuk kembali ke sekolah. Tapi Satoru masih keras kepala.
“Aku tidak mau! Memangnya kalian tahu apa soal aku,” Satoru lalu beranjak pergi meninggalkan Chisato dan Yashida-san.
Yashida-san pamit pada Chisato, “Kalau begitu, apa lain kali saya boleh berkunjung lagi? Saya akan membujuk Satoru kembali ke sekolah.”
“Tentu saja,” Chisato senang.
Chisato dan Takeru melepas kepergian Yashida-san di depan pintu.
“Siapa dia?” Akira yang baru saja pulang sekolah heran.
“Dia wali kelas Satoru dan . . . calon istriku di masa depan,” jawab Takeru sok pede.
Selepas kepergian Yashida-san, ketiganya masuk rumah. Ternyata Masaru berdiri di samping tembok. Ia memandangi Yashida-san, wanita yang membuatnya phobia pada wanita, dengan wajah kecewa.
Chisato, Takeru dan Akira masuk rumah. Ternyata di dalam sudah ada pengacara Kyoko, bersama barang-barang peninggalan Sinzo-san.
“Tapi darimana kau masuk? Kami baru saja dari pintu depan?” Chisato heran. “Ah sudah lupakan saja.” Perlahan Chisato mulai mengerti dengan kehadiran pengacara Kyoko yang seringkali tidak terduga.
“Ini barang-barang milik Sinzo-san. Dimana aku harus meletakkannya?” Tanya pengacara Kyoko kemudian.
“Tapi aku tidak punya tempat di rumah ini . . . “
“Apa tidak ada ruangan kosong yang bisa digunakan di rumah ini?”
“Ah, aku tahu. Ruangan yang tepat, clock of terror room,” ucap Takeru yang diiyakan oleh Akira.
“Clock of terror?” Chisato heran.
Chisato lalu memindahkan barang-barang Sinzo-san ke sebuah ruangan. Sebuah ruangan remang-remang, dengan kasur yang empuk. Baru saja Chisato merebahkan diri dan mulai tertidur, terdengar suara . . . dentang jam. Ohohoho . . . inilah kenapa ruangan ini disebut clock of terror. Ternyata kamar itu terletak persis di sisi tempat mesin jam di castle. Jelas setiap jam berdentang, selalu terdengar suara dentang jam yang jelas, keras dan mengerikan.
Fuu yang punya hobby berpetualang, pulang ke apartemennya. Dia menemukan banyak sekali surat yang datang dan menumpuk di kotak suratnya. Semua surat itu ia singkirkan, kecuali satu surat. Sebuah surat yang ditujukan untuknya, Ohkura Fuu dari orang yang sangat ia kenal, Ohkura Sinzo.
Sementara itu di tempat lain, pengacara Kyoko datang ke tempat kerja Sho. Pengacara Kyoko memberitahu Sho soal harta karun yang ditinggalkan Sinzo-san di sebuah tempat dari trick heart castle, ruang ke 96. Hal yang selalu membuat Sho penasaran dan tertarik.
Chisato datang ke net-café Kokudo. Ia mengeluh semalam tidak bisa tidur nyenyak karena suara dentang jam yang berisik dan mengerikan. Perlahan Chisato mulai tertidur, tapi kemudian Kokudo dan teman-temannya yang lain—yang menamakan dirinya pelindung Chisato—datang membawa berita lain, tentang Satoru.
Mereka menujukkan video ketika Satoru masih menjadi seorang pesulap. Yap, Satoru atau dulu dikenal sebagai Kanbai Satoru adalah seorang pesulap cilik yang sukses. Akibat masalah pajak yang melilit orang tuanya dulu, akhirnya karir Satoru pun meredup. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi muncul di tv atau acara lagi.
“Kisah yang menyedihkan,” keluh Chisato.
Masaru masih melanjutkan hidupnya sebagai model. Selesai pemotretan, ia keluar dari sebuah gedung. Di depan, ternyata sudah banyak fans wanita yang menunggunya. Mereka ingin bisa berjabat tangan dengan Masaru. Masaru memandangi para fans itu. Dalam pikiran Masaru, fans itu berubah menjadi wanita bertampang sadis yang menjelek-jelekannya. Masaru frustasi.
“Huaaaa!!!” teriakan Masaru membuat semua orang keheranan.
Manajer Masaru buru-buru membawa Masaru pergi. Ia minta maaf pada para fans dan mengatakan kalau Masaru terlalu lelah.
“Ada apa denganmu Masaru-san? Ini tidak seperti kau yang biasanya?”
“Lalu, seperti apa aku yang biasanya?” Masaru malah balik bertanya.
“Sleepy,” Chisato tidak bisa tidur karena dentang jam mengerikan bukan memekakkan di terror clock. Akhirnya masih dengan membawa bantalnya, Chisato menuju ruang makan.
Di ruangan itu ternyata ada Masaru. Ia tengah duduk menghadap sesuatu. Rupanya Masaru membuat guna-guna, dengan menempelkan nama Yashidao Mao di sebuah boneka dari batang padi.
“Menjauhlah!” bentak Masaru yang melihat kedatangan Chisato.
Chisato pun mengurungkan niatnya untuk mendekati Masaru. Ia memperhatikan Masaru dari kejauhan.
“Kenapa sebenarnya denganku? Kenapa aku harus ketakukan karena wanita? Kenapa harus aku? Ini sungguh tidak adil!” Masaru meremas boneka guna-guna buatannya lalu beranjak pergi meninggalkan Chisato yang masih keheranan memandangnya. Masaru benar-benar frustasi.
Hari berikutnya,
Chisato bersama pengacara Kyoko di ruang sauna. Chisato yang masih penasaran dengan keluarga Sinzo mendesaknya untuk bercerita.
“Alasan Sinzo-san mengadopsi mereka semua karena tampan,” ucap pengacara Kyoko kalem.
“Apa maksudnya? Jangan bercanda seperti itu!” Chisato kesal.
“Menurut SInzo-san, ketampanan bisa menimbulkan wibawa sesorang, itulah sebabnya dia mengadopsi keenam anak itu. Hahaha, sebenarnya masih ada hal lain lagi. Itu karena mata mereka. Mata yang mencerminkan diri mereka. Keenam anak itu awalnya berada dalam kehidupan yang keras dan tidak mudah. Mungkin itu alasan yang sama juga denganmu. Sinzo-san adalah orang yang bisa melihat potensi yang dimiliki oleh seseorang. Itulah alasan utama kenapa dia mengadopsi keenam anak itu, karena potensi yang dimiliki oleh mereka masing-masing.”
Di tempat lain, Masaru ternyata juga mengunjungi sekretaris Tokita. Ia menanyakan alasan apa yang membuat Sinzo-san mengadopsinya.
Sekretaris Tokita mengatakan hal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dikatakan oleh pengacara Kyoko, “Sinzo-san selalu mengatakan hal ini tentangmu, kalau saja Masaru punya sedikit lebih banyak saja kepercayaan diri.”
Chisato mulai membuka paket yang kemarin dibawa pengacara Kyoko. Paket itu berisi barang-barang milik Sinzo-san.
“Ah, barang-barang tidak berguna ini,” keluh Chisato. Chisato kemudian menemukan sebuah barang yang menarik, power voice. Ia teringat ucapan Sinzo-san dulu ketika ia masih hidup. Alat itu bisa digunakan untuk merubah suara seseorang yang direkam menjadi suara orang lain yang ada di alat itu. Chisato punya ide.
Mendadak ponselnya berbunyi. Ternyata dari ayahnya, Mineta Toru-san.
“Halo, ayah?!”
“Bagiamana kabarmu, apa kau baik-baik saja?” Tanya Mineta-san santai.
“Bagiamana mungkin kau bisa mengatakan hal seperti itu pada putrimu yang sudah melakukan semua hal ini ayah!” Chisato kesal. Akhirnya pertengkaran mereka pun tak terhindarkan lagi.
Chisato membuat sebuah rekaman suara. Ia ingin membantu Masaru agar segera sembuh dari phobia-nya. Chisato turun dan menemui Masaru yang ada di ruang makan.
“Apa ini?” Tanya Masaru heran.
“Alat itu bisa digunakan untuk mengatahui isi hati seseorang. Kau cukup mengarahkan saja alat itu pada seseorang lalu memencet tombolnya,” jawab Chisato.
“Jangan bercanda denganku! Kau tidak tahu apapun tentang aku!” bentak Masaru marah.
“Kau tidak akan pernah berubah kalau tidak berani mengambil langkah pertama,” Chisato kemudian beranjak pergi.
Tanpa diketahui, Satoru yang tadinya akan masuk ke ruang makan berhenti di depan pintu mendengar percakapan Chisato-Masaru. Saat Chisato keluar, buru-buru Satoru bersikap seolah tidak tahu apa-apa.
Chisato melihat Satoru, dan ia memegang pundaknya, “Kau juga,” lalu Chisato beranjak pergi.
Satoru memandangi kepergian Chisato. Ia tersenyum.
Seperti biasa, Sho mengantarkan anaknya Rikki ke tempat penitipan anak di pagi hari sebelum dia berangkat kerja. Sho tidak memperhatikan anaknya, dan malah masih sibuk memikirkan kata kunci tentang harta di castle yang diberikan pengacara Kyoko sebelumnya.
“Ayah . . . “ ucap Rikki lirih.
“Ah ya?” mendengar panggilan anaknya, Sho baru sadar dari lamunannya.
“Tidak ada. Semoga hari ini indah. Dagh ayah,” Rikki urung bicara. Ia lalu masuk ke tempat penitipan anak.
Sho memandangi anaknya itu dengan heran. Tapi juga tidak berkomentar apapun. Sho lalu beranjak meninggalkan tempat itu.
Yashida-san kembali datang ke castle. Ia berniat membujuk Satoru untuk kembali ke sekolah.
“Satoru?” Chisato heran melihat Satoru yang keluar lebih dulu untuk menemuinya.
“Aku hanya ingin mengatakan satu hal. Aku akan kembali ke sekolah, suatu saat nanti,” ucap Satoru yang tentu saja membuat Chisato dan Yashida-san senang.
Yashida-san lalu pamit ke kamar mandi.
Di teras lantai dua, ada Takeru dan Masaru. Takeru yang kesal karena ditolak Yashida-san membantu Masaru untuk mengerjai Yashida-san. Mereka mempersiapkan air panas. Dari belakang muncul Sho. Sho mengajak Takeru dan Masaru untuk mencari harta karun, tapi mereka menolak ajakan Sho.
“Kalau begitu, biar aku yang cari sendiri,” ucap Sho beranjak pergi.
Jebakan yang dibuat Takeru dan Masaru bergerak. Mereka senang karena kali ini Yashida-san yang akan kena batunya. Sebuah trolli lewat, dan ternyata yang ada di sana . . . Inoue sang pelayan.
“Inoue?!” Takeru dan Masaru heran. Dan . . . byurrrr. Inou yang kena sial, masuk ke dalam jebakan Takeru dan Masaru. Poor Inoue.
Chisato heran kerena Yashida-san belum juga kembali dari kamar mandi. Bel rumah berbunyi, Chisato buru-buru membukakan pintu.
“Maaf, saya Yashida wali kelas Ohkura Satoru. Seharusnya saya datang tanggal 28 kemarin, tapi karena mendadak sakit, akhirnya saya tidak jadi datang. Maafkan saya,” ucap seorang wanita yang mengaku sebagai wali kelas Satoru.
“Huh? Bukankah anda sudah datang?” Chisato heran. Ia lalu buru-buru masuk dan mencari si wanita yang mengaku sebagai Yashida-san sebelumnya.
Akira berada di kantor polisi. Rupanya ia kehilangan sebuah buku penting dan ditemukan oleh polisi.
“Aku tidak tahu kalau kau kehilangan buku yang sedikit aneh ini. Di usiamu sekarang, kau sudah bermain saham?” si polisi heran setelah mengembalikan buku Akira yang ternyata berisi tentang saham.
“Permisi,” Akira tidak menjawab lalu beranjak pergi. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat sebuah poster yang tertempel di kantor polisi. Akira buru-buru menghubungi rumah.
Di rumah, Chisato lah yang mengangkat telepon.
“Ini tentang orang yang kemarin mengaku sebagai wali kelas Satoru, dia . . . “
“Apa?!” (ternyata wanita itu adalah buronan polisi. Ia seorang pencuri!)
Di rumah, Sho yang sedang asyik mencari harta karunnya memergoki si wanita pencuri yang tengah memasukkan barang-barang ke dalam kantungnya.
“Pencuri!!!” teriak Sho.
Chisato, Masaru bergabung dengan Sho. Mereka mengejar si pencuri hingga halaman rumah. Takeru kemudian mencoba menyerang si wanita, tapi dengan mudah dijatuhkan oleh si pencuri itu. Sho, Chisato, dan Masaru syok melihat Takeru yang telah KO.
“Kau benar-benar keterlaluan. Kau ternyata berbohong untuk meyakinkan Satoru kembali ke sekolah. kau benar-benar tidak termaafkan,” ucap Chisato tajam.
Tanpa diketahui, ternyata Satoru melihat dan mendengar semua pembicaraan mereka dari jendela di lantai dua. Dia benar-benar kesal.
Satoru yang geram, akhirnya keluar dari dalam rumah dengan melompat. Kontan Chisato, Sho dan Masaru heran.
“Satoru . . . keluar,” gumam Masaru.
Satoru perlahan mulai bergerak. Ia melangkah menuju si wanita pencuri.
“Dia . . . bisa bergerak,” gumam Sho.
Tapi sejurus kemudian, Satoru menunduk kesakitan. “Ini sakit,” keluh Satoru. (ya secara, habis lompat dari lantai dua, pasti sakit lah. Poor Koji)
Kali ini giliran Masaru yang maju. Ia meyakinkan diri untuk maju. Masaru menodongkan power voice ke si pencuri. Masaru berniat mengatahui isi hati si pencuri. Si pencuri heran dengan tingkah Masaru.
“Aku percaya diri!” Masaru lalu membuang power voice itu dan melangkah mendekat, tapi ia kemudian menghindar. Masaru masih phobia pada wanita.
Sekarang giliran Sho yang maju. Ia menubruk si pencuri itu. Tapi ternyata Sho pun masih kewalahan. Ia dipukuli oleh si pencuri. Chisato melihat kesempatan di depannya.
“Sho, bertahanlah. Satoru, tetap dalam posisimu,” Chisato lalu melompat ke atas punggung Satoru, bersalto di udara dan menendang si wantia pencuri itu hingga pingsan.
Selesai menendang si pencuri, Chisato masih beberapa kali bersalto di udara. Terakhir dia terdampar di . . . pelukan Masaru.
“Masaru mengendong seorang gadis?” Takeru yang baru bangun heran.
Masaru yang baru sadar buru-buru menurunkan Chisato. Ia heran dengan apa yang baru saja terjadi.
“Aku kembali membuat keajaiban!” gumam Takeru senang.
Sho yang melihat semua itu tersenyum geli. Sementara itu Masaru yang masih syok kebingungan dengan tatapan saudara-saudaranya itu. Bahkan Satoru yang nyaris tidak pernah tersenyum pun akhirnya menunjukkan senyum imut-manisnya.
Inoue yang baru datang membawa dan memborgol si pencuri. Ia lalu membawa pergi si pencuri.
“Ada apa sebenarnya dengan keluarga ini?” gumam si pencuri.
Di belakangnya, anak-anak Ohkura dan Chisato masih larut dengan kesenangan mereka. Takeru tertawa senang, sementara Satoru masih tersenyum menahan sakit di kakinya. Masaru yang tersipu berusaha mengalihakan perhatian. Dan Sho . . . dia berguling-guling di tanah.
Harta karun yang dicari Sho akhirnya ketemu. Ia lalu membuka kotak harta karun itu yang ternyata berisi sebuah boneka mungil dan kartu ucapan ulang tahun.
“Siapa yang ulang tahun?” Tanya Chisato.
Anak-anak Ohkura yang lain tidak ada yang mengakuinya. Itu bukan ulang tahun mereka.
Sho teringat sesuatu, “Itu Rikki. Sekarang ulang tahun Rikki,” gumam Sho kemudian.
“Mungkin selama ini Sinzo-san memikirkan juga tentang Rikki,” ucap Chisato.
Sho yang masih kaget buru-buru menutup kotak itu. Ia buru-buru pergi meninggalkan castle menyisakan pertanyaan dari anak-anak Ohkura yang lain. Di jalan, Sho menerima sebuah telepon. Ini menyangkut Rikki. Apa yang terjadi dengan Rikki?
Chisato masih memandangi bingkai yang ada di atas. Rupanya Satoru orang kedua yang memberikan cap tangannya. Chisato tersenyum senang. Satoru juga memandangi Chisato sambil tersenyum. Takeru yang mengetahuinya, mendekat.
“Jangan-jangan, kau menyukai si pendek?” tebak Takeru yang membuat Satoru makin tersipu. Tapi Satoru mengelak mengakuinya.
Di atas, Masaru rupanya mencoba alat yang tadi diberikan Chisato, power voice. Ia mengarahkannya pada Chisato. Lalu tersengar suara Sinzo-san, Aku benar-benar mencintaimu seperti halnya dirimu. Masaru syok dengan apa yang baru saja ia dengar.
Insiden di bar dan penyelamatan dari gangster membuat Takeru melunak. Ia juga orang pertama yang memberikan cap tangannya di bingkai. Tentu saja Chisato sangat senang.
Tiba-tiba telepon rumah berdering. Chisato yang mengangkatnya. Ia terkejut karena telepon itu dari polisi, yang menyatakan kalau Masaru saat ini ada di kantor polisi.
“Tentu saja kau yang berangkat,” komentar Takeru masih asyik menikmati supnya.
“Kenapa harus aku?” rengek Chisato.
“Karena kau mama, huh?” Takeru memandang serius ke arah Chisato.
Chisato akhirnya mengalah. Ia datang ke kantor polisi untuk menjemput Masaru. Polisi heran karena yang menjemput adalah adalah seorang gadis muda, apalagi waktu Chisato mau tidak mau mengakui sebagai mama Masaru.
“Kami minta maaf, rupanya kami salah menangkap orang. Tadi ada laporan perampokkan, dan karena dia membawa uang dalam jumlah banyak, kami pikir dialah perampoknya. Tapi korban mengenali kalau bukan dia perampoknya,” ujar polisi yang datang kemudian bersama Masaru.
Polisi itu menyerahkan barang-barang milik Masaru. Sekilas Chisato melihat sebuah selebaran yang menyatakan kalau bisa menyembuhkan phobia. Cekatan Masaru mengambil barang-barangnya kembali. Chisato memandang penuh arti ke arah Masaru.
“Menyembuhkan phobia?” Tanya Takeru heran. Ia tengah duduk di meja utama sambil mengelus-elus kucing yang ternyata sebuah boneka berbunyi miaw ^_^
Di rumah, Chisato kemudian bercerita tentang Masaru. Juga tentang selebaran yang mengatakan bisa menyembuhkan phobia.
“Memang apa urusan kita? Itu kan urusannya sendiri,” komentar Satoru.
“Tapi dia kan juga bagian dari kita,” elak Takeru. Bukannya mencari solusi, anak-anak Ohkura ini malah bertengkar sendiri.
Melihat anak-anak Ohkura sedang berkumpul, Chisato mengambil kesempatan. Ia mencoba mendapatkan cap tangan dari mereka. Pertama Satoru, yang dengan baiknya gagal. Kedua Akira, juga gagal. Sementara Chisato asyik berusaha mengumpulkan cap tangan, anak-anak Ohkura yang itu masih saja asyik berdebat.
“Kenapa ini?” Satoru kaget karena ada orang di bawah meja.
Ohoho, rupanya demi mendapatkan cap tangan, Chisato sampai masuk ke bawah meja.
“Kau mengambil kesempatan huh?” tegur Takeru.
“Itu . . . kalian kan sedang berkumpul,” elak Chisato.
“Tuan muda Masaru datang,” Inoue sang pelayang memecahkan suasana.
Secepatnya mereka membereskan meja yang berantakan di ruang makan itu.
“Ingat, kita tidak pernah membicarakan hal ini,” ucap Chisato mengingatkan.
Masaru masuk masih dengan wajah masamnya. Sementara Chisato, Akira dan Satoru mencoba bersikap biasa.
“Aku akan mendatangkan keajaiban. Phobiamu akan segera sembuh,” ucap Takeru percaya diri yang dihadiahi tatapan tajam Chisato.
“Huh?” Masaru yang baru saja datang hanya menatap dengan heran.
Sementara di lantai dua, tampak Inoue si pelayan sedang menelepon seseorang. Ruparanya ia sedang melaporkan keadaan di rumah itu.
Ow ow, ternyata Inoue sang pelayan sedang melaporkan keadaan rumah pada pengacara Kyoko. Ia saat ini sedang berada di kantor bersama sekretaris Tokita.
“Sepertinya mereka akan segera menyembuhkan phobia Masaru. Sejak anak itu (Chisato) datang, banyak yang telah berubah,” komentar pengacara Kyoko.
“Bukankah kau sama denganku, kau juga membenci keenam anak tampan itu?” balas sekretaris Tokita.
“Aku punya alasan untuk itu,” ucap pengacara Kyoko tidak kalah misterius.
Hari berikutnya. Chisato, Takeru dan Satoru, dibantu Inoue sang pelayang berniat menyembuhkan phobia Masaru. Mereka telah menyiapkan beberapa pos yang berisi wanita dalam berbagai kostum. Sementara itu, Masaru duduk di ujung pos dengan mata tertutup. Chisato memandangi Masaru dengan prihatin. Takeru yang sampai disana menegur Chisato dan menyuruhnya segera ganti pakaian. Chisato menurut.
“Kenapa aku harus berpakaian seperti ini?!” protes Satoru yang baru datang dari arah lain dengan berbisik. (ohoho . . . melihat Satoru dengan baju cewe, manisnya Seto Koji . . . ^_^)
“Sudah, jangan berisik!” ucap Takeru.
Chisato datang sudah berganti baju. Melihat kedatangan Chisato, Takeru dan Satoru menghentikan pertengkaran mereka.
“Kenapa aku harus berpakaian seperti ini? Ini memalukan,” protes Chisato dalam kostum anak SMA-nya.
“Kawaiii-manisnya,” bisik Takeru dan Satoru bersamaan.
Tiba-tiba Inoue sang pelayang datang. Ia berdiri di sebelah Chisato dengan kostumnya juga. Tapi kali ini komentar dari Takeru dan Satoru bukan lagi kawaiii tapi syok melihat Inoue.
Takeru, Satoru, dan Inoue sudah berada di pos masing-masing. Tiba-tiba Chisato malah menyingkir dari pos. Ia melihat sebuah kertas di sisi ruangan.
“Ah, akan ada kunjungan dari wali kelas Satoru? Hari ini?” Chisato heran.
“Benarkah?” Takeru yang mendengar Chisato juga meninggalkan posnya.
Lalu terdengar suara bel yang dibunyikan. Chisato bergegas keluar rumah. Ia heran karena tidak melihat seorangpun. Tapi kemudian tampak seorang wanita sedang melihat ke arah jendela.
“Maaf, apa anda Yashida-san, wali kelas Satoru?” sapa Chisato.
“Mm, ah iya, saya,” ucap wanita itu.
Chisato lalu mempersilahkan masuk pada Yashida-san. Mereka tiba di ruang makan.
“Maafkan soal ruangan yang seperti ini,” ucap Chisato.
Takeru yang melihat Yashida-san terpesona. Rupanya ia tertarik pada Yashida-san.
“Ah, dimana Satoru?” Chisato heran karena tidak melihat Satoru.
Bukannya mencari Satoru, Takeru malah mengajak Yashida-san berkenalan. Sementara itu Chisato mencari keberadaan Satoru. Kemana Satoru? Omo, ternyata dia bersembunyi di bawah meja, masih dengan kostum girly-nya, lengkap dengan bertopang dagu. (persis anak umur belasan tahu, ihihihi . . . Seto Koji emang pantes banget memerankan anak SMA yang imut, padahal disini usianya sebenarnya sudah 21 tahun LOL)
Masaru yang tadi masih duduk dengan mata tertutup heran karena ia belum juga diijinkan membuka mata. Akhirnya ia membuka penutup matanya, dan tepat di depannya adalah Yashida-san. Masaru kaget melihat Yashida-san. Apalagi melihat gelang dari bebatuan yang dikenakan oleh Yashida-san. Masaru teringat dengan masa lalunya, phobianya terhadap wanita.
“Huaaa!!!” Masaru berteriak ketakutan dan langsung ngacir pergi. Yashida-san, Takeru maupun Chisato heran melihat tingkah Masaru.
Tadinya Chisato ingin meninggalkan Satoru bicara berdua dengan wali kelasnya itu. Tapi Takeru mencegah, karena disini Chisato berperan sebagai mama – wali dari Satoru, jadi ia harus ikut di pertemuan itu.
(entah kapan ya mereka beberes ruangan itu, yang jelas ruangan itu udah kembali menjadi ruang makan). Ditemani Takeru, mereka berempat membahas sekolah Satoru.
“Ah meski dia memakai baju wanita, tapi dia anak laki-laki,” ucap Chisato.
“Dia wali kelasku, tentu saja dia tahu itu,” komentar Satoru ketus.
Chisato lalu mencari tahu nama asli sang wali kelas, ternyata Yashida Mao. Nama yang sama seperti yang tadi dikatakan oleh Masaru.
Masaru ternyata mengunci diri di ruang sauna. Tidak lama kemudian Takeru menyusul. Takeru mengatakan kalau benar, wali kelas Satoru itu bernama Yashida Mao.
Masaru lalu menceritakan awal mulanya ia phobia pada wanita. Saat itu Masaru masih kelas akhir di SD. Ia menyukai seorang gadis yang saat itu sudah SMP. Dengan malu-malu Masaru mengungkapkan perasaannya dan mengajak gadis itu kencan. Spontan gadis itu menyetujuinya, Masaru senang. Setelah Masaru pergi, gadis itu mengatakan pada temannya kalau ia hanya main-main saja dengan Masaru. Ternyata Masaru masih ada disana dan mendengar ucapan gadis itu. Masaru patah hati, dan sejak itulah Masaru mulai phobia pada wanita.
Sho menemui mantan kekasihnya yang juga ibu Rikki di sebuah café. Sho lalu memberikan amplop berisi uang bulanan padanya.
“Ini tidak cukup,” kilahnya.
“Aku akan menambahinya bulan depan,” balas Sho santai.
“Itu juga yang kau katakana bulan kemarin,” ibu Rikki lalu mengeluarkan selembar uang dan menyerahkannya kembali pada Sho. “Ini, belilah sesuatu yang disukai Rikki.”
“Untuk apa?” Sho balik bertanya.
“Kau benar-benar tidak mengerti,” ibu Rikki lalu beranjak pergi meninggalkan Sho yang masih kebingungan sendiri di meja café.
Di rumah, Satoru ditemani Chisato masih berbicara dengan wali kelasnya, Yashida-san. Yashida-san mencoba membujuk Satoru untuk kembali ke sekolah. Tapi Satoru masih keras kepala.
“Aku tidak mau! Memangnya kalian tahu apa soal aku,” Satoru lalu beranjak pergi meninggalkan Chisato dan Yashida-san.
Yashida-san pamit pada Chisato, “Kalau begitu, apa lain kali saya boleh berkunjung lagi? Saya akan membujuk Satoru kembali ke sekolah.”
“Tentu saja,” Chisato senang.
Chisato dan Takeru melepas kepergian Yashida-san di depan pintu.
“Siapa dia?” Akira yang baru saja pulang sekolah heran.
“Dia wali kelas Satoru dan . . . calon istriku di masa depan,” jawab Takeru sok pede.
Selepas kepergian Yashida-san, ketiganya masuk rumah. Ternyata Masaru berdiri di samping tembok. Ia memandangi Yashida-san, wanita yang membuatnya phobia pada wanita, dengan wajah kecewa.
Chisato, Takeru dan Akira masuk rumah. Ternyata di dalam sudah ada pengacara Kyoko, bersama barang-barang peninggalan Sinzo-san.
“Tapi darimana kau masuk? Kami baru saja dari pintu depan?” Chisato heran. “Ah sudah lupakan saja.” Perlahan Chisato mulai mengerti dengan kehadiran pengacara Kyoko yang seringkali tidak terduga.
“Ini barang-barang milik Sinzo-san. Dimana aku harus meletakkannya?” Tanya pengacara Kyoko kemudian.
“Tapi aku tidak punya tempat di rumah ini . . . “
“Apa tidak ada ruangan kosong yang bisa digunakan di rumah ini?”
“Ah, aku tahu. Ruangan yang tepat, clock of terror room,” ucap Takeru yang diiyakan oleh Akira.
“Clock of terror?” Chisato heran.
Chisato lalu memindahkan barang-barang Sinzo-san ke sebuah ruangan. Sebuah ruangan remang-remang, dengan kasur yang empuk. Baru saja Chisato merebahkan diri dan mulai tertidur, terdengar suara . . . dentang jam. Ohohoho . . . inilah kenapa ruangan ini disebut clock of terror. Ternyata kamar itu terletak persis di sisi tempat mesin jam di castle. Jelas setiap jam berdentang, selalu terdengar suara dentang jam yang jelas, keras dan mengerikan.
Fuu yang punya hobby berpetualang, pulang ke apartemennya. Dia menemukan banyak sekali surat yang datang dan menumpuk di kotak suratnya. Semua surat itu ia singkirkan, kecuali satu surat. Sebuah surat yang ditujukan untuknya, Ohkura Fuu dari orang yang sangat ia kenal, Ohkura Sinzo.
Sementara itu di tempat lain, pengacara Kyoko datang ke tempat kerja Sho. Pengacara Kyoko memberitahu Sho soal harta karun yang ditinggalkan Sinzo-san di sebuah tempat dari trick heart castle, ruang ke 96. Hal yang selalu membuat Sho penasaran dan tertarik.
Chisato datang ke net-café Kokudo. Ia mengeluh semalam tidak bisa tidur nyenyak karena suara dentang jam yang berisik dan mengerikan. Perlahan Chisato mulai tertidur, tapi kemudian Kokudo dan teman-temannya yang lain—yang menamakan dirinya pelindung Chisato—datang membawa berita lain, tentang Satoru.
Mereka menujukkan video ketika Satoru masih menjadi seorang pesulap. Yap, Satoru atau dulu dikenal sebagai Kanbai Satoru adalah seorang pesulap cilik yang sukses. Akibat masalah pajak yang melilit orang tuanya dulu, akhirnya karir Satoru pun meredup. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi muncul di tv atau acara lagi.
“Kisah yang menyedihkan,” keluh Chisato.
Masaru masih melanjutkan hidupnya sebagai model. Selesai pemotretan, ia keluar dari sebuah gedung. Di depan, ternyata sudah banyak fans wanita yang menunggunya. Mereka ingin bisa berjabat tangan dengan Masaru. Masaru memandangi para fans itu. Dalam pikiran Masaru, fans itu berubah menjadi wanita bertampang sadis yang menjelek-jelekannya. Masaru frustasi.
“Huaaaa!!!” teriakan Masaru membuat semua orang keheranan.
Manajer Masaru buru-buru membawa Masaru pergi. Ia minta maaf pada para fans dan mengatakan kalau Masaru terlalu lelah.
“Ada apa denganmu Masaru-san? Ini tidak seperti kau yang biasanya?”
“Lalu, seperti apa aku yang biasanya?” Masaru malah balik bertanya.
“Sleepy,” Chisato tidak bisa tidur karena dentang jam mengerikan bukan memekakkan di terror clock. Akhirnya masih dengan membawa bantalnya, Chisato menuju ruang makan.
Di ruangan itu ternyata ada Masaru. Ia tengah duduk menghadap sesuatu. Rupanya Masaru membuat guna-guna, dengan menempelkan nama Yashidao Mao di sebuah boneka dari batang padi.
“Menjauhlah!” bentak Masaru yang melihat kedatangan Chisato.
Chisato pun mengurungkan niatnya untuk mendekati Masaru. Ia memperhatikan Masaru dari kejauhan.
“Kenapa sebenarnya denganku? Kenapa aku harus ketakukan karena wanita? Kenapa harus aku? Ini sungguh tidak adil!” Masaru meremas boneka guna-guna buatannya lalu beranjak pergi meninggalkan Chisato yang masih keheranan memandangnya. Masaru benar-benar frustasi.
Hari berikutnya,
Chisato bersama pengacara Kyoko di ruang sauna. Chisato yang masih penasaran dengan keluarga Sinzo mendesaknya untuk bercerita.
“Alasan Sinzo-san mengadopsi mereka semua karena tampan,” ucap pengacara Kyoko kalem.
“Apa maksudnya? Jangan bercanda seperti itu!” Chisato kesal.
“Menurut SInzo-san, ketampanan bisa menimbulkan wibawa sesorang, itulah sebabnya dia mengadopsi keenam anak itu. Hahaha, sebenarnya masih ada hal lain lagi. Itu karena mata mereka. Mata yang mencerminkan diri mereka. Keenam anak itu awalnya berada dalam kehidupan yang keras dan tidak mudah. Mungkin itu alasan yang sama juga denganmu. Sinzo-san adalah orang yang bisa melihat potensi yang dimiliki oleh seseorang. Itulah alasan utama kenapa dia mengadopsi keenam anak itu, karena potensi yang dimiliki oleh mereka masing-masing.”
Di tempat lain, Masaru ternyata juga mengunjungi sekretaris Tokita. Ia menanyakan alasan apa yang membuat Sinzo-san mengadopsinya.
Sekretaris Tokita mengatakan hal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dikatakan oleh pengacara Kyoko, “Sinzo-san selalu mengatakan hal ini tentangmu, kalau saja Masaru punya sedikit lebih banyak saja kepercayaan diri.”
Chisato mulai membuka paket yang kemarin dibawa pengacara Kyoko. Paket itu berisi barang-barang milik Sinzo-san.
“Ah, barang-barang tidak berguna ini,” keluh Chisato. Chisato kemudian menemukan sebuah barang yang menarik, power voice. Ia teringat ucapan Sinzo-san dulu ketika ia masih hidup. Alat itu bisa digunakan untuk merubah suara seseorang yang direkam menjadi suara orang lain yang ada di alat itu. Chisato punya ide.
Mendadak ponselnya berbunyi. Ternyata dari ayahnya, Mineta Toru-san.
“Halo, ayah?!”
“Bagiamana kabarmu, apa kau baik-baik saja?” Tanya Mineta-san santai.
“Bagiamana mungkin kau bisa mengatakan hal seperti itu pada putrimu yang sudah melakukan semua hal ini ayah!” Chisato kesal. Akhirnya pertengkaran mereka pun tak terhindarkan lagi.
Chisato membuat sebuah rekaman suara. Ia ingin membantu Masaru agar segera sembuh dari phobia-nya. Chisato turun dan menemui Masaru yang ada di ruang makan.
“Apa ini?” Tanya Masaru heran.
“Alat itu bisa digunakan untuk mengatahui isi hati seseorang. Kau cukup mengarahkan saja alat itu pada seseorang lalu memencet tombolnya,” jawab Chisato.
“Jangan bercanda denganku! Kau tidak tahu apapun tentang aku!” bentak Masaru marah.
“Kau tidak akan pernah berubah kalau tidak berani mengambil langkah pertama,” Chisato kemudian beranjak pergi.
Tanpa diketahui, Satoru yang tadinya akan masuk ke ruang makan berhenti di depan pintu mendengar percakapan Chisato-Masaru. Saat Chisato keluar, buru-buru Satoru bersikap seolah tidak tahu apa-apa.
Chisato melihat Satoru, dan ia memegang pundaknya, “Kau juga,” lalu Chisato beranjak pergi.
Satoru memandangi kepergian Chisato. Ia tersenyum.
Seperti biasa, Sho mengantarkan anaknya Rikki ke tempat penitipan anak di pagi hari sebelum dia berangkat kerja. Sho tidak memperhatikan anaknya, dan malah masih sibuk memikirkan kata kunci tentang harta di castle yang diberikan pengacara Kyoko sebelumnya.
“Ayah . . . “ ucap Rikki lirih.
“Ah ya?” mendengar panggilan anaknya, Sho baru sadar dari lamunannya.
“Tidak ada. Semoga hari ini indah. Dagh ayah,” Rikki urung bicara. Ia lalu masuk ke tempat penitipan anak.
Sho memandangi anaknya itu dengan heran. Tapi juga tidak berkomentar apapun. Sho lalu beranjak meninggalkan tempat itu.
Yashida-san kembali datang ke castle. Ia berniat membujuk Satoru untuk kembali ke sekolah.
“Satoru?” Chisato heran melihat Satoru yang keluar lebih dulu untuk menemuinya.
“Aku hanya ingin mengatakan satu hal. Aku akan kembali ke sekolah, suatu saat nanti,” ucap Satoru yang tentu saja membuat Chisato dan Yashida-san senang.
Yashida-san lalu pamit ke kamar mandi.
Di teras lantai dua, ada Takeru dan Masaru. Takeru yang kesal karena ditolak Yashida-san membantu Masaru untuk mengerjai Yashida-san. Mereka mempersiapkan air panas. Dari belakang muncul Sho. Sho mengajak Takeru dan Masaru untuk mencari harta karun, tapi mereka menolak ajakan Sho.
“Kalau begitu, biar aku yang cari sendiri,” ucap Sho beranjak pergi.
Jebakan yang dibuat Takeru dan Masaru bergerak. Mereka senang karena kali ini Yashida-san yang akan kena batunya. Sebuah trolli lewat, dan ternyata yang ada di sana . . . Inoue sang pelayan.
“Inoue?!” Takeru dan Masaru heran. Dan . . . byurrrr. Inou yang kena sial, masuk ke dalam jebakan Takeru dan Masaru. Poor Inoue.
Chisato heran kerena Yashida-san belum juga kembali dari kamar mandi. Bel rumah berbunyi, Chisato buru-buru membukakan pintu.
“Maaf, saya Yashida wali kelas Ohkura Satoru. Seharusnya saya datang tanggal 28 kemarin, tapi karena mendadak sakit, akhirnya saya tidak jadi datang. Maafkan saya,” ucap seorang wanita yang mengaku sebagai wali kelas Satoru.
“Huh? Bukankah anda sudah datang?” Chisato heran. Ia lalu buru-buru masuk dan mencari si wanita yang mengaku sebagai Yashida-san sebelumnya.
Akira berada di kantor polisi. Rupanya ia kehilangan sebuah buku penting dan ditemukan oleh polisi.
“Aku tidak tahu kalau kau kehilangan buku yang sedikit aneh ini. Di usiamu sekarang, kau sudah bermain saham?” si polisi heran setelah mengembalikan buku Akira yang ternyata berisi tentang saham.
“Permisi,” Akira tidak menjawab lalu beranjak pergi. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat sebuah poster yang tertempel di kantor polisi. Akira buru-buru menghubungi rumah.
Di rumah, Chisato lah yang mengangkat telepon.
“Ini tentang orang yang kemarin mengaku sebagai wali kelas Satoru, dia . . . “
“Apa?!” (ternyata wanita itu adalah buronan polisi. Ia seorang pencuri!)
Di rumah, Sho yang sedang asyik mencari harta karunnya memergoki si wanita pencuri yang tengah memasukkan barang-barang ke dalam kantungnya.
“Pencuri!!!” teriak Sho.
Chisato, Masaru bergabung dengan Sho. Mereka mengejar si pencuri hingga halaman rumah. Takeru kemudian mencoba menyerang si wanita, tapi dengan mudah dijatuhkan oleh si pencuri itu. Sho, Chisato, dan Masaru syok melihat Takeru yang telah KO.
“Kau benar-benar keterlaluan. Kau ternyata berbohong untuk meyakinkan Satoru kembali ke sekolah. kau benar-benar tidak termaafkan,” ucap Chisato tajam.
Tanpa diketahui, ternyata Satoru melihat dan mendengar semua pembicaraan mereka dari jendela di lantai dua. Dia benar-benar kesal.
Satoru yang geram, akhirnya keluar dari dalam rumah dengan melompat. Kontan Chisato, Sho dan Masaru heran.
“Satoru . . . keluar,” gumam Masaru.
Satoru perlahan mulai bergerak. Ia melangkah menuju si wanita pencuri.
“Dia . . . bisa bergerak,” gumam Sho.
Tapi sejurus kemudian, Satoru menunduk kesakitan. “Ini sakit,” keluh Satoru. (ya secara, habis lompat dari lantai dua, pasti sakit lah. Poor Koji)
Kali ini giliran Masaru yang maju. Ia meyakinkan diri untuk maju. Masaru menodongkan power voice ke si pencuri. Masaru berniat mengatahui isi hati si pencuri. Si pencuri heran dengan tingkah Masaru.
“Aku percaya diri!” Masaru lalu membuang power voice itu dan melangkah mendekat, tapi ia kemudian menghindar. Masaru masih phobia pada wanita.
Sekarang giliran Sho yang maju. Ia menubruk si pencuri itu. Tapi ternyata Sho pun masih kewalahan. Ia dipukuli oleh si pencuri. Chisato melihat kesempatan di depannya.
“Sho, bertahanlah. Satoru, tetap dalam posisimu,” Chisato lalu melompat ke atas punggung Satoru, bersalto di udara dan menendang si wantia pencuri itu hingga pingsan.
Selesai menendang si pencuri, Chisato masih beberapa kali bersalto di udara. Terakhir dia terdampar di . . . pelukan Masaru.
“Masaru mengendong seorang gadis?” Takeru yang baru bangun heran.
Masaru yang baru sadar buru-buru menurunkan Chisato. Ia heran dengan apa yang baru saja terjadi.
“Aku kembali membuat keajaiban!” gumam Takeru senang.
Sho yang melihat semua itu tersenyum geli. Sementara itu Masaru yang masih syok kebingungan dengan tatapan saudara-saudaranya itu. Bahkan Satoru yang nyaris tidak pernah tersenyum pun akhirnya menunjukkan senyum imut-manisnya.
Inoue yang baru datang membawa dan memborgol si pencuri. Ia lalu membawa pergi si pencuri.
“Ada apa sebenarnya dengan keluarga ini?” gumam si pencuri.
Di belakangnya, anak-anak Ohkura dan Chisato masih larut dengan kesenangan mereka. Takeru tertawa senang, sementara Satoru masih tersenyum menahan sakit di kakinya. Masaru yang tersipu berusaha mengalihakan perhatian. Dan Sho . . . dia berguling-guling di tanah.
Harta karun yang dicari Sho akhirnya ketemu. Ia lalu membuka kotak harta karun itu yang ternyata berisi sebuah boneka mungil dan kartu ucapan ulang tahun.
“Siapa yang ulang tahun?” Tanya Chisato.
Anak-anak Ohkura yang lain tidak ada yang mengakuinya. Itu bukan ulang tahun mereka.
Sho teringat sesuatu, “Itu Rikki. Sekarang ulang tahun Rikki,” gumam Sho kemudian.
“Mungkin selama ini Sinzo-san memikirkan juga tentang Rikki,” ucap Chisato.
Sho yang masih kaget buru-buru menutup kotak itu. Ia buru-buru pergi meninggalkan castle menyisakan pertanyaan dari anak-anak Ohkura yang lain. Di jalan, Sho menerima sebuah telepon. Ini menyangkut Rikki. Apa yang terjadi dengan Rikki?
Chisato masih memandangi bingkai yang ada di atas. Rupanya Satoru orang kedua yang memberikan cap tangannya. Chisato tersenyum senang. Satoru juga memandangi Chisato sambil tersenyum. Takeru yang mengetahuinya, mendekat.
“Jangan-jangan, kau menyukai si pendek?” tebak Takeru yang membuat Satoru makin tersipu. Tapi Satoru mengelak mengakuinya.
Di atas, Masaru rupanya mencoba alat yang tadi diberikan Chisato, power voice. Ia mengarahkannya pada Chisato. Lalu tersengar suara Sinzo-san, Aku benar-benar mencintaimu seperti halnya dirimu. Masaru syok dengan apa yang baru saja ia dengar.
0 komentar:
Posting Komentar