Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Selasa, 01 November 2016

Detective Conan Sp4 2012 – part 1

Kudo Shin'ichi's Kyoto Shinsengumi Murder Case

 
Pertarungan seru terjadi dengan latar belakang Jepang jaman kuno. Seorang samurai muda berpakaian biru muda lincah mengayunkan pedang, menebas para pemberontak di hadapannya. Siapa dia? Yup dia seorang samurai bernama Okita Shoji.

Adegan berpindah ke daerah lain. Samura biru masih saja dengan lincah memainkan pedangnya. Tidak terhitung lagi berapa banyak pemberontak yang sudah roboh oleh tebasan pedangnya. Kecuali satu orang, dan … kalau diperhatikan dia berbeda dengan orang pada zaman itu. Dia berkumis!

“Cut! Cut!” teriak sutradara dari seberang sungai.

Ow ow ow . . . ternyata mereka sedang melakukan syuting film. Disini samurai muda bernama Okita Shoji tadi diperankan oleh Hattori Heiji (Matzusaka Tori), sedangkan pria berkumis aneh itu adalah paman Kogoro. Sutradara kesal pada paman Kogoro karena dia tidak mematuhi script yang sudah disiapkan.

Sementara di tempat lain, Kazuha (teman dekat a.k kekasih Heiji) senyum-senyum melihat ulang mereka semua. Ia mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Ran.

Ran pulang sekolah bersama Shinichi. Ia senang sekali membaca pesan dari Kazuha. Bahkan saking senangnya, ia mengayunkan perlengkapan karatenya hingga nyaris mengenai Shinichi.

“Sepertinya menarik, ayo kita menemui mereka di lokasi syuting. Kita bisa datang ke Osaka dengan pesawat. Mau pergi?” Tanya Ran.

“Aku tidak tertarik dengan film,” ucap Shinichi sok cuek.

“Sebenarnya kau lebih tertarik dengan apa yang sedang dilakukan oleh Hattori-kun kan?” pancing Ran.

“Bo . . . bodoh. Tidak mungkin,” Shinichi salah tingkah karena ucapan Ran.

“Kudo-senpai!” sekelompok anak datang mengerubungi Shinichi. Mereka minta Shinichi untuk menceritakan kasus yang baru saja ditanganinya dan juga minta tanda tangan Shinichi.

“Itu, lain kali saja ya?” tawar Shinichi sok cool.

Tentu saja Ran jelous melihat ulah Shinichi kali ini, “Kau tidak tertarik dengan film, tapi mau memberikan tanda tanganmu pada anak-anak itu huh?” sindir Ran.

Shinichi tidak punya pilihan lain. Susah baginya menolak permintaan Ran, “Baiklah, baiklah. Aku akan pergi. Puas?”

Tiba-tiba bola yang sedang dimainkan anak-anak klub sepak bola menggelinding mendekat ke tempat Ran dan Shinichi berdiri. Shinichi menghentikan bola itu dengan kakinya. Sementara anak-anak klub sepak bola memberi isyarat agar bola itu dikembalikan.

“Baiklah, tidak apa-apa aku ikut dengan Ran,” gumam Shinichi sambil membuang tasnya. Shinichi lalu mundur beberapa langkah, kemudian mulai berlari dan . . . menendang bola itu. (disini dibuat rada lebai gimana gto). Bola yang ditendang Shinichi melayang cepat di atas tanah dan tepat sampai di gawang sepak bola, masih sambil berputar sebelum terjatuh. Anak-anak klub sepak bola hanya bisa terkagum-kagum dengan ulah Shinichi.

Kisah ini adalah kisah Shinichi, jauh sebelum ia bertemu organisasi berjubah hitam dan tubuhnya mengecil menjadi sosok Conan Edogawa.



Di pesawat . . . perjalanan menuju Osaka.

Terdengar sebuah teriakan dari kabin belakang pesawat. Seorang lelaki berpakaian biru mendekat. Ia bertanya pada pramugari apa yang terjadi. Melihat seseorang terduduk di atas toilet, lelaki muda itu mengerti. Ia lalu meraba leher lelaki di toilet tadi.

“Ia sudah tidak bernyawa,” gumamnya. Lelaki muda tadi lalu memeriksa si mayat. Ia menemukan luka aneh di di tengkuk si mayat. lalu di tempat sampah, ia juga menemukan sapu tangan dengan aroma obat bius di permukaannya.

Rupanya pramugari menghubungi kepolisian, karena setelahnya muncul Detective Sato dan Detective Takagi. (aneh ga sih, ini kan di atas pesawat, kenapa tiba-tiba muncul kedua detective ini? Apa mereka juga salah satu penumpang pesawat ini?). Kedua detective ini lalu memperkenalkan diri pada si pramugrari.

“Tidak ada yang menyentuh mayatnya kan?” Tanya detective Takagi.

“Itu . . . ada seorang anak muda aneh,” ujar si pramugari tidak yakin.

Tanpa dikomando, pemuda itu mulai menjelaskan deduksinya, “Sebab kematian kemungkinan besar karena kekurangan oksigen akibat rusaknya pembuluh di sekitar tengkuk. Senjata berupa benda tipis dan berujung runcing yang ditusukkan dengan keras. Sesuatu seperti alat pemecah es. Ketika manusia ditekan pada bagian ini, pada pusat pernafasan di medulla . . . jalur neuron pernafasan akan melemah . . . akhirnya tidak bisa bernafas dan meninggal tanpa suara. Tapi sebelum si korban diserang pada bagian ini, dia dibuat tidak sadarkan diri menggunakan obat bius . . . jadi ada kemungkinan dia jatuh lebih dulu. Tapi jangan khawatir, pelakunya masih ada di dalam burung besi ini.”



:Oi! Siapa kau?!” tegur Detective Takagi.

“Kudo Shinichi, Detective.”

Ini adalah kasus pertama detective SMA, Kudo Shinichi. Pembunuhan ruang tertutup pada ketinggian 10.000 meter.

Shinichi kembali melanjutkan ulahnya, “Korban bernama Otaka Kazuhiro, 29 tahun. Seorang fotografer professional. Setengah tahun yang lalu, aku membaca artikel tentangnya yang memenangkan kompetisi foto, pada "25th Annual Daily Sales Press Photo Award". Dan lagi, passportnya ada di dalam sakunya dalam bajunya. Ini penting baginya, jadi ia meletakkannya disini.”

“Maaf, tapi ini pekerjaan polisi! Oi, keluar darisana!” bentak Detective Takagi sambil menarik Shinichi keluar. Detective Takagi lalu beralih ke arah pramugari, “Kami perlu mengambil foto korban, jadi bisakah kami pinjam kamera?

“Aku sudah mengambil foto-fotonya,” sambung Shinichi.

“Shinichi?!” protes Ran yang ternyata sudah bergabung mengikuti Shinichi dan kedua detective tadi.

Shinichi memandang hasil jepretan korban di kameranya, “Melihat keadaan korban, kemungkinan waktu kematian sekitar satu sampai dua jam yang lalu.”



“Kita belum tahu kalau itu semua benar . . . “ ucapan Detective Sato terputus.

“Ada tiga hal yang menjadi perhatianku,” lanjut Shinichi. “Pertama, adanya jejak darah di dinding belakang korban, tapi tidak ada sedikitpun di baju korban. Kedua, adanya bekas luka lain di bawah titik luka yang membuat korban terbunuh. Bekas luka memanjang yang aneh. Ketiga, saku celananya basah karena suatu hal, meski ia memasukkan tangannya yang basah ke saku, tidak akan sampi sebasah itu.”



Detective Takagi akhirnya tidak sabar lagi mendengar ocehan anak muda aneh di hadapannya ini. Akhirnya ia memukul kepala Shinichi.

“Hentikan semua ini!”

“Ow! Itu bukan alasan untuk memukulku,” protes Shinichi.

“Aku bilang ini pekerjaan polisi!” bentak Detective Takagi lagi.

Shinichi akhirnya mengalah dan bersandar di kursi. Tangan dan wajahnya bersikap seperti anak kecil yang ngambek minta sesuatu. (cute Junpei ^_^)

Detective Takagi berbalik berbicara pada pramugari, “ Untuk mengecek apakah ada saksi mata atau orang yang mencurigakan, bisakah anda mengumpulkan penumpang?”

“Tidak perlu melakukan hal itu. Hanya ada empat orang tersangka,” ucap Shinichi lagi.

“Tu . . . tunggu! Kenapa kau berkata tidak sopan seperti itu. Kau itu hanya anak SMA!” protes Ran sambil menarik Shinichi menjauh.

“Apa yang kau maksud kalau hanya ada empat tersangka?” ucapan Shinichi membuat penasaran detective Sato.

Mengetahui kalau umpannya berhasil, Shinichi tersenyum. (omo, I love his devil-smile). Shinichi lalu berbalik, “Kursiku ada di deretan tengah, dan tidak ada penumpang lain di belakangku. Jadi orang yang akan pergi ke toilet pasti melewatiku. Mereka yang pergi ke toilet di sekitar waktu kematian korban . . . kecuali korban, mereka ada empat orang. Dengan melihat wajahnya, aku bisa memastikan.”

“Jangan bilang, kau terjaga sepanjang malam?” bisik Ran heran dengan pengakuan Shinichi.

“Mungin,” Shinichi lalu berbalik membelakangi Ran dan mulai bergumam sendiri, “Aku hanya tidak bisa tertidur. Bodoh! Melihat wajah tidurmu sedekat itu … tidak mungkin aku bisa tidur dengan nyenyak.” (omo, ternyata sepanjang malam Ran tertidur di pundak Shinichi, dan alhasil Shinichi ga bisa tidur, wkwkwkwk . . . poor Shinichi)

“Eh? Kau bilang apa?” Ran heran karena Shinichi bergumam sendiri.

“Ah tidak,” kilah Shinichi.



“Jadi karena kau sudah mengatakan sejauh itu . . . ayo buktikan kalau kau tahu keempat orang itu,” pinta Detective Sato.

Detective Sato, Detective Takagi, Ran dan pramugari lalu mendatangi beberapa orang yang menurut pengakuan Shinichi dilihatnya tadi.

“Itu . . . keempat orang itu, ah . . . wanita ini, wanita di sebelahnya . . . laki-laki yang duduk di deretan seberang . . . dan orang asing yang duduk di depan mereka semua.”

Orang-orang yang barusan ditunjuk Shinichi tentu saja kaget. Mereka melihat ke arah orang-orang ini.

“Kursi Otaka-san . . . disini,” lanjut detective Takagi, duduk di kursi kosong yang ada di tengah mereka semua.

“Mereka semua duduk di sekitar korban, iya kan?” detective Sato menyimpulkan.

“Korban, apa maksudmu dengan korban?” wanita muda berambut pendek yang duduk di sebelah detective Takagi bertanya heran.

“Permisi. Sekarang, kalian berempat ikut kami ruang lain. Kita akan mendiskusikannya disana,” ajak Detective Sato.

Mereka semua lalu menuju toilet tempat ditemukannya mayat Otaka-san.

“Tidak . . . Otaka-kun! Otaka-kun!!! Tidak . . . ini bohong,” wanita berambut panjang itu menjerit dan menangis melihat mayat Otaka-san.

Seorang lelaki berbaju kotak-kotak ternyat juga ikut mendekat, “Permisi, boleh aku tahu apa yang terjadi?”



“Kalian semua duduk di sekitar tempat duduk korban, apa hubungan kalian dengannya?” selidik detective Takagi.

Lelaki berkacamata dan berjas hitam menjawab pertama, “Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Aku hanya seorang bisnisman yang sedang berada dalam perjalanan,” ucap lelaki yang bernama Ukai Tsuneo (47) itu.

Wanita berambut pendek dan lelaki berbaju kotak giliran menjawab, “Aku dan Saginuma-kun dalam perjalanan bersama Otaka-kun kami temannya sesama fotografer,” ucap si wanita yang ternyata bernama Tachikawa Chizuru (29) sambil memandang ke arah lelaki berbaju kotak-kotak yang bernama Saginuma Noboru (30). Tachikawa-san lalu menunjuk wanita berambut panjang di sebelahnya yang bernama Amano Tsugumi (27), “Dan dia Tsugumi . . . adalah kekasih Otaka-kun.”

“Takagi-kun, bagaimana dengan bahasa Inggrismu?” Tanya detective Sato.

“Ah ya,” detective Takagi mengerti maksud detective Sato. Ia lalu mendekati si pria asing tadi. Tapi sebelum mulai berbicara, ia sudah diserobot lebih dulu oleh Shinichi.

“What was your relationship to the victim?” Tanya Shinichi pada pria asing yang ternyata seorang jurnalis bernama Edward Crow (42) itu.

“It was my first time to see him. I just came to Japan to buy artwork,” jawab si lelaki asing itu.

“Thanks!” Shinichi lalu berbalik dan menjelaskan maksudnya pada detective Takagi, “Dia bilang dia tidak mengenal Otaka-san dan hanya datang ke Jepang dalam rangka membeli beberapa barang seni.”

“Thank you!” ucap detective Takagi kemudian menutupi kecanggungannya.



“Munginkah . . . “ Ukai-san mulai berandai-andai.

Beberapa waktu sebelumnya, Otaka Kazuhiro (29-korban) yang berada di tempat duduknya memamerkan negative film yang menurutnya berharga dan akan terjual dengan harga tinggi. Otaka-san mengoceh dengan keras, membuat penumpang lain di sekitarnya terganggu. Ukai-san, kekasihnya Amano-san dan Tachikawa-san sempat menegurnya karena mengganggu.

Karena kesal ditegur semua orang, Otaka-san kemudian memilih menggunakan penutup matanya dan beranjak tidur. Sementara itu, si pria asing Edward ternyata tengah asyik dengan buku bacaannya. Sekilas ia melirik ke tempat duduk Otaka-san.

“Mungkin dia terbunuh karena ngative fil itu,” ucap Ukai-san kemudian.

“Tapi, tidak ada negative film ditemukan di tubuh Otaka-san,” kilah detektive Takagi.

“Eh? Dia seharusnya masih membawanya di saku dalam jaketnya. Aku tahu . . . pasti si pelaku telah mengambilnya,” ujar Ukai-san.



“Kalau begitu, bisakah kalian berempat menceritakan apa yang terjadi saat kalian pergi ke toilet?” pinta detective Sato.

“Waktu aku kembali dari toilet, Otaka-kun ada di tempat duduknya. Saat itu aku merasa mual, jadi aku memanggil pramugari untuk minta obat anti mabuk,” ujar Tsugumi.

“Aku juga melihat si korban dan arah yang lain,” lanjut Ukai-san.

“Kenapa anda berada di tempat lain?” selidik detective Takagi.

“Aku bosan, jadi berkeliling. Lagipula aku tidak bisa tidur dengan tenang karena penumpang berisik itu (Otaka-san). Aku melihatnya saat Tsugumi-san sedang meminta obat pada pramugari. Setelahnya aku baru ke toilet,” aku Ukai-san.

Kali ini Chizuru-san yang angkat bicara, “Aku terbangun saat pramugari membawakan obat anti mabuk, tapi waktu itu Otaka-kun sudah tidak ada di tempat duduknya. Aku menawarkan bertukar tempat duduk dengan Tsugumi. Aku kemudian menyusul Otaka-san ke toilet.”

“Jadi bisa dikatakan kalau Otaka-san meninggalkan tempat duduknya dan pergi ke toilet setelah Tsugumi-san meminta obat tapi sebelum pramugari membawakan obat itu padanya. Dan setelahnya, Chizuru-san, kau mengatakan kalau kau toilet . . . “ ucapan detective Takagi menggantung.

“Aku tidak membunuhnya!” kilah Chizuru-san. “Ketika aku ke toilet, Otaka-san masih hidup. Saat aku memanggilnya sambil mengetuk pintu, di balas mengetuk lagi.

“Kau tahu pasti, toilet mana yang ia gunakan?” selidik Shinichi.

“Eh? Karena toilet lain tidak ada satupun yang sedang digunakan,” jawab Chizuru-san.



“Jadi tinggal tersisa satu orang ... “ Shinichi lalu mulai menanyai Edward, “When were you in the bathroom?”

“I don't remember what time it was” jawab Edward.

Shinichi kemudian menyingkir setelah menanyai Edward. Dia tampak menutup hidung tidak senang. Hal ini tentu saja memancing rasa penasaran Ran.

“Ada apa?” Tanya Ran

“Itu . . . cologne-nya terlalu tajam,” ucap Shinichi.

“Sekarang kita sudah mendengar cerita dari semua orang, tapi . . . “ ucapan detective Takagi terpotong.

“Tunggu, masih ada satu orang lagi. Dia yang duduk di belakang mereka semua. Orang ini . . . “ ucap Ukai-san sambil menunjuk Saginuma-san.

“Huh? Aku tertidur sejak tadi!” elak Suginuma-san.

“Kau duduk tepat di belakang Otaka-san kan? Ketika Otaka-san tertidur, tidak ada siapapun disana. Dengan kata lain, kau pasti beranjak dari kursimu,” tuduh Ukai-san.

“Berhentilah mengatakan hal tidak penting. Aku tidak termasuk keempat orang yang pergi ke toilet kan?” elak Suginuma-san lagi.

“Ah benar juga, jangan-jangan kau yang . . . “ Ukai-san mulai lagi.

“Hei, bukankah lebih baik kalian segera mencari senjata pembunuhnya,” saran Saginuma-san kemudian.



“Lebih baik sekarang di periksa saja barang-barang bawaan mereka,” saran Shinichi.

“Ah ya, dan kau juga Saginuma-san,” lanjut detective Takagi.

Detective Sato dan detective Takagi kemudian memeriksa barang-barang bawaan mereka semua. Di tas milik Tsugumi-san ditemukan passport, dompet, gunting kecil. Tidak ada yang mencurigakan. Lalu barang milik Edward, sebuah pulpen yang ternyata juga pulpen biasa.



Detective Takagi juga menemukan sebuah cek dari Bank Nasional Amerika, tapi semuanya kosong. Detective Takagi meminta Shinichi untuk menanyakannya pada Edward.

“What were you going to use this checkbook for?” Tanya Shinichi.

“I brought it to buy pieces at a Japanese auction. Ah, collecting artwork is a hobby of mine. Unfortunately, it was all junk and a waste of time,” ucap Edward.

“Dia bilang kalau itu untuk membeli barang-barang seni, tapi akhirnya tidak digunakan,” ucap Shinichi pada detective Takagi menjelaskan ucapan Edward.

“I can tell you have a great sense of art ... from that beautiful watch. Can I take a look?” pinta Shinichi.

“Sure,” Edward sama sekali tidak curiga.

“Aroma clogne-nya tajam di sekitar leher . . . tapi, tidak ada di sekitar lengannya. Ini aneh,” Shinichi membatin.”Thanks,” ucap Shinichi kemudian.

Terakhir adalah barang-barang milik Saginuma-san. Ternyata banyak sekali ditemukan obat anti mabuk di dalam tas Saginuma-san.

“Aku mabuk jika naik kendaraan. Tsugumi dan Chizuru juga membawanya kan?” Saginuma-san meminta penguat.



Tiba-tiba saja Shinichi menarik sebuah benda, “Ini negative film kan?”

“Aku seorang fotografer, jadi aku pasti punya negative film!” kilah Saginuma-san.

Shinichi mengangkat negative film itu dan mendekatkannya ke lampu, “Orang yang bersama seorang wanita di gambar ini . . . seorang senator Amerika bernama Dickson-san kan?”

“Eh, bukankah itu sama dengan milik Otaka-kun?” Tanya Chizuru-san curiga.

“Maksudmu “sama”, artinya itu yang hilang dari korban?” detective Sato menyimpulkan. “Jadi kalau kau memilikinya . . .”

“Saginuma-san … jadi kau yang membunuh Otaka-san dan mengambil negative film itu?” sambung Detective Takagi.

“Itu punyaku! Aku mengambil gambar itu bersama dengan Otaka. Hasil jepretan Otaka lebih buruk dari milikku, jadi aku berencana untuk menjual yang satu itu. Kalian semua tahu ketika Otaka membicarakannya juga kan? Tentu saja aku bukan pelakunya. Jika kalian masih mencurigaiku, tunjukkan senjata pembunuhnya! Pelakunya pasti masih membawa senjata pembunuhnya kan?” tantang Saginuma-san kemudian.

Pencarian terhadap senjata pembunuh masih terus dilakukan. Tapi pada penggeledahan terhadap keempat tersangka, tidak ditemukan apapun yang mencurigakan.

“Masih ada satu hal penting lagi yang perlu digeledah,” ucap Shinichi.

“Yang paling penting?” detective Takagi heran.

“Tas yang digunakan oleh Otaka-san . . . “

Tsugumi-san ditemani kedua detective mengambil tas milik korban. Ketika akan mengambilnya, Tsugumi-san ingat kalau tas milik Otaka-san sebelumnya ditinggal di studio karena dirusak. Jadi ia membawakan tas baru untuk Otaka-san. Tsugumi menduga kalau ada negative film di tas lama Otaka-san, dan ada orang yang menginginkannya, hingga merusak tas milik Otaka-san yang sebelumnya. Tapi ternyata di tas milik Otaka-san juga tidak ditemukan apapun yang mencurigakan.

“Ada apa dengan kasus ini . . . jika senjata pembunuh tidak ditemukan . . . aku juga tidak bisa menemukan siapa pembunuh Otaka-san . . . apakah ada seseorang yang mengatakan kesaksian palsu?” Shinichi membatin sendiri.



“Seperti yang aku pikirkan, kau pelakunya kan?” Ukai-san masih saja menuduh Saginuma-san.

“Huh? Apa yang kau katakan?”

“Saat wanita ini (Tsugumi) meminta obat pada pramugari … kau tidak ada di tempat belakang Otaka-san yang tertidurm” ucap Ukai-san lagi.

“Tunggu dulu! Ketika pramugari membawakan obat aku terbangun . . . tapi Saginuma-kun tertidur di kursinya kan? Dan Otaka-san yang tidak ada,” elak Chizuru-san.

Sementara mereka masih berdebat soal siap yang berkata benar, Shinichi menginterogasi pramugari. Tapi kesaksian si pramugari juga meragukan.

“Ah tapi aku ingat. Lelaki disamping wanita yang meminta obat (Tsugumi) memakai penutup mata dan selimut, dan tertidur,” ucap si pramugari.

“Apa ada seseorang di depan Otaka-san?” Tanya Shinichi lagi.

“Seingatku . . . tidak ada,” jawab si pramugari.

“Aku tahu! Tempat duduk Saginuma-san . . . jika aku ingat, ada disini . . . “ Shinichi mendadak pergi dan menuju tempat duduk Saginuma-san. Dia menemukan dan mengambil sebuah serpihan kecil dengan sapu tangannya. “Aku tahu! Tidak ada kesalahan lagi. Pelakunya jelas orang itu,” gumam Shinichi lebih pada dirinya sendiri.

“Kenapa kau tiba-tiba pergi?!” protes Ran.

“Tidak! aku tahu siapa pelakunya,” Shinichi memamerkan senyum mautnya.

“Eh? Tidak mungkin?!” Ran tidak percaya.



“Sekarang yang tersisa adalah trik senjata pembunuhnya,” gumam Shinichi.

Tiba-tiba saja pesawat beguncang. Ran yang dalam keadaan berdiri, tidak siap. Ia jatuh ke pelukan Shinichi.

“Apa kau baik-baik saja?” Shinichi tampak khawatir.

“Aku tidak apa-apa, tapi . . . “ Ran yang syok mengatur nafasnya, mata Ran menuju ke bawah yang kemudian diikuti oleh Shinichi.

Apa yang terjadi? Sementara tangan kanan Shinichi menyangga tubuh Ran, ternyata tangan kiri Shinichi yang menyangga tubuh Ran tepat berada di br**** Ran.

Kontan Shinichi langsung melepaskan tubuh Ran, “Ah! Tidak, tidak! Kau salah!”

“Hei! Kau sengaja mengambil kesempatan ya?!” Ran mulai kesal.

“Aku tidak sengaja! Lagipula, itu lebih besar dari yang aku kira, padahal Ran masih anak SMA,” gumam Shinichi mengomentari Ran’s br****.

“Shinichi, kau benar-benar!” Ran bersiap hendak memukul Shinichi sementara Shinichi masih mencoba menghindarinya. Ketika Ran mencoba memukul Shinichi, saking kuatnya pukulan Ran, pesawat kembali mengalami goncangan. Penumpang dan bahkan para kru pesawat terlonjak ke atas. (sumpah, ngakak liat adegan ini. Lebay banget deh, masa iya pukulan Ran sekeras itu, kekekeke)



Shinichi berdiri, lalu mencoba berbisik di telinga Ran, “Aku mau menanyakannya karena kau sudah anak SMA . . . pssstpstspst.” (versi imajinasi Kelana : Menurutmu, apa semua wanita menggunakan b** dengan kawat penyangga?)

“Huh?” tentu saja Ran kaget. “Tunggu … itu . . . “

“Cepat katakan saja padaku. Aku sebenarnya malu menanyakannya,” pinta Shinichi.

“Yang terakhir, sepertinya begitu . . . “ jawab Ran malu-malu.

“Jadi begitu … akhirnya aku menemukannya. Kartu mati si pelaku dan bagaimana cara dia menghabisi nyawa si korban. Trik senjata pembunuhnya!” Shinichi bergumam senang.



Detective Sato dan detective Takagi masih mencurigai Chizuru-san. Karena dari semua keterangan mereka, kemungkinan besar Otaka-san terbunuh setelah Chizuru-san dari toilet.

“Dia tidak bohong. Ketika Chizuru-san mengetuk pintu . . . ada orang lain lagi di toilet dengan tubuh korban selain si pelaku. Kalau diingat, ada jejak darah di dinding sebelah belakang korban, tapi tidak ada sedikitpun di baju korban. Itu karena darah dari saat terbunuhnya Otaka-san kering di dinding … dan kemudian ada orang lain yang memindahkan tubuh korban,” ucap Shinichi.

“Kenapa tubuh korban dipindahkah?” detective Sato penasaran.





“Karena mereka mencari negative film yang dibawa oleh Otaka-san, dan Otaka-san pasti membawanya. Bukankah itu benar, Edward-san? Ketika kau mencari negative film itu, kau juga mengecek di saku celananya. Tapi kemudian cologne yang anda pakai akan menempel juga pada saku celana Otaka-san. Untuk menghilangkan itu, kau mencuci tangan dengan air, lalu membasahi sapu tangan dan menggunakannya untuk membersihkan aroma unik cologne-mu di saku celana Otaka-san. Buktinya . . . hanya lengan dan tanganmu saja, yang tidak ada aroma cologne itu,” lanjut Shinichi.



“Edward-san... sebenarnya, kau bisa berbasa Jepang kan? Bicaralah!” tantang Shinichi.

Edward menarik nafas dan menghembuskannya dengan keras, “Seperti apa yang dikatakan anak ini.”

“Eh, dia bicara bahasa Jepang!” orang lain yang ada disana kaget.

“Yang dimilikinya adalah foto skandal senator Dickson. Aku diminta untuk membeli negative filmnya. Ketika aku mendengar ia ke toilet, aku pikir itu kesempatan bagiku untuk bertransaksi dengannya. (ow, jadi alasan kenapa tadi Otaka-san mengatakan soal negative film itu dengan keras adalah karena ia akan melakukan transaksi dengan Edward. Maksudnya biar Edward tahu kalau benda itu ia bawa, dan memberi tahu Edward tanpa ada orang lain yang curiga) Saat aku sampai di toilet, ternyata dia sudah meninggal. Aku kira itu karena kecerobohanku (Edward berpikir kalau ada orang lain yang juga menginginkan foto scandal itu juga). Aku menggeledah tubuhnya untuk mencari negative film itu,” papar Edward panjang lebar.

“Jadi . . . ketika aku mengetuk pintu, yang menjawabnya . . . “ sambung Chizuru-san.

“Aku kaget waktu itu. Tapi akhirnya aku tidak menemukan negative film itu,” Edward mengakhiri pengakuannya.

“Edward-san … dan Chizuru-san, yang mengetuk dari luar, tidak bisa dikatakan sebagai pelaku. Sekarang yang tersisa adalah dua tersangka, Ukai-san dan Tsugumi-san,” ujar Shinichi.



“Apa yang menggangguku adalah kesaksian Ukai-san. Saat Tsugumi-san meminta obat … dia bilang kalau Suginuma-san tidak ada di belakang kursi yang diduduki korban.”

“Aku tidak bohong! Bahkan pramugari melihatnya juga,” elak Ukai-san.

“Dan aku TIDUR!” Suginuma-san tidak mau kalah.

“Kalian berdua tidak berbohong. Hanya saja ada perbedaan kesaksian dari kalian berdua, dan itu menjadi kunci menemukan si pelaku sebenarnya,” ujar Shinichi.

“Jadi, kau tahu siapa pelakunya?” desak detective Sato.

“Pelaku yang membunuh Otaka-san adalah . . . “



“Pelaku yang membunuh Otaka-san adalah . . . kau, Tsugumi-san . . .” tunjuk Shinichi percaya diri.

“Eh?!” tentu saja ini membuat kaget semuanya.

“Kau pasti bercanda! Buktikan! Mana buktinya?!” kali ini malah Suginuma-san yang tidak terima.

“Ada bukti yang sesungguhnya. Karena Tsugumi-san pasti masih membawanya,” lanjut Shinichi.

“Tapi tadi sudah dilakukan penggeledahan kan?” Tanya Chizuru-san.

“Meski digeledah, senjata pembunuh itu tidak akan tampak mencurigakan. Itu juga pasti akan melewati detector meta dan merupakan benda khas milik wanita,” ucap Shinichi lagi.

“Benda khas wanita?” detective Takagi berpikir.

“Itu adalah . . . “ ucapan Shinichi terputus.

“Ah, aku tahu!” Ran sekarang mengerti.

“Ya,” Shinichi melirik ke arah Ran.

“Kawat tipis dari pakaian dalam yang digunakan oleh Tsugumi-san, sebelah kanan.

“Kawat dari pakaian dalam? Tidak mungkin membunuh seseorang menggunakan itu,” elak Chizuru-san.

“Kawat tipis itu dibuat runcing ujungnya, kemudian digunakan untuk melukai tengkuk korban. Memanfaatkan juga berat tubuhnya, itu bisa menyebabkan kerusakan pembuluh pernafasan di bagian tengkuk. Sebuah kejahatan yang juga bisa dilakukan dengan mudah oleh seorang wanita. Jika kawat yang digunakan untuk membunuh dibuang dan ditemukan . . . maka wanita yang tidak memiliki kawat di pakaian dalamnya akan dituduh sebagai pelaku,” Ujar Shinichi.

“Kalau begitu, jika Tsugumi digeledah lagi dan . . . “ ucapan Suginuma-san terputus.



“Itu tidak berguna, Suginuma-kun. Jika mereka menggeledahnya lagi . . . itu akan ditemukan,” ucap Tsugumi-san pasrah.

“Sejak awal, Tsugumi-san duduk di sebelah Chizuru-san yang tertidur. Ketika Otaka-san ke toilet, dan tepat ketika ia membuka pintu, Tsugumi-san membuat Otaka-san kehilangan kesadaran. Kemudian menarik kawat dari pakaian dalamnya, Tsugumi-san merusak pembuluh pernafasan di tengkuk Otaka-san, menyebabkannya mati lemas. Ketika kau menekan tengkuknya dengan kawat itu, ujung kawat yang lain melukai kulit di bagian bawah tengkuk, menyebabkan luka aneh. Untuk membuat seolah si pelaku mengincar negative film itu, kau mengguntingnya dan membuangnya di toilet,” papar Shinichi.



“Setelahnya Tsugumi-san kembali ke tempat duduknya. Menggunakan penutup mata dan penutup kepala dia membuat Suginuma-san seolah Otaka-san. Itulah kenapa Ukai-san mengira kalau pria itu aalah Otaka-san. Dengan melakukan hal itu, Tsugumi-sna membuat ilusi ketika Otaka-san pergi ke toilet.”

Saat itu, Tsugumi-san meminta pramugari untuk membawakannya obat anti mabuk. Setelah pramugari pergi, Tsugumi melepas penyamaran Saginuma-san dan kembali ke tempat duduknya semula, di samping Chizuru-san.

“Bukti kalau Tsugumi-san memanfaatkan Suginuma-san adalah bagian negative film yang terjatuh di kursi sebelah Suginuma-san. Bagian itu mungkin terbawa ke pakaiannya saat ia menggunting negative film tadi, dan terjatuh saat ia berada di sebealah Suginuma-san untuk membuat alibi,” lanjut Shinichi.



“Jadi kursi kosong yang aku lihat . . . “ Ukai-san bicara lagi.

“Kursi di sebelah Suginuma-san kosong, jadi anda salah paham,” jawab Shinichi.

“Bagiamana kalau kursi disebelahku juga dipesan? Tidak mungkin kan bisa menciptakan ilusi seperti itu?” Suginuma-san masih tidak percaya.

“Tsugumi-san, kau memesan juga kursi di sebelah Suginuma-san kan? Tapi kau tidak membatalkannya kan? Dengan itu dia tentu bisa memanfaatkannya dengan baik,” papar Shinichi.

“Bagiamana mungkin orang yang tertidur tidak menyadari kalau ia dipasangi penutup mata dan penutup kepala?” Tanya Chizuru-san.

“Jika obat anti mabuk yang diberikan Tsugumi-san pada Saginuma-san adalah pil tidur . . . maka dia tidak akan terbangun dengan mudah. Dan penutup kepala seperti milik Otaka-san pasti juga ada di tas milik Tsugumi-san” ucap Shinichi lagi.



‘”Tsugumi, kenapa?” Tanya Chizuru-san masih tidak percaya.

“Dia mendapapatkan Grand Prize foto karena kebakaran,” ucap Tsugumi-san lirih.

“Tapi peristiwa itu yang membuat kalian bertemu,” elak Chizuru-san.

“Itu benar. Karena foto itu, aku tertarik padanya. Pertama kali aku melihat fotonya, aku menggigil. Api dan tragedy kebakaran itu dan juga kehidupan yang berharga. Dia orang bisa mengekspresikan semua dalam bentu foto.”

“Kalau begitu, lalu kenapa?”

“Karena foto itu, kakakku meninggal,” jawab Tsugumi-san.

“Mungkinkah, Otaka-san sendiri yang menyebabkan kebakaran itu?” tebak Shinichi.

“Iya. Itu dari apartemennya. Jumlah asap mendadak meningkat di apartemen kakakku. Tadinya aku tidak percaya, tapi saat aku menanyakannya padanya … dia membual tentang hal itu. Karenanya, tidak ada alasan untuk bisa memaafkannya. Tapi ini menyebalkan. Tadinya aku sangat percaya diri, kalau aku bisa menyembunyikan senjata pembunuhnya,” ucap Tsugumi-san.

“Saat kau akan mengambil tas Otaka-san, tiba-tiba kau melakukan gerakan aneh. Ketika aku ingat, aku juga menyeledikinya. Ujung runcing dari kawat itu melukai kulitmu, menyebabkan kau melakukan gerakan tidak sadar,” ujar Shinichi.

“Cuma karena hal itu … “ Tsugumi-san tidka percaya.

“Itu bukan hal besar. Itu hanya karena sikap biasa terekam dalam memoriku sebagai gerakan yang tidak wajar. Itu adalah poin kecil yang tampak, dan . . . point penting dari semuanya,” Shinichi menutup deduksinya.



“Apa maksudnya itu. Bersikap sok cool. Menyentuh dada seseorang untu menemukan clue penyelesaiaan kasus. Itu benar-benar pelecehan seksual!” Ran menjerit kesal.

“Pelecehan seksual!” Ran bangun dari tempat duduknya masih dengan mata terpejam dan berteriak.

Shinichi yang ada di sebelahnya tentu saja kaget,”Oi, apa yang kau katakan?!”

“Eh?!” Ran kaget. “ Aku . . . tertidur?” ow ow, ternyata Ran mimpi tentang kasus pertama Shinichi.

Tapi rupanya teriakan Ran menyebabkan penumpang lain mengerubungi mereka. Sementara Ran terduduk dengan malu, Shinichi mencoba menjelaskan pada orang-orang kalau itu semua salah paham. (kekekeke . . . poor Shinichi)

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.