Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Selasa, 15 November 2016

Tokyo Dogs ep - 01

Kisah ini diawali ketika dua orang detective dari kepolisian Jepang berada di New York, Amerika dalam rangka kerja sama kepolisian Jepang dan NYPD (New York Police Department) untuk membekuk jaringan Yakuza yang berada di NY untuk melakukan transaksi narkoba. (oh ya, kalau diliat-liat disini ada juga pemeran Dominic di Fast Furious, jadi bintang tamu. Muuph, lupa namanya, hehe)

Dimulai dari dua orang detective dari Jepang, Kudo Maruo (Mizushima Hiro) dan Horikawa Keiichi (Katsuji Ryo) yang tergabung bersama NYPD di bawah komando Takakura Sou (Oguri Shun). Karena suatu hal, operasi kali ini gagal. Mereka bertiga malah dipertemukan dengan seorang wanita yang kemudian diketahui namanya Matsunaga Yuki (Yoshitaka Yuriko), dalam keadaan syok dan pingsan serta hilang ingatan. Sou yakin kalau wanita itu tahu informasi mengenai Yakuza yang sedang dikejar olehnya. Sou, Maruo, Horikawa dan Yuki kemudian kembali ke Jepang. Dalam rangka mengembalikan ingatan Yuki, mereka bertiga pun ditugaskan untuk menjaganya. (gimana ya rasanya dijaga oleh tiga orang polisi cakep, kikikikikik).

Satu minggu kemudian,

Sekembalinya ke Jepang, Yuki yang telah diketahui identitasnya melalui paspor yang ia bawa, ditangani oleh seorang ahli neurology bernama Nishioka Yuri (Tomosaka Rie). Maruo yang memang hobby tebar pesona mendatangi dokter itu untuk berkonsultasi mengenai Yuki.

“Jadi Yuki tidak punya ingatan?” Tanya Maruo.

“Bisa dibilang begitu,” jawab dokter Yuri.

Dari arah pintu datang Sou. Ia yang kaku dan tidak bisa memahami perempuan mendebat Yuri. Ia bersikeras agar Yuri melakukan berbagai cara agar ingatan Yuki segera kembali. Tentu saja Yuki tidak terima karena telah direndahkan juga oleh Sou. Maruo yang ada di ruangan itu berusaha melerai pertengkaran mereka berdua. Sou pun lalu memilih beranjak pergi dari ruangan itu.

Keluar dari rumah sakit, Sou berjalan bersama Maruo. Maruo memprotes sikap Sou terhadap Yuri. Tapi Sou tidak peduli dan bersikeras kalau yang ia lakukan benar. Di jalan, Sou melihat sebuah toko pakaian yang sedang mengadakan sale besar-besaran.

“Oh ya, sejak tiba di Jepang, kau masih mengenakan pakian yang sama,” ucap Maruo sambil mengendus ke arah Sou, “snif, snif . . .” (haduh kacau bener ni orang satu, masa kagak ganti baju, jangan-jangan ga mandi juga, ihihihi)

Di toko, Sou mencoba satu stel suit (jas) lengkap. Maruo mencibir, kerena Sou tidak punya selera pakaian yang bagus. Seorang pelayan lalu mendekati mereka dan menawarkan pakaian yang lain, dengan harga setengahnya. Sou kaget, dan menganggap ada yang tidak beres. Sebelum Sou berbuat aneh-aneh, buru-buru Maruo mengajak Sou keluar dari toko itu.

Ternyata Maruo mengajak Sou berbelanja baju di tempat lain yang menurut Maruo menyediakan pakaian yang lebih baik/modis. Tapi dasar Sou, dia tetap saja memilih suit.

Maruo dan Sou tiba di apartemen yang ditinggali Yuki. Mereka menemukan Yuki sedang memainkan pingpong dengan tembok. Buru-buru Maruo menghentikan kegiatan Yuki itu, karena pasti akan mengganggu tetangga. Yuki kelaparan, tapi Sou melarang Yuki memesan pizza. Sou bilang masih ada persediaan bahan makanan di lemari es. Tapi Yuki tidak suka memasak. Akhirnya Sou yang turun tangan langsung membuatkan Yuki makanan.

“Kau tidak tampak seperti orang yang bisa memasak,” komentar Maruo.

“Ini keahlian dasar di ketentaraan,” jawab Sou yang sudah melepas jas luarnya dan mulai meracik masakan.

Tidak lama, masakan Sou jadi. Yuki mencicipinya, dan ternyata enak. Yuki berharap kalau ia lapar, ia bisa meminta Sou membuatkan masakan lagi, dan Sou pun mengiyakan. Sementara Maruo mulai mengeluarkan jurus rayuannya. Ia merangkul Yuki dari belakang, tapi Yuki tidak menggubrisnya.

“Ia tidak bereaksi??!” Maruo tidak percaya.

Sou tidak mempedulikan mereka berdua. Ia malah melanjutkan kegiatannya mencuci peralatan masak yang kotor tadi. Dari pintu masuk Horikawa. Ia mengatakan kalau apartemen sebelah sudah siap ditinggali, karena Sou dan Maruo akan tinggal di apartemen sebelah untuk menjaga Yuki. Tiba-tiba Horikawa muntah-muntah.

“Maaf, kepalaku sakit karena mendengar suara seperti permainan pingpong selama hampir lima jam,” ucapnya.

Sou dan Maruo tentu saja syok. Itu artinya Yuki sudah memainkan bola pingpong selama hampir lima jam.

Sou dan Maruo tiba di kantor pusat kepolisian Jepang bersama. Atasan mereka memperkenalkan Sou sebagai salah satu bagian dari Unit Investigasi Khusus dan menjadikan Sou rekan Maruo. Maruo tentu saja protes dan tidak terima. Dia ingin kembali bekerja bersama Horikawa. Tapi chef tidak mempedulikan protes Maruo. Maruo menganggap tidak ada yang bisa dipelajari dari Sou, karena kesalahan penyergapan di NY-lah yang menyebabkan ia diskor dan datang ke Jepang.

Chef kemudian mengajak Sou makan siang bersama.

“Terimakasih telah menerimaku disini, setelah di skor di NYPD,” ucap Sou.

“Ah, itu aku hanya ingin bekerja sama denganmu,” ucap chef kalem.

Chef dan Sou membicarakan masa lalu mereka. Chef ternyata adalah kawan ayah Sou. Ia juga tahu alasan kenapa Sou terobsesi untuk menangkap pimpinan yakuza bernama Jinno itu. Chef mengatakan kalau saat ini pimpinan yakuza itu ada di Jepang.

“Oh ya, aku memberitahu ibumu soal kepulanganmu,” kata chef kemudian.

“Huh? Itu . . . tidak baik,” Sou kaget. (ada alasan kenapa Sou ga suka kalau ibunya tahu ia pulang ke Jepang, xixixixi)

Sou yang kembali ke aprtemen Yuki sorenya memperhatikan mobil yang berada di depan apartemen. Mobil itu dengan kaca gelap dan tidak parkir di tempat seharusnya. Sou curiga.

Paginya, Sou sudah mendapat informasi kalau mobil itu adalah mobil curian. Ia juga tahu dimana tempat tinggal orang-orang yang berada di mobil itu. Sou pergi bersama Maruo. Tentu saja Maruo heran, bagaimana Sou bisa tahu secepat ini mengenai informasi itu. Seperti biasa, Sou dan Maruo mulai berdebat tidak jelas. Di tengah pengintaian, muncul hal tidak terduga.

“Sou-chan, ini mama. Okaeri, selamat datang,” ucap Ibu Sou.

“Mama, sekarang aku sedang sibuk, . . . “ ucapan Sou dipotong.

Ibu Sou bersikeras agar putranya itu pulang ke rumah. Kesal dengan ibunya yang suka mengada-ada (suka telepon tiba-tiba di saat yang tidak tepat) Sou memutuskan telepon sambil mengatakan akan menelepon sepuluh menit lagi. Maruo penasaran, dan mulai mendekat untuk menguping. Tapi ia tidak berhasil tahu siapa yang berbicara dengan Sou.

Sou lalu mulai menceritakan rencanya. Pertama, mereka berdua menutup dengan plester jendela samping rumah itu. Sou melakukannya dengan sempurna, tentu. Beda dengan Maruo yang selalu kacau. Maruo lalu ditugaskan untuk menyamar menjadi tukang gas yang akan mengecek gas di rumah itu. Ia bicara dengan orang dalam rumah lewat intercom. Maruo berhasil memancing orang itu. Curiga dengan Maruo, orang itu lalu mengambil pistol dan mendekat ke pintu. Di depan pintu, Sou sudah menunggu dan dengan tepat menembak kaki penjahat itu.

Sou berhasil masuk ke rumah. Ia ditodong oleh si penjahat, tapi dengan sedikit trik ia akhirnya berhasil membekuk penjahat itu. Seorang lagi penjahat di rumah itu berusaha melarikan diri lewat jendela. Tapi karena jendela rumah itu sudah diplester dari luar, maka mau tidak mau ia berusaha keluar dari pintu belakanga. Disana Maruo sudah menunggu dengan pistol siap menembak.

Penjahat itu masuk lagi ke dalam rumah. Ia naik ke lantai dua. Di depan tangga, Sou menghentikan Maruo yang akan naik. Ia mulai mengoceh tentang teori pengintaian. Dan yang paling parah, di sela-sela obrolan serius, mereka berdua selalu membicarakan hal-hal sepele tidak berguna dengan muka serius.

“Orang Amerika juga makan sashimi,” ucap Sou.

“Makan sashimi dengan roti, tidak mungkin!!!”, Maruo menimpali.

“Kau . . . “

“American joke!!!” Maruo berteriak dengan kesal.

Ketika suasana mulai membaik, Sou kembali ditelepon oleh ibunya. Ibunya protes karena Sou belum menelepon balik. Tapi Sou mengelak sambil melihat jam tangannya, karena ini baru tujuh menit lalu mematikan telepon itu. Maruo heran, karena Sou selalu mendapat telepon di saat-saat genting.

Merasa kehabisan waktu, Sou lalu menembak penjahat yang berhasil ia lumpuhkan tadi sambil berteriak seolah-oleh penjahat itu kesakitan. Maruo heran, lalu mencoba hal yang sama sambil juga berteriak seperti orang berkelahi. Sou memandang heran pada ulah Maruo yang tidak jelas. Tapi akhirnya penjahat itu pun keluar dari lantai dua, dan berhasil dibekuk. Sou naik ke lantai dua, dan menemukan ruangan itu berantakan. Ia bergumam pelan, “ Ini terlalu mudah.”

Selesai dengan misi penyergapannya, Sou akhirnya benar-benar pulang ke rumah. Ia membantu ibunya memperbaiki kandang. Dari arah lain, adiknya Takakura Karin datang bersama pacarnya. Ia memperkenalkan diri sebagai Nakatani. Sou syok karena lama tidak bertemu adiknya dan menemukan adiknya sekarang sudah punya pacar. Sou mengajak Nakatani bersalaman, ohooo ia lupa cara orang Jepang berkenalan. Tapi Nakatani tidak menanggapi uluran tangan Sou dan malah menunduk seperti kebiasaan orang Jepang pada umumnya. Ibu Sou memaksa Sou tinggal malam ini, ia tidak mengabaikan protes Sou yang masih memiliki tugas lain.

Di tempat lain, Maruo berjalan sendirian. Tiba-tiba dari arah jalan muncul segerombolan geng motor. Oho, ternyata Maruo selama masa sekolah adalah presiden sebuah geng motor. Ia menghubungi mereka karena tidak punya uang untuk naik taxi, sementara ia harus segera tiba ke acara kencan buta. (dasar Maruo . . . .!!! Hiro, aigo)

Sou tiba kembali ke apartemen Yuki. Ia menemukan Yuki sedang memainkan bridge. Yuki protes karena ia tidak diijinkan keluar dari apartemen itu. Ia bosan berada di sana terus. Tapi Sou tidak peduli, karena ia khawatir dengan keselamatan Yuki. Yuki kesal karena ia stres dan bosan terus berada di apartemen taman boleh keluar sama sekali.Yuki lalu masuk kamar meninggalkan Sou yang speechless.

“Apa kau pikir aku tidak ingin ingatanku segera kembali,” ucap Yuki sambil marah.

Sou termenung sendirian. Ia lalu melihat sekeliling. Sou melihat kertas berserakan di meja. Ternyata Yuki melakukan permainan kata untuk memicu ingatannya agar segera kembali. Sou baru mengerti, kalau Yuki juga ingin segera sembuh.

Malamnya, terdengar sebuah teriakan. Sou dan Maruo buru-buru masuk ke apartemen Yuki. Mereka menemukan Yuki yang berteriak dalam tidurnya. Ternyata Yuki bermimpi dikejar domba di sebuah savana, kemudian di hadapannya ia bertemu dengan gajah.

“Aku selalu terbangun dengan mimpi yang menyeramkan,” keluh Yuki.

“Jadi apa maumu?”tanya Sou.

“Aku ingin hidup normal. Bekerja, berbelanja . . . “ ucap Yuki kemudian.

Tadinya Sou tidak setuju kalau Yuki keluar dari apartemen itu. Tapi atas desakan Maruo, akhirnya Sou sepakat mengajak Yuki keluar tapi dengan pengawasan penuh.

Di tempat lain, seorang penjahat yang tersisa masuk ke rumah yang hari sebelumnya disergap oleh Sou dan Maruo. Ia menemukan petunjuk yang ditinggalkan kawannya. Berkat petunjuk itu, ia menemukan sebuah kamera digital yang disembunyikan di dinding, lengkap dengan foto Sou dan Maruo.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Tunggu episode 1 part 2^_^

Yuki akhirnya mendapat izin untuk keluar apartemen dan berbelanja, tentu saja dengan pengawalan ketat dari ketiga guardiannya itu. Yuki mendatangi toko pakaian, mencoba baju, mencoba topi, bahkan . . . ke area pakaian dalam wanita, diikuti mereka bertiga.

“Apa yang kalian lakukan disini?” protes Yuki.

“Memangnya kenapa?” Tanya Maruo tanpa rasa bersalah sambil memegangi pakaian yang ada disana.

“Ini kan tempat pakaian dalam wanita!” Yuki kesal.

Mereka bertiga baru sadar, kalau disekelilingnya kebanyakan wanita, dan para wanita itu heran melihat mereka bertiga ada disana. Yuki kesal, karena ia tetap saja tidak merasa nyaman. Tiap benda yang ia pegang selalu dicurigai Sou, Maruo dan Horikawa.

Begitu pula ketika makan di café. Yuki baru saja akan makan dengan enak, sampai ia melihat ke arah belakang. Dan tara . . . disana ada mereka bertiga yang sedang makan sambil tidak mengalihkan perhatiannya pada Yuki. Kontan saja Yuki kehilangan selera makan.

Selesai berbelanja dan makan, mereka berempat beranjak pulang. Di jalan, Sou menghentikan langkah. Ia merasa melihat orang yang sejak tadi memperhatikan mereka berempat. Sou curiga. Ia mengamati sekeliling, tapi ternyata ia tidak menemukan siapa-siapa.

Sou yang penasaran dengan rumah yang ia sergap kemarin, mendatangi kembali rumah itu. Ia melihat sekeliling. Di lantai atas, ia menemukan setumpuk kartu. Sou ingat perkataan Yuki ketika di apartemen, bahwa permainan bridge itu dimainkan paling tidak oleh tiga orang. Sou baru sadar, kalau ada orang ketiga di rumah itu yang belum tertangkap. Sou juga menemukan sumpit dan tusuk gigi di meja, ia mengerti kalau itu adalah cara yang digunakan si penjahat untuk memberi tahu penjahat lainnya tentang keberadaan sesuatu. Sou mengikuti petunjuk itu, dan menemukan salah satu sisi tembok yang terbuka.

Sou menghubungi unit investigasi khusus. Mereka berkumpul di kantor. Dari tim lain, diketahui kalau seorang lagi yang tinggal di rumah itu adalah Tanashima Hideo (28 tahun). Selain menemukan orang ketiga di rumah itu, ditemukan juga sebuah pin berbentuk lebah dengan dasar segitiga yang merupakan ciri khas dari yakuza yang sedang mereka buru.

“Ini benar mereka kan?” Sou meyakinkan.

Sou dan Maruo keluar dari kantor bersama. Mereka mengobrol sepanjang jalan menuju apartemen.

“Dia, maksudku yakuza yang sedang kau kejar, Jinno, seperti apa dia?” Tanya Maruo.

“Aku tidak tahu. Dia orang Jepang, tapi sangat berpengaruh di Amerika.”

“Hah, tidak tahu?”

“Aku pernah melihatnya sekali,” Sou lalu menceritakan masa kecilnya. Saat itu dia sedang memancing bersama ayahnya—yang seorang polisi—di sungai. Di tengah keasyikan memancing, tiba-tiba muncul seorang pria yang menodongkan senapan ke arah ayah Sou. Ayahnya menyuruh Sou lari, tapi belum sempat ia lari, ayahnya sudah ditembak tepak di kepala oleh orang itu. Sekilas Sou melihat lelaki itu, dengan senapan laras panjang dan luka di tangan kirinya. Kemudian hari, Sou tahu kalau lelaki itu adalah penjahat yang dikejar ayahnya. Dari penelusuran selama ini, Sou juga tahu kalau laki-laki itu bernama Jinno.

Kembali ke apartemen, Maruo kaget karena melihat ada seorang gadis lain di apartemen Yuki. Horikawa lalu memperkenalkan gadis itu sebagai Tanaka Maki (Usuda Asami). Dia mendapat izin dari Sou membawa Maki untuk menemani Yuki. Yuki tentu saja sangat senang bisa berteman.

Sementara Horikawa mempersiapkan mobil untuk pergi berkencan, Sou, Yuki, Maruo dan Maki mengobrol di apartemen. Yuki bercerita kalau ia selalu memantau dan mengecek keberadaan Horikawa dengan gps. Maki over protective pada Horikawa. Maruo menganggap itu berlebihan sangat menakutkan bagi seorang wanita.

Sementara yang lain ngobrol, Sou malah mencuci peralatan makan yang kotor disana (gludak . . . ni orang mau-maunya ya, nyuci piring, xixixixixi). Sou lalu mengatakan sebuah lelucon, dan ia pun tersenyum sendiri. Tapi tidak dengan semua orang di ruangan itu. Mereka heran, kerena Sou yang kaku ternyata bisa juga mengatakan sebuah lelucon.

“Kau tidak memiliki selera humor yang bagus,” komentar Yuki kemudian.

Hari berikutnya, Maruo dan Horikawa mengajak Yuki keluar untuk makan. Tapi mereka berdua tidak meminta izin pada Sou. Mereka menganggap Sou khawatir berlebihan. Mereka bertiga tiba di lift sebuah restoran. Tapi kerena lift itu macet, Maruo pergi untuk melaporkannya pada pengelola. Di lift tinggal Horikawa dan Yuki. Seorang lelaki masuk ke lift itu, tidak lama lift kembali berfungsi. Horikawa mengenali lelaki itu, tapi belum sempat ia berbuat apa-apa, lelaki itu sudah membuat Horikawa pingsan.

Maruo menelepon Sou, “Yuki dan Horikawa diculik,” ucap Maruo.

Maruo dan Sou lalu bertemu. Mereka naik mobil yang dibawa Sou. Sou melaporkan hal itu pada unit investigasi khusus, tapi berkeras tidak memerlukan bantuan meskipun anggota unit yang lain menawarkan. Chef/kepala unit yang tahu hal itu pun membiarkan mereka.

“Bukankah sudah aku katakan, terlalu berbahaya membawa Yuki keluar,” ucap Sou kesal.

“Bisakah kau menceramahiku lain kali saja,” ucap Maruo merasa bersalah karena ini semua idenya dan Horikawa untuk mengajak Yuki jalan-jalan.

Ternyata Sou dan Maruo menemui Maki. Mereka berdua meminta Maki mencari keberadaan Horikawa menggunakan gps di ponselnya. Tadinya Maki tidak mau, tapi atas bujukan Maruo, Maki akhirnya menyetujuinya.

“Ini akan menyelamatkan kekasihmu,” ucap Sou setelah tahu dimana Horikawa berada dari ponsel Maki

“Hah? Apakah ia dalam keadaan terdesak?” Tanya Maki penasaran.

“Tidak apa-apa. Dia mungkin terbunuh, hanya itu,” ucap Sou dengan santainya.

Tentu saja Maki kaget dengan penjelasan Sou. Maruo yang ada di dekatnya menjadi sasaran pertanyaan Maki. Tapi Maruo buru-buru pergi menyusul Sou. Di jalan, mereka berdua kembali bertengkar. Bahkan Maruo minta diturunkan. Seperti biasa, Sou yang selalu menganggap semua hal serius benar-benar menurunkan Maruo. Maruo bingung.

Di tempat penyekapan, Yuki dan Horikawa diikat. Tanashima sang penjahat mendekati Yuki. Dia tidak tahu kalau Yuki mengalami kehilangan ingatan, sehingga tidak mengenalinya.

Sou sampai di sebuah gedung terbengkalai yang menjadi tempat penyekapan Yuki dan Horikawa. Dengan perlalatan yang ia bawa, Sou berhasil mendeteksi dimana keberadaan ketiga orang itu. Di tengah investigasi, seperti biasa, ibunya menelepon hal yang tidak penting, tentang makan malam. Meski kesal, Sou berusaha bicara pelan dengan ibunya dan mengatakan kalau akan menelepon sepuluh menit lagi.

Dengan peralatannya juga, Sou berhasil naik ke atap dan masuk ke gedung itu. Horikawa yang mendengar sebuah suara, sadar kalau bantuan sudah datang. Sou mengendap-endap di sisi ruangan dekat tempat mereka bertiga. Dengan pistol siap menembak, Sou memancing Tanashima keluar dari ruangan tempat ia menyekap Yuki dan Horikawa. Dan dengan mudah Sou berhasil membekuk Tanashima.

Di tempat lain, Maruo yang diturunkan di jalan masih kesal. Ia berjalan kaki kembali ke kantor pusat kepolisian dengan jalan kaki. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dari tim investigasi khusus. Maruo diberi tahu kalau penjahat itu, Tanashima terkait dengan perdagangan senjata, sehingga kemungkinan saat ini dia memiliki banyak senjata. Maruo lalu bergeges berbalik, menyusul Sou.

Sementara Sou melepas ikatan Yuki dan Horikawa, Tanashima berhasil lolos. Ia mengambil senjatanya yang lain lalu mulai menembak. Sou menyuruh Horikawa untuk keluar dan membawa Yuki ke tempat yang aman. Terjadi adu tembak antara Sou dan Tanashima. Sou terjepit, ia lari ke atap dan mengganjal pintu dengan pulpen. Tidak lama sesudahnya terdengar suara lain yang Sou kenal. Yup . . . itu suara Maruo yang berhasil menyusul Sou. Sou membuka pintu, dan menemukan Maruo tertembak.

Sou kesal pada Maruo. Maruo beranggapan kalau ia datang untuk memberikan bantuan, tapi tidak sebaliknya dengan Sou. Sou menganggap Maruo merusak rencananya. Sou membantu membalut lengan Maruo yang tertembak dengan kain.

Masih dengan peralatannya, Sou turun ke lantai dasar. Disana ia bertemu Yuki dan Horikawa yang sedang ditodong pistol oleh Tanashima. Maruo yang datang dari arah pintu juga kaget. Di atap, muncul orang lain dengan jaket hitam. Setelah melihat orang itu, Tanashima memilih bunuh diri dengan menembak kepalanya daripada memberitahukan apa yang terjadi. Sou dan Maruo gagal menghentikan usaha bunuh diri Tanashima.

Tim medis dan polisi lain datang ke tempat kejadian. Mereka menyisir tempat itu, dan tidak menemukan siapa-siapa. Sementara Maruo mendapat perawatan medis karena lukanya, Sou berdiri mematung di dekatnya.

“Siapa dia? Apa dia Jinno?” Tanya Maruo.

“Entahlah,” ucap Sou.

Yuki dan Horikawa datang mendekat. Yuki minta maaf karena telah menyusahkan mereka semua. Maruo memakluminya, tapi beda dengan Sou. Sou mendekati Horikawa dan memukul perutnya. Yuki dan Maruo kaget.

“Kalau kau lebih fit, Tanashima pasti tidak akan dengan mudah melakukan itu padamu. Pergilah latihan lagi,” ucap Sou.

Horikawa hanya bisa mengiyakan ucapan Sou.

Maruo yang tidak terima mengajak Sou bertengkar, dan seperti biasa, Sou meladeninya. Mereka membicarakan hal-hal tidak penting sambil bersitegang dengan wajah serius.

“Kalian benar-benar partner yang cocok,” komentar Horikawa.

“Tentu saja tidak!” ucapa Sou dan Maruo bersamaan.

Sou kemudian mendapat telepon lagi dari ibunya. Ia setuju untuk datang dan membantu ibu an adiknya malam ini.

Di rumah, Sou mengajak bicara ibunya. Ia bermaksud meminta ibunya untuk jangan terlalu sering menghubunginya, apalagi bila ia sedang tugas luar. Sou meminta ibunya menghubungi kantor dulu sebelum menelepon ponselnya, untuk memastikan keberadaan Sou.

“Ayahmu, dia selalu menjawab telepon, sesibuk apapun,” komentar ibu Sou.

Sou speechless. Ia tidak bisa bicara apa-apa, dan akhirnya mengiyakan kalau ibunya tidak akan pernah setuju dengan permintaannya tadi.

Di kantor, Sou berbicara dengan chef Otomo Kozo (Miura Tomokazu) tentang pnyergapan itu. Chef mengatakan agar Sou jangan menyerah untuk menyelesaikan semuanya yang telah dimulainya itu.

Sou kembali ke apartemen. Ia bertemu Yuki di depan pintu. Yuki minta maaf dan mengucapkan terimakasih pada Sou karena sudah menyelamatkannya kemarin. Tapi dasar Sou, yang kaku, ia Cuma mengiyakan tanpa komentar apa-apa. Terakhir ia malah berkomentar agar Yuki segera masuk, karena berbahaya berada di luar.

Yuki masuk ke apartemennya dengan kesal. Dari apartemennya sendiri, Sou mendengar omelan luapan kekesalan Yuki lewat penyadap yang ia letakan di apartemen Yuki. Tiba-tiba Sou melihat ada amplop tergeletak di kamarnya. Ia curiga. Diambilnya amplop itu, ternyata berisi foto-fotonya selama ini dan sebuah pin dengan gambar lebah. Keberadaan mereka telah diketahui !

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.