Karena peristiwa penculikan anak seorang pengacara, sedikit dari ingatan Yuki kembali. Ia merasa melihat peristiwa seseorang ditodong dengan senjata, tapi hanya sampai disitu saja, tidak ada lagi.
Sou mendatangi psikiater yang menangani Yuki, Yuri. Mereka berdua berdiskusi mengenai akar penyebab Yuki kehilangan ingatan.
“Aku pikir, memory ini yang menyebabkan Yuki kehilangan memorynya yang lain,” ucap Sou.
Yuri mengiyakan asumsi Sou, “Syok yang luar biasa ketika melihat seseorang terbunuh bisa saja membuatnya (Yuki) kehilangan ingatan.”
Tapi tidak berlangsung lama, mereka berdua kembali beradu argumentasi. Sou memaksa Yuri untuk melakukan berbagai cara agar membuat ingatan Yuki segera kembali yang tentu saja tidak disetujui oleh Yuri. Sou yang kesal akhirnya memilih pergi.
Maruo mendatangi kedai seorang nenek. Ternyata kedai itu milik nenek dari salah satu anak buahnya di gang motor ketika sekolah dulu, Shige. Shige meminta bantuan Maruo untuk mengusir para penagih hutang yang selalu memaksa nenek Shige untuk menjual kedai itu pada mereka. Maruo menghubungi Sou dan memintanya untuk datang juga. Dan seperti biasa, Sou datang dengan . . . senjata teracung (repotnya pak pol satu ini . . . dimana2 bawa senjata, haiks)
“Ini bukan bagian pekerjaan divisi investigasi khusus!” protes Sou sambil berdiri hendak beranjak pergi.
Tapi Maruo memaksa Sou untuk tinggal. Nenek pemilik kedai menanyakan apa pesanan mereka. Tapi karena pendengarannya yang sudah berkurang (parah), nenek Shige tidak bisa mendengar ucapan mereka. Maruo memakluminya dan menyerah dengan apa yang didengar si nenek. Tapi berbeda dengan Sou. Dia tetap memaksa menjelaskan pesanannya pada si nenek. (parah dah . . . pake tereak2 segala pula). Akhirnya setelah beberapa kali menjelaskan tanpa hasil, Sou menyerah dengan apa yang didengar oleh si nenek.
Pesanan Sou keluar. Ia menikmati makanan itu dengan enjoy, sementara Maruo hanya terbengong-bengong dengan sikap Sou yang sangat mudah berubah itu. Tidak lama sesudahnya sekelompok penagih hutang datang. Mereka mulai mengobrak abrik kedai dan meminta uang pembayaran pada si nenek. Mulanya Sou, Maruo dan Shige diam saja, tapi melihat ulah penagih hutang itu yang sudah keterlaluan mereka bertindak. Dengan mudah Sou dan Maruo meringkus pada penjahat itu.
“Kami polisi,” ucap Maruo sambil menunjukkan lencananya.
Melihat mereka polisi, salah seorang penjahat melarikan diri. Shige mengejarnya, disusul Maruo. Sayangnya mereka berdua kehilangan jejak penjahat itu.

Pagi harinya,
“Maaf, kami terlambat,” Sou dan Maruo tiba di TKP.
Tampak pihak forensic sedang membawa sesosok tubuh tak bernyawa dengan luka tembak di dahi. Sou mendekati mayat itu dan membuka kain penutupnya, ia kaget.
“Maruo, lihat.”
Maruo mendekat dan mengikuti ucapan Sou. Maruo juga kaget, karena mayat itu adalah orang yang semalam kabur saat mereka berada di kedai milik nenek Shige.
“Apa kau kenal dia?” Tanya Suzuki-san.
“Ah tidak. Aku hanya tahu lelaki ini semalam di kedai milik temanku.”
Kembali ke kantor pusat kepolisian Jepang. Meeting dimulai. Korban yang ditemukan bernama Furukawa, seorang penagih hutang yang dipekerjakan oleh perusahaan peminjam uang. Dari hasil investigasi, mereka berkesimpulan kalau tersangka pembunuhan adalah Kabata Shigeo. Karena malam sebelumnya Furukawa lolos ketika akan ditangkap saat menagih uang di kedai milik nenek Shigeo. Motifnya adalah balas dendam.
Maruo tidak percaya kalau yang melakukan ini adalah Shigeo. Ia berkeras kalau Shigeo punya alibi dan berniat membuktikan alibi itu. Maruo yang kesal keluar dari kantor. Ia mencoba menghubungi Shigeo, tapi gagal.
Sou dan Horikawa pulang ke apartemen. Disana sudah ada Matsunaga Eri, kakak perempuan Yuki.
“Maaf kalau Yuki sudah menyusahkan kalian. Aku Eri, kakak perempuan Yuki.” (kalau ada yang inget, yang jadi Eri ini maen juga di Atashinci no Danshi jadi ex-pacar Sou-Mukai Osamu)
Sou mencoba menggali informasi mengenai Yuki. Tapi ternyata Eri juga tidak tahu banyak. Menurut penuturan Eri, Yuki pergi ke US selepas lulus SMA untuk melanjutkan sekolah. Sejak saat itu, mereka lost contact, sehingga Eri sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan Yuki selama di US.

Sou mengetuk pintu kamar Maruo.
“Apa?”
“Eri, kakak Yuki menggunakan kamarku. Jadi aku akan berbagi kamar denganmu,” ucap Sou.
Maruo lalu membiarkan Sou masuk. Dengan canggung, Maruo naik ke ranjang dan menarik selimut. Sou melepaskan rompi pelurunya, dan meletakkan senjata apinya di meja samping ranjang. Tanpa berganti baju (alias masih pake hem lengkap) Sou mengikuti Maruo naik ke ranjang.
“Apa yang kau lakukan?!” Maruo kaget karena Sou sudah ada di belakangnya.
“Di militer sudah biasa berbagi tempat tidur seperti ini,” jawab Sou dengan cueknya.
Maruo merasa aneh dengan sikap Sou (atau jijik kali ya, hihihi). Ia lalu mengalah dan beranjak mengambil bantal lalu tidur di lantai berselimutkan jaket. (wah pakde sun oghuri tega nih, udah dibiarin tidur di lantai, ga dikasih selimut pula). Sementara Sou semakin menarik rapat selimutnya.
“Bagaimana dengan perkembangan kasus ini?” Sou mencoba mengajak Maruo bicara.
“Aku belum bisa menemukan Shigeo, tapi aku akan membuktikan kalau dia tidak bersalah,” jawab Maruo mantap.

Sou bersama Horikawa menemani Eri dan Yuki mengunjungi makam kedua orang tua Yuki dan Eri.
“Mereka meninggal ketika kau baru lulus SMP karena kecelakaan,” cerita Eri.
“Apa aku menangis?” pertanyaan Yuki diiyakan oleh Eri.
Ketika Yuki kembali menanyakan alasan kenapa ia dulu membenci Eri, Eri tidak menjawabnya. Ia hanya bilang, itu masalah yang biasa muncul antara dua saudara. Dari belakang Sou angkat bicara, ia mengatakan kalau meski ada masalah diantara mereka, mereka pasti saudara yang saling mendukung ketika kehilangan kedua orang tua mereka. Di saat momen bijak ini, tiba-tiba ponsel Sou berdering, dari ibunya. Dan seperti biasa, menanyakan hal tidak mutu pada Sou.
Maruo masih berkeras mencari alibi untuk membuktikan kalau Shigeo tidak bersalah. Ia mendatangi tempat Shigeo bekerja part-time, laundry milik Kiuchi, kawan satu geng motor dengan Maruo juga. Dari keterangan Kiuchi, Maruo tahu kalau saat peristiwa pembunuhan itu terjadi, Shigeo sedang mengantarkan pakaian laundry ke rumah pelanggan. (nah kalau yang jadi Kiuchi ini pernah main juga di Hanazakari no Kimitachi e jadi salah satu anggota dorm 1)
“Kalau kau mau, aku bisa melakukan cek silang pada pelanggan itu juga,” tawar Kiuchi pada Maruo.

Maruo kembali ke kantor pusat. Dengan sumringah ia mengatakan kalau ia bisa membuktikan alibi dari Shigeo. Tapi tidak lama kemudian wajah sumringah Maruo menghilang. Ia mendapat telepon dari Kiuchi.
“Shigeo memang mengantarkan pakaian ke rumah pelanggan, tapi ia terlambat satu jam dari jadwal biasanya.”
“Kalau begitu, mulai sekarang cari Shigeo dan tetapkan dia sebagai tersangka,” ucap chef Otomo pada anak buahnya.
Maruo lemas. Ia ingin sekali membuktikan kalau Shigeo tidak bersalah, tapi juga tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Malamnya, Maruo dan Kiuchi bertemu di kafe tempat Yuki kerja part-time. Mereka berdua membicarakan Shigeo.
“Aniki (kakak) kau percaya kan kalau Shigeo bukan pelakunya?” desak Maruo.
“Tentu saja. Kita kan keluarga,” ucap Kiuchi kemudian.
“Yuki, kau juga percaya pada Shigeo kan?” kali ini Maruo mengalihkan pertanyaan pada Yuki.
“Karena dia adalah temanmu, maka aku mempercayainya.”
“Tidak, tidak. Dia bukan teman, Shigeo sudah seperti adik bagiku,” ucap Maruo lagi.

Sementara itu, di waktu yang sama, Sou sedang makan malam bersama ibu, adik dan pacar adiknya.
“Ah, aku ingin satu mangkok lagi,” ucap Nakatani-kun.
Sou protes dengan sikap Nakatani. Ia menganggap Nakatani berlebihan, karena ia bahkan bukan anggota keluarga tapi bersikap sok dekat dengan mereka semua. Tapi ibu dan adik Sou tidak mempedulikannya.
Di kafe, Shigeo menghubungi Maruo. Ia menanyakan apakah ia dicurigai sebagai tersangka pembunuhan, Maruo mengiyakan. Maruo mendesak Shigeo untuk mengatakan yang sebenarnya. Shigeo mengelak, bahwa ia tidak melakukan pembunuhan. Ia menghilang selama beberapa hari karena mengadakan perjalanan / liburan bersama kekasihnya.
Maruo mengajak Shigeo bertemu. Ponsel Maruo diminta Kiuchi, sementara Maruo mengambil mobil.

Maruo dan Kiuchi mendatangi tempat rencana pertemuan dengan Shigeo. Tapi ternyata itu adalah jebakan. Tidak lama sesudahnya, muncul beberapa orang bertopeng dan bersenjata menyerang mereka berdua. Maruo dan Kiuchi mencoba melawan. Mereka akhirnya terjebak. Bantuan datang, ooo . . . ternyata Sou datang membantu Maruo. Perkelahian tidak seimbang berlanjut. Dan . . . sempat-sempatnya Sou dan Maruo ngobrol saat berkelahi.
“Bagaimana kau bisa menemukanku?” Tanya Maruo sambil menghajar beberapa preman itu.
“Kau menggunakan mobil polisi. Ada GPS disana, jadi aku mudah melacaknya,” jawab Sou dengan pose yang sama, tengah menghajar para preman.
“Jangan ikut campur. Aku sendiri yang akan membuktikan kalau Shigeo tidak bersalah!”
“Kau datang karena kau percaya saudaramu? Dengan kata lain, kau melakukan ini karena kau percaya padanya kan? Kau monyet bodoh!” Sou tidak mau kalah.
“Diantara para hewan, monyet adalah yang paling cerdas!”
“Gibbon terlatih, tapi tidak terlalu cerdas,” sanggah Sou.
“Ada orang utan yang bisa menghitung!”
“Ada gajah yang bisa menggambar!”
“Apakah gajah bisa menggambar? Gajah apa yang bisa menggambar?!”
“Self-portrait.”
Sementara keduanya sibuk dengan pertengkaran tidak mutu, para preman yang tadi mereka hajar bengong melihat kedua orang ini. Seorang preman mendekat hendak menyerang, dan . . . dengan kompak Sou dan Maruo menghadiahi preman ini bogem mentah sehingga ia langsung terkapar. (see . . . masih sempat-sempatnya kedua orang ini beradu argument tidak mutu di tengah pertempuran, hfth) preman-preman itu kemudian kabur. Sou membawa Maruo dan Kiuchi kembali.

Di kantor pusat kepolisian Jepang.
Kiuchi lalu menceritakan kalau Shigeo pernah memintanya memberitahu dimana mendapatkan senjata api. Tapi Kiuchi tidak mengatakannya.
“Mungkin waktu itu, Shigeo benar membunuh Furukawa,” simpul Kiuchi kemudian.
Tim investigasi khusus menyimpulkan kalau pelaku pembunuhan ini benar Shigeo. Tapi Maruo masih saja tidak percaya. Ia berkeras membuktikan kalau Shigeo tidak bersalah.
“Bagaimana kalau yang dicurigai adalah keluargamu sendiri?!” Maruo benar-benar kesal dengan sikap Sou yang sama sekali tidak menggunakan hati nuraninya.
“Chef, bisakah Maruo dikeluarkan dari kasus ini? Dia sudah tidak obyektif dan memasukkan unsure pribadi dalam kasus ini,” pinta Sou pada chef. Tapi chef menolak permintaan ini.
Maruo masih berkeras untuk membuktikan kalau Shigeo tidak bersalah. Ia beranjak pergi dari ruangan itu.
Sou masih bertahan di kantor hingga malam. Ia masih meneliti beberapa informasi mengenai penjahat ini. Chef Otomo ternyata belum pulang. Ia kembali ke kantor untuk mengambil ponselnya yang tertinggal dan melihat Sou masih termenung sendiri.
“Sebagai detektif, dia (Maruo) terlalu halus kan? Tapi coba pikir, apa penyebab kesalahanmu (kegagalan meringkus yakuza) di New York? Itu karena kau tidak berhasil menemukan pembunuh ayahmu, Jino, iya kan?” chef Otomo memulai pembicaraan.
“Itu tidak seperti itu,” Sou mengelak.
“Lihat, kau marah.”
“Tolong jangan mengolok-olokku.”
Chef Otomo tersenyum, “Kenapa kau tidak menjawab ketika tadi Maruo menanyakan bagaimana jika yang dicurigai adalah keluargamu sendiri? Karena kau memikirkan hal yang sama kan? Aku tidak memintamu percaya pada tersangka. Pada akhirnya kau harus mempercayai temanmu,” chef Otomo meninggalkan Sou yang masih termenung sendirian memikirkan perkataannya.

Apa yang dilakukan Sou kemudian? Yups . . . melepas baju kebesarannya (suit lengkap) dan berdandan ala gangster, Sou mendatangi perusahaan peminjam uang tempat Furukawa disewa.
“Aku cukup berkualifikasi, tapi aku tidak punya uang. Mungkin kalian berminat menyewaku,” ucap Sou yang sudah rapi jali dengan jas dan hem terbuka dengan sebuah kalung melingkar di lehernya lalu duduk dan menganggat kaki ke meja penuh menuman keras di kantor gangster itu.
“Ini bukan tempat seenaknya kau bisa datang dan memaksa kami,” sanggah sang pemimpin geng itu.
“Aku bisa melumpuhkan kalian semua disini,” ancam Sou yang kemudian dibuktikan dengan dilumpuhkannya semua orang di ruangan itu hanya dalam waktu singkat.
Bos gangster itu akhirnya menyerah. Ia mau melakukan keinginan Sou.
“Ada yang ingin aku tanyakan,” ucap Sou.
“Ini bukan tempat seperti itu,” elak sang bos.
“Itu bukan pertanyaanku.”

Di apartemen, Yuki melihat-lihat foto lama bersama kakaknya, Eri. Di sebuah foto, tampak Yuki yang sedang menangis keras, sementara kakaknya di sebelahnya tersenyum. Yuki penasaran apa yang terjadi, tapi Eri juga tidak ingat. Ketika melihat gambar anjing di sampul album itu, Yuki kemudian ingat saat kejadian itu. Yuki menangis karena diganggu seekor anjing, dan Eri yang menolongnya mengusir anjing itu.
Ketika Maruo pulang, Yuki menceritakan semuanya pada Maruo. Yuki bertanya apa perlu menceritakan hal itu juga pada Sou, tapi Maruo menganggapnya tidak perlu, karena tidak ada hubungannya dengan Jinno.
Maruo terdiam.
“Jadi, akhirnya diketahui kalau pembunuhnya adalah Shigeo-kun?” Yuki mengalihkan pembicaraan.
“Aku tidak mempercayainya,” Maruo masih berkeras.
“Baru saja . . . ketika aku ingat kakakku yang menyelamatkanku dari anjing itu, itu pertama kali sejak aku kehilangan ingatan, aku merasa aman. Bahwa aku tidak sendirian. Jadi, Maruo, kau juga. Jika kau menganggap Shigeo-kun sebagai adikmu, aku ingin kau mempercayainya hingga akhir. Jangan biarkan ucapan Sou menggoyahkanmu. Dia tidak punya hati nurani. Aku yakin, darahnya berwarna hijau,” Yuki mencoba menenangkan Maruo.
“Jadi begitu? Seperti perkiraanku. Terimakasih Yuki-chan.”
Suasana berubah menjadi romantic. Yuki dan Maruo saling berpandangan. Maruo mendekat ke arah Yuki, tangannya terulur ke wajah Yuki . . . dan plak!
“Jangan mengambil keuntungan dariku!” bentak Yuki. (hahaha . . . rupanya playboy satu ini mencoba mencium Yuki)
“Aku telah mempelajari pelajaranku,” ujar Maruo sambil memegangi pipinya yang kena tampar Yuki. (wkwkwkwk . . . kasiaaaan deh Maruo)

Hari berikutnya,
Divisi investigasi khusus mendapat informasi kalau Shigeo berada di sebuah hotel. Mereka langsung bersiap untuk menyergapnya. Chef heran karena Sou tidak tampak.
“Sejak kemarin dia tidak bisa dihubungi,” jelas Reiji san.
“Maruo, kau mau ikut?” Tanya chef Otomo lagi, dan Maruo mengiyakan.
Sampai di parkir hotel tempat Shigeo berada, Maruo dikagetkan oleh seseorang. Ternyata Sou sudah berada disana.
“Apa yang kau lakukan?!”
“Diam!” Sou memaksa Maruo masuk ke mobilnya.
Sementara itu anggota divisi investigasi yang lain menggerebeg kamar tempat Shigeo berada, tapi ternyata tidak ada Shigeo disana. Hanya ditemukan seorang pria dengan tangan terikat dan mulut ditutup lakban.
Sou membawa Maruo di mobilnya. Maruo terkejut karena Shigeo juga sudah ada disana. Sou menjelaskan kalau benar bukan Shigeo pelaku pembunuhan itu. Dia hanya berada di tempat dan waktu yang salah. Sou mencurigai seseorang yang telah melakukan itu, tapi belum menceritakan detailnya siapa orang ini.

Sou membawa Maruo dan Shigeo ke sebuah pelabuhan sepi. Dia mencoba memancing pelaku pembunuhan sesungguhnya untuk keluar. Sementara Shigeo menunggu di dekat air, Sou dan Maruo bersembunyi di tempat tersembunyi dekat sana. Sou menceritakan bagaimana ia menginvestigasi dan menyelidiki perusahaan yang menyewa Furukawa dan akhirnya tahu apa yang terjadi.
Di tengah investigasi, tiba-tiba ponsel Sou berbunyi. Mau tidak mau ia mangangkatnya, dari ibunya. Menanyakan hal tidak mutu, tentang baju piyama yang diinginkan. Maruo yang melihat tingkah Sou, kesal.
“Siapa sebenarnya yang selalu menelepon saat investigasi?” protes Maruo.
“Itu bukan urusanmu!”

Yang ditunggu muncul. Maruo kaget, karena yang muncul adalah Kiuchi. Shigeo protes karena ia merasa dijebak oleh Kiuchi, sehingga akhirnya dialah yang dicurigai sebagai pembunuh Furukawa.
“Demi aku, matilah demi aku,” ancam Kiuchi pada Shigeo dengan senjata api.
“Anniki!” Maruo keluar dari persembunyiannya dengan senjata tertodong pula.
Kiuchi lalu menceritakan kalau ia melakukan semua ini demi keluarganya. Furukawa dan gang-nya itu yang mengancam akan merusak usaha dan keluarganya, sehingga dia melakukan ini. Kiuchi meminta Maruo untuk membebaskannya, karena ia masih memiliki keluarga.
Maruo diam saja, ia bimbang antara menangkap atau melepaskan Kiuchi. Kiuchi beranjak berlari. Sou keluar dari persembunyiannya, melihat Maruo tidak melakukan apa-apa ketika Kiuchi berusaha melarikan diri, Sou akhirnya melumpuhkan Kiuchi dengan menembak kakinya.
“Mulai sekarang . . . jangan biarkan Maruo melihatmu melarikan diri lagi. Jika keluargamu penting bagimu . . . demi mereka, jangan melarikan diri,” ujar Sou di depan Kiuchi.
Maruo lalu mengambil borgol di sakunya dan memborgol tangan Kiuchi.

Yuki, Maruo dan Sou mengantar Eri yang akan pulang di bandara. Sebelum pergi, Yuki mengajak Eri untuk membuat foto bersama. Sampai akhir, Eri tidak menceritakan pada Yuki alasan kenapa dulu Yuki begitu membenci Eri sebelum ia pergi ke US.
“Apa yang ia katakana?” Tanya Sou setelah melihat Eri pergi.
“Bukan suatu hal penting.”

“Jadi, dia (Yuki) mengingat masa lalunya ketika melihat foto ini?” Tanya Yuri memastikan sambil melihat foto yang disodorkan Maruo.
“Orang tuanya meninggal, dan dia hanya tinggal bersama kakaknya. Ketika Yuki di US, mereka sama sekali lost contact,” gumam Sou.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?” sambung Yuri. “Dan jika begitu, apapun yang terjadi sebelum Yuki berangkat ke US tidak ada hubungannya dengan hilangnya ingatan Yuki. “
“Itu benar. Bagian yang tidak ingin Yuki ingat tidak ada hubungannya dengan keluarganya,” komentar Sou.
“Hmm?” kali ini Maruo yang menyambung.
“Kekasih?” Tanya Yuri yang diiyakan Maruo.
Sementara Kiuchi dipenjara, Maruo, Shigeo dan Sou (dengan terpaksa) membantu usaha laundry Kiuchi. Ketika Maruo dan Shigeo menyeterika baju, Sou bertugas menjaga bayi anak Kiuchi. Dan dengan canggung Sou berusaha menenangkan bayi itu. (liat wajahnya aa Sun Oghuri ngemong bayi, kekekekeke . . . kocak banget)
Sementara itu, Yuki yang bekerja di café berada dalam bahaya. Salah seorang penjahat yang ada hubungannya dengan Jinno, mengyadari kehadiran Yuki.
Sou mendatangi psikiater yang menangani Yuki, Yuri. Mereka berdua berdiskusi mengenai akar penyebab Yuki kehilangan ingatan.
“Aku pikir, memory ini yang menyebabkan Yuki kehilangan memorynya yang lain,” ucap Sou.
Yuri mengiyakan asumsi Sou, “Syok yang luar biasa ketika melihat seseorang terbunuh bisa saja membuatnya (Yuki) kehilangan ingatan.”
Tapi tidak berlangsung lama, mereka berdua kembali beradu argumentasi. Sou memaksa Yuri untuk melakukan berbagai cara agar membuat ingatan Yuki segera kembali yang tentu saja tidak disetujui oleh Yuri. Sou yang kesal akhirnya memilih pergi.
Maruo mendatangi kedai seorang nenek. Ternyata kedai itu milik nenek dari salah satu anak buahnya di gang motor ketika sekolah dulu, Shige. Shige meminta bantuan Maruo untuk mengusir para penagih hutang yang selalu memaksa nenek Shige untuk menjual kedai itu pada mereka. Maruo menghubungi Sou dan memintanya untuk datang juga. Dan seperti biasa, Sou datang dengan . . . senjata teracung (repotnya pak pol satu ini . . . dimana2 bawa senjata, haiks)
“Ini bukan bagian pekerjaan divisi investigasi khusus!” protes Sou sambil berdiri hendak beranjak pergi.
Tapi Maruo memaksa Sou untuk tinggal. Nenek pemilik kedai menanyakan apa pesanan mereka. Tapi karena pendengarannya yang sudah berkurang (parah), nenek Shige tidak bisa mendengar ucapan mereka. Maruo memakluminya dan menyerah dengan apa yang didengar si nenek. Tapi berbeda dengan Sou. Dia tetap memaksa menjelaskan pesanannya pada si nenek. (parah dah . . . pake tereak2 segala pula). Akhirnya setelah beberapa kali menjelaskan tanpa hasil, Sou menyerah dengan apa yang didengar oleh si nenek.
Pesanan Sou keluar. Ia menikmati makanan itu dengan enjoy, sementara Maruo hanya terbengong-bengong dengan sikap Sou yang sangat mudah berubah itu. Tidak lama sesudahnya sekelompok penagih hutang datang. Mereka mulai mengobrak abrik kedai dan meminta uang pembayaran pada si nenek. Mulanya Sou, Maruo dan Shige diam saja, tapi melihat ulah penagih hutang itu yang sudah keterlaluan mereka bertindak. Dengan mudah Sou dan Maruo meringkus pada penjahat itu.
“Kami polisi,” ucap Maruo sambil menunjukkan lencananya.
Melihat mereka polisi, salah seorang penjahat melarikan diri. Shige mengejarnya, disusul Maruo. Sayangnya mereka berdua kehilangan jejak penjahat itu.

Pagi harinya,
“Maaf, kami terlambat,” Sou dan Maruo tiba di TKP.
Tampak pihak forensic sedang membawa sesosok tubuh tak bernyawa dengan luka tembak di dahi. Sou mendekati mayat itu dan membuka kain penutupnya, ia kaget.
“Maruo, lihat.”
Maruo mendekat dan mengikuti ucapan Sou. Maruo juga kaget, karena mayat itu adalah orang yang semalam kabur saat mereka berada di kedai milik nenek Shige.
“Apa kau kenal dia?” Tanya Suzuki-san.
“Ah tidak. Aku hanya tahu lelaki ini semalam di kedai milik temanku.”
Kembali ke kantor pusat kepolisian Jepang. Meeting dimulai. Korban yang ditemukan bernama Furukawa, seorang penagih hutang yang dipekerjakan oleh perusahaan peminjam uang. Dari hasil investigasi, mereka berkesimpulan kalau tersangka pembunuhan adalah Kabata Shigeo. Karena malam sebelumnya Furukawa lolos ketika akan ditangkap saat menagih uang di kedai milik nenek Shigeo. Motifnya adalah balas dendam.
Maruo tidak percaya kalau yang melakukan ini adalah Shigeo. Ia berkeras kalau Shigeo punya alibi dan berniat membuktikan alibi itu. Maruo yang kesal keluar dari kantor. Ia mencoba menghubungi Shigeo, tapi gagal.
Sou dan Horikawa pulang ke apartemen. Disana sudah ada Matsunaga Eri, kakak perempuan Yuki.
“Maaf kalau Yuki sudah menyusahkan kalian. Aku Eri, kakak perempuan Yuki.” (kalau ada yang inget, yang jadi Eri ini maen juga di Atashinci no Danshi jadi ex-pacar Sou-Mukai Osamu)
Sou mencoba menggali informasi mengenai Yuki. Tapi ternyata Eri juga tidak tahu banyak. Menurut penuturan Eri, Yuki pergi ke US selepas lulus SMA untuk melanjutkan sekolah. Sejak saat itu, mereka lost contact, sehingga Eri sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan Yuki selama di US.

Sou mengetuk pintu kamar Maruo.
“Apa?”
“Eri, kakak Yuki menggunakan kamarku. Jadi aku akan berbagi kamar denganmu,” ucap Sou.
Maruo lalu membiarkan Sou masuk. Dengan canggung, Maruo naik ke ranjang dan menarik selimut. Sou melepaskan rompi pelurunya, dan meletakkan senjata apinya di meja samping ranjang. Tanpa berganti baju (alias masih pake hem lengkap) Sou mengikuti Maruo naik ke ranjang.
“Apa yang kau lakukan?!” Maruo kaget karena Sou sudah ada di belakangnya.
“Di militer sudah biasa berbagi tempat tidur seperti ini,” jawab Sou dengan cueknya.
Maruo merasa aneh dengan sikap Sou (atau jijik kali ya, hihihi). Ia lalu mengalah dan beranjak mengambil bantal lalu tidur di lantai berselimutkan jaket. (wah pakde sun oghuri tega nih, udah dibiarin tidur di lantai, ga dikasih selimut pula). Sementara Sou semakin menarik rapat selimutnya.
“Bagaimana dengan perkembangan kasus ini?” Sou mencoba mengajak Maruo bicara.
“Aku belum bisa menemukan Shigeo, tapi aku akan membuktikan kalau dia tidak bersalah,” jawab Maruo mantap.

Sou bersama Horikawa menemani Eri dan Yuki mengunjungi makam kedua orang tua Yuki dan Eri.
“Mereka meninggal ketika kau baru lulus SMP karena kecelakaan,” cerita Eri.
“Apa aku menangis?” pertanyaan Yuki diiyakan oleh Eri.
Ketika Yuki kembali menanyakan alasan kenapa ia dulu membenci Eri, Eri tidak menjawabnya. Ia hanya bilang, itu masalah yang biasa muncul antara dua saudara. Dari belakang Sou angkat bicara, ia mengatakan kalau meski ada masalah diantara mereka, mereka pasti saudara yang saling mendukung ketika kehilangan kedua orang tua mereka. Di saat momen bijak ini, tiba-tiba ponsel Sou berdering, dari ibunya. Dan seperti biasa, menanyakan hal tidak mutu pada Sou.
Maruo masih berkeras mencari alibi untuk membuktikan kalau Shigeo tidak bersalah. Ia mendatangi tempat Shigeo bekerja part-time, laundry milik Kiuchi, kawan satu geng motor dengan Maruo juga. Dari keterangan Kiuchi, Maruo tahu kalau saat peristiwa pembunuhan itu terjadi, Shigeo sedang mengantarkan pakaian laundry ke rumah pelanggan. (nah kalau yang jadi Kiuchi ini pernah main juga di Hanazakari no Kimitachi e jadi salah satu anggota dorm 1)
“Kalau kau mau, aku bisa melakukan cek silang pada pelanggan itu juga,” tawar Kiuchi pada Maruo.

Maruo kembali ke kantor pusat. Dengan sumringah ia mengatakan kalau ia bisa membuktikan alibi dari Shigeo. Tapi tidak lama kemudian wajah sumringah Maruo menghilang. Ia mendapat telepon dari Kiuchi.
“Shigeo memang mengantarkan pakaian ke rumah pelanggan, tapi ia terlambat satu jam dari jadwal biasanya.”
“Kalau begitu, mulai sekarang cari Shigeo dan tetapkan dia sebagai tersangka,” ucap chef Otomo pada anak buahnya.
Maruo lemas. Ia ingin sekali membuktikan kalau Shigeo tidak bersalah, tapi juga tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Malamnya, Maruo dan Kiuchi bertemu di kafe tempat Yuki kerja part-time. Mereka berdua membicarakan Shigeo.
“Aniki (kakak) kau percaya kan kalau Shigeo bukan pelakunya?” desak Maruo.
“Tentu saja. Kita kan keluarga,” ucap Kiuchi kemudian.
“Yuki, kau juga percaya pada Shigeo kan?” kali ini Maruo mengalihkan pertanyaan pada Yuki.
“Karena dia adalah temanmu, maka aku mempercayainya.”
“Tidak, tidak. Dia bukan teman, Shigeo sudah seperti adik bagiku,” ucap Maruo lagi.

Sementara itu, di waktu yang sama, Sou sedang makan malam bersama ibu, adik dan pacar adiknya.
“Ah, aku ingin satu mangkok lagi,” ucap Nakatani-kun.
Sou protes dengan sikap Nakatani. Ia menganggap Nakatani berlebihan, karena ia bahkan bukan anggota keluarga tapi bersikap sok dekat dengan mereka semua. Tapi ibu dan adik Sou tidak mempedulikannya.
Di kafe, Shigeo menghubungi Maruo. Ia menanyakan apakah ia dicurigai sebagai tersangka pembunuhan, Maruo mengiyakan. Maruo mendesak Shigeo untuk mengatakan yang sebenarnya. Shigeo mengelak, bahwa ia tidak melakukan pembunuhan. Ia menghilang selama beberapa hari karena mengadakan perjalanan / liburan bersama kekasihnya.
Maruo mengajak Shigeo bertemu. Ponsel Maruo diminta Kiuchi, sementara Maruo mengambil mobil.

Maruo dan Kiuchi mendatangi tempat rencana pertemuan dengan Shigeo. Tapi ternyata itu adalah jebakan. Tidak lama sesudahnya, muncul beberapa orang bertopeng dan bersenjata menyerang mereka berdua. Maruo dan Kiuchi mencoba melawan. Mereka akhirnya terjebak. Bantuan datang, ooo . . . ternyata Sou datang membantu Maruo. Perkelahian tidak seimbang berlanjut. Dan . . . sempat-sempatnya Sou dan Maruo ngobrol saat berkelahi.
“Bagaimana kau bisa menemukanku?” Tanya Maruo sambil menghajar beberapa preman itu.
“Kau menggunakan mobil polisi. Ada GPS disana, jadi aku mudah melacaknya,” jawab Sou dengan pose yang sama, tengah menghajar para preman.
“Jangan ikut campur. Aku sendiri yang akan membuktikan kalau Shigeo tidak bersalah!”
“Kau datang karena kau percaya saudaramu? Dengan kata lain, kau melakukan ini karena kau percaya padanya kan? Kau monyet bodoh!” Sou tidak mau kalah.
“Diantara para hewan, monyet adalah yang paling cerdas!”
“Gibbon terlatih, tapi tidak terlalu cerdas,” sanggah Sou.
“Ada orang utan yang bisa menghitung!”
“Ada gajah yang bisa menggambar!”
“Apakah gajah bisa menggambar? Gajah apa yang bisa menggambar?!”
“Self-portrait.”
Sementara keduanya sibuk dengan pertengkaran tidak mutu, para preman yang tadi mereka hajar bengong melihat kedua orang ini. Seorang preman mendekat hendak menyerang, dan . . . dengan kompak Sou dan Maruo menghadiahi preman ini bogem mentah sehingga ia langsung terkapar. (see . . . masih sempat-sempatnya kedua orang ini beradu argument tidak mutu di tengah pertempuran, hfth) preman-preman itu kemudian kabur. Sou membawa Maruo dan Kiuchi kembali.

Di kantor pusat kepolisian Jepang.
Kiuchi lalu menceritakan kalau Shigeo pernah memintanya memberitahu dimana mendapatkan senjata api. Tapi Kiuchi tidak mengatakannya.
“Mungkin waktu itu, Shigeo benar membunuh Furukawa,” simpul Kiuchi kemudian.
Tim investigasi khusus menyimpulkan kalau pelaku pembunuhan ini benar Shigeo. Tapi Maruo masih saja tidak percaya. Ia berkeras membuktikan kalau Shigeo tidak bersalah.
“Bagaimana kalau yang dicurigai adalah keluargamu sendiri?!” Maruo benar-benar kesal dengan sikap Sou yang sama sekali tidak menggunakan hati nuraninya.
“Chef, bisakah Maruo dikeluarkan dari kasus ini? Dia sudah tidak obyektif dan memasukkan unsure pribadi dalam kasus ini,” pinta Sou pada chef. Tapi chef menolak permintaan ini.
Maruo masih berkeras untuk membuktikan kalau Shigeo tidak bersalah. Ia beranjak pergi dari ruangan itu.
Sou masih bertahan di kantor hingga malam. Ia masih meneliti beberapa informasi mengenai penjahat ini. Chef Otomo ternyata belum pulang. Ia kembali ke kantor untuk mengambil ponselnya yang tertinggal dan melihat Sou masih termenung sendiri.
“Sebagai detektif, dia (Maruo) terlalu halus kan? Tapi coba pikir, apa penyebab kesalahanmu (kegagalan meringkus yakuza) di New York? Itu karena kau tidak berhasil menemukan pembunuh ayahmu, Jino, iya kan?” chef Otomo memulai pembicaraan.
“Itu tidak seperti itu,” Sou mengelak.
“Lihat, kau marah.”
“Tolong jangan mengolok-olokku.”
Chef Otomo tersenyum, “Kenapa kau tidak menjawab ketika tadi Maruo menanyakan bagaimana jika yang dicurigai adalah keluargamu sendiri? Karena kau memikirkan hal yang sama kan? Aku tidak memintamu percaya pada tersangka. Pada akhirnya kau harus mempercayai temanmu,” chef Otomo meninggalkan Sou yang masih termenung sendirian memikirkan perkataannya.

Apa yang dilakukan Sou kemudian? Yups . . . melepas baju kebesarannya (suit lengkap) dan berdandan ala gangster, Sou mendatangi perusahaan peminjam uang tempat Furukawa disewa.
“Aku cukup berkualifikasi, tapi aku tidak punya uang. Mungkin kalian berminat menyewaku,” ucap Sou yang sudah rapi jali dengan jas dan hem terbuka dengan sebuah kalung melingkar di lehernya lalu duduk dan menganggat kaki ke meja penuh menuman keras di kantor gangster itu.
“Ini bukan tempat seenaknya kau bisa datang dan memaksa kami,” sanggah sang pemimpin geng itu.
“Aku bisa melumpuhkan kalian semua disini,” ancam Sou yang kemudian dibuktikan dengan dilumpuhkannya semua orang di ruangan itu hanya dalam waktu singkat.
Bos gangster itu akhirnya menyerah. Ia mau melakukan keinginan Sou.
“Ada yang ingin aku tanyakan,” ucap Sou.
“Ini bukan tempat seperti itu,” elak sang bos.
“Itu bukan pertanyaanku.”

Di apartemen, Yuki melihat-lihat foto lama bersama kakaknya, Eri. Di sebuah foto, tampak Yuki yang sedang menangis keras, sementara kakaknya di sebelahnya tersenyum. Yuki penasaran apa yang terjadi, tapi Eri juga tidak ingat. Ketika melihat gambar anjing di sampul album itu, Yuki kemudian ingat saat kejadian itu. Yuki menangis karena diganggu seekor anjing, dan Eri yang menolongnya mengusir anjing itu.
Ketika Maruo pulang, Yuki menceritakan semuanya pada Maruo. Yuki bertanya apa perlu menceritakan hal itu juga pada Sou, tapi Maruo menganggapnya tidak perlu, karena tidak ada hubungannya dengan Jinno.
Maruo terdiam.
“Jadi, akhirnya diketahui kalau pembunuhnya adalah Shigeo-kun?” Yuki mengalihkan pembicaraan.
“Aku tidak mempercayainya,” Maruo masih berkeras.
“Baru saja . . . ketika aku ingat kakakku yang menyelamatkanku dari anjing itu, itu pertama kali sejak aku kehilangan ingatan, aku merasa aman. Bahwa aku tidak sendirian. Jadi, Maruo, kau juga. Jika kau menganggap Shigeo-kun sebagai adikmu, aku ingin kau mempercayainya hingga akhir. Jangan biarkan ucapan Sou menggoyahkanmu. Dia tidak punya hati nurani. Aku yakin, darahnya berwarna hijau,” Yuki mencoba menenangkan Maruo.
“Jadi begitu? Seperti perkiraanku. Terimakasih Yuki-chan.”
Suasana berubah menjadi romantic. Yuki dan Maruo saling berpandangan. Maruo mendekat ke arah Yuki, tangannya terulur ke wajah Yuki . . . dan plak!
“Jangan mengambil keuntungan dariku!” bentak Yuki. (hahaha . . . rupanya playboy satu ini mencoba mencium Yuki)
“Aku telah mempelajari pelajaranku,” ujar Maruo sambil memegangi pipinya yang kena tampar Yuki. (wkwkwkwk . . . kasiaaaan deh Maruo)

Hari berikutnya,
Divisi investigasi khusus mendapat informasi kalau Shigeo berada di sebuah hotel. Mereka langsung bersiap untuk menyergapnya. Chef heran karena Sou tidak tampak.
“Sejak kemarin dia tidak bisa dihubungi,” jelas Reiji san.
“Maruo, kau mau ikut?” Tanya chef Otomo lagi, dan Maruo mengiyakan.
Sampai di parkir hotel tempat Shigeo berada, Maruo dikagetkan oleh seseorang. Ternyata Sou sudah berada disana.
“Apa yang kau lakukan?!”
“Diam!” Sou memaksa Maruo masuk ke mobilnya.
Sementara itu anggota divisi investigasi yang lain menggerebeg kamar tempat Shigeo berada, tapi ternyata tidak ada Shigeo disana. Hanya ditemukan seorang pria dengan tangan terikat dan mulut ditutup lakban.
Sou membawa Maruo di mobilnya. Maruo terkejut karena Shigeo juga sudah ada disana. Sou menjelaskan kalau benar bukan Shigeo pelaku pembunuhan itu. Dia hanya berada di tempat dan waktu yang salah. Sou mencurigai seseorang yang telah melakukan itu, tapi belum menceritakan detailnya siapa orang ini.

Sou membawa Maruo dan Shigeo ke sebuah pelabuhan sepi. Dia mencoba memancing pelaku pembunuhan sesungguhnya untuk keluar. Sementara Shigeo menunggu di dekat air, Sou dan Maruo bersembunyi di tempat tersembunyi dekat sana. Sou menceritakan bagaimana ia menginvestigasi dan menyelidiki perusahaan yang menyewa Furukawa dan akhirnya tahu apa yang terjadi.
Di tengah investigasi, tiba-tiba ponsel Sou berbunyi. Mau tidak mau ia mangangkatnya, dari ibunya. Menanyakan hal tidak mutu, tentang baju piyama yang diinginkan. Maruo yang melihat tingkah Sou, kesal.
“Siapa sebenarnya yang selalu menelepon saat investigasi?” protes Maruo.
“Itu bukan urusanmu!”

Yang ditunggu muncul. Maruo kaget, karena yang muncul adalah Kiuchi. Shigeo protes karena ia merasa dijebak oleh Kiuchi, sehingga akhirnya dialah yang dicurigai sebagai pembunuh Furukawa.
“Demi aku, matilah demi aku,” ancam Kiuchi pada Shigeo dengan senjata api.
“Anniki!” Maruo keluar dari persembunyiannya dengan senjata tertodong pula.
Kiuchi lalu menceritakan kalau ia melakukan semua ini demi keluarganya. Furukawa dan gang-nya itu yang mengancam akan merusak usaha dan keluarganya, sehingga dia melakukan ini. Kiuchi meminta Maruo untuk membebaskannya, karena ia masih memiliki keluarga.
Maruo diam saja, ia bimbang antara menangkap atau melepaskan Kiuchi. Kiuchi beranjak berlari. Sou keluar dari persembunyiannya, melihat Maruo tidak melakukan apa-apa ketika Kiuchi berusaha melarikan diri, Sou akhirnya melumpuhkan Kiuchi dengan menembak kakinya.
“Mulai sekarang . . . jangan biarkan Maruo melihatmu melarikan diri lagi. Jika keluargamu penting bagimu . . . demi mereka, jangan melarikan diri,” ujar Sou di depan Kiuchi.
Maruo lalu mengambil borgol di sakunya dan memborgol tangan Kiuchi.

Yuki, Maruo dan Sou mengantar Eri yang akan pulang di bandara. Sebelum pergi, Yuki mengajak Eri untuk membuat foto bersama. Sampai akhir, Eri tidak menceritakan pada Yuki alasan kenapa dulu Yuki begitu membenci Eri sebelum ia pergi ke US.
“Apa yang ia katakana?” Tanya Sou setelah melihat Eri pergi.
“Bukan suatu hal penting.”

“Jadi, dia (Yuki) mengingat masa lalunya ketika melihat foto ini?” Tanya Yuri memastikan sambil melihat foto yang disodorkan Maruo.
“Orang tuanya meninggal, dan dia hanya tinggal bersama kakaknya. Ketika Yuki di US, mereka sama sekali lost contact,” gumam Sou.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?” sambung Yuri. “Dan jika begitu, apapun yang terjadi sebelum Yuki berangkat ke US tidak ada hubungannya dengan hilangnya ingatan Yuki. “
“Itu benar. Bagian yang tidak ingin Yuki ingat tidak ada hubungannya dengan keluarganya,” komentar Sou.
“Hmm?” kali ini Maruo yang menyambung.
“Kekasih?” Tanya Yuri yang diiyakan Maruo.
Sementara Kiuchi dipenjara, Maruo, Shigeo dan Sou (dengan terpaksa) membantu usaha laundry Kiuchi. Ketika Maruo dan Shigeo menyeterika baju, Sou bertugas menjaga bayi anak Kiuchi. Dan dengan canggung Sou berusaha menenangkan bayi itu. (liat wajahnya aa Sun Oghuri ngemong bayi, kekekekeke . . . kocak banget)
Sementara itu, Yuki yang bekerja di café berada dalam bahaya. Salah seorang penjahat yang ada hubungannya dengan Jinno, mengyadari kehadiran Yuki.
0 komentar:
Posting Komentar