Chisato dan anak-anak Ohkura perlahan kompak menyelesaikan mother’s goals mereka. Takeru yang berbaikan dengan ayahnya memutuskan untuk keluar dari castle dan tinggal bersama ayahnya, hal ini membuat Chisato sangat sedih.
“Aku datang untuk menyampaikan pesan pada kalian semua. Sudah diputuskan kalau pembangunan proyek terbaru Miracle, Treasure Hunter akan dilakukan di area castle. Jadi kalian harus segera pindah,” ujar presdir Tokita.
“Apa?! Kenapa kami harus pergi dari sini?” protes Chisato.
“Itu sulit juga untukku.”
“Itu tidak tampak sulit untukmu,” komentar Chisato.
“Castle ini milik Oyaji-ayah!” lanjut Sho.
“Tidak! Tempat ini sebenarnya dibangun sebagai tempat peristirahatan milik perusahaan . . . ini property perusahaan,” ujar presdir Tokita sambil mengganti kaca matanya.
“Jadi ini tujuanmu yang sebenarnya?” tanya Fuu.
“Kalau begitu, silahkan tinggalkan tempat ini dalam 3 hari!”
“3 hari?!” Masaru tidak percaya.
“Kau pasti bercanda! Itu gila!” kali ini Satoru yang angkat bicara.
“Apanya yang gila?! Kalian semua sudah menggunakan property perusahaan! Setelah kalian semua gagal menjadi pewaris Sinzo-san . . . kalian harusnya siap untuk keadaan seperti ini. Permisi . . . “
“Kalau . . . kami tidak mau pergi?” ucap Fuu.
“Aku . . . akan memaksa kalian untuk keluar!” ucap presdir Tokita tajam.
Keluar dari ruang makan, presdir Tokita menemui Kokudo. Ia memberikan sebuah gear, “Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.”
“Apa?”
“Ini, gear untuk clock of terror-jam horror yang ada di trick heart castle.”
Fuu memandang ke arah lukisan Sinzo-san yang tergantung di dinding, diikuti anak-anak Ohkura yang lain, “Lihat itu. Hanya itu satu-satunya lukisan yang ia punya. Dia tidak menggantungnya di kantor utama Miracle, atau di rumahnya . . . dia menggantungnya di castle ini. Aku yakin, bagi ayah . . . tempat ini special. Mungkin itulah kenapa dia ingin kita tinggal disini. Castle ini, yang ditinggalkan ayah untuk kita . . . aku tidak akan membiarkan siapapun menghancurkannya. Ketika kita pergi dari castle ini . . . itu karena kita yang menginginkannya sendiri.”
Chisato berada di kamarnya sendirian. Ia masih memikirkan ucapan Fuu tadi. Ya, castle ini memang istimewa.
Seseorang mengetuk pintu, “Ini Sho.”
“Masuklah,” ucap Chisato merapikan rambutnya. (ehm . . .) “Ada apa?”
“Aku bukan kesini karena urusan pribadi . . . Takeru pergi, dan banyak yang terjadi, jadi . . . “
“Kau menghawatirkanku?”
“Kau mengingatkanku pada kucing nakal yang pernah kupelihara, Kirishima,” ujar Sho.
“Kirishima?” Chisato heran.
“Ah! Mungkin namanya Terao . . .”
“Keduanya adalah nama petarung sumo,” komentar Chisato tersenyum.
“Ah, itu lebih baik. Melihatmu tersenyum membuatku lebih baik. Itu yang dikatakan Masaru dan Satoru. Jangan salah paham,” Sho canggung.
“Kalau begitu, jangan khawatir lagi. Selamat malam,” Sho keluar dari kamar Chisato.
Diluar, Sho dikagetkan oleh Masaru. Rupanya Masaru menguping pembicaraan Sho dan Chisato.
“Aku tidak ingat bilang itu membuatku lebih baik,” protes Masaru.
Chisato dan kelima anak-anak Ohkura berkumpul di ruang makan. Mereka masih membicarakan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Sinzo-san dalam suratnya mengenai warisan bagi mereka.
“Kalau begitu, ayo selesaikan mother’s goals,” ujar Chisato.
“Huh? Bukankah ini waktunya pengacara Kyoko muncul . . . “ gumam Sho.
“Aku disini, selamat pagi,” pengacara Kyoko muncul di sisi lain ruangan dan seperti biasa mengagetkan seisi rumah.
“Mother's Goal, #7...” ucapan pengacara Kyoko terputus.
“Tunggu sebentar!” ucah Fuu.
“Wow! Dia bilang tunggu sebentar!” komentar Masaru.
“Ow ow, apa Fuu-kun akan mengakui perasaannya pada pengacara Kyoko?” kali ini komentar Satoru.
“Apa couple akan terjadi di saat seperti ini?” lanjut Akira.
Perlahan Fuu berdiri dan mulai mendekati pengacara Kyoko. Auranya berubah pink dan cemerlang. Tidak berbeda dengan pengacara Kyoko yang tersipu, menunggu apa yang akan diperbuat oleh Fuu.
“Ingat kau pernah melihat ini kan?” ucap Fuu sambil menunjukkan sebuah kepingan CD di depan pengacara Kyoko, membuat imajinasinya buyar seketika. “Video yang ditinggalkan ayah, merekomendasikan Tokita-san menjadi presdir perusahaan.”
“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?”
“Ku pikir, para pemilik saham memilih Tokita, yang tidak popular, itu aneh. Jadi aku mulai mencari . . . dan menemukan ini. Tapi itu aneh kan? Di surat yang aku terima, Tokita digambarkan sebagai orang jahat yang akan merebut Miracle. Aku tidak tahu kenapa dia membuat hal seperti ini. Ini seperti . . . dia membuat kami melawan Tokita. Apa yang direncanakan oleh ayah?” lanjut Fuu.
“Kyoko-san, tolong katakan pada kami,” pinta Chisato.
“Mother’s goals . . . “
“Jangan merubah pembicaraan,” sergah Satoru.
Pengacara Kyoko pun mulai menangis.
“Tangisan tidak akan bekerja,” ujar Akira.
“The mother’s goals, akan kalian lakukan atau tidak?” desak pengacara Kyoko kemudian.
“Iya, akan kami lakukan, tapi . . . “
“Mother's Goal, #7... bekerja sama, membuat penemuan,” pengacara Kyoko mengeluarkan gulungannya.
“Apa? Penemuan?!” Sho heran.
“Ini . . . cetak birunya,” pengacara Kyoko lalu mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang ternyata di dalamnya sudah ada cetak biru alat yang harus mereka buat bersama.
“Apa ini? Ini seperti . . . helm,” komentar Satoru.
“Lebih penting, apa yang kita bicarakan tadi . . . “ Fuu berbalik dan menemukan pengacara Kyoko sudah menghilang.
“Ah, Akira tidur,” komentar Chisato melihat Akira sudah terlelap di depannya.
Fuu (yang punya lisensi untuk banyak keahlian) mencoba membuat alat dari cetak biru yang diberikan pengacara Kyoko sebelumnya. Sementara itu anak-anak Ohkura yang lain malah main kartu, mereka tidak bisa membantu Fuu.
“Hei, coba ini,” ucap Fuu sambil menunjukkan sebuah benda mirip helm.
Tapi tidak ada yang mau mencobanya. Satoru mengajukan Masaru, yang otomatis ditolak mentah-mentah oleh Masaru. Akhirnya Satoru dan Sho memegangi Masaru agar Fuu bisa meletakkan helm itu di kepalanya.
“Bagaimana rasanya?” tanya Satoru.
“Biasa saja, tidak terjadi apapun,” ucap Masaru kemudian.
Tiba-tiba castle bergetar. Terdengar suara ledakan di suatu tempat, entah dimana bagian castle itu. Fuu, Sho, Masaru dan Satoru mencari sumber suara itu, dan menemukan . . . ruangan tempat Chisato biasa tidur . . . meledak.
“Ini . . . sangat berbahaya,” gumam Satoru.
“Woah, ruangannya rusak parah,” ujar Sho.
“Jamnya juga meledak,” sambung Fuu.
“Untung saja Chisato tidak sedang berada disini,” lanjut Masaru.
“Kenapa kau minta bertemu selarut ini?” tanya Chisato yang datang ke kantor menemui presdir Tokita.
“Apa kau sudah mengepak barang-barangmu?” tanya presdir Tokita.
“Kami tidak berniat untuk pergi.”
“Sebenatar lagi . . . 3 hari yang aku janjikan akan tiba. Tidak peduli yang terjadi, aku akan tetap menghancurkan castle. Aku . . . serius.”
“Rancangan awal Treasure Hunter di tempat lain kan? Kenapa kau malah memilih memindahkannya ke castle itu?” tanya Chisato kemudian.
“Karena castle itu penting. Aku bergabung di Miracle untuk memenangkannya dari Ohkura Sinzo. Aku akan . . . mengambil semuanya darinya. Nanti . . . aku akan datang dengan bulldozer. Kalau kau bisa meyakinkan yang lain untuk meninggalkan castle . . . aku akan menjamin masa depan mereka . . . “ ucap presdir Tokita menarik perhatian Chisato. “Untuk Akira-kun, aku akan memindahkan dia ke rumah lain dengan banyak pelayan. Aku akan membiayainya hingga universitas. Untuk Satoru-kun, aku mempersiapkan untuk mengirimnya ke Broadway, mempelajari sulap. Termasuk Takeru-kun, yang lain sudah dewasa . . . jadi aku akan membayar kompensasi dengan jumlah besar di rekening mereka masing-masing.”
Chisato terdiam mendengar penjelasan presdir Tokita.
“Aku tidak peduli kalau kau tetap memilih castle. Tapi aku yakin . . . memikirkan masa depan anak-anaknya . . . adalah hal paling penting bagi seorang ibu.”
“Siapa yang melakukan ini?!”
“Maaf, aku yang melakukannya,” ucap Kokudo yang muncul di pintu yang sudah rusak itu.
“Apa? Kokudo! Apa yang kau lakukan?!” Sho kesal.
“Aku tidak tahu kalau ini akan meledak.”
“Jangan buat alasan!” sambung Satoru.
“Tokita-san memanggilku kemarin. Dia memberikan gear untuk clock of terror. Aku pikir itu akan menghentikan suara dentang jam yang mengerikan itu . . . Chisato bilang kalau suara terlalu keras, jadi dia kurang istirahat, jadi . . . tapi aku tidak berpikir itu akan meledakkan jamnya,” ucap Kokudo merasa bersalah.
“Tokita, si baj***n itu!” geram Satoru.
“Ini . . . peringatan untuk kita, apa kita peduli dengan apa yang terjadi pada Chisato,” gumam Fuu kemudian.
Chisato kembali ke castle setelah menemui presdir Tokita. Di ruang makan ia sudah ditunggu oleh kelima anak-anak Ohkura. Chisato mulai bicara untuk meyakinkan mereka berlima, “Tidakkah . . . kita seharusnya meninggalkan tempat ini? Tokita-san mengatakan kalau kita tidak segera pergi, dia akan memaksa kita. Jika itu terjadi, mungkin salah satu dari kita akan terluka, dan . . . “
“Apa Tokita mengatakan sesuatu padamu?” tanya Sho.
“Tidak. Tapi, tempat ini akan segera dihancurkan. Jika itu terjadi, kita tetap harus pergi.”
“Tidak peduli apa yang terjadi, kami akan tetap tinggal. Kami sudah memutuskannya. Meski kami harus menahannya dengan tubuh kami, kami akan melindungi castle ini,” ujar Masaru.
“Itu tidak mungkin!” elak Chisato.
“Kita tidak akan tahu kalau itu tidak mungkin, tanpa pernah mencobanya,” lanjut Akira.
“Hei, ayo kita berhenti saja?” pinta Chisato lagi. “Meski kita pergi, bukan berarti kita tidak bisa bertemu lagi.”
“Kalau kau merasa begitu, silahkan pergi,” ucap Fuu.
“Aku setuju,” lanjut Satoru.
“Kami sudah sepakat. Kami tidak punya hubungan dengan orang yang hanya ingin melarikan diri,” ucap Sho. “Tokita-san benar-benar mengatakan sesuatu padamu kan?”
“Itu benar . . . seperti menuliskan cek sejumlah 100 juta yen,” sambung Masaru.
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Itu mungkin saja. Dia awalnya datang kesini untuk uang kan. Mungkin juga dia sudah mengkhianati kita,” ucap Satoru.
“Aku tidak pernah mengkhianati kalian. Kita keluarga!” Chisato mulai terbakar amarah.
“Kau salah. Kita bukan keluarga. Kita hanya orang aneh yang tidak saling kenal dan tinggal bersama,” Sho lalu melemparkan tas berisi barang-barang Chisato. “Ini. Kami sudah mengepak barang-barangmu. Tidakkah kau lega, tidak perlau lagi mengambilnya dari ruanganmu?”
“Jadi kalian memang berniat mengusirku dari awal?” tanya Chisato balik.
“Kami tidak main-main. Semuanya sudah selesai!” lanjut Sho.
Chisato akhirnya pergi dari castle. Di depan, ia sempat melihat kembali castle itu sebentar sebelum benar-benar pergi. Kokudo yang menyaksikan semuanya tidak bisa bicara apapun. Ternyata anak-anak Ohkura yang lain memperhatikan kepergian Chisato dari atas …
“Tidakkah kita terlalu jahat pada Chisato?” gumam Masaru.
“Well, ini yang terbaik untuknya. Kita harus melindunginya. Kita tidak bisa membiarkannya terlibat lebih jauh,” sambung Sho.
“Tapi, saat dia meminta kita untuk pergi darisini, aku pikir dia pasti melakukannya untuk kita juga. Pasti ada alasan untuk itu,” lanjut Satoru.
“Apa lagi sekarang? Kita tidak bisa bergantung lagi dengan mother’s goals lagi. Kita hanya bisa melindungi castle semampu kita. Tidak peduli yang terjadi, kita harus mengeluarkan Chisato dari castle dengan aman,” ujar Fuu.
“Kenapa kalian melakukan semua ini?!” protes Kokudo yang ternyata mendengarkan pembicaraan mereka dan menyaksikan semua kejadian tadi.
“Ini aneh kan? Karena kami keluarga,” Sho keceplosan.
“Apa?”
Chisato ternyata menuju tempat tinggal Takeru. Dia bersembunyi di sisi dinding. Chisato melihat Takeru yang baru pulang belanja bersama ayahnya, mereka tampak gembira. Saat Chisato beranjak pergi, Takeru memanggilnya.
“Shortie! Itu benar kau rupanya. Ada apa?” tanya Takeru.
“Kalian tampak baik-baik saja, aku lega,” ucap Chisato canggung.
“Kau tidak datang kesini hanya untuk mengatakan hal itu kan?” Takeru melirik tas besar yang dibawa Chisato. “Apa sesuatu terjadi?”
“Aku diusir dari castle,” akhirnya Chisato jujur.
“Diusir?!” Takeru heran.
“Castle akan dihancurkan.”
“Tunggu dulu! Apa yang kau bicarakan?” Takeru penasaran.
“Tokita-san memutuskan menggunakan area castle untuk dijadikan tempat proyek terbaru Miracle, dan . . . “
“Kalian semua diusir?”
“Hanya aku. Yang lain bilang mereka akan tetap bertahan,” ujar Chisato.
“Bertahan? Aku tahu . . . “ gumam Takeru. “Jadi, apa kau membutuhkan sesuatu dariku?”
“Tidak, aku hanya ingin bertemu denganmu. Lega melihatmu baik-baik saja. Sampai jumpa,” Chisato lalu beranjak pergi.
Takeru memperhatikan Chisato dari kejauhan. Ia memikirkan castle dan anak-anak Ohkura yang lain.
Presdir Tokita datang ke net-café dan memperkenalkan diri sebagai presdir Miracle yang baru. (jangan heran dengan ekspresinya, doski kadang2 memang aneh gto, hihihi), “Kalian pernah melamar kerja ditempatku kan? Kau dipekerjakan, kau dipekerjakan . . . “ presdir Tokita menunjuk nyaris semua personil net-café.
“Kami akan bekerja dengan baik,” ucap Heiji semangat.
“Aku ingin kalian berpartisipasi dalam evakuasi dan rebuilding di caslte. Kalau kalian sukses . . . aku akan benar-benar membatalkan semua hutang Chisato-san,” ujar presdir Tokita.
“Tunggu dulu! Bukankah ini berarti kita menghianati Chisato?” tanya Heiji kemudian.
“Kita tidak bisa melakukan itu padanya,” sambung yang lain.
“Kalian akan . . . menyelamatkannya, menjadi pahlawannya,” bujuk presdir Tokita lagi.
Chisato pergi ke rumah paman pemilik kebun, Yoshio-san. Ia minta izin untuk menginap disana. Tapi Chisato beum menceritakan apa yang terjadi.
“Tidak biasanya kau menginap disini,” komentar Yoshio-san.
“Ah itu . . . aku akan membantumu di kebun besok,” ujar Chisato mengalihkan pembicaraan.
Di castle, Fuu masih mencoba menyelesaikan alat buatannya. Seperti biasa ia bekerja sendiri, tapi kali ini ditemani Sho.
“Sho, apa kau menyukai Chisato?” tanya Fuu.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Sho heran.
“Aku hanya berpikir . . . Satoru dan Masaru benar-benar menyukainya. Chisato . . . sebenarnya wanita yang baik. Dia manis . . . Dia juga akan menangis untuk orang lain,” puji Fuu.
“Jangan bilang, kau juga menyukainya?” Sho curiga.
Fuu tersenyum, mengelak, “Kau yang aneh.”
Paginya, Chisato sudah bangun. Dia berniat membereskan futon dan alas tidurnya yang lain. Ketika membuka lemari penyimpanan, Chisato menemukan sesuatu, “Miracle Tear Gas Spray? Kenapa ada disini?” gumam Chisato. Chisato ternyata juga menemukan barang lain, dan sebuah foto.
“Selamat pagi. Ada apa?” Yoshio-san datang, tapi ia langsung terdiam melihat Chisato memegang foto itu.
“Waktu untuk menceritakan semuanya sudah tiba,” komentar pengacara Kyoko yang tiba-tiba muncul.
Yoshio-san, pengacara Kyoko dan Chisato berkumpul di ruang tamu. Yoshio-san memulia ceritanya.
“Sinzo dan aku adalah teman sejak sekolah dulu. Dia sering datang dan menginap disini. Dia bertemu denagn Shiho-chan disini,” ujar Yoshio-san.
“Okaa-san—ibu dan Sinzo-san?” Chisato heran.
“Dengan cepat mereka akrab, bahkan seperti saudara. Limabelas tahun kemudian . . . Sinzo-san bertemu lagi dengan Shiho-san tidak sengaja. Shiho-san mencintai Sinzo-san selama ini. Shiho-san satu-satunya orang yang bisa mengerti Sinzo-san. Dia kemudian melamar Shiho-san,” lanjut pengacara Kyoko.
“Melamar?”
“Mereka berdua akan menikah. Tapi waktu itu … muncul seorang wanita. Dia datang seorang anak, yang merupakan anak Sinzo,” ucap Yoshio-san.
“Dia . . . Fuu-kun. Itu untuk pertama kalianya Sinzo-san mengetahui keberadaan Fuu-kun. Tentu saja, dia menceritakan semuanya pada Shiho-san. Tapi Shiho-san . . . tiba-tiba menghilang. Saat itu Shiho-san tengah hamil, anak dari Sinzo-san,” ujar pengacara Kyoko.
“Apa?!”
“Dia mungkin menghilang karena tidak ingin Sinzo-san tahu mengenai kehamilannya. Sinzo-san mengetahuinya setelah Shiho-san meninggal dunia.”
“Apa kau bilang . . . anak itu . . . “
“Chisato . . . itu kau. Kau putri dari Ohkura Sinzo,” lanjut pengacara Kyoko.
“Apa yang kau katakan? Tapi . . . ayahku . . . “ ucapan Chisato terputus.
“Mineta Toru adalah lelaki yang dinikahi ibumu setelah kau lahir, ayah tirimu,” ujar pengacara Kyoko.
“Maaf, aku tidak pernah mengatakan ini padamu,” sesal Yoshio-san.
“Ini bukan kesalahnmu Yoshio-san. Kau hanya mengikuti apa keinginan Sinzo-san saja. Itu bukan kebetulan kau bertemu Sinzo-san. Ketika dia tahu kau dikejar oleh para penagih hutang, dia mencarimu.”
“Kenapa dia tidak pernah bilang kalau dia ayahku?!” protes Chisato.
“Mungkin dia merasa lebih baik begini. Mungkin saja kau akan menolaknya dan melarikan diri kalau dia mengatakan yang sebenarnya. Dia mungkin hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya bersamamu, putrinya.”
“Tapi, aku menikah dengan Sinzo-san . . .
“Aplikasi pernikahan itu . . . tidak pernah dilaporkan secara resmi,” pengacara Kyoko mengeluarkan aplikasi pernikahan yang pernah ditandatangani dulu. “Itulah kisah yang sebenarnya,” pengacara Kyoko menutup ceritanya.
Chisato tentu saja kaget dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia kontan lari keluar rumah Yoshio-san. Chisato masih sulit mempercayai apa yang terjadi sebenarnya. (omo . . . fakta yang tidak terduga sama sekali)
Anak-anak Ohkura berkumpul di ruang sauna. Mereka mengobrol santai, sambil mengenang Chisato dan Takeru yang sudah pergi dari castle. Sebenarnya . . . mereka merasa kehilangan. Tirai di pintu sauna berkibar.
“Itu terbuka. Sho, tutup pintunya,” pinta Fuu.
Sho beranjak ke pintu, dan dikagetkan oleh kehadiran seseorang yang tidak asing lagi.
“Yo! Jangan khawatir! Aku akan membuat keajaiban lagi!” ucap Takeru membuat kaget seisi sauna.
“Takeru!” ucap mereka kompak.
Takeru meledek mereka yang merindukannya. Yang lain tentu saja mengelak kalau mereka merindukan Takeru, dan seperti biasa mereka kembali bertengkar hal tidak jelas.
Tiba-tiba presdir Tokita muncul dari monitor yang ada di sauna itu, “Kalian tampak sehat. Sepertinya aku harus membawa banyak prajurit besok.”
“Kami tidak akan kalah dengan orang sepertimu!” ujar Takeru.
“Kalian tampak percaya diri sekali. Kalau begitu, aku katakana sesuatu yang baru saja aku dengar . . . Chisato-san, tidak pernah benar-benar menikah dengan Ohkura Sinzo-san,” pancing presdir Tokita.
“Apa? Apa yang kau bicarakan? Kalau kau ingin impas, katakana kebohongan yang lebih baik,” tantang Sho.
“Itu bukan kebohongan! Dan kalau aku ingin impas, aku akan mengatakan . . . sesuatu yang lebih menarik.”
“Cukup!” gertak Fuu, sambil duduk menutupi layar di ruangan itu dengan tubuhnya.
“Kalau kau ingin menyemangati yang lain . . . tidak baik menutup rahasia pada mereka!” ujar presdir Tokira.
“Apa yang dia maksud dengan rahasia? Hei!” Takeru penasaran.
“Fuu-jun . . . juga tahu kan? Chisato-san adalah . . . putri dari Ohkura Sinzo-san.
“Apa?!” anak-anak Ohkura yang lain kompak.
Fuu lalu menunjukkan lembaran berikutnya surat yang pernah dikirimkan Sinzo-san untuknya. Disitu dikatakan tentang siapa sebenarnya Chisato. (kalau begini ceritanya, artinya Fuu adalah kakak laki-laki Chisato, satu ayah dan beda ibu? Jadi itu kenapa awalnya Fuu benci pada Chisato, lebih tepatnya cemburu karena Sinzo-san mengakui Chisato dan mengabaikannya . . . hmmm)
“Kenapa kau tidak bilang dari awal? Setelah semua kekacauan ini. Dan lebih penting, Chisato sendiri tidak tahu!” protes Sho.
“Dia bukan ibuku . . . “ gumam Akira.
“Aku tidak tahu yang terjadi!” ucap Satoru kesal.
“Aku juga,” sambung Masaru.
“Bukankah lebih baik begini? Dia bukan ibu kalian, jadi kalian bisa mengungkapkan perasaan kalian padanya dengan leluasa,” usul Takeru pada Masaru dan Satoru.
“Apa kau membercandaiku? Ini bukan hal yang bisa dirubah dengan mudah!” elak Satoru.
“Dia bukan ibuku,” gumam Akira lagi.
“Ini akan membuatmu panic kan? Benar, kau juga menyukai shortie-Chisato juga kan?” ujar Takeru pada Sho.
“Huh? Apa yang kau bicarakan?”
“Jangan sembunyikan lagi. Kau menciumnya kan?” tembak Takeru.
“Apa itu? C-ciuman? Apa yang kau bicarakan adalah ciuman tidak sengaja waktu Kokudo mendorongnya?” tanya Satoru panic.
“Bukan! Kali ini dia sengaja melakukannya, tepat di bibir,” lanjut Takeru.
Tidak! Itu hanya . . . kecelakaan . . . “ elak Sho lagi.
Satoru tanpa aba-aba melayangkan pukulan ke wajah Sho, “Apa yang sebenarnya kau rasakan pada Chisato?!”
Masaru mendekat dan mencengkeram kerah baju Sho, “Berikan jawaban yang jelas! Mengatakan kau akan membantuku dulu, itu Cuma alasan?”
“W-waktu itu, aku . . . “ ucapan Sho terputus.
“Waktu itu. Bagaimana sekarang?” sambung Satoru.
Akira mulai bergumam lagi soal Chisato yang bukan ibunya.
“Dia bukan . . . ibumu. Iya, kita sudah mengatakannya. Jangan bilang kau benar-benar menganggapnya sebagai ibumu?” tanya Takeru apa Akira.
“Siapa yang peduli kalau iya,” ujar Akira lalu beranjak pergi.
Satoru dan Masaru beranjak pergi. Mereka masih kesal pada Sho.
“Semua ini karenamu, bodoh!” ujar Sho sambil mencengkeram kerah baju Takeru.
“Kenapa salahku?”
“Kenapa kau mengatakan hal seperti itu pada mereka?”
“Sudahlah!” Fuu berusaha menengahi.
“Semua ini karenamu!” ucap Sho dan Takeru kompak ke arah Fuu.
Kokudo kembali ke net-café. Ia heran karena anak buahnya berkurang derastis. Yang tersisa mengatakan kalau mereka pindah kerja pada Miracle. Tidak lama setelahnya Chisato datang, tapi ia mengabaikan panggilan Kokudo dan yang lain. Chisato seperti biasa bersembunyi di salah satu box net-café itu. Chisato masih belum bisa sepenuhnya percaya kalau Sinzo-san adalah ayah kandungnya. Ia memikirkan hari-hari yang pernah ia habiskan bersama Sinzo-san dulu.
“Kapan terakhir kali kau menangis Chisato?” tanya Sinzo-san.
“Mungkin waktu ibuku meninggal. Itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Bagaimana denganmu Sinzo-san?”
“Mungkin saat seseorang yang aku cintai meninggal dunia.”
“Oh, kau punya orang seperti itu?” tanya Chisato lagi.
“Ya. Satu-satunya orang yang aku cintai . . . adalah dia . . . dan kau, Chisato. Aku senang sekarang. Aku ingin kau menjadi orang baik, yang akan menangis untuk orang lain.”
“Kedengarannya seperti sesuatu yang biasa dikatakan seorang ayah,” komentar Chisato.
“Benarkah? Seperti seorang ayah?” Sinzo-san senang.
Ayah Chisato, Mineta Toru-san muncul. Ia membuat kerusuhan di net-café, mengundang perhatian Chisato. Chisato akhirnya keluar dari persembunyiannya, dan mereka bicara berdua di luar.
“Yoshio-san mengatakan padamu untuk datang kesini kan? Kau dengar darinya kan? Kenapa kau tidak mengatakan padaku . . . kalau aku bukan putrid kandungmu?”cecar Chisato.
“Ibumu adalah wanita yang luar biasa. Dia bukan tipe orang yang mudah jatuh cnta. Tapi aku kemudian mengerti kenapa. Dia hamil . . . tapi tidak mau mengatakan siapa nama ayah bayinya, dan . . . dia juga belum menikah. Jadi aku pikir ini peluangku, jadi aku menikahi ibumu. Ibumu perlahan jatuh cinta padaku. Tidak penting kita tidak memiliki hubungan darah, meski kita terpisah sangat jauh, hati kita akan tetap saling terpaut, itu rahasia dibalik namamu. Tidak peduli yang orang katakan . . . aku tetap ayahmu. Bagus ya, aku bisa mengatakan hal baik seperti tiu. Maaf, harusnya aku mengatakannya padamu sejak awal,” ucap Mineta-san.
“Alasan kau terlibat judi . . . itu untuk ibuku?” selidik Chisato.
“Tidak,” elak Mineta-san.
“Yoshio-san mengatakannya padaku. Dia bilang sebelum ibu sakit, kau adalah orang yang sangat bertanggungjawab. Kau benar-benar . . . mencintainya kan?” lanjut Chisato.
“Tidak penting yang terjadi padaku. Bagaimana denganmu?”
“Aku diusir dari rumah itu. Mereka bilang tidak bisa percaya pada wanita yang datang karena uang,” ucap Chisato.
“Bodoh! Saat laki-laki mengatakan hal menyakitkan seperti itu . . . pasti ada alasannya. Ingat saja hal-hal yang pernah terjadi saat kau disana. Tidak peduli apa yang dikatakan . . . waktu yang kalian habiskan bersama, tidak palsu,” ujar Menata-san bersemangat.
“Menurutmu kenapa Sinzo-san membangung castle dengan banyak trik seperti itu?” gumam Chisato.
“Entahlah.”
“Dia bilang, dia tidak ingin menganggap hal biasa menjadi biasa saja. Dia ingin orang merasa disini, sekarang, sesuatu tak terlupakan,” ujar Chisato lagi.
“Apa kau tidak apa-apa kalau castle itu lenyap? Apa kau tidak apa-apa, tidak menyelamatkan anak-anak itu? Siapa yang akan membayar hutangku? Aku lelah dikejar penagih hutang terus,” pinta Mineta-san.
“Jadi itu alasanmu sebenarnya?” Chisato lalu memukul ayahnya. (jangan ditiru ya)
“Tidak bisakah kau bersikap lebih baik?”
“Tidak. Lagipula aku anakmu. Ah, menyebalkan punya ayah sepertimu!” ucap Chisato sambil beranjak pergi dengan tersenyum.
Mineta-san memandangi kepergian Chisato sambil tersenyum, “Bekerja keraslah untuk membayar hutang itu!”
(well, kisah ayah anak yang akhirnya berbaikan lagi. Jadi sebenarnya, ayah Chisato ini ga jahat-jahat amat ya, dia melakukan semua itu demi ibu Chisato yang sangat ia cintai. Toh sebenarnya, Mineta-san ini selalu menghawatirkan anak perempuannya satu ini )
Takeru sedang berada di depan castle. Ia memasang pagar untuk mencegah para perusak masuk. Sebuah suara terdengar, Takeru lalu beranjak masuk. Sho, Masaru dan Satoru ada di ruangan mereka masing-masing. Sebuah suara membuat ketiganya bersemangat menuju ruang makan.
“Dia kembali! Chisato . . . !” teriak mereka kompak. “Selamat datang!”
Seseorang dengan pakaian ala China berdiri di ruang makan. Ia menghadap ke arah Akira, kemudian berbalik, “Maaf membuat kalian lama menunggu,” ternyata Inoue-san sang pelayan.
“Itu kau?” Satoru kecewa.
“Kau menghancurkan harapanku,” sambung Masaru.
Inoue-san yang sudah senang kerena disambut, mendadak kecewa. Hahahaha . . .
“Hei, mereka ada di depan!” teriak Takeru mengagetkan seisi rumah.
Anak-anak Ohkura kemudian menuju depan. Mereka menemukan Tokita-san (dengan kostum anehnya) bersama para pekerjanya sudah siap untuk menggempur castle.
“Wow, mereka banyak sekali!” komentar Sho.
“Anggota keluarga Ohkura . . . aku sudah mengingatkan kalian untuk segera pindah! Aku tidak bisa menunggu lagi. Kali ini aku akan memaksa kalian untuk pergi! Mulai!” perintah Tokita-san.
“Kita tidak bisa melawan mereka sebanyak ini!” ucap Masaru.
“Kita harus bergegas packing,” ujar Fuu pula.
“Aku sudah mempersiapkan bendera putih,” sambung Akira.
Pasukan pekerja Tokita meringsek masuk. Anak-anak Ohkura buru-buru masuk dan mengunci castle dari dalam. Tiba-tiba sebuah bulldozer datang, menghentikan aksi para pekerja itu. Dua orang yang lengkap dengan kostum dan tutup kepala mereka keluar. Tidak lupa keduanya membawa semprotan gas air mata. Dan . . . mulai menyemprotkan gas air mata ke arah kerumunan para pekerja itu.
Chisato berdiri di balkon, ia melihat ke arah Tokita-san yang ada di bawah. Chisato melepas helm pelindungnya dan menatap tajam. (mungkin gini kalimatnya . . . lihat ya, kita ga bakalan nyerah sama orang kaya elo, kekeke. Chisato kemudian beranjak mengatakan password dan masuk castle.
“Serahkan saja sisanya padaku,” ucap Kokudo meyakinkan Chisato.
“Tempat ini adalah rumahku. Aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun!” ucap Chisato mantap sebelum pintu castle itu kembali tertutup.
“Aku pulang,” Chisato melihat keenam anak-anak Ohkura berurai air mata. “Kalian tidak perlu terlalu senang begitu dengan kepulanganku.”
“Kau salah! Gas air mata itu terlalu kuat,” elak Takeru mengusap air matanya.
“Jangan asal semprot dong!” protes Sho pula.
Masaru menahan tangis sambil mengusapnya dengan syal di lehernya, “Satoru, jangan nangis beneran dong!”
“Aku tidak nangis!” ucap Satoru menahan air matanya. (disini paling keren gaya nangisnya Satoru, imutnya . . . utuk utuk utuk)
Sementara itu Akira dan Fuu juga ikut menangis di sebelah mereka.
“Aku datang untuk menyampaikan pesan pada kalian semua. Sudah diputuskan kalau pembangunan proyek terbaru Miracle, Treasure Hunter akan dilakukan di area castle. Jadi kalian harus segera pindah,” ujar presdir Tokita.
“Apa?! Kenapa kami harus pergi dari sini?” protes Chisato.
“Itu sulit juga untukku.”
“Itu tidak tampak sulit untukmu,” komentar Chisato.
“Castle ini milik Oyaji-ayah!” lanjut Sho.
“Tidak! Tempat ini sebenarnya dibangun sebagai tempat peristirahatan milik perusahaan . . . ini property perusahaan,” ujar presdir Tokita sambil mengganti kaca matanya.
“Jadi ini tujuanmu yang sebenarnya?” tanya Fuu.
“Kalau begitu, silahkan tinggalkan tempat ini dalam 3 hari!”
“3 hari?!” Masaru tidak percaya.
“Kau pasti bercanda! Itu gila!” kali ini Satoru yang angkat bicara.
“Apanya yang gila?! Kalian semua sudah menggunakan property perusahaan! Setelah kalian semua gagal menjadi pewaris Sinzo-san . . . kalian harusnya siap untuk keadaan seperti ini. Permisi . . . “
“Kalau . . . kami tidak mau pergi?” ucap Fuu.
“Aku . . . akan memaksa kalian untuk keluar!” ucap presdir Tokita tajam.
Keluar dari ruang makan, presdir Tokita menemui Kokudo. Ia memberikan sebuah gear, “Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.”
“Apa?”
“Ini, gear untuk clock of terror-jam horror yang ada di trick heart castle.”
Fuu memandang ke arah lukisan Sinzo-san yang tergantung di dinding, diikuti anak-anak Ohkura yang lain, “Lihat itu. Hanya itu satu-satunya lukisan yang ia punya. Dia tidak menggantungnya di kantor utama Miracle, atau di rumahnya . . . dia menggantungnya di castle ini. Aku yakin, bagi ayah . . . tempat ini special. Mungkin itulah kenapa dia ingin kita tinggal disini. Castle ini, yang ditinggalkan ayah untuk kita . . . aku tidak akan membiarkan siapapun menghancurkannya. Ketika kita pergi dari castle ini . . . itu karena kita yang menginginkannya sendiri.”
Chisato berada di kamarnya sendirian. Ia masih memikirkan ucapan Fuu tadi. Ya, castle ini memang istimewa.
Seseorang mengetuk pintu, “Ini Sho.”
“Masuklah,” ucap Chisato merapikan rambutnya. (ehm . . .) “Ada apa?”
“Aku bukan kesini karena urusan pribadi . . . Takeru pergi, dan banyak yang terjadi, jadi . . . “
“Kau menghawatirkanku?”
“Kau mengingatkanku pada kucing nakal yang pernah kupelihara, Kirishima,” ujar Sho.
“Kirishima?” Chisato heran.
“Ah! Mungkin namanya Terao . . .”
“Keduanya adalah nama petarung sumo,” komentar Chisato tersenyum.
“Ah, itu lebih baik. Melihatmu tersenyum membuatku lebih baik. Itu yang dikatakan Masaru dan Satoru. Jangan salah paham,” Sho canggung.
“Kalau begitu, jangan khawatir lagi. Selamat malam,” Sho keluar dari kamar Chisato.
Diluar, Sho dikagetkan oleh Masaru. Rupanya Masaru menguping pembicaraan Sho dan Chisato.
“Aku tidak ingat bilang itu membuatku lebih baik,” protes Masaru.
Chisato dan kelima anak-anak Ohkura berkumpul di ruang makan. Mereka masih membicarakan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Sinzo-san dalam suratnya mengenai warisan bagi mereka.
“Kalau begitu, ayo selesaikan mother’s goals,” ujar Chisato.
“Huh? Bukankah ini waktunya pengacara Kyoko muncul . . . “ gumam Sho.
“Aku disini, selamat pagi,” pengacara Kyoko muncul di sisi lain ruangan dan seperti biasa mengagetkan seisi rumah.
“Mother's Goal, #7...” ucapan pengacara Kyoko terputus.
“Tunggu sebentar!” ucah Fuu.
“Wow! Dia bilang tunggu sebentar!” komentar Masaru.
“Ow ow, apa Fuu-kun akan mengakui perasaannya pada pengacara Kyoko?” kali ini komentar Satoru.
“Apa couple akan terjadi di saat seperti ini?” lanjut Akira.
Perlahan Fuu berdiri dan mulai mendekati pengacara Kyoko. Auranya berubah pink dan cemerlang. Tidak berbeda dengan pengacara Kyoko yang tersipu, menunggu apa yang akan diperbuat oleh Fuu.
“Ingat kau pernah melihat ini kan?” ucap Fuu sambil menunjukkan sebuah kepingan CD di depan pengacara Kyoko, membuat imajinasinya buyar seketika. “Video yang ditinggalkan ayah, merekomendasikan Tokita-san menjadi presdir perusahaan.”
“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?”
“Ku pikir, para pemilik saham memilih Tokita, yang tidak popular, itu aneh. Jadi aku mulai mencari . . . dan menemukan ini. Tapi itu aneh kan? Di surat yang aku terima, Tokita digambarkan sebagai orang jahat yang akan merebut Miracle. Aku tidak tahu kenapa dia membuat hal seperti ini. Ini seperti . . . dia membuat kami melawan Tokita. Apa yang direncanakan oleh ayah?” lanjut Fuu.
“Kyoko-san, tolong katakan pada kami,” pinta Chisato.
“Mother’s goals . . . “
“Jangan merubah pembicaraan,” sergah Satoru.
Pengacara Kyoko pun mulai menangis.
“Tangisan tidak akan bekerja,” ujar Akira.
“The mother’s goals, akan kalian lakukan atau tidak?” desak pengacara Kyoko kemudian.
“Iya, akan kami lakukan, tapi . . . “
“Mother's Goal, #7... bekerja sama, membuat penemuan,” pengacara Kyoko mengeluarkan gulungannya.
“Apa? Penemuan?!” Sho heran.
“Ini . . . cetak birunya,” pengacara Kyoko lalu mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang ternyata di dalamnya sudah ada cetak biru alat yang harus mereka buat bersama.
“Apa ini? Ini seperti . . . helm,” komentar Satoru.
“Lebih penting, apa yang kita bicarakan tadi . . . “ Fuu berbalik dan menemukan pengacara Kyoko sudah menghilang.
“Ah, Akira tidur,” komentar Chisato melihat Akira sudah terlelap di depannya.
Fuu (yang punya lisensi untuk banyak keahlian) mencoba membuat alat dari cetak biru yang diberikan pengacara Kyoko sebelumnya. Sementara itu anak-anak Ohkura yang lain malah main kartu, mereka tidak bisa membantu Fuu.
“Hei, coba ini,” ucap Fuu sambil menunjukkan sebuah benda mirip helm.
Tapi tidak ada yang mau mencobanya. Satoru mengajukan Masaru, yang otomatis ditolak mentah-mentah oleh Masaru. Akhirnya Satoru dan Sho memegangi Masaru agar Fuu bisa meletakkan helm itu di kepalanya.
“Bagaimana rasanya?” tanya Satoru.
“Biasa saja, tidak terjadi apapun,” ucap Masaru kemudian.
Tiba-tiba castle bergetar. Terdengar suara ledakan di suatu tempat, entah dimana bagian castle itu. Fuu, Sho, Masaru dan Satoru mencari sumber suara itu, dan menemukan . . . ruangan tempat Chisato biasa tidur . . . meledak.
“Ini . . . sangat berbahaya,” gumam Satoru.
“Woah, ruangannya rusak parah,” ujar Sho.
“Jamnya juga meledak,” sambung Fuu.
“Untung saja Chisato tidak sedang berada disini,” lanjut Masaru.
“Kenapa kau minta bertemu selarut ini?” tanya Chisato yang datang ke kantor menemui presdir Tokita.
“Apa kau sudah mengepak barang-barangmu?” tanya presdir Tokita.
“Kami tidak berniat untuk pergi.”
“Sebenatar lagi . . . 3 hari yang aku janjikan akan tiba. Tidak peduli yang terjadi, aku akan tetap menghancurkan castle. Aku . . . serius.”
“Rancangan awal Treasure Hunter di tempat lain kan? Kenapa kau malah memilih memindahkannya ke castle itu?” tanya Chisato kemudian.
“Karena castle itu penting. Aku bergabung di Miracle untuk memenangkannya dari Ohkura Sinzo. Aku akan . . . mengambil semuanya darinya. Nanti . . . aku akan datang dengan bulldozer. Kalau kau bisa meyakinkan yang lain untuk meninggalkan castle . . . aku akan menjamin masa depan mereka . . . “ ucap presdir Tokita menarik perhatian Chisato. “Untuk Akira-kun, aku akan memindahkan dia ke rumah lain dengan banyak pelayan. Aku akan membiayainya hingga universitas. Untuk Satoru-kun, aku mempersiapkan untuk mengirimnya ke Broadway, mempelajari sulap. Termasuk Takeru-kun, yang lain sudah dewasa . . . jadi aku akan membayar kompensasi dengan jumlah besar di rekening mereka masing-masing.”
Chisato terdiam mendengar penjelasan presdir Tokita.
“Aku tidak peduli kalau kau tetap memilih castle. Tapi aku yakin . . . memikirkan masa depan anak-anaknya . . . adalah hal paling penting bagi seorang ibu.”
“Siapa yang melakukan ini?!”
“Maaf, aku yang melakukannya,” ucap Kokudo yang muncul di pintu yang sudah rusak itu.
“Apa? Kokudo! Apa yang kau lakukan?!” Sho kesal.
“Aku tidak tahu kalau ini akan meledak.”
“Jangan buat alasan!” sambung Satoru.
“Tokita-san memanggilku kemarin. Dia memberikan gear untuk clock of terror. Aku pikir itu akan menghentikan suara dentang jam yang mengerikan itu . . . Chisato bilang kalau suara terlalu keras, jadi dia kurang istirahat, jadi . . . tapi aku tidak berpikir itu akan meledakkan jamnya,” ucap Kokudo merasa bersalah.
“Tokita, si baj***n itu!” geram Satoru.
“Ini . . . peringatan untuk kita, apa kita peduli dengan apa yang terjadi pada Chisato,” gumam Fuu kemudian.
Chisato kembali ke castle setelah menemui presdir Tokita. Di ruang makan ia sudah ditunggu oleh kelima anak-anak Ohkura. Chisato mulai bicara untuk meyakinkan mereka berlima, “Tidakkah . . . kita seharusnya meninggalkan tempat ini? Tokita-san mengatakan kalau kita tidak segera pergi, dia akan memaksa kita. Jika itu terjadi, mungkin salah satu dari kita akan terluka, dan . . . “
“Apa Tokita mengatakan sesuatu padamu?” tanya Sho.
“Tidak. Tapi, tempat ini akan segera dihancurkan. Jika itu terjadi, kita tetap harus pergi.”
“Tidak peduli apa yang terjadi, kami akan tetap tinggal. Kami sudah memutuskannya. Meski kami harus menahannya dengan tubuh kami, kami akan melindungi castle ini,” ujar Masaru.
“Itu tidak mungkin!” elak Chisato.
“Kita tidak akan tahu kalau itu tidak mungkin, tanpa pernah mencobanya,” lanjut Akira.
“Hei, ayo kita berhenti saja?” pinta Chisato lagi. “Meski kita pergi, bukan berarti kita tidak bisa bertemu lagi.”
“Kalau kau merasa begitu, silahkan pergi,” ucap Fuu.
“Aku setuju,” lanjut Satoru.
“Kami sudah sepakat. Kami tidak punya hubungan dengan orang yang hanya ingin melarikan diri,” ucap Sho. “Tokita-san benar-benar mengatakan sesuatu padamu kan?”
“Itu benar . . . seperti menuliskan cek sejumlah 100 juta yen,” sambung Masaru.
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Itu mungkin saja. Dia awalnya datang kesini untuk uang kan. Mungkin juga dia sudah mengkhianati kita,” ucap Satoru.
“Aku tidak pernah mengkhianati kalian. Kita keluarga!” Chisato mulai terbakar amarah.
“Kau salah. Kita bukan keluarga. Kita hanya orang aneh yang tidak saling kenal dan tinggal bersama,” Sho lalu melemparkan tas berisi barang-barang Chisato. “Ini. Kami sudah mengepak barang-barangmu. Tidakkah kau lega, tidak perlau lagi mengambilnya dari ruanganmu?”
“Jadi kalian memang berniat mengusirku dari awal?” tanya Chisato balik.
“Kami tidak main-main. Semuanya sudah selesai!” lanjut Sho.
Chisato akhirnya pergi dari castle. Di depan, ia sempat melihat kembali castle itu sebentar sebelum benar-benar pergi. Kokudo yang menyaksikan semuanya tidak bisa bicara apapun. Ternyata anak-anak Ohkura yang lain memperhatikan kepergian Chisato dari atas …
“Tidakkah kita terlalu jahat pada Chisato?” gumam Masaru.
“Well, ini yang terbaik untuknya. Kita harus melindunginya. Kita tidak bisa membiarkannya terlibat lebih jauh,” sambung Sho.
“Tapi, saat dia meminta kita untuk pergi darisini, aku pikir dia pasti melakukannya untuk kita juga. Pasti ada alasan untuk itu,” lanjut Satoru.
“Apa lagi sekarang? Kita tidak bisa bergantung lagi dengan mother’s goals lagi. Kita hanya bisa melindungi castle semampu kita. Tidak peduli yang terjadi, kita harus mengeluarkan Chisato dari castle dengan aman,” ujar Fuu.
“Kenapa kalian melakukan semua ini?!” protes Kokudo yang ternyata mendengarkan pembicaraan mereka dan menyaksikan semua kejadian tadi.
“Ini aneh kan? Karena kami keluarga,” Sho keceplosan.
“Apa?”
Chisato ternyata menuju tempat tinggal Takeru. Dia bersembunyi di sisi dinding. Chisato melihat Takeru yang baru pulang belanja bersama ayahnya, mereka tampak gembira. Saat Chisato beranjak pergi, Takeru memanggilnya.
“Shortie! Itu benar kau rupanya. Ada apa?” tanya Takeru.
“Kalian tampak baik-baik saja, aku lega,” ucap Chisato canggung.
“Kau tidak datang kesini hanya untuk mengatakan hal itu kan?” Takeru melirik tas besar yang dibawa Chisato. “Apa sesuatu terjadi?”
“Aku diusir dari castle,” akhirnya Chisato jujur.
“Diusir?!” Takeru heran.
“Castle akan dihancurkan.”
“Tunggu dulu! Apa yang kau bicarakan?” Takeru penasaran.
“Tokita-san memutuskan menggunakan area castle untuk dijadikan tempat proyek terbaru Miracle, dan . . . “
“Kalian semua diusir?”
“Hanya aku. Yang lain bilang mereka akan tetap bertahan,” ujar Chisato.
“Bertahan? Aku tahu . . . “ gumam Takeru. “Jadi, apa kau membutuhkan sesuatu dariku?”
“Tidak, aku hanya ingin bertemu denganmu. Lega melihatmu baik-baik saja. Sampai jumpa,” Chisato lalu beranjak pergi.
Takeru memperhatikan Chisato dari kejauhan. Ia memikirkan castle dan anak-anak Ohkura yang lain.
Presdir Tokita datang ke net-café dan memperkenalkan diri sebagai presdir Miracle yang baru. (jangan heran dengan ekspresinya, doski kadang2 memang aneh gto, hihihi), “Kalian pernah melamar kerja ditempatku kan? Kau dipekerjakan, kau dipekerjakan . . . “ presdir Tokita menunjuk nyaris semua personil net-café.
“Kami akan bekerja dengan baik,” ucap Heiji semangat.
“Aku ingin kalian berpartisipasi dalam evakuasi dan rebuilding di caslte. Kalau kalian sukses . . . aku akan benar-benar membatalkan semua hutang Chisato-san,” ujar presdir Tokita.
“Tunggu dulu! Bukankah ini berarti kita menghianati Chisato?” tanya Heiji kemudian.
“Kita tidak bisa melakukan itu padanya,” sambung yang lain.
“Kalian akan . . . menyelamatkannya, menjadi pahlawannya,” bujuk presdir Tokita lagi.
Chisato pergi ke rumah paman pemilik kebun, Yoshio-san. Ia minta izin untuk menginap disana. Tapi Chisato beum menceritakan apa yang terjadi.
“Tidak biasanya kau menginap disini,” komentar Yoshio-san.
“Ah itu . . . aku akan membantumu di kebun besok,” ujar Chisato mengalihkan pembicaraan.
Di castle, Fuu masih mencoba menyelesaikan alat buatannya. Seperti biasa ia bekerja sendiri, tapi kali ini ditemani Sho.
“Sho, apa kau menyukai Chisato?” tanya Fuu.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Sho heran.
“Aku hanya berpikir . . . Satoru dan Masaru benar-benar menyukainya. Chisato . . . sebenarnya wanita yang baik. Dia manis . . . Dia juga akan menangis untuk orang lain,” puji Fuu.
“Jangan bilang, kau juga menyukainya?” Sho curiga.
Fuu tersenyum, mengelak, “Kau yang aneh.”
Paginya, Chisato sudah bangun. Dia berniat membereskan futon dan alas tidurnya yang lain. Ketika membuka lemari penyimpanan, Chisato menemukan sesuatu, “Miracle Tear Gas Spray? Kenapa ada disini?” gumam Chisato. Chisato ternyata juga menemukan barang lain, dan sebuah foto.
“Selamat pagi. Ada apa?” Yoshio-san datang, tapi ia langsung terdiam melihat Chisato memegang foto itu.
“Waktu untuk menceritakan semuanya sudah tiba,” komentar pengacara Kyoko yang tiba-tiba muncul.
Yoshio-san, pengacara Kyoko dan Chisato berkumpul di ruang tamu. Yoshio-san memulia ceritanya.
“Sinzo dan aku adalah teman sejak sekolah dulu. Dia sering datang dan menginap disini. Dia bertemu denagn Shiho-chan disini,” ujar Yoshio-san.
“Okaa-san—ibu dan Sinzo-san?” Chisato heran.
“Dengan cepat mereka akrab, bahkan seperti saudara. Limabelas tahun kemudian . . . Sinzo-san bertemu lagi dengan Shiho-san tidak sengaja. Shiho-san mencintai Sinzo-san selama ini. Shiho-san satu-satunya orang yang bisa mengerti Sinzo-san. Dia kemudian melamar Shiho-san,” lanjut pengacara Kyoko.
“Melamar?”
“Mereka berdua akan menikah. Tapi waktu itu … muncul seorang wanita. Dia datang seorang anak, yang merupakan anak Sinzo,” ucap Yoshio-san.
“Dia . . . Fuu-kun. Itu untuk pertama kalianya Sinzo-san mengetahui keberadaan Fuu-kun. Tentu saja, dia menceritakan semuanya pada Shiho-san. Tapi Shiho-san . . . tiba-tiba menghilang. Saat itu Shiho-san tengah hamil, anak dari Sinzo-san,” ujar pengacara Kyoko.
“Apa?!”
“Dia mungkin menghilang karena tidak ingin Sinzo-san tahu mengenai kehamilannya. Sinzo-san mengetahuinya setelah Shiho-san meninggal dunia.”
“Apa kau bilang . . . anak itu . . . “
“Chisato . . . itu kau. Kau putri dari Ohkura Sinzo,” lanjut pengacara Kyoko.
“Apa yang kau katakan? Tapi . . . ayahku . . . “ ucapan Chisato terputus.
“Mineta Toru adalah lelaki yang dinikahi ibumu setelah kau lahir, ayah tirimu,” ujar pengacara Kyoko.
“Maaf, aku tidak pernah mengatakan ini padamu,” sesal Yoshio-san.
“Ini bukan kesalahnmu Yoshio-san. Kau hanya mengikuti apa keinginan Sinzo-san saja. Itu bukan kebetulan kau bertemu Sinzo-san. Ketika dia tahu kau dikejar oleh para penagih hutang, dia mencarimu.”
“Kenapa dia tidak pernah bilang kalau dia ayahku?!” protes Chisato.
“Mungkin dia merasa lebih baik begini. Mungkin saja kau akan menolaknya dan melarikan diri kalau dia mengatakan yang sebenarnya. Dia mungkin hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya bersamamu, putrinya.”
“Tapi, aku menikah dengan Sinzo-san . . .
“Aplikasi pernikahan itu . . . tidak pernah dilaporkan secara resmi,” pengacara Kyoko mengeluarkan aplikasi pernikahan yang pernah ditandatangani dulu. “Itulah kisah yang sebenarnya,” pengacara Kyoko menutup ceritanya.
Chisato tentu saja kaget dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia kontan lari keluar rumah Yoshio-san. Chisato masih sulit mempercayai apa yang terjadi sebenarnya. (omo . . . fakta yang tidak terduga sama sekali)
Anak-anak Ohkura berkumpul di ruang sauna. Mereka mengobrol santai, sambil mengenang Chisato dan Takeru yang sudah pergi dari castle. Sebenarnya . . . mereka merasa kehilangan. Tirai di pintu sauna berkibar.
“Itu terbuka. Sho, tutup pintunya,” pinta Fuu.
Sho beranjak ke pintu, dan dikagetkan oleh kehadiran seseorang yang tidak asing lagi.
“Yo! Jangan khawatir! Aku akan membuat keajaiban lagi!” ucap Takeru membuat kaget seisi sauna.
“Takeru!” ucap mereka kompak.
Takeru meledek mereka yang merindukannya. Yang lain tentu saja mengelak kalau mereka merindukan Takeru, dan seperti biasa mereka kembali bertengkar hal tidak jelas.
Tiba-tiba presdir Tokita muncul dari monitor yang ada di sauna itu, “Kalian tampak sehat. Sepertinya aku harus membawa banyak prajurit besok.”
“Kami tidak akan kalah dengan orang sepertimu!” ujar Takeru.
“Kalian tampak percaya diri sekali. Kalau begitu, aku katakana sesuatu yang baru saja aku dengar . . . Chisato-san, tidak pernah benar-benar menikah dengan Ohkura Sinzo-san,” pancing presdir Tokita.
“Apa? Apa yang kau bicarakan? Kalau kau ingin impas, katakana kebohongan yang lebih baik,” tantang Sho.
“Itu bukan kebohongan! Dan kalau aku ingin impas, aku akan mengatakan . . . sesuatu yang lebih menarik.”
“Cukup!” gertak Fuu, sambil duduk menutupi layar di ruangan itu dengan tubuhnya.
“Kalau kau ingin menyemangati yang lain . . . tidak baik menutup rahasia pada mereka!” ujar presdir Tokira.
“Apa yang dia maksud dengan rahasia? Hei!” Takeru penasaran.
“Fuu-jun . . . juga tahu kan? Chisato-san adalah . . . putri dari Ohkura Sinzo-san.
“Apa?!” anak-anak Ohkura yang lain kompak.
Fuu lalu menunjukkan lembaran berikutnya surat yang pernah dikirimkan Sinzo-san untuknya. Disitu dikatakan tentang siapa sebenarnya Chisato. (kalau begini ceritanya, artinya Fuu adalah kakak laki-laki Chisato, satu ayah dan beda ibu? Jadi itu kenapa awalnya Fuu benci pada Chisato, lebih tepatnya cemburu karena Sinzo-san mengakui Chisato dan mengabaikannya . . . hmmm)
“Kenapa kau tidak bilang dari awal? Setelah semua kekacauan ini. Dan lebih penting, Chisato sendiri tidak tahu!” protes Sho.
“Dia bukan ibuku . . . “ gumam Akira.
“Aku tidak tahu yang terjadi!” ucap Satoru kesal.
“Aku juga,” sambung Masaru.
“Bukankah lebih baik begini? Dia bukan ibu kalian, jadi kalian bisa mengungkapkan perasaan kalian padanya dengan leluasa,” usul Takeru pada Masaru dan Satoru.
“Apa kau membercandaiku? Ini bukan hal yang bisa dirubah dengan mudah!” elak Satoru.
“Dia bukan ibuku,” gumam Akira lagi.
“Ini akan membuatmu panic kan? Benar, kau juga menyukai shortie-Chisato juga kan?” ujar Takeru pada Sho.
“Huh? Apa yang kau bicarakan?”
“Jangan sembunyikan lagi. Kau menciumnya kan?” tembak Takeru.
“Apa itu? C-ciuman? Apa yang kau bicarakan adalah ciuman tidak sengaja waktu Kokudo mendorongnya?” tanya Satoru panic.
“Bukan! Kali ini dia sengaja melakukannya, tepat di bibir,” lanjut Takeru.
Tidak! Itu hanya . . . kecelakaan . . . “ elak Sho lagi.
Satoru tanpa aba-aba melayangkan pukulan ke wajah Sho, “Apa yang sebenarnya kau rasakan pada Chisato?!”
Masaru mendekat dan mencengkeram kerah baju Sho, “Berikan jawaban yang jelas! Mengatakan kau akan membantuku dulu, itu Cuma alasan?”
“W-waktu itu, aku . . . “ ucapan Sho terputus.
“Waktu itu. Bagaimana sekarang?” sambung Satoru.
Akira mulai bergumam lagi soal Chisato yang bukan ibunya.
“Dia bukan . . . ibumu. Iya, kita sudah mengatakannya. Jangan bilang kau benar-benar menganggapnya sebagai ibumu?” tanya Takeru apa Akira.
“Siapa yang peduli kalau iya,” ujar Akira lalu beranjak pergi.
Satoru dan Masaru beranjak pergi. Mereka masih kesal pada Sho.
“Semua ini karenamu, bodoh!” ujar Sho sambil mencengkeram kerah baju Takeru.
“Kenapa salahku?”
“Kenapa kau mengatakan hal seperti itu pada mereka?”
“Sudahlah!” Fuu berusaha menengahi.
“Semua ini karenamu!” ucap Sho dan Takeru kompak ke arah Fuu.
Kokudo kembali ke net-café. Ia heran karena anak buahnya berkurang derastis. Yang tersisa mengatakan kalau mereka pindah kerja pada Miracle. Tidak lama setelahnya Chisato datang, tapi ia mengabaikan panggilan Kokudo dan yang lain. Chisato seperti biasa bersembunyi di salah satu box net-café itu. Chisato masih belum bisa sepenuhnya percaya kalau Sinzo-san adalah ayah kandungnya. Ia memikirkan hari-hari yang pernah ia habiskan bersama Sinzo-san dulu.
“Kapan terakhir kali kau menangis Chisato?” tanya Sinzo-san.
“Mungkin waktu ibuku meninggal. Itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Bagaimana denganmu Sinzo-san?”
“Mungkin saat seseorang yang aku cintai meninggal dunia.”
“Oh, kau punya orang seperti itu?” tanya Chisato lagi.
“Ya. Satu-satunya orang yang aku cintai . . . adalah dia . . . dan kau, Chisato. Aku senang sekarang. Aku ingin kau menjadi orang baik, yang akan menangis untuk orang lain.”
“Kedengarannya seperti sesuatu yang biasa dikatakan seorang ayah,” komentar Chisato.
“Benarkah? Seperti seorang ayah?” Sinzo-san senang.
Ayah Chisato, Mineta Toru-san muncul. Ia membuat kerusuhan di net-café, mengundang perhatian Chisato. Chisato akhirnya keluar dari persembunyiannya, dan mereka bicara berdua di luar.
“Yoshio-san mengatakan padamu untuk datang kesini kan? Kau dengar darinya kan? Kenapa kau tidak mengatakan padaku . . . kalau aku bukan putrid kandungmu?”cecar Chisato.
“Ibumu adalah wanita yang luar biasa. Dia bukan tipe orang yang mudah jatuh cnta. Tapi aku kemudian mengerti kenapa. Dia hamil . . . tapi tidak mau mengatakan siapa nama ayah bayinya, dan . . . dia juga belum menikah. Jadi aku pikir ini peluangku, jadi aku menikahi ibumu. Ibumu perlahan jatuh cinta padaku. Tidak penting kita tidak memiliki hubungan darah, meski kita terpisah sangat jauh, hati kita akan tetap saling terpaut, itu rahasia dibalik namamu. Tidak peduli yang orang katakan . . . aku tetap ayahmu. Bagus ya, aku bisa mengatakan hal baik seperti tiu. Maaf, harusnya aku mengatakannya padamu sejak awal,” ucap Mineta-san.
“Alasan kau terlibat judi . . . itu untuk ibuku?” selidik Chisato.
“Tidak,” elak Mineta-san.
“Yoshio-san mengatakannya padaku. Dia bilang sebelum ibu sakit, kau adalah orang yang sangat bertanggungjawab. Kau benar-benar . . . mencintainya kan?” lanjut Chisato.
“Tidak penting yang terjadi padaku. Bagaimana denganmu?”
“Aku diusir dari rumah itu. Mereka bilang tidak bisa percaya pada wanita yang datang karena uang,” ucap Chisato.
“Bodoh! Saat laki-laki mengatakan hal menyakitkan seperti itu . . . pasti ada alasannya. Ingat saja hal-hal yang pernah terjadi saat kau disana. Tidak peduli apa yang dikatakan . . . waktu yang kalian habiskan bersama, tidak palsu,” ujar Menata-san bersemangat.
“Menurutmu kenapa Sinzo-san membangung castle dengan banyak trik seperti itu?” gumam Chisato.
“Entahlah.”
“Dia bilang, dia tidak ingin menganggap hal biasa menjadi biasa saja. Dia ingin orang merasa disini, sekarang, sesuatu tak terlupakan,” ujar Chisato lagi.
“Apa kau tidak apa-apa kalau castle itu lenyap? Apa kau tidak apa-apa, tidak menyelamatkan anak-anak itu? Siapa yang akan membayar hutangku? Aku lelah dikejar penagih hutang terus,” pinta Mineta-san.
“Jadi itu alasanmu sebenarnya?” Chisato lalu memukul ayahnya. (jangan ditiru ya)
“Tidak bisakah kau bersikap lebih baik?”
“Tidak. Lagipula aku anakmu. Ah, menyebalkan punya ayah sepertimu!” ucap Chisato sambil beranjak pergi dengan tersenyum.
Mineta-san memandangi kepergian Chisato sambil tersenyum, “Bekerja keraslah untuk membayar hutang itu!”
(well, kisah ayah anak yang akhirnya berbaikan lagi. Jadi sebenarnya, ayah Chisato ini ga jahat-jahat amat ya, dia melakukan semua itu demi ibu Chisato yang sangat ia cintai. Toh sebenarnya, Mineta-san ini selalu menghawatirkan anak perempuannya satu ini )
Takeru sedang berada di depan castle. Ia memasang pagar untuk mencegah para perusak masuk. Sebuah suara terdengar, Takeru lalu beranjak masuk. Sho, Masaru dan Satoru ada di ruangan mereka masing-masing. Sebuah suara membuat ketiganya bersemangat menuju ruang makan.
“Dia kembali! Chisato . . . !” teriak mereka kompak. “Selamat datang!”
Seseorang dengan pakaian ala China berdiri di ruang makan. Ia menghadap ke arah Akira, kemudian berbalik, “Maaf membuat kalian lama menunggu,” ternyata Inoue-san sang pelayan.
“Itu kau?” Satoru kecewa.
“Kau menghancurkan harapanku,” sambung Masaru.
Inoue-san yang sudah senang kerena disambut, mendadak kecewa. Hahahaha . . .
“Hei, mereka ada di depan!” teriak Takeru mengagetkan seisi rumah.
Anak-anak Ohkura kemudian menuju depan. Mereka menemukan Tokita-san (dengan kostum anehnya) bersama para pekerjanya sudah siap untuk menggempur castle.
“Wow, mereka banyak sekali!” komentar Sho.
“Anggota keluarga Ohkura . . . aku sudah mengingatkan kalian untuk segera pindah! Aku tidak bisa menunggu lagi. Kali ini aku akan memaksa kalian untuk pergi! Mulai!” perintah Tokita-san.
“Kita tidak bisa melawan mereka sebanyak ini!” ucap Masaru.
“Kita harus bergegas packing,” ujar Fuu pula.
“Aku sudah mempersiapkan bendera putih,” sambung Akira.
Pasukan pekerja Tokita meringsek masuk. Anak-anak Ohkura buru-buru masuk dan mengunci castle dari dalam. Tiba-tiba sebuah bulldozer datang, menghentikan aksi para pekerja itu. Dua orang yang lengkap dengan kostum dan tutup kepala mereka keluar. Tidak lupa keduanya membawa semprotan gas air mata. Dan . . . mulai menyemprotkan gas air mata ke arah kerumunan para pekerja itu.
Chisato berdiri di balkon, ia melihat ke arah Tokita-san yang ada di bawah. Chisato melepas helm pelindungnya dan menatap tajam. (mungkin gini kalimatnya . . . lihat ya, kita ga bakalan nyerah sama orang kaya elo, kekeke. Chisato kemudian beranjak mengatakan password dan masuk castle.
“Serahkan saja sisanya padaku,” ucap Kokudo meyakinkan Chisato.
“Tempat ini adalah rumahku. Aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun!” ucap Chisato mantap sebelum pintu castle itu kembali tertutup.
“Aku pulang,” Chisato melihat keenam anak-anak Ohkura berurai air mata. “Kalian tidak perlu terlalu senang begitu dengan kepulanganku.”
“Kau salah! Gas air mata itu terlalu kuat,” elak Takeru mengusap air matanya.
“Jangan asal semprot dong!” protes Sho pula.
Masaru menahan tangis sambil mengusapnya dengan syal di lehernya, “Satoru, jangan nangis beneran dong!”
“Aku tidak nangis!” ucap Satoru menahan air matanya. (disini paling keren gaya nangisnya Satoru, imutnya . . . utuk utuk utuk)
Sementara itu Akira dan Fuu juga ikut menangis di sebelah mereka.
0 komentar:
Posting Komentar