Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Senin, 14 November 2016

Atashinchi no Danshi ep - 11 end

Chisato mengetahui kalau Ohkura Sinzo-san adalah ayah kandungnya. Chisato juga berbaikan dengan ayah yang selama ini membesarkannya, Mineta-san setelah tahu alasan Mineta-san selama ini adalah karena ibu Chisato. Trick heart castle nyaris dirobohkan oleh presdir Tokita yang mengambil alih perusahaan. Chisato datang tepat waktu, dan memberi jeda lebih lama bagi mereka.

“Kita akan melindungi castle!” ucap mereka bertujuh kompak. Sementara itu presdir Tokita memandang mereka dari arah bawah.

“Ah, shortie berikan kami pertunjukan terbaikmu!” ucap Takeru.

“Apa maksudmu?” Chisato heran.

“Kau punya senjata atau sesuatu kan?” sambung Sho.

“Tidak juga.”

“Seperti ancaman untuk Tokita atau apa?” tanya Masaru.

“Atau sulap yang bisa membuat dia menghilang dengan cepat?” kali ini Satoru yang bicara.

“Atau alat milik ayah yang bisa membuatnya tersedot?” ucap Sho.

“Itu tidak mungkin ada!”

“Benarkah? Kau kembali tanpa apapun?!” Sho tidak percaya. (hei hei, yg dateng tadi bawa buldoser dan gas air mata siapa coba?)

“Kita bahkan sudah bersikap jahat padamu,” keluh Satoru.

“Apa?”

“Kita tidak ingin kau terluka, jadi kita membuatmu terusir dari castle,” ungkap Masaru.

“Tapi karena kau sudah kembali, sebaiknya kau bersiap. Tokita kali ini serius,” ucap Fuu menengahi.



Sementara itu di bawah kekacauan terjadi. Anak-anak net-café yang selama ini selalu berada di belakang melindungi Chisato protes pada Tokita karena mereka kali ini harus melawan Chisato.

“Apa kalian yakin, membiarkan hutang Chisato gagal dibayar?!” ancam presdir Tokira lagi.

“Jangan mudah dipedaya, teman-teman!” Kokudo yang ternyata babak belur tertangkap berusaha meyakinkan teman-temannya. “Dia pembohong! Dia membuatku meletakan bom di ruangan Chisato!”

“Bawa dia pergi!” perintah presdir Tokita. Ia lalu memimpin anak buahnya untuk naik tangga dan kembali bersiap menghancurkan castle.



Tiba-tiba sebuah sinar muncul, dan tidak lama kemudian tampak hologram Ohkura Sinzo muncul di angkasa.

“Hei, lihat itu!” anak-anak Ohkura dan Chisato melihat ke atas. Mereka juga melihat kalau ternyata sinar itu muncul dari Mirakurun seri 2.0 yang mereka temukan sebelumnya.

“Mirakurun?”

Di bawah, presdir Tokita juga tertegun melihat hologram itu. Ia mengkomando anak buahnya untuk menunda penyerbuan.

Sementara itu di dalam rumah, ow ow ternyata ada Inoue-san yang tengah berada di depan laptop. Ia yang mengoperatori munculnya Mirakurun!



“Melihat video ini, artinya kau sudah menjadi presdir kan Tokita?” suara Sinzo-san. “Itu artinya kau juga mencoba mengancurkan castle berhargaku, Trick Heart Castle. Aku tahu tujuanmu sebenarnya. Tapi kalau kau menghancurkan castle ini, itu tidak akan berguna. Kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang selama ini kau cari.”

“Ini Cuma omong kosong!” gumam presdir Tokita.

“Ini bukan omong kosong,” suara Sinzo-san lagi. “Untuk bisa mencapai tujuanmu . . . kau membutuhkan 7 pahlawan. Chisato . . . Fuu . . . Takeru . . . Sho . . . Masaru . . . Satoru . . . Akira . . . Aku melibatkan kalian dalam situasi sulit. Maaf, dan terimakasih telah melindungi castle berharga ini. Kalian harus menyelesaikan apa yang telah kalian mulai, apa yang kalian percayai, apa yang membuat kalian semua berada disini. Jika benar, kalian akan menemukan sebuah buku. Buku itu akan mengatakan bagaimana caranya melindungi apa yang penting untuk kalian. Tapi, buku itu akan dihancurkan saat kontrak Chisato berakhir. Jadi, hati-hatilah.”

“Kapan kontraknya berakhir?” tanya Fuu pada Chisato.

“Dua hari dari sekarang.”

“Jika Tokita mengabaikan ucapanku . . . dan mencoba menghancurkan castle . . . aku ingin kalian semua pergi. Karena kalianlah yang lebih berharga bagiku . . . aku mulai mengantuk . . . ini sepertinya waktu kita berpisah. Terakhir . . . ,“ rekaman itu terputus meninggalkan tanda tanya pada kata terakhir yang diucapkan Sinzo-san.

Orang-orang dibuat dibuat ribut oleh kata “terakhir” yang terucap di akhir rekaman itu tanpa tahu kelanjutannya.

Presdir Tokita mengabaikan ucapan Sinzo-san pada akhirnya. Ia memimpin anak buahnya untuk mulai penyerbuan. Kontan ini membuat Chisato dan anak-anak Ohkura ketakutan. Tapi tiba-tiba presdir Tokita menyuruh anak buahnya berhenti.

“Kalian tetap bertahan, sampai ada perintah dariku. Bersiaplah untuk penghancuran castle nantinya!” ucap presdir Tokita, ia teringat ucapan Sinzo-san tadi. (maksudnya, anak-anak Ohkura diberi waktu sampai kontrak Chisato berakhir, karena kalau tidak ia tidak akan mendapatkan apa yang selama ini dicarinya)



“Si Tokita itu takut padaku, jadi dia melarikan diri,” sombong Takeru.

“Ini masih belum selesai, kita tidak bisa bersantai,” ujar Satoru.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” tanya Masaru.

“Kita haru melanjutkan apa yang kita percayai. Itu yang ayah coba katakan tadi,” ucap Sho.

“Dan . . . yang kita lakukan selama ini . . . ,” sambung Satoru.

“Mother’s goals,” ujar Chisato dan Fuu kompak.

“Kalau kita bisa menyelesaikannya, kita akan dapat clue tentang warisannya kan?” ujar Sho lagi.

“Warisannya buku kan? Bagaimana kita bisa melindungi castle dengan itu?” gumam Takeru.

“Kita hanya perlu percaya pada ayah,” ujar Fuu. “Batas waktunya dua hari dari sekarang.”



Dua hari kemudian . . .

“Ini selesai!” Fuu telah menyelesaikan alat itu.

“Apa ini?” tanya yang lain penasaran.

“Entahlah.”

“Mother's Goal #7 . . . berhasil!” ucap pengacara Kyoko yang tiba-tiba saja muncul.

“Yes!” mereka bertujuh berucap kompak.

“Ah Kyoko-san, hari ini aku mulai mengerti bagaimana ayah . . . “ ucapan Fuu terputus.

“Mother's Goal #8... pertanyaan seputar keluarga Ohkura,” ujar pengacara Kyoko sambil membentangkan gulungannya. “Letakkan itu di atas Mirakurun 2.0!”



Mereka meletakkan benda mirip topi bulat itu di atas Mirakurun. Secara ajaib, Mirakurun berbunyi lalu berputar sebelum akhirnya berhenti, “Sekarang aku ingin kalian menjawab 100 pertanyaan yang berhubungan dengan keluarga Ohkura. Siapkan diri kalian!”

“Kalau kalian dapat menjawab 1000 pertanyaan itu dengan benar, kalian akan menyelesaikan mother’s goal yang ini,” ujar pengacara Kyoko sebelum kembali menghilang.

“Baiklah, ayo lakukan!” ujar Fuu memimpin yang lain.

“Pertanyaan pertama . . . Sinzo-san presdir ke berapa dari Miracle?”

“Itu mudah! Jawabannya . . . “ tapi ucapan Satoru terputus.

“Tunggu! Di adalah presdir ke 10 dari Karakuri-ya, tapi . . . ayah yang mengubah namanya menjadi Miracle, jadi . . . “ gumam Sho.

“Dia yang pertama!” Akira menyelesaikan kalimat Sho.

“Benar!”

“Aku hampir menangis . . . “ entah kenapa Satoru mendadak lebai begini.



Rupanya presdir Tokita mengurung Kokudo di tempatnya. Anak-anak net-café yang lain berusaha menyelamatkan Kokudo, ketika mereka tidak sengaja mendengar percakapan presdir Tokita dengan pengacara Kyoko.



“Jangan khawatir. Lebih penting, besok . . . kau tahu persis kan? Apa tujuanku sebenarnya. Warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi dari keluarga Ohkura. Tentu saja. Buku yang akan mereka dapat setelah menyelesaikan mother’s goals . . . di dalamnya ada petunjuk tempat harta warisna itu kan? Tapi meski aku tidak menemukan buku itu, aku masih akan bisa mendapatkan harta warisannya dengan cara menghancurkan castle itu. Itulah kenapa aku ingin segera menghancurkan castle itu,” ujar presdir Tokita.

“Apa kau begitu membenci Sinzo-san?” tanya pengacara Kyoko.

“Kalau harus memilih antara menyukai atau membencinya, aku memilih menyukainya. Aku hanya tidak bisa menerima apa yang dia lakukan! Kenapa dia malah mengadopsi anak-anak seperti mereka sebagai calon penerusnya, disbanding aku?” tuntut presdir Tokita.

“Apa yang akan kau lakukan kalau alasanny tertulis di buku itu? Apa kau masih akan menghancurkan castle itu?” tembak pengacara Kyoko.



Anak-anak net-café yang kemarin membantu presdir Tokita dalam rencana menghancurkan castle datang ke castle dan minta maaf pada Chisato. Tidak lama setelahnya muncul juga Kokudo, yang ternyata babak belur dihajar oleh Inoue-san.

“Oh, saat aku akan mengambil chip video . . . Inoue-san menganggap aku penyusup, jadi dia memukuliku,” lapor Kokudo.

“Chip video?” Chisato dan Satoru yang berada di sebelahnya heran.

“Kau tahu video yang menampilkan hologram Sinzo-san kemarin? Yang terhenti di tengah-tengah itu. Aku berpikir untuk menganalisanya, jadi kita bisa melihat sisanya yang kemarin terputus,” ujar Kokudo.

“Kau bisa melakukannya?” tanya Chisato ragu.

“Ya, tentu saja,” Kokudo percaya diri.

Kokudo dan anak-anak net-café mendatangi sebuah laboratorium. Lab ini ternyata rumah Kokudo. Disana ada banyak ilmuwan yang siap melayani dan membantu kebutuhan Kokudo. Anak-anak net-café heran.



“Pertanyaan ke 999 . . . “ Mirakurun masih menjalankan tugasnya. “Siapa nickname-nya Inoue-san?”

“The walking surveillance camera—kamera pengawas berjalan!” ujar Chisato.

“Benar! Pertanyaan ke 1000 . . . siapa nama lengkap Inoue-san?”

“Aku tidak tahu,” ujar Satoru.

“Aku juga,” ucap Masaru.

“Sama, sepertiku,” sambung Sho.

“Kalau begitu, tidak ada dari kita yang tahu,” Chisato kecewa.

Tiba-tiba Inoue-san muncul. Ia sudah lengkap dengan meja tempat mereka biasa adu panco, “Kalau kau bisa mengalahkanku . . . aku akan mengatakannya padamu,” tantang Inoue-san.

“Apa?”

“Sudah lakukan saja!” ujar Takeru.

Chisato lalu menyanggupi permintaan Inoue-san. Kali ini Sho yang jadi jurinya. Sepertinya Inoue-san ini berhasrat untuk menang. Dari semua anggota keluarga Ohkura, Cuma Chisato yang belum pernah berhasil dikalahkannya.

“Siap . . . mulai!” ujar Sho.

Dalam waktu singkat, Chisato kembali bisa mengalahkan Inoue-san dalam adu panco itu. Jelas Inoue-san kecewa, latihannya selama ini sia-sia belaka.

“Inoue-san . . . namamu?”

Inoue-san masih syok dengan kekalahannya kembali, tapi sesuai janji ia harus menepatinya, “Inoue Rosemary-san.:

“Seperti yang dia katakana!” ujar Chisato.

“Benar!”

“Mother’s goal #8 . . . sukses!” ucap pengacara Kyoko yang seperti biasa tiba-tiba muncul.



“Mother's Goal #9... membuat manset tangan. Chisato akan menyulam inisial nama tiap anak Ohkura dalam manset itu,” ujar pengacara Kyoko santi.

“Aku? Menyulam semuanya?” Chisato syok sendiri.

Sementara Chisato menyulam inisial nama mereka pada masing-masing manset, keenam anak-anak Ohkura berkumpul di sauna.

“Guys, apa kalian sudah memikirkan yang kita bicarakan sebelumnya?” ujar Fuu.

“Aku sudah memutuskan,” jawab si bungsu Akira.

“Kami juga,” ucap Satoru yang diiyakan oleh Masaru.

“Apa maksudnya yang kalian bicarakan sebelumnya?” Takeru yang absen saat itu heran sendiri.

“Waktu kita mengusir Chisato dulu, kita sudah memutuskan apa yang akan dilakukan setelah semua ini,” Sho angkat bicara.

“Ini terakhir kali kita melakukannya bersama-sama,” ujar Fuu.

“Oke. Apa?!” Takeru syok sendiri dengan apa yang baru saja di dengarnya.

Sementara itu di ruang tengah, Chisato sedang menyulsam manset dengan inisial nama Sho, dan tanpa sengaja . . . ia tertusuk jarum.

“Jadi begitu . . . well, apapun yang terjadi kita akan melindungi castle kan?” Takeru akhirnya menyimpulkan sendiri.



“Tapi, apa yang akan kita lakukan pada shortie­—Chisato? Kalau begitu, bagaimana kalau aku jadi juri kalian?” Takeru menawarkan diri.

“Apa maksudnya dengan “juri”?” Masaru heran.

“Keadaan tidak jelas seperti ini, menyebalkan bukan? Jadi, siapapun yang menang tantangan sauna, dia boleh mengungkapkan perasaannya—nembak shortie, bagaimana?” usul Takeru kemudian.

“Siapa yang mau melakukan hal itu?” ejek Sho.

“Aku akan melakukannya!” Masaru semangat.

“Ok, satu orang bergabung.”

“Kalau begitu, aku juga akan melakukannya,” kali ini suara Satoru.

“Ok, dua orang bergabung!” Takeru tambah semangat, sambil menatap ke arah Sho.

“Apa?” Sho semakin heran dengan ulah saudara-saudaranya itu.

“Dan, orang ketiga bergabung!” Takeru menutup pendaftaran.

“Apa? Kenapa aku?!” protes Sho.

“Orang yang sudah lebih dulu curang menciumnya tidak boleh melarikan diri. Tantangannya siapa yang paling lama tinggal di sauna. Kalau begitu namanya . . . Tantangan Sauna,” ujar Takeru semakin bersemangat.

Hari berikutnya . . .

Chisato tertidur di meja setelah menyelesaikan sulamannya. Fuu, Takeru dan Akira membangunkannya. Fuu protes melihan inisial namanya salah disulam oleh Chisato.

“Jangan pedulikan detil!” ujar Chisato kesal. Chisato heran karena mereka hanya bertiga. Kemana tiga yang lain?

Owh . . . ternyata Sho, Masaru dan Satoru masih bertahan di sauna. Padahal terlalu lama di sauna bukanlah suatu hal yang disarankan. Takeru mencoba membangunkan mereka bertiga dengan menyiramkan air di wajah mereka.



“Semuanya . . . apa mother’s goal berjalan dengan baik?” tiba-tiba monitor yang ada di sauna memunculkan wajah presdir Tokita dan menyita perhatian mereka bertujuh. “Sebenarnya, aku bersabar menunggu buku yang akan kalian temukan setelah menyelesaikan semuanya. Tapi . . . kontrak Chisato akan berakhir hari ini ja 12:20 kan? Jadi, sejam dari sekarang, buku itu akan dihancurkan. Itu artinya . . . kalian menemukan buku itu atau tidak . . . jam 12:20 tepat nanti . . . aku akan mulai penghancuran castle! Aku menemui kalian dalam . . . satu jam lagi!” monitor itu berubah gelap.

“Apa maksudnya itu?” ujar Takeru.

“Kalau begitu, waktu kita tinggal sejam lagi . . . “ gumam Chisato.

“Kita harus cepat!” Fuu mengomando semuanya untuk bergegas.



Sementara itu di ruang tengah, pengacara Kyoko kembali muncul. Ia memotret manset hasil karya Chisato. Tepat saat Fuu dan Chisato keluar dari ruang sauna . . . “Mother’s goal #9 . . . sukses!”



“Mother's Goal #10... makan bersama di ruang makan.”

“Lagi?” Chisato heran.

Mereka bertujuh akhirnya kembali makan bersama di ruang makan. Menu kali ini adalah semacam mi kuah, tapi dengan tempat mie yang airnya terus mengalir. (jadi mie-nya susah diambil). Waktu yang tersisa 45 menit.

“Itadakimas!!!” ucap mereka bertujuh kompak.

Tiba-tiba Mirakurun muncul. Tidak lupa suara sirine dari kepalanya. Mirakurun berputar sebelum akhirnya berhenti dan memunculkan sebuah sinar biru yang mengarah ke lukisan Sinzo-san yang tergantung di dinding ruang makan itu.

“Hei . . . apa itu?” gumam Takeru.

“Itu sketsa ruangan ini,” ujar Fuu.

“But, bukankah posisi mejanya berbeda?” Satoru heran.

“Itu posisi tiap orang kan?” Chisato meyakinkan diri.

“Kalau begitu, ayo tempatkan semuanya seperti di sketsa itu,” ujar Fuu yang diiyakan yang lain.



Sementara itu di kediaman Kokudo, tim IT-nya tengah memeriksa chip yang tersisa dan terpotong di tengah itu.

“Judul bukunya adalah Karakuri Castle and the 7 Heroes. Maaf aku lupa mengatakannya pada kalian. Sekarang kalian punya kunci terakhir,” ujar rekaman Sinzo-san.

“Kita melihat akhir video itu, tapi . . . “ gumam Heiji kecewa.

“Itu sangat penting!” elak Kokudo.



Kembali ke castle. Chisato dan keenam anak-anak Ohkura membereskan meja. Sho dan Masaru menggeser patung yang berada di kanan-kiri ruangan. Mereka bertujuh kemudian berdiri seperti pada sketsa di lukisan Sinzo-san.

“Tinggal 28 menit lagi,” ujar Akira yang sama sekali tidak membantu membuat semuanya jadi lebih baik.

Sinar biru kembali muncul dari patung di kanan-kiri ruangan. Tiba-tiba terjadi getaran seperti gempa, lampu gantung di tengah ruangan juga berangsur turun kemudian berhenti. Tangga di sisi lain ruangan bergeser, menyisakan sebuah pintu di dalamnya.

“Pintu terakhir Trick Heart Castle terbuka,” ujar si Mirakurun.

Kali ini Sho yang memimpin yang lain masuk ke ruangan di bawah tangga itu.



Di dalam ternyata ada sebuah ruangan. Sementara itu ada pintu dengan ornament di depannya. Fuu dan Satoru berusaha menggeser pintu itu, tapi tidak ada yang terjadi.

“Hei, bukankah kita pernah melihat pola seperti ini sebelumnya?” komentar Sho.

“Aku mengerti! Dengan analisisku . . . untuk bisa masuk kesana, kita memerlukan cap tangan!” ujar Masaru.

“Itu dia! Kita punya keenamnya!” Chisato menimpali.

Mereka bertujuh lalu kembali ke ruang tengah dan menurunkan cap tangan itu. Sementara itu di luar castle, presdir Tokita sudah semakin tidak sabar. Ia bersiap mengkomando anak buahnya untuk segera menghancurkan castle.

Di dalam castle, mereka bertujuh kembali ke ruang rahasia itu. Mereka memasangkan cap tangan itu ke pintu.

“Cocokkan dengan warnanya!” ujar Shi kemudian.

“Ini cocok, sempurna!” komentar Chisato.

“Tinggal 5 menit lagi!” Akira sama sekali tidak membantu.



Mereka menunggu reaksi yang terjadi, tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Ketujuhnya kecewa.

“Hei, kenapa tidak terjadi apapun?” komentar Takeru.

“Mungkin bukan cap tangan . . . “ Chisato kecewa.

“Itu tidak mungkin, ini semua benar-benar cocok . . . “ ujar Masaru. “Tidakkah kalian berpikir masih ada satu cap tangan lagi di pigura yang putih?”

“Dan satu-satunya yang belum punya cap tangan . . . “ ucapan Sho terputus.

“Aku?” Chisato heran.

“2 menit lagi!” ujar Akira kembali mengingatkan.

Chisato mendekatkan tanganny. Ia lalu membuat cap tangan di pigura putih yang tersisa di tangah itu. Lampu di sekeliling pintu menyala, rupanya cocok.

“Apa judul buku yang ditinggalkan Ohkura Sinzo?” terdengar pertanyaan password seperti di depan rumah.

“Apa maksudnya dengan judul buku?” ujar Sho.

Mereka bertujuh bingung. “Katakan apa saja!” usul Fuu kemudian.

Mereka mencoba mengatakan judul apa saja yang terlintas. Tapi tidak satupun yang sesuai.

“1 menit lagi . . . 20 detik lagi,” ujar Akira.



“Chisato-san!” di luar Kokudo ternyata datang. Ia heran karena ketujuh anggota keluarga Ohkura tidak ada.

“Kokudo-kun! Ada apa?” suara Chisato dari ruangan rahasia.

“Judul bukunya . . . Karakuri Castle and the 7 Heroes!” Kokudo bahkan harus mengulangnya dua kali sampai mereka semua mendengarnya.

“Karakuri Castle and the 7 Heroes!” ujar Chisato tanggap.

Password benar. Hitungan mundur Akira tidak lagi dipedulikan. Pintu di ruangan rahasia itu akhirnya terbuka, dan . . . sebuah ruangan penuh emas muncul di hadapan mereka. Harta warisan keluarga Ohkura turun temurun. Lalu sebuah buku yang ditinggalkan Ohkura Sinzo.



Di luar, presdir Tokita bersama anak buahnya bersiap menyerbu masuk. Tiba-tiba pintu castle terbuka, dan Chisato keluar.

“Ada yang perlu kita bicarakan,” ujar Chisato.

Presdir Tokita mengkomando anak buahnya untuk berhenti. Ia lalu mengikuti Chisato masuk kembali ke castle.



Chisato ternyata membawa presdir Tokita ke dalam ruangan penuh harta tadi. Ia menunjukkan harta warisan keluarga Ohkura. Presdir Tokita tentu saja syok melihat harta sebanyak itu.

“Ini harta warisan keluarga Ohkura. Warisan ini . . . akan kami berikan padamu semuanya. Sebagai pertukaran . . . Trick Heart Castle . . . rumah ini, tolong jangan dihancurkan,” pinta Chisato yang diiyakan keenam anak Ohkura.

“Kenapa kalian melakukan semua ini demi melindungi castle?” presdir Tokita mulai melunak.

“Ini . . . ini ada disini bersama harta warisan yang lain,” ujar Chisato sambil menunjukkan buku yang ditinggalkan oleh Sinzo-san itu. “Alasan kami ingin melindungi castle, ada di dalam buku ini.”

“Kalau begitu . . . maukah kau membacakannya?” pinta presdir Tokita.

Chisato membuka buku itu lalu mulai membaca, “Suatu saat, di sebuah castle bernama castle Karakuri hidupnya seorang raja yang esentrik. Raja yang tahu kalau waktunya tinggal 6 bulan lagi, memanggil 6 orang pahlawan untuk menjadi calon pewarisnya. Dan dia juga memanggil putrinya yang hidup jauh darinya menjadi pahlawan ke-7. Mereka semua hidup bersama. Tetapi, ketujuh pahlawan itu selalu bertengkar tiap harinya. Enam bulan berlalu, dan raja akhirnya tidak memilih salah satu dari ketujuh pahlwan itu sebagai penggantinya, tapi salah seorang pengawalnya sebagai raja baru. Raja baru itu membenci ketujuh pahlawan tadi, jadi ia mengusir mereka dari castle. Ketujuh pahlawan itu yang saat ini tidak memiliki rumah, memutuskan untuk mencari harta warisan raja. Meski mereka selalu bertengkar pada awalnya, saat mereka bekerja bersama, ikatan mereka perlahan menjadi lebih kuat seolah mereka benar-benar bersaudara. Mereka mulai merasa bahwa mereka sebenarnya adalah keluarga. Warisan berharga raja yang diberikan pada mereka sebenarnya . . . adalah keluarga, dan mereka akhirnya menyadarinya. Sebagai pertukaran dari emas yang mereka temukan, mereka mendapatkan kembali castle yang penuh kenangan itu. Dan hidup bahagia, selamanya.”

“Jadi . . . selama ini aku juga seperti menari di telapak tangan Sinzo-san huh? (maksudnya dia mengikuti semua yang sudah direncanakan SInzo-san tanpa tahu sebelumnya, istilahnya Cuma jadi boneka). Ini adalah scenario yang sudah disiapkan untuk kalian semua. Dan kalian . . . seperti yang diharapkannya, memilih tidak menguasai harta yang ada, tapi menjadi sebuah keluarga,” ujar presdir Tokita.



Presdir Tokita lalu menutup kembali ruangan penuh harta itu. Terakhir ia juga mengambil salah satu cap tangan di pintu dan memecahkannya, “Aku sama sekali tidak bisa melakukannya, meski jutaan tahu sekalipun. Sekarang . . . harta itu, tidak menjadi milik siapapun.”

“Kenapa?”

“Ak juga . . . punya harga diri. Treasure hunter, akan dibangun di tempat lain,” ujar si presdir Tokita ini sambil beranjak keluar dari ruangan rahasia itu.

“Itu artinya . . . “ ucapan Chisato terputus.

“Kita melindungi castle?” sambung Masaru.

“Keajaiban terjadi!” sorak Takeru.



Presdir Tokita keluar dari ruangan rahasia. Di luar ia sudah ditunggu oleh pengacara Kyoko, “Aku tahu alasan kenapa aku tidak diadopsi oleh Ohkura Sinzo, sekarang.”

“Sinzo-san benar-benar ingin mempercayakan Miracle padamu,” ujar penagcara Kyoko.

“Kau tidak seharusnya berkata seperti itu.”

“AKu tidak berbohong. Sinzo-san ingin kau bekerja bersama anggota keluarga Ohkura . . . demi masa depan Miracle. Dia sangat menginginkan hal itu,” ucap pengacara Kyoko lagi.



“Kita akhirnya bisa melindungi castle dengan buku itu kan?” ujar Masaru. Mereka bertujuh sekarang berkumpul di ruang makan untuk merayakan keberhasilan ini.

“Alasan ayah ingin kita bertentangan dengan Tokita, membuat kita bersikap seperti keluarga,” sambung Fuu.

“Dia tetap menyulitlkan kita . . . “ gumam Takeru.

“Dia ingin membuat kita menjadi sebuah keluarga. Itulah, warisan terakhir Ohkura Sinzo,” ujar Fuu lagi.

“Ayah yang tidak terduga kan?” kali ini Sho yang bicara. “Sebelum itu, ada yang ingin kami katakan padamu. Kami akan meninggalkan rumah ini.”

“Saat kau pergi waktu itu, kami bicara dan memutuskan bersama. Kau yang membuat kami memulai langkah pertama . . . ini waktunya kami keluar dan melakukan sesuatu yang berharga,” ujar Masaru.

“Ibuku mengirimi pesan . . . aku memutuskan untuk hidup dengannya di luar negeri,” ucap Akira.

“Aku akan menemui orang tuaku,” Satoru bicara.

“Adikku datang ke Tokyo, jadi aku akan mencarinya . . . “ ucap Masaru.

“Well... semuanya sudah memutuskan jalan masing-masing,” kali ini Fuu yang bicara.

“Aku mengerti. Ini suatu hal yang normal. Tidak maksudku, aku merasa kalau kalian mungkin akan memutuskan seperti itu,” Chisato tampak sedih mendengar keputusan yang lain. “Kalain tampak berbeda dari biasanya saat mencoba melindungi castle. Kita keluarga kan?” Chisato mencoba menahan air matanya.



Chisato mengingat momen-moment kebersamannya dengan anggota keluarga Ohkura yang lain. Pertama kali datang ke castle dan bertemu mereka yang setengah telanjang di sauna. Memenangkan hati mereka untuk bisa makan bersama di ruang makan. Menyembuhkan phobia Masaru. Menyelamatkan Takeru dari gangster dan memperbaiki hubungan Sho-Takeru. Melakukan mother’s goal bersama dan terakhir … menemukan harta tersembunyi keluarga Ohkura.



Takeru yang mabuk tertidur. Dan dasar saudara-saudaranya yang aneh ini malah mengambari muka Takeru dengan spidol. Sementara itu Chisato masih duduk termenung di meja, ia menangis.

“Kenapa kau malah menangis?” tanya Satoru.

“Ini semua kesalahan kalian! Mengatakan selamat tinggal, berat sekarang. Pertama aku bertemu kalian, aku pikir ada apa dengan mereka?. Tapi saat kita menangis, tertawa, bertengkar, kita menghabiskan waktu bersama. Kalian menjadi tak tergantikan bagiku. Ini seperti . . . keajaiban terjadi padaku. Terimakasih. Bersama kalian aku sangat bahagia,” ujar Chisato disela-sela air matanya.

“Itu harusnya kami yang mengatakannya!” ujar Satoru.

“Benar! Alasan tiap hari sangat menyenangkan adalah karena kau disini, Chisato.

Tiba-tiba Takeru bangun dan mulai mengoceh tidak jelas. Kontan Chisato yang melihat wajah berantakan Takeru, akhirnya tidak bisa menahan senyumnya lagi.



Chisato berdiri sendirian di balkon depan castle. Menyusul kemudian Sho muncul di sebelahnya.

“Kemana yang lain?” tanya Chisato.

“Mereka tidur,” jawab Sho. “Kau tahu . . . aku tidak pernah down sebelumnya setelah mengatakan perasaanku. Aku bahkan sudah menang 23 kali.”

“Benarkah?”

“Jadi . . . aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan melengkapi kemenanganku ke 24-ku. Dan . . . beberapa orang yang suka ikut campur,” ujar Sho sambil melempar kerikil kea rah rerumputan di sebelahnya.

Anak-anak Ohkura yang lain muncul. Mereka ketahuan mengintip waktu bersama Sho dan Chisato.

“Jangan pura-pura lagi, keluar saja,” ucap Sho.

“Ketahuan,” jawab Masaru.

“Kau menang di tantangan sauna, jadi katakan saja padanya,” ungkap Satoru.

“Oh? Sho menang?” Akira ikut berkomentar.

“Sudah cium saja dia!” kali ini Fuu yang bicara, ikut memprovokasi.

“Apa? Aku tidak akan melakukan itu. Payah . . . “ Sho berjalan hendak masuk castle, tapi ditahan oleh anak-anak Ohkura yang lain. Meski akhirnya mereka malah ribut sendiri melupakan Chisato.

“Ini mungkin kemenangannya ke 24 juga . . . “ Chisato tersenyum melihat yang lain.



Keadaan sepertinya kembali normal. Mineta-san bermain catur bersama paman pemilik kebun. Hubungan mereka kembali membaik.



Sementara itu di net-café, Kokudo dan Heiji masih menunggu kalau-kalau Chisato mau datang ke net-café lagi. Mereka merindukan Chisato. Dan yang jelas, keduanya masih mengharapkan Chisato.



Chisato dan keenam anak Ohkura yang lain berkumpul di ruang tengah. Mereka sudah siap dengan barang-barang bawaan masing-masing.

Akira yang pertama mengangkat kopernya, “Terimakasih,” ujarnya sebelum pergi.

Satoru mengangkat barang bawaannya, tersenyum dan pergi tanpa sepatah katapun.

Masaru berusaha tersenyum, menahan tangisnya. Ia lalu mengambil barang bawaannya dan beranjak pergi.

Sho meraih tasnya, memandang penuh arti ke arah Chisato sambil berucap “Terimakasih,” lalu melangkah pergi.

“Ah, ini menyebalkan,” gumam Takeru sambil mengangkat tasnya dan memberikan dua jari peace ke arah Chisato.

“Aku menyerahkan sisanya padamu,” kali ini Fuu yang terakhir pamit.



Akira naik bis menuju bandara. Ia memandang keluar. Satoru kembali ke rumah orangtuanya semula. Masaru . . . kembali sibuk dengan kehidupannya sebagai model. Takeru tinggal bersama ayahnya, dan mereka sekarang bekerja di sebuah kontruksi.

“Presdir . . . anda punya wawancara dengan majalah jam 12 nanti,” ujar sekretaris Tokita mengingatkan.

“Aku heran, kenapa dia memberikan posisi presdir padaku?” gumam Fuu.

“Aku yakin, Sinzo-san pasti akan kaget,” komentar pengacara Kyoko yang tiba-tiba muncul.

“Hei . . . mau makan malam denganku?” Fuu menawarkan.

“Apa kau mengundangku kencan?” pengacara Kyoko mendadak bersemangat.

“Sepertinya begitu.”



Sho menemui ibu Rikki dan juga anaknya Rikki. Mereka memandangi Rikki yang tengah bermain di taman.

“Kau jatuh cinta pada seseorang,” tebak ibu Rikki.

“Apa?”

“Kau benar-benar. Pastikan kali ini buat dia bahagia.”

“Kalau begitu, akan kulakukan,” Sho mendekati Rikki yang sedang bermain dan menjawil kedua pipinya. “Rikki, jangan tertawa kalau akhirnya aku memecahkan rekor ke-24 kemenanganku.”



Di castle, Chisato sendirian menatap gulungan perjanjiannya dengan Sinzo-san, termasuk mother’s goals yang sudah mereka selesaikan. Chisato tersenyum.

Ia lalu mengambil album yang ditinggalkan pengacara Kyoko. Chisato mulia membuka album itu, yang ternyata berisi momen-momen kebersamaan keluarga Ohkura.



Tiba-tiba pintu ruangan makan itu terbuka.

“Oh, aku lapar. Hei, siapkan makanan!” ujar Takeru yang pertama muncul.

“Huh?” Chisato heran.

“Ayahku punya kekasih, dan sekarang tinggal dengannya. Jadi aku akan tinggal disini lagi mulai sekarang.”

Akira kedua muncul, “Aku tidak bisa naik pesawat.”

“Akira!” Chisato tambah syok apalagi kemudian Satoru juga muncul. “Satoru, bukankah kau menemui orang tuamu?”

“Aku menemui mereka. Dan sekarang aku pulang.”

Masaru muncul dengan wajah kuyu, “Adikku bilang aku menyebalkan,” rengek Masaru.

“Masaru … “ gumam Chisato lagi.

Muncul juga Fuu kemudian, “Kyoko-san tidak mengijinkanku menumpang.”

“Apa maksudmu dengan menumpang?”

“Aku pulang,” Cuma Sho yang tidak datang dengan keluhan.



Setelah berkumpul di ruang makan, mereka kembali mulai bertengkar. Dari tantangan sauna, diusir dari apartemen, tantangan adu judo dan tinju, lalu komentar si bungsu yang mengatakan kalau mereka semua bersikap childis.

“Diam! Kalian ini apa-apapn sih?” Chisato kesal.

“Kami manusia!” ujar mereka berenam kompak.

“Ayo ke sauna!” ajakan yang diiyakan oleh yang lain. Mereka berenam lalu mulai melepas baju di ruangan itu.

“Hei! Jangan lepas baju disini!” protes Chisato yang sepertinya tidak dihiraukan oleh yang lain. “Aku benar-benar . . . membenci kalian!” gumam Chisato sambil tersenyum.

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.