Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Rabu, 16 November 2016

Tokyo Dogs ep - 02

Takakura Sou dan Kudo Maruo yang tadinya berpartner dalam penyergapan di NY, sekarang benar-benar menjadi partner di kepolisian Jepang, minus Horikawa, karena doski ditugasi menjaga Yuki.

Suatu malam, keduanya sedang melakukan pengintaian dari atas gedung. Tampak di bawahnya sebuah apartemen dengan lampu terang, dan samar-samar orang tengah berpesta.

“Ayo ganggu mereka dan cek rumah itu,” ajak Maruo.

“Kenapa kau selalu pergi tanpa rencana? Bagaimana kalau kita masuk dan ternyata mereka bersenjata? Anak-anak perempuan itu akan dijadikan sandera. Dan jika mereka masih amatir, mereka akan mulai menembak dengan membabi buta. Pikirkan itu.”

“Apa kau selalu sedetail itu?” Maruo protes pada sikap Sou.

Mereka berdua akhirnya mulai turun dari gedung. Sou rupanya sudah menyiapkan semacam alat peledak berbentuk botol minuman, yang apabila digunakan suhunya akan meningkat derastis hingga 15000 C dan meledakkan apapun yang ada di dekatnya. Maruo protes, karena menganggap itu tidak berguna. Sebelum sempat menggunakan alat itu, Maruo sudah mengeluarkan anak kunci.

“Ini cukup kan?” Maruo membuka pintu apartemen itu dengan perlahan.

Tapi ternyata pintu itu masih dilengkapi rantai, dan rantainya dalam keadaan terpasang. Sou langsung mengambil senjatanya dan menembak rantai itu hingga putus.

Maruo kaget, “Orang amerika kembali!”

Sou dan Maruo masuk ke ruangan apartemen itu. Tampak beberapa orang pria dengan gadis-gadis di bawah umur bersama mereka. Sementara Sou membekuk pria-pria disana, Maruo mengumpulkan gadis-gadis di bawah umur itu di satu ruangan, dan . . . mulai tebar pesona. (dasar . . . sempat-sempatnya sih ni orang)

Seluruh pria di ruangan ini berhasil di bekuk, dan dibawa ke kantor polisi dengan bantuan yang datang dari kepolisian. Begitu pula dengan gadis-gadis di bawah umur itu, mereka dipulangkan. Sou dan Maruo kemudian mulai menyisir seisi rumah. Mereka menemukan senjata dan beberapa barang illegal disana.

“Apa kau menemukannya . . . pin lebah itu?” Tanya Maruo.

“Tidak. Sepertinya ini sudah direncanakan.” (jadi begini . . . Sou dan Maruo menyergap apartemen itu karena ada informasi kalau mereka bagian dari jaringan Yakuza Jinno, tapi ternyata tidak ada bukti yang mengarahkan hal itu di apartemen itu)

Sou, Maruo dan Yuki pindah ke apartemen baru, karena keberadaan Yuki di apartemen lama telah diketahui sindikat jaringan Yakuza Jinno. Dan untuk keamanan, Sou dan Maruo tinggal satu apartemen dengan Yuki.

“Apa?! Jadi kita tinggal satu apartemen?” Yuki tidak percaya.

“Iya, memangnya kenapa? Itu lebih aman kan,” jawab Sou santai.

“Bagaimana mungkin itu aman, tinggal bersama dengan dua orang pria . . . “Yuki tidak menyelesaikan ucapannya.

“Sebenarnya yang perlu kau khawatirkan adalah . . . pria yang disana,” Horikawa menatap ke arah Maruo.

Tampak Maruo dengan tampang seriusnya, dan kemudian . . . ia mengeluarkan lidah (melet maksudnya).

“Kya . . . !!!” Yuki ketakutan.

“Ah aku hanya becanda,” Maruo mencairkan suasana.

“Tapi wajahnya tidak tampak becanda,” komentar pacar Horikawa, Maki yang membantu mereka beres-beres di apartemen baru itu.

Maruo kemudian memanggil Horikawa dan mereka memperagakan sesuatu.

“Ketika Yuki sedang mandi, tiba-tiba ada yang datang. Pintu terbuka. Kemudian terdengar teriakan, kyaaa . . . jangan lihat! Setelah itu Yuki melempar si pengintip dengan air, byur . . . “

Yuki tertawa, “Apa kalian nobita?”

Sou yang sedang beres-beres di kamarnya sendiri tiba-tiba keluar. “Doraemon. Kau ingat?”

“Ya.”

“Siapa anak yang selalu mengganggu Nobita?”

“Giant.”

“Kalimat khas Suneo?”

“Mama, melon.”

“Luar biasa.”

“Dia tidak tampak sedang becanda,” komentar Maruo di tengah percakapan Sou-Yuki. “Lihat wajahnya.”

“Siapa cucu dari cucu Nobita?”

“Aku tidak tahu,” jawab Yuki kemudian.

Sou kecewa. “Itu Sewashi,” ucapnya kemudian. Rupanya Sou berharap sekali kalau ingatan Yuki segera kembali.

Di pusat kepolisian Jepang, Unit Investigasi Khusus. Ada kasus percobaan pembunuhan terhadap seorang pengacara, Komiyama. Pengacara ini adalah pengacara favorit beberapa orang penting di Jepang, tidak terkecuali orang-orang yang dicurigai terlibat dengan kegiatan yakuza.

“Bagiamana mungkin ia meninggalkan seorang anak kecil kelas 3 di rumah sendirian,” keluh seseorang.

“Itu benar. Jadi sekarang, mulailah investigasi,” selesai meeting, chef membagi tugas pada anak buahnya.

Sou dan Maruo kali ini pun harus menjadi partner lagi. Mereka mendatangi rumah korban untuk melakukan penyelidikan disana. Maruo protes, tapi chef tidak mempedulikannya. Akhirnya mau tidak mau Maruo mengikuti Sou. Di rumah korban, anggota tim investigasi khusus yang lain, Suzu-san sudah ada disana. Ia sedang menemani Kousuke-kun, putra sang pengacara.

“Karena sudah ada kakak-kakak disini, kau main dengan mereka ya?” Suzu-san beranjak pergi, bergantian dengan Maruo dan Sou.

“Terimakasih sudah bekerja keras,” ucap Maruo sopan. Maruo lalu mendekati Kousuke. “Maaf ya, karena kau tidak bisa berangkat sekolah.”

“Tidak apa-apa, aku tidak ingin pergi,” jawab Kousuke-kun. Tampak di wajahnya, ia tidak menyesal sama sekali tidak bisa berangkat ke sekolah.

“Maaf, kau tidak bisa tetap tinggal disini,” bujuk Maruo.

“Kita mau kemana?” Tanya Kousuke.

“Ke rumah perlindungan polisi,” sambung Suzu-san.

“Apa disana ada PS?” Kousuke menanyakan beberapa jenis mainan lainnya.

“Maaf tidak ada.”

“Bagaimana aku bisa bertahan?” protes Kousuke.

“Cepat dan bawa dia. Mendengarkan permintaannya hanya mengulur-ulur waktu saja,” tegur Sou.

“Sampai kapan?” Tanya Kousuke.

“Sampai penjahatnya tertangkap.”

“Tidakkah itu butuh waktu lama?”

“Cepatlah!” Sou semakin tidak sabaran.

Maruo semakin sebal dengan sikap Sou. Sou beranggapan Maruo hanya buang-buang waktu saja. Sementara Maruo beranggapan bahwa bersikap terhadap anak kecil berbeda dengan bersikap dengan orang dewasa. Tapi Sou tidak menggubrisnya. Ia malah mulai menceritakan bahayanya kalau tetap berada di rumah itu pada Kousuke tanpa bahasa yang tepat. Kousuke-kun ketakutan. Akhirnya Sou dan Maruo berhasil membujuk Kousuke untuk ikut serta. Tapi Sou tidak ikut masuk mobil. Ia bilang akan pergi ke suatu tempat, karena ada urusan.

Dari tim investigasi khusus yang bertugas menyelidiki pengacara Komiyama adalah Mashiko-san. (kalau yang hapal, yang jadi pengacara Komiyama disini yang dulu berperan jadi ayahnya Sano Izumi di Hana-Kimi 2007). Pengacara Komiyama ternyata baru menerima tamu seorang presiden sebuah perusahaan. Mashiko curiga pada presiden perusahaan itu. Sementara Mashiko mencoba untuk ramah, pengacara Komiyama mengabaikannya. Ia melah menyibukkan diri dengan pekerjaannya.

Di tempat lain, Sou ternyata mendatangi sebuah bar. Ia mendekati seseorang yang tengah asyik dengan para wanita/hostess.

“Mewah sekali pada siang seperti ini minum alcohol,” sindir Sou.

Lelaki itu kesal dengan ucan Sou. “Siapa kau?”

Sou mengeluarkan foto-foto dirinya dan pin lebah yang ditemukan di apartemen lama. “Kembalikan ini padanya. Dan jangan menjadi penguntit,” ancam Sou.

“Aku tidak pernah melihat mereka,” ucap pria itu sambil merobek foto-foto yang dibawa Sou.

Tidak lama sesudahnya, anak buah pria itu mendekat dan mulai menyerang Sou. Dan ototmatis, Sou dengan lincah, cepat dan tepat berhasil melumpuhkan mereka semua. Sou lalu beranjak pergi.

“Dia lumayan juga,” komentar seseorang dari balik kerai rantai di bar itu. (Ia adalah penjahat yang juga muncul di episode 1. Kemungkinan doski ada hubungannya dengan yakuza dan Jinno, yang tengah dikejar Sou).

Maruo ternyata membawa Kousuke-kun ke kantor pengacara Komiyama.

“Kenapa kalian membawa Kousuke-kun kesini?” pengacara Komiyama tidak suka kalau anaknya itu dibawa ke kantornya.

“Tapi lebih aman kalau ia bersamamu. Lagipula, ia tidak mungkin di rumah sendirian,” protes Maruo.

“Ia sudah terbiasa di rumah sendirian. Dan sebagai putra seorang pengacara, dia harus memahami itu,” pengacara Komiyama dengan cueknya bicara di depan Kousuke.

Kousuke yang kesal dengan sikap ayahnya itu, berlari ke luar kantor pengacara Komiyama. Sementara itu Maruo kemudian mengejarnya.

“Kousuke . . . “ Maruo mencoba berbicara dengan Kousuke. ( weh doski satu ini emang “hangat” dan sabar banget ya, wkwkwkwk)

“Ayah benar, seharusnya aku tidak perlu datang kesini. Aku akan pulang ke rumah,” ucap Kousuke mulai menangis.

“Tapi kau tidak bisa pulang ke rumah sekarang, itu tidak aman . . .” Maruo berpikir, dan kemudian, “Binggo!”

Ternyata Maruo membawa Kousuke ke apartemen Yuki. Ia juga meminta Yuki membantu menjaga anak itu.

“Tapi, bukankah aku juga dalam bahaya?” protes Yuki.

“Aku tahu, bukankah tempat ini aman kan? Apalagi ada aku dan sensei (Sou). Ya, aku mohon . . “ ucap Maruo. ( sejak kapan ya, ni orang nyebut partnernya itu sebagai sensei?)

“Kalau begitu, ini bisa dianggap pekerjaan?” Tanya Yuki.

“Huh . . . ya bisa dibilang begitu. Lagipula kalau kau disini, Kousuke tidak akan kesepian.”

Yuki setuju untuk membantu menjaga Kousuke. Ia pun lalu menemani Kousuke bermain PS.

Sementara itu, Maruo, Sou dan Horikawa kembali ke kantor. Mereka mengadakan meeting membahas hasil investigasi hari ini. Mashiko menemukan beberapa kasus yang pernah ditangani pengacara Komiyama sebelumnya. Sementara Maijima belum mendapat hasil terkait siapa yang dicurigai berusaha membunuh pengacara Komiyama. Sou dan Maruo kembali ditugaskan bersama untuk menjadi pengawal pengacara Komiyama.

“Orang tua macam apa dia sebenarnya? Dia baik-baik saja sementara anaknya tidak bersamanya. Meskipun begitu, wanita single seperti aku pun tahu kalau itu tidak biasa. Kalau begitu, itu tidak aneh kan kalau aku tidak menikah?” Maijima-san lalu tertawa.

Sementara orang lain di ruangan itu mencoba tidak peduli dengan apa yang baru saja diucapkan Maijima. Mereka semua tahu, Maijima akan menjadi sensitive kalau berurusan dengan pernikahan dan lelaki.

Chef lalu memanggil Sou mendekat. Ia menunjukkan sebuah berkas, bahwa pengacara Komiyama pernah menjadi pengacara Jinno dua tahun sebelumnya. Chef memberikan berkas itu pada Sou, sebagai bahan informasi terkait Jinno.

“Arogatou-terimakasih,” ucap Sou.

Maruo pulang bersama Sou. Maruo mulai mengoceh tentang betapa menyebalkannya pengacara Komiyama sebagai seorang ayah.

“Dia pantas ditembak,” ucap Maruo.

“Hm?” Maruo tidak mengerti Sou tiba-tiba berhenti.

Ucapan Maruo tadi mengingatkannya pada kenangan terburuk masa kecilnya, ketika ayahnya ditembak oleh Jinno.

“Jangan . . . mengatakan hal itu lagi,” ucap Sou dengan tampang seriusnya.

“Tentu saja aku hanya becanda,” elak Maruo.

“Jaga anak itu ketika kau pulang,” ucap Sou kemudian.

Tapi Maruo menolak. Ia sudah punya janji dengan geng-nya untuk datang ke kencan buta. Sou mau tidak mau mengijinkan Maruo pergi dan pulang ke apartemen sendiri.

Sou kembali ke apartemen Yuki. Ia bertemu Yuki yang menemani Kousuke bermain.

“Dimana Maruo?” Tanya Yuki.

“Oh dia, menemui teman,”

Tapi Yuki tidak percaya. “Dia pasti datang ke tempat kencan buta,” komentar Yuki kemudian. “Aku mau istirahat, temanilah Kousuke.”

“Dimana Horikawa?” Tanya Sou.

Yuki menunjuk ke arah kamar Maruo. Disana Horikawa tergeletak di lantai depan pintu. “Dia juga kelelahan menemani Kousuke seharian.”

“Kau kalah dari anak kelas 3 SD?” Sou tidak percaya.

Sou hendak menghampiri Horikawa. Tapi Horikawa buru-buru menutup pintu. Jadi Sou tidak punya pilihan selain menemani Kousuke. Ketika Kousuke membuka jaketnya, Sou melihat ada bekas luka di tangan anak itu. Sou penasaran. Hingga akhirnya mereka mengobrol. Kousuke menceritakan kenapa ia benci datang ke sekolah, karena dia selalu diganggu anak-anak yang lebih besar.

Sou lalu mengajari Kousuke cara menyerang lawan. Sou memperagakannya pada tanaman di ruangan itu. Yuki yang kebetulan keluar kamar heran melihat tingkah Sou. Sementara itu Kousuke lebih kaget lagi, karena tidak tahu kenapa ia diajari seperti itu. Mengetahui Kousuke syok melihatnya, Sou berhenti. Tidak lama sesudahnya, Sou benar-benar mengajari Kousuke cara menjatuhkan lawan. (parah ni om satu ini, masak anak SD diajarin begituan, haduh haduh . . . )

Sementara itu, Maruo yang datang ke acara kencan buta, kaget dengan gadis-gading yang datang.

“Ini bukan kencan buta, tapi konferensi geng,” protes Maruo pada kawannya Shige.

“Bukankah mereka cantik?” Tanya Shige.

“Ini menakutkan,” keluh Maruo kecewa.

Mereka yang berkumpul disitu lalu mengadakan permainan. Dan yang tidak mutu adalah, mereka mengadakan permainan tebak-tebakkan nama stasiun di Jepang. Permainan dimulai, Maruo mencoba kabur. Tiba-tiba ada anggota geng cewek yang mengetahuinya.

“Mau kemana kau?!” ucapnya garang.

“Tidak !!”

Hari berikutnya, Sou dan Maruo bertugas menjadi pengawal pengacara Komiyama. Sampai di kantor, Sou dan Maruo menunggu di ruangan sekretaris, sementara pengacara Komiyama berada di ruangannya. Melihat sekretaris cantik, Maruo yang hobby tebar pesona mulai melancarkan aksinya, merayu sang sekretaris.

Pengacara Komiyama ditelepon oleh seorang kliennya, presdien Shibata. Ia meminta bertemu dengan pengacara Komiyama secara sembunyi-sembunyi, karena ia tidak mau bertemu dengan polisi. Pengacara Komiyama menyetujuinya. Ia menyelinap keluar dari ruangannya itu melalui pintu lain di seberang ruangan. Sou yang curiga lalu menyusulnya. Ternyata benar, kali ini pengacara Komiyama kabur lagi.

Sou dan Maruo mengejar sampai di depan kantor. Dari arah jalan, sudah ada seseorang yang siap menembak. Sou dengan sigap menyelamatkan pengacara Komiyama.

“Kembalilah ke kantor, dan jangan biarkan siapapun masuk,” pesan Sou pada pengacara Komiyama.

Sou dan Maruo lalu mengejar penembak misterius itu. Dan seperti biasa, di tengah investigasi/pengejaran, Sou ditelepon oleh ibunya. Jadilah Sou menjawab telepon sambil berlari.

“Sou, ini mama. Mama dan Karin sedang ada di toko ikan hias . . . “

“Maaf, aku tidak bisa bicara sekarang.”

“Kau selalu begitu. Ikan apa yang harus kami beli?”

Sou akhirnya menyerah dengan protes ibunya. “Nemo . . . sepertinya bagus,” ucap Sou masih sambil berlari dengan handphone di tangan kanan dan senapan di tangan kiri. “Aku akan menelepon lagi nanti,” janji Sou lalu menutup handphone-nya.

Sou dan Maruo akhirnya berhasil mencapai si penembak misterius itu, tapi ia keburu menjadikan seorang wanita yang lewat sebagai sandera. Ketika berhasil membebaskan sandera, teman penembak itu datang membantu. Akhirnya kedua orang penembak misterius itu berhasil kabur. Sou kesal.

Kembali ke kantor pusat kepolisian Jepang. Sou masih menyalahkan Maruo atas peristiwa tadi. Ia beranggapan kalau cara Maruo keliru, sehigga penjahat itu berhasil kabur. Mereka berdua pun bertengkar.

“Sudahlah, yang penting orang sipil itu selamat,” lerai chef.

Meeting mengenai pembahasan kasus pengacara Komiyama dilanjutkan. Sou meneliti beberapa kasus yang pernah ditangani pengacara Komiyama dari artikel.

Di apartemen, Yuki dan Horikawa menemani Kousuke seperti biasa. Sementara itu Kousuke sedang membuka bukunya.

“Oh Kousuke, kau mendapatkan emas dalam festival sekolah,” ucap Horikawa girang.

“Kapan itu?” Tanya Yuki.

“Besok, tapi aku tidak mau pergi.”

“Sepertinya memang tidak bisa,” Horikawa memandang ke arah Yuki.

Di tempat lain, Maruo dan Sou mendatangi Yuri, seorang nerurolog yang menangani Yuki. Yuri menyarankan agar Yuki melakukan sesuatu seperti orang normal lainnya, bekerja misalnya. Tapi Sou tidak setuju, dan mereka berdua pun mulai berdebat. Sementara itu, Maruo hanya bisa bengong memandang kedua orang ini adu argumentasi.

Yuri kesal. Ia mulai menjelaskan keadaan Yuki secara ilmu kesehatan, dan betapa perlunya member stimulus untuk mengembalikan ingatannya. Sou speechless mendengar penjelasan Yuri. Akhirnya Sou menyerah, dan tetap memaksa Yuri segera membantu mengembalikan ingatan Yuki.

“Bukankah Nemo cute?” Tanya ibu Sou.

Ternyata Sou menyempatkan untuk pulang ke rumah ibunya. Ibunya dan adiknya Karin, telah membeli ikan hias dengan corak mirip nemo.

“Karena aku dan mama tidak suka baunya, jadi tidak apa-apa kan, kalau one-chan yang melakukannya untuk kami?” (maksudnya berhubung mereka ga suka baunya, jadi Sou yang harus membantu membersihkan akuarium)

“Sepertinya aku harus mulai menyukai bau ini,” Sou bergumam sendiri.

“Tadaima . . . aku pulang,” seseorang datang.

“Okaeri . . . selamat datang,” jawab ibu Sou dan Karin bersamaan.

“Ah, Nakatani-kun, bukankah itu lucu?” Karin menarik Nakatani, pacarnya mendekati akuarium.

Sou kaget dengan sikap pacar adiknya ini. Ia melihat ke arah ibunya yang sepertinya tenang-tenang saja, “Mereka bahkan belum menikah,” gumam Sou lagi.

Sou pulang ke apartemen Yuki. “Dimana Kousuke?” Tanya Sou.

“Dia sudah tidur, dia tetap masih anak-anak,” jawab Yuki.

Ternyata disana ada Maruo yang telah menceritakan semua yang dibicarakan dengan Yuri tentang Yuki. Yuki mulai merengek pada Sou agar diizinkan bekerja.

“Aku belum memutuskannya,” elak Sou.

Tapi Yuki tetap memaksa. Ia bahkan (kalau bahasa jawanya ngelendoti) menarik-narik baju Sou. Tapi Sou tetap berkeras dengan pendiriannya. Hingga suatu saat Yuki menarik pundak Sou, dan . . .

“Bruk !” Sou membanting Yuki ke lantai dan nyaris menginjaknya kalua Maruo tidak buru-buru menghentikannya.

“Aku wanita, dan dia tetap membantingku, . . . “ Yuki kesakitan di lantai. Sou lalu masuk kamarnya.

Maruo lalu mendekat dan mulai memegang tangan Yuki. “Kau tidak apa-apa kan? Bagian mana yang sakit?”

“Jangan mencari kesempatan!” gertak Yuki pada Maruo.

Hari berikutnya, seperti biasa Sou dan Maruo menjadi pengawal pengacara Komiyama. Dan seperti dugaan Sou, penembak misterius masih saja berkeliaran mengincar pengacara itu. Lagi-lagi Sou berhasil menyelamatkan pengacara Komiyama.

“Jaga dia,” ucap Sou pada Maruo sementara ia berlari mengejar penembak misterius itu.

Kali ini Sou kembali gagal. Ia kembali menemui Maruo yang bersama pengacara Komiyama. Sou menceritakan kalau yang mengincarnya selama ini adalah presiden Shibata.

“Itu tidak mungkin,” elak Komiyama. “Aku sudah lama menjadi pengacaranya.”

“Justru karena sudah lama, anda sudah tahu terlalu banyak. Sehingga dia ingin menghabisi anda.”

Maruo mendapat telepon dari Horikawa. Kousuke menghilang. Tadinya Sou mengajak mereka untuk mencari di sekitar apartemen. Tapi Komiyama mengatakan kalau Kousuke mungkin ada di sekolahnya, karena sebelumnya ia sempat menelepon dan meminta Komiyama untuk datang di acara festival seni di sekolahnya. Sou dan Maruo setuju.

Sampai di depan sekolah, ternyata Horikawa datang bersama Yuki. Yuki ingin ikut mencari, karena ia merasa bertanggungjawab juga menjaga Kousuke. Sou memutuskan Horikawa bersama Maruo, sementara ia mencari bersama Yuki dan pengacara Komiyama. Mereka menemukan Kousuke sedang berdiri di lorong sekolah. Pengacara Komiyama lalu memeluk putranya itu.

“Sebaiknya kita pergi, disini belum aman,” ajak Sou.

Tepat seperti dugaan Sou, penembak misterius itu membuntuti mereka. Dengan sedikit adu tembak, Sou berhasil membawa Yuki, Kousuke, dan pengacara Komiyama ke ruangan lain. Dari arah jendela muncul Maruo dan Horikawa yang menawarkan bantuan.

“Pergilah, kalian akan aman kalau sudah sampai di mobil. Jaga mereka,” pesan Sou pada Maruo.

“Serahkan padaku,” ucap Maruo dengan pede-nya.

Sementara itu Sou berhasil melumpuhkan salah satu penjahat itu dengan menembak kakinya, yang sebelumnya ia jebak dengan pegangan pintu yang dipanasi.

Horikawa dan Maruo membawa mereka bertiga keluar. Di jalan, Kousuke terjatuh dan tanpa diketahui muncul penjahat yang lain menodongkan pistol ke kepala Kousuke. Pengacara Komiyama panic. Horikawa mencoba menjauh dengan tenang, sementara Maruo mengacungkan pistol dengan waspada. Penjahat itu menyandera Kousuke.

Tiba-tiba, dari arah belakang, muncul Sou melumpuhkan penjahat itu. Kousuke dan pengacara Komiyama selamat, begitu juga Yuki dan Horikawa. Sou menodongkan pistol kea rah orang itu, memaksanya mengakui siapa yang mengirimnya. Tapi orang itu tidak mau mengaku. Sou menembakkan pistolnya ke aspal.

“Sebaiknya kau katakan saja, polisi dari amerika itu tidak segan-segan membunuh,” ucap Maruo.

Penjahat itu ketakutan dan akhirnya mengakui kalau ia dikirim oleh presiden Shibata. Pengacara Komiyama akhirnya yakin siapa sebenarnya orang yang ingin membunuhnya. Mereka membawa kedua penjahat itu ke kantor polisi.

Sambil menunggu ambulan datang, Sou mengobrol bersama pengacara Komiyama. Sementara itu Maruo, Yuki dan Horikawa menemani Kousuke bermain ayunan.

“Ada banyak hal yang harus aku selesaikan,” ujar pengacara Komiyama.

“Oh ambulannya sudah datang. Ini mungkin bukan luka yang parah, kau pasti bisa kembali bekerja dalam waktu dekat.” (pengacara Komiyama jatuh dan terluka saat diselamatkan oleh Sou oleh penembakkan kedua).

“Aku berencana berhenti bekerja dulu sebentar. Aku ingin menikmati liburan bersama Kousuke.”

“Baiklah. Tapi . . . masih ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan pada anda,” pinta Sou.

“Tentu saja.”

“Baiklah.”

Pengacara Komiyama lalu beranjak masuk ke ambulan bersama Kousuke. Sebelum benar-benar pergi, Kousuke berbalik.

“Aku tidak akan melarikan diri lagi, aku akan menjaga papa. Karena papa akan tetap jadi papa,” Kousuke tersenyum pada semuanya.

Setelah ambulan pergi, Yuki mulai bicara. “Kalian tahu, aku ingat sesuatu (Yuki mendapatkan sedikit ingatannya waktu melihat Kousuke ditodong dengan pistol tadi). Seseorang ditodong dengan pistol . . . itu saja.”

Sou, Maruo dan Horikawa memandangi Yuki dalam diam. Meski penasaran, mereka tidak bisa memaksa Yuki mengingatnya lebih banyak lagi.

Sou pulang berjalan kaki. Ia melewati sebuah sekolah SD, dan disana melihat seorang anak kecil berbaju orange. Anak kecil itu, Kousuke tengah merobohkan anak-anak lain yang lebih besar, yang selama ini mengganggunya. Dan . . . berhasil.

Sou tersenyum melihatnya. Ia tahu, Kousuke sudah menemukan keberaniannya.

Sou akhirnya mengijinkan Yuki kerja partime di sebuah café.

“Kenapa aku juga harus kerja disini juga?? Protes Horikawa.

“Ini paling mudah untuk menjaga Yuki,” ujar Maruo.

“Tapi aku bekerja keras untuk dapat lolos dari ujian kepolisian bukan untuk menjadi pelayan di café . . . “ protes Horikawa lagi yang dipotong Sou dengan memanggil pemilik café.

Sou memperkenalkan diri sebagai kakak pertama Yuki. Maruo pun ikut-kutan memperkenalkan diri sebagai kakak kedua Yuki. Yuki keluar dari dapur, lengkap dengan seragam pelayan café-nya. Ia tampak ceria.

Pemilik café lalu memperkenalkan satu orang lain. Seorang pelayan baru laki-laki di café itu, Yoshimura-kun. (kalau yang memperhatikan, doski adalah penjahat yang sudah muncul sejak episode 1 tapi tidak pernah terjangkau oleh Sou dan Maruo)

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.