Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Selasa, 08 November 2016

Atashinchi no Danshi ep - 05

Kisah sebelumnya . . .

Fuu si anak tertua tiba-tiba muncul. Pada saat yang sama, anak-anak Ohkura yang lain dan Chisato baru tiba di castle. Fuu mengatakan hal yang membuat semua anak-anak Ohkura naik darah. Chisato melakukan semua hal di castle demi uang!

“Dia salah kan? Hei! Katakan sesuatu!” pinta Satoru.

“Satoru, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.”

“Jadi kau mengakuinya? Mencoba membuat kami makan bersama . . . mencoba mendapatkan cap tangan kami . . . ini semua demi uang?” kali ini si bungsu Akira yang angkat bicara.

“Ya,” ucap Chisato lirih.

“Tidak mungkin . . . “ bisik Masaru. “Jadi kau mempedaya kami.”

“Aku hanya mencoba . . . “

“Aku tidak butuh alasan!” Satoru lalu beranjak pergi.

Pandangan anak-anak Ohkura yang tersisa menusuk Chisato. Ia tahu tidak ada gunanya menjelaskan alasannya berada disini sekarang. Chisato lalu memilih pergi, di bawah tatapan kecewa anak-anak Ohkura yang lain. Sementara Fuu, ia tersenyum dengan kemenangannya.



Karena keluar dari castle, artinya Chisato membatalkan kontraknya dengan Sinzo-san. Itu artinya, dia juga harus mengembalikan uang Sinzo-san sebesar 1 juta yen, cash. Chisato tidak punya pilihan, ia melihat poster rekrutmen hostess di depan sebuah tempat hiburan.

Baru saja Chisato akan masuk, sekelompok orang dengan pakaian aneh datang. Mereka adalah teman-teman Chisato di net-café.

“Chisato-san, bukankah kau pernah bilang ini pekerjaan yang tidak akan pernah kau lakukan? Kenapa kau malah melanggar prinsipmu sendiri,” ucap Kokudo.

“Sudahlah! Ini bukan urusan kalian!”

“Chisato-san, tolong jangan. Biar kami saja yang akan menggantikanmu. Kami tidak ingin melihatmu bergantung di lengan lelaki mabok, atau memamerkan tubuhmu di depan mereka.”

Mendengar suara ribut di luar, managet tempat hiburan itu keluar. Melihat Chisato yang cute-kawaii ia langsung setuju mempekerjakan Chisato. Chisato beranjak masuk mengikuti manager itu.

“Chisato-san!” teman-temannya berteriak menahan.



“Hei, minta kuahnya!” ucap Takeru yang tengah asyik menikmati mie-cup di sauna saat melihat Sho masuk dengan mie-cup di tangan juga.

“Tidak akan kuberikan!” balas Sho tidak kalah sengit.

Sho ternyata diusir dari apartemennya, karena itu ia memilih kembali tinggal di castle. Rikki, putra Sho akhirnya ikut dengan ibunya. Sho masih membahas tentang Chisato, tapi Takeru tidak suka.

“Jadi kau masih mengharapkan si pendek itu?”

“Paling tidak, kita memberinya kesempatan bicara sebelum mengusirnya pergi dari sini,” ucap Sho.

“Diamlah. Kau benar-benar tertarik padanya?” Takeru meninggalkan Sho sendirian di ruang sauna.



Kokudo dan teman-temannya dari net-café berhasil membujuk Chisato untuk membatalkan rencanya bekerja sebagai hostess. Kali ini mereka sedang dalam perjalanan kembali ke rumah kardus Chisato, ketika tiba-tiba sekretaris Tokita menghadang mereka bertiga.

Chisato lalu mengajak sekretaris Tokita ke rumah kardusnya. Chisato mengerti maksud kedatangan sekretaris Tokita itu.

“Kau kesini tentang kontrak itu kan?” Chisato lalu mengeluarkan tabungannya, “Untuk sekarang, aku baru bisa memberikan ini.”

“Kau benar-benar tidak akan melanjutkan kontrak lagi?” desak sekretaris Tokita.

Tapi Chisato sudah mantap. Ia berniat kembali ke kehidupan lamanya dan bekerja untuk mendapatkan uang, yang akan dikembalikan pada Ohkura. Sekretaris Tokita hanya memberinya waktu satu minggu.

“Jadi, kau masih harus melunasinya sebanyak 99,999,612 yen. Kau masih boleh memegang ponselnya. Kalau begitu aku permisi,” sekretaris Tokita lalu beranjak pergi.

Chisato menghembuskan nafas lega melihat kepergian sekretasi Tokita. Chisato tidak tahu kalau Kokudo dan temannya yang lain mendengarkan pembicaraan mereka sejak tadi.



Fuu datang ke castle. Ia heran karena tidak ada seorangpun disana. Tiba-tiba pengacara Kyoko muncul, seperti biasa mengagetkan. Fuu minta ditunjukkan barang-barang yang merupakan warisan saudara-saudaranya yang lain.

“Jadi Cuma barang-barang tidak berguna begini?” Fuu kecewa.

“Kenapa kau tiba-tiba tertarik?”

“Sepertinya aku bisa mengatakannya padamu, Kyoko-san. Kau janji tidak akan cerita pada siapapun kan? Aku mendapatkan ini dari Sinzo-san,” Fuu menunjukkan surat yang dikirimkan Sinzo-san padanya.

Pengacara Kyoko mengambil surat dari tangan Fuu, dan mulai membawa, “Ini …”

“Kau juga tahu tentang ini rupanya.”

“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Apa yang akan aku lakukan? Ngomong-ngomong . . . kenapa yang lain tidak bisa menjadi penerus Sinzo-san? Aku tidak tertarik, jadi aku lupa. Oh ya, untuk kasus Sho, itu karena dia menyuruh Sho menggugurkan kandungan kekasihnya kan?”

“Alasannya berbeda-beda tiap orang,” ujar pengacara Kyoko.



“Akira-kun tidak sanggup dengan pelatihan ketat dan kurikulumnya, jadi dia mengundurkan diri. Satoru-kun tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya setelah Sinzo-san mengadopsinya dan menjadi penyendiri. Dan Masaru-kun . . . dia merasa tidak ada yang percaya kalau ia bisa melakukannya, jadi dia juga mundur.”

“Jadi begitu ya.”

“Kau masih berpikir seperti itu mengani Sinzo-san?”

“Aku tidak bicara soal orang lain. Tapi . . . alasan dan keadaanku berbeda dengan yang lain kan?” ucap Fuu kemudian.

Ada rahasia apa gerangan yang dibawa Fuu? Keadaan berbeda seperti apa yang Fuu bicarakan? Lalu, apa sebenarnya isi surat Sinzo-san pada Fuu, yang membuat sekretaris Tokita juga khawatir? Hmmm . . . masih misterius.



Takeru baru saja datang dari tempat kerja lamanya sebagai pengantar barang. Kali ini ia mendapatkan pekerjaannya lagi. Ia heran melihat Fuu yang sedang berbicara dengan pengacara Kyoko.

“Hai, bro,” sapa Fuu.

“Kau kembali lagi?”

“Sebenarnya aku tidak berniat kembali. Tapi aku meninggalkan sesuatu yang penting. Boleh aku membawa ini?” Tanya Fuu menunjuk ke arah barang-barang yang merupakan warisan tiap anak.

“Ambillah apapun yang kau mau, lalu cepat pergi.”

“Jadi aku peran jahatnya sekarang?” Fuu tersinggung dengan sikap Takeru. “Apa kau jatuh cinta padanya?”

“Diamlah!” Takeru berusaha memukul Fuu, tapi Fuu lebih gesit mengelak dan melayangkan pukulan ke arah Takeru.

“Apa kau lupa, aku punya ijasah boxing? Atau aku harus menunjukkan jurus judo-ku padamu? Oh ya, kenapa dia juga gagal menjadi penerus Sinzo?” Tanya Fuu pada pengacara Kyoko.

Pengacara Kyoko kaget dengan pertanyaan Fuu. Takeru yang masih kesakitan, memandang tajam ke arah Fuu.

“Oh, benar. Aku ingat sekarang. Ini karena ayah kandungmu kan? Itu . . . itu artinya kau punya masa lalu yang sulit,” ucap Fuu lalu beranjak pergi.



Di depan rumah kardusnya, Chisato ternyata tengah berpose. Sementara itu Kokudo mengambil foto Chisato. Dia mengarahkan Chisato agar tampak lebih menyedihkan sebagai homeless.

“Bisakah mendapatkan 100 juta dengan melakukan ini?” Chisato ragu.

“Sekarang, homeless sedang populer. Jadi aku pikir kita dapat membuat foto tentang gadis homeless yang cantik. Aku pikir ini bisa menghasilkan banyak uang,” ucap Kokudo meyakinkan. (apa?! Homeless populer? Kekekeke . . . kalau homeless populer, reality show laris manis donk)

Kokudo dan Chisato duduk berdua setelah pemotretan selesai. Kokuko menanyakan keputusan Chisato untuk pergi dari castle itu dan membatalkan kontraknya.

“Kau tidak bisa membodohiku. Tidakkah kau ingat dulu kau menyemangatiku saat aku hampir menyerah di SMA? Don't disappoint the people who believe in you—jangan mengecewakan orang yang mempercayaimu.”

“Itu karena aku bertaruh 10.000 yen kau akan lulus tahun itu.”

“Aku tahu. Tapi aku bisa lulus karena percaya kata-kata itu. Sekarang aku kembalikan kata-kata itu padamu.

“Itu tidak mungkin sekarang. Itu tidak akan merubah fakta aku telah mengecewakan semuanya. Tidak akan ada yang mempercayaiku sekarang . . . “ gumam Chisato.

“Ada, tentu saja ada. Meski ia sudah tidak ada di dunia ini,” ujar Kokudo.

Chisato teringat ucapan Sinzo-san dulu, agar ia menjaga mereka, anak-anak Ohkura.



Suasana romantis tiba-tiba rusak oleh kedatangan teman Chisato yang lain.

“Hei! Aku punya rencana bagus untukmu,” ucapnya sambil menunjukkan sebendel kertas. “Lihatlah! Aku menemukan ini di internet. Ada sumber air panas tersembunyi di daerah ini.”

“Air panas?” Chisato tidak percaya.

“Ya. Aku sudah bicara pada pemilik tanah, mereka bilang tidak apa-apa kalau kita mencarinya. Dan jika kita berhasil, ini akan jadi berita besar. Lihat ini, kontraknya sudah siap. Tidak hanya akan dibayar 100 juta, jadi menjadi milyaran.”

“Apa itu benar?”

Tanpa diketahui, ternyata beberapa orang penghuni daerah homeless itu mendengar pembicaraan Chisato. Mereka bersedia untuk membantu Chisato mencari sumber air panas itu. Awalnya Chisato ragu, tapi mereka terus memohon.

“Baiklah,” Chisato setuju untuk mencari sumber air panas dibantu mereka.



Takeru masih membawa koper yang harus diantarkannya bahkan sampai ruang sauna. Meski telah dilarang oleh atasannya untuk dibuka, tapi Takeru nekat. Betapa kagetnya dia karena isi koper itu adalah dinamit.

“Apa mereka akan mulai perang?” gumam Takeru.

Tiba Satoru masuk ke ruang sauna juga. Melihat Satoru, Takeru buru-buru menutup kopernya. Satoru yang kaget juga buru-buru menyembunyikan benda yang ia bawa.

“Apa itu? Hei, tunjukkan padaku!” paksa Takeru pada Satoru.

“Ini bukan apa-apa!” sergah Satoru.

Takeru akhirnya berhasil merebut kertas di tangan Satoru, “Hiking? Jadi si pendek berhasil membuatmu benar-benar berani keluar?” sindir Takeru.

“Diamlah!” Satoru tidak terima.

“Tepat sasaran? Benarkah? Kenapa kau berubah juga?”

“Apa isi kopermu?” balas Satoru sambil merebut kembali kertasnya dari tangan Takeru.

“Ini bukan apa-apa!” Takeru lalu meninggalkan Satoru sendirian di ruang sauna.



Chisato sendirian di rumah kardusnya. Ia memikirkan pembicaraannya dulu dengan Sinzo-san.

“Kenapa kau tidak tinggal bersama anak-anakmu?” Tanya Chisato.

“Karena mereka tidak akan menyukainya. Aku melakukan hal yang menyakitkan pada mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang lahir atau tumbuh dalam lingkungan yang baik. Jadi, mengadopsinya membuatku mereka senang. Aku piker aku telah menyelamatkan mereka, tapi aku bodoh. Aku tidak pernah menunjukkan mereka arah yang benar pada akhirnya. Tapi, sudah terlambat ketika aku menyadarinya. Satu hal yang bisa aku lakukan adalah menjadi obyek kebencian mereka,” cerita Sinzo-san dengan sedih.

“Apa kau menyesalinya?”

“Ya, sangat. Jadi, kalau kau kelak bertemu anak-anakku, Chisato . . . sayangilah mereka seperti yang kau lakukan padaku.”

“Bukankah aku sudah katakan, aku tidak akan bertemu dengan mereka,” elak Chisato.

Lamunan Chisato terganggu oleh kedatangan Takeru. Takeru dating dan berdiri di depan rumah kardus Chisato. Rupanya ia sedang bimbang dengan tugas dari tempat kerjanya untuk mengantar barang, tapi berupa dinamit.

“Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku katakana pada orang lain . . . seseorang memberikanku tugas yang tidak amsuk akal. Kalau sampai polisi tahu, aku bisa hancur. Tapi . . . kalau aku menyelesaiakan tugas ini, mereka akan membuatku menjadi pegawai tetap. Sejujurnya . . . aku bimbang. Hei, katakan sesuatu!” protes Takeru karena tidak ditanggapi.

Chisato yang kaget, buru-buru menutup lobang di rumah kardusnya dengan kardus lain. Tanpa sengaja tulisan yang sama yang dituliskan Kokudo siang tadi, tepat di lobang.

“Jangan kecewakan orang yang mempercayaimu? Oh, jadi ini jawabanmu. Hei, orang tua, terimakasih. Maksudku, Shishou (guru),” Takeru lalu beranjak pergi dengan riang.



Hari berikutnya . . .

Chisato dibantu beberapa temannya dari net-café dan orang-orang homeless melanjutkan pekerjaan mereka mencari mata air panas. Hari ini jumlah orang yang bergabung lebih banyak dibanding hari sebelumnya. Rupanya mereka berharap banyak untuk perubahan hidup mereka.

“Oya, dimana Kokudo?” Chisato heran karena temannya yang satu itu tidak tampak.

Di castle . . .

Sho asyik memainkan high power voice. Ia akhirnya mengerti cara kerja alat itu. Tiba-tiba Inoue si pelayan dating. Rupanya ia menangkap seorang penyusup.

“Siapa kau?!” Sho membuka kain hitam yang digunakan untuk menutup wajah si penyusup tadi. “Huh?!” Sho heran karena ia mengenal lelaki itu sebagai teman Chisato di net-café.

“Sebenarnya alasanku datang kesini adalah . . . ingin menceritakan tentang Chisato-san!”

Kokudo mulai bicara di depan Sho. Tapi Sho buru-buru menghentikannya.

“Tunggu dulu! Apa kau punya banyak hal yang ingin kau katakana? Kalau begitu, katakan saja disini,” Sho menyodorkan high power voice di depan Kokudo, baru Kokudo mulai bicara.

“Chisato-san... “



Chisato yang sedang mencari sumber air panas bersama beberapa orang lain beranjak pergi. Paman pemilik kebun memanggilnya untuk datang ke rumahnya.

“Kenapa kau memanggilku tiba-tiba?” Tanya Chisato setibanya di rumah paman pemilik kebun. “Ayah . . . “

“Duduklah! Aku dengar, kau meninggalkan rumah itu,” ucap Tooru-san, ayah Chisato.

“Itu bukan urusanmu!” ucap Chisato kesal.

Tooru-san meminta Chisato kembali ke rumah itu agar hutang mereka tetap dianggap lunas. Tapi Chisato menolak untuk kembali. Chisato dan ayahnya pada akhirnya bertengkar soal tinggal dan uang lagi. Puncaknya, Chisato meninggalkan ayahnya dengan kesal.



Takeru kembali ke castle masih menenteng koper berharganya. Tekeru kaget melihat ketiga saudaranya, Masaru, Satoru dan Akira berkumpul di ruang tengah dengan kertas bertuliskan Gunakan High Power Voice ini di taman Sakuragi. Kalian akan mengerti apa yang kalian ragukan.

“Apa itu?” Takeru heran.

“Bukan kau yang menuliskannya?

“Bukan, Inoue atau orang lain mungkin,” balas Takeru.

“Tidak mungkin. Inoue-san hanya bisa menulis dalam bahasa Indonesia,” elak Satoru. (omo . . . Indonesia disebut disini, xixixixixi. Jadi Inoue itu dari Indonesia ceritanya?)

“Kalau begitu . . . mungkin Sho,” ujar Takeru lagi.

Akira lalu menjelaskan fungsi alat itu. High Power Voice itu adalah alat yang digunakan untuk merekam sesuatu dan saat diputar lagi, maka suara yang terdengar adalah suara Sinzo-san. Masaru syok mendengar hal itu. Satoru lalu memutar alat itu, dan terdengar suara Sinzo-san.

Chisato-san menikahi Ohkura Sinzo untuk bisa membayar hutang sejumlah 100 juta yen dari ayahnya yang suka berjudi. Sebelumnya, dia tinggal sebagai seorang homeless untuk menghindari para penagih hutang. Dia benar-benar homeless . . . selama dua tahun itu, ayahnya telah melarikan diri dant terpaksa ia hidup sendirian. Akhirnya Ohkura Sinzo lah yang membayar hutang sejumlah 100 juta yen itu, dengan syarat dia harus tinggal dengan kalian semua sebagai ibu kalian selama tiga bulan.







Setelah mendengar rekaman dari high power voice, secara diam-diam Satoru, Masaru dan Akira menuju taman yang dimaksud. Mereka berniat mencari tahu kebenaran yang dikatakan di high power voice. Ternyata disana Chisato bersama para homeless yang lain baru saja pulang dari berburu mata air panas. Tanpa diketahui, ternyata Takeru juga datang kesana. Chisato tidak tahu kalau ada yang tengah memata-matainya.

“Jadi dia Shishou (guru)?” gumam Takeru lebih kepada dirinya sendiri setelah melihat Chisato-lah yang keluar dari rumah kardus yang selama ini jadi tempat curhatnya.

Tapi, aku pikir dia terhubung dengan kalian semua. Sekali dia terlibat dengan seseorang, dia tidak lagi peduli apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Apa kalian masih akan membenci dan tidak mau memaafkannya? Narasi itu berakhir dengan pertanyaan.



Tiba-tiba datang salah seorang warga daerah itu yang menyampaikan berita buruk, “Berita buruk! Pemerintah kota akan mendatangkan truk untuk meratakan tempat ini! Tempat ini akan segera menghilang!”

“Apa tidak, apa yang akan kita lakukan?” sambung yang lain.

“Kita harus menemukan sumber mata air panas secepatnya!”

“Apa yang kau bicarakan? Ini bukan waktu untuk hal seperti itu! Kita bahkan tidak tahu kalau itu benar ada atau tidak!” sergah Chisato.

“Kami tahu itu. Jadi . . . kami pertaruhkan semuanya untuk itu. Jika kita bisa menemukan sumber air panas, mungkin kita bisa mulai hidup baru. Kita tidak bisa menyerah sekarang! Tolonglah!”

Chisato termenung. Ia tidak mau membuat rekan-rekannya itu kecewa, “Baiklah,” ucap Chisato akhirnya.

Masih tanpa sepengetahuan Chisato, Masaru, Takeru, Satoru dan Akira masih memperhatikannya. Mereka juga masih mendengarkan pembicaraan Chisato dan rekan-rekannya.

“Mereka akan mencari mata air panas?” ucap Satoru tidak percaya.

“Dengan tangan kosong?” sambung Akira.

“Itu tidak mungkin,” desis Masaru.

“Tapi sepertinya Chisato tidak tampak memikirkan 100 juta yen-nya lagi. Dia hanya tampak memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk orang-orang itu,” ujar Takeru.



Chisato kembali ke castle. Chisato melewati Inoue-san sang pelayang yang pulas tertidur didepan lukisannya. Ia masuk mengendap-endap kamarnya. Betapa kagetnya Chisato karena pengacara Kyoko telah ada disana. (jangan heran, pengacara satu ini emang hoby muncul dimana2)

“Aku muncul wajar, dan kau masih kaget?” komentar pengacara Kyoko.

“Kenapa kau ada disini?”

“Kau mencari ini kan?” pengacara Kyoko menunjukkan sebuah alat deteksi benda di tangannya.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Chisato heran.

“Aku menyuruh Inoue-san untuk menyamar dan bergabung dengan kalian.”

Chisato baru ingat. Ternyata ada seseorang yang memang tidak biasa ia temui di tempat para homeless tinggal selama ini. Pengacara Kyoko juga menunjukkan rute rahasia yang bisa digunakan Chisato untuk keluar dari castle tanpa diketahui oleh penghuni lain. (ni castle emg keren banget, banyak jalan rahasianya ew ew ew)

Chisato datang ke net-café tempat teman-temannya berkumpul. Ia lalu menunjukkan detector yang ia bawa itu, The High Power Detector.

“Apa kau yakin ini akan berhasil?” komentar salah satu temannya.

“Ya . . . meski alat ini baru prototype, tapi tidak ada salahnya kan kalau dicoba,” jawab Chisato santai.



Chisato dibantu Kokuko dan teman-temannya dari net café dan para homeless mulai kembali mencari. Mereka menggunakan alat yang dibawa Chisato dari castle. Tiba-tiba alat yang disetting untuk mencari sumber air itu berbunyi.

“Apa mungkin ada mata air panas disini?”

“Mungkin.”

“Kalau begitu, ayo kita gali.”

“Berhenti disana!” tiba-tiba terdengar suara lain disusul kemunculan tiga orang anak Ohkura. Mereka adalah Takeru, Satoru dan Akira.

“Apa yang kau lakukan disini?” Chisato heran.

“Kami hanya hiking iya kan? Tapi kami juga tidak bisa membiarkan amatir seperti kalian melakukan hal itu, huh?” ujar Takeru sok.

Takeru lalu mengambil alih pekerjaan itu. Ia mengeluarkan dinamit dari koper yang selama ini ia bawa, dan mulai memasangnya di tanah tempat tadi alat mendeteksi adanya air. Takeru menyalakan sumbunya.

“Menyingkir! Ini berbahaya!” Takeru menyuruh orang-orang itu menjauh.

Tidak sengaja Chisato tersandung dan jatuh tidak jauh dari tempat peledakan dinamit. Takeru buru-buru menolong CHisato dengan menutupi tibuh Chisato dengan jubah yang ia kenakan. Posenya membuat orang salah paham, hehehehe. Dan duarrrrrr!!!!

“Apa yang kau lakukan yankee?!” Satoru yang melihat pose Takeru-Chisato setelah ledakan langsung tidak terima. Satoru lalu memukul Takeru.

“Kenapa kau memukulku?” Takeru tidak terima dan berusaha membalas. “Kau berandalan kecil!”

“Hentikan! Dimana Masaru?” Chisato akhirnya berhasil memisahkan mereka berdua. Tapi dia juga heran karena Masaru tidak tampak diantara mereka.



Dimana Masaru? Ternyata Masaru ada di castle. Ia masih syok dengan fungsi dari high power voice yang ternyata hanya alat pengubah suara, dan bukan alat yang bisa mengetahui isi hati orang lain.

“Itu bukan isi hati Chisato-san . . . “gumam Masaru.

Sho yang baru tiba heran karena Masaru ada disana sendirian, “Huh? Tidakkah kau sedang syuting live? Bukankah acaramau sekarang adalah date dengan artis wanita di TV local?” Sho memperhatikan alat yang dipegang Masaru. “Ayolah . . . kenapa kau tampak syok seperti itu? Aku sudah dengan dari Akira, high power voice kan?

“Aku tidak syok karena dia membohongiku,” elak Masaru.

“Jadi kau depresi karena dia tidak benar-benar menyukaimu? Dalam hal ini, kau tinggal membuatnya benar-benar menyukaimu,” usul Sho.

“Itu tidak mungkin terjadi,” rajuk Masaru.

“Kalau kau ikuti ideku, aku pikir kau akan punya kesempatan,” tawar Sho. “Serahkan saja padaku!” ucap Sho tersenyum devil smile.



Apa yang terjadi di hutan selanjutnya? Di dalam lobang yang terbuat dari ledakan dinamit tadi, Chisato dibantu Takeru dan Kokuko kembali menggali. Mereka mencoba menemukan mata air panas.

Tidak lama kemudian, air menyembur keluar. Orang-orang yang menunggu di atas heboh.

“Ah ini dia! Mata air panas! Ada disini!” ketiganya semakin semangat menggali. Tapi ketiganya heran karena air itu ternyata tidak terasa panas.

Tiba-tiba ada seorang warga sekitar yang datang. Ia heran melihat orang-orang ini berkumpul di sekitar lobang. Ia kemudian berkomentar, “Ya ampun, apa yang kalian lakukan? Kalian memotong aliran air biasa,” warga itu lalu beranjak pergi.

“Apa?!” ketiga orang di dalam lobang syok.

“Hei, masalah besar!” salah seorang teman Chisato dari net-café datang, “Mereka mulai penggusuran tempa tinggal kalian!”



Chisato bersama rekan-rekannya yang lain kembali ke taman. Mereka menyaksikan tim penggusuran mulai mengangkut barang-barang mereka dan mengosongkan taman itu.

“Tolong hentikan!” pinta salah seorang.

“Ini peraturan baru untuk penataan kota. Jadi kami harus membereskannya hari ini. Maaf,” ucap salah seorang pekerja penggusuran itu.

“Tunggu dulu!”

“Dan kita tidak menemukan sumber air panas. Apa yang akan kita lakukan?” Tanya salah seorang pasrah.

“Huh? Masaru? Apa yang ia lakukan?” Chisato heran karena disana muncul Masaru yang sejak tadi tidak tampak batang hidungnya.



Masaru rupanya sedang syuting acara reality show. Ia kencan bersama seorang aktris dari TV local. Mereka berjalan di taman itu dengan latar Chisato bersama rekan-rekannya. Di net-café, anak-anak juga sedang menyaksikan live acara reality show Masaru. Mereka terpikat oleh pesona Masaru. Di mobilnya, pengacara Kyoko dan Sekretaris Tokita ternyata juga menyaksikan acara reality show itu.

Si aktris mencoba menanyakan tentang keadaan taman itu. Ia heran, apa tengah terjadi penggusuran penghuni liar di taman itu. Tapi Masaru menyangkalnya.

“Tidak. Mereka hanya pindah. Pernah dengar perusahaan mainan bernama Miracle . . . mereka tengah membangun sebuah taman permainan bernama Tresure Hunter.

“Ah ya, aku ingat hal itu,” komentar si aktres.

“Miracle akan mempekerjakan orang-orang ini sebagai pekerja sementara . . . dalam pembangungan Tresure Hunter disini. Aku penasaran akan seperti apa nantinya setelah jadi,” ucap Masaru semangat.



Pengacar Kyoko dan sekretaris Tokita sudah tiba juga di taman itu. Chisato heran dengan kedatangan mereka berdua.

“Aku belum pernah mendengar hal itu,” ucap Chisato pada sekretaris Tokita.

“Aku juga baru saja mendengarnya disini. Tapi sepertinya dia akan membuat ini menjadi kenyataan,” ujar sekretaris Tokita sambil memperhatikan Masaru.

“Jadi kau akan mempekerjakan mereka semua?” Chisato mendadak bersemangat.

“Aku tidak punya pilihan kan? Itu bahkan sudah disiarkan di TV. Tapi! Kita hanya akan mempekerjakan yang lolos wawancara dan akan dipekerjakan hanya sampai Treasure Hunter selesai! Apa itu melegakanmu, presdir pengganti? Kalau begitu, kau juga yang harus bertanggung jawab atas semua ini. Kau tidak akan membatalkan kontrakmu kan?”

“Jadi tidak sah kalau dia tidak kembali kan,” komentar Satoru.

“Apa kau mau mengingkari keajaiban?” sambung Takeru.

”Mereka memintamu kembali ke rumah,” ucap Akira memperjelas maksud kalimat Takeru dan Satoru.

“Diamlah adik kecil!” Satoru dan Takeru lalu mulai menganiaya Akira.



Masaru selesai dengan pengambilan gambarnya. Ia melihat ke arah Chisato dan yang lain, tersenyum lega. Masaru melangkah mendekati mereka semua, dan tanpa aba-aba Chisato berlari merangkul Masaru.

“Terimakasih!” ucap Chisato senang, sementara Masaru syok dengan sikap Chisato.

“Hei, tunggu! Kau artis girly! Berhentilah bersikap sok cool!” Takeru tidak terima dan menarik Masaru lalu mulai memukulinya.

Takeru rupanya juga ambil bagian. Ia juga memukuli Masaru. Chisato, Akira dan yang lain hanya bisa tersenyum melihat ulah Ohkura bersaudara ini.



Chisato, Akira, Satoru, Masaru dan Takeru kembali ke castle. Mereka disambut Sho dengan semangkuk makanan masakannya.

“Kenapa kau tidak ikut bersama kami?” komentar Takeru.

“Akan menyedihkan kalau kalian kembali dan tidak ada yang menyambutnya,” jawab Sho ngeles.

“Kau hanya tidak suka pekerjaan lapangan kan?” cibir Takeru.

Sho dibantu Masaru dan Takeru lalu menyendok dan mempersiapkan menu hari ini, curry ke dalam piring.

“Kenapa?” Masaru heran melihat Chisato diam saja.

“Itu hanya . . . kembali kesini . . . aku sama sekali tidak sedih.”

“Oh ya, okaeri­—selamat datang,” ucap Sho kemudian.



Keluarga Ohkura sudah siap di kursi masing-masing dengan porsi makanan di depan mereka. Ketika akan mulai makan, mereka berebut siapa yang akan memimpin doa. Akhirnya mereka mempersilahkan Chisato untuk memimpin doa.

Baru saja suasana baik tercipta, muncul pengganggu lain. Fuu kembali pulang.

“Apa yang kau lakukan disini?” protes Takeru.

Fuu lalu berjalan dengan santainya, ia mendekati Chisato. Dan tanpa aba-aba, Fuu mencium pipi Chisato, “Dia kekasih baruku,” ucap Fuu percaya diri sambil tersenyum.

“Hah?!” anak-anak Ohkura yang lain kaget.

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.