SINOPSIS Perfect Insider episode 10 end part 1. Pembunuhan berantai di Euro Park. Dalam satu insiden, mayat menghilang dan hanya dengan meninggalkan lengan. Dalam insiden lain, pelaku menghilang dalam ruangan terkunci rapat. Dr. Magata Shiki dibalik kasus ini. Tunangan Moe, Hanawa Rikiya, terhubung dengan Magata Shiki. Setelah masuk perangkap Hanawa, Moe akhirnya bertemu Shiki secara langsung.
Moe terbangun di kamarnya sendiri. Ia melihat sekeliling dengan heran dan bingung. Ingatannya kembali pada pertemuannya dengan Dr.Magata Shiki semalam. Tapi, Moe tidak tahu bagaimana menjelasakannya.
Moe menemui Saikawa-sensei yang berkemah di dekat danau, “Saikawa-sensei, ini bukan mimpi, kan?”
“Setidaknya itu pemahamanku.”
“Apa definisi dari kenyataan?” tanya Moe lagi.
“Itu khayalan yang muncul dalam pikiran manusia hanya pada saat dimana dia bertanya-tanya apa definisi kenyataan itu. Hal itu memang tidak pernah ada.”
“Apa maksudmu, kenyataan tidak memiliki makna? Dr. Magata mengatakan sesuatu yang mirip seperti itu. Kau dan Dr. Magata...sangat mirip,” komentar Moe selanjutnya.
Moe menghubungi dua detektif kenalannya, det.Ukai dan det.Katagiri.
“Oh, Detektif Ukai, ini Nishinosono Moe. Aku sekarang ada di Kota Nagono, Daerah Aichi. Aku sudah telpon pamanku karena ada hal penting, tapi dia tidak menjawab telponku.
“Oh, Kepala dalam perjalanan bisnis ke LA dan tidak kembali sampai besok.”
“Begitukah? Bisakah kau membantuku?” pinta Moe kemudian.
Det.Ukai yang memang ngefans pada Moe langsung mengiyakan saja, “Ya, katakan saja jika ada yang bisa aku lakukan untukmu. Demi Nishinosono-san, Ukai Daisuke ini akan melakukan apapun dengan setulus hati.”
Ucapan Moe berubah serius, “Aku bertemu Magata Shiki!” ucapannya kali ini membuat det.Ukai yang tengah duduk, langsung berdiri karena kaget. “Taman Euro, yang dioperasikan oleh perusahaan software komputer, Nanocraft. Dr. Magata Shiki bersembunyi di suatu tempat di sana. Tolong buat surat permohonan pencarian langsung.”
“Di mengerti. Aku akan menghubungi Kepolisian Daerah Aichi dan segera menyusun rencana,” ujar det.Ukai mantap.
Det.Shibaike yang mengurusi kasus kemarin menemui Moe. Dia mengatakan jika kepolisian daerah Kanagawa menelepon soal laporan Moe yang mengaku bertemu dengan Magata Shiki.
“Dr. Magata ada hubungannya dengan pembunuhan Matsumoto-san dan Shinjo-san. Dia juga memperingatkan aku akan ada pembunuhan lain,” ujar Moe selanjutnya.
Moe bersama det.Shibaike menemui Hanawa-san. Tanpa basa basi, Moe langsung menginterogasinya, “Dimana Dr. Magata? Dia ada di fasilitas penelitian di bawah hotel, kan? Kau membiusku dan membawaku ke tempat Dr. Magata berada, kan?” cecar Moe.
Hanawa-san heran dengan pertanyaan Moe, “Apa Dr. Magata yang kau bicarakan, Dr. Magata Shiki yang terkenal itu?”
“Tolong jangan berpura-pura tidak bersalah begitu,” Moe tampak tidak suka.
“Mungkin aku tidak seharusnya berkata ini tapi kemarin Moe datang ke sini dalam keadaan mabuk, lalu tertidur. Jadi, aku tidak punya pilihan selain mengantarnya ke kamar.”
“Hanawa-san. Magata Shiki adalah pelaku pembunuhan berantai. Jika kau melindunginya, kau juga akan dinyatakan bersalah,” det.Shibaike juga ikut bicara.
Hanawa-san sama sekali tidak terpancing, “Kau punya bukti? Atau apakah polisi menjalankan investigasi hanya berdasarkan ingatan samar-samar seorang wanita? Jika kau akan melakukan penyelidikan, tolong bawa surat perintahnya terlebih dahulu. Ada yang sedang menungguku, jadi aku permisi dulu.”
Saikawa-sensei menghubungi prof.Kuneida lewat telepon umum. Dari seberang, tampak prof.Kuneida sedikit khawatir.
“Maaf, tapi bisakah kau membantuku menyampaikan dokumen rapat fakultas ke kantor?” pinta Saikawa-sensei.
“Aku sudah melakukannya.”
“Terima kasih. Aku hanya bilang padamu, sebenarnya sekarang aku ada di Euro Park,” cerita Saikawa-sensei.
Prof.Kuneida heran, “Perjalanan seminar tidak dimulai sampai besok kan?”
“Aku katakan yang sebenarnya padamu, Dr. Magata Shiki mungkin bersembunyi di dalam taman.”
“Kenapa kau ceritakan ini padaku?” pertanyaan sarkas dari prof.Kuneida. (ok, disini dia sama sekali nggak peka)
“Yang benar saja! Peneliti macam apa kau!” keluh Saikawa-sensei. Suaranya kembali berubah serius, “Bantu aku mengurus sisanya.”
Moe berniat kembali ke kamarnya. Tapi di tangga, ia bertemu dengan wakil presdir Fujiawara yang mengajaknya bicara. Mereka membahas soal pembunuhan Matsumoto-san dan juga sekretaris Shinjo. Wakil presdir Fujiwara berpikir jika kedua korban adalah sepasang kekasih.
Pembicaraan beralih soal Hanawa Rikiya. Cerita itu pun mengalir. Hanawa Rikiya memulai perusahaannya, Nanocraft sejak masih kuliah hingga kini berkembang jadi perusahaan IT terbaik dunia. Alasan Hanawa membuat kota buatan Euro Park ini ternyata untuk Moe. Hanawa-san ingin bertemu Moe secara dramatis di sebuah tempat seperti kapel. Wakil presidr Fujiwara merasa yang dilakukan Hanawa Rikiya adalah sia-sia karena sudah berinvestasi untuk membangun kota tua Euro Park ini.
“Oh ya, aku ingin menunjukkan suatu yang bagus,” ujar wakil presdir Fujiwara kemudian.
Saikawa-sensei baru saja meletakkan gagang telepon setelah menghubungi prof.Kuneida saat telepon itu kembali berdering.
“Apa kau sengaja menelpon karena tahu aku akan mendengarkan?” tanya suara di seberang.
“Ya. Aku hargai kau mengambil umpanku...Dr. Magata Shiki.” Ujar Saikawa-sensei, tegas. “Dr. Magata, di mana kau sekarang?”
Magata Shiki tertawa, “Kau sudah tahu jawabannya.”
“Kau bersembunyi di Euro Park, kan?” tembak Saikawa-sensei.
“Kau juga bersembunyi.”
“Kenapa kau menelponku?” tanya Saikawa-sensei.
“Aku ingin memberimu sedikit berita, terkait Nishinosono-san.”
Rupanya ini benar-benar menarik perhatian Saikawa-sensei, “Apa yang akan kau lakukan terhadapnya?”
“Berdasarkan perhitunganku Nishinosono-san akan dibunuh di penghujung hari. Tolong berada di lift hotel. Aku akan tunjukkan jalannya.” Telepon itu lalu terputus.
Moe mengikuti wakil presdir Fujiwara berkeliling. Mereka mengunjungi pusat penelitian di bagian bawah komplek Euro Park itu.
“Silakan lewat sini. Ini ruangan untuk penguji. Dan ini ruangan gambar,” wakil presdir Fujiwara mengajak Moe ke sebuah tempat khusus.
Ruangan pertama adalah ruangan pengendali, di sebelahnya ada ruang penguji lalu ruangan gambar. Saat itu seorang karyawan bermasker masuk. Ia membawa koper dan mulai memasangkan peralatan yang dibawanya pada wakil presdir Fujiwara.
“Ada yang harus aku persiapkan, bisakah kau menunggu di ruang sebelah?” pinta wakil presdir Fujiwara.
Saikawa-sensei menuruti Magata Shiki untuk datang ke Euro Park. Baru saja ia akan memencet tombol lift, lift itu sudah terbuka. Saikawa-sensei tiba di lantai bawah, di pusat penelitian. Ia berkeliling, tapi tempat itu sepi. Merasa ada orang lain yang datang, Saikawa-sensei memilih bersembunyi.
Pria yang baru datang itu ternyata presdir Hanawa. Dia langsung menuju ruang control saat tahu wakilnya, Fujiwara-san mengajak Moe ke sana. “Fujiwara-san, apa yang kau lakukan?”
“Hanya menunjukkan pusat tekhnologi Nanocraft pada pemegang saham mayoritas kita,” ujar wakil presdir Fujiwara dengan santai.
Mengerti maksud dari wakilnya ini, presdir Hanawa pun diam saja dan ikut memperhatikan.
“Wow! Wow, ini menakjubkan! Ini hologram, kan?” komentar Moe saat silhuet Fujiwara-san muncul perlahan di depannya dan makin jelas.
“Aku lebih suka terlihat sedikit lebih muda, tapi sayangnya ini tiruan akurat sampai satu inchi.”
“Apa disinkronkan dengan gerakanmu di ruang sebelah?” tanya Moe. Ia menggapai ruang kosong di depannya.
“Ya. Hanya satu arah untuk saat ini, tapi akan menjadi dua arah di masa depan. Aku bisa bertemu denganmu sejauh apapun kita terpisah,” lanjut Fujiwara-san lagi.
Tapi sesosok menakutkan tiba-tiba muncul. Moe mencoba memberitahukan Fujiwara-san soal keberadaan sosok berbaju besi di belakangnya. Tapi Fujiwara-san sama sekali tidak mengerti. Satria berbaju besi itu kemudian mengangkat pisau dan menusukannya pada Fujiwara-san. Diperlakukan seperti itu, Fujiwara-san pun ambruk.
Sosok berbaju besi itu perlahan berubah menjadi Magata Shiki. Ia mendekati Moe yang mulai ketakutan.
“Nishinosono-san. Aku bahkan bisa masuk ke dalam tubuhmu. Dan juga ke dalam ingatanmu yang tertutup.”
“Jangan!” teriak Moe yang ketakutan.
Presdir Hanawa yang ada di ruang control heran. Ia memanggil-manggil Moe. Saikawa-sensei yang mendengarkan semua dari luar, akhirnya menerobos masuk.
Dalam pikiran Moe …
Ada sejumlah Moe yang berdiri saling membelakangi dan membentuk lingkaran. Lalu di tengahnya ada Moe yang tampak depresi. Di tangannya tergenggam sebuah cutter.
“Nishinosono-san. Keluar dari sana,” ujar Magata Shiki yang mendekati Moe di tengah. “Karena kau menangis, yang lain tidak bisa bermain.”
“Apakah ayah dan ibuku... mati?” gumam Moe.
“Benar.”
“Apa aku juga...?”
“Tidak, kau hidup,” ujar Magata Shiki cepat. “Moe lain bersembunyi dari kau yang menangis. Kau, orang yang merindukan kematian.”
“Apa yang akan terjadi ketika aku mati?” Moe tampak semakin frustasi.
“Moe lain akan menggantikanmu. Dan dia akan menangis.”
“Kalau begitu... biarkan aku mati, hanya aku. Aku mohon?” Moe menangis.
“Mati saja jika itu yang kau inginkan. Benar. Kematian hanya sekedar ulangan kehidupan,” Magata Shiki menyeringai senang.
Moe mengangkat cutter di tangannya. Ia bersiap menggoreskan benda itu ke lehernya sendiri. Moe memejamkan mata.
Tapi mata Moe kembali terbuka saat samar-samar terdenga suara yang ia kenal. Suara Saikawa-sensei.
“Moe! Moe!” Saikawa-sensei mengguncang-guncang tubuh Moe yang tidak sadarkan diri.
“Saikawa-sensei!”
“Kau tidak apa-apa?”
Kesadaran Moe perlahan kembali, “Dr. Magata masuk ke dalam tubuhku. Dia bilang padaku untuk mati saja, jadi aku...”
“Tenang. Tenangkan dirimu. Sekarang semuanya baik-baik saja.”
“Kau pasti Professor Saikawa,” presdir Hanawa yang sejak tadi hanya berdiri di ruang control akhirnya ikut masuk.
Moe melihat presdir Hanawa dengan khawatir, “Aku mohon maaf karena tiba-tiba menganggu seperti ini Fujiwara-san ditusuk dengan pisau...Satria berbaju besi muncul entah darimana dan Fujiwara-san ditusuk.”
“Tapi, itu hanya hologram. Bukan ditusuk sungguhan,” elak presdir Hanawa.
Dibantu Saikawa-sensei, Moe berdiri. Kini mereka bertiga menuju ruang gambar yang ada di sebelah. Di bawah ada wakil presdir Fujiwara terkapar dengan pisau tertancap di punggungnya.
Saikawa-sensei mendekatinya dan memeriksa, “Dia sudah tewas,” lapornya kemudian.
Presdir Hanawa merasa aneh. Ia tidak percaya. Ia lalu turun sendiri dan memeriksa, “Itu tidak... .” Presdir Hanawa juga dibuat terkejut karena seperti yang dikatakan Saikawa-sensei, wakil presdir Fujiwara ternyata telah meninggal.
“Dr. Magata yang membunuh Fujiwara-san. Satria berbaju besi itu Dr. Magata,” cerita Moe. Saat ini ia dan Saikawa-sensei sudah ada di luar ruangan.
“Apa yang kau lihat adalah hologram.”
“Pembunuhan terjadi di ruangan terkunci. Mustahil ini pembunuhan yang lain,” elak Moe. Berdasarkan bentuk ruangan, ruangan TKP kasus Fujiwara-san memang ruangan tertutup.
Polisi sudah datang. Seperti kasus yang lalu, kasus kali ini pun ditangani oleh det.Shibaike. ia mengatakan jika pelaku yang menusuk Fujiwara-san masih belum ditemukan. Tapi ada laporan jika peneliti wanita yang memakai masker di ruang control tiba-tiba menghilang. Ternyata dia adalah pegawai tidak tetap yang dipekerjakan selama sebulan dengan nama palsu Kuwahara Midori.
“Kami sudah mendirikan pos pemeriksaan di sekitar taman jadi dia tidak bisa lari jauh,” lanjut det.Shibaike.
“Apa mungkin dia bersembunyi di suatu tempat di gedung ini?”
“Itulah alasan kami melakukan investigasi door-to-door. Setiap tamu hotel akan dipindahkan ke vila sewaan di dalam taman setelah verifikasi identitas,” ujar det.Shibaike lagi.
Presdir Hanawa kembali mengunjungi kapel. Kali ini ia disambut oleh Magata Shiki.
“Ada apa? Kau terlihat pucat,” sapa Magata Shiki sambil turun dari tangga.
“Kau sudah tahu ini sejak lama?”
“Tentu saja,” ujar Magata Shiki santai. “Kesalahan program yang diciptakan Tuhan, Adalah umat manusia. Aku ingin tahu bagaimana si jenius Hanawa Rikiya, mengatasi ini? Hapus Nishinosono-san dan Saikawa-sensei, yang menyaksikan pembunuhan.”
Presdir Hanawa tampak frustasi, “Apa kebetulan, kau sudah punya rencana membunuh mereka juga?”
“Mungkin...wanita bermasker yang melarikan diri itu Dr. Magata,” ujar Moe pada Saikawa-sensei. Saat ini mereka ada di penginapan yang disiapkan di sekitar Euro Park.
“Itu kemungkinan yang pasti aku tidak bisa menolaknya.”
“Karena dia berpengalaman menyamar sebagai adiknya selama kasus itu setahun lalu,” lanjut Moe.
Saikawa-sensei dan Moe dikejutkan dengan kedatangan prof.Kuneida dan mahasiswanya Hamanaka. Hamanaka mengaku jika prof.Kuneida memaksanya datang sehari lebih awal untuk menyelesaikan bagian terakhir tesisnya, ini sebagai kamp pelatihan khusus.
“Kunieda-kun, itu tidak mungkin, jadi kau datang lebih cepat karena kau khawatir tentang...?” ucapan Saikawa-sensei terputus.
“Tidak. Aku hanya ingin tahu apa yang sedang terjadi di sini,” elak prof.Kuneida cepat.
“Ada beberapa pembunuhan di dalam Euro Park,” cerita Moe.
“Apa, wanita bermasker itu ada kaitannya dengan pembunuhan ini?” tanya prof.Kuneida. ia mengaku baru saja melihat seorang wanita bermasker di dekat danau. Wanita itu menghentikan mobilnya dan mengeluarkan sesuatu.
Paham dengan apa yang terjadi, Saikawa-sensei buru-buru berlari keluar. Ia masih sempat melihat sebuah mobil berwarna hitam yang melaju cepat setelahnya. Di dekat tempat mobil itu tadi, ada sebuah bungkusan.
Saikawa-sensei dan Moe mendekati bungkusan itu. Dengan pelan, Saikawa-sensei membuka resleting bungkusan itu. Ternyata isinya adalah jasad Matsumotosan. Tapi, jasad itu lengkap. Lengan milik Matsumoto-san sama sekali tidak terpotong.
Keping puzzle dalam kepala Saikawa-sensei akhirnya nyaris lengkap. Kota tiruan. Kenyataan dan khayalan. Satria Kegelapan. Lengan yang hilang. Lift rahasia. Kamar yang tertutup rapat. Pembunuhan yang mustahil. Hologram. 'Dan terima potongan roti dari ayah kami.' Magata Shiki. Jadi, itu semua sebenarnya telah menunjukkan pada kita, mimpi yang panjang kan?
Saikawa-sensei lalu mengajak Moe menemui presdir Hanawa. Ternyata ia tengah duduk di kursinya sambil menikmati anggur. Presdir Hanawa agak mabuk kali ini.
“Hanawa-san. Kami telah menemukan mayat Matsumoto-san di danau,” ujar Moe.
“Apa ada seseorang yang memindahkannya ke danau?” tanya Hanawa-san, sarkas.
“Kini semua rencanamu berakhir. Apa kau mengetahui semuanya? Trik dalam kasus ini?” lanjut Saikawa-sensei.
Hanawa-san tersenyum sarkas. Dan cerita itu pun mengalir, “Ya. Semuanya memang sudah dipersiapkan untuk Moe, kau tahu? Seperti dunia dalam video game. Aku pikir aku bisa menciptakan kenyataan dengan cara lain yang aku inginkan. Aku menerima email setahun yang lalu. Pengirimnya Magata Shiki. Programmer jenius, yang dikatakan dekat dengan Tuhan, menawarkan kerjasama sebagai rekan bisnisku. Bisa kau bayangkan bagaimana gembiranya aku? Aku pikir aku bisa memanfaatkan Magata Shiki. Tapi, manusia tak mungkin bisa mengatur Tuhan, kau tahu kan? Dia sangat jenius. Aku tidak lebih dari sekedar orang yang sedang-sedang saja yang dengan hebatnya menganggap diri jenius.” Hanawa-san tampak mulai frustasi.
“Hanawa-san, bisakah kau pinjamkan kami kunci Pass lift untuk eksekutif? Kami akan bertemu Dr. Magata,” pinta Saikawa-sensei.
“Kau yakin mau melakukan itu? Bahkan semua itu sudah ada dalam program yang Dr. Magata buat, kau tahu?”
“Ya, aku kira begitu,” ujar Saikawa-sensei dengan tenangnya.
Dengan kunci pass khusus, Saikawa-sensei dan Moe menuju lift khusus. Mereka menyusuri jalan dan cara yang sama seperti saat Moe dibawa masuk ke sana. Keduanya tiba di sebuah kapel. Tapi di langit-langit kapel, tidak ada bekas berlubang. Lalu, seseorang berbaju putih muncul.
BERSAMBUNG
Sampai jumpa di bagian terakhir Perfect Insider episode 10 end part 2
Picture and written by Kelana
Posting at www.elangkelana.net
0 komentar:
Posting Komentar