Sinopsis Perfect Insider episode 08 part 1. Jasad tanpa kepala ditemukan di sebuah ruangan dalam acara festival karakter tokoh. Dan tersangka utama dari pembunuhan lain, diwaktu yang hampir bersamaan tergeletak di ruangan yang sama. Moe yang menyelidiki kasus ini tiba di tempat kerja kakak korban, Tsutsumi Kiyoto. Tapi, kakak korban ini mulai bersikap aneh. Apalagi di tempat kerjanya itu, ada satu bentuk tubuh adiknya yang lengkap dengan kepalanya.
Moe yang kembali mengunjungi area festival model bertemu dengan kakak korban Asuka, Tsutsumi Kiyoto. Ia pun setuju saat diajak Kiyoto-san untuk datang ke ruang kerjanya. Tapi, Kiyoto-san berbuat aneh. Ia menunjukkan sebuah pertunjukkan yang diakhiri dengan roket botol dengan air berwarna merah bercipratan di udara. Kiyoto-san tampak tertawa senang. Moe yang ketakutan mundur ke dinding, dan menemukan sebuah model dengan bentuk serupa adik Kiyoto-san, Asuka-san. Tapi wajah sumringah Kiyoto-san berubah setelahnya. Ia meratapi model adiknya yang ada di balik kaca.
Moe yang ketakutan pun segera pamit pergi.
Wajah Moe masih lesu saat berangkat ke kampus pagi berikutnya. Bahkan saat dosen memberikan kuliah, Moe malah melamun sendiri. Dan akhirnya seperti biasa Moe terdampar di ruangan Saikawa-sensei. Saikawa-sensei tengah asyik mengetik di laptopnya. Saat Moe akan bercerita, Saikawa-sensei memotongnya dan mengatakan kalau ia tahu, jika kemarin Moe mendatangi ruang kerja Kiyoto-san.
Moe berpikir jika Kiyoto-san mungkin saja pelakunya. Kesimpulan Moe karena ia melihat model Asuka di ruang kerja Kiyoto-san.
“Dia menjadikan adiknya sebagai subjek kerja,” komentar Saikawa-sensei.
“Tapi itu ukuran-hidup dan sebuah tiruan sempurna dari adiknya!” sanggah Moe. “Kiyoto-san memiliki rasa sayang yang aneh untuk adiknya, Asuka-san. Dia ingin mengubah wajah adiknya kedalam karya seninya. Aku pikir itulah alasan dia memotong kepalanya.”
“Jika itu masalahnya, dia akan mengambil seluruh tubuhnya,” lanjut Saikawa-sensei.
Moe tampak berpikir, “Dia menghindari mengambil seluruh tubuh, karena memindahkannya terlalu jelas.”
Tapi pertanyaan kenapa Asuka dipanggil ke ruangan umum juga belum terjawab. Jika memang benar tujuan Kiyoto adalah tubuh Asuka, maka seharusnya lebih aman memanggil Asuka secara langsung ke ruang kerjanya.
“Apa kau masih mencurigai Terabayashi-san?” tanya Moe lagi. “Mayat tanpa kepala dan pelaku berada di dalam ruangan yang sama' kan?”
Saikawa-sensei menghentikan kegiatan mengetiknya, “Aku tidak punya petunjuk. Sangat tidak masuk akal bagi siapapun membunuh di tempat itu dan hanya mengambil kepalanya. Jadi sasaran pelaku sebenarnya mungkin bukan kepala Asuka-san. Aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat, tapi aku yakin kita hanya melihat sedikit dari seluruh masalah.”
“Maksudmu, insiden lain masih mungkin terjadi?” Moe mulai mengerti arah pembicaraan dosennya.
Tapi pembicaraan mereka terhenti saat reporter Gido Setsuko masuk ke ruangan. Dia dengan riang menyapa Saikawa-sensei dengan ‘Sohei-kun’ dan mengatakan terimakasih atas makan malam mereka. Moe yang cemburu makin kesal. Ia akhirnya memilih pergi lebih dulu.
Moe keluar dari ruangan Saikawa-sensei dengan kesal. Saat itu, mahasiswa lain, Hamanaka Fukasi menghampirinya. Ia memberikan sebuah surat untuk Moe. Katanya surat dari kekasih tampan Moe.
“Pria super tampan datang pagi ini dan memintaku menyampaikan ini padamu,” ujar Hamanaka.
“Apa kebetulan... orang itu, Seseorang bernama Tsutsumi Kiyoto?” tanya Moe. Ia pun mengambil surat itu dan membukanya. Ada tulisan tangan disana.
Kau tahu? Bumi benar-benar tidak berputar sama sekali. Pandangan yang terpotong dalam bentuk persegi adalah titik gelap. Apa kau melihat istana luas di atas bukit? Ada gerbang besar di depan dan topi runcing di kepalanya. Tetap jalan lurus sambil melihat gereja di sisi kanan tangan dan dua jalan nantinya akan menjadi satu. Lebih jauh lagi, kau akan melihat gudang besar melebihi tanah lapang. Setelah itu, kau bisa menemukan gubuk, hampir tersembunyi dari pandangan? Salah satu dari dua tempat itu, ada kepala Asuka. Dan pria yang memotong kepalanya masih berdiri di samping. Kau mau tahu kenapa dia di sana? Karena asuransi. Selamat tinggal.
Moe merasa ada bahaya yang mungkin terjadi. Ia bergegas menuju mobilnya. Tapi dering ponsel menahannya dari menjalankan mobil.
“Halo, apa ini Nishinosono-san? Um, ini Terabayashi, aku bertemu denganmu di rumah sakit,” ujar suara di seberang.
“Oh, Terabayashi-san. Ada yang bisa aku bantu?”
“Aku harus bilang, aku kabur dari rumah sakit,” aku Terabayashi-san kemudian.
Dan di rumah sakit, det.Ukai dan det. Katagiri dibuat sibuk. Mereka kehilangan Terabayashi yang ternyata kabur dari rumah sakit, kemungkinan lewat jendela dan menuruni dinding dengan pipa yang menempel di dinding.
Moe menemui Terabayashi di tempat perjanjian mereka. Moe khawatir dengan sikap Terabayashi ini. Karena melarikan diri membuat Terabayashi akan semakin dicurigai polisi.
“Aku tidak bermaksud menambah masalahmu. Aku hanya butuh ongkos taksi. Maukah kau pinjamkan aku, 5,000 yen? Aku pasti akan menggantinya,” pinta Terabayashi.
Moe penasaran Terabayashi akan pergi kemana. Terabayashi ragu menjawabnya. Tapi Moe mengancam, ia tidak akan meminjaminya uang jika Terabayashi tidak mau mengaku.
“Ke tempat Kiyoto-kun. Kiyoto-kun pagi ini memberiku salinan majalah pemodel. Polisi yang menerimanya, dan memberikan padaku, tapi...ini,” Terabayashi menunjukkan sederet tulisan tangan di dalam majalah itu.
Ketika aku mati, tolong lukis aku dalam gradasi dari biru metalik ke hijau zamrud. Aku tahu siapa pria itu. Dan pria itu tahu aku mengenalnya.
“Kiyoto-kun mungkin tahu siapa pelakunya,” gumam Moe. “Ini mirip dengan surat yang aku terima darinya,” aku Moe akhirnya. Ia menunjukkan surat yang juga diterimanya dari Kiyoto-san. “Dia bilang itu asuransi. Dia pasti meninggalkan kita pesan, kalau-kalau sesuatu terjadi padanya.”
“Maksudmu, hidupnya dalam ancaman seseorang?” tebak Terabayashi.
Ponsel Moe berbunyi. Ternyata telepon dari Daigobo. Daigobo mengatakan jika polisi memberitahunya jika Terabayashi kabur dari rumah sakit.
“Moe-chan, aku bukan polisi, kau tahu kan?” bujuk Daigobo. “Aku hanya khawatir dengan Terabayashi-kun. Dan tentu saja, kau juga.”
Tadinya Moe enggan mengaku. Tapi akhirnya dia luluh juga, “Maafkan aku! Dia sebenarnya bersamaku saat ini.” Moe menyerahkan ponselnya pada Terabayashi.
“Halo. Sebenarnya Kiyoto-kun menghubungiku...”
Kemana Saikawa-sensei? Ternyata ia pergi bersama Gido-san. Mereka kembali mengunjungi pameran model, yang sebenarnya telah ditutup itu. Sebenarnya mereka dilarang masuk. Tapi, karena sebelumnya Gido-san pernah bergabung dalam salah satu klub di acara model itu, mereka pun diijinkan masuk. Bahkan Gido-san memberikan salah satu pin juga pada Saikawa-sensei.
“Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin melihat karakter tokoh ini?” tanya Gido-san, pensaran.
Keduanya tengah memperhatikan model yang masih dipajang, “Hmm. Aku ingin tahu berapa harga karya seperti ini?”
Gido-san berpikir, “Karena karya yang terpajang ini asli dari pemodel kelas-satu Aku pikir setiap tokoh mungkin bernilai di atas 500,000 yen. Aku melakukan penelitian tepat sebelum wawancaraku. Pola dasar dari tokoh asli sangat bernilai karena hanya ada satu di dunia. Sekali kau membuat cetakan karakter wanita, kau bisa memproduksi benda sebanyak yang mau.”
“Cetakan karakter wanita?” Saikawa-sensei heran dengan istilah ini.
“Ya, cetakan yang dibuat dengan mencelup potongan asli kedalam silikon untuk mengeraskannya ke dalam lubang, yang disebut cetakan karakter wanita. Kau tuangkan damar sintetis ke dalam cetakan maka kau mendapatkan karakter tokoh yang sama persis. Wanita menghasilkan pria, kau tahu?”
Sesuatu muncul dalam pikiran Saikawa-sensei. Ia paham, “Aku tahu.”
Moe dan Terbayashi tiba di depan ruang kerja Kiyoto-san. Saat itu Daigobo dan Kita-sensei pun ikut bergabung. Mereka masuk ke ruang kerja Kiyoto-san, tapi tempat itu sepi. Tapi suasana mendadak berubah. Lampu yang ada di tumpukan roket botol di tengah ruangan mulai menyala. Pertunjukkan dimulai.
“Aku berani bertaruh Kiyoto-kun ingin kita melihat ini,” komentar Daigobo, masih takjub. Ia pun mengeluarkan handycam yang dibawanya dan mulai merekam. “Kenapa kita tidak santai saja dan menikmatinya?”
Terdengar suara lain, tetapi pemiliknya tidak muncul. Suara milik Kiyoto-san, “Para hadiri yang kami hormati, pertunjukan akan segera dimulai!”
Puncak pertunjukkan pun tiba. Roket botol mulai terlembar kesana kemari satu per satu. Tapi tidak seperti pertunjukkan sebelumnya, isi roket botol itu ternyata adalah alcohol. Entah dari mana datangnya, api mulai menyala dan merambat cepat membakar barang-barang di ruang kerja itu.
Moe masih berkeras mencari sosok Kiyoto-san meski Kita-sensei telah melarangnya. Tapi Kita-sensei akhirnya menyerah oleh keras kepala Moe. Ia akhirnya menuruti Moe mencari Kiyoto-san. Mereka menemukan Kiyoto-san berada di dalam bak mandinya, tidak bergerak sama sekali. Ia telah meninggal. Moe ingin mendekati jasad Kiyoto-san itu, tapi dilarang oleh Kita-sensei. Rupanya Kita-sensei melihat ada kabel terkelupas yang tercelup di dalam bak mandi itu. Kiyoto-san meninggal karena tersengat listrik.
Daigobo mengingatkan mereka semua untuk segera keluar, karena api makin besar. Tidak punya pilihan, Kita-sensei pun menyeret Moe untuk bergegas keluar. Tapi, di tengah jalan sebuah lukisan yang tertempel di dinding lepas dan siap terjatuh. Sigap Kita-sensei melindungi Moe yang tepat berada di bawah lukisan yang terjatuh itu.
Polisi dan ambulan sudah datang. Saikawa-sensei pun sudah bergabung disana. Ia segera mencari keberadaan Moe dan yang lain. Saikawa-sensei menemukan Moe yang ternyata baik-baik saja bersama Daigobo-san. Sementara itu, Kita-sensei ada di salah satu ambulan yang ada di sana.
“Maaf, Sohei. Aku sudah mengambil semua bagian yang enak,” ujar Kita-sensei yang masih dirawat oleh petugas di dalam ambulan.
“Aku tidak mengerti selera rasamu. Kau semacam...” ucapan Saikawa-sensei terputus.
Paham situasi, Daigobo segera masuk ke dalam ambulan tempat Kita-sensei berada, menutup pintunya dan meminta mereka untuk segera pergi ke rumah sakit.
Moe menceritakan pada Saikawa-sensei jika Kiyoto-san telah meninggal. Jasadnya ditemukan di dalam bak mandinya. Ia meninggal karena sengatan listrik. Saat itu det.Katagiri datang mendekat.
“Di tempat kerja Tsutsumi Kiyoto kepala adiknya, Asuka-san telah ditemukan,” cerita det.Katagiri.
“Apa?” Moe kaget.
“Ini artinya Tsutsumi Kiyoto membunuh adiknya, dan bunuh diri bersama kepalanya.”
“Aku paham apa yang terjadi! Ternyata tepat seperti isi suratnya,” komentar Moe kemudian. Moe kemudian menceritakan pada Saikawa-sensei jika ia mendapat surat dari Kiyoto-san. Dalam surat itu disebutkan soal asuransi, kalau-kalau terjadi sesuatu. Kemungkinan Kiyoto-san tahu siapa pelaku sebenarnya. Itulah mengapa dia dibunuh. Pelaku sebenarnya membawa kepala Asuka-san dan memberatkan Kiyoto-san dengan membunuh dia lalu menyamarkannya sebagai bunuh diri.
“Terus, kenapa pelaku menyulut api?” gumam Saikawa-sensei. “Membawa kepala, menyengat Kiyoto-san dengan listrik, dan menyamarkannya sebagai bunuh diri seharusnya sudah cukup. Api bisa membakar tubuh dan kepala sepenuhnya bahkan setelah berusaha keras menyiapkan segalanya. Dan juga, setelah melakukan banyak tindakan tidak masuk akal sampai titik ini apa kau pikir pelaku akan melakukan hal tambahan seperti penipuan palsu?”
“Jadi apa yang kau pikir sedang terjadi?” tanya Moe.
“Aku tidak punya jawaban,” sesal Saikawa-sensei. “Tapi ada satu hal yang aku tahu dengan pasti. Logika pedekatannya, sama sekali tak berarti bagi lawan ini.”
Moe kembali datang ke tempat pameran model di Institut Teknologi Keihin. Disana ia bertemu dengan Terabayashi. Terabayashi mengaku jika ia telah diizinkan keluar dari rumah sakit. Dan karena polisi focus pada penyelidikan pada Kiyoto-san, ia akhirnya dibebaskan.
Ternyata Moe datang ke tempat itu untuk bertemu prof.Kawashima. Sayangnya sang professor sedang keluar dari kantornya. “Aku masih berpikir... Prof.Kawashima orang paling mencurigakan dalam insiden Kamikura Yuko-san.”
“Apa maksudmu, Prof.Kawashima yang membunuh Kamikura-san?” tanya Terabayashi.
“Prof.Kawashima punya motif dan juga tahu tentang kunci laboratorium. Terabayashi-san, apa kebetulan kau ada ide tentang Professor Kawashima?”
Terabayashi berpikir. Ia kemudian ingat sesuatu, “Kalau dipikir-pikir itu... dia punya ruangan hobi yang disewa di apartemen dekat dengan tempat kerja Kiyoto-kun. Sebelumnya aku pernah kesana.”
Tahu ada hal baru, Moe langsung bersemangat. Ia minta pada Terabayashi untuk diantar ke apartemen yang dimaksud.
Saikawa-sensei tengah duduk di mejanya saat Daigobo-san datang. Daigobo dibuat takjub saat melihat prof.Kuneida disana, yang berpenampilan seperti pria. Tapi keduanya bisa langsung menebak satu sama lain. Daigobo memperkenalkan diri sebagai sepupu Moe dan juga teman sekelas Saikawa-sensei saat masih di SMP.
“Apa Kita baik-baik saja?” tanya Saikawa-sensei kemudian.
“Ya, dia masuk rumah sakit untuk pemeriksaan tapi aku pikir dia akan keluar besok. Bukankah kau sahabatnya? Kenapa kau tidak menjenguknya?” ujar Daigobo sambil menyerahkan makanan yang dibawanya.
“Itu nomor terakhir dalam daftar prioritasku. Tidak, itu bahkan bukan pilihan pada poin ini,” ujar Saikawa-sensei, dingin.
“Kau belum berubah,” seloroh Daigobo kemudian. “Aku dipanggil polisi, mereka menanyakan setiap detail kecil dari kejadian kemarin sejak tadi pagi.”
“Apa kau bawa itu?” tanya Saikawa-sensei kemudian.
“Ini apa yang kau cari,” ujar Daigobo kemudian menyerahkan handycam yang dibawanya.
Mereka kemudian menonton rekaman itu lewat laptop Saikawa-sensei.
“Ini semacam upacara keagamaan?” tanya Hamanaka.
“Oh tidak, itu masalah orang yang tidak bisa menghargai seni,” komentar Daigobo. “Lebih penting lagi, apa kau bisa berhenti makan dengan tanganmu?” tegur Daigobo pada prof.Kuneida.
“Ini lebih masuk akal, karena lebih sedikit yang harus dicuci,” jawab prof.Kuneida dengan santainya. Ia kembali memasukkan kue ke dalam mulutnya menggunakan tangan.
“Oh, tidakkah ada sesuatu melintas? Sesuatu berwarna putih melintas! Ada lagi!” komentar Hamanaka. Tapi sepertinya yang lain tidak ada yang peduli.
“Bagaimana keadaan Kiyoto-san di dalam?” tanya Saikawa-sensei kemudian.
“Dia ditemukan telanjang dalam bak mandi dengan seluruh tubuhnya dicat serba putih karena beberapa alasan.”
Saikawa-sensei memasuki ruang berpikirnya.
Model. Dua ruangan terkunci dan dua mayat. Hanya boneka. Kenapa kepala? Bentuk tubuh yang sempurna. Tidak masuk akal. Pembunuh prop. Kematian sengatan listrik. Mayat dicat serba putih. Pria diproduksi oleh wanita. Ini benar-benar tidak bisa aku mengerti. Apa orang ini sama sekali tidak takut apapun? Kau tidak punya pilihan selain menerimanya. Teori ini sudah terbukti.
“Saikawa-kun, Kau tidak apa-apa?” tanya Daigobo saat melihat Saikawa-sensei yang terpejam dengan keringat yang keluar di wajahnya. “Apa yang merasukimu, tiba-tiba terlihat galak begitu?”
Saikawa-sensei akhirnya terbangun dari ruang berpikirnya. Ia menemukan sesuatu. Tapi suara pesan masuk dari laptop menarik perhatiannya.
Ada pesan dari Moe. Aku di apartemen dekat lokasi kebakaran bersama Terabayashi-san. Saikawa-sensei menangkap sesuatu. Ia segera mengambil jaketnya dan berlari keluar.
Kemana Moe? Ia pergi bersama Terabayashi ke apartemen yang disebutkan oleh Terabayashi sebagai apartemen milik prof.Kawashima. Lingkungan sekitar apartemen tampak sepi. Saat keduanya berniat masuk, ternyata pintunya tidak dikunci.
Moe dan Terabayashi pun bebas masuk ke dalam. Disana mereka menemukan sejumlah kit yang dikenali oleh Terabayashi sebagai kit untuk membuat model.
“Jadi, Professor Kawashima juga menjadi karakter tokoh?” gumam Moe.
Mereka terus memeriksa ke dalam. Di balik tirai, Moe menemukan sebuah pojok mencurigakan. Ada banyak foto Kiyoto-san tertempel di dinding. Selain itu ada model berbentuk kepala tidak jauh dari sana.
Moe memeriksa sudut lain ruangan itu. Ada kotak yang tergeletak di bawah. Saat dibuka, ternyata kotak itu berisi sebuah cetakan tubuh.
“Itu Kiyoto-kun. Indah kan?” ujar Terabayashi dari belakang. “Aku harus mengakui...ini ruangan hobiku,” akunya kemudian.
Moe akhirnya menyadari sesuatu. Ia merasakan bahaya mengincarnya. Moe mundur ke tembok saat Terabayashi semakin menyudutkannya. Terbayashi mengambil sapu tangan dari balik jasnya dan menempelkannya ke wajah Moe.
BERSAMBUNG
Sampai jumpa di Perfect Insider episode 08 part 2
Picture and written by Kelana
Posting at www.elangkelana.net
Kelana’s comment:
Ada yang kenal dengan pemeran Terabayashi Koji di episode kali ini? yup dia adalah om Yamamoto Koji. Dan selamat buat om Yamamoto yang belum lama ini akhirnya berhasil menaklukkan hati Horikita Maki dan menjadikannya istrinya. Omodetto om Yamamoto dan mbak Maki ^_^
Yang main di yukan club jd sheishomaru :D
BalasHapusAnggota kanjani 8 bukan yak?
Ud merit? Ud tuir bearti ya... ihihi...
Trus... Na-Chan nya kapan inih? *ahjumma usil
kekekekek
BalasHapusdia bukan anggota boyband kq, cuma aktor
tapi kayaknya emang lebih sering jg supporting actor deh
baru merit kemarin, belom lama
itu juga setelah perjuangan enam tahun mengejar cinta mbk horikita maki
keren banget
enam tahun, bro ... demi
huaaaaa ... kenapa skrg malah Na yg diinterogasi
ehm #sokCool
Na kapan ya?
klo ntar Na lama nggak ngeBlog dg alasan sibuk, mungkin krn satu itu, #ups #curcol
Wuiihhh... mayan lama itu 6 tahun. Beneran cinta nya bearti :D
BalasHapusMoga langgeng lah yaaa... jgn ky banyakan artis, ngejar2nya bertahun2, nikahnya nda sampe setahun ^^a
Aheemm... tapitapitapiii... moga Na-Chan ketemu jodoh yg sehati yaaa.... gape dorana jugaaakkkk.... wihihi
hihihihi
BalasHapusiya, mantep si om satu itu. ngejar dari 2009, diajak pacaran ogah, eh diajak nikah malah langsung mau
iya, amiiiiiiin
moga Na segera ketemu jodoh, #ups