Sinopsis DOS DEKA episode 05 part 2 nih. Buat yang ketinggalan bagian sebelumnya, bisa cek juga di Dos Deka episode 05 part 1.
Kasus kali ini cukup membuat Kuroi terpojok. Bahkan bujukan Daikan untuk duduk di permainan putar di taman pun tidak diacuhkannya. Bagaimana Kuroi menyelesaikan kasus ini?
Kuroi yang tengah asyik memperhatikan rekaman pesta saat kejadian direktur Odonari yang tiba-tiba ambruk dibuat kesal oleh Daikan. Rupanya Daikan memesan makan malam nasi goreng dengan ekstra bawang dan juga kimchi. Kuroi menyuruh Daikan pergi jauh-jauh bahkan menutup hidungnya dengan sapu tangan.
Saat memperhatikan video itu, Kuroi menyadari sesuatu. Ia menyentuh sapu tangan yang dipegangnya, “Senjata pembunuh?”
Kuroi meminta seluruh staf berkumpul. Ia menyuruh Daikan memutar video rekaman pesta itu dan memintanya berhenti pada suatu bagian. Tampak disana ada sebuah tangan yang menyodorkan sapu tangan pada direktur Odonari.
“Direktur Odonari menerima sapu tangan agar dia tidak menghirup asap. Tapi, alih-alih menghirup asap, dia malah menghirup hal lain. Pelaku tidak membuat Direktur Odonari memakan kacang, tapi membuatnya menghirupnya. Komponen kacang dioleskan pada sapu tangan. Dan direktur Odonari yang menghirupnya meninggal karena reaksi alergi.”
Tapi di video itu yang tampak hanya gambar tangan. Pertanyaan kemudian, tangan siapa itu. Kuroi kemudian menunjukkan foto orang-orang yang ikut dalam pesta. Ada empat orang yang langsung mendekat setelah direktur Odonari pingsan. Tiga diantaranya telah menikah dan selalu memakai cincin kawin. Sementara itu, gambar tangan yang muncul di video tidak menunjukkan cincin disana. Dari keempat orang itu, pelakunya yang juga seorang yang masih single, adalah Wakimoto Tsukasa.
Tapi ide Kuroi ini rupanya tidak langsung diiyakan yang lain. Selama investigasi, tidak ditemukan sapu tangan di manapun di tempat pesta. Selain itu, orang yang dicurigai, Wakimoto, tidak punya motiv apapun untuk membunuh. Selama ini dia adalah bawahan langsung sekaligus orang kepercayaan direktur Odonari. Selama ini orang-orang menilai jika hubungan keduanya begitu erat. Dan lagi, dalam pesta itu seharusnya akan diumumkan jika Wakimoto akan menempati posisi direktur yang ditinggalkan oleh direktur Odonari.
“Kuroi, aku menolak semua idemu. Tidak ada senjata pembunuh, tidak ada bukti dan tidak ada motiv. Tidak bisa digunakan untuk membuatnya (Wakimoto) menjadi tersangka. Ini saja yang kau dapat? Ini sangat disesalkan, Kuroi,” ujar inspkt.Shirogane.
Untuk pertamua kalinya, Kuroi tidak berkutik. Ia tidak bisa memberikan jawaban apapun atas pertanyaan serta tuduhan inspkt.Shirogane. Kuroi terdesak!
Kuroi melamun sendirian di taman. Kali ini ia tidak meminta Daikan untuk memutarkan mainan untuknya. Kuroi masih memikirkan kasus ini. Semua idenya ditolak mentah-mentah oleh inspkt.Shirogane dan yang lain. Kuroi tampak tidak suka.
“Kuroi-san, ayo naik! Aku yang akan memutarnya. Mungkin kau bisa mendapat sesuatu!” bujuk Daikan.
Tapi sepertinya Kuroi masih enggan naik mainan yang berputar itu, meski Daikan sudah lebih dulu menarik simpatinya dengan memutarnya.
Kuroi beranjak pergi dari taman bermain. Ia ikut antri dengan orang-orang yang akan membeli paket makan siang. Daikan yang mengekor menyangka Kuroi akan membeli makanan. Tapi ternyata mereka bertemu dengan informan yang biasanya. Kali ini ia menyamar menjadi penjual makanan.
“Jadi, apa yang kau temukan?” tanya Kuroi tanpa basa basi.
“Direktur Odonari terkenal diantara staf dan partner kerjanya, sebagai orang yang menyukai kejutan. Bahkan ada kalanya kliennya akan membuatkan kejutan untuknya agar bisa mendapatkan kontrak. Untuk membalas semua itu, direktur Odonari akan melakukan ‘sesuatu’. Contohnya, semua staf akan berkumpul di lobby dan kemudian menari. Itu disebut membalas kejutan. Satu lawan satu. Kejutan untuk kejutan!” ujar si informan pula.
Kuroi dan Daikan mendatangi resto milik Saeki-san. Mereka bertanya soal balasan kejutan, tapi Saeki-san mengaku tidak tahu soal itu.
“Apa direktur Odonari memintanya melakukan sesuatu saat pesta?”
Saeki-san tadinya tidak mengerti. Tapi ia kemudian mengeluarkan sebotol wine, “Apa maksudmu ini? Odonari-san memintaku mengeluarkannya di akhir pesta.”
Daikan memeriksa wine itu, yang tampaknya adalah wine mahal, dengan penanda tahun ’35. Kemungkinan wine itu digunakan untuk merayakan direktur baru. Tapi jika memang benar wine itu adalah balasan kejutan, maka terlalu tampak biasa.
“Apa boleh kami membawanya?” pinta Kuroi yang tanpa ragu diiyakan oleh Saeki-san.
Kuroi dan Daikan kembali mendatangi kantor NextEdge. Mereka bertemu dengan Arita-san yang ternyata tengah marah-marah di telepon. Arita-san menyangka mereka masih mencurigainya.
“Hubungan tuan dan budah antar pria, bagiku menjijikan,” ujar Arita-san, mengacu pada hubungan direktur Odonari dengan Wakimoto-san. “Aku tidak pernah dengar Wakimoto membicarakan hal buruk tentang direktur Odonari sekalipun, meski ia seringlembur. Tidak pernah sekalipun dalam Sembilan tahun! Alasan Wakimoto masih single hingga saat ini adalah semua waktunya dikorbankan untuk direktur Odonari. Tapi kalau diingat lagi, sehari sebelum pesta, Wakimoto tampak depresi.”
“Sehari sebelum pesta?” Kuroi penasaran.
“Meskipun hari-hari gelapnya (hanya jadi staf) akan segera berakhi esoknya.”
Kuroi dan Daikan tidak lupa mengunjungi Wakimoto-san. Saat itu baru saja ada staf yang mengganti papan namanya menjadi direktur Wakimoto.
“Selamat! Ikatan antara kau dan direktur Odonari sangat kuat. Kau pasti senang saat tahu direktur Odonari dipromosikan menjadi direktur senior, dan kau akan ditunjuk menggantikan posisinya sebagai direktur. Apalagi sehari sebelum pesta, kau tampak ‘depresi’, pasti ada yang salah kan?” sindir Kuroi.
Wakimoto-san tampak salah tingkah. Ia tidak menyangka akan kedatangan dua polisi itu. Apalagi Kuroi berbicara langsung seperti itu. “Maaf, masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan,” pamitnya kemudian.
Kuroi dan Daikan kembali ke taman. Jika tadi Kuroi menolak, kali ini ia sudah lebih dulu ‘nangkring’ dan menyuruh Daikan untuk memutar mainan itu. Tidak lama kemudian, sejumlah anak-anak kecil mendekat. Mereka melihat pemandangan aneh, karena ada dua orang dewasa bermain permainan seperti itu.
Korban meninggal adalah direktur NextEdge, Odonari Shiro. Ia meninggal karena reaksi alergi dari kacang. Pelaku membubuhkan kacang di sapu tangan lalu memberikannya pada direktur Odonari, dan membuatnya menghirupnya. Satu-satunya orang yang mungkin melakukan itu adalah satafnya, Wakimoto Tsubasa. Wakimoto bekerja di bawah Odonari selama Sembilan tahun dan hari itu ia akan ditunjuk sebagai penggantinya. Di hari dimana semuanya akan berubah, kenapa ia melakukan hal itu?
Daikan yang kelelahan akhirnya ikut nangkring dan berputar bersama permainan itu. Tapi Kuroi protes dan memintanya memutar lebih cepat. Daikan tidak punya pilihan selain kembali turun dan memutar mainan itu.
Satu lawan satu. Kejutan untuk kejutan. Wakimoto tampak depresi sehari sebelum pesta. Tiba-tiba Kuroi meminta Daikan berhenti memutar. Sepertinya ia mendapatkan sesuatu.
Kuroi dan Daikan kembali ke markas. Kuroi masih saja memeriksa wine yang tadinya akan dimunculkan saat pesta itu. Ia membawanya di bawah lampu.
“Daikan-sama! Kerja bagus!” puji Kuroi kemudian. Ia menemukan sesuatu.
Alih-alih didatangi seperti biasa, kali ini Wakimoto yang diminta datang ke markas kepolisian. Daikan pun menyajikan secangkir minuman. Tapi, minuman itu kemudian langsung muncrat keluar membuat Wakimoto kaget luar biasa.
“Itu reaksi kejutan yang sebenarnya,” komentar Kuroi. Ia pun melanjutkan ucapannya, “Selama pesta, direktur Odonari yang terkenal fashionable ternyata mengenakan stelan jas tipis dan murah. Dia mengeluarkan dompet, ponsel dan jamnya dan meletakkannya di meja. Reaksi direktur Odonari biasanya sempurna, tapi kali itu reaksinya aneh kan? Kenapa kau tidak mengatakan soal ‘itu’?” pancing Kuroi.
Wakimoto-san tampak tidak suka. Ia masih berusaha membersihkan pakaiannya dari noda minuman, “Apa-apaan ini?”
Kuroi yang tadinya duduk di depan Wakimoto sekarang pindah ke sebelahnya, “Wakimoto-san, kau selalu mengatakan pada direktur Odonari tentang kejutannya kan?”
“Kalau itu benar, apa kalian masih terus mencurigaiku?” tantang Wakimoto-san.
“Saat asap keluar, kau memberikan direktur Odonari sebuah sapu tangan. Dan direktur Odonari tanpa ragu menerimanya untuk menutupi mulutnya. Tanpa ia tahu, ada sari kacang di sapu tangan itu. Dan dia terbunuh oleh staf yang paling dipercayanya, tanpa dia tahu.”
Wakimoto-san menarik nafas. Ia tidak menyangka jika detektif wanita di depannya itu bisa bicara panjang lebar, “Simpulan yang menarik. Memangnya kau punya bukti?” tantangnya. “Aku sibuk. Masih ada meeting setelah ini!” Wakimoto-san berniat pergi.
Daikan mencoba mencegah Wakimoto-san pergi, tapi ia berkeras. Sampai det.Tokou yang muncul dan kembali memintanya duduk.
“Wakimoto-san, kau sempat membeli minyak kacang,” det.Tokou menyodorkan print rekaman cctv yang menunjukkan Wakimoto-san di sebuah toko. “Sehari sebelum pesta, kau tertangkap kamera tengah membeli minyak kacang.”
“Memangnya apa yang salah dengan itu? Aku memakainya untuk memasak,” elak Wakimoto-san cepat. “Tidakkah kalian lupa suatu yang penting? Aku tidak punya motive untuk membunuh direktur Odonari!” tegasnya lagi.
Tapi penolakan Wakimoto-san membuat Kuroi bertindak cepat, “Hei! Apa kau juga lupa suatu yang penting? Balasan kejutan dari direktur Odonari. Pesta belum selesai.”
Kuroi meminta Daikan mengeluarkan wine yang mereka bawa dari resto. Lalu staf yang lain pun turut bergabung. Kuroi meminta Daikan membagikan gelas pada semua rekannya. Ia pun menuangkan wine itu ke masing-masing gelas. Saat det.Arisuga protes, inspkt.Shirogane menyuruhnya untuk mengikuti saja.
“Sudah dapat semua kan? Jadi, untuk promosi Wakimoto-san, Cheers!”
Kuroi dan yang lain mengangkat gelas itu. Tapi Wakimoto tampak tidak senang. Ia merasa seperti dipermainkan. Ia bahkan tidak menyentuh gelasnya sama sekali.
Kuroi melanjutkan ucapannya, “Wakimoto, penggantiku bukan kamu. Itu kan yang dikatakan direktur Odonari sehari sebelum pesta padamu?” tembak Kuroi pada Wakimoto.
“Direktur Odonari percaya kau tidak akan menghianatinya, dan akan memilihmu jadi penggantinya. Tapi, itu tidak akan jadi kejutan lagi kan? Itulah kenapa Direktur Odonari mengatakan kebohongan,” Kuroi menunjukkan botol wine yang sudah kosong itu di hadapan Wakimoto. Ada tulisan disana.
“Bohong?” Wakimoto kaget.
“Untuk memberimu kejutan. Kejutan! Itulah balasan kejutan dari Odonari-san. Wakimoto, tidak ada lagi yang akan jadi penggantiku, kecuali kamu!” Kuroi mulai mengintimidasi tersangkanya, “Sembilan tahunmu dalam gelap sia-sia. Kau pikir kau dikhianati oleh Odonari-san dan semua hormatmu padanya berubah jadi benci. Kau dipilih oleh Odonari-san dan dipromosikan menjadi direktur baru. Tapi karena sangkaan penghianatan, kau akhirnya melakukan pembunuhan yang sia-sia!”
Wakimoto-san tidak menyangka semua akan seperti ini, karena salah pahamanya. Ia mengambil botol wine kosong itu, memecahkan ujungnya dan mengancam akan bunuh diri. Para polisi berusaha mencegah, bahkan Daikan disuruh Kuroi untuk maju. Tapi karena keadaan makin bahaya, Kuroi pun mengeluarkan cemetinya dan berhasil menarik botol kosong itu dari tangan Wakimoto-san.
“Biarkan aku mati!” pinta Wakimoto-san.
Ia akhirnya bisa dilumpuhkan. Tapi Kuroi rupanya masih belum puas menyiksa penjahatnya.
“Direktur Odonari percaya padamu hingga nafas terakhirnya. Tapi, kau tidak bisa mempercayainya hingga akhir. Apa kau bodoh?!”
Inspkt.Shirogane tengah menikmati minumannya di ruang terbuka saat det.Tokou datang mendekat dan duduk di sebelahnya.
“Perasaan bos dan bawahan, sulit diketahui satu sama lain. Kau yang menemukan jika Wakimoto membeli minyak kacang. Apa kau tidak masalah menutupi hali itu (dari yang lain)?” tanya det.Tokou.
Tapi inspkt.Shirogane tidak berkata apapun, kecuali menarik sedikit bibirnya.
Inspkt.Shirogane tengah ada di ruangan saat pengantar makanan membawakan sebuah kotak makanan. Mulanya ia mengelak karena tidak merasa pesan makanan. Tapi ternyata yang keluar dari kotak itu adalah sebuah kue ulang tahun. Menyusul kemudian rekan-rekannya yang lain muncul lengkap dengan topi kerucut di kepala mereka.
“Maaf membuatmu menunggu. Aku lanjutkan pestanya!” Daikan berseru.
“Aku tidak menunggu!” elak inspkt.Shirogane cepat, membuat stafnya yang lain mengkeret ketakutan.
Daikan mengingatkan jika lilin nyaris meleleh dan meminta inspkt.Shirogane segera meniupnya.
“Daikan-sama, kenapa bukan kau saja yang tiup?” usul Kuroi kemudian.
“Boleh?” Daikan senang. Tanpa ragu dia pun meniup lilin di atas kue itu. Tapi, mendadak kue itu meledak dan membuat krimnya bercipratan dan berantakan di wajah Daikan.
“Itu balasan kejutan,” komentar Kuroi senang.
Inspkt.Shirogane kembali dibuat kaget dengan ulang Kuroi kali ini. Ia pun berjalan menjauh. Ada senyum tersungging di wajahnya.
BERSAMBUNG
Sampai jumpa di Dos Deka episode 06 part 1.
Picture and written by Kelana
Posting at www.elangkelana.net

















Kelana, trm ksh banget sinopsid dos dekanya.
BalasHapussama2 kak
BalasHapussemoga nggak bosen dan sering2 maen kesini ya ^_^