Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Kamis, 06 Oktober 2016

Hidarime Tantei Eye Sp part 1

Tanaka Ainosuke (Ryosuke Yamada) memiliki penglihatan buruk di mata kirinya, dan mengganggu kemampuannya dalam membuat sketsa. Ia tumbuh bersama kakaknya, Tanaka Yumehito (Yu Yokoyama) karena orang tua mereka sudah meninggal sejak Ainosuke kecil. Suatu saat Yumehito mengusulkan agar ia mendonorkan mata kirinya untuk Ainosuke, adiknya tersayang itu. Mulanya Ainosuke menolak, tapi Yumehito berhasil meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja.

Dan akhirnya, disinilah Ainosuke akan menjalani operasi transplantasi mata kiri dari kakaknya. Ainosuke memandang ke arah kakaknya sesaat sebelum operasi. Antara senang dan sedih, hingga akhirnya obat bius membuat Ainosuke tidak sadarkan diri.

Sementara itu di tempat lain, sekelompok polisi sedang mengejar penjahat. Diidentifikasi kalau penjahat itu membawa sebuah laptop yang isinya adalah rencana kejahatan dari salah seorang crime planner—perancang kejahatan. (disini Kelana pake istilah perancang aja ya, ya kayak arsitek gto, tapi arsitek kejahatan). Laptop itu berhasil diamankan oleh polisi. Dengan gambar di atasnya adalah ayam dan babi.

Ohuchi Kenjo (Terawaki Yasufumi) dan Kato Takashi (Okada Yoshinori) adalah salah dua polisi yang tergabung dalam tim investigasi khusus dalam pengamanan laptop tadi. Mereka dibantu ahli computer bertugas membobol dan membuka isi laptop itu.

Paginya, Ainosuka akhirnya sadar. (anehnya, disini mata kiri Ainosuke itu sembuhnya cepet banget. Baru sehari tapi perban matanya sudah dibuka). Ia melihat ke arah tempat kakaknya kemarin terbaring, tapi tim operasi mengatakan kalau kakaknya sudah pulang lebih dulu.

Ainosuke lalu bangun dan melihat sekeliling. Ternyata proses operasi yang dilaluinya itu tidak dilakukan di rumah sakit. Melainkan di lantai dua sebuah gedung, dimana dibawahnya adalah café. Ainosuke tertegun bingung.

Ainosuke pulang ke tempat tinggalnya. (disini Ainosuke tidak tinggal bersama kakaknya, tapi ia menyewa salah satu kamar, istilahnya ngekos gto). Ainosuke melepas perban di matanya. Perlahan, ia bisa melihat. Mata kirinya sudah normal. Ainosuke sangat senang. Tapi ia kecewa ketika sampai di kamarnya, Yumehito kakaknya tidak ada disana. Ainosuke hanya menemukan surat yang mengatakan kalau Yumehito belum bisa pulang dan segepok uang untuk bertahan hidup.

Ainosuke mulai kembali melakukan hobynya, membuat sketsa dengan senang. Ainosuke mencoba menghubungi ponsel Yumehito, tapi tidak aktif. Akhirnya ia hanya meninggalkan pesan.

“Nee-chan, terimakasih untuk semuanya. Mungkin kau sedang sibuk di lab-mu. Aku harap besok kita bisa bertemu,” Ainosuke menutup ponselnya.

Di sebuah laboratorium, tampak seorang saintis sedang menghadap mikroskop. Siapa dia? Yup seseorang dengan perban di mata kirinya, Tanaka Yumehito. Yumehito bekerja sebagai saintis di sebuah perusahaan, oleh karena itu ia tidak tinggal bersama adiknya.

Tiba-tiba seseorang masuk. Ia memandang tajam ke arah Yumehito. Tanpa diduga, si penyusup tadi menyerang Yumehito. Pun ketika ponsel Yumehito berbunyi, ia mematikan ponsel itu dan berkata, “Dari adikmu tersayang, tidak apa-apa kan kalau aku matikan?”

Tidak lama setelahnya, sebuah ledakan besar terjadi. Ledakan yang terjadi di laboratorium tempat Yumehito berada sebelumnya.

Ledakan yang terjadi di lab menjadi masalah polisi. Ketika identitas mayat di ruangan itu teridentifikasi, Ohuchi-san dan Kato-san mencari Ainosuke. Mereka membawa Ainosuke ke kamar mayat.

Ainosuke tentu saja kaget. Ia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini pada kakaknya. Ainosuke masuk, tapi ia tidak tega melihat mayat kakaknya yang telah menghitam semua itu.

Ainosuke berlari ketika keluar dari kamar mayat. Ia menahan kesedihan yang sangat, karena ditinggal kakaknya. Tapi sejurus kemudian ia berhenti.

“Aku tidak percaya kalau ini kecelakaan. Aku takut, ada yang berusaha membunuh kakakku. Maukah kalian menyelidikinya lagi?” pinta Ainosuke pada kedua polisi tadi.

Investigasi yang dilakukan polisi membuktikan tidak ada unsur pembunuhan dalam peristiwa ledakan itu. Semuanya murni kecelakaan.

Dalam hati Ainosuke tidak terima. Tapi tidak ada juga yang bisa dilakukan Ainosuke. Pada akhirnya ia menangis, memandang tubuh kakaknya yang perlahan masuk ke ruang kremasi. Ainosuke memandangi surat dan uang yang ditinggalkan kakaknya sebelum pergi.

Ainosuke yang masih syok dengan kematian kakaknya berjalan pulang dengan limbung. Tidak sengaja ia menyenggol dua orang preman. Kedua preman itu tidak terima dan memukul Ainosuke.

“Hei, anak kecil. Ada apa dengan matamu, hah?!” gertak kedua preman tadi tidak terima ketika Ainosuke memandang tajam ke arah mereka.

“Apa urusanmu huh?! Mata ini, mata yang diberikan kakakku padaku, apa urusan kalian!” balas Ainosuke.

Kedua preman tadi kembali memukul Ainosuke. Badan Ainosuke yang memang lebih kecil terjerembab ke lantai, tapi ia tidak berusaha bangun lagi. Kedua preman tadi lalu meninggalkan Ainosuke yang masih terkapar di lantai.

Tiba-tiba Ainosuke merasakan mata kirinya berdenyut. Kilatan peristiwa muncul melalui mata kirinya. Beberapa orang bertopeng aneh. Sebuah laptop dengan gambar babi dan ayam di atasnya. Lalu sebuah angka yang samar-samar tampak, angka 13.

Ainosuke hanya bisa tertegun. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi pada dirinya dan . . . mata kirinya.

Pagi itu, seperti biasa Hitomi Sayama (Satomi Ishihara) sang suster sekolah tengah berada di ruangannya. Sedang apa dia? Yup doski ternyata sedang sibuk dengan tagihan hutang dan kalkulator di mejanya.

“Berapa kali dihitung, masih saja tetap sebanyak ini,” keluhnya. “Prada, Gucci, Hermes . . . (kesemuanya adalah merek terkenal). Tiap kali kesal aku selalu ingin belanja!” (guru yg tidak patut ditiru yach, kekekeke)

Sementara itu di halaman sekolah, kedatangan Ainosuke disambut sekelompok anak nakal sekolah. Mereka mulai menjahili Ainosuke dan pada akhirnya memukulinya. Satu lawan tiga, tentu saja Ainosuke kalah.

Dan seperti biasa selepas dipukuli, Ainosuke kembali mendapat kilasan peristiwa di mata kirinya. Kali ini angka 13, sebuah serangga yang mati dan segepok uang yang tengah dipegang seseorang. Hitomi-sensei yang tidak sengaja melihat Ainosuke yang dipukuli, berlari keluar. Ia mengusir ketiga anak nakal tadi dan menolong Ainosuke.

Hitomi-sensei membawa Ainosuke ke ruang kesehatan. Ia kemudian membantu mengobati luka Ainosuke. Tapi dasar suster yang aneh, ia malah berimajinasi yang tidak-tidak.

“Ruang kesehatan, suster sekolah . . . adalah tempat nyaman menyelesaikan masalah. Bukankah itu menyenangkan Ainosuke?” Tanya Hitomi-sensei.

“Huh?” rupanya Ainosuke tidak mendengarkan apa yang dikatakan senseinya.

“Kau tidak mendengarnya? Jadi aku bicara pada diri sendiri . . . “ ucap Hitomi-sensei kecewa.

Ainosuke lalu minta izin kembali ke kelasnya. Sementara itu Hitomi-sensei kembali disibukkan dengan kertas tagihan hutangnya.

“Sensei, bukahkan kau tahu banyak tentang tubuh manusia?” Tanya Ainosuke kemudian.

Hitomi-sensei yang sibuk dengan kalkulatornya kaget karena ternyata ada Ainosuke di belakangnya. “Well, itu keahlianku.”

“Apa kita bisa melihat kenangan seseorang dari transplantasi mata yang diberikannya? Maksudku, aku memiliki penglihatan buruk pada mata kiriku sejak kecil. Baru-baru ini aku mendapat transplantasi mata dari kakakku. Sejak saat itu, aku seolah melihat kenangan yang pernah dilihat kakakku sebelumnya. Sepertinya ia terlibat sesuatu yang tidak ingin aku tahu,” Ainosuke mencoba menjelaskan.

“Aku ikut sedih tentang kakakmu. Tapi aku masih belum mengerti dengan ucapanmu,” jawab Hitomi-sensei polos.

“Ah sudahlah. Bodoh aku menceritakan hal ini padamu,” ucap Ainosuke lalu beranjak pergi meninggalkan senseinya itu.

Di kelas pun Ainosuke tidak konsentrasi mengikuti pelajaran. Ia malah asyik membuat sketsa dari kilasan-kilasan peristiwa yang sempat dilihatnya. Sekelompok orang dengan topeng aneh, angka 13, segepok uang, laptop dengan gambar ayam dan babi di atasnya. Ia bahkan tidak sadar kalau jam pelajaran telah selesai.

Rupanya Hitomi-sensei masih penasaran dengan ucapan Ainosuke. Dan selepas pelajaran berakhir, dia menemui Ainosuke di kelasnya.

“Ainosuke!” seru Hitomi-sensei.

Hitomi-sensei yang tertarik dengan Ainosuke mengikutinya. Ia menawarkan bantuan untuk Ainosuke. Hmmm . . . tapi kerena sensei kita yang satu ini unik, tentu Ainosuke tidak langsung percaya begitu saja. Dan berkali-kali juga Hitomi-sensei meyakinkannya.

“Ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa, hmm?” Hitomi-sensei masih saja membujuk Ainosuke.

Dengan pertimbangan ia masih di bawah umur dan memerlukan kehadiran orang dewasa, Ainosuke setuju dibantu oleh Hitomi-sensei. Hitomi-sensei mengajak Ainosuke naik ke mobilnya dan bersedia mengantarkan kemana tujuan Ainosuke.

Tujuan pertama, asrama perusahaan yang digunakan oleh Yumehito. Penjaga asrama mengatakan kalau Yumehito memang menyewa sebuah kamar disana, tapi ia tidak menempatinya. Kamar itu disewa dan dibayar dalam jangka waktu lama. Pengurus asrama juga tidak tahu kemana Yumehito pergi ketika tidak tinggal disana.

Ainosuke kecewa karena tidak bisa menemukan jejak kakaknya. Bahkan alamat asrama perusahaan yang digunakan kakaknya pun palsu. Ainosuke dan Hitomi-sensei lalu duduk di taman.

Dasar sensei satu ini memang unik. Ia melihat sebuah peringatan yang terpasang di tempat sampah dekat tempat duduknya. “Awas, cat basah. Jangan disentuh!” begitu bunyi peringatannya. Tapi, tapi nih ya, syndrome Hitomi-sensei, semakin dilarang, doski malah semakin ingin melanggarnya. Perlahan jarinya mendekati cat basah itu dan . . . “Aw” jelas saja dia kaget kerena menyentuh cat basah.

Ainosuke yang duduk di sebelah Hitomi-sensei masih saja termenung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya. Keterlibatan seperti apa yang dialami kakaknya hingga ada banyak masalah seperti ini yang ditinggalkannya.

“Btw Ainosuke, kau bilang kalau kakakmu meninggalkan uang sekian juta yen? Itu artinya kau memilikinya sekarang?!” Hitomi-sensei histeris sendiri.

“Sudahlah. Bukan itu poin masalahnya. Ternyata aku bodoh dengan mempercayaimu sensei,” keluh Ainosuke sambil beranjak pergi meninggalkan senseinya yang masih kebingungan.

Di kantor polisi, Ohuchi-san dan Kato-san masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Sementara itu di televisi sedang disiarkan berita tentang pusat penelitian virus yang tengah meneliti sebuah virus mematikan.

“Ah Ohuchi-san, bukankah tempat itu dekat dengan tempat tinggalmu?” komentar Kato-san.

“Ah benarkah? Aku tidak benar-benar menyadarinya. Lagipula sewa tempatnya murah,” ucap Ohuchi-san acuh.

“Kau benar-benar tidak takut dengan hal itu (virus)? Tinggal dibawah ancaman virus mematikan yang bisa mengenaimu kapan saja?” kali ini ucapan Kato-san tidak lagi digubris oleh Ohuchi-san.

Kali ini Ainosuke datang ke kantor polisi ditemani oleh Hitomi-sensei. Ia berniat mencari tahu alamat lain kakaknya yang mungkin diketahui oleh polisi ketika mengidentifikasi mayatnya.

“Dia tidak tinggal bersama kakaknya, karena kakaknya tinggal di asrama perusahaan,” ucap Hitomi-sensei menambahi.

Ohuchi-san yang kali itu menemui mereka berjanji untuk mencarikan alamat lain Yumehito. Ia kemudian pamit sebentar dan meninggalkan Ainosuke berdua dengan sensei-nya itu. Tapi memang sensei kita satu ini jail, dia iseng mencongkel tulisan di dinding. Tentu saja kali ini ulahnya kembali di peringatkan oleh Ainosuke.

Tidak lama setelahnya, muncul seorang polisi wanita, “Ohuchi-san memintaku memberikan ini pada kalian,” ucapnya sopan.

Ainosuke dan Hitomi-sensei yang menerima kertas itu lalu beranjak pergi. Kepergian mereka diiringi tatapan aneh si polisi wanita.

Sementara itu betapa kagetnya Ohuchi-san ketika kembali, karena disana sudah tidak ada Ainosuke dan sensei-nya, tapi berganti dengan orang lain. Ternyata Ohuchi-san tidak memiliki data alamat lain milik Yumehito.

Di tempat lain, sekelompok polisi dibantu ahli computer masih berusaha menjebol keamaan laptop dengan gambar ayam dan babi di atasnya.

“Ini level keamanan tingkat ketiga. Sebentar lagi semua bisa dibuka,” ucap salah seorang ahli computer merasa yakin.

Polisi yang lain mendekat. Mereka menunggu proses pembobolan keamaan laptop itu. Tapi . . . bukannya berhasil membukanya, malah muncul tampilan ERROR dan disusul setelahnya, anime ayam dan babi yang berbunyi “Bodoh, kau salah. Bodoh, kau salah”. Kontan saja semua orang di ruangan itu mendesah kecewa. Usaha mereka kali ini kembali gagal. (kenapa ga minta bantuan Falcon aja ya? Kekekeke #efek habis nonton Bloody Monday nih)

Ainosuke dan sensei-nya itu sampai di sebuah mansion mewah seperti yang ditunjukkan alamat tadi. Tentu saja Hitomi-sensei terkagum-kagum dengan rumah mewah itu. Berbeda dengan Ainosuke yang menyimpan banyak rasa penasaran.

Keduanya lalu masuk ke dalam mansion itu. Sementara Ainosuke memeriksa sekeliling, Hitomi-sensei malah masuk ke salah satu kamar. Ia berguling-guling di ranjang dalam kamar itu, sambil tertawa senang. Tapi kebahagiaannya itu mendadak sirna ketika sebuah telepon masuk.

“Ya ya, aku tahu. Aku akan membayar hutangku secepatnya. Kau tahu, sekarang aku berada di sebuah mansion mewah. Jadi semua akan baik-baik saja. Aku akan segera membayar hutang-hutangku,” Hitomi-sensei lalu menutup telepon itu sambil mendesah berat.

Hitomi-sensei keluar dan menemukan Ainosuke yang masih berdiri di ruang tengah. Ia perlahan mendekat.

“Ainosuke, kalau rumah ini adalah milik kakakmu, jadi sekarang ini adalah milikmu. Wah, kau benar-benar luar biasa,” komentar Hitomi-sensei dengan mata mupeng.

“Diamlah. Tidak mungkin kakakku bisa memiliki rumah seperti ini. Pasti ada alasan dibalik semua ini. Apa yang sebenarnya tengah dikerjakan kakakku dulu?” Ainosuke berpikir.

Sementara Hitomi-sensei terus meributkan kepemilikkan harta itu, ada orang lain yang ternyata datang ke mansion itu.

“Sssst!” pinta Ainosuke pada senseinya itu.

Mereka melihat ke arah pintu. Gagang pintu itu bergerak-gerak, seperti sengaja dilakukan oleh seseorang yang hendak membuka pintu.

Ainousuke dan Hitomi-sensei lalu bersembunyi di wardrobe yang ada di mansion itu. Keduanya Manahan nafas dalam gelap, menunggu apa yang akan terjadi setelahnya.

Ternyata memang ada seseorang yang sengaja datang ke mansion itu. Seorang lelaki misterius. Lelaki itu lalu mengambil remote dan mulai menutup jendela di mansion itu. Rupanya ia tahu, kalau ada orang lain sedang bersembunyi di rumah itu.

“Keluarlah! Aku tahu kau ada disana,” ucap lelaki itu.

Mendadak Ainosuke seperti mendapat tanda di mata kirinya. Tapi ia tidak melihat apapun.

“Sensei, pukul aku!” pinta Ainosuke.

“Tapi . . . kita kan murid dan guru, aku tidak mungkin melakukan hal itu padamu,” protes Hitomi-sensei sambil berbisik.

“Lakukan saja. Aku tahu kau banyak memiliki hutang . . . “ pancing Ainosuke.

“Kau tahu . . . “ Hitomi-sensei terpancing dan akhirnya memukul Ainosuke. (poor Yamada, disini dia dipukuli terus)

Selepas dipukul, Ainosuke mendapatkan tanda di mata kirinya. Kali ini gambar kabur yang hampir mirip seperti sebelumnya. Sebuah berita tentang virus kematian, sebuah gedung, perampokan dan bayangan kakaknya.

Suara berisik itu rupanya memancing si penyusup. Pria itu menemukan Ainosuke terkapar di lantai kamar. Ia lalu menyeret Ainosuke ke ruang tengah, dan kembali mulai memukulinya.

“Belajarlah dengan baik, jangan pikirkan aku lagi. Itu pesan dari kakakmu yang sudah mati,” kata lelaki misterius itu.

“Jadi kau yang membunuh kakakku?! Apa yang sebenarnya terjadi sampai kalian tega membunuh kakakku?!” Ainosuke terpancing. Ia bangun dan mencoba kembali melawan.

Sementara itu, Hitomi-sensei masih bersembunyi di wardrobe-room. Ia mendengarkan apa yang dibicarakan oleh lelaki misterius itu dan Ainosuke.

Tiap kali Ainosuke melawan, lelaki itu kembali memukulnya. Kali ini pukulan lelaki itu membuat Ainosuke melihat di mata kirinya. Orang yang sedang mengetik di atas keyboard, virus, perampokkan dan gedung misterius.

Tiba-tiba Hitomi-sensei keluar dari tempat persembunyiannya dan menendang p***s si lelaki misterius itu. Hal ini memberikan kesempatan bagi Ainosuke dan Hitomi-sensei untuk melarikan diri. Secepatnya mereka menuruni tangga, menuju tempat parkir mobil sambil menghubungi kepolisian.

Selepas kepergian Hitomi-sensei dan Ainosuke, lelaki misterius itu masih kesakitan. Lalu datang seseorang yang lain. Seorang wanita, ia lalu mengacungkan senjata api tepat ke arah dahi lelaki misterius itu.

“Sayonara,” ucapnya sebelum menarik pelatuk.

Ainosuke dan Hitomi-sensei kembali ke ruang kesehatan di sekolah. Sementara Ainosuke berganti pakaian, Hitomi-sensei beres-beres di mejanya. Tidak lama setelahnya, ada telepon dari kepolisian. Mereka mengatakan kalau tidak menemukan siapapun di mansion tadi.

“Jadi begitu,” Ainosuke kecewa. “Maaf, sudah melibatkanmu dalam masalah ini,” lanjut Ainosuke lagi.

“Sudahlah. Sekarang semua baik-baik saja. Tentu aku sebagai guru tidak akan membiarkan siswaku mengalami hal ini sendirian. Jadi . . . sebaiknya aku mengcopy gambar-gambar sketsamu huh? Mungkin itu akan membantu,” Hitomi-sensei lalu mengambil sketsa Ainosuke dan mulai mengcopynya.

“Sudahlah sensei, aku tidak ingin melibatkanmu lagi dalam hal ini. Terimakasih,” Ainosuke lalu mengambil sketsa di tangan Hitomi-sensei dan beranjak pergi.

Di rumahnya, Ainosuke masih saja termenung. Ia mengamati gambar-gambar yang dibuatnya itu. Ia menjejerkan gambar-gambar itu di lantai. Semakin ia berpikir, ia semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Akhirnya Ainosuke malah mengingat momen ketika ia dan kakaknya pertama kali pindah ke rumah kos itu. Selama ini kakaknyalah yang melindungi dan menjaganya. Yumehito bekerja keras dan mengumpulkan uang untuk Ainousuke.

Hari berikutnya . . .

Hitomi-sensei mengajak Ainosuke mampir ke ruangannya. Ia lalu menunjukkan gambar-gambar bank seperti yang ada di sketsa milik Ainosuke. Ternyata selama ini telah terjadi perampokkan di bank-bank itu. Dan tinggal tersisa satu bank saja yang belum mengalami perampokkan.

“Kalau ini perampokkan . . . kita bisa memberitahukannya pada polisi dan mencegahnya terjadi,” usul Hitomi-sensei.

“Jadi semua ini kau yang mencarinya sendirian sensei? Tapi maaf, aku sama sekali tidak tertarik dengan semua ini lagi. Aku menyerah,” Ainosuke lalu beranjak pergi.

Meski dicegah oleh Hitomi-sensei, Ainosuke tetap pergi. Hitomi-sensei tentu saja frustasi. Ia lalu jalan-jalan di koridor sekolah. Di lorong sekolah ia menemukan sebuah kran dengan tanda “Jangan disentuh. Ini rusak”. Dan apa yang terjadi? Yup sensei kita ini menyentuhnya. Kontan air kran itu muncrat kemana-mana. Hitomi-sensei berusaha untuk menghentikannya, tapi tidak berhasil. Alhasil, sensei satu ini malah ngacir melarikan diri. (wah sensei, ini bukan contoh yang baik lho. Jangan ditiru ya . . . )

Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya? Apa Ainosuke benar-benar menyerah? Atau ada rencana lain yang sedang dipikirkannya. Bagaimana dengan sensei yang usil dan sopahlic satu ini? Hmmm . . . ga seru donk kalau dikasih tau sekarang. Sampai jumpa di part 2 ^_^

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.