Sinopsis-sinopsis Lama bagian dari Elang Kelana

Sabtu, 15 Oktober 2016

Hidarime Tantei Eye ep-07

Siswaku, Tanaka Ainosuke. Mata kirinya bisa melihat hal-hal yang menjadi petunjuk dalam memecahkan kasus. Setelah menyelamatkan aku, yang menjadi tersangka dalam suatu pembunuhan, Ainosuke dan Detektif Fukuchi berbicara berdua. Tepat setelah itu, Detektif Fukuchi terlibat dalam kasus peledakan berantai, dan tewas.

Setelah itu, Ainosuke membawa bom terakhir ke atas atap departemen store, dan dengan mempercayai penglihatan dari mata kirinya, ia menjinakkan bom tersebut. Lalu Ainosuke tiba-tiba menyerang Detektif Sakisaka yang datang kemudian, dan melompat dari atas atap.

Ainosuke mendorong detektif Sakisaka dan terjun bersama dari atap gedung. Kontan hal ini membuat kaget Hitomi-sensei maupun detektif Kato. Mereka hanya bisa meneriakkan nama Ainosuke tanpa sempat mencegah kejadian ini.

Detektif Kato dan Hitomi-sensei buru-buru turun ke bawah. Detektif Kato masih sempat menelepon ambulan dan meminta mereka datang ke gedung itu. Sampai di bawah … sebuah truk tampak pergi. Dan Ainosuke … tergeletak tidak sadarkan diri di tanah, sementara detektif Sakisaka menghilang!!!



Di sebuah tempat, detektif Sakisaka a.k Yumehito tampak terbaring. Ia tidak sadarkan diri, sampai sebuah suntikkan membuatnya akhirnya terbangun.

“Kau sudah sadar? Bagaimanapun juga, aku terkejut. Adikmu berani berbuat sejauh itu... Untung saja kita sudah memikirkan kemungkinan itu. Menyiapkan truk yang terisi penuh dengan matras di bawah departemen store... “ komentar Komukai-san.

“Bagaimana dengan dia?” tanya Yumehito.

“Aku hanya berpikir untuk membawamu pergi, jadi aku meninggalkan anak itu disana. Yang lebih penting, tak apa-apakah jika kau tak menghubungi polisi? Sekarang ini...Tidakkah mereka akan panik tentang menghilangnya Detektif Sakisaka setelah terjatuh dari atap?”

“Itu bukan masalah besar. Dalam tim penyelidik, sebagai pengganti Fukuchi, aku menempatkan Miyamoto. Tak ada yang perlu dikhawatirkan,” ujar Yumehito santai. (omo … detektif Miyamoto adalah kaki tangan Yumehito?!)



Semalaman Ainosuke tidak sadarkan diri di rumah sakit. Hitomi-sensei masih tetap menungguinya. Paginya Ainosuke baru saja sadarkan diri.

“Hah? Kenapa aku disini?”

“Ainosuke-kun? Kau sudah sadar? Syukurlah, aku benar-benar bersyukur,” detektif Kato-lah orang yang pertama tahu Ainosuke telah sadar.

“Semuanya sangat mengkhawatirkanmu, tahu... Hitomi-sensei terus menangis sambil memanggil namamu,” cerita detektif Kato.

“Kato-san... Dimana Detektif Sakisaka?” gumam Ainosuke.

“Tentang itu... Dia menghilang. Kami sudah berusaha semampu kami, tapi kami tak bisa menemukannya. Saat sampai di bawah, kami hanya menemukanmu yang tergeletak tak sadarkan diri disana. Kenapa kau melakukan hal itu? Detektif Miyamoto bilang, kau bingung karena panik saat menjinakkan bomnya.”

“Apa?!” Ainosuke kaget dengan berita tentang detektif Sakisaka yang mengilang, tapi ia cepat kembali menguasai diri, “Kupikir mungkin begitu.”

“Maaf... Aku akan ada di lorong, jika ada apa-apa panggil saja aku, ya...” pamit detektif Kato kemudian.

Kakak, ayo mati bersama.

Kenapa? Kita bahkan masih belum menemukan pahatnya. Apa?

“Kata-kata terakhir kakak... Apa maksudnya itu? Pahat? Pesan macam apa itu, pahat?” Ainosuke masih merenungkan kata-kata yang diucapkan Yumehito.



Seorang pria dengan sebuah luka silang di bawah mata kirinya tampak berdiri di depan rumah yang ditinggali Ainosuke. Dia membawa sebuah pahat di tangannya. Pria itu mengetuk pintu. Sementara di rumah Miruku-san sendirian. Tanpa babibu, pria itu menusuk Miruku-san yang membukakan pintu, dengan pahat yang dibawanya!



Hitomi-sensei berada di ruang kesehatan. Ia masih memikirkan Ainosuke yang berada di rumah sakit. Baru saja Hitomi-sensei berniat kembali ke rumah sakit, ternyata Ainosuke sudah datang ke ruang kesehatan. Tanpa babibu, Hitomi-sensei memeluk siswanya itu.

“Asalkan Ainosuke selamat, tak apa-apa. Aku tak akan bertanya apa-apa,” Hitomi-sensei lalu melepaksan pelukan itu. Ia mengajak Ainosuke duduk. “Tunggu sebentar. Kurasa aku tanya saja. Aku akan bertanya. Saat itu, ketika kau melompat dari atap... Itu akibat dari shok karena bom, kan? Mungkinkah... Tapi, kupikir mungkinkah... Itu bukan hanya perasaanku saja, kan? Mungkinkah kau mencoba membunuh Sakisaka bersama dengan dirimu? Orang yang berada di balik kasus-kasus ini hingga sekarang... Adalah Detektif Sakisaka? Ainosuke yang menyeret Sakisaka dari atap... Berbeda dari biasanya. Apakah Sakisaka adalah salah satu teman kakakmu? Dan dialah yang menjalankan semua rencana itu?” wajah Hitomi-sensei serius.

“Apa yang kau bicarakan? Aku hanya bingung karena panik saat menjinakkan bomnya,” elak Ainosuke tidak mau mengaku.

“Aku tahu! Aku tak punya kekuatan seperti mata kiri Ainosuke... Aku tak punya kekuatan apapun yang bisa memecahkan kasus. Bahkan tidak sedikit pun, tapi aku tahu! Katakan yang sebenarnya padaku. Pelaku di balik semua kasus ini...Adalah Detektif Sakisaka, kan? Ainosuke!” desak Hitomi-sensei lagi.

Ainosuke menghembuskan nafas berat, “Karena kau sudah mengetahuinya, akan kukatakan. Tapi apa yang akan kukatakan mulai dari sekarang... Aku ingin kau mendengarkannya setelah kau benar-benar yakin. Jika kau ingin tahu kenapa, aku diancam, siapapun yang kuceritakan tentang hal ini... akan dibunuh…Sebenarnya, kakakku yang kupikir sudah mati...masih hidup. Detektif Sakisaka adalah...Kakakku...”

“Bohong... Kakakmu adalah...Detektif Sakisaka? Kenapa kau tak mengatakannya pada polisi sampai sekarang?” Hitomi-sensei syok.

“Aku diancam! Bahwa dia akan membunuh siapapun yang mengetahui rahasianya. Aku pernah menceritakan ini pada seorang polisi dan juga Fukuchi-san, dan kemudian mereka dibunuh. Walaupun begitu, jauh di dalam hatiku... Aku percaya... Bahwa kakakku, yang sangat kubanggakan, akan kembali seperti dulu. Tetapi... Itu mustahil. Karena itulah, saat itu ketika di atap, Aku mencoba untuk melompat dan mati bersamanya. Maaf karena aku tak mengatakannya padamu sampai sekarang. Saat kau mengetahui tentang hal ini... Hidupmu mungkin dalam bahaya juga... Jadi sampai semuanya selesai, sebaiknya kau bersembunyi di suatu tempat~”

“Maafkan aku, Ainosuke. Kau selalu berusaha keras sendirian, walaupun kau sedang melawan sesuatu yang begitu menyakitkan selama ini. Aku bahkan tak bisa mengerti apapun. Maafkan aku...” Hitomi-sensei kembali memeluk siswanya itu.



Ainosuke dan Hitomi-sensei mendapatkan kabar kalau Miruku-san diserang. Mereka bergegas menuju rumah sakit. Disana rupanya sudah ada Yoshida-san juga.

“Miruku-san..., bagaimana Miruku-san?”

“Sepertinya ia ditusuk dengan menggunakan pahat,” ujar Yoshida-san.

“Pahat? Siapakah yang tega melakukan hal sekejam ini?” gumam Hitomi-sensei.



Meeting di kantor polisi …

Pada peristiwa penyerangan Miruku-san, tidak ada saksi karena penghuni yang lain sedang keluar. Pahat yang tertinggal di tempat, cocok dengan luka di tubuh korban, begitu juga dengan darah korban. Tapi tidak ada sidik jari yang tertinggal.



Di suatu tempat, Komukai-san sedang mendengarkan rekaman. Rupanya ia menyadap meeting yang diadakan di kantor polisi, “Lelaki itu, seperti yang kau perkirakan, ia mulai berulah,” komentarnya kemudian.

“Yah, mungkin dia membenci Ainosuke dan aku,” ujar Yumehito dingin.



Ainosuke kembali ke ruang kesehatan bersama senseinya itu. Ainsosuke juga sempat menceritakan tentang ucapan terakhir Yumehito mengenai pahat. Mereka berdua mencoba menghubungkan benda-benda yang diledakkan dalam insiden ledakan sebelumnya, tapi tidak ada hubungan sama sekali.

Tidak sengaja Ainosuke melihat permainan kata yang digunakan Hitomi-sensei, “Begitukah? Aku paham! Itu Chikakichi. (Chikakichi = pangkalan bawah tanah) "Chi" dari "Chikyuugi" (globe). "Ka" dari "kamera". Ki (pohon). Chi dari Chimpanzee (simpanse)... Itu dia. Chikakichi (pangkalan bawah tanah) Ketika aku masih kecil sekali, ada tempat yang biasa kugunakan untuk bermain bersama kakak. Kami menyebut tempat itu sebagai pangkalan bawah tanah kami. Dia ingin mengatakan bahwa ada sesuatu di chikakichi itu.” Ainosuke melingkari dan menandai kata-kata dari benda yang digunakan untuk insiden bom sebelumnya.



Ainosuke merasakan getaran di mata kirinya. Ia meminta senseinya memukul kepalanya. Dengan berat hati, Hitomi-sensei menyanggupi permintaan siswanya itu.

Kilasan muncul di mata kiri Ainosuke. Tas warna kuning, tangan yang memegang pahat, seorang anak kecil yang diculik, berita penculikan di Koran dan wajah seorang laki-laki dengan luka silang di bawah mata kirinya.

“Luka silang yang barusan... Aku pernah melihat itu sebelumnya. Tapi, apa itu? Sial. Aku merasa sepertinya aku sudah melupakan sesuatu yang sangat penting. Aku ingin mengingatnya, tapi aku tak bisa. Jika aku mencoba untuk mengingat, kepalaku... Bagaimanapun juga... Jika pergi ke pangkalan bawah tanah itu, pasti akan ada petunjuk tersembunyi disana,” gumam Ainosuke sambil beranjak pergi.

“Tunggu, tunggu, tunggu aku! Aku akan pergi juga! Tunggu!”



Di selnya … Kokusho-san mulai berulah.

“Penjaga. Kurasa sudah saatnya aku keluar dari sini. Aku akan membuatmu membantuku lari dari penjara,” ujar Kokusho-san.

“Apa yang kau katakan?!” penjaga itu mendekat.

Tapi dengan cepat, Kokusho-san menjerat leher si penjaga itu. Ia melarikan diri dari penjara, masih sempat membawa laptop ayam-babi yang berisi rencana kejahatan Yumehito.



Hitomi-sensei dan Ainosuke menuju tempat yang diyakini Ainosuke sebagai pangkalan bawah tanah yang dimaksud kakaknyaitu.

“Ainosuke, apakah kau tinggal di sekitar sini sebelumnya?” tanya Hitomi-sensei.

“Kurasa begitu... Kira-kira saat aku masih kelas 1. Ibu dan ayahku meninggal saat aku kelas satu, jadi kami langsung pindah setelahnya. Aku masih kecil saat itu, jadi ingatanku hanya samar-samar. Saat aku menyadarinya, kami sudah pindah,” cerita Ainosuke.

Mereka berdua masuk ke tempat gelap itu. Dengan sebuah senter di tangan, mereka menemukan sesuatu. Ainosuke mengambil kotak itu dan melihat disana tertera namanya,

“Pahat? Ini milikmu, Ainosuke?” (Tingkat: 1 Kelas: 3 Nama: Tanaka Ainosuke)

“Ada sesuatu di ujungnya. Apa ini yang berwarna merah? Mungkinkah itu... darah?” komentar Ainosuke.



Ainosuke merasakan sakit di kepalanya. Samar-samar ingatannya tentang ruang bawah tanah itu kembali. Ainosuke kecil bersama Yumehito!

“Ainosuke? Ada apa? Kau tak apa-apa?” Hitomi-sensei panic. “Apakah ini efek samping akibat jatuh dari atap?”

“Tak apa-apa. Terima kasih. Ada apa ini? Saat aku mencoba mengingat sesuatu, kepalaku mulai terasa sakit,” gumam Ainosuke.



Ponsel Ainosuke bergetar. Sebuah nomer dan nama yang sangat dikenalnya muncul di layar ponsel itu, Yumehito.

“Kakak? Ternyata kau memang masih hidup.”

“Terima kasih padamu,” ucap Yumehito dingin.

“Saat ini aku ada di pangkalan bawah tanah. Apakah kau membuat kasus peledakan itu hanya untuk pesan seperti ini?” cecar Ainosuke.

“Itu karena kau tidak mengingat apapun.”

“Kau yang telah menusuk Miruku-san, kan?” tuduh Ainosuke selanjutnya.

“Ada apa ini? Jadi kau memang tak tahu apa-apa. Rencana jahatku semuanya saling berhubungan. Yang pertama adalah penculikan, kemudian pembalasan dendam. Semua itu dilakukan untuk mengingatkanmu. Tentang hari itu,” papar Yumehito panjang lebar.

“Apa maksudnya itu? Apa hubungannya penculikan dan balas dendam denganku?”

“Pelaku kali ini menggunakan pahatmu untuk membalas dendam pada kita. Aku hanya bisa memberitahumu sampai situ. Ingatlah sendiri sisanya,” Yumehito menutup telepon.

“Kakak tahu tentang hal yang sudah kulupakan, dan mencoba untuk mengingatkanku,” gumam Ainosuke kemudian.

“Ainosuke! Sebenarnya apa yang terjadi?” Hitomi-sensei semakin heran.

“Sepertinya masa laluku dan kasus ini mempunyai hubungan yang cukup dalam. Saat aku mencoba untuk mengingat, kepalaku...”



Di sebuah tempat parkir, Komukai-san sedang berjalan ke arah mobilnya. Tiba-tiba ia berbalik dan mengacungkan senjata pada orang di hadapannya.

“Biasanya orang akan mengarahkan senjatanya ke arah terdengarnya suara,” ucap Kokusho-san dengan senjata di tangan juga.

“Tak mungkin kau melakukan sesuatu hanya untuk membuat suara-suara yang tak perlu,” balas Komukai-san.

“Seperti yang sudah kuperkirakan. Aku senang kau masih sombong seperti biasa.”

“Ada urusan apa kau dengan partner lamamu?” tanya Komukai-san.

“Aku ingin bekerja sama denganmu lagi,” jawab Kokusho-san.

“Apa? Aku ini orang yang realistis. Kau kalah dari Yumehito dan terpaksa keluar dari dunia ini. Aku hanya bekerja sama dengan... yang terkuat,” Komukai-san menurunkan senjatanya.

“Memang benar aku pernah kalah dari dia sekali, tapi Tanaka Yumehito tidak bisa menjadi raja yang sebenarnya. Karena dia punya kelemahan yang fatal,” pancing Kokusho-san.

“Kelemahan yang fatal?”

“Adiknya. Tanaka Ainosuke. Ia tak bisa membunuh adiknya. Hatinya lemah. Kudengar ia hampir tewas saat dia didorong dari atap oleh adiknya. Meskipun begitu, bukannya membunuh adiknya, ia justru melepaskannya.”



Detektif Miyamoto memberikan laporan pada Yumehito. Ternyata benar, dia adalah kaki tangan Yumehito, “Kokushou telah kabur. Wanita itu tidak jahat walaupun dia seorang musuh. Apa yang harus kita lakukan?”

“Sebagai penghargaan atas kegigihan Kokushou, kita akan merubah rencana kita ke rencana C,” ujar Yumehito dingin.

“Baik. Apakah itu tempatnya?” detektif Miyamoto memperhatikan foto sebuah gedung yang tengah dipegang oleh Yumehito, “Dengan kekayaan Yumehito, kau bisa dengan mudah membeli tempat itu dan meledakkannya.”

“Tempat ini adalah tempat yang spesial bagi kami bersaudara. Juga bagi pria yang mengayunkan pahat dan berusaha membalas dendam pada kami. Tentunya tak akan menyenangkan jika hanya meledakkan tempat dimana hanya aku satu-satunya penonton.”

“Sebenarnya apa yang terjadi 8 tahun lalu antara kalian bersaudara dan pria dengan luka silang itu?” detektif Miyamoto penasaran.

“Kami saling menghancurkan hidup masing-masing,” ujar Yumehito. “Ainosuke, tak ada waktu untuk bersantai.”



Ainosuke dan Hitomi-sensei bertemu dengan detektif Kato secara rahasia. Mereka menunjukkan pahat yang ditemukan Ainosuke tadi pada detektif Kato dan memintanya untuk memeriksa darah yang ada di pahat itu.

“Kumohon padamu, hanya karena mereka polisi bukan berarti kami bisa mempercayai semuanya. Tak ada yang bisa kami percaya kecuali Kato-san,” pinta Ainosuke.

“Apa ini ada hubungannya dengan intuisimu?” tanya detektif Kato kemudian.

“Ya.”

“Aku mengerti. Aku kenal seseorang dalam tim forensik di kepolisian daerah lain, jadi aku akan memintanya untuk menyelidiki ini secara rahasia. Oh, aku bilang aku pergi ke kamar mandi, jadi aku kembali dulu ya.”

“Terimakasih detektif Kato,” ujar Ainosuke.

Setelah detektif Kato pergi, tinggal Ainosuke dan Hitomi-sensei di mobil, “Tapi aku penasaran apakah pahat itu memang milikmu.”

“Mungkin,” Ainosuke menatap senseinya itu dengan heran.

“Pahat itu ada 5 buah, kan? Satu di pangkalan bawah tanah dan satu lagi adalah senjata yang digunakan untuk menyerang Miruku-san. Dimana yang 3 lainnya...”



Di sebuah tempat, tampak seorang laki-laki dengan luka silang di bawah matanya. Ia menggenggam tiga buah pahat di tangannya sambil memperhatikan sebuah berita penculikan di dinding. Ia teringat peristiwa 8 tahun yang lalu. Ia ditangkap polisi karena aksi penculikan. Tapi adiknya, yang diketahuinya menjaga kedua korban, ternyata menghilang. Setelah 8 tahun dan bebas dari penjara, lelaki ini berniat untuk balas dendam.



Hitomi-sensei pulang ke apartemennya. Ia masih memikirkan tentang pahat yang 3 buah lagi. Hitomi-sensei kaget ketika sampai di depan pintu, ada sekantung tas kertas yang berisi uang! “Uang?! Eh, kenapa?! Tak mungkin. Satu juta untuk setiap ikatan. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 20 juta yen! 20 juta yen... Mungkinkah? Kenapa? Kenapa? Bagaimana dia bisa tahu rumahku? Mungkinkah itu kakaknya Ainosuke? Mungkinkah mereka ada di dalam kamarku? Apakah ia memeriksa kondisi keuanganku? Bagaimana ini? Bagaimana ini? Aku tak boleh sendirian,” Hitomi-sensei mulai panic. Ia yang ketakutan akhirnya kembali ke mobil.

“Ada apa di pangkalan bawah tanah itu?” Kokusho-san ternyata memperhatikan semua gerak-gerik Hitomi-sensei dan dengan mudah masuk ke dalam mobilnya

“Apa yang kau bicarakan?” Hitomi-sensei ketakutan.

“20 juta yen-nya ada disana, kan? Aku akan memintamu untuk bekerja sesuai dengan jumlah yang kau terima.”

“Saat itu aku sudah bilang dengan jelas bahwa aku tak mau jadi mata-mata. Memang aku menginginkan uangnya. Hutangku terus bertambah dan mungkin aku tak akan bisa membayarnya. Tapi meskipun aku ingin berhenti berbelanja, aku tak bisa. Mungkin aku orang yang tidak berguna.. Tapi... Tapi bahkan bagiku ada satu hal yang telah kuputuskan di dalam hatiku. Aku adalah seorang guru, karena itulah, aku tak akan melakukan apapun untuk menjual Ainosuke. Pulanglah.”

“Kau pasti salah paham. Aku bukan musuh Tanaka Ainosuke,” ujar Kokushou-san.

“Apa? Begitukah?” Hitomi-sensei tampak berpikir, “Kalau begitu aku tak keberatan dengan 20 jutanya... Eh?” saat ia berbalik, ternyata Kokusho-san sudah tidak ada di jok belakang mobilnya.



“Halo. Ainosuke-kun, hasilnya sudah keluar. Memang darah yang terdapat pada pahat itu. Golongan darah tipe O,” detektif Kato menghubungi Ainosuke malamnya.

“Tipe O?” Ainosuke bingung.

“Apa golongan darah Ainosuke?” tanya detektif Kato lagi.

“Aku tipe A. Aku tipe A dan kakak tipe AB. Tapi darah pada pahatnya tipe O. Darah siapa itu?” tiba-tiba sakit kepala itu kembali menyerang Ainosuke. Ia lalu memutus telepon dari detektif Kato.



Ainosuke berangkat ke sekolah seperti biasa paginya. Ia masih saja memikirkan ucapan kakaknya di telepon kemarin, Rencana jahatku semuanya saling berhubungan. Yang pertama adalah penculikan, kemudian pembalasan dendam. Semua itu dilakukan untuk mengingatkanmu tentang hari itu. “Hari itu? Kakak berusaha membuatku mengingat apa?” Pelaku kali ini menggunakan pahatmu untuk membalas dendam kepada kita. “Aku tak tahu. Aku ingin mengingatnya tapi aku tak bisa.”

Tiba-tiba Ainosuke kehilangan keseimbangan saat naik tangga. Ia jatuh dari tangga. Kilasan muncul di mata kirinya. Tangan seseorang yang memegang pahat, berita penculikan dan wajah seorang lelaki dengan luka silang di bawah mata kirinya.



“Kenapa 20 jutanya kukembalikan begitu saja? Tentunya tak akan terlambat untuk memutuskan untuk menyimpannya atau tidak setelah menyelidiki motif Kokushou-san. Aku sungguh bodoh, bodoh, bodoh,” Hitomi-sensei merutuki kebodohannya sendiri di ruang kesehatan.

Saat itu ada seorang siswi yang sakit dan minta izin istirahat di ruang kesehatan. Tanpa melihat ke belakang, Hitomi-sensei mengiyakan. Lelaki berpahat rupanya menyusul ke ruangan itu. Ia mengetuk pintu ruang kesehatan, tapi yang membukakan adalah siswi yang minta izin istirahat tadi. Tanpa babibu, pria itu menyerang si gadis.

Pria itu kaget karena salah sasaran. Buru-buru ia melarikan diri. Hitomi-sensei yang ketakutan masih sempat melihat wajah si pria. Ainosuke ternyata juga muncul kemudian. Ia kaget melihat temannya itu bersimpuh darah di dekat pintu ruang kesehatan. Sekilas, Ainosuke sempat melihat pria dengan pahat itu.

“Sensei! Kitazawa-san! Bu guru, sadarlah. Aku akan memanggil ambulans! Halo, tolong kirim ambulans ke klinik SMP Kisaragi,” ujar Ainosuke sigap.



“Ini salahku. Karena aku... dia ditusuk menggantikanku,” sesal Hitomi-sensei.

“Kau salah. Itu bukan salah Sensei, itu salahku. Miruku-san, Sensei and Kitazawa-san diserang untuk membalas dendam padaku,” ujar Ainosuke menenangkan. “Sensei, ikutlah ke rumah sakit dengan mereka,” yang diiyakan oleh Hitomi-sensei.

Tinggal Ainosuke bersama detektif Kato dan para polisi yang lain, “Detektif Kato, aku tahu wajah pelakunya,” ujar Ainosuke membuka buku sketsa dan mulai menggambar sketsa wajah orang berpahat itu.



“Dengan bantuan Tanaka Ainosuke, kami berhasil menemukan identitasnya. Namanya Ikeuchi Kazuya, umur 40 tahun. Luka silang di bawah mata kirinya itu adalah tanda khususnya. Ikeuchi Kazuya ditahan 8 tahun yang lalu atas tuduhan penculikan bersama adiknya, Ikeuchi Tomoya. Adiknya melarikan diri dan hingga kini belum tertangkap. Kakaknya baru saja mendapat pembebasan bersyarat 3 hari yang lalu.”

“Melakukan kejahatan segera setelah pembebasan bersyaratnya, orang itu tak pernah belajar. Dia akan mudah ditemukan selama ia memiliki luka itu. Masukkan dia ke dalam daftar orang yang paling diburu,” ujar detektif Miyamoto menanggapi laporan dari anak buahnya.



Ainosuke menyusul senseinya ke rumah sakit, “Sensei, bagaimana Kitazawa-san?”

“Dia sedang dioperasi sekarang. Dia kehilangan banyak darah.” Hitomi-sensei melihat dokter keluar dari ruang operasi, “Dokter, bagaimana keadaan Kitazawa-san?”

“Kami berhasil menyelamatkannya,” ujar dokter itu lalu beranjak pergi.

“Terima kasih banyak,” ujar Hitomi-sensei dan Ainosuke lega.



“Dengan sketsa Tanaka Ainosuke, kami telah memasukkan orang ini ke dalam daftar orang yang paling diburu,” detektif Miyamoto memberikan laporan pada Yumehito, secara diam-diam.

“Kita satu langkah lebih dekat dalam menyelesaikan tujuan kita. Kerja yang bagus.”



Wajah si pelaku rupanya sudah beredar di seluruh kota. Tiba-tiba ada masyarakat yang mengenal si pria itu lalu melaporkannya pada polisi. Merasa terjebak, pria itu lalu masuk ke dalam bisa dan menyandera seorang anak di dalam bis.

“Tolong lepaskan anak itu. Dia hanyalah anak-anak,” pinta si sopir bis.

“Tidak. Cepatlah menyetir. Lewati para polisi itu!” pinta si pelaku.

Rupanya berita peristiwa pembajakan ini sudah sampai di telinga polisi. Mereka bergegas mengerahkan personilnya di jalan-jalan.

“Hei, telepon polisi. Telepon dan katakan pada mereka permintaanku... permintaanku adalah... “ pinta si pelaku kemudian.



Ainosuke dan Hitomi-sensei masih berada di rumah sakit. Mereka menunggui Kitazawa-san yang belum sadar selepas operasi.

Tiba-tiba detektif Kato menyeruak masuk, “Ainosuke-kun. Sebuah bus dibajak oleh pelaku. Seorang anak kelas 1 SD disandera dengan menggunakan pahat. Pelaku meminta untuk bertemu denganmu.”

“Aku mengerti. Aku pergi... Aku akan pergi. Aku harus pergi,” ujar Ainosuke mantap.

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.