Sinopsis Dos Deka episode 03 part 2. Buat yang ketinggalan, sila cek juga Sinopsis DoS Deka episode 03 part 1. Selamat membaca … engngng sambil nunggu sub terbaru juga sih, hehehe
Kasus pembunuhan berantai dengan cara dibakar masih menjadi misteri. Setiap petunjuk justru membawa mereka pada korban berikutnya. Siapa sebenarnya pelaku di balik kasus ini?
Daikan sedang bersantai di rumahnya sambil mencabuti bulu hidungnya, “Hari ini Kuroi-san berbeda dari biasanya,” keluhnya. Tapi sebuah suara yang muncul dari pintu depan menarik perhatian Daikan. Kuroi datang berkunjung.
Ibu dan adik Daikan menyambut Kuroi dengan ramah seperti biasanya. Kuroi ternyata pesan layanan spa kepala. Daikan heran, sejak kapan mereka memiliki layanan itu. Tapi ibunya mengatakan kalau mereka memang memilikinya.
Daikan sendiri justru tertawa terbahak-bahak, karena hari itu lagi-lagi Kuroi bersikap aneh. Kuroi sendiri menahan kesal yang sejak tadi ingin diungkapkannya.
“Sekali itu patah, sulit untuk memperbaikinya. Sama seperti rambut, bahkan tubuh dan hati juga begitu,” sepertinya ibu Daikan tahu persis, jika Kuroi dan Daikan sedang ada masalah.
“Det.Daikanyama--,” ujar Kuroi. Tapi ia tidak melanjutkan kalimatnya. Kata ‘berbaikan’ yang sebenarnya begitu ingin dikatakannya tidak juga keluar.
Daikan melihat dengan bingung ke arah Kuroi. Ia pun akhirnya bersin, memberikan Kuroi sebuah ide brilian.
“Jangan sampai kena flu,” Kuroi melanjutan kalimatnya.
“Aku mengerti,” ujar Daikan polos.
Kata maaf tidak juga keluar dari bibir Kuroi. Ia akhirnya justru ingat, kalau mereka masih harus melakukan investigasi lagi bersama. Kuroi mengingatkan Daikan jika mereka akan melakukan pertemuan investigasi khusus besok, dan meminta Daikan untuk tidak datang terlambat.
Pagi berikutnya, Kuroi sudah mengajak Daikan ke … taman. Seperti biasa mereka akan bermain permainan berputar. Tapi Daikan ini Cuma bisa ‘hooh’ pada Kuroi, tanpa berani protes.
Kuroi mulai bergumam, “Putri Maezono Tokie, Maezono Rinko bunuh diri dengan membakar diri. Enam bulan kemudian, empat orang terbunuh karena dibakar. Alasan bunuh diri Mezono Rinko adalah karena putranya tidak terselamatkan saat jatuh di taman. Penyebabnya adalah ambulan yang datang terlambat. Alasannya karena ulang seorang pria mabuk di jalan, Nishikawa Hidetoshi. Orang yang memaksa Nishikawa mabuk adalah Jinguji Naoyoshi. Kenapa Jinguji keluar hari itu dan memaksa Nishikawa mabuk?” Kuroi mengumpulkan ingatannya saat mendatangi Jingungi. Rupanya saat itu Jinguji sedang ada masalah dengan atasannya. Kuroi mulai bergumam lagi, “Jika inspkt.Shirogane tidak diserang media, Daikan juga tidak akan disalahkan oleh det.Arisuga. stop!” perintah Kuroi tiba-tiba. Ia pun menyuruh Daikan untuk berputar ke arah sebaliknya.
Daikan menuruti perintah Kuroi. Setelah itu, Daikan tampak lega melihat senyum di wajah Kuroi, “Kau menemukan sesuatu Kuroi-san? Seperti dugaan dari seorang Kuroi-san, kau memecahkan semuanya demi keadilah. Saat aku berguna, aku merasa senang,” puji Daikan.
Kuroi turun dari manan itu. Ia tersenyum sarkas, “Demi keadilan? Daikan-sama, apa kau lupa, alasanku jadi detektif?”
Daikan mengerti, “Karena kau ingin menyiksa para penjahat itu! Aku lupa.”
Para polisi berkumpul di markas. Kuroi memberikan tugas pada Daikan untuk menuliskan hasil analisisnya di papan.
“Mantan gangster Araki Hirofumi dan kekasihnya Miyasaka Yui dibenci oleh Sasaki Yuya, korban pemerasan mereka. Sasaki Yuya dibenci oleh karyawan toko alat musik, Uehara Nobuka karena memanfaatkan uangnya. “ Kuroi menyuruh Daikan menulis kelanjutannya di papan sebelah.
Inspkt.Shirogane menyuruh Daikan menulis dengan benar agar mudah dibaca. Tapi Kuroi menyuruh Daikan menulis dengan cepat. Keduanya pun adu mulut. Daikan yang jadi korban harus menuruti perintah kedua wanita itu. Sederet nama pun selesai ditulis oleh Daikan, lengkap dengan tanda panah.
Kuroi melanjutkan penjelasannya, “Nishikawa Hidetoshi kesal pada Jinguji Naoya yang membuatnya mabuk di jam kerja. Jinguji kesal pada atasannya, ahli gigi Iwanami Tetsuo karena pekerjaannya. Iwanami Tetsui kesal pada pasiennya Matsuura Taeko. Matsuura Taeko benci pada suaminya, Matsuura Kenichiro dan kekasihnya Kujo Honami (karyawan toko alat musik).” Kuroi menutup penjelasannya.
Tapi rupanya yang lain belum mengerti maksudnya. Daikan yang ditanya juga tidak paham apa yang ia tulis. Daikan hanya mengatakan jika itu semua adalah ‘rangkaingan kebencian’.
“Rangkaian kebencian?” inspkt.Shirogane mengingat kembali penyelidikannya, tentang karyawan toko alat musik. “Artinya, jika Araki dan Miyasaka tidak memeras Sasaki Yuya, Nishikawa mungkin tidak akan keracunan alcohol, dan ambulan tidak akan datang terlambat. Pelaku menggunakan hubungan rangkaian kebencian ini dan melakukan pembunuhan dengan arah sebaliknya. Jadi maksudmu, pelaku dari kasus pembunuhan pembakaran ini adalah orang yang terhubung dengan Nishikawa Hidetoshi. Dan dia siapa?” inspkt.Shirogane pun mulai mendapat titik terang.
“Orang yang mengalami kerugian karena macet yang disebabkan orang mabuk, kehilangan cucu dan putrinya dari bunuh diri. Seniman boneka, Mezono Tokie adalah pelaku dari semua kasus ini,” ujar Kuroi tegas.
“Ini menarik,” lanjut det.Tokou. “Det.Arisuga juga sudah mengatakan hal serupa sebelumnya kan?”
Ternyata apa yang dipikirkan det.Arisuga sebelumnya nyaris benar. Tapi rekan-rekannya yang lain sudah keburu tidak percaya dan menolak idenya itu. Eh akhirnya, ide ini pun diungkapkan oleh Kuroi lebih lengkap.
Inspkt.Shirogane pun mengerti, ia kemudian mengambil keputusan tegas dan berani, “Kuroi, aku akan menyiapkan surat penangkapan untuk Maezono Tokie!”
“Tapi inspkt,” protes det.Arisuga. “Jike teori ini salah, maka kau harus bertanggjawab juga—“
“Ini keputusanku!” ujar inspkt.Shirogane, tegas. “Aku akan bertanggungjawab atas apapun yang terjadi. Bawa Maezono Tokie kesini untuk diinterogasi!”
Kuroi dan Daikan langsung menuju rumah Maezono Tokie. Tapi, rumah itu gelap dan sepi. Mereka akhirnya memaksa masuk. Tidak ada siapapun disana. Kuroi yang tertarik dengan tapestry—hiasan dinding—kemudian membukanya. Ternyata disana ada foto, data serta hubungan tiap orang. Semuanya sesuai seperti teori yang diungkapkan Kuroi.
“Daikan, hari ini Rabu kan?” tanya Kuroi. Ia membaca data tentang karyawan toko alat musik, Matsuura Kenichiro dan kekasihnya yang biasa berjumpa di pelabuhan pada hari Rabu. Kuroi melirik ke tempat boneka hasil karya seniman itu dipajang biasanya. Ada dua boneka yang hilang, “Ayo!”
Kuroi menghubungi markas untuk memberitahukan jika Maezono Tokie menghilang, “Target selanjutnya adalah Kujo Honami dan Matsuura Kenichiro, karyawan toko alat musik. Mereka sering bertemu secara rahasia di dekat pelabuhan.
“Mengerti!” ujar inspkt.Shirogane. Ia langsung mengajak tim-nya untuk berangkat.
Kuroi dan Daikan bermobil menuju pelabuhan yang dimaksud. Daikan mengusulkan agar mereka belok di jalan berikutnya karena itu jalan terdekat. Kuroi tadinya tidak bersedia, karena navigator di mobilnya menyebutkan sebaliknya. Tapi Daikan meyakinkan jika ia tahu persis jalanan sana karena pekerjaannya sebelumnya di pos polisi.
“Kerja bagus, Daikan!” Kuroi memuji Daikan atas idenya lewat jalan pintas.
Seperti perkiraan Kuroi, di pelabuhan itu sudah ada mobil terparkir. Tidak jauh dari sana, Maezono Tokie menyalakan bom Molotov-nya dan melemparkannya ke bawah mobil. Daikan dan Kuroi bergegas membuka mobil dan menyuruh penumpangnya keluar. Daikan pun menendang keluar bom Molotov itu yang akhirnya menyala besar, tapi di luar mobil.
Akhirnya Kuroi, sekali lagi, bertemu dengan seniman boneka itu, Maezono Tokie, “Kau melakukan suatu yang luar biasa huh? Rencana pembunuhan yang memanfaatkan rangkaian kebencian, terhubung dengan penyebab kematian cucu dan putrimu. Kalau kau mulai tidak dari penyebab asalnya, Nishikawa, tapi mulai dari Araki dan Miyasaka, kau bisa membuat investigasi kacau dan berhasil membunuh 10 orang.”
Maezono tersenyum, “Benar sekali. Siapa yang bisa menemukan rencana ini? Jika bukan karena kau, aku bisa membunuh 10 orang itu. Aku bisa membuat mereka merasakan neraka seperti yang dilakukan putriku. Aku bisa balas dendam!”
“Balas dendam?” Kuroi tersenyum sarkas. “Rangkaian kebencian, jika kau melakukan itu, itu akan menghubungkan semua orang di dunia. Jadi, sesuatu yang kau sebut balas dendam tidak akan berhenti hingga semua manusia mati. Apa kau bodoh?” wajah Kuroi berubah kesal dengan mata merah, ia marah.
Inspkt.Shirogane bersama tim-nya, dan pemadam kebakaran pun telah datang. Ia mendekati Maezono Tokie, “Maezono Tokie, sebagai tersangka utama kasus pembunuhan pembakaran, kami akan membawamu ke kantor polisi!” tapi belum sempat, Maezono justru melarikan diri.
Maezono menyalakan bom Molotov yang juga sudah disiapkannya, “Jangan mendekat! Maaf, Yuna. Nenek melakukan hal menakutkan sebagai nenek Yuma.” Maezono menyiramkan minyak pada dirinya.
“Berhenti!”
Sebelum sempat Maezono membakar dirinya, Kuroi sigap mengeluarkan alatnya dan menyambar bom Molotov yang sudah menyala itu. Benda itu pun diselamatkan dan kemudian ditangkap oleh Daikan. Kuroi mengeluarkan borgolnya, “8.17, kau ditangkap untuk tuduhan pembunuhan!”
Inspkt.Shirogane pun membawa Maezono untuk masuk ke mobil. Tapi, belum sempat masuk, Maezono sudah keburu kesakitan dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Inspkt.Shirogane seperti biasa ngobrol dengan det.Tokou, “Tumor otak stadium akhir. Seorang nenek dari bocah lelaki kecil, menyadari usianya tidak akan lama lagi, melakukan balas dendam dengan menelusuri rangkaian kebencian.”
“Kasus yang tragis,” komentar det.Tokou.
Inspkt.Shirogane melihat ke arah rekannya itu, “Tokou-san, artinya sedikit keyakinan saja, bisa menyelamatkan nyawa manusia. Apa itu benar terjadi?” inspkt.Shirogane merasa tidak yakin.
“Tentu saja!”
Seniman boneka Maezono Tokie akhirnya sadar, saat dirinya berada di rumah sakit. Ia melihat ada boneka kecil di sampingnya, “Kenapa ini ada disini?” ujarnya pada seorang perawat yang datang.
“Boneka yang manis,” komentar si perawat.
“Ini dibuat seperti cucuku. Yuma, ini karya terakhir dan terbaikku,” Maezono mengelus boneka berwajah tersenyum di tangannya itu.
Rupanya Kuroi mendengar ucapan Maezono dari luar ruangan perawatan. Ia pun beranjak pergi saat kemudian bertemu dengan seorang pria berjas yang membawa bunga. Kuroi membatin. Pria itu berhenti di depan ruangan perawatan Maezono.
“Namaku Nishikawa. Bisakah kau berikan ini pada pasien di dalam?” pintanya pada seorang polisi wanita yang tengah berjaga disana.
Kembali pada obrolan inspkt.Shirogane dan det.Tokou.
“Meski itu keputusan yang berani. Kau menerima ide Kuroi yang cukup berani, itu sepertimu,” ujar det.Tokou.
“Tidak. Aku tidak menerima idenya. Ini karena aku merasa menyesal telah membiarkan Sasaki Yuya terbunuh. Yang kuterima adalah kemarahannya dan rasa keadilannya. Dan juga karena Tokou-san mendukungku,” puji inspkt.Shirogane.
“Tidak, tidak. Itu semua karenamu,” elak det.Tokou. Ia batal menyalakan rokoknya.
“Kau tidak jadi merokok?” tanya inspkt.Shirogane yang hanya dijawab dengan senyuman.
Det.Arisuga mulai curhat, “Maezono Tokie. Teori yang luar biasa, tapi aku tidak mengerti apa yang dirasakannya. Belakangan, istriku lebih gemuk. Ini karena makanan dari Hokuhoku itu. Rasanya sangat enak. Tapi yang paling salah adalah toko yang menjualnya. Ah bukan, tapi apa kau tahu alasan toko itu buka disana? Itu karena toko minuman sebelumnya tutup. Dan alasan toko minuman tutup adalah istri si pemilik toko terobsesi pada bintang korea, Yan-sama. Jadi istriku semakin gemuk, ini semua salah Yan-sama!” det.Arisuga malah menghubung-hubungkan semuanya.
Para polisi yang lain mulai mengerti. Karena suata hal, efeknya bisa kemana-mana. Daikan pun akhirnya ikut-ikutan menghubung-hubungkan semuanya.
“Kalau begitu, aku akan beli bunga untuk dekorasi rumah,” Daikan menyimpulkan.
“Daikan-sama, kau tidak serius kan?” Kuroi yang sejak tadi asyik dengan kopi-nya pun ikut bergabung.
“Tentu saja aku serius!” ujar Daikan yakin. “Kalian tahu, kasus ini terselesaikan karena Kuroi tidak pandai main bowling.”
Disebut payah main bowling oleh partnernya, Kuroi kesal. Tapi ia tidak mengatakan apapun.
“Kasus ini membuat kami menyelidiki dan datang ke pesta perjodohan. Saat Kuroi kesal karena selalu gagal, itu menginspirasinya menyelesaikan kasus. Ah benar, ayo pergi setelah ini, bowling!” usul Daikan kemudian.
Tapi sepertinya para polisi tidak ada yang tertarik dengan ide Daikan itu.
Kuroi berbalik, “Seperti perkiraanku. Daikan, apa kau bodoh?!”
BERSAMBUNG
Sampai jumpa di DoS Deka episode 04 part 1
Picture and written by Kelana
Posting at www.elangkelana.net

















daikan saru (istilah jawa, nda ngerti bahasa indo nya apa) ih... nyabutin bulu hidung.
BalasHapusboleh ndaaa... minta boneka rambut pendeknya... itu kan kuroi...
finally dos deka lanjut jg. ep 3 ini bikin spekulasi deh.
si nenek ky'nya bakal dibunuh itu ya?
sampe sekarang blon dapet feel nya buat baca perfect insider *loh, kok curcol sih?
oiya lupa...
BalasHapusarigato gozaimasu.... *deep bow
hahahaha
BalasHapustapi itu lucu, kelihatan jorok gitu. dorky
iy, pertama Na mikir jg gitu, itu yg rambut pendek kuroi, ternyata ...
huum, Na buat sinop-nya kan gantian sama perfect insider, jadi agak lama
padahal drama season spring ini aja udah bikin mupeng
dari 11 episode doS deka, baru ada sampai 9 sub-nya, harus sabar dulu jg
looh
BalasHapusLOL
whoooaaaa??? jd itu bukan kuroi?
BalasHapussampe ep 3 blm muncul ya wujud kluarganya kuroi. pengen liat bapak emaknye pegimane. secara anak nye unik gt :D
nah itu dia
BalasHapusNa justru ngebayangin masa kanak2nya kuroi
jangan2 dari kecil dia emang udah sadis en hobby ngebully orang gitu ya