Sinopsis Perfect Insider episode 05 part 2. Buat yang ketinggalan episode sebelumnya, bisa cek langsung di Perfect Insider episode 05 part 1 juga.
Bagian sebelumnya …
Saikawa-sensei dan Moe mendatangi laboratorium milik keluarga Magata. Disana Dr.Magata Shiki—si jenius, dikurung selama lima belas tahun, sejak kasus pembunuhan terhadap kedua orang tuanya saat usianya saat itu baru 14 tahun. Tapi Dr.Magata mendadak tidak bisa dihubungi. Kemudian sistem di lab eror mendadak. Pintu ruangan Dr.Magata terbuka, robot pembawa P1 keluar, di atasnya sesosok tubuh mengenakan gaun pengantin keluar, tanpa lengan dan kaki. Dia … Dr.Magata Shiki. Dr.Magata Shiki terbunuh?
Saikawa-sensei masih melamum sambil memperhatikan jasad Dr.Magata Shiki di atas robot P1 saat Moe bergabung dengannya.
“Sepertinya kita melibatkan diri dalam situasi yang mengerikan,” komentar Moe.
“Ini kehilangan besar bagi umat manusia,” jawab Saikawa-sensei.
Saat itu dr.Yuminaga, dokter laboratorium tersebut juga bergabung. Ia membawa kain putih dan menutupkannya pada jasad Dr.Magata Shiki.
“Berapa lama sejak kematiannya?” tanya Moe.
“Aku memperkirakan 2 atau 3 hari,” ujar dr.Yuminaga.
“Ini terjadi selama liburannya...” gumam Moe.
“Dr. Yuminaga, apa ada batas kapasitas loading untuk robot P1?” sambung Saikawa-sensei.
Dokter Yuminaga tampak berpikir, “Aku pikir 30 kilogram.”
“Aku paham!” Moe tiba-tiba bersemangat. “Untuk mengurangi berat badan mayat...Kau tau berapa berat badan Dr. Magata?”
“Ya, Dr. Magata sudah mengirim data kesehatannya padaku. Berat badannya sekitar 42 kilogram atau lebih,” ujar dr.Yuminaga lagi. “Tunggu sebentar. Maksudmu pelaku mengamputasi lengan dan kakinya, agar mayat bisa diangkut robot P1?”
Moe mengiyakan. Tapi Saikawa-sensei tidak sepakat. Saikawa-sensei mengatakan itu hanya dugaan sementara saja. Menurut Saikawa-sensei, mengamputasi lengan dan kaki tidak penting. Yang penting disini adalah fakta pembunuhan terjadi di ruangan ini dimana Dr. Magata seharusnya sendiri. Ada oranglain selain Dr. Magata di dalam ruangan ini. Itu teori terbesar kasus ini.
Pembicaraan mereka terhenti saat terdengar suara dari atas lab. Wakil direktur Yamane mau naik ke atas karena tahu jika itu adalah helicopter direktur Shindo. Moe pun ikut ke atas.
“Direktur Shindo! Tolong telpon polisi lewat transceiver radiomu! Dr. Magata dibunuh!” ujar wakil direktur Yamane tanpa basa basi.
“Dr. Magata dibunuh?” direktur Shindo kaget.
“Kami tidak bisa menggunakan telepon, karena sistem Deborah bermasalah! Kami sungguh tidak tahu. Bisa tolong telpon polisi lewat radiomu terlebih dahulu?” pinta wakil direktur Yamane lagi.
Direktur Shindo mengiyakan permintaan wakil direktur itu. Moe juga ikut maju. Moe mengatakan jika direktur Shindo juga perlu menyebut namanya agar polisi mengerti.
“Jika aku dapat sinyal bagus di sini, aku akan take off sekali lagi. Pergilah dan bawa Miki-san ke bawah,” pinta direktur Shindo kemudian.
Wanita berambut pirang yang duduk di kursi belakang direktur Shindo pun turun dari helicopter. Wajahnya sangat mirip dengan wajah Dr.Magata Shiki. (yang aneh adalah, dia ini kan adiknya Shiki, tapi nggak kaget sama sekali waktu ada berita kalau kakaknya, Magata Shiki disebutkan meninggal, hmmm)
Dalam lift, wanita berambut pirang itu memperkenalkan diri sebagai Magata Miki, adik dari Dr.Magata Shiki. Pintu lift terbuka. Disana rupanya ada dr.Yuminaga, yang mengatakan akan mengantarkan tamu mereka itu ke ruangannya.
Moe kembali bergabung dengan Saikawa-sensei dan para staf di depan ruangan Dr.Magata Shiki. Mereka memeriksa CCTV yang terpasang di depan ruangan itu. Menurut rekaman, tidak ada seorang pun yang keluar ataupun masuk ruangan Dr.Magata Shiki selama liburannya. Selain itu, menurut blue-print laboratorium, juga memang tidak ada jalan lain untuk masuk ruangan di balik pintu kuning itu.
“Ruangan tersegel rapat, dapat berfungsi sebagai tempat perlindungan nuklir,” tambah teknisi.
Moe penasaran dengan cara mereka memasukkan paket yang besar ke ruangan Dr.Magata Shiki. Teknisi mengatakan jika mereka membuka pintu kuning, menghubungi Dr.Magata Shiki dan membiarkan robot P1 yang mengantarkannya ke dalam. Sebelum masuk, paket itu akan diperiksa secara teliti. Pintu kuning ruangan Dr.Magata Shiki hanya bisa dioperasikan lewat pengatur di depan ruangan.
“Ini benar-benar seperti penjara, iya kan?” komentar Saikawa-sensei, membuat kedua teknisi itu melihatnya speechless.
“Oh, bagaimana dengan parsel kecil?” tanya Moe kemudian.
“Kotak surat ada di sana,” ujar teknisi menunjuk kotak surat di dinding.
Moe memperhatikan kotak itu lalu membukanya. Dengan ukuran yang disebutkan oleh teknisi sebesar 25 x 25 x 35 cm, Moe memperkirakan jika ukuran benda yang bisa masuk memiliki volume 21,875 sentimeter persegi. Ukuran yang tidak layak untuk manusia.
“Berapa lama video rekaman ini disimpan?” tanya Saikawa-sensei kemudian.
“Selamanya. Kami punya semua video rekaman selama 15 tahun,” ujar teknisi itu.
“Kau yakin tidak ada yang masuk ke dalam ruangan Dr. Magata?” Saikawa-sensei masih tidak yakin.
Teknisi itu berpikir lagi, “Direktur Shindo masuk beberapa kali untuk mengecek kondisinya setelah percobaan. Tapi tak seorangpun masuk ke dalam selama 15 tahun.”
Programmer Shimada melapor pada wakil direktur Yamane jika ia mulai mendapat laporan dari para staf peneliti jika komunikasi mereka bermasalah. Wakil direktur Yamane mengatakan jika ia hanya perlu memberitahukan staf jika ada kesalahan dalam sistem komunikasi dan sedang dalam perbaikan.
“Bagaimana dengan masalah Dr. Magata?” tanya programmer Shimada.
“Bagaimana bisa aku katakan pada mereka tanpa izin dari direktur. Itu bisa menimbulkan kepanikan,” komentar wakil direktur Yamane.
“Apa kau sudah memverifikasi lokasi staf lainnya?” Saikawa-sensei ikut nimbrung.
Wakil direktur Yamane berbalik, “Ya, semua orang ada di ruangannya masing-masing. Deborah menyimpan catatan pembukaan dan penutupan setiap ruangan, jadi tidak ada kesalahan.”
Saikawa-sensei melihat ke arah panel di samping lift yang menunjukkan dimana lift berada saat itu. Ia kemudian melihat ke arah jam tangannya, “Ada sesuatu yang salah. Yamane-san, tidak ada jalan masuk ke Lab dari atap tanpa lift kan?”
“Kau benar, tapi kenapa?”
“Ini sudah 30 menit lebih sejak Direktur Shindo tiba, tapi lift tidak bergerak sekalipun,” ujar Saikawa-sensei.
Saikawa-sensei, Moe dan wakil direktur Yamane memutuskan untuk menuju atap lab. Tapi, fakta mengejutkan yang mereka temui disana. Direktur Shindo telah tewas akibat luka tusukan pisau di punggungnya. (di lab kan ada dokter ya? kenapa nggak buru-buru dibawa masuk dan diperiksa, siapa tahu bisa diselamatkan, ya kan? Masak di lab dengan fasilitas super gini, nggak ada fasilitas kesehatan? Hehehe … ampun deh, Na. ini kan drama)
Saat itu, istri direktur Shindo, nyonya Shinda ternyata ikut menyusul ke atas. Ia langsung histeris melihat suaminya sudah tidak bergerak, dan masih duduk di balik kemudi helicopter.
Saikawa-sensei berinisiatif memeriksa radio helicopter. Radio ternyata sudah dirusak. Harapan mereka untuk berkomunikasi dengan dunia luar pun kembali pupus. (masa Saikawa-sensei nggak bisa benerin radio ya? Atau panggil salah satu staf di lab yang ahli teknik gitu. Stop deh, Na. Ini kan drama, huehehehe)
Para mahasiswa yang camping di pinggir pantai menikmati pesta barbeque mereka sambil bermain kembang api.
“Saikawa-sensei dan Nishinosono-san belum kembali juga,” ujar salah seorang mahasiswa.
“Apa ada sesuatu yang terjadi pada mereka?” sambung yang lain.
Ini juga dikomentari oleh Hamanaka, si ketua seminar, “Aku tidak peduli dengan Saikawa-sensei, tapi di sini kita laki-laki semua tanpa Nishinosono-san, kau ta—“ ucapan Hamanaka terputus oleh suara kaleng bir yang diketukkan dengan keras.
Anak-anak berbalik dan sadar, jika masih ada wanita diantara mereka, asisten prof.Kuneida. (makannya mbak, penampilan jangan preman gitu donk. Jadi nggak dianggep deh sama para mahasiswanya. Sayang nggak ada love-line-nya si mbak ini sama Saikawa-sensei, huks)
Saikawa-sensei dan Moe ada di luar saat dr.Yuminaga baru keluar dari ruangan nyonya Shindo dan telah memberikan obat penenang.
“Apa yang terjadi di sini? Kini direktur juga dibunuh!” sesal dr.Yuminaga.
“Direktur Shindo adik dari Dr.Magata Sachiro, ayah Dr.Magata Shiki, kan?” tanya Moe hati-hati.
“Ya. Direktur menjadi dokter setelah lulus dari sekolah kedokteran, dia kemudian menikah dengan keluarga Shindo, yang memiliki beberapa rumah sakit. Tapi Dr. Sachiro memintanya bekerja di sini. Dan kemudian dia menjadi direktur setelah insiden 15 tahun lalu itu,” cerita dr.Yuminaga.
Saikawa-sensei dan Moe kembali ke depan ruangan Dr.Magata Shiki. Wakil direktur Yamane dan para staf masih ada di sana.
“Deborah, ada orang yang meninggalkan Lab. dalam minggu terakhir ini?” tanya Saikawa-sensei.
“Shindo Seiji,” jawab si program, Deborah.
“Info itu bisa dipercaya?” Saikawa-sensei belum yakin. Ia melihat ke arah wakil direktur Yamane.
“Deborah selalu mengawasi pergerakan orang-orang untuk mencegah informasi bocor. Jadi, tidak ada kesalahan tentang itu. Pada kasus ini, tidak seorangpun meninggalkan Lab. sejak liburan Dr. Magata itu,” wakil direktur Yamane menjawab pertanyaan Saikawa-sensei.
Kesimpulan sementara mengarah pada kenyataan jika pelaku masih ada di dalam lab. Dan karena pintu kuning kembali ditutup, artinya pelaku kemungkinan masih ada di dalam. Tapi pertanyaan siapa yang membunuh direktur Shindo di atap juga belum terjawab. Ada kemungkinan jika ada dua pelaku dalam kasus ini. Radio di helicopter ditemukan rusak. Karena polisi belum datang, kemungkinan tidak pernah ada panggilan radio. Lab benar-benar lumpuh, sistem komunikasi Deborah masih belum pulih dan belum bisa diperbaiki karena tidak jelas masalahnya. Perahu dari luar pun tidak akan datang, kecuali diminta dari lab.
“Bagaimana dengan perahu untuk acaramu?” tanya Wakil direktur Yamane pada Saikawa-sensei.
“Datang 3 hari lagi,” jawab Saikawa-sensei membuat orang-orang semakin lemas.
“Oh! Aku sudah pecahkan masalahnya!” ujar Moe tiba-tiba. Ia pun mulai teorinya. “Pelakunya sama. Orang yang keluar dari kamar ini sama dengan yang membunuh Direktur Shindo di atap. Ketika mayat Dr. Magata keluar, kita semua pergi ke lorong mengejar robot P1. Kemudian... Deborah sejenak berhenti berfungsi karena reboot. Sementara kita kacau karena mayat dan Deborah tidak berfungsi, pelaku mengambil kesempatan itu dan keluar lewat lift. Dengan begitu, dia tidak akan terekam oleh CCTV. Lalu, pelakunya mengintai dari atap, setelah kita bertemu Miki-san, dia menusuk Direktur Shindo sampai mati. Begitu. Bagaimana menurutmu?” tanya Moe.
“Itu tidak mungkin,” elak teknisi. “Hanya CCTV di ruangan ini yang tidak terhubung dari sistem Deborah dengan alasan keamanan. Jadi rekaman video berlanjut sekalipun Deborah berhenti berfungsi.”
Mereka pun memeriksa sekali lagi rekaman CCTV. Tapi, seperti yang dikatakan oleh teknisi, meski Deborah reboot, CCTV disana tetap terus merekam. Dan memang tidak ada yang keluar dari ruangan itu lewat lift.
“Hanya ada satu jawaban. Ayo kita masuk kedalam,” Saikawa-sensei memberikan usul.
“Di sana bahaya! Tak ada yang pernah berada di ruangan itu selama 15 tahun, kan?” elak teknisi.
“Apa tidak sebaiknya kita tunggu polisi?” tanya proggamer Shimada.
“Yamane-san, keputusan... ada di tanganmu,” bujuk Saikawa-sensei sekali lagi.
Wakil direktur Yamane tampak berpikir, “Baiklah. Ayo periksa ke dalam!” ujarnya mengambil keputusan berani.
Mereka pun bersiap untuk masuk ke ruangan Dr.Magata Shiki. Salah seorang teknisi bahkan membawa serta sebuah kapak untuk bersiap. Sementara teknisi satunya mengoperasikan computer dari luar.
“Kau siap? Sekarang aku buka pintunya,” ujar teknisi memencet ‘open’ dari depan komputernya.
Pintu berwarna kuning itu pun bergerak pelan ke atas, terbuka.
Setelah pintu kuning teruka sempurna, pintu geser yang ada di dalam juga ikut terbuka. Rombongan masuk ke dalam. Salah seorang teknisi menyalakan lampu ruangan itu. Mereka disambut sebuah ruangan dengan beberapa computer di tengah dengan beragam kabel. Lalu di sisi lain ruangan ada rak dengan deretan buku yang rapi berjajar. Di meja yang ada di pojok ruangan, ada beberapa komponen, kabel dan peralatan yang berserakan. Moe memeriksa kotak surat di sisi tembok, kotak itu kosong dan tidak ada yang aneh. Wakil direktur Yamane meminta programmer Shimada untuk memeriksa computer di sana.
Rombongan beranjak ke ruangan sebelah. Saat dibuka dan dinyalakan lampunya, ruangan itu juga kosong. Hanya ada kursi dan di depannya sebuah monitor. Mungkin ruangan ini yang digunakan Dr.Magata Shiki untuk berkomunikasi dengan luar.
Rombongan beralih ke ruangan yang lain. Ruangan itu berisi kursi dan meja kecil, dapur di sisi tembok, lemari es dan juga kamar mandi di sisi lain. Persis seperti rumah. Saat diperiksa, di ruangan ini juga tidak ada apapun dan siapapun.
“Aku pikir Dr. Magata terbunuh di ruangan ini...Tidak ada noda darah tertinggal. Pelakunya pasti sudah membersihkannya,” komentar Moe.
“Tapi... bagaimana dengan lengan dan kakinya?”
“Mungkin, lewat sini,” Moe menunjuk sebuah kotak di dekat dapur.
Rupanya kotak itu adalah kotak untuk membuang sampah yang akan terhubung dengan tempat pembakaran. Jadi, apapun yang dibuang lewat sana, pasti akan langsung terbakar.
Programmer Shimada memanggil orang-orang dari ruangan utama. Dia menunjukkan program Deborah versi 6. Teknisi tidak percaya.
“Tapi ini versi enam! Dan kecepatan pemrosesan sudah sangat meningkat,” programmer Shimad menunjukkan kemampuan program di computer itu. (isinya bikin ngiri, sumpah. Komponan dan Kecepatan aksesnya bikin mupeng)
“Dr. Magata pasti menyelesaikannya tanpa kita tahu. Tapi kenapa dia tidak menggunakannya?” komentar wakil direktur Yamane.
Mereka heboh karena saat ini versi Deborah yang digunakan di lab adalah versi empat. Versi lima dan versi enam tidak pernah disebutkan oleh Dr.Magata, padahal Dr.Magata telah menyelesaikannya.
Programmer Shimada juga menunjukkan jika semua file dalam computer itu sudah dihapus. Kecuali satu, yakni kalender. Dalam kalender itu, hari ini diberi tanda. Ada pesan disana, yang saat dibuka berbunyi ‘Segalanya menjadi 'F.—Subete ga F ni Naru--.
Moe kemudian ingat sesuatu. Ia ingat saat bertemu dengn Dr.Magata sebelumnya (di ruang virtual), Dr.Magata Shiki juga menyebut soal ‘Saat segalanya menjadi F’. Tapi ia sendiri juga masih belum mengerti maksud pesan itu.
“Siapa yang mengizinkan kau masuk ruangan ini?” nyonya Shinda tiba-tiba muncul dengan wajah kesal bukan main. (ibuk-nya seperti yang muncul di Black Buttler movie deh, ada yang inget?)
“Nyonya Shindo! Kita harus periksa ruangan ini—“ elak wakil direktur Yamane.
“Bisakah kau berhenti bertindak tidak sopan di sini?” nyonya Shindo masih tidak terima.
Wakil direktur Yamane pun akhirnya minta maaf. Tapi pembicaraan mereka terhenti saat terdengar suara bergemeretak dari dinding di belakang mereka.
Semua orang kaget, karena di belakang mereka seharusnya adalah dinding. Tapi, terdengar suara dari balik dinding itu. Saikawa-sensei mendekat dan memegang panel di dinding. Sayang saat berusaha ditarik, ia gagal melakukannya.
“Kau... Dr. Magata Shiki?” tanya Moe pelan. “Siapa kau?”
“Aku... Michiru,” ujar suara itu.
“Tolong buka pintunya!” tiba-tiba nyonya Shindo histeris. “Berhenti! Jangan buka! Tolong, jangan dibuka...”
Tapi terlambat. Kunci dinding itu seolah dibuka. Saikawa-sensei kemudian menarik sekali lagi panel di dinding. Dinding pun terbuka, tapi keadaan gelap. Ada sesuatu di dalam sana.
BERSAMBUNG
Sampai jumpa di SINOPSIS Perfect Insider episode 06 part 1.
Picture and written by Kelana
Posting at www.elangkelana.net




















0 komentar:
Posting Komentar