Sinopsis DoS Deka a.k Detektif Super Sadis episode 02 part 2. Duh, gomene ya guys, Kelana lama nggak posting. Ada beberapa kesibukan yang agak sulit ditinggalkan, hehehe #alesan. Tapi, Na udah kembali untuk postingan berikutnya kq. Oh ya, buat yang ketinggalan, cek bagian sebelumnya juga di DoS Deka episode 02 part 1. Selamat membaca.
Bagian sebelumnya,
Kebakaran di sebuah apartemen menewaskan dua orang penghuninya. Kasus perlahan mengarah pada pengedar narkoba. Apakah kedua korban hanya jadi korban ulah iseng atau ini kasus pembunuhan berencana?
Kuroi dan Daikan kembali ke markas saat orang-orang heboh karena tersangka berhasil mereka temukan. Ezawa Tamotsu, tersangka ada di ruang interogasi.
Det.Arisuga mulai kesal, lantaran Si Ezawa ini tidak juga mau bicara. Polisi semakin curiga saat melihat bekas luka bakar di tangan Ezawa ini. Mungkinkah dia pelakunya? Tapi si Ezawa ini tetap diam dan tak bergeming sedikitpun.
Inspkt.Shirogane yang tadinya hanya melihat dari ruangan sebelah akhirnya turun tangan. Ia sendiri yang mengambil alih interogasi, “Di sebuah desa di Tohoku, dari orang tua yang petani, ada anak laki-laki termuda dari empat bersaudara. Ini terjadi saat anak itu masih sekolah di SD. Jarak rumah dengan stasiun sekitar 10km. Hari itu, si anak laki-laki sedang berjalan pulang dari stasiun ke rumahnya. Dia menyadari jika uang kembalian tiket kereta berlebih. Sambil menerobos hujan, dia pun kembali berjalan 10km menuju stasiun hanya untuk mengembalikan ekstra 10 yen yang ia dapat. Saat di SMP, hal yang serupa terjadi. Saat ia pulang dari toko permen sejauh 20 km, anak laki-laki itu menyadari jika kembaliannya berlebih 100 yen, menerobos salju, dia pun kembali. Anak laki-laki itu … adalah kau, Ezawa Tamotsu,” inspkt. Shirogane menyudahi ucapannya.
Mendengar ucapan panjang inspkt.Shirogane itu, Ezawa akhirnya bergerak. Ia tidak bisa menahan air matanya dan akhirnya menangis.
“Apakah orang yang lurus seperti kau itu, benar-benar melakukan kejahatan? Pasti ada alasannya,” lanjut inspkt.Shirogane. “Katakan padaku!”
Di sela-sela tangisnya, Ezawa akhirnya mulai bicara, “Ini kesalahan Fumi-chan. Salahnya dia tidak melihat padaku lagi, meski dia tahu perasaanku. Saat aku masih di penjara, dia mulai hidup bersama wanita itu!” (Fumi-chan yang dimaksud adalah orang yang menjadi korban bom molotov)
Para polisi terharu mendengar cerita yang dibahas oleh inspkt.Shirogane.
Berbeda dengan det.Tokou-san, “Normalnya, jika orang yang dimaksud Araki Hirofumi, harusnya dipanggil dengan Hiro-chan kan, bukan Fumi-chan kan?”
Rupanya kasus ini adalah kasus kecemburuan. Ezawa Tamotsu mulanya adalah kekasih sesama jenis, Araki Hirofumi. Ezawa cemburu pada Araki karena saat ia di penjara, Araki justru malah hidup (normal) bersama wanita, si Miyazaka ini.
“Pasangannya lelaki. Aku seperti memahaminya, tapi sepertinya aku tidak paham,” gumam Daikan.
Awalnya, polisi lega karena akhirnya mereka menemukan tersangka kasus pembunuhan Araki-Miyazaka. Tapi, Kuroi mendapat telepon dari informannya jika alibi Ezawa pada saat kejadian, terbukti.
“Pada saat kejadian, Ezawa sedang mengikuti kelas memasak. Dia ingin memberikan Araki Hirofumi masakan sendiri,” ujar Kuroi.
Mendengar info tidak terduga itu, inspkt,Shirogane bergegas menemui Ezawa, “Apa benar, saat kejadian kau ikut kelas memasak?”
Ezawa yang bingung hanya bisa mengangguk dan mengatakan ‘iya’. Saat ditanya, darimana bekas luka bakar di tangannya, Ezawa mengaku jika luka itu didapatnya saat mengikuti kelas memasak. Ia terciprat minyak panas. “Aku ingin membuatkannya croquette kepiting buatan sendiri, tapi dia keburu meninggal sebelum merasakannya.”
Polisi pun hanya bisa menghela nafas kecewa. Kasus ini kembali buntu, karena ternyata Ezawa bukan pelakunya.
Kuroi bersama Daikan, seperti biasa, mengejar info dari informan mereka. Kali ini si informan, Yura-san melakukan pekerjaan sebagai peramal yang praktek di pinggir jalan.
Seperti perkiraan Kuroi, alasan Miyazaka Yui mencari pasangan adalah untuk menguras harta mereka. Informan juga memberikan data pria yang dikencani Miyazaka demi harta ini, namanya Sasaki Yuya, 28 tahun. Araki dan Miyazaka memeras pria itu sebanyak 1,2 juta yen.
Puas dengan seluruh informasi, Kuroi mengingatkan Daikan untuk memberikan uangnya pada si informan. Keduanya pun langsung pamit.
Tapi, si informan—yang sedang menyamar jadi peramal—menghentikan Daikan, “Sepertinya kau dalam keadaan akan bermasalah dengan perempuan,” ia mengingatkan. “Kau harus hati-hati di tempat dimana semuanya wanita!”
“Huh?” Daikan bingung, tapi juga mengiyakan peringatan itu.
Hari berikutnya. Kuroi meminta Daikan datang pagi-pagi, ke … taman bermain. Seperti kasus sebelumnya, Kuroi meminta Daikan memutar mainan melingkar itu. Sementara itu, tidak jauh dari mereka, ada dua orang anak kecil yang melihat keduanya dengan keheranan.
Mainan itu mulai berputar. Segala informasi di kepala Kuroi pun bermunculan.
Korban bom Molotov, mantan gangster, Araki Hirofumi dan kekasihnya, Miyazaka Yui. Miyazaka bergabung dalam pesta perjodohan untuk mencari korban yang dapat diperas. Dia bertemu dengan pria bersama Sasaki Yuya, dan berhasil memerasnya sebanyak 1,2 juta yen. Tapi tiba-tiba Kuroi meminta Daikan berhenti.
Kuroi mulai bergumam sendiri, “Apakah si Sasaki Yuya ini terlibat?”
“Ah, Kuroi-san, apa kau akan menangkap si Sasaki Yuya ini?” ujar Daikan terbata-bata, masih berusaha menyeimbangan badannya dan keburu pusing akibat putaran mainan itu.
“Untuk saat ini, aku akan mengurus hal lain lebih dulu!” ujar Kuroi yakin.
Di sebuah ruangan, tampak si manager pesta perjodohan sedang berbicara dengan para gadis. Rupanya mereka adalah para wanita yang dibayar untuk memeras uang para pria yang datang ke pesta perjodohan. “Bagiamana kalau kalian gunakan otak kalian sesekali? Selanjutnya, aku akan mengumpulkan beberapa pria kaya yang tinggal sendiri. Kalian akan benar-benar menikah dan mewarisi seluruh harta mereka.”
Sementara itu, di luar ada Kuroi bersama Daikan yang menguping. Ini yang dikatakan Kuroi akan diurusnya. Daikan ingat pesan sang peramal untuk menjauhi tempat yang penuh perempuan, karena ia akan kena masalah. Daikan tadinya enggan masuk. Tapi dasar Kuroi yang cuek saja, sudah mendobrak pintu. Daikan tidak punya pilihan lain selain ikut masuk dengan partnernya ini.
Daikan mengeluarkan pengenal polisinya, sementara Kuroi sudah mulai mengoceh.
“Apa kau berniat mengambil seluruh harga mereka? Kau sengaja mencari calon pasangan yang sudah akan meninggal?”
“Siapa kalian?” si manager kaget dengan kedatangan kedua tamu tak diundang ini.
“Fukumoto Koji-san, Anda harus ikut kami ke kantor polisi!” Daikan melanjutkan.
Tapi manager Fukumoto malah tersenyum mengejak, “Memangnya kalian punya bukti untuk membawaku kesana?” tantangnya.
Kuroi memamerkan senyum liciknya, “Kau punya kebiasaan buruk menjilat hidung wanita saat mencium mereka. Alasan pertunanganmu batal adalah karena calonmu tidak suka dengan kebiasaan burukmu itu. “
“Apa yang kau katakan? Itu normal kan? Semua laki-laki melakukan itu?” manager Fukumoto bertanya ke arah anak buahnya yang wanita semua, tapi dibalas mereka dengan kompak, dengan gelengan kepala.
Kuroi semakin senang, melihat sasarannya mulai terpancing dan frustasi, “Tapi yang melakukan itu biasanya adalah anjing. Sebenarnya lebih baik tetap jadi pegawai sipil.”
Kali ini Daikan yang maju, “Itu bukan masalah yang harus kau khawatirkan,” Daikan sudah tidak terlalu terpengaruh dengan ucapan Kuroi. “Kami akan mendengarkan kisah lengkapnya di kantor polisi!” pintanya lagi.
Manager Fukumoto malah menyerang Daikan. Daikan yang tidak siap menjadi bulan-bulanan mereka semua. Apalagi, manager pun menyuruh anak buahnya yang perempuan semua itu ikut memukuli Daikan. Malang benar nasib Daikan. Kemana Kuroi? Dia malah mengambil kursi dan mulai asyik menonton. Kuroi tidak membantu sama sekali.
Berkali-kali Daikan mencoba melarikan diri dari mereka semua, tapi tetap saja gagal. Tapi, saat manager berhasil meraih sebuah piala dan berniat akan memukul Daikan, Kuroi baru turun tangan. Kuroi mengeluarkan senjata andalannya dan mencengkeram tangan si manager. Daikan pun selamat dari amukan piala yang nyaris memecahkan kepalanya itu.
Manager masih belum berhenti. Ia yang terdesak berniat melarikan diri menuju pintu. Tapi, Kuroi dengan sigap menarik kaki sang manager. Ia pun kemudian jatuh ke lantai.
“Daikan-sama, tangkap dia!” perintah Kuroi kemudian.
Daikan menyeret tubuhnya dan akhirnya mengeluarkan borgol untuk menangkap sang manager, “Jam 11.39. Kau ditangkap!” Daikan kemudian beralih pada para karyawan wanita di ruangan itu. “Kalian juga ditangkap!” yang dijawab kompak oleh mereka dengan ‘eh’ bersamaan.
“Kerja bagus!” puji Kuroi.
Tapi Daikan masih belum puas, “Kuroi-san, saat aku dipukuli tadi, tidakkah kau hanya tersenyum dan menonton saja?”
“Benarkah?” Kuroi tampak tidak peduli dan tidak merasa bersalah sama sekali.
Di markas.
Meski berhasil menangkap si manager, sepertinya inspkt.Shirogane tidak senang, “Orang yang kita cari adalah tersangka pembunuhan. Masalah pemerasan pernikahan adalah urusan Divisi Kedua. Tadi ada orang dari Divisi Kedua yang datang dan berbuat kekacauan disini. Kau juga bagian dari lembaga, harusnya kau mengerti!”
Ekspresi wajah Kuroi tak berubah sama sekali, “Sebelum aku jadi bagian lembaga, aku lebih dulu adalah manusia!” elaknya. “Aku tidak bisa membiarkan orang yang kesusahan di depanku.”
“Karena ada organisasi/lembaga, masing-masing individu bisa menunjukkan kemampuannya!” debat inspkt.Shirogane.
“Kalau harus menunggu organisasi, itu akan terlalu lama!”
Dan perdebatan keduanya masih tidak berujung. Inspkt.Shirogane akhirnya mengancam jika Kuroi akan dikeluarkan dari tim investigasi jika tidak menuruti atasannya. Kuroi yang tidak punya sesuatu untuk dikatakan lagi memilih pergi.
Inspkt.Shirogane yang kesal dengan sikap Kuroi beranjak keluar. Disana ia bertemu dengan det.Tokou yang mengajaknya bicara.
“Ezawa … berpikir untuk ikut mati seperti Araki. Rasa sakit kehilangan orang yang disayangi, sulit disembuhkan. Dan kejahatan itu menimbulkan lebih banyak kesedihan. Dan mengurangi kesedihan itu adalah tugas kita,” curhat inspkt.Shirogane.
“Chef, kasus masih belum selesai. Ayo kita cari tersangka sebenarnya pembunuhan Araki dan Miyazaka. Dengan semua kemampuan dari semua anggota tim investigasi satu!” pinta det.Tokou yang kemudian diiyakan oleh inspkt.Shirogane.
Daikan pulang ke rumah seperti biasa. Tapi, kali ini dia dikagetkan oleh kehadiran Kuroi yang sudah bergabung di meja makan mereka.
“Sebagai atasanmu, aku datang untuk menyampaikan salam. Tapi aku dipaksa ikut makan malam,” aku Kuroi menjawab tanda tanya di wajah Daikan.
Nyonya Daikan kemudian menyuruh anaknya, Daikan untuk segera cuci tangan. Mereka pun makan malam bersama.
“Bagaimana, apa rasanya enak?” tanya nyonya Daikan pada Kuroi.
Kuroi selesai menyuap satu makanan ke mulutnya, “Ini membuatku cemburu!” ujarnya serius. “Aku merasa marah!”
“Ibu, apa kau memasukkan hal aneh?” tanya Daikan.
“Daikan mendapat makanan enak seperti ini setiap hari,” ujar Kuroi selanjutnya, membuat semua orang lega. Tapi rupanya itu adalah caranya untuk bisa mendapatkan semua. Karena setelahnya, makanan yang lain disodorkan ke arah Kuroi. Dan Kuroi mulai memakannya dengan senang.
Sementara itu di seberang meja, Daikan hanya bisa memandang lesu. Ia tidak bisa protes pada ibu dan adiknya, saat di depannya hanya tersisa nasi tanpa lauk dan sayur apapun. Sementara Kuroi—seperti biasa—tersenyum licik sambil melihat prihatin ke arah Daikan. Poor Daikan
Selesai makan, Kuroi pun pamit pulang. Sementara itu, Daikan mengelus-elus perutnya yang masih belum kenyang. Ia pun meminta adiknya untuk membuatkannya mi ramen lagi.
“Shuusuke, apa pekerjaan ayah Kuroi?” nyonya Daikan tiba-tiba bertanya pada putranya.
“Kenapa?” Daikan heran.
Tapi buru-buru nyonya Daikan membatalkan rasa penasarannya, “Tidak ada apa-apa.”
Daikan pun duduk kembali di meja sambil menunggu mi ramen yang sedang dibuat adiknya,”Ayah Kuroi polisi juga. Kalau tidak salah namanya Kuroi Atsuro.”
Nyonya Daikan tampak tidak terlalu kaget dengan nama itu, “Jauh-jauh, ternyata dia orang dekat,” gumamnya.
Ada misteri apa yang sebenarnya disembunyikan oleh nyonya Daikan ini, terkait ayah Kuroi?
BERSAMBUNG
Sampai jumpa di Sinopsis DoS Deka episode 03 part 1.
Picture and written by Kelana
Posting at www.elangkelana.net
Oh ya, hampir lupa. Kelana juga mengucapkan selamat bertemu bulan Ramadhan, dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Kelana juga mohon maafkan segala salah dan khilaf yang sengaja ataupun tidak. Yuk pupuk semangat di Ramadhan ini hingga akhir. Buat yang sering mampir ke blog ini, silahkan saja. Tapi jangan sampai lupa dengan kewajiban wajib ataupun sunah di Ramadhan ya. Atau, mampir ke blog ini sambil nunggu buka puasa, juga boleh. Kan hemat energy dan tetap bermanfaat, hehehe.















TERNYATA!!! daikan-kuroi dijodohkan sejak kecil :D *tebak2anngawur :p
BalasHapusimajinasi yang amajing
BalasHapuskereeeeeen!!!