Sinopsis Perfect Insider episode 04 part 1. Yang ketinggalan cek di Perfect Insider bagian sebelumnya ya, episode 03 part 1 dan part 2.
Peristiwa misterius terjadi di dalam ruang terkunci 50 tahun lalu. Di TKP, tidak ditemukan senjata pembunuhan. Tetapi, justru ditemukan vas dan sebuah kotak. Vas 'Labu Langit dan Bumi' dan 'Kotak Keegoisan.'
Polisi mengambil foto X-ray vas dan kotak, dan memang benar ditemukan kunci di dalamnya. Tetapi, mulut vas terlalu sempit untuk mengeluarkan kunci.
Saat ini, insiden lain terjadi di gudang malam itu. Tetapi, hanya ada genangan darah tanpa adanya jasad korban. Kesamaan insiden kali ini dengan insiden 50 tahun yang lalu adalah, ditemukannya vas dan kotak di TKP.
Jasad tuan Kayama Rinsui, kepala keluarga Kayama ditemukan di sungai. Sementara itu, putrinya, Kayama Marimo ditemukan pingsan tidak jauh dari sana. Ada banyak kemiripan insiden ini dengan insiden 50 tahun lalu. Tapi, ruangan yang terkunci dan tujuan kejahatan ini tidak ada hubungannya. Dimanapun Kepala Keluarga Kayama ditikam 'Labu Langit dan Bumi' dan 'Kotak Keegoisan' ada di TKP. Marimo kemudian dilaporkan menghilang dari rumah sakit. Rahasia apa yang mungkin tersimpan dalam vas dan kotak?
Menghilangnya Marimo dari rumah sakit menimbulkan berbagai spekulasi. Polisi melaporan jika mereka menemukan puntung rokok bekas milik Marimo di area belakan rumah. Selain itu, mobil yang digunakan oleh Marimo ditemukan di Jembatan Otawa-bashi, berlawanan dengan arah menuju kediaman keluarga Kayama. Tempat itu sekitar 500m jauhnya dari rumah, dan juga dekat dengan ditemukannya jasad Kayama Rinsui di sungai.
“Apa yang kau coba katakan? Maksudmu, Marimo yang membunuh ayahku?” Takashi-san kaget dengan fakta-fakta dan spekulasi yang disampaikan.
“Oh, itu hanya dugaanku saja,” elak Moe kemudian.
Moe melanjutkan penjelasannya, “Sebelum jam 6:00 sore kemarin, Marimo-san sampai di rumah Kayama. Tapi dia bertengkar dengan Rinsui-san, karena tidak pernah pulang dan berakhir dengan menusuknya. Kemudian Marimo-san mengeluarkan tubuh ayahnya dari gudang. Ini juga cocok dengan kesaksian Yusuke-kun, bahwa tidak ada orang di gudang jam 6:00 sore. Setelah itu, Marimo-san berusaha membuang mayat ke sungai dari Jembatan Otowa-bashi. Tapi Rinsui-san sadar dan setelah mereka bertengkar, Rinsui-san jatuh ke sungai. Marimo-san juga terluka dan tidak sadarkan diri.”
“Dalam kasus ini, bagaimana kau akan menjelaskan alasan kenapa gudang terkunci dari dalam antara jam 7:00 dan 8:00 malam?” Saikawa-sensei akhirnya angkat bicara.
Takashi-san yang kali ini menjawab, “Benar! Jika antara jam 7:00 dan 8:00 malam pasti ayahku yang menguncinya ketika kerja di gudang.”
Tapi Moe membalik logikanya, “Pintu itu terkunci, tapi tidak ada yang secara langsung melihat Rinsui-san, kan? Mungkin ada kaki tangan.”
“Kenapa kami mau membunuh ayahku?” Takashi-san masih tidak percaya dengan ucapan Moe.
“Sebagai contoh, Takashi-san. Kau punya motif. Apa Kau akan menjual bangunan ini? Agen real estate sudah memastikannya,” tembak Moe.
“Itu..” Takashi-san tampak ragu. “Apa pilihan yang aku punya? Tidak ada jaminan hidup sebagai pelukis Buddha di zaman sekarang ini! Rumah ini dikutuk! Sebaiknya rumah ini dijual saja!” Takashi-san tampak kesal. Ia pun pergi dengan marah.
Saikawa-sensei masih tampak berpikir keras. Sementara itu, Istri tuan Kayama Rinsui justru diam saja, tidak berkomentar apapun, seolah tidak punya kepentingan dengan semua yang terjadi di rumah itu.
Kemana Kayama Marimo pergi?
Marimo yang telah sadar saat di rumah sakit, pergi dari sana. Ia pun menuju hutan. Apakah Marimo akan kembali ke rumah keluarga Kayama?
Saikawa-sensei dan Moe berjalan keluar. Mereka melihat Yusuke sedang asyik bermain sendiri di halaman. Moe pun menghampiri bocah kecil itu. Yusuke mengatakan soal mainannya, yang bernama Genma Daishogun. Tapi bocah itu memanggil Moe dengan ‘nyonya’. Kontan Moe kaget, tapi ia buru-buru mengajarkannya agar memanggil dengan ‘nona’.
Saikawa-sensei hanya nyengir geli melihat tingkah Moe, “Orang dewasa harusnya sensitif, bukannya seperti anak kecil, kau tahu?”
“Aku hanya mengajarinya pengertian dan sikap yang baik,” kilah Moe. Moe pun kembali beralih pada Yusuke. “Apa kekuatan Genma Daishogun?”
“Tidak, dia tidak lagi ada di sana,” jawab bocah itu, polos. Jawaban yang membuat Saikawa-sensei termenung, memikirkan sesuatu.
Moe memeriksa bagian belakang mainan itu, “Baterai dimasukkan di belakang.” Ujarnya kemudian. Moe membalik posisi baterainya. “Lihatlah!” mainan itu pun bisa bergerak kembali.
Ibu Yusuke pun muncul. Ia merasa tidak enak karena Yusuke bermain dengan berantakan di depan para tamu itu. “Ketika aku menikah dan masuk ke keluarga ini, sebenarnya aku ingin lari dari rumah ini secepat yang aku bisa. Aku selalu membersihkan balkon ini setiap hari, kau tahu? Rasanya seperti bagian dari diriku tenggelam di sini,” curhatnya tanpa sadar.
Dari arah lain, seekor anjing datang dan menggonggong. Anjing itu dipanggil Kelly dan kemudian digendong oleh si ibu.
“Maaf, tapi dia menggonggong pada semua orang. Oh ya, coba pikir, dia menggonggong di depan gudang ketika Yusuke keluar,” cerita ibu Yusuke itu kemudian.
“Itu artinya, kemungkinan ada orang di dalam gudang antara jam 6 sore?” Moe mendadak penasaran.
“Tapi Yusuke bilang tidak ada orang di sana,” elak ibu Yusuke.
Asisten Saikawa-sensei, prof.Kuneida tengah di lab mempersiapkan bahan-bahan kuliah saat mahasiswanya, Hamanaka datang. Hamanaka bertanya, kemana Saikawa-sensei yang dijawab dengan enteng oleh prof.Kuneida, bahwa Saikawa-sensei melanjutkan penelitian di rumah tradisional orang Jepang bersama Moe.
Hamanaka tampak kaget (atau sok kaget), “Rupanya mereka menghabiskan malam bersama. Saikawa-sensei dan Moe menghabiskan malam, hanya mereka berdua? Sebagai pemimpin seminar, Aku tidak bisa membiarkan ini! Ini masalah serius, kau tahu?” ujar Hamanaka sok drama.
Tapi seperti biasa, prof.Kuneida menendang pantatnya. Si Hamanaka ini pun langsung sadar diri. Perhatian prof.Kuneida teralihkan saat telepon berdering. Rupanya dari Saikawa-sensei.
Hamanaka pun penasaran melihat dosennya itu mengangguk mengiyakan, “Apa itu Saikawa-sensei? Dia bilang apa?”
“Dia minta aku sedikit meneliti Genma Daishogun,” ujar prof.Kuneida, membuat Hamanaka heran.
Saikawa-sensei masih mengumpulkan setiap keping informasi yang di dapatnya. Ia mendatangi lagi TKP gudang tempat darah tuan Kayama Rinsui ditemukan. Disana ada pelayan yang tengah membersihkannya.
“Detektif bilang tidak apa-apa membersihkannya,” ujar si pelayan pada Saikawa-sensei.
Saikawa-sensei mengangguk mengeri. Ia pun meneruskan, “Apa vas dan kotaknya masih ditangan polisi?”
“Tidak, sudah mereka kembalikan, sekarang ada di kamar Madam.”
Saat si pelayan selesai bersih-bersih, Moe datang dan bergabung dengan Saikawa-sensei.
“Gudang ini mengalami pelapukan,” Saikawa-sensei mulai analisisnya. “Ini teknik pelapisan agar bangunan tampak tua. Dinding luar dan dalam gudang ini baru-baru ini diberi material sintetis. Lihat celah di pintu ini. Ini dirancang agar silikon menjadikan ruang tertutup dan mengatur ventilasi AC,” Saikawa-sensei menunjuk ke celah di atas pintu.
“Aku tahu. Oh! Untuk melindungi cat dari lembab, kan?” Moe langsung mengerti.
“Ya. Tuan Rinsui membutuhkan waktu merenovasi gudang ini menjadi tempat kerjanya.”
“Menurutmu sesempurna itu?” Moe tidak yakin.
“Siapa yang tahu? Tapi kalau kau memaksa, mungkin karena dia seorang seniman,” jawab Saikawa-sensei sekenanya.
“Aku ingin tahu apakah dia ingin dekat dengan mendiang ayahnya, Tuan Fusai, walau hanya sedikit....” gumem Moe setelah memandang foto tuan Kayama Fusai, yang meninggal 50 tahun silam.
Tapi obrolan keduanya terhenti saat terdengar suara teriakan dari arah belakang rumah.
Istri Kayama Takashi tengah ke halaman belakang untuk membuang sampah. Ia merasa heran karena sumur yang biasanya ditutupi semak, ternyata terbuka. Saat melihat ke dalam, ia melihat suamianya, Kayama Takashi ada di sana tak sadarkan diri.
“Takashi-san!”
Polisi dan ambulan pun segera dihubungi. Tim penyelamat berhasil mengangkat Takashi-san ke atas. Dilaporkan jika ada memar di kepala dan lengan kanannya. Ada gangguan kesadaran, tapi tekanan darah dan pernapasan semuanya stabil.
Nama Takashi berkali-kali dipanggil untuk mengembalikan kesadarannya. Takashi-san sedikit tersadar, dan justru menggumamkan nama Marimo, adiknya. Merasa ada yang tidak beres, Moe pun meminta para polisi untuk berpencar dan mencari keberadaan Marimo, yang sempat dilaporkan kabur dari rumah sakit sebelumnya.
Setelah berkeliling, mereka tidak menemukan keberadaan Marimo. Tapi Saikawa-sensei dan Moe justru bertemu Yusuke di depan gudang.
“Marimo-san tidak ada lagi di sana. Dia sudah tidak ada lagi di sana,” ujar Yusuke polos.
Meski awalnya bingung, Saikawa-sensei akhirnya mengerti. Ia segera berlari ke dalam gudang. Disana, ternyata ia menemukan Marimo-san sudah tidak sadarkan diri dengan pergelangan tangan teriris dan darah di bawahnya. Polisi yang mendengar keributan segera bergabung. Mereka memanggil ambulan untuk membawa Marimo kembali ke rumah sakit.
Marimo berhasil diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit kembali. Kali ini, ia sendiri yang minta untuk bertemu dan bicara pada Saikawa-sensei serta Moe.
“Marimo-san, kau baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Moe.
Marimo menatap dengan sedih, “Itu... Aku. Aku yang membunuh ayahku. Akulah yang membunuhnya. Tadi malam... “
Cerita pun mengalir dari bibir Marimo.
Marimo tiba di rumah sekitar pukul 6 sore. Tapi, ia ragu-ragu untuk masuk karena sudah lama tidak pulang. Saat itu, ia melihat ayahnya, Kayama Rinsui, keluar dari gudang, lalu menutup pintu. Tapi Rinsui-san yang sudah berlumuran darah kemudian ambruk. Dengan nafas tersengal, Rinsui-san berpesan pada putrinya agar ‘jangan membukanya’. Tadinya Marimo mau memberitahukan semua orang, tapi Rinsui-san melarangnya. Jadi akhirnya Marimo membawa Rinsui-san masuk ke dalam mobil, dan berbalik menuju rumah sakit. Tiba di jembatan, Rinsui-san sadar dan minta berhenti. Setelah mobil berhenti, Rinsui-san keluar dari mobil dan langsung menuju jembatan.
Rinsui-san hendak melompat, “Aku hanya butuh... satu potongan terakhir.”
Marimo yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mencoba menghentikan ayahnya. Tapi, ia kalah tenaga dan kepalanya justru terhempas ke besi jembatan. Rinsui-san akhirnya melompat ke sungai di bawah jembatan. Syok dengan apa yang dilihatnya, Marimo lantas pingsan.
“Ketika terbangun, aku sudah ada di rumah sakit ini,” Marimo mengakhiri ceritanya.
“Kenapa kau menghilang?” tanya Moe lagi.
“Awalnya, aku pikir akulah yang membunuh ayahku. Jadi, aku takut dan kabur. Lalu, kesadaranku sedikit demi sedikit pulih. Ayahku sebenarnya dibunuh oleh tradisi keluarga kakekku. Itulah yang aku pikirkan. Jadi, aku putuskan menghancurkan vas dan kotak, lalu membuangnya di suatu tempat. Tepat saat itu kakakku memergokiku...”
Marimo berniat membawa pergi dan ingin membuang vas serta kotak itu. Tapi, kakaknya, Takashi-san memergokinya. Mereka pun berebut. Takashi-san kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh ke dalam sumur.
Marimo yang ketakutan karena merasa telah membunuh dua keluarganya, batal pergi. Ia justru kembali ke dalam gudang. Ia meletakkan kedua benda itu disana, lalu menyayat tangannya sendiri dengan pisau.
“Tapi aku juga terikat dengan dengan semua tradisi itu. Tidak ada jalan keluar dari tradisi keluarga Kayama, “ aku Marimo, putus asa.
“Kakakmu baik-baik saja. Dia sudah sadar. Jangan khawatir,” Moe menambahkan, membuat Marimo akhirnya lega.
“Moe, ayo kita lihat langsung, 'Labu Langit dan Bumi' dan 'Kotak Keegoisan' itu,” ajak Saikawa-sensei kemudian.
Saikawa-sensei dan Moe kembali ke rumah keluarga Kayama. Mereka menuju tempat disimpannya kedua benda keramat itu. Moe mengambil vas itu dan melihat ke dalam. Benar, ada kunci disana. Tapi, seperti disebutkan dalam laporan, mulut vas terlalu kecil untuk mengeluarkan kunci itu.
“Sepertinya Marimo-san tidak bohong,” komentar Saikawa-sensei kemudian. “Tidak ada ketidakcocokan dari kesaksiannya. Ketika Marimo-san tiba, Tuan Rinsui sudah ditusuk.”
“Kenapa kau pikir Tuan Rinsui sudah ditusuk, Apa alasannya?” Moe masih belum yakin.
“Aku sudah katakan sebelumnya. Pelaku dan tujuan kejahatan ini tidak ada hubungannya. Teorinya, Kapanpun kepala keluarga Kayama ditusuk, 'Labu Langit dan Bumi' dan 'Kotak Keegoisan' Selalu ada di TKP.”
“Kalau teori ini bisa dibuktikan. Semuanya menjadi jelas,” gumam Saikawa-sensei. Ia pun lalu duduk di lantai, dan masuk ke alam pikirannya.
Siapa yang ada di dalam gudang?Dingin. Tidak ada lagi di sana. Penghangat udara. Pelukis Buddha. Langit dan Bumi. Keegoisan. Senjata yang hilang. Sulit bagi api, tapi mudah bagi air. Kau tidak boleh membukanya. Satu potongan terakhir. Apa perlu sesempurna itu? Kau tidak punya pilihan selain menerimanya. Teori ini sudah di buktikan. Teori ini sudah di buktikan.
“Saikawa-sensei! Sensei! Kau tidak apa-apa?” Moe mengguncang-guncang tubuh Saikawa-sensei yang tampak bergetar dan berkeringat hebat.
Saikawa-sensei membuka mata, “Ya...Ayo kita akhiri semuanya!” ujarnya yakin.
BERSAMBUNG
Sampai jumpa di Sinopsis Perfect Insider episode 04 part 2.
Picture and written by Kelana
Posting at www.elangkelana.net

















[…] part 1. Buat yang ketinggalan episode sebelumnya, bisa cek langsung di Perfect Insider episode 04 part 1 dan part 2 […]
BalasHapus