Sinopsis DoS Deka episode 06 part 2. Ketinggalan? jangan khawatir. Kalian bisa cek juga bagian sebelumnya di Dos Deka episode 06 part 1. Selamat membaca ^_^
Korban pada kasus kali ini adalah seorang siswi sekolah prestisius yang ditemukan meninggal di semak dekat sungai. Dan penyelidikan berkembang hingga pada kasus pelecehan/gangguan/molester.
Seperti biasa, Kuroi memaksa Daikan memutar mainan di taman. Dan bersama berputarnya mainan itu, pikiran Kuroi pun satu per satu saling tertaut.
Jasad yang ditemukan di semak dekat sungai adalah Kawato Megumi, 17 tahun. Penyebab meninggal adalah luka serius di kepala yang dipercaya akibat jatuh dari tanggul. Tidak ada barang pribadinya yang hilang kecuali ponsel. Kawato Megumi diketahui mendapat uang dari para pria yang pernah melecehkannya. Ayah salah satu teman sekelasnya, Minakami Kana adalah molester juga. Wanita yang mengaku diganggu oleh ayah Minakami Kana bernama Ando Rie. Tiap kali menerima uang dari para molesternya, Kawato Megumi selalu bersama seseorang.
Dan kali ini, Kuroi pun mendapatkan ide, “Strategi angin utara dan matahari. Daikan-sama, kau ahli masalah ini kan?” ujarnya sambil tersenyum misterius menatap partnernya.
Kuroi dan Daikan kembali ke markas. Kuroi menyerahkan kantong kertas pada Daikan. Saat tahu apa isinya, Daikan langsung mencak-mencak dan menolaknya.
Tapi det.Hamada tiba-tiba muncul dan merebut kantong kertas itu, “Kalau Daikan tidak mau, aku yang akan melakukannya.”
Kuroi berpikir sebentar. Ia memandangi det.Hamada kemudian mengiyakannya.
Apa yang dilakukan? Ternyata Kuroi meminta det.Hamada berdandan ala wanita. Dan mereka ini akan melakukan rekontruksi ulang pada saat ayah Minakami Kana, Minamaki Toru-san naik kereta dan dituduh melakukan pelecehan pada seorang wanita bernama Ando Rie.
Kuroi mengatur posisi mereka sedemikian rupa. Ia pun membuat denah gambar di papan yang menunjukkan jarak dan keadaan jalan. Kuroi menyuruh keduanya berperan seolah benar-benar berada di kereta yang penuh sesak, “Perjalanan 1,3 km dari stasiun Harumine ke stasiun Mikaze-dai. 100 m dari keberangkatan, ada belokan tajam. Ayo lakukan!”
Daikan dan det.Hamada pun berperan seolah mereka ada dalam kereta yang berbelok. Tidak sengaja Daikan meringsek ke arah det.Hamada hingga menginjak sepatunya. Dan Kuroi pun meminta Daikan untuk memegang bagian belakang tubuh det.Hamada. det.Hamada juga sepertinya sangat menjiwai perannya, hingga teriakannya mirip wanita.
“Hei Daikan, berapa lama kau akan memegang itu?” tanya det.Hamada akhirnya.
Daikan sadar, tapi ternyata tangannya tidak bisa lepas.
“Ah. Ternyata di sakuku ada ini!” ujar Kuroi. Ia menunjukkan lem super kuat S yang membuat tangan Daikan menempel pada tubuh bagian belakang det.Hamada. (dasar jail!!!)
Rekontruksi dianggap selesai oleh Kuroi tepat saat inspkt.Shirogane kembali. Saat ditanya, Kuroi hanya mengatakan jika ia akan membereskan kekacauan itu nanti. Tapi Daikan dan det.Hamada yang masih berjuang saling memisahkan diri membuat keributan. Keduanya bersembunyi di belakang gorden.
“Mungkin tikus,” komentar Kuroi.
“Tikus?!” inspkt.Shirogane langsung merinding ketakutan dan naik ke atas kursi.
Tentu Kuroi makin senang karena punya mainan baru, “Chef, kau takut tikus?”
“Orang-orang juga membencinya!” elak inspkt.Shirogane cepat.
“Tapi kau memakai warna tikus,” ujar Kuroi lagi. “Ah lihat disini! Ada dua tikus besar!” Kuroi makin senang mempermainkan atasannya itu.
Saat itu Daikan dan det.Hamada berjuang keluar dari ruangan mereka. Keduanya masih berjalan dengan saling menempel.
“Sepertinya mereka sudah pergi,” komentar Kuroi kemudian.
Daikan pulang bersama Kuroi. Ia masih kesal karena insiden tadi, “Rekontruksi ulang membuktikan Minakami Toru 100% tidak mungkin melakukan pelecehan. Kuroi-san, kau sudah bisa menebaknya kan tanpa harus melakukan percobaan?” protes Daikan.
“Hm?”
Melihat wajah Kuroi, Daikan kembali mengkeret, “Ah itu. Itu bukan masalah besar untukku. Tapi bagi Hamada-san … Eh, kau mau kemana?” Daikan kembali ditinggal oleh Kuroi.
Kemana Kuroi dan Daikan? Ternyata mereka menuju sebuah bar. Disana keduanya melihat si wanita berambut kriting yang melaporkan molester. Nama wanita itu adalah Ando Rie. Tampak Ando-san ini tengah asyik minum dan bermesraan dengan seorang pria.
Kuroi melihat sekeliling. Ia menemukan sesuatu yang menarik. Sebuah CCTV yang terpasang di sebelah atas bar. Kuroi mendapatkan ide.
Pagi berikutnya markas dibuat heboh oleh det.Arisuga dan det.Nakane. Mereka berhasil menemukan manager tempat klub kencan yang sering didatangi korban Kawato Megumi.
Det.Arisuga menunjukkan sebuah foto, “Si manager meninggalkan kota dan kembali ke kampungnya untuk bertani. Saat malam kejadian, dia ada di ladang melindungi tanamannya dari cuaca buruk!” cerita det.Arisuga dengan bersemangat. Dia pun membawakan sejumlah hasil panen dan menunjukkannya pada inspkt.Shirogane.
“Det.Arisuga, ini apa-apaan?” inspkt.Shirogane mengacu pada foto yang ternyata berisi det.Arisuga, det.Nakane dan si manager yang memamerkan hasil tani mereka. “Kenapa kau malah melindungi hasil panen dan bukan memburu tersangka?!” ujarnya kesal.
Kekesalan inspkt.Shirogane masih berlanjut karena ia tidak melihat Kuroi maupun Daikan. Dan karena det.Hamada yang tahu dimana mereka, kali ini ia yang jadi sasarannya.
“Mereka ada di pengadilan. Katanya hari ini adalah sidang ayahnya Minakami Kana. Minakami Kana ini adalah teman sekelas Kawato Megumi,” ujar det. Hamada ketakutan.
Di pengadilan, sidang yang dimaksud sudah dimulai. Penggugat, Ando Rie mengatakan soal pelecehan yang ia alami saat si pria tertuduh memegang bagian tubuhnya di dalam kereta. Penggugat Ando-san mengaku jika penumpang lain yang ada saat itu di kereta juga menyaksikannya. Sementara itu, MInakami Kana hanya bisa memandangi ayahnya dengan sedih dari sisi ruang sidang.
Inspkt.Shirogane dan det.Arisuga menyusul Daikan-Kuroi ke pengadilan. Tapi saat baru saja mereka akan menginterogasi Daikan, Hakim meminta mereka untuk tenang. Inspkt.Shirogane dan det.Arisuga pun akhirnya menurut dan duduk di bangku.
Sidang dilanjutkan. Tim pembela tergugat mengatakan kalau mereka punya seorang pengacara khusus setelah melakukan interogasi dengan saksi. Dan saat itu Kuroi keluar memperkenalkan diri sebagai pengacara khusus.
“Dengan izin Hakim, meski mereka yang tidak punya latar belakang hukum juga bisa berdiri di pengadilan,” inspkt.Shirogane menjawab rasa penasaran atas kemunculan Kuroi yang tidak terduga ini. kali ini inspkt.Shirogane berbisik pada Daikan, “Apa yang sebenarnya kalian lakukan kali ini?”
Daikan mengkeret, “Ah itu … aku hanya tahu samar-samar.”
Sidang dilanjutkan.
Kali ini Kuroi yang mulai bicara pada penggugat, “Menurut pernyataan, sejak insiden pelecehan itu kau tidak lagi percaya pada pria. Kau bahkan mengunjungi dept.terapi medis.”
“Benar, itu karena aku sangat takut. Bahkan saat aku naik kereta … atau saat ada laki-laki, aku sudah ketakutan,” aku penggugat Ando Rie ini.
“Bohong!” sambar Kuroi cepat. Ia pun menunjukkan foto Ando Rie tengah asyik berpelukan dengan laki-laki dan minum bersama di sebuah bar. “Tapi ternyata kau minum dengan santainya bersama laki-laki tiap malam.”
“Keberatan!” pengacara penggugat pun angkat bicara. “Ini tidak ada hubungannya dengan kasus. Penggugat mengalami sendiri pelecehan—molester dan disaksikan banyak saksi mata.”
Saat itu Kuroi tidak melanjutkan ucapannya. Bahkan saat hakim menegurnya, Kuroi tetap diam. Hakim akhirnya memutuskan interogasi oleh Kuroi cukup sampai disana. Tampak sekilas penggugat Ando Rie tersenyum samar tanda kemenangan saat Hakim memintanya kembali duduk.
Tapi inspkt.Shirogane yang duduk menyimak tampak tidak terima, “Apa kau akan membiarkannya berakhir seperti ini, Kuroi?” geramnya membuat det.Arisuga dan Daikan menengok bersama.
“Stop!” suara keras Kuroi membuat semua kegiatan di ruang sidang terhenti. Ia pun meminta Daikan memutar sebuah video dan mengatakan jika video itu adalah video beberapa hari yang lalu.
Tampak dalam video adalah penggugat, Ando Rie. “Wajah kaget pria tua itu benar-benar luar biasa. Dia tertangkap oleh kejahatan yang tidak dilakukannya.” Kontan video ini membuat seluruh orang di ruang sidang kaget. Bahkan wajah penggugat, Ando Rie pun merah padam.
Kuroi melanjutkan kalimatnya, “Kau pernah melaporkan molester sebelumnya juga pada polisi kan? Meski awalnya tidak mengaku, tapi pria-pria itu akhirnya mengakuinya. Kau tidak bisa melupakan perasaan itu kan? Perasaan puas saat para pria itu mengakui kejahatan yang bahkan tidak mereka lakukan!”
Kemarahan Ando Rie akhirnya meledak. Ia tertawa sumbang, “Benar, aku memang tidak dilecehkan oleh pria itu atau oleh pria yang dituduh sebelumnya. Kalian semua pria adalah terburuk! Meski aku bisa melakukan segala hal, para pria di sekitarnya tidak mengakui hasil kerjaku. Dan alasannya karena aku wanita! Wanita yang punya kemampuan pun, tidak akan diakui oleh pria!”
Kuroi tertawa mendengar penuturan si penggugat itu, “Kau … sama sekali bukan wanita yang punya kemampuan.” Ia mulai mengintimidasi. “Kau ingat pekerjaan partime-mu di restoran saat kau masih sekolah? Baru tiga hari kau bekerja, dan kau sudah memecahkan 100 piring!”
“Itu salah mereka memakai barang murah yang mudah pecah!” elak Ando Rie cepat.
Tapi Kuroi masih lanjut, “Dan setelah itu, kau mulai bekerja di dapur sebuah café. Saat itu kau hanya diminta mengupas apel, tapi kau menghabiskan 30 menit untuk menerima perintah!”
“Itu salah kafe-nya, mereka punya pisau tumpul!” Ando Rie masih belum mau kalah.
“Bahkan setelah kau dapat pekerjaan,” lanjut Kuroi. “Kau menghapus bahan presentasi yang penting dan tidak sengaja membocorkan dokumen rahasia pada saingan bisnis dan masih banyak lainnya. Kau terus saja melakukan berbagai kesalahan. Tidakkah kau tahu? Alasan kau tidak dianggap bukan karena kau wanita. Itu karena kau memang orang yang payah. Apa kau bodoh?!” kalimat sakti Kuroi akhirnya keluar juga.
“Diam!” Ando Rie benar-benar marah. Ucapan hakim tidak didengarnya lagi. Ia membanting berkas-berkas di meja. Sejumlah polisi yang berusaha menenangkannya pun kewalahan. Ia kemudian mengambil penahan mic dan bersiap memukul. Kali ini sasarannya adalah Daikan.
Tapi sigap Kuroi bertindak. Ia mengerluarkan senjata andalannya, cemeti dan berhasil menjatuhkan Ando Rie, “Daikan-sama, tangkap dia!” perintahnya kemudian.
Daikan melingkarkan borgol ke tangan Ando Rie, “Pukul 2.16, tertangkap karena penganiayaan!”
Sementara yang lain sibuk mengurusi Ando Rie, Kuroi beralih pada hakim, “Hakim, silahkan keputusan anda!”
Hakim yang tadi kaget akhirnya bisa kembali menguasai diri, “Tergugat Minakami Toru, dinyatakan tidak bersalah!”
Det.Arisuga yang tadi ikut heboh menenangkan Ando Rie pun kembali ke bangkunya. Ia sumringah menemui atasannya inspkt.Shirogane, “Chef, seperti perkiraan, Kuroi tidak diam saja. Dengan ini, harga diri dept.investigasi criminal tetap aman.”
“Jadi, ini sidang siapa sebenarnya?”
Daikan dan Kuroi keluar dari ruang sidang. Daikan memuji Kuroi yang hebat karena berhasil menyelamatkan seorang yang tidak bersalah. Dan di hadapan mereka ternyata sudah ada ayah dan anak, Minakami.
“Terimakasih selalu mempercayaiku,” ujar Minakami Toru-san pada putrinya, Kana.
“Tentu saja. Karena ini semua salahku,” sesal Kana kemudian.
Det.Arisuga dan inspkt.Shirogane pun bergabung keluar dari ruang sidang. Disana ia menyaksikan sesuatu yang tidak terduga.
Minakami Kana mendekati Kuroi dan Daikan, “Detective-san, ini ponsel Megumi. Akulah yang telah membunuh Kawato Megumi,” aku Kana akhirnya.
Dalam interogasi, Kana mengaku jika selama ini dialah yang selalu bersama Megumi saat gadis itu meminta uang dari para molesternya. Kana tidak bisa menolak karena Megumi tahu kelamahannya. Tapi ternyata ayahnya sendiri justru tertangkap oleh kasus molester. Kana percaya papanya tidak melakukan kejahatan itu dan semua yang terjadi adalah karena salahnya. Kana berniat mengaku pada polisi soal semua yang dilakukannya dengan Megumi, tapi Megumi tidak mau. Keduanya bertengkar di tanggul dekat sungai. Saat itu, Megumi tidak sengaja tergelincir dan terjatuh ke bawah.
Tapi senyum sarkas Kuroi yang justru muncul, “Kalau kau mau melarikan diri, kau bisa saja melakukannya. Mengancam orang seperti yang kau lakukan dengan Megumi berbeda dengan membiarkan seseorang meninggal.”
“Tapi yang percaya pada papa Cuma aku!” protes Kana.
“Kau menunggu papamu? Tentu saja! Hari itu keluarga Megumi juga menunggu putri mereka yang tidak akan pernah kembali. Tanpa tahu jika putri mereka ditinggalkan begitu saja di dekat sungai. Pada akhirnya kau Cuma memikirkan dirimu sendiri dan keluargamu. Itu kejahatan tak termaafkan! Dan kau harus menanggung rasa bersalah ini seumur hidupmu! Apa kau bodoh?!” bentak Kuroi.
Kana hanya bisa menangis dimarahi seperti itu oleh Kuroi. Kuroi pun beranjak pergi.
Tapi, di pintu keluar Kuroi berhenti, “Paling tidak, kau masih punya seseorang yang menunggumu.”
Seperti biasanya, inspkt.Shirogane menghabiskan sore untuk minum dan duduk bersama det.Tokou.
“Itu tidak mungkin kan? Setelah ayahnya dinyatakan tidak bersalah, Minakami Kana akan menyerahkan diri. Jadi itu yang dilihat Kuroi. Aku berlebihan ya?” curhat inspkt.Shirogane.
“Chef, Kuroi-lah yang beruntung. Bos-nya mampu melihat semuanya. Dia memiliki bos yang luar biasa!” puji det.Tokou.
Seperti biasa, Kuroi makan malam bersama keluarga Daikan. Kali ini ia menanyai adik Daikan, Kaori soal molester.
“Kuroi-san, kenapa kau bertanya seperti itu? Kau pasti pernah mengalaminya juga kan?” tapi melihat ekspresi wajah Kuroi, Kaori kaget, “Kau belum pernah mengalaminya?!”
Ekspresi Kuroi berubah, “Memang kenapa kalau belum pernah, apa salah? Tapi, aku juga ingin bertemu mereka sesekali. Saat itu terjadi … “
“Tidak ada yang mau bertemu mereka para molester,” ujar Daikan.
Kuroi manyun oleh komentar Daikan ini.
BERSAMBUNG
Sampai jumpa di DoS Deka episode 07 part 1.
Picture and written by Kelana
Posting at www.elangkelana.net