Sinopsis Perfect Insider episode 04 part 2. Yang ketinggalan cek di Perfect Insider bagian sebelumnya ya, Perfect Insider episode 04 part 1. Misteri kematian kepala keluarga Kayama semakin rumit. Tapi, Saikawa-sensei menemukan titik terangnya.
Kasus kematian kepala keluarga Kayama yang pernah terjadi 50 tahun silam terulang lagi. Tapi kali ini, jasad tuan Kayama Rinsui tidak ditemukan di gudang. Hanya ada genangan darah disana. Dan hal yang sama dengan kasus 50 tahun silam adalah … vas dan kotak. Tidak ada senjata ditemukan di manapun.
Malam itu, Moe, Saikawa-sensei dan polisi mengumpulkan keluarga Kayama tidak jauh dari gudang tempat tuan Kayama Rinsui biasa bekerja. Kayama Takashi yang sempat dibawa ke rumah sakit sudah diperbolehkan pulang setelah hasil pemeriksaan menyebutkan tidak ada luka yang serius. Tentang Marimo pun telah dijelaskan semuanya, tidak ada salah paham lagi.
“Professor Saikawa akan mengadakan percobaan,” ujar Moe kemudian.
“Dan dia bilang, jika percobaannya berhasil, insiden ini akan sepenuhnya terpecahkan,” lanjut polisi yang menemani Moe.
Saikawa-sensei keluar dari gudang dan bergabung dengan yang lain. “Maafkan aku. Yusuke-kun keluar dari gudang jam 6 sore pada hari kejadian. Aku ingin menegaskan situasi TKP pada saat itu,” jelas Saikawa-sensei.
Saikawa-sensei lalu mendekati Yusuke. Ia meminta bocah itu untuk melihat ke dalam gudang. Yusuke kecil pun menurut. Tapi, tidak lama ia kembali keluar.
“Tidak ada lagi di sana. Detektif tidak ada lagi disana,” ujar bocah itu polos.
Saikawa-sensei tersenyum. Moe masih keheranan, tapi ia kemudian mengerti maksud percobaan yang melibatkan Yusuke ini.
Moe langsung lari menuju gudang itu, diikuti yang lain. Disana, mereka menemukan det.Ukai terkapar di lantai, dengan warna merah di dadanya. Tapi sebentar kemudian ia bangun lagi. Rupanya Saikawa-sensei memintanya untuk berpura-pura menjadi mayat.
“Artinya Rinsui-san berada di gudang sekitar jam 6 sore kemarin, bukan begitu?” tanya Moe menyakinkan.
“Tepat sekali,” jawab Saikawa-sensei. “Yusuke-kun bilang kalau 'Marimo-san tidak ada lagi disana' ketika dia melihatnya tergeletak.”
“Jadi, Yusuke berbohong?” ibu Yusuke heran.
“Tidak, dia tidak bohong. Aku pikir itu hanya perbedaan persepsi saja,” lanjut Saikawa-sensei. “Ketika Yusuke-kun berkata 'tidak ada lagi di sana,' perbedaan antara 'mati' atau 'tidak bergerak' sangat tipis. Itu kata-kata terkenal di program TV favorit Yusuke-kun, Genma Daishogun. Yusuke-kun, Apa yang Genma Daishogun katakan setelah mengalahkan musuhnya?” Saikawa-sensei mendekai Yusuke.
“'Orang jahat sudah tidak ada lagi.'” ujar bocah itu.
“Itu benar, terima kasih,” ujar Saikawa-sensei. Ia pun meminta bocah itu untuk kembali dan bermain di dalam rumah saja.
Saikawa-sensei melanjutkan, “Tidak pantas mengatakan 'mereka sudah mati'di acara TV anak-anak, kau tahu kan? Dan Kelly menggonggong di depan gudang karena Rinsui-san ada di sini. Ini membuktikan bahwa Tuan Rinsui terbaring di gudang ini sekitar jam 6 sore kemarin. Dan itu cocok dengan kesaksian Marimo-san bahwa dia melihat Tuan Rinsui sekarat, dan bahwa dia membawanya ke mobil setelah jam 6 sore.”
Tapi, masalah belum selesai. Fakta bahwa pada pukul 6 sore tuan Rinsui ada di gudang sudah dijelaskan. Tapi pada pukul 7 hingga 8 malam, gudang terkunci. Siapa yang ada di dalam?
“Ngomong-ngomong, Rinsui-san tidak suka pakai AC, kan?” tanya Saikawa-sensei yang diiyakan oleh pelayan. Saikawa-sensei melihat sekeliling ruangan gudang itu, “Gudang ini kedap udara, untuk melindungi cat dari kelembaban. Selain itu, dia mematikan AC, yang menjadi satu-satunya sirkulasi udara. Jadi, bisa disimpulkan bahwa gudang benar-benar dikunci. Dan kemarin sangat dingin. Seharusnya Tuan Rinsui menyalakan penghangat udara. Pada dasarnya pada kondisi ini kita bisa menemukan jawaban dari pertanyaan, 'Siapa yang ada di dalam gudang antara jam 7 dan 8 malam?'” Saikawa-sensei tersenyum.
Moe tampak berpikir keras. Tapi kemudian ia paham maksud dosenya itu, “Tentu saja. Siapa yang ada di dalam gudang? Tidak ada siapapun!” ujar Moe yakin. Jawaban yang justru membuat orang-orang semakin heran.
“Tapi kan pintunya terkunci? Bagaimana bisa pintu terkunci dari dalam ketika tidak ada orang di sana?” protes Kayama Takashi.
“Itu kejadian alam,” ujar Moe sambil melihat ke arah Saikawa-sensei. Saat melihat sensei-nya itu mengangguk setuju, Moe baru melanjutkan ucapannya, “Sekitar jam 6 sore, setelah Yusuke-kun keluar dari gudang. Aku yakin kesadaran Rinsui-san pulih. Dan Marimo-san membawanya ke rumah sakit. Setelah itu, karena penghangat udara mati dan tidak ada orang di dalam, Temperatur kamar turun dengan cepat dan udara perlahan mengempis. Kemudian, kekuatan yang mendorong dinding luar bagian dalam, aktif kembali menutup ruangan ini. Pintu yang tertutup di tarik ke dalam oleh kekuatan ini juga menjadikannya seolah-olah pintu terkunci. Ini menyebabkan fenomena pintu tidak bisa dibuka antara jam 7 dan 8 malam.”
“Tapi apa mungkin pengempisan udara sendiri bisa menghasilkan tenaga yang kuat?” det.Ukai belum yakin.
“Ini hanya perkiraan, tapi untuk setiap 100 derajat perubahan temperatur, udara mengembang atau mengempis sebesar 40%. Ini setara dengan 0,4% dari perubahan volume untuk setiap 1% perubahan temperatur. Tekanan atmosfer sekitar 1 kilogram per 1 sentimeter persegi. Jadi 0,4% yang sama dengan 4 gram tekanan udara yang akan ditambahkan. Katakan saja pintu gudang lebarnya 1 meter dan tingginya 2 meter, tekanan akan menjadi 800 kilogram pada 10 derajat perubahan temperatur. Mustahil membuka pintu seberat itu,” Moe menjelaskan. (yang bingung dengan penjelasan secara fisikanya, silah cek di bawah. Ntar Na coba jelaskan dengan lebih sederhana)
“Ya, kau benar,” det.Ukai sok paham.
“Karena pintu tidak bisa dibuka, kita salah mengerti bahwa ada orang di dalam gudang,” Moe menutup kesimpulannya.
“Tapi.. Siapa yang menusuk ayahku?” Kayama Takashi masih belum puas dengan penjelasan Moe.
“Itu … aku tidak tahu,” sesal Moe.
“Well, Professor Saikawa. Menurutmu siapa pelakunya?” det.Ukai beralih pada Saikawa-sensei yang sejak tadi diam saja.
Wajah Saikawa-sensei berubah serius, “Mohon dengarkan ini. Aku rasa Kayama Rinsui-san bunuh diri.”
“Apa? Aku rasa itu tidak mungkin. Karena di sana tidak ada senjata—“ ucapan Moe terputus.
“Benar. Jika memang benar itu bunuh diri, anehnya tidak ada senjata di sana,” sambung det.Ukai.
“Sebenarnya senjata itu masih ada di ruangan ini,” ujar Saikawa-sensei dengan tenangnya.
“Huh? Dimana?” orang-orang keheranan.
“Di dalam 'Kotak Keegoisan.'”
Tapi jawaban Saikawa-sensei membuat semua orang semakin heran dan tidak percaya. Kotak itu kosong. Bahkan berdasarkan hasil foto x-ray yang dilakukan polisi, tidak ditemukan apapun di dalamnya. Saikawa-sensei mengatakan jika kotak itu ‘sekarang’ kosong. Membuat semua orang semakin bertanya-tanya apa maksudnya. Moe meminta polisi untuk membawa kotak dan vas itu lagi. Tapi dicegah oleh Saikawa-sensei.
“Saikawa-sensei, kau sudah tahu bagaimana mengeluarkan kunci dari vas dan membuka kotak, iya kan?” tembak Moe.
“Apa kau sungguh mencari tahu misteri vas itu?” Kayama Takashi ikut penasaran.
Saikawa-sensei melihat ke arah keluarga Kayama, “Misteri vas dan kotak seharusnya menjadi beban bagi kepala keluarga Kayama. 50 tahun lalu, Tuan Kayama Fusai memecahkan misteri dibalik vas dan kotak itu dan bunuh diri di dalam gudang ini. Bahkan, putranya, Tuan Rinsui sudah terbebani oleh misteri dari vas dan kotak itu. Dan boleh jadi di hari dia menemukan jawabannya dan memilih jalan yang sama seperti Tuan Fusai. Vas dan kotak itu yang seharusnya berfungsi dalam mekanisme tersebut. Dan itulah pesannya.”
“Aku tidak akan pernah... membunuh diriku sendiri! Aku tidak mau, sekalipun jika itu pesan kematian kakek dan ayahku! Bagaimana mungkin aku mempertaruhkankan hidupku pada benda semacam itu?” tegas Kayama Takashi. “Saikawa-sensei, tolong pecahkan misteri vas dan kotak itu! Setelah terpecahkan, aku akan hancurkan vas itu dan mengakhiri kutukan dalam keluarga kami.”
“Aku tidak akan membiarkan itu!” istri tuan Kayama Rinsui akhirnya angkat bicara. Dengan tegas ia meminta untuk bicara langsung pada Saikawa-sensei dan Moe di ruangan lain.
“Kau tahu kan rahasia dibalik vas dan kotak itu?” tembak Saikawa-sensei tanpa basa basi.
“Ya, aku tahu. Tapi, tidak seluruhnya,” ujar nyonya Kayama Rinsui. “Tiga hari sebelum dia meninggal dia memperlihatkan 'Kotak Keegoisan' yang terbuka. Dan dia bilang inilah potongan terakhir. Aku pikir dalamnya kosong... Senjata itu ada di sana. Senjata itu sangat hangat. Aku tidak bisa berhenti menangis hanya karena memegangnya.”
“Karena kau sedih…” potong Moe.
“Kenapa aku harus sedih? Selama ini dia telah mengikuti jejak ayahnya, Fusai dan tetap mencari satu potongan terakhir. Lalu akhirnya kau menemukan jawabannya! Menekan dirimu dan membawa kembali lukisan asli Sang Buddha. Itu misi dari pelukis Buddha. Menekan dirimu untuk hidup dan hidup untuk menekan dirimu. Dia meraih puncak karirnya seperti Fusai dan berusaha menyempurnakan seni sendiri dengan kematian. Rasanya seperti mimpi, aku bahkan merasa berat agar tetap berdiri tegak. Darah indahnya gemericik keluar,” cerita pun mengalir dari bibir nyonya Rinsui.
“Tapi Tuan Rinsui sempat bimbang sebelum dia mati, iya kan?” tanya Saikawa-sensei lagi.
Nyonya Rinsui tampak sedikit tidak suka, “Tidak seperti Fusai, butuh waktu sangat lama baginya untuk mencapai puncak. Itulah kenapa…”
“Itulah sifat manusia,” potong Saikawa-sensei.
“Kau bilang dia membuka kotak 3 hari sebelum kematiannya. Kenapa dia menunggu selama 3 hari?” Saikawa-sensei melanjutkan pertanyaannya.
“Selama 3 hari itu, dia melukis untuk terakhir kalinya.”
“Lukisan Buddha yang lain?” tanya Moe.
“Tidak, dia melukis aku. Itu tiga hari yang membahagiakan. Aku telah meninggalkan setiap momen dalam hidupku demi 3 hari itu! Itu satu-satunya dan hanya itu dari dunia ini yang dia lukis selain Buddha,” mata nyonya Rinsui berkaca-kaca menceritakan saat terakhir kali tuan Rinsui melukisnya.
“Dimana lukisan itu sekarang?” tanya Moe.
“Aku membakarnya,” ujar nyonya Rinsui.
Saikawa-sensei melanjutkan kalimatnya, “Itulah cara anda menjadikannya sempurna. Apa itu salah satu potongan juga?”
Nyonya Rinsui menggeleng, tapi ia tersenyum, “Aku ingin memilikinya untuk diriku sendiri. Hidup dan matinya. Aku kekanak-kanakkan ya? Bawalah ini bersamamu. Mereka sudah tidak diperlukan lagi dirumah ini. Kehilangan ini menjadi salah satu bagian terakhir untuk keluarga Kayama. Pergilah. Karena aku tidak akan pernah melihat kalian berdua lagi,” nyonya Rinsui menyerahkan kedua benda di depannya itu pada Saikawa-sensei dan Moe, kemudian menunduk hormat sebagai salam perpisahan.
Sementara Moe dan Saikawa-sensei bicara dengan nyonya Rinsui, orang-orang yang lain berkumpul dan menunggu di ruang makan. Saat Saikawa-sensei dan Moe kembali, keduanya langsung diberondong pertanyaan.
“Maafkan aku! Aku melompat ke kesimpulan. Aku tidak bisa membuka kotak itu,” ujar Saikawa-sensei saat ditanya oleh det.Ukai cara membuka kotak itu.
“Tapi aku pikir tidak masalah, karena kita mengambil vas kutukan dan kotak ini dari Fumi-san,” lanjut Moe, membuat orang-orang di ruangan itu heran. Aneh karena nyonya Rinsui (Kayama Fumi) menyerahkan begitu saja kedua benda yang selama ini begitu dirawatnya dengan hati-hati.
“Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu! Senjatanya masih di dalam kotak kan?” desak det.Ukai lagi.
“Tidak, tidak, tidak, tidak! Itu juga aku melompat ke kesimpulan,” elak Saikawa-sensei cepat. “Mungkin Tuan Rinsui membuang senjata itu ke dalam sungai atau apa.”
Moe mengocok vas, hanya ada kunci. Lalu kotak itu pun saat dikocok tidak menimbulkan suara apapun. Kosong.
“Tapi kenapa kalian berdua membawa vas dan kotak itu?” desak rekan det.Ukai.
Moe sempat bingung. Tapi kemudian ia memberikan jawaban polosnya, “Sebagai sovenir?”
Kembali ke kampus.
Moe meletakkan kotak dan vas itu di meja, dengan hati-hati. Ia tersenyum memandangi kedua benda penuh misteri itu.
Dari arah pintu, Saikawa-sensei datang dengan peralatan yang dibawanya. Pemanas dan juga gelas reaksi berukuran besar dengan air di dalamnya, “Sekarang, ayo mulai.”
Saikawa-sensei memanaskan air dalam gelas itu di atas pemanas. Ia kemudian memasukkan air yang sudah mendidih itu ke dalam vas. Saikawa-sensei kemudian membuka salah satu skrup yang ada di atas kotak. Saikawa-sensei memasukkan air dari dalam vas tadi ke dalam kotak menggunakan corong.
“Lihat kedalam vas!” perintah Saikawa-sensei pada Moe. “Kocok vasnya.”
Moe mengocok vas itu, tidak ada suara. Saat ia mengintip ke dalam kotak itu, tidak ada apapun, “Kunci itu menghilang. Jika kunci itu hilang, kita tidak bisa membuka kotak!”
“Tidak, kau bisa membukanya sekarang,” ujar Saikawa-sensei dengan santainya.
“Meskipun tanpa kunci?” Moe heran.
“Lubang kunci itu tipuan,” Saikawa-sensei menunjuka lubang kunci di sisi kotak. “Ini yang sebenarnya,” Saikawa-sensei menunjuk lubang kecil yang tadi ia lepas skrupnya, terletak di atas kotak. “Ketika air mendidih dituang ke dalam kotak sumbatan penutupnya akan bengkok karena suhu dari air panas.”
Saikawa-sensei mengecek jam di tangannya, “Bagus. Buka kotaknya!” perintahkan pada Moe.
Moe pun menuruti perintah Saikawa-sensei. Ia membuka kotak itu, “Oh! Kuncinya berubah menjadi senjata, bukan? Tapi bagaimana?”
Saikawa-sensei memberikan penjelasan, “Kunci di dalam vas dibuat dari bahan khusus yang disebut 'fusible alloy' (sifat bahan ini bisa kembali ke bentuk semula saat diberikan panas) yang meleleh pada suhu 60 derajat Celsius. Kau tuangkan fusible alloy yang meleleh, ke dalam kotak bersama dengan air panas. Ada ruang kosong dalam bentuk pisau di dalam kotak dan logam yang meleleh bisa tersimpan di sana. Setelah air panas mulai dingin, fusible alloy menjadi padat dan menjelma menjadi pisau tajam.” Saikawa-sensei mengambil pisau padat itu dan memberikannya pada Moe.
Moe menerimanya dari Saikawa-sensei, “Ini hangat,” komentarnya kemudian.
Saikawa-sensei melanjutkan ucapannya, “Dan setelah menusuk dadamu dengan pisau ini kau masukkan kembali ke dalam vas, tuangkan air mendidih dan tunggu sampai meleleh. Pasti ada ruang kosong dalam bentuk kunci di bagian bawah vas. Buang air panas setelah mendingin, maka kunci kembali berada di dalam vas.”
“Dan itulah kenapa senjata tidak ada di TKP,” Moe menyimpulkan.
“Kayama Rinsui-san keluar dari gudang setelah menusuk dadanya sendiri. Aku ingin tahu apa itu karena dia masih ingin hidup. Istrinya bilang bahwa dia sempat ragu sebelum memutuskan bunuh diri. Kau pikir Tuan Rinsui mampu menusuk dirinya sendiri?” gumam Moe.
“Moe, tidak ada cara membuktikan itu. Bahkan jika orang lain yang memegang pisau, tidak akan ada sidik jari tertinggal. Begitulah senjata ini bekerja. Keluarga Kayama telah dibebaskan dari tradisi. Tidak akan ada lagi orang yang mencoba memecahkan misteri kotak ini dengan mempertaruhkan hidupnya,” Saikawa-sensei melanjutkan. “Kau tidak setuju?”
Moe menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat, “Aku sudah pecahkan masalahnya. Rahasia akan tertutup lagi.” Ia lalu menutup kembali kotak itu.
BERSAMBUNG
Sampai jumpa di Sinopsis Perfect Insider episode 05 part 1.
Picture and written by Kelana
Posting at www.elangkelana.net
Kelana’s note :
Buat yang bingung dengan penjelasan pemuaian-penyusutan dari Moe di atas, nih Kelana jelaskan.
Gas (udara) akan mengembang saat suhu panas. Begitupula sebaliknya, akan menyusut jika suhu dingin/menurun. Ruangan TKP adalah ruangan tertutup rapat/kedap udara. Mulanya pemanas ruangan menyala, suhu panas. Tapi, saat ditutup rapat, pemanas dimatikan. Suhu menjadi dingin dengan cepat. Saat suhu dingin, udara di dalam ruangan yang terperangkap di ruangan kedap akan mengempis atau menyusut. Penyusutan udara ini menyebabkan tekanan di luar ruangan lebih besar dibanding di dalam ruangan. Sehingga pintu—sebagai satu-satunya jalan keluar masuk udara—tertarik ke dalam. Catatan:dalam drama ini, pintu TKP hanya bisa dibuka ke arah luar. Karena pintu tertarik oleh udara di dalam, saat ditarik ke luar, pintu tidak bisa dibuka. Sehingga ruangan seolah terkunci. Sebenarnya, pintu bisa dibuka. Tapi, harus dengan kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan tekanan udara di dalam yang menahan pintu.
Untuk hitung-hitungannya, sila cek buku fisika kelas XI SMA materi tekanan udara. Tapi kalau males, ya udah, abaikan saja hitung2annya, hehehe.
Masih heran, koq bisa sih, udara bikin ruangan nggak bisa dibuka? Jangan salah. Meski hanya benda gas, udara—seperti halnya air—memiliki kekuatan yang besar. Apalagi jika jumlahnya besar dan cepat, atau memiliki energy.
Duh Kelana, kamu ngobrol apaan sih? Ya udah deh, kalau bingung, abaikan saja penjelasan ini. Mungkin suatu saat nanti, Na akan buat penjelasan yang lebih sederhana dan mudah dimengerti oleh semua orang deh.