Sinopsis DoS Deka episode 01 part 2. Yang ketinggalan, silahkan baca di DoS Deka episode 01 part 1.
Bagian sebelumnya,
Mayat seorang pria ditemukan di sebuah bekas pabrik. Keadaan TKP membawa penyelidikan polisi pada beberapa orang gangster. Tapi, dengan cerdas Kuroi membuktikan jika kasus ini tidak ada hubungannya dengan para gangster itu.
Penyelidikan polisi mentok. Bahkan saat pengantar makanan dengan cerita membawakan makan malam mereka, tidak ada seorangpun yang tampak bersemangat. Tidak ada laporan mencurigakan dari saksi mata. Investigasi ulang di TKP menunjukkan tidak ada hubungan dengan tersangka yang mereka dapatkan. Gangster yang dicurigai pun memiliki alibi kuat. Para polisi itu akhirnya menyerah dan membubarkan diri untuk pulang. Tapi tidak dengan Kuroi.
Melihat rekan-rekannya yang lain bubar, Daikan tadinya akan ikut pulang. Tapi, saat melihat partnernya, Kuroi masih duduk di kursinya, ia pun urung pulang. Kuroi masih asyik memperhatikan foto seorang wanita yang ia temukan di kediaman korban Aoyama. Kuroi beranjak ke ruangan sebelah. Tadinya, Daikan mau ikut, tapi telepon di mejanya berdering.
Dari seberang terdengar suara laki-laki, Manager Igarashi, “Aku baru ingat. Sekitar satu bulan silam, di tengah malam, aku tidak sengaja melihat segerombolan gangster memukuli seorang pria. Dan pria itu adalah Aoyama-san. Waktu itu aku ketakutan,jadi langsung pergi. Aku tiba-tiba ingat hal itu,” cerita manager Igarashi.
“Begitu? Terimakasih atas kerjasama Anda,” balas Daikan sebelum menutup teleponnya.
Perhatian Kuroi pun teralihkan oleh telepon itu. Daikan tampak ragu ingin mengatakan sesuatu. Menurut Kuroi, tidak usah dikatakan saja.
“Tapi telepon barusan, suara di telepon itu … orang yang melaporkan kasus keributan di pabrik. Aku yakin, dia adalah manager Igarashi!” ujar Daikan akhirnya, membuat Kuroi heran.
Hari berikutnya …
Daikan masih mengekor Kuroi. Kali ini mereka bertemu seorang pria di atas jembatan, di sebuah daerah pusat pertokoan. Pria itu mengatakan pada Kuroi jika manager Igarashi telah diperas oleh korban Aoyama. Pria itu juga mengatakan jika ia tidak menemukan wanita yang ada dalam foto.
“Ternyata tidak berguna!” keluh Kuroi. Ia lalu mengeluarkan amplop berisi uang dan memberikannya pada pria itu, yang dibalasnya dengan sebuah kuitansi.
“Terimakasih. Aku Yura Fumio, yang sering diandalkan oleh Kuroi-san,” ujar pria tadi, menjawab wajah penasaran Daikan. Ia pun lalu beranjak pergi.
Daikan mulai protes. Ia berpikir jika pria itu adalah orang yang menjual informasi, seperti pada drama. Dan lagi, Kuroi memberikannya uang. Daikan menebak jika informasi alibi para gangster juga diperoleh Kuroi dari pria tadi. Tapi, Kuroi mengabaikan protes Daikan dan mengajaknya segera pergi.
Kuroi mengajak Daikan ke sebuah taman. Keduanya naik permainan yang bisa berputar. Kuroi menyuruh Daikan memutar mainan itu, cepat dan semakin cepat. Daikan yang polos hanya bisa menurut pada rekannya satu ini.
Selama putaran makin cepat, Kuroi mengingat satu per satu fakta tentang kasus yang tengah mereka tangani, “Mayat seorang pria ditemukan di bekas pabrik, Aoyama Shinichiro, 34 tahun. Penyebab kematiannya adalah tusukan dengan pisau. Setelah meninggal, dia dipukuli hingga meninggalkan lebih dari 20 bekas. Di Maihama Credit, tempat kerja korban Aoyama juga bekerja manager Igarashi yang diperas oleh Aoyama. Saat itu, manager Igarashi mengatakan ‘para pelaku’ dan bukan ‘pelaku’. Padahal polisi tidak pernah memberikan informasi berapa jumlah pelakunya. “
“Kuroi-san, kenapa kita melakukan ini?!” protes Daikan yang mulai pusing.
“Saat badanku berputar, pikiranku juga bekerja!” teriak Kuroi tidak kalah keras.
“Kenapa korban Aoyama memeras manager Igarashi? Kenapa? Kenapa?” putaran makin cepat hingga akhirnya Kuroi mengatakan stop. Kuroi pun turun dari mainan itu, diikuti Daikan yang sudah lemas akibat pusing.
“Kuroi-san, apa kau mendapatkan sesuatu?” tanya Daikan penuh harap.
Kuroi berpaling, “Tidak sama sekali!” ujarnya tanpa rasa bersalah.
Malam itu, Kuroi dan Daikan mengikuti manager Igarashi. Ternyata manager itu mampir ke sebuah toko perhiasan. Dia membeli perhiasan disana, lalu beranjak keluar setelah membayarnya.
“Apa itu hadiah untuk istrinya?” gumam Daikan. “Ah, aku tahu! Kuroi-san, aku tahu! Itu bukan hadiah untuk istrinya. Itu hadiah untuk selingkuhannya!” Daikan tampak puas.
Tapi, Kuroi tampak masih belum puas dengan kesimpulan Daikan kali ini.
Kuroi dan Daikan pun terus mengikuti manager Igarashi. Mereka tiba di depan sebuah café/klub.
“Kuroi-san, tempat ini mungkin tempat selingkuhan manager Igarashi bekerja!” ujar Daikan gembira. “Gambar wanita yang ada di foto itu adalah selingkungan manager Igarashi! Aoyama yang tahu hal itu, memeras manager Igarashi sebagai uang tutup mulut. Manager Igarashi kemudian memanggil korban Aoyama ke bekas pabrik malam itu!”
Tapi lagi-lagi Kuroi masih belum puas. Ia hanya melirik ke arah Daikan lalu menghembuskan nafas, kecewa. Tapi, Kuroi tiba-tiba mendapat ide. Ia memandangi Daikan dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum penuh arti. Kalau Kuroi sudah tersenyum, artinya penderitaan untuk Daikan.
Daikan dipaksa berdandan seperti wanita. Rupanya club yang mereka temua malam itu adalah klub tempat berkumpulnya para cross-dresser, pria yang suka berpakaian wanita. Daikan—yang berubah nama menjadi Shouko—masuk ke dalam dan dibuat takjub saat bertemu seorang cross-dresser, mirip dengan yang ada di foto. Nama si cross-dresser itu dalah Yulia. (sumpe, kaget lihat perubahan wajah si Daikan ini. Cantik dia didandanin gini)
Menemukan sasaran mereka, Daikan segera melapor pada Kuroi yang bersembunyi. Daikan lalu memanggil Kuroi. Kuroi pun bahkan dibuat takjub melihat perubahan penampilan Daikan yang menjadi cantik. Kuroi pun membagi tugas. Sementara dirinya memeriksa ruang locker, Daikan diminta kembali ke klub untuk mengumpulkan informasi. Daikan tidak punya pilihan lain selain setuju dengan ide partnernya ini.
Kuroi menemukan locker milik Yulia, tapi terkunci. Lewat alat komunikasi, Kuroi meminta Daikan mencari tahu kode untuk membuka locker itu.
“Ulang tahunku 31 Desember,” ujar Yulia.
“Eh, sama denganku!” balas Daikan dengan kenesnya pula. Info ini juga didengar Kuroi lewat alat komunikasinya. Tapi sayangnya, angka empat digit itu masih salah. Daikan diminta mencari tahu nomer ponsel si Yulia ini.
“Bluetooth~!” ujar keduanya tampak manja.
“Ah, ini sama juga?!” seru Daikan. (entah beneran sama, entah kebetulan)
“Ah takdir! Ayo berteman!” balas Yulia senang.
“Yoroshiku!” balas Daikan. (dalam pengucapan Jepang, angka 4649 juga dibaca YoRoShiKu. Ini seperti bahasa slang atau bahasa gaul)
Angka empat digit ini pun dimasukkan oleh Kuroi, dan ternyata benar. Kuroi memeriksa locker itu. Dan ia menemukan kantong plastic dengan pisau berlumuran darah di dalamnya.
Yulia tengah membujuk Daikan agar mau ikut acara minum teh di sebuah hotel saat Kurori keluar. Para cross-dresser lain pun menyingkir, karena tidak suka dengan gaya galak Kuroi. Dengan wajah dan sikap Kuroi, manager Igarashi dengan mudah mengenalinya.
Kuroi mengeluarkan foto yang ditemukan di ruangan korban Aoyama, “Foto ini ditemukan di ruangan korban Aoyama Shinichiro. Kau sering datang ke klub cross-dresser, dan Aoyama mengetahui hal ini. Jadi, Aoyama punya alasan untuk memerasmu. Aoyama mengancam akan memberitahukan hal ini pada keluargamu. Beberapa kali dia meminta uangmu. Karena lama-kelamaan terdesak, kau memutuskan untuk membunuhnya. Kau tahu kalau bekas pabrik itu tempat berkumpul para gangster. Agar tampak seolah ia dibunuh oleh beberapa gangster, kau meninggalkan sejumlah bekas luka pada tubuh korban Aoyama. Setelahnya kau lapor pada polisi. Tapi, apa kau tahu, polisi yang menerima laporanmu malam itu, sekarang adalah seorang detektif?”
Manager Igarashi a.k Yulia tidak berkutik saat Kuroi membeberkan semuanya. Ia pun dibuat kaget karena cross-dresser cantik di sebelahnya adalah polisi yang menerima laporannya malam itu, dan kini seorang detektif. (sumpah, lucu liat tingka si Daikan ini. Pas ia mau mengeluarkan tanpa pengenal dari sakunya, eh malah yang dikeluarin tisu. Apalagi gaya duduknya itu loh, cowok banget. Padahal pake kostum cewek)
Kuroi tidak lupa menunjukkan plastic berisi pisau yang ditemukannya tadi, “Darah yang tersisa di pisau ini pasti cocok dengan darah korban, Aoyama. Sidik jarimu juga pasti ada disini. Menyembunyikan senjata pembunuh di tempat seperti itu (locker), kau pikir tidak bisa ditemukan? Apa kau bodoh? Ikut aku ke kantor polisi!”
Kuroi menyuruh Daikan untuk memborgol Yulia ini. Tapi ia bergerak cepat, menghindar, mengambil pisau dan mengayun-ayunkannya di depan Kuroi. Tapi, Kuroi tampak tidak takut sama sekali.
“Jangan mendekat!” ancam Yulia. “Sampai hari ini aku adalah orang baik. Karenanya, aku bisa sukses. Aku pun memiliki keluarga yang baik. Tapi, aku juga ingin bebas! Aku tidak peduli orang lain membenciku!”
Tapi Kuroi membalas ancaman itu dengan senyum, “Kau sebenarnya sudah dibenci sejak lama.” Kuroi mulai memojokkan tersangkanya, “Tidakkan kau tahu, mejamu selalu berbau aneh. Ini karena bawahanmu membersihkannya dengan kain untuk membersihkan toilet. Dia tidak suka melihat pakaianmu. Kau juga selalu makan siang bersama rekan kerjamu. Itu juga hukuman, bagi orang yang tidak bisa bekerja dengan baik.”
“Tidak mungkin!” Daikan ikut terintimidasi juga.
Tapi Kuroi terus melanjutkan, “Aku juga bertanya pada putrimu, Yukari. Apa yang dia suka tentnag ayahnya. Dengan menangis dia berkata, bagaimana bisa kau tanyakan hal yang sulit kujawab seperti itu? Hal yang kusukai dari ayahku, tidak ada satupun.”
Yulia semakin tertekan dengan semua ucapan Kuroi. Dia bahkan menutup telinganya dan bersembunyi di kursi.
“Kau pikir ini Cuma cerita bohong kan? Karena hobby cross-dress-nya, dia menjadi pembunuh!” lanjut Kuroi. “Dibenci oleh keluarganya dan rekan kerjanya adalah biasa. Tanpa berpikir orang yang membencimu, kau hidup dengan tenang tak terbebani. Kau memang pantas dibenci!”
“Diam!” Yulia semakin tidak suka.
Diprovokasi oleh Kuroi, Yulia kembali menodongkan pisaunya. Dengan santainya, Kuroi menyuruh Daikan berkelahi dengan Yulia ini, sementara dirinya duduk menonton. Yulia mengacungkan pisaunya ke arah Daikan, sementara ia hanya menggunakan bantal yang tidak lama sudah tercerai berai akibat pisau.
Melihat Daikan terdesak, Kuroi akhirnya turun tangan. Ia mengeluarkan senjata andalannya, sebuah pecut dan mengayunkannya. Pisau di tangan Yulia yang nyaris merobek tubuh Daikan pun berhasil dilumpuhkan olehnya.
“Tangkap dia!” perintah Kuroi sekali lagi.
Kali ini Daikan dengan sigap mengeluarkan borgol dan mengikat tangan Yulia, “Pada pukul 08.41 kau ditangkap karena tuduhan menodongkan pisau …”
Kuroi sempat mengambil gambar sebelum mulai bicara. Ucapan Daikan disambung oleh Kuroi, “ … Atas tuduha pembunuhan dan penganiayaan! Kau dituduh atas kasus pembunuhan Aoyama Shinichiro!”
Sementara itu, Daikan tampak sangat terharu. Saat ditanya oleh Kuroi, Daikan mengaku jika ini pertama kalinya ia menangkap penjahat.
“Aku mengerti. Jadi kau aman. Aku akan tertawa keras jika kau mati sambil menangkap penjahat dengan pakaian seperti itu!” balas Kuroi.
“Ah, Kuroi-san, sejak kapan kau tahu info soal manager Igarashi tadi?” Daikan masih penasaran.
“Bagaimana bisa aku tahu hal-hal seperti itu? Apa kau bodoh?!” balas Kuroi dengan gayanya yang biasa.
Rekan-rekan Kuroi dari kepolisian baru saja tiba. Inspkt.Shirogane kesal dengan sikap Kuroi yang seenaknya sendiri. Tapi, dengan santai Kuroi mengeluarkan suara perintah penangkapan. Inspkt.Shirogane semakin kesal, karena Kuroi membuat surat itu tanpa izin darinya.
“Sisanya, tanyakan pada det.Daikanyama!” ujar Kuroi, lalu beranjak pergi dengan santainya.
Inspkt.Shirogane langsung mencari keberadaan Daikan. Tapi,dia tidak juga muncul. Mereka baru merasa heran saat melihat seorang wanita yang tampak ketakutan dan menyingkir. Dan dia adalah Daikan yang berdandan sebagai wanita.
“Ini untuk kepentingan investigasi, kepala cabang … “ ujar Daikan, salah tingkah.
Belum sempat inspkt.Shirogane berkomentar, det.Kondou sudah lebih dulu berkomentar, “Det.Daikanyama, kau cantik!”
Pagi berikutnya …
Daikan tengah berdoa di depan foto ayahnya. Ibunya heran dengan sikap putranya ini, dan berpikir jika Daikan melakukan kesalahan lagi.
“Bukan begitu. Aku hanya mengingkari janji pada ayah. Saat aku SD, ayah pernah bilang pekerjaan seorang polisi tidak hanya menangkap penjahat. Seumur hidup, aku bangga jadi polisi. Jadi aku juga … “ tapi ucapan Daikan dipotong ibunya.
“Apa katamu? Ayahmu juga ingin jadi detektif. Tapi, dia tidak pernah lulus tes. Jadi dia menyerah dan tetap jadi polisi biasa,” komentar ibunya sambil tertawa geli.
Seorang tamu tampak masuk. Kediaman keluarga Daikan ini dalah salon untuk menata rambut. Ternyata dia adalah Kuroi.
“Aku membawakan foto kenang-kenangan,” Kuroi menunjukkan foto itu pada ibu dan adik Daikan.
Tapi, saat melihat foto itu, ibu Daikan malah kesal. Sementara adiknya tertawa geli.
“Apa yang kau lakukan di foto ini?” protes ibu Daikan.
Daikan mengambil foto itu dan menemukan dirinya dalam gambar berpakaian wanita saat menangkap penjahat kemarin, “Kapan kau mengambilnya?!”protes Daikan yang hanya dijawab dengan senyum oleh Kuroi.
Inspkt.Shirogane tengah curhat pada det.Kondou. Ia kesal soal sikap Kuroi. Kuroi memang pintar, tapi jalan pikirannya tidak bisa ditebak. Apalagi ayahnya salah satu orang penting di kepolisian. Kepribadiannya juga sulit dimengerti. “Tapi, sebagai atasannya, aku tidak akan membiarkannya bersikap seenaknya!”
“Kepala cabang Shirogane, aku takjub kau bisa bekerja sama dengan baik, dengannya,” komentar det.Kondou malahan.
Ibu Daikan kemudian mengajak Kuroi untuk makan bersama, karena ia adalah atasan Daikan. Tapi Kuroi justru asyik mengasah pecutnya dengan salah satu alat cukur disana. Saat Daikan memprotesnya, Kuroi hanya membalasnya dengan senyum.
Ibu Daikan mendengar nama Kuroi disebut. Sepertinya ia mengenal nama itu. Tapi kemudian ia memutuskan jika nama itu adalah nama yang biasa dan banyak dipakai.
Setelah punya waktu berdua, Daikan mulai mengoceh, “Kuroi-san, aku menghormatimu. Aku benci penjahat, jadi aku akan menangkap mereka semua. Aku ingin menjadi detektif seperti Kuroi-san. Aku ingin jadi detektif yang memiliki rasa keadilan. Jadi alasanku jadi detektif … “ ucapan Daikan terpotong.
Kuroi melirik ke arah Daikan, “Aneh kan, jika aku ingin menyiksa penjahat. Apa kau bodoh?”
BERSAMBUNG
Sampai jumpa di DoS Deka episode 02 part 1.
Picture and written by Kelana
Posting at www.elangkelana.net
Bonus piku2nya Daikan yang cantik, hehehe