Sinopsis Perfect Insider episode 02 part 1. Yang ketinggalan, cek juga Perfect Insider episode 01 part 1 dan part 2 ya.
Bagian sebelumnya.
Nishinosono Moe dan dosennya, Saikawa-sensei mengunjungi pusat penelitian kutub. Tapi, sebuah insiden terjadi saat percobaan berlangsung. Dua jasad ditemukan di dalam laboratorium yang terkunci.
Moe yang penasaran pun melakukan penyelidikan. Kecurigaan mengerucut pada mahasiswa yang hilang dua tahun silam, Masuda Jun. Tetapi, jasadnya yang telah menjadi mummi ditemukan tidak lama setelahnya. Moe menyelidiki computer yang ditinggalkan Masuda Jun dengan datang ke laboratorium. Tetapi, seseorang dengan pakaian dingin tiba-tiba menyerang Moe. Moe terkunci di laboratorium suhu dingin, dengan pengatur suhu yang semakin rendah, berada 20 derajat di bawah nol!
Moe yang sempat pingsan, kembali sadar. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Moe menyeret tubuhnya menuju ruang pengukuran yang ada di sebelah. Beruntung ruangan itu tidak terkunci. Moe menyalakan computer yang ada di sana, lalu mengetikkan email untuk Saikawa-sensei. Tapi, belum selesai ia menulis, Moe kembali ambruk, tidak sadarkan diri. Sementara itu, suhu ruangan semakin rendah. Sudah kini berada lebih dari 23 derajat di bawah nol.
Saikawa-sensei masih asyik memeriksa pekerjaan mahasiswanya di ruangan. Pada saat ia bersiap untuk pulang, ada pesan muncul di laptopnya. Dari Nishinosono Moe.
Tolong. Pusat Penelitian Ku—pesan itu tidak selesai.
Tahu apa yang terjadi, Saikawa-sensei buru-buru berlari keluar. Berkejaran dengan waktu, ia menyetir mobilnya menuju pusat penelitian kutub. Tiba di tempat, Saikawa-sensei buru-buru berlari masuk. Di belakangnya, penjaga lab ikut datang sambil membawa kunci ruangan. Saikawa-sensei masuk ke lab, tidak ada siapapun. Saikawa-sensei melihat ruang pengukuran terbuka. Disana ia menemukan tubuh Moe sudah dingin, tergeletak di lantai. Saikawa-sensei melepas jaketnya lalu menggendong Moe.
“Panggil ambulan! Cepat!” ujar Saikawa-sensei pada penjaga.
Kepala polisi wilayah Kanagawa yang juga paman Moe, Nishinoshono Shosuke datang ke rumah sakit. Disana ia disambut oleh Saikawa-sensei dan juga prof.Kita. Saikawa-sensei mengatakan jika Moe masih belum sadarkan diri.
“Kenapa dia diserang?” tanya paman Moe.
“Dia sedang menyelidiki sebuah kasus. Pasti ada orang yang tidak senang dengan itu,” ujar Saikawa-sensei tampak sangat menyesal.
Paman Moe menarif nafas panjang, ia lalu duduk, “Ini salahku. Aku sadar Moe diikuti, tapi aku mengabaikannya. Aku ingin mengabulkan keinginannya sesering yang aku bisa. Karena peristiwa empat tahun lalu. Tapi tidak pernah terpikir olehku dia akan sangat terobsesi dengan kasus ini.”
“Ini kesalahanku karena tidak berpikir panjang. Tidak, ini karena Aku tidak serius membujuknya. Ini semua tidak akan terjadi...jika Aku bisa menghentikannya,” ucapan Saikawa-sensei terputus.
Paman Moe kembali membicarakan masa kecil Moe. Saat itu, Moe kecil yang selalu dikelilingi oleh orang dewasa selalu menampilkan sulap saat ada pesta di rumah. Saat itu, tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui trik sulap Moe. Sampai seorang mahasiswa muda, berhasil mengungkapkan trik sulap Moe. Dia, Saikawa-sensei muda. (bang Ayano Go beda banget ya, kalau tanpa kumis gitu. Cakep pake kumis, hihihi)
“Setelah itu Moe bilang padaku, itu kali pertama dia bertemu orang dewasa, yang lebih pintar darinya. Aku rasa...Moe masih ingin diakui oleh Anda. Bahkan mungkin lebih dari itu, karena dia kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan,” paman Moe menatap Saikawa-sensei serius.
Dokter yang merawat Moe keluar. Dokter mengatakan, tidak ada cedera permanen yang dialami Moe, sehingga kemungkinan otaknya baik-baik saja. Dokter mengijinkan keluarga untuk dapat masuk dan melihat keadaan Moe.
Saikawa-sensei dan prof.Kita memilih di luar ruangan. Saikawa-sensei duduk di kursi, masih terus berpikir.
“Akhirnya Aku mengerti kenapa Kau tidak pernah punya pacar selama ini,” komentar prof.Kita.
“Huh?” Saikawa-sensei heran.
Prof.Kita tersenyum, lalu beranjak pergi, “Lupakan. Aku bahagia untukmu.”
Paginya, Saikawa-sensei baru bisa menemui Moe. Di sudah sadar. Moe merasa menyesal dan minta maaf pada Saikawa-sensei, yang dijawab Saikawa-sensei bahwa seharusnya dosen tidak bertugas menyelamatkan nyawa mahasiswanya.
“Apa aku punya USB? Di kantongku?” tanya Moe kemudian.
“Tidak, tidak ada disana. Aku kira orang yang menyerangmu yang mengambilnya,” jawab Saikawa-sensei. “Aku dengar, Komputer Masuda Jun-kun juga rusak.”
Moe melanjutkan ceritanya, “Dalam komputer Jun-san, ada folder bernama 'shika' dengan alfabet Roman. Folder itu kosong, tapi Aku mengkopi semua folder lain—“
“Kau... sudah tahu siapa pelakunya,” potong Saikawa-sensei.
“Kenapa Kau pikir Aku tahu?” Moe malah balik bertanya.
Saikawa-sensei menghembuskan nafas, “Semua informasi ada di hadapan kita. Sekarang Kau harusnya tahu jawabannya.”
Moe malah mengembalikan pertanyaan itu pada Saikawa-sensei. Tapi Saikawa-sensei mengaku tidak berminat memikirkannya. Bahkan ia merasa muak dengan kasus ini.
“Bohong. Tidak... Sebenarnya, dari awal Kau sudah tahu jawabannya!” tebak Moe. “Kenapa Kau tidak katakan yang sebenarnya?” sudutnya kemudian.
Saikawa-sensei bangun dari duduknya. Ia berjalan menuju jendela dan melihat ke arah luar, “Karena kebenarannya diluar nalarku. Aku takut memikirkan pelakunya. Sungguh sesuatu yang unik. Dan memikirkannya membuatku bingung lagi. Aku kira itu belum cukup.”
Moe mengerti, “Bisakah Kau memastikannya? Menggantikanku? Tolong!” pinta Moe.
Saikawa-sensei tidak mengatakan apapun. Ia malah mengambil jaketnya lalu berjalan keluar.
“Saikawa-sensei, Terima kasih karena kemarin menyelamatkan Aku.”
Pusat penelitian Kutub
Sebuah taksi berhenti di depan. Seorang wanita yang ternyata Prof.Ichinose turun. Penjaga pun menyambutnya. Rupanya hari itu prof.Ichinose datang sangat pagi. Prof.Ichinose mengatakan jika urusannya di Kyushu sudah selesai dan dari bandara ia langsung menuju pusat penelitian. Prof.Ichinose juga memberikan oleh-oleh untuk penjaga.
Penjaga senang sekali menerima oleh-oleh itu. Ia menceritakan jika malam sebelumnya terjadi hal yang mengerikan. Putri mantan rector, Nishinoshone Moe ditemukan nyaris terbunuh di dalam lab suhu rendah. Mendengar cerita itu, prof.Ichinose heran. Ia merasa aneh. Setelahnya ia bergegas masuk ke dalam lab.
Tidak lama setelahnya, Saikawa-sensei tampak datang kembali ke pusat penelitian kutub. Ia memenuhi permintaan Moe untuk melakukan penyelidikan kembali. Tapi, belum sempat masuk, Saikawa-sensei malah mendengar teriakan dari dalam lab.
Saikawa-sensei buru-buru masuk ke dalam lab suhu rendah. Saat masuk ruang penerimaan, Saikawa-sensei melihat prof.Kikuma terkapar di lantai. Lalu ada prof.Ichinose yang ketakutan tidak jauh dari sana. Teriakan tadi adalah suara prof.Ichinose. Saikawa-sensei memeriksa prof.Kikuma, yang ternyata sudah tidak bernyawa. Tidak jauh dari tempat itu, ada tali dari dasi yang tergeletak.
Polisi dan forensic pun kembali datang. Kali ini, prof.Ichinose diwawancarai oleh detektif Ukai dan detektif Masato.
“Orang seperti apa Professor Kikuma itu?”
“Dia dosen yang sangat hebat. Aku selalu menghormatinya,” aku prof.Ichinose.
Tapi, dari arah luar, tampak salah seorang mahasiswa yang tengah memperhatikan. Ia merasa ada yang aneh dengan prof.Ichinose.
Det.Ukai mengeluh pada rekannya, det.Masato soal kasus yang terjadi kali ini. Empat jasad ditemukan dalam waktu satu minggu di tempat yang sama, membuatnya pusing. Det.Ukai mengatakan jika prof.Kikuma meninggal karena mati lemas. Ada bekas jeratan kawat di lehernya, dan perkiraan kematiannya sekitar pukul dua dini hari, hanya berselang dua jam setelah insiden penyerangan Moe.
“Kawat yang diduga sebagai senjata pembunuh, ditemukan di dekat garasi Ruang Penerimaan. Pintu darurat terkunci dari dalam, jadi pelakunya pasti melarikan diri melalui garasi,” det.Ukai melanjutkan.
Saikawa-sensei tampak heran, “Aku pikir garasinya sudah rusak.”
“Ya, tapi sudah diperbaiki tiga hari yang lalu,” kali ini det.Masato yang menjawabnya.
Det.Ukai juga mengatakan jika pintu menuju ruang persiapan dalam keadaan terkunci. Prof.Ichinose yang datang paginya curiga, ia pun kemudian mengambil kunci cadangan dan masuk ke dalam ruangan. Dikonformasi jika prof.Ichinose baru saja datang dari acaranya di Kyushu dan kembali dengan pesawat pagi itu, langsung menuju pusat penelitian kutub.
Prof.Kita bersama dua mahasiswa lainnya ada di ruangan mereka, menunggu. Saikawa-sensei kemudian bergabung tidak lama setelahnya. Prof.Kita menanggapinya jika kematian prof.Kikuma adalah kehilangan besar bagi dunia pendidikan.
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan tentang Masuda Jun-kun,” ujar Saikawa-sensei kemudian. “Ada folder dengan nama 'shika' di komputernya. Kau tahu apa artinya?”
Mereka semua merasa heran. Tapi kemudian diketahui jika itu adalah nama akun. Meski, tidak ada yang ingat, siapa pemilik akun itu. Di pusat penelitian kutub, setiap orang memiliki nama akun untuk di akses computer kampus, berupa nama binatang. Contohnya, 'Kuma' (beruang) untuk Prof.Kikuma. 'Risu' (tupai) untuk Prof.Ichinose, karena nama depannya Rika. Lalu Kita (utara), jadi 'rubah' sebagai rubah dari utara, bagi prof.Kita.
Saikawa-sensei penasaran, siapa admin utamanya. Biasanya, admin utama adalah ketua seminar. Dulu, admin utama adalah Masuda Jun yang menghilang, lalu digantikan oleh Niwa yang sebelumnya ditemukan meninggal. Saat ini, admin utama yang bertanggungjawab adalah Arai.
Arai membuka komputernya karena diminta oleh Saikawa-sensei. Dan benar saja, disana ada nama akun ‘shika’. Saat diperiksa, ternyata akun itu dibuat tiga tahun silam, saat admin utamanya masih Masuda Jun. Akun ‘shika’ ini ternyata juga memiliki akses penuh ke seluruh jaringan computer di pusat penelitian kutub. Dengan kata lain, admin ‘shika’ ini juga bisa membaca email semua anggota lainnya.
Saikawa-sensei memeriksa lagi akun itu. Saat dicek bagian email, ternyata email Moe semalam pada Saikawa-sensei juga telah berubah status menjadi ‘sudah dibaca’.
Saikawa-sensei mengajak prof.Kita bicara secara pribadi. Sekarang mereka ada di ruangan prof.Kita.
“Ternyata 'shika' itu juga meng-hack ke dalam jaringan laboratoriumku setelah kejadian,” cerita Saikawa-sensei.
“Huh? Apa alasannya?” Prof.Kita kaget dengan pengakuan Saikawa-sensei ini.
“Agar bisa mengawasi email Moe. Moe membaca laporan polisi dan mengirimkanku beberapa informasi penting. Dia juga, melaporkan padaku bahwa dia memeriksa komputer Masuda-kun kemarin.”
“Jadi maksudmu, 'shika' muncul dan menyerang Moe-chan?” prof.Kita menyimpulkan.
“Itu baru dugaan. Tapi, setidaknya kita tahu, 'shika' adalah seseorang yang memiliki koneksi ke Laboratorium Kikuma,” lanjut Saikawa-sensei.
Ekspresi prof.Kita berubah serius, “Dengan kata lain...apa kau mencurigai aku?”
Saikawa-sensei tersenyum, “Aku tidak bisa mengabaikan setiap kemungkinan.”
Saikawa-sensei kembali ke lab-nya sendiri. Disana ada prof.Kuneida dan juga mahasiswanya Hamanaka yang menunggu kabar tentang Moe. Setelah tahu Moe baik-baik saja, Hamanaka pemit pergi.
Setelah mahasiswanya pergi, prof.Kuneida mendekati Saikawa-sensei. Ia bicara serius, “Aku periksa sesuai perintahmu.”
“Apa yang kau temukan?”
“Seperti yang kau katakan, jaringan keamanan sudah disepakati,” lapor prof.Kuneida.
“Bagaimana dengan pathway entry?” tanya Saikawa-sensei lagi.
“Sudah ada di komputermu,” ujar prof.Kuneida tegas.
“Terima kasih,” ujar Saikawa-sensei. Tapi, saat prof.Kuneida berbalik, ia menghentikannya, “Oh, Kunieda-kun? Apa menurutmu semua wanita mau memakai gaun putih di pernikahan mereka?”
“Pertanyaanmu serius?” bukannya menjawab, prof.Kuneida malah bertanya balik, tapi masih tetap dengan wajah tanpa ekspresinya.
Merasa jika ini agak ganjil, Saikawa-sensei membatalkan pertanyaannya, “Lupakan.”
Siang itu, Saikawa-sensei memeriksa laptopnya seperti biasa. Ada pesan baru yang masuk.
Ini aku, Moe. Aku sudah dengar tentang Prof.Kikuma. Aku ingin tahu apakah kasus ini di usut lagi. Aku menerima informasi baru dari Det.Ukai, jadi aku melaporkannya padamu. Berdasarkan hasil otopsi dipastikan bahwa Prof.Kikuma dijerat dengan kawat dari belakang dan diseret ke dalam Ruang Penerimaan.
Setelah membaca, Saikawa-sensei membalasnya cepat. Ini Saikawa. Sangat berbahaya bagimu terlalu dekat dengan kasus ini. Email kita diawasi oleh pelaku. Sisanya biar Aku yang urus, dan jangan menghubungiku via email atau telepon.
Obrolan mereka berlanjut. Moe mengaku mengerti dan setuju untuk tidak menghubungi Saikawa-sensei dulu. Tapi, Moe meminta agar Saikawa-sensei segera mengakhiri kasus menyedihkan ini.
Saikawa-sensei duduk di kursinya sambil berpikir serius. Ia kemudian memejamkan mata. Area imajinasi. (pada saat memikirkan sesuatu, Saikawa-sensei seolah berada di area imajinasinya. Disana, satu per satu fakta tentang kasus yang tengah terjadi, muncul)
Tolong akhiri kasus menyedihkan ini. Kikuma Kyosuke. Ichinose Rika. Selalu ada yang salah ketika melakukan eksperimen. Kehilangan. Pintu ruang penerimaan yang rusak. 'Shika'. Dua orang datang, dua orang juga yang keluar. Setelan putih dan gaun. Kenapa dia ada di ruang saluran? Burung Bangau. Pathway entry. Ruangan yang tidak seharusnya terkunci.
“Aku tahu, Aku tahu! Tapi... apa mungkin melakukan sesuatu seekstrem itu untuk orang lain?” salah satu bagian diri Saikawa-sensei berusaha mengingkarinya.
“Kau tidak punya pilihan kecuali menerimanya. Dalil ini sudah dibuktikan!” ujar dirinya yang lain.
Saikawa-sensei membuka mata dengan peluh berleleran di wajahnya. Ia lalu menghadap laptopnya dan mulai menulis email untuk … ‘shika@jinnan-univ.lab-k.ac.jp’. Alamat email milik ‘shika’.
Ini Saikawa. Semua metodemu jelas. Tapi motifnya tidak bisa dimengerti.Tolong jelaskan padaku. Aku janji tetap diam, selama alasannya masuk akal.
Rumah Sakit Umum Jitou.
Seorang berpakaian gelap tampak berjalan di lorong rumah sakit. Tidak lama setelahnya, ia tiba di depan sebuah kamar, dengan label nama Nishinoshono Moe di depannya. Orang itu membuka pintu dengan pelan. Di dalam juga gelap. Sampai lampu akhirnya menyala.
“Maafkan Aku memintamu datang,” ujar Moe yang baru selesai berganti pakaian.
Orang itu berbalik, ternyata prof.Kita, “Tidak apa-apa, tapi kenapa tiba-tiba Kau ingin keluar dari Rumah Sakit? Ini belum waktunya keluar.”
“Karena email dan telepon di awasi, Aku ingin mengkonfirmasi langsung dengan Profesor Saikawa,” cerita Moe.
“Dimengerti. Ayo,” prof.Kita tersenyum lalu memamerkan kunci mobil di tangannya.
Sosok lain berpakaian serba gelap juga tampak sedang berjalan di lorong. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah pisau.
Saikawa-sensei resah menunggu di ruangannya. Sesaat kemudian lampu ruangan padam. Saikawa-sensei mengerti dan buru-buru mematikan rokoknya. Ia pun pergi keluar. Di luar, Saikawa-sensei sudah disambut seorang berbaju serba gelap. “Terima kasih banyak mau bersabar dengan keegoisanku. Maukah kau mengatakan alasan kenapa kau membunuh Niwa-kun dan Tamako-san?” sapa Saikawa-sensei pada orang itu.
TO BE CONTINUE
Sampai jumpa di Perfect Insider episode 02 part 2
Picture and written by Kelana
Posting at www.elangkelana.net
Kelana’s comment:
Duh, maaf ya minna-san, posting agak telat. Kemarin perjalanan mudik, jadi belum sempat buat postingan. Oh ya, synopsis Dos Deka-nya pending dulu sebentar ya. Sambil nunggu subtitle beberapa episode berikutnya, hehehe



















[…] Perfect Insider episode 02 part 2. Yang ketinggalan, cek juga Perfect Insider episode 02 part 1. Bagian […]
BalasHapus[…] Perfect Insider episode 03. Bagian sebelumnya di Perfect Insider episode 02 part 1 dan part 2. Yang ketinggalan, langsung cek TKP […]
BalasHapus[…] minna-san ^_^ Oh ya, buat yang kemarin ketinggalan, silahkan cek juga Perfect Insider episode 02 part 1 dan part 2 […]
BalasHapusiya.. ga pa2 telat yg pting ttp dilanjutin ..
BalasHapusiya, ini proses lanjut kq
BalasHapusditunggu ya
makasih udah mampir, jgn lupa balik lagi #eeeeeh #iklan