Sinopsis Perfect Insider a.k Subete ga F ni Naru a.k When Everything Become F episode 01 part 2. Yang penasaran dengan episode 01 part 1, cek di tkp langsung ya.
Bagian sebelumnya …
Saikawa-sensei, seorang professor arsitektur universitas Jinnan bersama mahasiswa, Nishinoshono Moe, datang ke sebuah pusat penelitian kutub. Tapi, tanpa terduga, disana terjadi sebuah insiden. Dua jasad ditemukan di ruangan tertutup selama percobaan berlangsung.
Mengetahui jika Moe adalah keponakan dari kepala polisi, kedua detektif yang bertugas melepaskan professor dan mahasiswa ini. Setelah mendengar informasi dari polisi, Saikawa-sensei memutuskan untuk pulang. Tapi, tidak dengan Moe. Moe masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, Moe juga tidak punya pilihan selain mengikuti profesornya ini.
“Ini pertama kalinya semenjak saat itu, berdua di mobil yang kau kemudikan. Empat tahun lalu, aku pulang kerumah dengan mobil yang kau kemudikan. Kau selalu mengantarku ketika aku sedang depresi,” ujar Moe, setengah protes.
Saikawa-sensei tidak menoleh sedikitpun, “Kau tidak bisa mengemudi dibawah pengaruh alkohol. Itu saja.”
Empat tahun silam, Moe diantar Saikawa-sensei ke bandara. Mereka akan menjemput orang tua Moe yang kembali dari perjalanan. Tapi, peristiwa tragis terjadi. Pesawat yang membawa kedua orang tua Moe meledak sesaat sebelum mendarat. Moe yang kaget melihat dengan kedua matanya langsung histeris.
Moe masih protes pada Saikawa-sensei. Dulu, ia tidak bisa mengemudi karena tidak ada yang bisa dilakukannya, apalagi Moe dalam keadaan depresi akibat kecelakaan orang tuanya. Tapi, kali ini Moe merasa ia dapat melakukan sesuatu terhadap kasus di pusat penelitian kutub.
“Bagaimana menurutmu, Profesor? Tentang ruang terkunci,” Moe masih tertarik.
“Kurasa kau harus menyerahkannya pada polisi,” jawab Saikawa-sensei santai.
“Tamako-senpai meninggal. Kau tidak bertanggung-jawab!” protes Moe.
Tapi Saikawa-sensei tidak mengacuhkannya, “Aku tidak punya keharusan untuk memecahkan kasusnya. Yang lebih penting aku harus tidur untuk mengajar kuliah besok. Kau juga harus melupakan kasusnya dan tidur yang cukup.”
Diabaikan oleh profesornya, Moe memutuskan untuk mengumpulkan informasi sendiri. Ia datang ke klub panahan Jepang, tempatnya dan korban Tamako bertemu. Dari salah seorang anggota klub, Moe menemukan fakta jika Tamako ternyata berkencan dengan korban satunya, Niwa. Dan lagi, keduanya sudah menemui orang tua mereka.
Moe juga menemui teman sekelas Tamako, sesama peneliti di pusat penelitian kutub, Funami Machiko. Machiko mengatakan jika Niwa adalah seorang yang tampan dan populer, sehingga bukan hal yang mengherankan jika ia memiliki lebih dari satu kekasih.
Terakhir, Moe menemui Arai Masanao, teman sekelas Niwa di program doctoral. Moe mencari tahu soal mahasiswa yang menghilang dua tahun silam, Masuda Jun. Tapi Masanao juga tidak tahu kenapa waktu itu Jun-san mengibas-ngibaskan pisau pada teman-temannya lalu menghilang.
Seminggu kemudian, di lab Saikawa-sensei
Saikawa-sensei serius memandangi monitor komputernya. Seperti biasa, ia menyamakan jam di tangannya dengan jam Tokyo. Prof. Kuneida kemudian datang dan menyerahkan hasil symposium sebelumnya pada Saikawa-sensei, yang dikomentari prof. Kuneida sebagai tulisan yang mirip milik anak TK. Saikawa-sensei hanya mengangguk menerimanya. Ia sudah mafhum dengan gaya bicara asistennya yang tidak pernah halus ini.
Kasus ditemukannnya dua jasad di pusat penelitian kutub pun masuk koran. Tapi, belum ada penyelesaiannya. Hamanaka Fukashi, mahasiswa program master ikut mengomentarinya. Hamanaka malah ikut ketakutan sendiri, lantaran ia juga yang bertanggungjawab atas seminar di kelasnya.
“Berhenti membicarakannya dan cepat selesaikan tesis-mu!” bentak prof.Kuneida sambil menendang pantan mahasiswanya ini.
Setelah prof.Kuneida dan Hamana pergi, giliran Moe yang mengganggu Saikawa-sensei. “Um, Saikawa-sensei, ada sesuatu yang ingin aku laporkan. Aku menginvestigasi kasusnya.”
“Sudah kubilang hentikan!” potong Saikawa-sensei.
Tapi bukan Moe namanya kalau ia menurut saja. Moe pun melanjutkannya, “Niwa-san dan Tamako-senpai sudah setengah tahun kencan.” Fakta ini pun ditanggapi dengan dingin oleh Saikawa-sensei. Moe mengatakan lagi jika mahasiswa yang menghilang dua tahun silam namanya Masuda Jun. sebelum Jun menghilang, ia sempat mengibaskan pisau di depan teman-teman sekelasnya. Dan Niwa adalah salah satu teman sekelas Jun.
“Sudah kubilang. Aku tak ada kewajiban untuk memecahkan kasusnya dan kau harus menyerahkannya pada polisi,” ujar saikawa-sensei lagi.
“Kenapa kau menghindari kasus ini?” protes Moe.
“Apa mungkin kau berpikir bahwa akulah pelakunya?” terdengar suara seseorang, yang ternyata adalah prof.Kita.
Prof.Kita datang karena diminta oleh prof.Ichinose untuk memberikan data hasil percobaan kemarin seperti diminta oleh Saikawa-sensei sebelumnya. Sementara Saikawa-sensei asyik memperhatikan hasil percobaan di laptopnya, Moe malah membahas hasil investigasi kasus itu, seperti yang sudah dikirimnya sebelumnya pada prof.Kita. prof.Kita sendiri tidak menyangka jika Niwa dan Tamako ternyata memiliki hubungan special.
“Profesor Saikawa tidak serius mendengarkanku,” cerita Moe.
“Pastikan kau mendengarkan wanita,” ujar prof.Kita pada Saikawa-sensei. Kali ini prof.Kita berpaling ke arah Moe, “Aku sudah selalu bilang padanya semenjak kuliah. Kau lelaki pengecut!”
“Profesor Kita, maukah kau mendengarkanku?” pinta Moe dengan semangat, yang langsung diiyakan oleh prof.Kita
Merasa ada yang memperhatikan, Moe semakin bersemangat. Ia mengatakan jika telah memecahkan kasus itu. Tentu saja ini membuat prof.Kita sangat terkejut. “Pelakunya Masuda Jun-san yang menghilang dua tahun lalu. Mula-mula Niwa-san seharusnya membunuh Tamako. Agar sesuai rencana, dia mengancam Jun-san dan mendapatkan rekan. Pembunuhan terjadi ditengah eksperimen. Setelah Niwa-san masuk ruang persiapan, dia membuka pintu darurat dan membiarkan Jun-san yang sudah menunggu di luar untuk masuk. Dan Jun-san bersembunyi di ruang penyimpanan. Setelah Niwa-san pergi, Tamako masuk ke ruangan persiapan. Setelah melepas peralatannya, Niwa-san kembali ke ruang persiapan dan masuk lewat pintu darurat yang tidak terkunci.”
Moe melanjutkan, “Niwa-san mengancam Tamako dengan pisau dan menyuruhnya melepaskan pakaian dingin lalu membunuhnya. Lau Niwa-san melarikan diri keluar melalui pintu darurat. Jun-san yang bersembunyi di ruang penerimaan mengkunci pintu dari dalam. Jun-san memakai peralatan Tamako dan berpura-pura menjadi dia. Inilah alasannya dia membutuhkan bantuan Jun-san karena dia pendek. Dan dia mengunci pintu ruang persiapan dari luar dengan kunci cadangan yang telah disiapkan sebelumnya. Itulah rencananya.”
Prof.Kita tampak mengangguk dan berpikir, “Aku mengerti. Berarti Niwa-kun bisa membuat alibi.”
Tapi Moe belum selesai, “Tapi Jun-san berhianat dan membunuh Niwa-san di ruang penerimaan. Setelah itu, seperti yang direncanakan, Jun-san mengunci pintu darurat, memakai peralatan, memasuki lab dan menguncinya dari luar. Inilah bagaimana dua mayat dan ruang terkunci dibuat. Itulah yang terjadi. Bagaimana pendapatmu?”
“Luar biasa!” prof.Kita memuji penjelasan Moe. “Itu menjelaskan semua yang terjadi. Tapi orang yang mengetahui Jun-kun... sulit untuk percaya dia akan melakukan pembunuhan sadis. Tak apa. Penting sekali untuk memecahkan masalah secara objektif.”
“Sohei, berapa nilai yang akan kau berikan padanya sebagai Profesor-nya?” tanya prof.Kita pada Saikawa-sensei dengan menyebut nama kecilnya.
Saikawa-sensei tidak berpaling dari laptopnya sama sekali. Tapi, ternyata ia menyimak semua pembicaraan mereka, “Kenapa Masuda-kun melarikan diri lewat pintu darurat? Kenapa dia mengunci pintu ke arah laboratorium?”
“Itu…” Moe berpikir. “Kau benar Ketidak-konsistenan.”
Saikawa-sensei melanjutkan, “Dan ide bahwa Tamako-san telah diancam dan diambil baju dinginnya terdengar tidak lazim. Jika dia melihat pisau, dia bisa saja berteriak atau setidaknya dia memberikan perlawanan. Dia tidak akan mudah tertikam begitu saja dari belakang. Seperti biasanya, pemikiranmu melompat-lompat.” Ucapan Saikawa-sensei sama sekali tidak membantu.
Tapi prof.Kita rupanya membela Moe, “Kau tidak bisa menyangkal semua yang dia katakan. Jika kau memang Profesor-nya, sudah tugasmu untuk memberinya jalur yang benar.”
Jika sejak tadi Saikawa-sensei bicara sambil menghadap laptopnya, kali ini ia pun berbalik ke arah Moe dan prof.Kita, “Jika ruang terkunci sengaja dibuat, itu pasti si pelaku punya tujuan. Tapi dikasus ini, ruang terkunci ini tidak memberikan keuntungan apapun. Karena jika ini adalah kejahatan yang dilakukan orang luar, pintu ke laboratorium harusnya terbuka. Jika ini dilakukan orang dalam, pintu darurat keluar menuju keluar harusnya terbuka. Dengan kata lain, ini adalah ruang terkunci yang tidak penting. Ruang terkunci tidak penting. Di dalam pusat penelitian dimana orang semata-mata mengejar tujuan akademis... di sana terdapat amarah yang membunuh dua mahasiswa. Fakta adalah masalah terbesar dari kasus ini.” Saikawa-sensei lalu kembali berbalik dan asyik dengan laptopnya.
Prof.Kita berniat kembali ke lab. Moe yang mengetahui hal itu berniat ikut. Kali ini ia tidak mengajak Saikawa-sensei.
Moe dan Prof.Kita tiba di tempat parkir luar lab suhu dingin. Moe memandangi bangunan lab itu. Moe tampak memikirkan sesuatu, “Disini.. Kurasa ada tempat lain di gedung ini. Itu di sebelah ruang pengukuran.”
“Di sebelah ruang pengukuran?” prof.Kita heran. “ Aku tak ingat ada apapun disana.”
Moe dan prof.Kita pun masuk ke lab. Menurut prof.Ichinose, memang ada ruangan di sebelah ruang pengukuran. Ruangan itu adalah tempat saluran pipa.
“Ya, aku ingat di sana ada pintu kecil yang mengarah ke tempat saluran pipa di belakang rak itu,” ujar prof.Ichinose.
Prof.Kita lalu menarik rak yang ditunjuk oleh prof.Ichinose. Dan benar saja, di belakang rak ternyata memang ada pintu.
“Apa raknya ada di sini selama ini?” tanya Moe kemudian.
Prof.Ichinose tampak berpikir, “Ada pintu masuk lain di atap, jadi ini sudah seperti ini semenjak tempat ini dibangun.”
“Apa polisi melihat ini?” tanya prof.Kita.
“Kurasa mereka tidak memeriksanya.”
Prof.Kita dan Moe memutuskan untuk memeriksa ruangan itu. prof.Kita menggeser rak yang menutupi pintu. Dan benar saja, pintu itu memang bisa dibuka. Tapi, ruangan itu tampak sama sekali gelap dan menimbulkan aroma tidak sedap saat dibuka.
Prof.Kita lalu mengeluarkan ponselnya yang digunakan sebagai senter. Mereka bertiga pun masuk ke dalam. Tapi betapa terkejutnya mereka saat menemukan sesosok jasad dengan baju bergaris hitam, yang sudah persis mumi. Ada tas tergeletak di samping si jasad.
Dari mulut prof.Ichinose, terdengar sebuah nama, “Jun-kun.”
Penemuan jasad itu membawa polisi kembali mendatangi lab. Polisi mengatakan, berdasarkan ID mahasiswa dan barang-barang yang ditemukan di samping jasad itu, dipastikan dia adalah Masuda Jun. Keluarganya melaporkan jika ia hilang dua tahun lalu. Jun-san adalah salah satu mahasiswa di pusat penelitian kutub saat itu.
“Dia seorang mahasiswa yang luarbiasa. Aku tidak sangka dia ada di gedung ini,” ujar prof.Kikuma yang juga merupakan pimpinan lab itu.
“Ketika dia hilang, pintu yang menuju ruangan itu sudah ditutup dengan rak. Lubang palka dari atap terkunci dari dalam,” detektif Masato menambahkan. “Kapan terakhir kali pintunya dibuka?”
“Aku belum menanyakan tukang perbaikan dan kurasa sudah dua tahun semenjak pemeriksaan tahunan berkala,” jawab prof.Kikuma.
“Ruang terkunci lainnya, ya?” keluh detektif Ukai.
Moe memandangi orang di depannya yang tampak merasa tidak nyaman dan seolah diikuti, detektif Ukai. Ternyata Moe meminta bertemu dengan detektif itu di kantin kampusnya. Sementara itu, di sekitar mereka seluruhnya adalah mahasiswa perempuan. Moe pun meminta apa yang dibawa oleh detketif Ukai. Detektif Ukai yang ketakutan pun memberikan amplop berwarna coklat itu.
“Jangan khawatir. Aku sudah bicara pada pamanku,” ujar Moe, sambil menampilkan wajah polosnya dan kedipan mata, yang membuat siapa saja tidak berkutik di depannya.
“Kau hanya bisa melihatnya di sini,” pinta detektif Ukai lagi.
Moe mengeluarkan setumpuk berkas dari amplop coklat itu, “Silahkan mikmati teh. Di sini juga mereka mempunyai kue-kue yang enak,” ujar Moe pada detektif Ukai lagi.
Setelah detektif Ukai pergi, Moe mulai membaca halaman demi halaman berkas di depannya itu.
Masuda Jun. Seorang mahasiswa yang cukup brilian. Tulisannya menarik perhatian para peneliti lainnya. Sebelum menghilang, ia seperti orang sakit mental. Ia sering membisikkan kata ‘shika’. Tak ada luka pada tubuh Masuda Jun, saat ditemukan telah menjadi mumi. Sebotol kosong pil tidur di temukan di tas punggungnya. Sepertinya dia memasuki tempat saluran pipa dari atas, mengunci pintunya dari dalam dan melakukan bunuh diri dengan meminum obat.
Prof.Kikuma Kyosuke. Sudah pernah menikah ketika dia menjadi asisten di Universitas Teknologi Okayama. Di umur 26, dia menikah lewat perjodohan tapi cerai setengah tahun kemudian. 18 tahun kemudian, dia menikah dengan wanita lain. Tapi tak punya anak.
Prof.Kita Hokuto. Mahasiswa Profesor Kikuma semenjak dia masih belajar di Universitas Jinnan. Dia dulu yang bertanggung jawab atas seminar.
Prof.Ichinose Rika. Ayahnya bercerai tepat setelah dia lahir. Dia dibesarkan Ibunya di Okayama. Setelah belajar di Jerman, dia kembali ke Jepang dan menjadi asisten Prof. Kikuma.
Teknisi Hachikawa Zentaro. Belum menikah dan hidup sendiri. Dia punya catatan polisi karena pernah berkelahi semasa sekolah dulu.
Arai Masanao. Mahasiswa tahun pertama di Program Doktoral. Dia meminjam beberapa puluh ribu yen dari Niwa (korban).
Funami Machiko. Dia berasal dari Chiba. Mahasiswa tahun kedua program master dan teman sekelas Hattori Tamako (korban). Dia pernah menjelek-jelekkan Tamako di depan teman-temannya.
10 hari sebelum pembunuhan, Niwa dan Tamako pergi ke departemen store di Yokohama dan membeli baju dengan kartu kredit Niwa. Barang-barang itu ditemukan di mobil Niwa pada hari pembunuhan. Polisi mengambil memeriksa Komputer Masuda Jun, tapi sudah dikembalikan ke Pusat Penelitian Kutub.
“Terimakasih, Ukai-san,” ujar Moe saat detektif Ukai yang baru saja membawa teh dan segelas tinggi makanan kembali. Ia langsung pergi, membiarkan detektif Ukai sendirin.
Saikawa-sensei asyik memeriksa pekerjaan mahasiswanya saat sebuah email masuk, dari Moe.
Aku sudah melihat laporan investigasi polisi. Aku akan lampirkan sebuah file yang sudah kuringkas isinya. Dan aku menemukan komputer yang digunakan Masuda-san masih berada di sana. Akan aku kabari lagi jika aku sudah melihatnya.
Malam itu, Moe sudah berdandan rapi dengan baju gelap. Ia berjalan mengendap-endap dan masuk lewat jendela ke pusat penelitian kutub. Moe langsung menuju ruangan mahasiswa. Ia memeriksa almari arsip yang ada disana, hingga akhirnya menemukan sebuah laptop. Moe pun membuka laptop itu. Ada beberapa folder di halaman desktop laptop itu. Tapi, yang menarik perhatian Moe adalah folder dengan nama ‘shika’. Moe pun membuka folder itu, ternyata kosong. Moe kemudian menyalin seluruh file lainnya ke dalam USB yang dibawanya.
Selesai dengan ruangan mahasiswa, Moe tertarik dengan ruangan lab yang terbuka. Moe pun masuk kesana. Tanpa Moe tahu, ada yang mengikutinya. Seseorang dengan pakaian dingin lengkap dan helm berkaca gelap, yang tidak bisa memberitahukan siapa orang di baliknya. Orang itu mendesak Moe ke kolam tempat air dingin untuk percobaan. Orang itu mendorong Moe hingga tercebur. Moe yang ketakutan buru-buru bergerak menjauh. Ia pun berhasil keluar dari kolam itu, tapi dengan seluruh tubuhnya basah oleh air dingin. Orang tadi tidak mengejar Moe. Dia justru berbalik keluar dari lab. Tapi, sesuatu yang tidak diduga Moe terjadi. Orang itu mengunci Moe di dalam lab, lalu menyalaman mesin pendingin. Perlahan, penanda suhu di ruangan itu berangsur turun. Dari suhu 20 derajat, hingga minus.
Moe berusaha minta bantuan. Tapi, tidak ada yang mendengarnya. Moe semakin kedinginan, apalagi seluruh tubuhnya basah. Moe berusaha menghubungi Saikawa-sensei dengan ponselnya, tapi di ruangan itu tidak ada sinyal.
Kaca ruangan mulai berembun. Suhu semakin turun menuju angka minus 20 derajat. Ruangan persiapan di sebelah juga terkunci. Moe hanya bertahan di dekat pintu keluar. Tapi, keadannya akhirnya membuat Moe ambruk. Nafas Moe memburu, satu per satu. Apakah Moe akan selamat?
Sampai jumpa di Perfect Insider episode 02 part 1 ya ^_^
Picture and written by Kelana
Posting at www.elangkelana.net
Kelana’s comment:
Huaaa … akhirnya keturutan juga buat synopsis satu ini. Hehehehe. Kali ini sepertinya Na akan kembali ke cara lama, buat dua synopsis dalam satu waktu. Ah, semoga bisa ya.

















[…] Perfect Insider episode 02 part 1. Yang ketinggalan, cek juga Perfect Insider episode 01 part 1 dan part 2 […]
BalasHapus